Jungkat

Iseng Bikin Barang Sepele, Malah Jadi Cuan! Review Bambu Lab A1 Combo (YouTube Video)

  • 29/07/2026

Awalnya saya dikirimin 3D printer sama TechnoLab dan juga Bambu Lab ID. Katanya kalau cocok bolehlah dibikin videonya. Dan iseng-iseng saya nge-print Asbug iOS. Terus saya upload di Instagram dan dari postingan itu ada teman saya tuh minta tolong dong kalau misalkan bikirin 3D print adapter buat Google Fitbit Air ke Wop 5.0 bisa enggak? Karena kata dia kalau beli di Cina itu pertama mahal terus juga lama. Ongkirnya pun lebih mahal dibandingkan harga adapternya. Ya, singkat cerita saya ukur-ukur trial and error, gagal desain berkali-kali. Terus saya juga beli Google Fitbit Air-nya sendiri, Wop-nya sendiri yang udah kita bahas juga di video yang ini. Dan akhirnya produknya udah jadi yang sering saya pakai ini. Terus iseng saya upload ke Shopee. Lah, kok laris banget? Sejak saat itu printer ini jarang banget istirahat. Headset stand saya bikin sendiri. Stand HP bikin sendiri, adapter spool bikin sendiri, asbak iOS tempat sampah filamen, penggaruk punggung, tatakan gelas sampai key caper kita bikin sendiri. Jadi pertanyaannya printer 3D yang di sebelah saya ini bukan print 3D ini bisa apa, tapi kayak di studio ini apa barang yang belum saya print. Nah, di video kali ini kita akan bahas si bambu lab A1 combo yang ada di sebelah saya ini, tapi dari perspektif orang awam, karena memang saya awam banget di dunia 3D print. Dan yang paling penting pertanyaannya kira-kira kalau dia nyala terus token kita itu megap-megap ggak listriknya? Saya udah pasang boter dari awal pakai. Jadi kita punya angkanya bukan sekedar kayaknya hemat deh. Enggak kayak gitu ada datanya. Jadi langsung aja kita [musik] bahas. Buat yang belum tahu dan juga mungkin belum pernah tahu cara pakainya 3D print kayak gimana, analogi gampangnya bayangin aja ada tembak lem yang super presisi. Terus dia melelehkan plastik terus gambar di satu lapisan tipis. Terus lapisan pertama selesai, dia naik dikit gambar lagi, naik lagi gambar lagi diulang-ulang terus sama dia ratusan sampai ribuan kali sampai akhirnya [musik] gambar dua dimensi tadi berubah jadi gambar tiga dimensi. [musik] Nah, plastik gulungannya yang dilelehkan tadi namanya filamen. Terus untuk format 3D printer itu biasanya disebut dengan STL atau 3MF bukan 3GP ya. File format STL ini belum bisa langsung dimengerti sama printer. Jadi dia harus dikirim dulu ke slicer. Slicer ini ibaratnya kayak mandornya lah. Jadi dia yang memecah desainnya menjadi lapisan-lapisan menentukan jalur nzle terus berapa banyak isi di dalam barangnya perlu penyangga atau enggak sampai memperkirakan berapa waktu untuk nge-printnya dan berapa gram filamen yang dibutuhkannya. Terdengar terlalu teknikal enggak juga kok. Karena ekosistemnya Bambu Lab ini udah benar-benar jadi komunitasnya. Ini gede banget. Kita bisa cari modelnya itu di Maker World, terus pilih profile yang udah dicoba orang lain. Pilih printer dan bahan, dan udah kirim aja ke mesin. Bahkan ada beberapa model yang bisa langsung dijalanin lewat HP. Itu nama app-nya itu Bambu Handy. Jadi pengalaman pertama pakai 3D print ini jatuhnya nagih banget. Kita enggak harus jago desain, enggak harus jago kalibrasi. Di Michael World buat orang yang mau nge-print apa aja udah ada. Enggak perlu harus [musik] jago desain 3D. Nah, sebenarnya Bambu Lab ini punya banyak model 3D print dari yang paling murah sampai yang paling mahal. Nah, yang kita bahas ini namanya bambu A1 combo. Harganya kalau yang enggak combo itu R jutaan, kalau yang combo di Rp9 jutaan. Dan buat pemula ini cara pakainya gampang banget karena begitu dinyalain mesinnya melakukan kalibrasi otomatis. Dia ngecek permukaan bet, getaran mesin, aliran filamen, dan semuanya auto by himself aja. bahasa sederhananya. Jadi sebelum dia kerja dia nyiapin pilot terus nyiapin meja, bersihin meja sambil peregangan dan nyiapin mood biar mood-nya bagus gituah. Karena dulu ya beberapa tahun yang lalu saya sudah pernah ng-review 3D printer. Harganya dulu tembus R30 juta kalau enggak salah dan itu makainya ribet banget. Nzle-nya harus dipasang manual, kalibrasi, betnya harus rata. Wah, ini mau nge-print aja udah pusing duluan. Di bambu lab A1 combo ini, proses itu tadi dilakukan hampir semuanya otomatis. Ada full auto calibration, terus ada bed leveling otomatis. kompensasi getaran serta ada sensor tekanan di nzle untuk ngebantu mengalirin aliran filamen. Hal pertama yang saya print pas 3D printer ini datang yaitu tadi asbug iost dan langsung jadi bagus. Padahal enggak saya edit, enggak saya apa-apain langsung jadi. Layarnya juga udah touch screen dan menunya cukup mudah dipahami. Dari komputer ada bambu studio, dari HP ada bambu handy. Tadi kita bisa lihat status print, ubah kecepatan, lihat suhu, dan memantaunya dari kamera. Jadi kameranya itu ada di sini yang sebenarnya tujuannya buat ngepantau ya. Karena kalau buat timelaps kameranya ah biasa aja. Tapi jujur aja pengalaman yang paling melegakkan dan menyenangkan itu sebenarnya bukan nge-prinnya ya. Ketika kayak desain saya adapter ini setelah Trial and error itu laku di Shopee itu kayak feel-nya walaupun harganya cuman Rp30.000 ya, tapi kayak feel-nya ketika laku itu wah ternyata menyenangkan. Dan di titik inilah saya sadar sebenarnya 3D printer itu ya kayak alat kerja aja sekarang dan harus pintar cari-cari celah. Jadi kalau misalkan ada masalah cari solusi yang belum ada kompetitornya ya. Kayak adapter ini kan saya lihat memang jarang banget yang jual di Indo ya. Mungkin setelah video ini bakalan banyak yang jual tapi it's ok lah ya. Intinya kalau kalian mau bisnis pakai 3D printer ini cari aja masalah yang belum ada solusinya dan solusinya itu bisa dilakukan dengan nge-print 3D. Kalau ditanya barang-barang apa aja yang sudah saya buat? Waduh banyak sih ya. Jadi ada asbak iOS tadi, adapter, terus juga tempat micro SD itu saya bikin. Terus juga buat etol yang pakai seller moon itu saya juga udah pernah bikin. Headset stand, terus kabel managemen, terus stand-nya HP udah hampir semuah. Mungkin kalau dari kalian ada yang punya ide ini kayaknya di 3D printin bagus deh, Bang. Coba tulis di kolom komentar ya. Siapa tahu ID kalian bisa saya jual. nanti saya kasih credit lah, royalty lah. Dan karena ke depan saya berencana untuk jual beberapa produk 3D print yang masih gadget related, tech related, jadi nanti mungkin saya bikin Instagram sendiri lah ya untuk DKID 3D printer atau apa gitu. Jadi kita bikin sesuatu dari 3D print yang memang masih related sama gadget. Entah cable management, terus smart word stand atau apalah. Nanti kita coba lihat mana yang menarik. Kalau untuk spesifikasinya si bambu A1 ini dia ini punya ya area print sekitar 256 * 256 mm ya. Jadi buat yang orang awam, area kerjanya ini kurang lebih ya sekitar kubus 25 cm. Cukup oke untuk aksesoris, organizer, komponen cosplay. Bahkan bambu lab sendiri klaim kalau misalkan mau nge-print setengah helm, bukan satu helm ya, setengah helmnya itu masih bisa. Kecepatan maksimum untuk tool head-nya diklaim sampai 500 mm/d dengan akselerasi sampai 10.000 mm/d. Tapi jujur aja inreel-nya sebenarnya tergantung yang kita prinsip, tergantung tingkat detail, ketebalan layer, isi bagian dalam. support dan jumlah pergantian warnanya berapa kali. Kalau adapter ini ya kalau misalkan saya sekali print itu bisa 12 itu waktunya 1 jam. Asbak IOS itu seberapa? Sekitar 13 jam. Tapi walaupun untuk yang lebih tebal dan lebih gede lumayan lama, dia punya fitur yang saya suka namanya itu active flow rate compensation. Dia gampangnya kayak misalkan kalian ngambil pasta gigi ya. Kalau misalkan pencetan kalian itu enggak konsisten itu kan keluarnya kadang banyak, keluarnya kadang dikit. Nah, di nzle-nya ini enggak kayak gitu. Karena dia punya flow compensation-nya tadi. Tekanannya bakal konsisten. Jadi, enggak ada yang namanya filamennya kebanyakan atau kedikitan. Nah, terus kalau untuk nozle-nya bawaannya dia ukurannya itu 0,4 mili. Tapi sebenarnya ada banyak pilihan ya. Ada mulai dari 0,2 mili sampai yang paling gede itu 0,8 mili buat ngejar speed sama benda yang lebih tebal. Kalau untuk ganti nozle-nya seharusnya sih cuman satu klip aja cuman diganti gini doang. Cuman karena saya belum ada nozle-nya, jadi saya enggak bisa dimoin. Nah, apa bedanya basic sama combo? Yang basic itu ya dia enggak ada AMS light-nya. Jadi enggak ada kayak empat yang di atas ini. Itu enggak ada. Anggap aja AMS light itu cara gampangnya apa ya? Kayak katrit lah kalau di printer ya. Kepanjangannya AMS itu automatic material system. Nah, karena automatic fungsinya dia buat nge-print objek yang berwarna. Kayak contohnya hasil karya kita itu KCA capmander itu warnanya kuning [musik] sama putih tapi dia sekali print. Jadi dia bisa ganti misalkan filamennya kuning terus putih, dia bisa [musik] auto ganti sendiri. Cuman caratannya kalau misalkan ngprint dua warna itu lebih lama karena dia harus buang filamennya dulu. Misalkan warna kuning tadi dibuang dulu kuning biar dilelehkan terus ganti yang putih terus putih ganti kuning lagi dilelehkan lagi. Jadi kerjanya kayak muter-muter [musik] dua kali gitulah. Dengan AMS combo ini dia juga bisa jadi filamen backup. Jadi kalau misalkan kalian punya warna hitam semuanya empat, nah di gulungan yang satu ini habis, kalian bisa langsung lanjut nge-print. Karena yang paling enggak enak itu adalah misalkan print-nya 96% mau selesai tapi filamennya habis. Wah, itu jengkel banget. Tapi pilihan yang tepat mana mau combo atau basic? Kalau menurut saya sih kalau ada duitnya ya mending yang combo sekalian karena bisa dua warna. Tapi kalau misalkan kebutuhan kalian nge-print cuman satu warna ya yang basic yang enggak combo aja udah cukup. Nah, sekarang masuk ke pertanyaan yang lumayan penting ya. berapa watt [musik] untuk punya 3D print ini? Biaya bulanannya berapa. Nah, si bambu A1 combo ini udah saya tancepin sebuah device untuk ngukur voltmeter, ada software aplikasinya. Jadi, selama dia jalan sampai sekarang itu ada datanya. Dari total konsumsi sih dia ada di 14,48 kWh. Di Juni tercatat 7,29 kWh. Terus Juli ya screenshot-nya sekitar 7,25 kWh juga. Di tanggal 16 Juli pemakaiannya bisa 1,36 kWh dalam 1 hari. Terus kalau untuk dayanya berubah-ubah ya, kadang dia 36,9 watt. Kadang kalau misal panas banget bisa 105 watt. Kenapa bisa berubah-ubah? Karena ya dia enggak pick 105 watt gitu, enggak kok. Jadi saat bedul memanaskan diri, bebannya itu bisa naik. Setelah suhunya tercapai, heaternya itu hidup dan mati untuk jaga temperatur. Jadi, motor, kipas, layar, dan AMS-nya itu bekerja sesuai kebutuhan. Dinamis aja, enggak ngepik 100 watt terus. Dan kalau di tootal rupiahnya berapa? 14 sekian kWh. Kalau studio saya kan itu 5.500 watt ya dayanya. Jadi perkh-nya itu 1600 sekian ya. Berarti total dia dari awal nyala sampai sekarang berarti hampir 2 bulan itu di Rp28.000. Murah listriknya saya akui murah tapi yang boncos itu sebenarnya ada di filamennya. Karena pertama kalian punya 3D print, kalian itu pasti wah nge-print semuanya lah. Gagal nge-print lagi, gagal nge-print lagi. Dan yang boncos itu sebenarnya ada di jahitannya ini si filamennya ini. Karena per kilo untuk yang pakai bambu lab itu sekitar Rp300.000-an. Dan saran saya pakai yang punyanya Bambu Lab aja karena dia ada FFID-nya untuk langsung di AMS. Saya pernah pakai brand lain dan jatuhnya hasilnya itu enggak serapi ketika pakai filamen bambu lab sih. Okelah, jadi mungkin cukup segitu aja cerita saya menggunakan bambu lab A1 combo ini. Dan kesimpulannya setelah saya pakai sekitar hampir 2 bulan ini ya, saya sih kayaknya mau nambah printer lagi deh ya karena ya yang kemarin aja masih laris. Jadi saya mau bikin inovasi lagi untuk nge-print sesuatu hal yang menurut saya masih gadget related ya. Siapa tahu menghasilkan cuan kan. Tapi kita coba aja dulu. Kalau ditanya bambu lab ini cocok buat siapa? Sebenarnya banyak orang ya. Kayak contohnya orang yang suka buat barang custom. Contohnya bengkel. Bengkel itu saya lihat lampu-lampu sekarang juga pakai bracket 3D printing. Terus velocity biasanya sebelum di CNC itu dimolding dulu pakai 3D print karena biaya CNC mahal. Terus content kreator, pemilik studio, hobi, desainer produk, cosplayer, teknisi, guru, pelajar, mahasiswa, banyaklah sesuatu pokoknya yang bisa kalian 3D print. Karena biasanya kan jarang ya toko itu punya sesuatu plastik yang sesuai dengan mau kita ya. Misalnya kita buat sendiri. Pokoknya kalau kalian pengin buat sesuatu [musik] sendiri dari plastik ya pakai 3D print aja. Kalau kita mauin kekurangannya untuk versi yang ini dia enggak ada penutupnya ya. Jadi harus ditaruh di ruangan khusus yang enggak lembab. Kalau bisa berac biar filamennya itu enggak lembab dan enggak rusak. Karena kalau filamennya itu rusak ya hasil print-nya itu jadi enggak optimal gitu. Sebenarnya Bambble Lab sendiri ada yang versi tertutup [musik] juga. Harganya lebih mahal memang. Tapi mungkinlah nanti di pembelian kita kedua kita coba bambu lab yang tertutup. Jadi kita coba lihat apa bedanya. Tapi sementara itu yang bisa saya share.

Lihat di YouTube