Jungkat

JAJAL vivo X500 Pro Max: Luar Biasa Keren, Tapi Seperti Ada Yang Janggal (YouTube Video)

  • 27/09/2026

Video tadi semua direkam pakai Vivo X500 Pro Max. Vivo kali ini benar-benar serius dalam urusan video. Jadi, belum lama ini saya menghadiri launching Vivo X500 series di Shanghai 21 September kemarin. Ada Vivo X500, ada Vivo X500 Pro, dan Vivo X500 Pro Max. Sebetulnya Vivo juga merilis Vivo XF 6 secara global, tapi memang tidak ada presentasi khususnya. XFAL 6 memang sudah rilis di China duluan dan sekarang simply sudah rilis global aja. Di video ini saya enggak terlalu bahas banyak spek. Kalian bisa cari sendiri soal itu dan saya udah bikin video pendeknya juga. Di sini saya mau bahas tentang hasil kameranya Vivo X500 Pro Max. Kebetulan saya sempat nyobain meskipun cuma sebentar banget dan jujur aja saya ngerasa agak janggal sih sama apa yang ditawarkan Vivo kali ini. Jadi langsung aja kita bahas. Selamat datang di video Jajal. Jagat jalan liputan. [musik] Kita mulai topik yang paling basic dulu. bakal masuk Indonesia gak nih? Untuk sekarang belum ada info pasti sih dari tim Vivo Indonesia kapan akan masuk resmi. Tapi kalau kita lihat dari website TKDN, ada tiga model yang sudah terdaftar. Yang pertama itu Vivo Xol 6 dengan kode V2559. Lalu ada Vivo X500 Pro Max dengan kode V2610. Lalu ada X500 dengan kode V2619. Sayangnya saya belum nemu yang X500 Pro nih. Apa enggak masuk Indonesia ya? Atau saya aja yang terlewat kodenya di website KDN. Hm. Malah saat menelusuri website KDN saya nemuin Vivo V80 series yang juga sudah terdaftar. Sepertinya akhir tahun ini bakal banyak serbuan dari Vivo ya. Sayangnya enggak ada lagi varian RAM 16 GB. Jadi 12 GB untuk semua model kecuali unit versi China. Promx mereka beda soalnya. Baterainya 8000 mAh. RAM-nya 16 GB. Jadi jangan dibandingin sama spek global. Tapi selama tim original OS mampu mengoptimalkannya, harusnya kita gak perlu terlalu pusing lah sama angka RAM berapa gigabyte. RAM gede juga bukan jaminan multitask pasti enak kok. Kalau ngomongin varian storage dan warna yang masuk apa aja itu ditunggu aja ya pas launching resmi di Indo. Soalnya dari yang udah-udah sih bisa beda dengan yang di launching secara global maupun China. Kita juga belum dikasih tahu sih kapan pastinya, tapi kalau berkaca dari Vivo X300 series kemarin ya mungkin akhir November kali ya. Semoga bisa lebih cepat. Nah, sekarang saya mau bahas hal-hal yang menurut saya agak janggal ya. Bukan artinya hal buruk, tapi lebih kayak rasa penasaran aja. Setelah saya join event launchingnya kemarin, di kepala saya tuh jadi banyak pertanyaan, "Kenapa begini ya? Kenapa begitu ya?" Oke, kita mulai dari pertama dulu deh. Positioning produknya. Di presentasi Vivo tidak di-mention sama sekali soal perubahan positioning produknya. Kenapa tiba-tiba ada Pro Max? Kenapa X500 Pro jadi compact? Ini bukan praktik baru sih ketika sebuah brand mengubah strategi positioning produknya. Tapi kalau enggak ada komunikasi yang jelas bakal bikin bingung. Kumen enggak sih? Pengguna X300 Pro kalau mau upgrade ke X500 Pro malah jadi downgrade kamera tel-nya. Pengguna X300 mau ke X500 bodinya malah jadi lebih gede. Kalau kita melihat spesifikasi kamera dan ukuran bodinya lebih cocok jadi seperti ini. Vivo X300 naiknya ke X500 Pro. Vivo X300 Pro naiknya ke X500 Pro Max. Kalau kita bandingkan harga tahun lalu jadinya seperti ini. Vivo X300 Pro, RAM 16 GB, storage 512 GB, harganya 5.999 yuan. Vivo X500 Pro, RAM 12 GB, storage 512 GB, 7499 yuan. Ini naik sekitar 1500 yuan. Dan sayangnya untuk X500 Pro ini enggak ada yang RAM 16 GB. Untuk Vivo X500 Pro Max, RAM 16 GB storage 512 GB 8499 yuan. Kalau memang Vivo X500 Pro Max diarahkan sebagai penerus X300 Pro, selisihnya itu 2.500 yan atau kalau dirupiahkan sekarang itu sekitar Rp juta, Bro. Lalu untuk Vivo X300 tahun lalu, RAM 12 GB, storage 256 GB di 4.399 yuan. Vivo X500, RAM 12 GB, storage 256 GB, 5499 yan, Vivo X500 Pro dengan RAM dan storage yang sama 6.499 yuan. Kalau targetnya adalah compact X300 ke X500 Pro, selisihnya itu 2.100-an. R jutaan kalau pakai kurs saat video ini dibuat. Sudah mulai kelihatan kan ya polanya? Saya melihatnya selain perubahan positioning, ini juga bisa jadi semacam justifikasi kenaikan harga. Lalu hal yang janggal berikutnya adalah soal skor benchmark. Di presentasi Vivo kemarin saat bahas SOC Mediatek mereka sama sekali tidak menampilkan skor benchmark. Jadi karena penasaran akhirnya saya coba sendiri aja. AnTTu 11 naik sekitar Rp300.000-an dari dimensage City 9.500 ya sekitar 10% lah naiknya dari 3,6 jutaan jadi 3,9 jutaan. Kalau AnTutu 12 ya nyampai 4,4 juta sih. Biasalah Antutu makin gede versinya makin gede skornya. Jadi jangan bandingkan skor Anutu yang beda versi ya guys. Untuk solar Bay average di 55 fps gak jauh beda dari dimens city 9500. Untuk Geekband 7 skornya seperti ini. Setelah kita lihat skor Snapdragon yang baru agak janggal kan ya. Perlu diingat juga jangan jadikan skor ini acuan absolut ya. Jadikan ini sebagai referensi aja ditambah ini kan masih versi software awal ya untuk Vivo X500 Pro Max. Nanti kalau memang masuk resmi Indo kita akan tes lebih lanjut ya. terlepas belum nyusul Snapdragon 8 Elite Extreme Gen 6, tapi ini tetap kencang lah hitungannya. Hal yang lebih menarik adalah Clay MediaTek kalau efisiensi dayanya naik 61%. Menurut saya ini jauh lebih penting daripada sekedar adu kenceng-kencengan doang. Oke, ini adalah contoh video kamera selfie-nya Vivo X500 Pro Max. hasilnya seperti ini. Dia bisa merekam di 4K 60 fps dan videonya seperti ini. Kalau di bawa jalan kalau dilihat dari layarnya sih ini videonya udah stabil lah. Kelas flagship dari Vivo X300 Pro kemarin juga udah bagus. Ini adalah kamera ultrawide-nya Vivo X500 Pro Max di 0,6 kali. Kita coba bawa jalan ya. Ini Venue Vivo nanti malam di West Ban ini kita ada kesempatan buat nyobain bentar. Kameranya Vivo X500 Pro Max. Sekalian kita coba pindah-pindah kamera kali ya. Ini dari 0,6 kali ke satu kali kamera utamanya. Kamera utamanya ini 24 mili ya, 24 mm. Jadi masih standar lebar kamera utama. Lalu ini adalah kamera telenya di 3,5 kali zoom. Ini kameranya yang 200 megapel. sudah cukup stabil belum? Perpindahan kameranya juga lumayan mulus ya. Ya, ini dari X300 Pro kemarin juga udah mulus dan warnanya juga lumayan konsisten. Cuman memang entah kenapa di perekaman video ini kalau kita mau pindah ke kamera selfie-nya langsung itu belum bisa di 4K60 ya. Ini kalau saya pencet tombol kamera selfie-nya itu belum bisa di 4K60, masih di 4K30 ke bawah aja. Nah, ngomongin kameranya, fitur-fitur barunya ini kalau saya lihat lebih banyak di bagian software. Opsi color style sekarang ada banyak banget. Bahkan ada color style sunny day. Di sini ada yang penggemar Jocho gak nih? Dulu dia ada lagu judulnya Sunny Day dan Vivo mengambil inspirasi warna dari video musik Sunny Day itu. Di Vivo X500 series kali ini, Vivo memang ada kerja sama sih dengan Jocho juga. Dengan banyaknya opsi untuk mengatur warna gambar, kita jadi bisa menyesuaikan dengan selera masing-masing. Vivo benar-benar berusaha supaya pengguna bisa bikin video cinematik dengan lebih mudah. Tapi tetap ada hal yang janggal buat saya. Ini opini doang sih. Dengan color style sebanyak ini, jujur aja saya agak merasa overwhelm atau kewalahan saat pertama ngulik. Kita harus paham dulu skenario video kita seperti apa untuk tahu color style yang pas itu apa. Pas kemarin nyoba, ujung-ujungnya waktu malah lebih banyak habis untuk trial error warnanya. Belum lagi kalau waktu buat bikin videonya juga terbatas. Jadi tetap secanggih-canggihnya kemampuan videonya, kita harus menyiapkan waktu khusus untuk belajar fiturnya dan mengenali medan perangnya dulu serta mendedikasikan waktu untuk syuting. Jadi jangan salah ekspektasi ya, mentang-mentang pakai X500 Pro Max asal rekam videonya pasti bagus ya enggak juga. Fitur berikutnya yang enggak kalah keren ada auto framing. Kita tinggal tap ke orangnya. Nanti kameranya akan memastikan orangnya tuh stay in frame. Kita tinggal pilih aja mau komposisinya full body, setengah body, atau close up. Tangan kitanya tinggal diam aja. Nanti kameranya sendiri yang akan menyesuaikan framing-nya. Yang penting subjek jangan sampai keluar frame kejauhan aja. Lalu ada fitur Fortex shot. Ini video yang biasanya baru bisa kita achieve kalau kita pakai gimbal. Nih, kita pas pegang HP-nya tuh enggak perlu ikut muter. Ini semua buy software. Menariknya ini seperti eksekusi yang terbalik dari fitur horizontal lock ya. horizontal lock kan HP-nya muter, frame-nya tetap di horizontal yang sama. Nah, kalau yang ini HP-nya yang tetap, videonya yang muter. Kalau fitur 4K 240 FPS-nya ini memang fitur favorit saya sih. Buat yang udah kenal saya pasti tahulah kalau saya itu hobi main yoyo. Dan slow motion itu sebuah teknologi yang keren banget di mata saya. Triknya jadi kelihatan ekstra keren dan bisa kepakai buat bikin tutorial juga. Tapi ini baru untuk kamera utamanya aja ya. Kalau kamera telnya mentok di 1080p 240 fps atau 4K 120 fps. Dan sebaiknya fitur ini dipakai pas cahaya berlimpah ya. Sayangnya pas trip kemarin mendung terus nih. Jadi lighting outdoornya juga kurang maksimal. Lalu fitur lock-nya juga benar-benar impressif dari micrrage yang maksimal ada di mode ini. Di sini sekalian juga saya nyobain pakai tele extendernya yang 400 mm. Yang kiri itu mode auto, yang kanan pakai mode lock. Lalu saya warnain pakai Loot R09 dari Vivo langsung. Saya agak kaget sih, ternyata informasi dalam gedung ini bisa langsung jadi kelihatan kayak begini kalau di mod lock. Ini baru sebagian aja fitur yang saya coba. Nanti kalau masuk resmi Indo, kita kulik lebih dalam lagi deh. Kalau soal fotografi, saya udah sering bilang ya di kelas flagship seperti ini kalau masih ada yang belum bisa bikin foto bagus itu sih masalahnya bukan di HP-nya tapi skill isu yang makai. Satu hal yang sering saya apresiasi dari Vivo adalah kemampuannya untuk nge-freeze objek bergerak bahkan di mode auto sekalipun tanpa fitur snapshot. Peluang foto jadi blur itu lebih kecil di sini dibandingkan berbagai smartphone yang pernah saya coba. Benar-benar tinggal jepret, jos pokoknya. Kebetulan di event kemarin juga ada sesi Q&A dengan produk manager dari divisi kamera dan origin OS. Ada beberapa fitur yang saya minta di sini. Yang pertama itu frame rate monitoring. Di sini saya minta supaya saat main game kita bisa lihat FPS dalam floating window. Lalu saya juga udah menanyakan mengenai kualitas upload di sosial media. Untuk direct Instagram, mereka mengklaim sudah mengoptimalkan dari sisi stabilizer, akses ke semua kamera, dan HDR-nya juga. Tapi di sini saya juga minta untuk mengoptimalkan aplikasi lain juga seperti video call untuk Google Meet, Zoom, dan WhatsApp video call. Asli pakai Vivo tuh kameranya dahsyat banget, coy. Tapi kalau software thir party-nya enggak bisa optimal ya kan agak sayang aja. Lalu ada beberapa kamera experience juga yang saya protes seperti selfie default selalu ke portrait. Selfie portrait gak bisa diatur bokehnya, editor bawaan gak bisa edit video 120 fps. Terus di mode video normal 120 FPS-nya itu harus pakai 4K, enggak bisa 1080p dan masih banyak lagi. Saya juga ada protes soal origin OS yang masih jomplang nih antara versi China dan global. Untuk versi China pasti dapat duluan lah optimasi dan list fitur canggihnya. Global belum ada kejelasan nih mesti nunggu berapa lama ya. Semoga feedback-feedback dari kita ini bisa bikin origin OS tambah mantapl lah. Seperti biasa, kalau kalian punya pertanyaan atau ada penasaran sama produk Vivo yang baru ini, komentar aja di bawah ya. Saya juga mau tahu kalian penasarannya di bagian mana aja. Thank you buat yang sudah nonton. Kita ketemu lagi di video berikutnya. Bye. [musik]

Lihat di YouTube

Video Lainnya

Brand Terkait

Vivo X300

Vivo X300 membuktikan standar flagship baru lewat kamera telefoto 200 MP serta performa gahar Dimensity 9500.