Jungkat

Infinix Berulah lagi?! i5 gen 1334U, 100%sRGB, Tipis 6 Jutaan (YouTube Video)

  • 21/10/2025

Sering lu sakit pinggang? Karena katanya banyak kerjaan. Padahal aslinya nentengin laptop segede gaban. Mending yang ini udah ringan, speknya nyaman, dan harganya enggak nguras tabungan. Ya udah, enggak usah banyak alasan. Selamat menonton. Yang di negara cuma jadi beban. [Musik] Hai Andika, guys di sini. Kenalin ini adalah Infini Inbox X2 2025 yang harganya cuma R jutaan. Padahal prosesornya udah pakai Intel Core i5 generasi ke-13. Coba kalian ketikin aja deh di e-commerce manapun harganya itu bisa 78 bahkan ada yang R10 juta ke atas tergantung konfigurasinya. Nah, Infinix ini memang kayaknya dari dulu suka ngancurin harga pasar ya. Enggak di HP, enggak di laptopnya. Tapi konfigurasinya kan jelas beda, Bang. Enggak kok, ini konfigurasinya tetap mantap di kelas harganya yang R jutaan. Jadi untuk varian yang RAM 8 GB harganya R juta sekian. Kalau untuk yang varian 16 GB LPDDR4X itu harganya di R,1 juta. Jadi bukan 79 ya, R7 juta kecil. Dengan storage 1/2 TB yang speed-nya itu tembus di 3.500-an Mb. Bukan PCI Gen 5 memang, tapi di kelas harganya udah kencang. Dapatnya 1/2 TB lagi ya, enggak 256 GB. Link pembiliannya nanti kalian bisa cek di pojok kiri atau di deskripsi ya, karena ya gak tahu siapa tahu biasanya kalau udah di-review itu barangnya naik. Pas kita syuting ini harganya sih di R jutaan. Semoga aja enggak naik ya. Spek dan harga boleh oke, tapi apakah tuningannya bakal bagus? Langsung aja kita coba deh. Jadi si Intel Core FF Gen 1334 ini punya 10 core dan juga 12 R yang turbo boost-nya itu bisa sampai 4,6 GHz. Sebenarnya waktu launching 2 tahun lalu kalau enggak salah itu harganya di sekitar Rp10 juta. Nah, saya enggak tahu gimana deal-dealanya si Infinix sama Intel untuk dia bisa jual di harga R jutaan. Tapi spesifikasinya coba kita lihat deh. Kita coba benchmark sintetis dulu ya. Pertama kita coba di skenario plugin atau mode rata kanan R23 buat multicore. Di running pertama dan running keduanya kencang tapi setelah itu running keempat dia agak turun ya di kisaran 4.600-an poin dengan average itu di 4.800 poin. Dan kalau kita lihat suhunya ketika kita tes pakai R23 ini dia bisa spike di 90 derajat Celcius tapi kayak di limit di tuning diturunkan lagi di 75 derajat Celcius. Karena terlihat nih di power-nya dia memang spike-spek di 45 watt tapi dibanting lagi di 20 watt. Lanjut kita coba di skenario batery only tanpa dicas. Dan hasilnya turunnya lumayan signifikan ya. Padahal ini seri U. Harusnya seri U sih enggak turun yang gimana-gimana gitu. Tapi pas kita tes single core-nya itu di 1272, multiore-nya di 2.900-an poin. Tapi kalau kita lihat suhu temperaturnya ya, dia jadi turun di 55 derajat celcius, terus power-nya di sekitar 10 watt. Mungkin ini adalah salah satu cara dari Infinix biar baterainya tetap awet. Tapi sintetis kan ya cuma angka-angka ya. Nanti kita coba performanya kalau misalkan kita buat untuk real world skenario. Sekarang kita coba dulu di 3D Mark. Kita coba karena dia pakai fan sebenarnya tapi single fan cooling aja. Dan hasilnya di stress test dia enggak lolos ya dengan skornya itu di 77,9%. Dan kalau untuk skor times spy five stack-nya kalian bisa cek di sini. Nah, sekarang kita masuk ke pengetesan real word skenarionya. Kita coba dulu untuk render di Adobe Poo dengan template yang memang bisa kita pakai, kita eksport ke 4K dan hasilnya dia bisa menyelesaikan dalam waktu 6 menit 11 detik untuk laptop 6 jutaan. Sebenarnya ini masih kencang. Kalau mau lebih kencang lagi bisa export ke full HD di 4 menit 39 detik. Nah, bisa enggak, Bang, dibuat rendering 3D? Ya bisa, tapi harus agak sabar ya. Karena untuk blender dengan template BMW, CPU rendernya dia selesai dalam waktu 9 menit 31 detik. Sementara GPU rendernya mirip-miriplah ya 10 menit 4 detik. Karena kan GPU-nya ini istilahnya numpang di prosesor ya, dia pakai integrated graphic card. Nah, kalau kita lihat pas Export Premiere Pro 4K tadi, suhunya itu dijaga di bawah 70 derajat celcius dengan 62 derajat celcius dan power-nya juga dijaga di kisaran 12 watt. Sama juga di full HD kalau kita lihat power-nya juga dijaga di 12 watt. Nah, ketika blender pakai CPU naik tuh jadi 15 watt. Jadi kayaknya memang si Infinix ini menjaga power-nya ini biar enggak lebih dari 20 watt yang tujuannya biar baterainya awet. Tapi apakah beneran baterainya awet? Nanti kita lihat. Sekarang kita coba dulu. Kalau misalkan si Infini Inook X2 ini beneran dipakai buat kerja ya, buat kodratnya lah, Office dan hasilnya ya enggak ada masalah sih ya dengan PowerPoint 150 slide kita export ke PDF dia selesai cuma dalam waktu 8 detik. Exel dengan randomis data yang gede banget itu di 43,57 detik. Dan walaupun laptop ini sebenarnya bukan laptop gaming, laptop buat kerja sampai medium lah, tapi ya karena didik ID itu SOP-nya harus ada tes gaming ya. Mau enggak mau harus kita tes gaming juga. Kita coba dulu di game Dota 2 ya. Game Dota 2 ini aman lah ya dengan grafiknya fastest, resolusi full XD dia bisa average FPS dapat jadi 76, maksimumnya 124, dropdopnya di 64 fps. Game yang lagi ramai bahkan saya juga main sekarang yaitu Roblox. Untuk Roblox sih aman aja ya. Average FPS dia bisa dapat 103, maksimumnya 156, drop-dropnya cuma di 56 fps. Nah, sekarang kita coba naikin ke game yang agak triple A yang butuh GPU yaitu watering wave. Nah, kalau kita main Wing Wave, saran saya pakai Infinix yang gaming ya, yang GT book. Karena kalau ini kurang sih. Aage FPS dia dapat di 13, maksimumnya 26, drop-dropnya di 10 FPS. Karena ya sekali lagi prosesornya ini walaupun udah FF Gen 13 dia bukan prosesor seri H. Prosesor seri itu memang mengedebankan efisiensi biar baterainya awet. Sebelum kita ngomongin baterai, kita coba lihat dulu untuk super mukaannya kayak gimana. Dan tadi pas kita coba untuk main game watering wave, kita tes suhu permukaannya. Dia nyentuh di angka 44,6 derajat Celcius untuk di bagian ekha bagian atas keyboard. Tapi kalau untuk keyboard- keyboard-nya sih masih tergolong amanlah di 40,7 derajat Celcius. Tapi nanti kenyataannya ketika kalian punya laptop ini enggak mungkin kalian coba untuk main game booting wae karena bukan laptopnya, bukan segmentasinya. Jadi harusnya sih suhunya bakalan lebih di bawah itu. Nah, sekarang kita coba lihat baterainya. Baterainya ini udah kita tes pakai PC Mark 10 dan hasilnya untuk sebuah laptop 6 jutaan cukup oke kok karena PC Mark 10 dengan brightness 50% yang PC itu mensimulasikan kegiatan kerja sehari-hari dia dapat waktu itu 8 jam 7 menit. Sekali lagi cukup oke untuk harga di R jutaan. Nah, kalau untuk pemakaian sehari-harinya kita coba untuk YouTube 10 menit dia berkurang 3%. Browsing-browsing 10 menit cuman berkurang 2%. gaming watering wave tadi lumayan ya dia 10 menit itu berkurangnya 9%. Performa udah sekarang kita coba bahas desainnya ya. Desainnya ini saya suka karena desainnya ini premium. Back covernya ini pakai aluminium aloy yang rasanya dingin. Terus di bagian amrest ini juga pakai aluminium juga. Jadi full aluminium sama kayak Infinic Inbook yang sebelumnya. Dan permukaannya ini dibikin mid jadi enggak gampang nempel sama fingerprint. Secara desain sih gak berubah ya sama Infinix yang sebelumnya. Cuman kalau soal warna unit yang saya pegang ini grey. Tapi kalau kalian suka warna yang lebih stand out ada warna merah, hijau, dan biru juga. Dan yang saya suka walaupun dia ini all aluminium, all metal, tapi dari segi bobot dia ini cukup ringan dengan bobotnya itu cuma 1,24 kg. Terus ketebalannya juga di bawah 15 mili. Jadi kalau kalian termasuk orang yang mobilitasnya tinggi dan ke mana-mana perlu cepat, ya laptop ini bisa jadi pertimbangan banget. Lanjut. Kita bahas soal layarnya. Layarnya ini punya dimensi 14 inch dengan resolusi full HD. Aspek rasionya di 16 b 9 yang kalau klaimnya Infinix sih dia punya warna itu sampai 100% sRGB dan brightness-nya di 300 nit sih. Cuman kita kan punya Kalman ya. Kalman itu device yang mahal, software-nya juga mahal. Jadi hati-hati brand ya kalau misalkan mau klaim-klaim karena device kita itu akurat. Dan hasilnya pas kita tes pakai Kalman ya sRGB-nya itu ada di 95,8%. Dan untuk sisanya Adob RGB P3 NTS kalian bisa baca di sini yang mau saya highlight dia kan klaimnya 100% SRGB ya sekitar 4,2% karena dapatnya 95,8% jadi masih okelah ya masih bisa ditoleransi masih bisa dimaafkan dan untuk layarnya sendiri juga udah punya antigle dan punya viewing angle yang lumayan luas di 178 derajat karena panelnya ini pakai IPS dan karena warnanya udah hampir 100% sRGB mau digunain untuk YouTube, Netflix, ngedit, preview, aman-aman aja warna yang keluar itu sama kayak warna aslinya. Lanjut kita bahas untuk keyboard karena dimensin-nya 14 inch, jadi keyboard-nya ini tipe 10 keyless yang tanpa nampet. Tapi kalau untuk keperluan harian, kit travelnya masih dibilang enak lah ya. Empuk dipakai. Feel-nya sih agak clicky tapi masih relatif aman buat ngetik-ngetik santai. Dan yang saya suka dari keyboard-nya ini finishingnya dibikin mid juga. Jadi buat user yang kayak saya yang tangannya itu cepat basah aman. enggak gampang kotor. Plus keyboard-nya ini juga udah punya backlit dengan tiga tingkat kecerahan. Rp juta loh harganya ya. Terus kalau untuk touchpad-nya sendiri dia cukup luas. Jadi buat gestur multitouch enggak kerasa kekecilan. Penempatannya juga simetris ada di tengah. Dan di bagian body dekat touchpad ada kayak semacam palm rest curve ergonomis yang bikin kita enggak feel keiris gitu selama dipakai. Di atasnya ada kamera yang kira-kira seperti ini untuk kualitas week-nya ya. dia punya resolusi di 720p 30 fps yang menurut saya sih ya kualitasnya standar banget. Jadi saran saya kalian bisa pakai webcam eksternal lah. Sekarang 200.000 atau Rp300.000 bisa dapat webcam yang lebih oke dari ini. Cuman kalau misalkan argent ya kira-kira kualitas webcam dan juga mikrofonnya itu seperti ini. Kalau saya tutupin backl-nya kayak gini yah okelah. Soal konektivitas dia juga enggak pelit ya. Di bagian kiri itu ada HDMI type A type C yang udah full function. Di bagian kanannya ada cason lock type E audio jack, ada slot type C lagi, dan ada slot SD card. Yang absen adalah slot RJ45. Tapi okelah ya, karena secara dimensi dia memang enggak lebih dari 1,5 cent. Jadi ya okelah. Kalau untuk Wii-nya dia udah pakai WiFi 6. Bluetooth-nya juga udah Bluetooth versi 5 yang lower amanlah. Fitur lain kalau kalian tanya apakah ada software, sayangnya di Infinity ini belum ada software bawaan kayak misalkan di brand lain yang internasional ya. Itu kan udah ada software bawaan yang setidaknya bisa ngebantu kayak fitur-fitur AI. Nah, Infinix kurangnya di situ sih ya. Mungkin harganya lebih terjangkau memang, tapi untuk hardware-nya aja dia belum develop software sama kayak brand lokal. Okelah, jadi mungkin cukup segitu aja video review dari Infini Inbook X2 2025 atau 2025 ini. Kesimpulannya apakah di harga R jutaan worthed? Ya, kalau kita lihat kompetitornya yang harganya itu 78 sampai R juta ke atas ya jelas worth it lah ya dengan konfigurasi yang sama padahal. Cuman memang yang perlu jadi catatan dia itu include Windows aja. Untuk OHS-nya enggak ada. Kalau kalian tanya ADP dia juga enggak ada. Garansi sih ada ya. Tapi garansinya itu bukan yang ADP ya. Garansi sewajarnya Infinix aja. Plus dia enggak ada software bawaan kayak punyanya brand-brand internasional yang lain belum ada. Tapi kalau kalian enggak peduli tentang itu ya, si Infini Inbook X2 ini di kelas harganya untuk laptop sekarang ya, bisa dibilang dia yang salah satu paling price to specification. Dari harga dan spesifikasinya itu kayak enggak match gitu, terlalu ngasih banyak Invedic. Jadi kayak dia lagi bakar-bakar duit gitu. Kelebihannya jelas buat kalian yang sering meeting ke sana kemari dan butuh device yang ringkas atau kalian pegawai kantoran yang hari-harinya ngerjain laporan presentasi atau laporan keuangan pakai Excel sekaligus butuh hiburan karena layarnya udah 100% sRGB buat ngedit juga nyaman. Speknya ini masih kuat untuk gendong itu semua. Kalau untuk game-game tipis, Dota, Roblox masih aman. Tapi kalau udah Gensin Impact atau game triple E yang butuh GPU ya bukan laptop ini ya. Harusnya Infinix GTbook yang seri gaming. Tapi intinya untuk harga R jutaan, wah sekarang harga Rp jutaan makin menarik ya. terutama brand lokal Infinix. Nah, sekarang tinggal brand lokal sama Infinix nih yang perang nih. Kalau brand Inter sih ya dia belum ada tanda-tanda hilalnya untuk turun harga sih. Saya di Kesta Budi and see you on the next video. Bye bye.

Lihat di YouTube