Ini Alasan Kenapa Denza D9 Bisa Laku Banget Di Indonesia (YouTube Video)
[Musik] Teman-teman, mobil listrik di Indonesia kayaknya semakin ke sini semakin diterima ya. preferensi konsumen dan mungkin itu termasuk teman-teman kayaknya makin banyak dan pabrikan meresponnya dengan meluncurkan mobil-mobil yang semakin e beragam mulai dari mobil kecil kayak misalnya Woling RV atau Finfast VF3 gitu ya atau SUV yang sedang kayak BYD3 atau ion gitu V eh atau juga ini MPV Jumbo bercita rasa premium Denza D9 ini mobil harganya bukannya mahal tapi tinggi. Bukan mahal karena dia juga bisa setara dengan kayak Toyota Alfard elektrifikasi yang bukan BV tapi dia ada yang mobil hybrid-nya dan juga mesin biasa. Tapi secara harga dia diset lebih rendah dan dia juga tetap harga yang tinggi. Karena di antara mobil listrik lain BV banyak yang lebih murah dari dia ya dibanding BYD3 atau willing yang tadi saya sebut gitu ya. dia jelas lebih tinggi harganya. Nah, yang menarik dari data yang kami terima per Maret 2025 lalu ketika video ini dibuat masih April, jadi belum ada data penjualannya di bulan Maret kemarin. Kalau ditanya siapa yang paling laku di Indonesia, ternyata bukan mobil yang eh secara harga lebih murah, bukan RV meskipun dia pernah laku banget di Indonesia atau BYD Seal, bukan juga BYD eo3, bukan juga ion V gitu, bukan Cherry Omoda E5 gitu, melainkan ini teman-teman Denza D9 ini adalah fenomena dan kita penasaran kira-kira apa sih yang ngebuat Denza D9 bisa selaku itu bisa bahkan lebih laris. dibanding mobil yang lebih murah harganya, yang lebih kecil bentuknya gitu dan lebih enak mungkin buat daily. Dan kira-kira ee kami bisa menjelaskan apa saja kelebihan dari Denza Dinan yang ngebuat dia bahkan bisa sampai 1600-an unit di Maret lalu penjualannya. ini ulasan ya. Jadi secara tampilan kita bisa melihat ya bahwa ini adalah MPV yang cita rasanya memang premium. Kalau dia setara dengan Alpard menurut saya pantas termasuk model grill yang tinggi lalu kemudian e body yang panjang lebar juga itu memberikan sosok yang secara karisma ini mobil lobi banget nih. Kalau dia ke gedung misalnya ya ada gala diner atau misalnya ke mall gitu, ini pantas untuk parkir di lobi. tipe mobil yang menjadi mobil lobi. Dan teman-teman kalau ditanya dimensinya memang se mirip apa dengan Alpard? Kenyataannya ini mobil udah 5 m lebih. Dia lebih e panjang dari Alpard. Wheel base-nya pun juga lebih panjang sehingga ya dia bisa memberikan akomodasi yang eh pantas untuk sang pemilik duduk di tengah dengan semua ee apa ya keistimewaannya. Saya bisa membayangkan bahwa tampang itu memang relatif. Orang bisa suka atau bisa juga enggak gitu ya. Tapi ini adalah desain yang bisa diterima untuk menjadi mobil yang representatif. Dia secara sil body dan garis desainnya gitu mungkin enggak seagresif Alpart. Dia lebih e tenang, enggak terlalu banyak coretan. Tapi ini pun juga fine sih kalau buat saya yang seperti ini lebih enggak membosankan, lebih timeless gitu. Satu-satunya hal dari e tampang luarnya yang menurut saya itu cukup tanda kutip mengganggu adalah roda dan hanya roda desainnya biasa saja ininya pun juga lebih kecil kalau dibanding Alpard gitu ya. Dan profile bannya menurut saya ini masih terlalu tebal untuk mobil dengan rasa premium. kelihatan premium gitu. Menurut saya ini profil-ennya terlalu tebal. Tapi ya sekali lagi kalau soal roda baik veleg maupun ban itu perkara mudah gitu ya tinggal ke toko ban untuk ganti dan ya di luar dari itu menurut saya semuanya fine termasuk bagian belakang desainnya pun juga enak dilihat dan Denza D9 adalah tentang bagaimana menikmati bagian dalamnya. Dan sekarang saya segera untuk mengajak teman-teman menikmati explore bagian interiornya. Yuk, ini cara terbaik untuk menikmati Denza din memang duduk di bangku baris kedua. Pemilik itu mestinya duduk di sini. Spesifik di sebelah kiri bukan kanan. Karena kalau di kanan misalnya mau dilegain banget light room-nya, e terpaksa biasanya kursi pengemudi dimajuin ke depan. Sehingga kalau mau dimajuin pun juga bisa ee dengan tombol yang ada di sini, Teman-teman, untuk ee bangku depan sebelah kiri. Jadi, Teman-teman, ini wheel base-nya 3.110 mm. Jadi, kita bisa membayangkan dan terlihat di sini bahwa ini sangat amat lega dan sesuai dengan ekspektasi. Saya mau majuin dulu sebentar. Ini kontrolnya pun juga bisa di sini. Jadi ajudannya bisa. Eh, kok maju? Kok maju? Bisa kayak gitu kali ya. Oke. Ee jelas fasilitasnya ini super banyak pakai banget lapisan kulitnya ini enggak hanya enak dilihat tapi juga enak disentuh dan dihirup, Teman-teman. Mudah-mudahan teman-teman ee sempat ee ketemu atau bahkan punya gitu ya ee Denza D9 sehingga aromanya memang enak banget. Dan joknya ini ini ventilate nih bisa menghembuskan udara. Jadi kalau pengin lebih dingin e di punggung dan di alas gitu bisa di sini. Termasuk juga ada kursi pijat. kursi pijat untuk sepanjang jalan itu memudahkan dan juga ada e laci untuk menaruh minuman dingin ada kulkas. Asik sekali. E kepraktisan itu banyak banget untuk naruh laptop gitu misalnya atau HP yang mungkin sang pemilik enggak hanya satu tapi juga ada dua. Yang satu urusan keluarga, yang satu urusan bisnis gitu misalnya untuk menaruh di sini pun juga mudah. Jadi ekspektasi kantor berjalan pun juga bisa diberikan sama Denza D9 di kursi sini. Dan by the way, ini formatnya 223. Yang paling belakang itu tiga tempat duduk dan tapi itu bukan e tempat duduk yang paling nyaman. Sekali lagi yang paling nyaman ada di sini. Dan teman-teman ini saya sudah coba duduk di pengemudi maupun di bangku penumpang. Semua kenyamanan itu terasa di sini paling enak. Dia lega banget. Headroom-nya pun juga leluasa. Ketika mobil berjalan, set suspensinya itu menyenangkan. Nanti kita e rasain juga kalau di kursi pengemudi itu bawanya gimana. Tapi ketika menjadi penumpang di sini luar biasa menurut saya. Lantas apakah dia bisa disetarakan dengan feel berkendaranya Alfard gitu? Set suspensinya by the way itu sebenarnya mirip. Cuma kalau Alpard itu yang belakang double wisbond, yang ini multilink. Ya, mestinya lebih bisa untuk ngejaga ban supaya tetap dengan traksi yang baik gitu ya dan sekaligus nyaman. Tapi ya itu set suspensi kebanyakan mobil Cina dan kebetulan termasuk denza itu cenderung nyaman. Apalagi di e pasang di MPV premium, kenyamanan itu perlu diekstrak lagi sama engineernya supaya lebih nyaman dan hasilnya memang nyaman, Teman-teman. Enak banget. Ini yang tadi saya bilang ada ventilate-nya. Lalu kemudian konturnya itu pun juga ergonomis. Itu aja udah menyenangkan. Ini busanya juga empuk dan set suspensinya pun juga udah lembut. Jadi kayak kenyamanan yang ekstra gitu. Dan ini pun juga ada penahan betis. pengaturannya bisa dilakukan di sini. Dan layar pengaturan ini, Teman-teman, buat saya ya memang lebih simpel karena banyak hal yang bisa dikontrol oleh ee penumpang di sini. Cuma hemat saya adalah tipikal mobil Cina zaman sekarang ya apapun mulai dari BYD, Woling, Denza, ion sering melokalisir kontrol di satu tempat. ya lebih minimalis jadinya, cuma kadang merepotkan kalau pengin akses langsung. Tapi untungnya untuk pengaturan yang krusial nih kayak sliding sama reclining-nya ini ada tombol mekanisnya tetap tuh di sebelah sini juga ada. Tapi walaupun kadang saya ngerasa kayak agak enggak nyaman gitu ya pengontrolan di satu tempat gini, cuma kalau untuk penumpang yang enggak harus repot mengemudi ya ini memang memudahkan sih gitu. termasuk pengontrolan sunset ini panoramik, Teman-teman. Ukurannya besar banget. Kalau yang depan itu sunroof bisa dibuka. Nah, pengaturan sunset-nya pun juga bisa di sini. Bahkan untuk ngebuka tutup kulkas pun juga di sini. Jadi kontrol ini bisa dilakukan di bangku baris kedua dengan sangat amat nyaman. Nah, ini yang tadi saya pengin bilang ini jelas elektris ya, kontrol maju mundurnya, rebah tegaknya. Terus kemudian termasuk untuk ini teman-teman yang sandaran betis. Asik sekali. Perlu dimundurin dulu biar kelihatan. rebubahin. Kalau ngerasa kakinya kurang lega, dimundurin. Ini kalau si penumpangnya itu lagi bosan di jalan, mainin kayak gini pasti akan menyenangkan. Iya, Mas Rizki ya. Wah, enak banget gitu. Kalau kurang privasi sih bisa men naikkan kertin kanan kiri. Jadi kesimpulannya adalah ini mobil lega. Kalau mau dimaksimalkan hanya untuk bangku baris kedua aja tanpa memikirkan light room di baris e ketiga, kelihatan di sini sebegini ee luasnya. Lalu kemudian saya bisa bilang bahwa semua kenyamanan pusatnya memang ada di sini. Dan kalau ditanya apakah pemiliknya juga akan mendapatkan kesenangan dan kenyamanan ketika mengemudi, nah nanti ya kita ulas pas di ee rasa berkendara. Ini dibuka dulu, Teman-teman, biar lebih terang. Oke, kalau soal fitur BYD aja yang secara merek di grup itu udah lengkap. Apalagi ini teman-teman Denza yang secara positioning brand-nya itu lebih tinggi. Jadi mestinya dia lebih komplit, lebih canggih juga. Nah, fitur yang terlihat secara visual mungkin teman-teman udah bisa mengukur ya. Ini jok kulit ada ventilate-nya. Yang di belakang pun juga termasuk ada kursi pijatnya, penahan betisnya dan semuanya elektris kecuali yang paling belakang baris ketiga ya. Tapi semuanya elektris. Pintunya pun juga elektris. Samping sama belakang elektris. Yang depan itu bukan elektris tapi e dia vakum. Jadi kalau ketutup hanya setengah dia akan secara otomatis menutup dengan sempurna. Sunroof panoramik berukuran besar banget. Lalu fitur-fitur ini 15 inci lebih layar head unitnya gambarnya tajam yang kamera parkirnya itu sangat bening. Saya coba untuk sengaja parkir di antara dua mobil yang lumayan sempit. Semua yang ada di sini angle-angle-nya itu ngebantu untuk saya memposisikan mobil berada di ruang yang terbatas. Wireling wireless charging pun juga ada di sisi bangku belakang dan itu 50 watt. Oke banget. Eh, USB pun juga ada. Dan intinya kalau soal e nge-charge gitu ya, untuk gadget di zaman sekarang udah enggak ada masalah. Lalu kemudian soal keselamatan ADAS lengkap pakai banget misalnya intelligent cruise control lalu kemudian dia juga bisa e lan keepeping assist gitu ya. Dan dia juga ada automatic emergency break. Prinsip-prinsip semi otonom itu diterapkan dengan baik dan halus. Kinerjanya itu halus pakai lidar yang mana lebih presisi untuk mendeteksi objek. Bagi saya ini mobil kalau soal kelengkapan fitur itu adalah sesuatu yang pasti. Di malam hari, Teman-teman. Ambient light-nya itu menyenangkan buat saya. Enak dilihat juga nih komposisinya ada di sini, ada di situ. Ya, audio dan audio. Apa ya? Enak didengar, enak dihirup, enak didudukin, posturnya, ergonominya enak dilihat, enak disetirin, suspensi juga empuk dan dia pakai sasis yang e generasi eh advance kalau dalam BYD Group platformnya. Jadi, sudah oke. Termasuk cell to body-nya itu ngebuat mobil lebih dinamis. Nanti saya akan ceritakan gimana eh rasanya ya. Tapi secara keseluruhan untuk fitur dia oke. Jangan lupakan juga soal fitur pengecasan dia di ultra fast charging dia bisa ngisi hanya 10 menit untuk menjalankan mobil sejauh 150 km dan itu oke pakai banget fiturnya ini. Mantap teman-teman fiturnya mantap. Terus bagaimana dengan build quality-nya ya, Denza? Teman-teman itu positioning-nya kan lebih tinggi ya dari BYD dan BYD aja juga udah bagus. Di sini materialnya, celah antar komponennya menurut saya itu ya pantas untuk menjadi mobil premium. Jadi ya dia adalah mobil yang menurut saya emang kualitas produknya itu bagus. Teman-teman jelas ya kalau MPV seperti ini pembahasan utamanya itu tentang duduk di bangku baris kedua. Ownernya itu di situ singgahsananya. Tapi saya tetap perlu menceritakan bagaimana rasa berkendaranya. Karena bukan enggak mungkin sang pemilik dan mungkin termasuk teman-teman itu juga perlu ngerasain mobil saya itu seperti apa sih gitu. Dan ya ini sangat mungkin nih kalau tampangnya pas-pasan kayak saya gitu ya masuk ke mall dikira sopir. Oke ini mobil motor listriknya semua tenaga disalurkan ke roda depan means dia FWD. Eh, tenaganya lumayan 300-an DK dengan torsi 360 Nm. Sebenarnya angka-angka itu besar, tapi ketika melihat bobotnya curve itu sampai 2,7 ton, ya kita enggak bisa berharap banyak bahwa dia akan sekencang itu. Tapi kita bisa expect kalau yang pasti enggak lambat karena ya itu dia tenaga dan torsinya lumayan. Denza mengklaim kalau D9 teman-teman bisa berakselerasi 0 sampai 100 dalam 9,5 detik. Dan ketika kita tes dengan rest logic hasilnya 8,4 detik. Jadi terlalu bersahaja nih Denza kayak terlalu rendah hati untuk ngasih tahu bahwa ini mobil sebenarnya kencang ya meskipun bobotnya berat tapi ini sebenarnya kencang gitu ya. Ee mungkin karena ini adalah MPV premium yang mana bukan untuk kenceng-kencengan, tapi bahwa dia cukup cekatan. Iya. Bahwa dia enggak masalah dengan bobot ekstra kalau misalnya di full e penumpang dan barang. Iya. Jadi ya akselerasi adalah insight bahwa ini mobil jauh dari kesan bongsor yang lambat bergerak. Enggak. Lalu kalau soal efisiensi energi teman-teman di route dalam kota 22 km/h dia dapat 6 km/ kWh. Ya enggak yang impresif sih ya biasa aja. Untuk ukuran mobil listrik ada yang jauh lebih irit di rute tol lebih boros ngebut terus gitu ya. Eh average speed-nya 90 km/h dia dapatnya 5 km/ kWh. Tipis bedanya dibanding yang dalam kota. E pun dengan kombinasi. Kombinasi ternyata sama dengan yang di dalam kota. sama-sama 6 km/K kWh. Artinya ketidakimpresifan energinya enggak terlalu irit gitu ya. Itu mestinya bisa diterima karena Denza memberikan senjata utama yaitu baterai blade baterai itu yang sangat besar kapasitasnya 103 kWh teman-teman. artinya ya itu sangat amat besar diklaim oleh Denza dia bisa sekitar 600 km lah. Dan kalau kita hitung dengan kombinasi pun ya secara real pun juga bisa dapat 600-an e 600 belasan gitu ya kilometer. Tapi kan kita enggak mungkin sampai mati total kan. Jadi ya efektifnya mungkin sampai 550 lalu sisa 50 untuk nyari SP ke KLU gitu. Yang pasti hasilnya adalah dengan e sekitar segitu menurut saya itu jauh dari rasa range anxiety. Jadi kita enggak terlalu takut e untuk ee apa ya mencari SPKLU baik di perkotaan maupun di roadtrip gitu ya di antar kota besar misalnya Jakarta Bandung atau Jakarta Semarang ya mesti enggak terlalu takut. Sekali lagi nih, efisiensi energi atau baterai yang besar itu bukan soal irit-iritan. Karena pembeli Densa mungkin enggak terlalu khawatir soal budget membeli listriknya ya. Tapi dengan range yang jauh itu menguntungkan, lebih fleksibel untuk enggak terlalu repot mesti buru-buru nyari SPKLU. Korelasinya di situ. Nah, saya pengin bilang teman-teman nih soal rasa berkendara di luar dari soal perform. Oh iya, soal performa saya juga perlu cerita. Tadi saya sudah sampaikan bahwa ini mobil bobotnya lumayan kan 2,7 ton lebih gitu ya. Pas tes pengereman dari kecepatan 100 km/h sampai berhenti total itu butuh 48 m. Kebanyakan mobil-mobil yang kami tes 3 tahun belakangan itu ya di sekitar 40 atau bahkan ada yang 39 m gitu ya. Kebanyakan mobil-mobil yang sedan, hatchback atau sports, tapi ini sampai 48 m dan itu jelas masuk akal karena balik lagi soal postur yang besar dan bobot yang berat. Tapi itu dengan metode yang benar-benar ekstrem ya teman-teman ya. Jarang terjadi apalagi sopir membawa bosnya gitu ya. Mesti heartbreaking yang enggak nyaman kan gitu. Tapi e bobot itu jelas berpengaruh gitu. Nah, rasa berkendara, Teman-teman, ekspektasi saya adalah ini mobil harus nyaman. Enggak apa-apa kalau dia agak limbung, tapi harus nyaman. Dan kenyataannya, iya, ini nyaman banget. Set suspensinya ketemu jalan berlubang atau enggak rata atau polisi tidur, empuk, Teman-teman. Benar-benar empuk. Jadi, nah itu barusan saya lewat sambungan jalan gitu ya. dan dia bisa membuat lubang kena roda lalu disalurkan ke kabin itu jadi kayak ayunan bukan guncangan. Dan bagi saya ini adalah sesuatu yang menyenangkan dan itu perlu untuk mobil di kelasnya ya. Kalau di e bangku pengemudi sampai baris kedua rasanya emang benar-benar senyaman itu. Tapi memang kalau udah di baris ketiga lebih terasa bantingannya. yang maksud saya adalah lebih terasa pun tetap aja empuk gitu ya. Cuma yang posisi terbaik memang berada di sini sama di bangku baris kedua teman-teman. Seempuk itu. Dan itu bukannya tanpa konsekuensi. Ketika saya agak zigzag ini mobil terasa body roll-nya dia tinggi, dia berat dan set suspensinya empuk. Jadi enggak heran kalau ketika saya agak zigzag dengan kecepatan yang agak tinggi gitu ya terasa body roll ya. Tapi kan itu konsekuensi yang diterima oleh pembuat denza dan mungkin juga diterima oleh si pembeli Denza kan di n ini bahwa ya beli mobil ini bukan hatchback, bukan sedan yang mestinya lebih dinamis. Ini adalah mobil yang ngebuat saya dan istri sebagai pemilik misalnya nyaman sepanjang jalan. Jadi itu ee tanda kutip ya hal yang sudah terukur gitu. Jadi ya sebagai pengemudi ini adalah mobil yang menyenangkan dan sebagai penumpang apalagi di baris kedua itu udah jelas surganya itu singgsananya. [Tepuk tangan] Teman-teman, kita bisa sampai pada akhir ulasannya. Kesimpulannya kalau menurut saya adalah ini mobil value-nya memang sebagus itu. Secara kelas dia bisa setara dengan Toyota Alpard dan Alpard itu dimulai dari 1,4, 1,5, 1,7 gitu ya harganya. Sementara ini bahkan enggak sampai 1 M. Jadi, ya banyak kelebihan yang dia tawarkan itu dikemas dengan harga yang lebih menyenangkan. Enggak sampai 1 M 950 jutaan kalau belum naik ya. Dan dia yang e buat saya itu berkesan adalah soal e tampilannya itu sangat representatif. Kalau parkir di lobi itu pun juga e terlihat pantas gitu ya. Lalu kemudian akomodasi di bagian dalamnya, kemewahannya, kenyamanannya, dan fitur-fitur canggih kayak misalnya semi otonom atau convenience-nya itu udah sesuai dengan ekspektasi mobil di kelas ini. Pun juga dengan eh sistem elektrisnya. Sebagai BV dia sangat bertenaga, torsinya pun juga oke. Dan range-nya teman-teman meskipun maaf suaranya mungkin masuk, range-nya itu sangat fleksibel. Jadi bukan soal beli listrik ya, tapi soal ketidakpotan untuk selalu nyari SPKLU karena range yang panjang. bagi pemiliknya atau bagi sopir yang mengemudikannya jelas itu menepikan rasa khawatir dan itu oke sehingga apa ya secara keseluruhan ee ini adalah mobil yang value-nya tuh bagus banget karena harganya, karena semua kelebihannya ngebuat danza buat saya ya itu enggak heran kalau dipilih sama banyak orang dan ngebuat dia jadi mobilis BV di Indonesia. Mungkin itu dulu, Teman-teman, dari saya. Terima kasih sudah menonton dan sampai ketemu di video Greit Auto berikutnya. Makasih.
