Jungkat

Ini Masih Windows. - Review Jujur ROG Xbox Ally X 🎮 (YouTube Video)

  • 25/10/2025

Ini adalah PC konsole handeld pertama yang mengusung nama Xbox di dalamnya. Pertama, gua ngira kalau experience-nya bakal kayak gini, Hah. Yuk, kita omongin. [musik] Ini adalah ROG Xbox LI X, sebuah penerus dari ROG yang surprisingly tiba-tiba bawa Xbox ke dalam PC handheld-nya. Kalau dari beberapa sumber, sebenarnya ini Microsoft-nya sih yang minta ke Asus untuk dibuatin handheld yang ada elemen-elemen Xbox-nya. ya mau yang mana pun duluan. Intinya ini adalah kolaborasi antara Asus dan Microsoft yang janjiin sebuah PC handheld yang experience-nya itu udah kayak konsol lah. Kita mulai dari unboxing-nya ya. Seperti biasa, ini experience-nya layaknya ROG LA yang sebelumnya. Presentasi produknya itu terkesan mewah dengan initial setup yang cukup gampang dimengerti dengan gambarnya doang. Dan produknya juga diwrap rapi, packaging-nya oke, tapi aksesorisnya termasuk sedikit buat handheld premium. Cuma ada charger 65 watt, petunjuk penggunaan, dan juga kartu garansi. Dan ada juga docking yang terbuat dari bahan yang sama dengan kontainer telur. Kalau dibandingin sama Legend Gua 2, unboxing Legend tuh lebih lengkap dengan tas dan lain-lain. Sebelum lanjut ke desainnya, gua mau bilang dulu kalau ROG Xbox Series itu ada dua. Yang pertama unit review kita yang X itu warnanya hitam dan harganya di Rp15 juta. Dan ada juga Xbox biasa yang warnanya putih harganya di Rp10 juta. Bedanya akan kita jabarin sepanjang video ini saat nyebutin spek. Oke, masuk ke desain dari handheld-nya sendiri. Menurut gua di sini enggak ada yang ngalahin Xbox kalau kita udah ngomongin soal ergonomic desainnya. Secara overall device ini itu benar-benar mementingkan ergonomik ketimbang estetika. Bagian grip kiri dan kanannya dibuat timbul dan benar-benar menyerupai gripnya controller. Pertama-tama itu gua agak bingung kenapa ROG Xbox li desainnya jelek banget dibanding LI yang sebelumnya secara itu kayak enggak portable gitu dan juga ada angled screen di desainnya. Tapi ternyata setelah megang dan merasakan sendiri nyamannya, gua ngerti sih sekarang kenapa desainnya kayak gini. Gripnya dibuat lebih bertekstur dengan logo ROG di beberapa sudut. Yang gua senang ada tulisan ROG Xbox kecil-kecil di bagian depan yang ngasih kesan attention to detail di device ini. Keren sih, cuman [musik] El yang sekarang lebih berat ketimbang yang dulu. Di mana naik sekitar 37 gr dan juga device-nya ini lebih tebal karena baterainya lebih gede. Gua sendiri enggak merasa device ini portable karena kalau dibawa-bawa ya di tas ini makan tempat. Mau dimainin sambil tiduran pun ini juga berat. Dan gua cukup yakin kalau kalian mainin device ini sambil tangannya diangkat pasti pegal lama-lama. Jadi ya ada alasan kenapa gua masih stick dengan Nintendo Switch gua. Di bagian atas ada dua USBC di mana satunya USB 3.2 Gen2 dan satunya lagi support USB 4 jadi bisa dicolok ke docking ataupun eGPU juga. Sementara yang versi putih hanya ada dua USB 3.2 Gen2 aja. Di bagian atas ini juga ada lubang exhaus, power button sekaligus fingerprint scanner, micro SD slot, audio combo jack, dan juga volume button. Jadi, di bagian bawah itu sama sekali enggak ada port apa-apa. Analognya punya shape yang sama dengan yang sebelumnya. Thum grip-nya juga sama dan juga masih belum punya hal effect alias masih potensiometer dan punya circularity error sekitar 5,4%. Harapan gua sih buat handheld di harga segini harusnya masih bisa di bawah ini sih. Dan tentunya ada RGB-nya juga di mana kalau kita matikan lumayan ini bisa ngehemat batery life beberapa menit. Action button-nya berbahan glossy lagi dengan font yang sama. Namun kali ini enggak terlalu warna-warni. Sekarang ada tombol baru yaitu tombol Xbox yang gunanya adalah membuka recent games gitu. Dan kalau kalian nge Asus juga menukar posisi tombol start dan options-nya dengan armory crate dan library button. Ya, entah mengapa di sini dia tukar. Mungkin ada beberapa feedback yang minta seperti itu, tapi ya menurut kita sebagai user baru ini enggak terlalu masalah buat LB dan RB-nya. Desainnya agak gedean sekarang dan triggernya juga agak lebih besar. Overall ini gripnya agak gede di tangan gua dan terkadang gua masih suka nekan triggernya itu pakai telunjuk bukan jari tengah. Lalu ngomong-ngomong soal trigger, jadi trigger yang ada di Liam impulse trigger yang di mana kita dapat feedback getar dari triggernya ini sendiri. Kerasa getarnya itu kayak ya pas lagi nekan triggernya itu dan kita so far baru ngerasa saat main Forza aja. Tapi ini enggak ada ya di putihnya diganti sama Hall effect Effect Trigger aja. Enggak lupa di belakang juga ada back button L4 dan R4 yang bisa dimodif-modif lagi. Back button ini juga sekarang dibuat posisinya itu agar enggak gampang tertekan. Sekarang kita fokus layar dan speakernya. Buat layarnya ini masih sama dengan X lalu. Ukurannya 7 inch. Touch screen beresolusi full HD dengan refresh rate 120 Hz. Basel-nya cukup tebal, color gamutnya lumayan luas. Namun tentunya masih belum support dengan Full HDR. Surprisingly, di sini ROG gak mengeluarkan screen yang lebih besar dari Nintendo Switch 2. Di mana kebiasaan ROG adalah membuat barangnya itu lebih OP daripada kelasannya. OP secara overpowered dan OP secara overprice. Sayangnya buat putih, dia layarnya hanya 720p aja. Speakernya yang di sini mengejutkan ROG ngasih dua front firing speaker yang suaranya itu benar-benar clarity-nya bagus dan bassnya itu juga kerasa ada. Bahkan bisa dijadiin music player juga kalau ditaruh. volume-nya bisa kencang banget dan di volume maksimal dia tidak distorsi. Paling takut-takut aja kalau speakernya rusak apabila keseringan kencang-kencang. Sebagai PC handeld yang digadang-gadang punya Xbox console like experience, initial setup-nya kerasa Windows banget. Bahkan software Xbox-nya aja juga update-nya lama saat pertama kali nyalain. Cuma memang ada khas handheld-nya gitu. Saat di login menu kita bisa input numbernya menggunakan controller. Jadi number-nya mereka mapping ke button. Dan initialnya kita akan disuguhin menunya itu ya seperti ini. Mereka namainnya Xbox full screen experience. Jadi saat kita booting handheld ini mereka akan langsung masukin kita ke aplikasi Xbox-nya. Dan ya di sini Microsoft design experience dari aplikasi Xbox-nya itu lebih conso like experience. UI-nya belum menyerupai Xbox konsole dan masih kerasa Windows banget lah ya. Dan bahkan apabila kita bandingin sama Steam Big Picture aja masih lebih intuitif big picture-nya punya Steam. Enaknya sih ya sekarang semua game third party launcher kayak Steam, Epic dan lain-lain itu gameennya kebaca di Xbox. Jadi enggak perlu repot-repot buka launcher lain. Dan mode full screen ini juga dibikin enak banget kalau kita mau close game. Tinggal swipe up game-nya dan pencet X buat close. That's it. Enggak ada pop up pop up enggak jelas. Dan sekarang wake up dari slip buat masuk ke game juga dipercepat. Kalau gameennya macam Hades segini doang bisa langsung main kayak wake up-nya Nintendo Switch. Konsumsi baterai saat slip juga berkurang. Saat kita tinggalin game HDS ini pause dan slip selama 9 jam, baterainya cuma berkurang sekitar 3%. Cuma mungkin akan bergantung game-nya lagi. Jadi apakah Windows 11 yang di custom Xbox ini buruk? Ya ada plus minusnya sih. Minusnya ya itu tadi ini masih Windows 11 yang bahkan out of the box masih ada coilot, OneDrive, OneNote, dan Microsoft Teams juga ada. Gua gak butuh Teams di handheld gua, woi. Tapi plusnya ya Windows itu punya ekosistem gaming yang udah terbangun dari dulu. Game Direct X di sini bisa jalan natif tanpa harus translasi Proton. terutama game-game jadul. Dan kalau dibanding sama Steam OS, handheld PC Windows itu bisa main game Steam, Epic dan lain-lain. Tinggal diinstal aja. Sementara Steam OS buat main game Epic atau GOG mesti diutak-atik dulu ya. Apabila dibutuhin Xboxi juga bisa jadi desktop ke mana-mana buat kerja. Tinggal tekan aja bawahnya ini dan dia bakal masuk Windows mode. Bebas. Kalian mau docking dia ke monitor gede bisa atau bawa ke mana-mana pakai monitor portable juga bisa. Hah. Oke, sekarang kita masuk ke spesifikasi. Jadi, ROG Xboxi X menggunakan Ryzen Z2 Extreme dengan GPU RDNA 3,5 dan RAM-nya itu 24 gig LPDDR 5X yang bisa sampai 8.000 transfer per second. ROJ tahulah kalau gaming handheld dengan IGPU pasti butuh RAM yang bandwid-nya kencang. Storage-nya udah berkapasitas 1 TB PCI Gen 4 bermerek Samsung yang speed-nya lumayan buat handhal health. Buat yang warna putih, dia hanya dapat Ryzen Z2A aja dan iGPU-nya masih RDN A2 juga. RAM-nya hanya 16 gig, 6400 dan storage-nya cuma 512 gig. Dengan perbedaan yang lumayan masif dan beda harga hanya R5 jutaan, jujur Li putih ini jadi kerasa nanggung ya. Mungkin disengaja, mungkin juga enggak. Kalau di Cine bench, Ryzen Z2 Extreme ini ternyata berbeda sekitar 1000-an poin di R23-nya. Dan ternyata CPU-nya ini masih kalah dari Ryzen AI 5340 di CineBch 2024. Namun, kemampuan IGPU-nya nih yang meningkat pesat dari Z1 Extreme dan bahkan di atas Radeon 880 M-nya Ryzen AI 9365. Seharusnya buat main game triple A sekarang di resolusi 900p atau 1080p masih kuat spek segini. Seperti yang sebelumnya, ROG Xbox LI ini bisa diet TDP-nya. Bisa silent di 13 wat, performance di 17 wat, dan turbonya di 25 wat. Apabila kita colok ke chargernya, kita bahkan bisa unlock turbonya itu di 35 wat. Anjay, sampai 35 wat. Sebenarnya yang paling rasional itu adalah main di 17 atau 13 watt aja sih, karena batery life-nya bakal lebih benar. Tapi kita akan tes di beberapa profil buat ngasih kalian gambaran. Kita mulai dari Doom The Dark Ages dulu. di preset handheld game ini bisa dapat 57 fps di settingan turbo. Sementara performance dan silent-nya ada di 53 dan 42 fps. Spider-Man 2 settingan mentok kiri kita dapat 40 sampai 65 fps. Seenggaknya di settingan 17 watt dia masih bisa dapat 55 fps. Kalau Cyberpunk settingan Steam Deck kita masih dapat 87 fps di preset turbo dan masih 63 fps di setting performance. Lalu Forza Horizon 5 juga kita masih dapat 60 FPS di setting performance, which is good karena itu yang paling rasional. Main EAFC juga bisa di sini, cuma kecil banget orangnya. Kalau lagi main, dia bisa mentok di 60 fps, namun saat replay bisa turun ke 30 sampai 40 fps. Lucunya untuk woodering waves, dia hanya dapat 46 fps aja di ultra performance. itu pun udah nyolok dan sampai 35 watt menggambarkan Wa ini lebih baik main di HP ketimbang di handheld ini. Nah, saran aja nih ini kan adalah sebuah PC handhal ya yang di mana gameennya mending cari yang handheld juga deh. Kalau kalian mau main game yang di silent mode aja ada kok game yang super ringan tapi tetap seru. Contohnya nih Hollow Knight Silk Song di mode silent bisa sampai mentok 120 FPS dan hardesk itu sampai 230 fps. Semuanya udah mentok kanan. Jadi ya gameennya mending ngotak ya guys untuk dapat hand health experience. Dan buat kalian yang penasaran, kita juga nyoba performa saat nyoloknya alias di 35 watt, tapi kita melihat hampir enggak terlalu berbeda dengan yang 25 watt-nya, mau di Cyberpunk ataupun Spider-Man 2. Nah, karena kita juga penasaran dan gua cukup yakin teman-teman reviewer kelewat sama satu hal ini, kita mencoba instal Steam OS ke dalam handelt ini. Dan walaupun gagal di steam OS-nya, tapi kita udah berhasil dibit. Nah, memang nih ada beberapa fungsi yang hilang. Armory Crate pun enggak ada di sini. Tapi ROG Xbox Ali ini jadi lebih intuitif loh dan lebih kerasa handheh kita mendapat kenaikan di Cyberpunk itu sekitar 6 FPS walaupun memang hanya sedikit tapi perlu dicatat kalau dia pakai translasi Proton loh yang harusnya kompatibilitasnya tidak natif. Kita belum tes lagi di game lain, tapi bisa jadi catatan aja kalau Steam OS masih bisa memberi pengalaman konsol yang lebih baik ketimbang Xbox full screen experience. Lalu kita juga nyoba ngetes Adobe Premiere Pro buat ng-render video H265. Di sini masih bisa bahkan durasinya serasa ultra book aja. Dan kalau video H264 yang ringan buat sosm udah pasti lancar. Nah, ini juga handheld-nya capable dalam ng-render 3D blender juga, tapi yang ringan-ringan aja. Lalu pendinginannya dia memakai dua fan dan satu heat pipe. Suhunya sih lumayan adem. Pas main game mode turbo bisa mentok di 80 derajat celcius tapi stabilnya di sekitar 70 sampai 72 derajat. Padahal saat mengambil power dia bisa spike ke 30 wat dan stabilnya memang di 25 wat. Salah satu syarat utama handhal bisa dibilang nyaman bergantung dari software pengaturannya. Beruntung di sini overlay dari ROG Command Center itu simpel. Pas kita buka, dia langsung ada pilihan gonta-ganti profile. Sementara di bawahnya ada pengaturan control mode, game profile, FPS limiter, resolusi, brightness, volume, banyak dah. Kalau kita navigasi ke kanan juga settingannya lebih banyak lagi. Ada buat WiFi, power, Bluetooth, volume per aplikasi ya. Ini macam Windows G aja cuman dibikin di handeld. Keren sih. Gua berharap ini juga ada di handheld PC Windows lain. Lalu buat control mouse saat di desktop, Xbox LI ini kan enggak punya trackpad ya. Jadi, sama seperti yang sebelumnya, mengandalkan drive analog buat mouse-nya dan dia juga ada mikrofon jadi bisa langsung discordan dari device-nya langsung. Lanjut. Handheeld ini juga keren loh. Dia bisa masuk ke BIOS dari pencet volume down-nya aja. Dan BIOS-nya ini layout-nya itu ROG banget, mirip sama mobonya dan tetap bisa dinavigasi pakai controller. Keren juga ya sampai dipikirin ke situ. Cuma saat kita mau koneekin controller eksternal ke Xbox LI ini baru kelihatan kelemahan dari attention to detail-nya. Controllernya baru terdetect kalau sudah kita matiin embeded controller setting-nya. Jadi kalau belum dimatiin itu gak akan kebaca atau ketutup sama controllernya dia. Dan lebih gongnya lagi controller Bluetooth gamster kita ggak ada yang bisa kect ke sini. Yang bisa cuman controller Xbox aja secara Bluetooth. Dan karena navigasinya juga banyak bergantung dengan touchscreen, pas kita mau main di layar portable dengan controller ya agak ribet dulu lah di awal-awal. Ini agak disayangkan sih karena ROG kan punya ekosistem gaming yang paling lengkap apalagi buat portable. controller ada layar ada TWS ada docking-nya itu juga bagus dan enak loh kalau bawa benda ini buat main di luar pakai layar portable dan terakhir ya kapasitas baterainya kan cukup gede ya 80 watt hour begini kalau dipakai main game di 13 watt-nya itu dengan brightness 40% bisa loh sampai 8 jam tapi main game di turbo terus-terusan itu paling cuma tahan sekitar 2 jam doang itulah kenapa gua bilang game profile yang paling reasonable adalah yang silent dan performance doang. Lalu dengan charger 65 watt, dia bisa ngisi baterai dari 5% ke 100% hanya dalam 2 jam seteng aja. Saat kalian nonton video ini, mungkin beberapa dari kalian udah nonton juga review Xbox Lux itu dari teman reviewer yang lain. Dan tagline-nya mereka itu pasti ada gaming, handheld PC terbaik atau apalah ya, karena memang tagline brief-nya itu seperti itu. Nah, tapi pertanyaannya apakah emang benar ini terbaik? Jadi handheld PC di Indonesia yang pakai Z2xtreme itu ada tiga sekarang. Yang pertama ada MSI Clau A8 dan satu lagi itu ada Legend Go 2 yang baru meluncur di harga Rp1 juta. Kalau gua ditanya mau MSI Cloud A8 atau Xbox li ini jujur aja dengan beda harga cuman Rp400.000 gua tutup mata ambil si Xbox LI ini. Ya, ada beberapa alasannya mungkin subjektif ya. Yang pertama itu karena gua lebih familiar sama Armory Crate dan yang kedua itu ada fitur walaupun gua tadi bilang kalau fiturnya tidak sempurna, tapi gua suka dengan Xbox full screen experience-nya itu. Dan yang ketiga, it looks better aja sih. Kayak keren aja gitu loh ini daripada yang si MSI itu. Kalau MSI agak looks chip gitu. Tetapi balik lagi hardware-nya kalau si MSI Cloud A8 itu udah effect analognya. Sementara yang ini belum. Tapi kalau dibandingin sama Legion G2 mungkin ceritanya bakal berbeda. Dengan nambah Rp3 juta doang kita udah dapat screen yang jauh lebih gede 8,8 inch. OLED pula VRR-nya juga masih. Terus kita udah dapat joystick yang bisa dicopot pasang. Jadi kita bisa pakai kayak semacam mouse gitu dan dia analognya sudah H effect. Sementara ini kalau mau H effect mesti dim dulu. Dan RAM-nya juga udah diup ke 32 gig dan pastinya udah termasuk sama pouch juga. Jadi kita enggak perlu beli pouch lagi. Memang jadi lebih berat dan tidak terlalu portable, tapi ya ini aja enggak portable gitu. Jadi ya sekalian aja gitu bisa dipakai buat main gede-gedean kalau kata gua. Cuman balik lagi tidak ada Xbox full screen experience-nya. Ya walaupun gua tadi bilang kalau aplikasinya tidak sempurna, gua harus akuin kalau gua suka aplikasinya. Karena dia simless banget gitu. Kalau kita mau main game keluar tutup masuk lagi atau gimana dia seless banget. Cuman ya kalau gua punya uang Rp20 juta buat beli handhal PC, mungkin gua akan consider Lenovo dulu baru alternatifnya si ROG ini. Tapi untuk ROG Ali series ini, ROG Xbox series ini menurut kalian lebih menarik yang mana sih? Yang X hitem ini atau yang li putih? [musik] he

Lihat di YouTube