Ideal kah Install Steam OS Di Laptop? (YouTube Video)
Ini adalah Advance Work Plus Air yang speknya pakai Ryzen 57535HS dengan IGPU Radeon 660M dan juga layar OLED dengan harga cuma R8,3 jutaan. Dipakai produktif asik, enteng pula, bahkan bisa gaming tipis-tipis juga dengan OS Windows. Tapi gimana kalau kita instal Steam OS ke laptop ini? Apakah gaming experience-nya malah lebih bagus? Buat install Steam OS sendiri, kita mesti tahu dulu prosesornya itu support apa enggak. Biasanya prosesor AMD laptop atau mini PC seperti Ryzen berbasis Zen 3, 4 atau 5 yang H atau HS series itu sudah support. Nah, kalau desktop itu beda lagi. Karena kadang ada yang support ada juga yang enggak. Sementara untuk device Intel itu masih belum semua support dengan Steam OS. Jadi mesti trial and error. Karena ya Steam OS yang berbasis Linux ini belum ada scheduler untuk mengatur PCORE dan ecor-nya. Nah, buat download-nya kita bisa cek aja website resminya. Bahkan di sini dilihatin juga dia udah full support ke mana aja. Kebanyakan sih handheld ya, tapi okelah. Di sini kita bisa download image-nya dan mounting ke sebuah flash disk atau SSD menggunakan Rufus. Nah, saat kita ingin instal ke Target Device, jangan lupa untuk buka BIOS-nya dulu, ganti boot priority dan disable secure Boot. Saat boot-nya itu ke flash disk, kita akan dikasih interface macam desktop. Tapi bukan berarti bisa langsung dipakai sebagai desktop, ya. Di bagian atas ada wipe device and install Steam OS. Tinggal kalian klik dan tunggu aja sampai kelar. Perlu diingat juga kalau wip device itu berarti format SSD-nya ya. Jadi siap-siap untuk kehilangan semua data yang ada di SSD ini. Pas instalnya udah kelar, kita bisa booting langsung ke Steam OS-nya. Dan ternyata boot time-nya di laptop ini tuh enggak terlalu cepat. Kurang lebih sama lah sama Windows 11. Mungkin karena ini belum terlalu full support. Berbeda dengan Steam Deck atau Legend Go yang sudah native support. Bootingnya itu cepat banget mereka. Lanjut. User interface dari Steam OS ini sama persis kayak kalau kita lagi big picture di dalam Steam aja. Menunya itu intuitif, bahkan ada sound effect-nya juga. Navigasinya bisa pakai keyboard, mouse, dan juga bisa pakai controller. Dan buat pakai controller sih ini udah nyaman banget ya dibanding Windows. Karena ini bukan Steam Deck asli, jadi kita enggak bisa nge-set TDP di quick setting bagian performance-nya. Paling cuma bisa set manual GPU clock speed, ngasih performance overlay, dan disable frame limit. Tapi kita bisa download aplikasi bernama Deky dengan pluginnya Simple Dkiy TDP dan itu membuat kita bisa akses TDP limit untuk prosesornya. Bisa set GPU bound atau CPU bound juga. Dan ya itu menurut gua penting sih terutama untuk device portable. Steam O sendiri punya desktop mode juga yang secara UI gak kalah intuitif sama Windows. Dan di sini kita juga bisa instal Discord dan Spotify. Aplikasinya tentu enggak selengkap dan seflexible Windows sih, tapi ya cukup oke. Kita bisa dengerin lagu sambil main game atau sambil voice chat sama teman-teman. Boot animation-nya pun bisa diganti-ganti. Jadi sama seperti Steam Deck, kita bisa pilih boot animation-nya dan itu cukup banyak pilihannya. bisa dibeli pakai koin dan kita bisa ganti boot animation di Steam OS. Ini lucunya wallpaper engine di sini enggak bisa jalan di Steam OS alias dia enggak mendeteksi wallpaper desktop mode-nya. Namun kita bisa ngakalin pakai tutorial yang ada di Redit biar bisa jalan. Tapi ya gitu ribet. Dan perlu diingat kalau ini berbasis Linux. Jadi kalau ada masalah ya siap-siap aja berhadapan sama terminal. Nah, walaupun Steam OS digadang-gadang lebih kencang dan harusnya memang dedicated buat gaming, tapi ada beberapa game yang malah lebih kencang di Windows. Contohnya di Evil Genius 2 yang tadinya kita bisa dapat 100 atau 90 FPS di Windows, malah turun ke 69 fps di Steam OS. Sementara kalau buat Cyberpunk 2077, dia ada kenaikan namun sedikit banget. Saat pakai FSR performance dia bisa naik sekitar 2 FPS. Sementara di balance-nya itu enggak nambah average-nya. Dan buat game yang bukan ada di Steam, kita bisa download launchernya di desktop mode dan bisa add to Steam game. Namun di game Hoyo seperti Honkai Star Rail atau Zenless Zone Zero, FPS-nya ngurang cukup jauh. Jadi kalau kita memakai Steam OS di dalam sebuah device yang belum fully supported itu sebenarnya pengalamannya agak-agak hit or miss ya. Karena kalau misalnya kita mau main game doang nih misalnya, terus juga gameennya ada di dalam aplikasi Steam-nya, terus juga kita ngelihat gameennya itu udah optimized buat Steam Deck atau Linux, harusnya sih bisa lebih kencang di Steam OS ketimbang Windows. Tapi buat game yang entah itu di dalam Steam atau di luar Steam tapi masih pakai translasi dan translasi Protonnya itu masih kacau ya biasanya sih kayak Evil Genius 2 tadi yang di mana frame rate-nya itu bakal turun cukup jauh dan buat game Miho Hoyo yang tadi kita lihatin juga frame rate-nya masih enakan dimainin di Windows ketimbang di dalam Steam OS. Jadi ya semuanya itu soal optimalisasi lah. Nah, tapi kalau misalnya buat UI-nya sendiri, jujur gua senang dengan UI big picture-nya Steam yang mirip banget kayak konsol, terus juga di e navigasiin pakai controller juga enak. Boot up animation-nya bahkan bisa dimodif-modif. Terus juga kita ngelihat itu ini kayak ya steam itu komunitasnya juga gede banget lah. Jadi ya sebenarnya PW gitu buat main di Steam OS ini ya. Tapi balik lagi, sebagai orang yang main game di Windows selama 14 tahun terakhir dan sekarang lagi enjoy-enjoynya sama PC Game Pass dan masih menggunakan masih sering menggunakan Windows G buat navigasi dan lain-lain, eh mungkin gua bakal mikir-mikir dulu untuk pindah ke Steam OS buat main game. Nah, kalau sekarang masih PW di Windows. Tapi gimana nih? Kalian udah ada yang nyobain Steam OS atau belum?
