JALAN2 ONLINE: KE SOLO NAIK STARGAZER CARTENZ X! (2/2) (YouTube Video)
Setelah kemarin mengeksplore Kota Sragen, di hari kedua jalan-jalan online kali ini kita akan explore kota Solo. Ada apa dan kita mau ke tempat seperti apa ya? Yuk, tonton terus videonya. Let's go. Selamat datang di Solo. Di Solo? Enggak jauh-jauh, Pak, dari Katen ya? Iya. Sebenarnya gua ke sini sih sering. Heeh. Dan seringkiali juga tanpa rencana dadakan. Heeh. Karena ya cuma setengah jam dari Klaten. [tertawa] Dekat ya dekat. Tapi kira-kira seseru apa, Pak, Solo, Pak? Kalau diekplore, Pak? Gini, kalau orang Klaten ke Solo biasanya cari mall, [tertawa] tempat makan yang ada di Jakarta. Di Klaten enggak ada, di Solo biasanya ada. Tapi sebenarnya kita namanya jalan-jalan online, kita mau ke tempat-tempat yang culture. Culture penuh dengan kebudayaan maksudnya, Pak. Ya, kebudayaan. Benar ya. Kalau tadinya gua pikir batik tuh, tapi itu pernah sama Om Fitra Omobi. Nah, sekarang kita ke tempat yang berbeda. Perah dan kali ini kita ada di MBZ, Kak. Bukan nama itu, Pak. Jalanan MBZ, Pak. Bukan. Ini namanya Masjid. Heeh. Muhammad bin Zed. Iya, betul sekali. Oke. Berarti bikin masjid juga ya. Ini yang bangun itu beliau. Uangnya dari beliau. Iya. Oh, pantesan namanya juga sama ya. Heeh. Dan di sini jadi objek wisata juga sekarang. Bu siapa? Jadi kalau dilihat tuh itu enggak tahu dari mana, dari Jepang atau dari Cina ya? Pada ke sini enggak cuman muslim, Pak? Enggak. Enggak apa-apa. Oh, kita ke Brunei kan ingat enggak? Oh, iya ada juga ya. Datang Masjid Sultan. Masjid Sultan. Masjid Sultan. Rata-rata yang datang wisatawan asing. Benar, benar, benar. Nah, ini juga begini dibuka buat juga sama kurang lebih seperti itu. Dan kita naik Stargazer Carens X dari Yande. Iya. Ini iya hari pertama kita udah ke Sragen. Betul. Ini adalah hari kedua kita jalan-jalan. ke Solo. Solo ya. Jadi buat teman-teman kalau misalkan yang belum nonton video pertama bisa langsung ke video pertamanya aja. Betul. Jalan-jalan online. Gimana Pal setelah naik Stargazer Car Stens dari Jakarta ke Klaten, terus kemarin ke apa? Ngawi. Eh, Ngawi. Ke Ngawi, ke Sragen. Besok ke sini. Sagen. Keren, Pak. Pokoknya, Pak. Keren. Enak aja. Kerennya gimana ya? Gimana ya? Ternyata fiturnya jauh lebih bagus, Pak. Lebih lengkap, Pak. Daripada dugaan gua. Heeh. Lebih lengkap. Jadi membantu bangetlah untuk naik mobil lah kayak gitu. Nyaman enggak? Oh nyaman pasti, Pak. Nyaman pasti. Yang kemarin di apa kita coba tikungan, Pak? Body roll-nya. Gila. Dan ini kemarin kita dari Ngawi sekarang dapat 14,6 km/ dari Sragen. Dari Sragen. Dari Sragen. Oh, dari Sragen. Ya, awas. Y. Wes kita masuk aja dulu. Ini kebetulan bukan tempat parkir. Tadi kita izin sama Pak Sat Pamnya untuk bikin video di sini sebagai opening ya. [tertawa] Let's go. Kita parkir dulu baru masuk ke MBZ. Gas. Nah, jadi parkirnya tuh bisa di pinggir jalan sini. Atau kita harus agak masuk. Hmm. Nah, tuh lihat tuh pariwisata. Pariwisata. Pariwisata semua. Beneran beneran orang pariwisata ke sini ya. Benar. Tiga kali bercanda. Enggak kok ini bukan pariwisata. [tertawa] Nah, terus juga ada bendera UA-nya karena yang bikin mereka kan. Oh, gitu. Ih bagus ya. Iya. Belum sini. Belum belum pernah sini gua. Entar kita C parkir dulu ya. Iya iya iya. Nah tuh nyala karena terlalu dekat kiri kanannya. Part distance warning-nya nyala PDW-nya terus langsung kamera 360-nya jalan apa nyala juga. Nyala juga. Memastikan kita aman walaupun dig gang sempit ya. Yes. Itu penting banget sih. Ah dapat parkir nih tadi. Oh i ya. masjid MBZ Solo bukan nama jalan tol ya. Namanya sama karena memang Masjid MBZ dibangun sebagai hadiah dari Syekh Muhammad bin Zayid Al-Nahyan, Presiden Uni Emirat Arab kepada Presiden Indonesia Joko Widodo sebagai bentuk persahabatan rat antara Indonesia dan UEA. Peletakan batu pertama dilakukan pada 6 Maret 2021 dan peresmian oleh kedua pemimpin dilaksanakan pada 14 November 2022. Masjid ini kemudian resmi dibuka untuk umum pada awal Maret 2023 dan menjadi salah satu destinasi wisata menarik yang wajib dikunjungi. Mantap. Hah? Senang kalau masjid begitu tuh, Gede ya? Gede banget. Ada tamannya juga. Iya. Dan dibuka buat wisata itu loh penting banget. Yah, sekarang kita mau makan, Pak. Makan apa nih? Eh, kalau ee Solo pernah dengar namanya Selat Solo enggak? Pernah. Dan itu gua belum pernah nyoba, Pak. Jujur aja. Sebenarnya di sini tuh ada banyak banget tempat makan yang lucu-lucu atau apapun ya. Karena gua beberapa kali juga kulineran di sini ya. Cuman menurut gua yang khas ya kan ada solonya ya. Iya pasti ya. Selat Solo ya itu sudah dapat dipastikan ya. Selat Solo ini salat Solo tuh enggak semua orang suka tapi untuk ukuran Selat Solo ini enak. Oke. Selat Solo, Mbak Lis. Oke, warung kelas B menit. Ayo kita pergi. Ayo. Semangat sekali. Karena sebenarnya Solo itu kayak Jakarta juga sebenarnya. Oh, berarti metropolitannya banyak. Iya, banyak. Ini kayak ke Jogja lah. Jogja juga sama kayak Jakarta juga sebenarnya. Apa yang ada di Jakarta biasanya ada di Solo dan Jogja. Hm. Jadi kalau orang Klaten kayak kita nih ya kan misalkan mau ke Informa gitu kan. Narinya ke Solo ya. Enggak ada di Klaten. Iya juga sih. Heeh. Terus misalkan kalau Susite atau apa gitu-gitu kan enggak ada di Klaten kan kita ke sana gitu. Kalau enggak Jogja Solo. Nah, kalau di Solo ini culturalnya juga banyak ee yang berbau-bau budaya. Iya. Makanan khasnya dan banyak sekali. Jadi kalau orang Jakarta ke Solo terus dia ke mall. makan apa? Marugame Und ada [tertawa] di Jakarta. Ngapain ke Solo? Ngapain ke kalau orang Kelaten? Iya. Iya. Karena cari begituan ya kan masih jarang masih ada. Imperial kitchen. ngapain? Iya kan? Nah, tawan gitu. Ngapain? Ada Jakarta banyak. Jakarta banyak. Ini gua ajak ke tempat-tempat yang di Jakarta enggak ada. Hmm. Oke. Heeh. Selat Solo ini makanan khas. Oke. Tapi makanan khas enggak cuma Selat Solo dong, Pak. Banyak. Ee ayam-ayaman tuh ada banyak. Heeh. He. Terus e ada gurame juga. I ya. Tapi bukan di tempat ini ya. Ada banyak ya. Pokoknya Solo tuh banyak banget gudangnya kuliner even. Sengsu aja ada. Sengsu. Oh oseng-oseng asu. Iya. Makan anjing. Di sini juga ada. Berarti enggak cuman di legend juga. Tapi gua enggak ke sana dong. [tertawa] Pertama haram dalam agama kita. Yang kedua, kalaupun halal, kalaupun halal pun gua juga enggak mau makan. [tertawa] Ibar tuh makan kucing atau apa yang lu tiap hari lu piara gitu kan lucu gitu kan seperti Iya enggak tega juga sih ya walaupun halal tapi ya maksudnya beda budaya kali kayak misalkan waktu kita ke tomohon tuh banyak ya terus enggak cuma tomohon sih di Sumatera Utara juga daerah Tapanul di sana kan juga ada biasa makan daging gitu sampai jadi lagu lagi kan. Nah kalau di Pulau Jawa ini di Solo ini pusatnya. Oh, masih ada ya saya? Masih masih ya? Masih. Cuma gua enggak menyarankan ya. Iyalah jangan ke sana juga, Pak. I dari sekian banyak udah banyak pilihan makanan yang bisa dimakan kok milih anjing. Iya iya iya. Hewan piaraan, Pak. Enggak, maksudnya ada banyak daging. Lu mau daging apa gitu loh. Daging sapi, daging kambing, ayam, domba. Ya kan? Masa masih kurang? Oh iya iya. Ngapain juga dimakan itu? Y tempatnya agak masuk ke dalam. Tapi tenang aja. Setelah lu ada parkir. Tadi gua ngelihat di depan banyak yang parkir. Tapi ternyata di sini aslinya di sini parkir pasang parkirannya. Jadi enggak perlu jauh-jauh. Iya, bisa kelihatan mobil dari sini ya. Betul. Tapi kan ada bling, Pal. Aman banget, Pak. Iya, blingnya di HP gua udah. [tertawa] Ah, nih banyak yang baru pulang juga nih. Iya, iya. I pengunjung. Nah, ini nih. Uh, intip balung ketek ketek ketek [tertawa] ketek ketek ketek. Ini apa nih? Selada air nih, Pak. Telada air. Selada air. Emang begini ya. Oh, enggak berapa orang, Kak? Ee bertiga. Bertiga. Ini saya kasih minyak. I kasih silakan masuk aja, monggo. Oke. Tidak buka cabang. Berarti enggak ada cabangnya deh. Cuman di sini doang ya. Heeh. Halal kan, Mas? Ya, halal tuh. Halal. Aman ya. Yuk, Mbak Kasir ya, Mbak ya. Warung selat tuh. Jika ramai membeli mau tidak mau harus antre. Oke, Tapi line semua we memang pertama kali ke sini kan gua pertama kali ke sini. Nih ada selat lidah, selat bestik, selat lidah ya, bukan silat lidah. Silat lidah. Ada yang galantin daging giling ya. Ada yang bestik tahu bestik sapi. Bestik sapi ya. Berarti bistik sapi aslinya begitu ya. Iya. Bukan stik solonya ya. Sosis solo. Oh sosis. Sosis solo. Tim lo. Nah tim lu kan namanya itu bukan Pak band kocak itu. Bukan berarti dia di makanan aslinya gua selat lidah ya satu ya. Hah? Selat lidah. Selat sidah. Cobain ini sosis solonya. Enak kan? Telurnya berasa. Dagingnya mantap. Premium sih ini. Tapi kayaknya harganya enggak murah. Enak banget soalnya. Heeh. Tebal banget. [musik] Selat solo, Mbak Lis. Untuk kalian yang suka makan makanan manis, ini enak sekali dan kalian wajib datang ke sini. Selain selat, di sini ada banyak sekali koleksi porceline yang juga bisa kalian beli. Menarik ya. Kenapa banyak banget ya? Banyak Pak. Nah, ini ada yang ini nih, Pal. Cobain ini dulu, Pal. Ini apa ya? Yang daging giling. Oh, daging giling. Jadi, dia tuh kuahnya manis. Kuahnya light manis. Ya, orang Jawa kan sukanya manis ya. Oh, begini. Pakai kuah manis. H. Oke, begini rasanya. Oke. Belum pernah makan? Belum. Belum pernah makan, Bang. Oh, oke. Ya, wesilah. Kalau gua pesennya lidah. Oh, lidah. Lidah sapi. Iya. Makanya gua bilang selat itu enggak semua orang suka. He. He. Karena dominan rasanya manis. Dominan rasanya manis. Tapi kalau kalian nyari selat yang menurut gua enak sih di sini. Tapi segar ya rasanya begini ya. Deman deman gua. Cobain Pak. Enak. Ambil pak. Dan dia tuh karbonnya kentang gitu ya. Kentang goreng gini. Proteinya ada telur. Ini apa nih yang kuning-kuning ya? Itu lebih stik ya? Enakan yang bestik dibanding lidahnya. Ini kayak mustard saus gitu loh. Hm. Enak. Ada potato chipsnya juga ngasih tekstur gitu. Nah, ini dua kasih blewah biar kayak buka puasa. Satunya hatur nuun. Nih es blewah. Zaman dulu ada band namanya blewah. Mana ya? [tertawa] Enggak semua orang tahu. Kalau tahu komen [tertawa] Bwat baru dengar gua enak, segar banget. Walaupun bukan tipikal yang kuahnya anget panas itu bukan. Kalau gua ee enak. He cuma bukan sesuatu yang gua demenin karena kuahnya manis ya. Nah. Iya. Tapi itu seleranya beda-beda tiap orang. Tapi kalau kalian ke Solo cobain ini. Tetap harus cobain ya. Karena dibanding selat-selat yang lain menurut gua ini yang one of the best. Cuma di sini ini ada sambal kecap bukan ya? Hm. Dari aromanya sih sambal kecap. Kita cobain ya. I tetap aja ada kecapnya bukan pure sambal Pak. [tertawa] Tapi ini termasuk makanan berat. Berat. Berat. Kalau kurang nanti kita makan lagi. Karena di Solo tuh kuliner banyak banget. H banyak banget. Tapi kalau gua mau rekomendasiin lu sukanya yang mana? K yang banyaknya. Sukanya yang kayak gimana? Pilihannya banyak ya. Mau yang gurih apa yang itu manis. Gua suka sih salat. Suka ya? Suka gua [musik] Selesai makan selat. Enggak disangka ternyata kami bertemu dengan Mbak Lis bisa pas banget ya. Nah, ini pas kita selesai makan ternyata ada Mbak Lisnya ya. [tertawa] Aku panggilnya apa, Mbak? Ibu atau apa sekarang ya, Bu? Ya, dulu jualnya masih umur 19 tahun. Woh. Oh, sudah 19 tahun berapa itu Bu? Lulus SMA. Tahun berapa itu? Tahun '87. '87. Jenengan lahir tahun berapa? 91. Waduh. [tertawa] Iya. Ini gimana ceritanya, Bu? Kok ada banyak banget porceland ya? Sampai meja-mejanya itu menarik banget ya. Porsel semua. Iya soalnya senang tadi. Senang ya masak-masak dari kecil sama senang ngumpulin ini. Ini bisa dibeli tapi bukan yang dilem. Tapi di rumah ada. Di rumah ada stok. Nanti kalau ada pembeli yang minat. Oh ini dijual. Heeh. Tapi di rumah. Oh. Oh di rumah. Ini yang yang di sini ini dilay jadi semuanya aman jadi enggak akan enggak bisa diambil ya diangkat juga sama semen. Oh jadi enggak bisa dicuri. [tertawa] Iya kan poret mahal loh. Ini dari mana, Ibu? Dari Cina. Thailand. Cina Thailand. Ada juga dari Belanda. Wah. Oh Belanda nih. Kayak gini nih. Sepatu nih. Sepatu. Iya. Lagi. Ada apa lagi? Ini kuno. Yuk. Yuk. Masuk yuk. Lampu kuno ini hati-hati ya, jangan sampai nyenggol [tertawa] ya. Ini diilem aman. Oh, dilem. Oh, di lem. Enggak bisa geser. Iya, benar. Di benar enggak bisa [tertawa] digeser. Pecah berarti berarti membeli ini. Umurnya ada 50 tahun ada. Jadi ini bisa nyala semua. Oh, lampu. Benar lampu ya? Lampu nggih. Jadi memang kalau ada yang peminat yang ketemu Ya, tahu Heeh. Ada yang saya enggak ngerti soalnya ini. Tapi keren aja ngelihat ya. Ken kan masih muda semua. [tertawa] Jadi sama umurnya ini tua umur ini. Iya lagi. Iya benar lagi. Bentar lagi. Enggak bisa didebat itu kalau yang Iya benar. Valid valid. Jenengan masih muda ya wis anu pintar. Alhamdulillah [tertawa] terkenal. Ini lebih pintar. Mana ada enggak ada. Ini burungnya enggak dijual Bu ya? Itu asli. Asli ya? Asli sapu-sapu juga dijual nanti kalau Oh iya sapu yang tadi di pinggir-pinggir itu ya. Tapi kalau liburan panjang kan tamu-tamu banyak dari kota biasanya enggak beli selatok tapi dia mereka beli oleh-oleh sapu sapu sudah tahu kalau awet. ya dibawa ke Jakarta ke Bali ke Suraboyo ngoten. Nanti kalau tanggal itu 18 ke atas kan sudah mulai. Iya. Heeh. Berarti Selak Solo dan Sapu Solo. Ya udah, Bu. Terima kasih banyak. Heeh. Nanti kita mampir lagi kapan-kapan. Makasih ya. Nanti di pajang sana ya. Masih datang lagi [tertawa] fotonya itu aja. Iya. Terima kasih Bu. Setelah ini kami mau coba kuliner Solo yang lain. Wah, makan terus ini ya. Yo, wis, yuk kita let's go. Enggak nyangka ya bisa ketemu langsung Mbak Lis, Mbak Lis. [tertawa] Tapi ya masih lapar enggak sih, Pal? Emang porsinya begitu kali, Pak, ya? Ya memang selat Solo ya begitu. Jadi bukan yang bikin kenyang. Heeh. Heeh. Nah, tapi di sini ada sate yang legend juga. Sate apa tuh? Gua udah beberapa kali ke sini sih. Heeh. Yang pasti bukan sate jamu. Gua tahu tuh sate jamu. Sate jamu gua tahu tu. Yang pasti bukan sate jamu ya. Tapi sate beneran ya. Sate beneran. Oke kita gas deh. Legend. Oke. Yuk yuk yuk. Aduh ini enaknya kalau kita parkir ada atapnya ya. Masuk adem. Iya tapi kalau kita parkir tidak ada atnya panas itu blue sangat membantu. Bantu sekali blueing. Mantap. [tertawa] Aduh. Itu sih pol. Dari jauh dari mana aja bisa, Pak? Ya, bisa, bisa. Enggak perlu dekat-dekat. Ini namanya sate Pak Manto. Sate Pak Manto. Iya, Pak Jokowi itu katanya favoritnya ke sana. Wah, berarti ini ya valid ya. I karena gue juga bukan pertama kali ke sana. Ah, beberapa kali juga sih. Lu merekomendasikan lah ini. Itu emang enak. Oke, kita coba lah ya. Enak. Cuma rasanya rasa sate kambing. Sate kambing maksudnya beda sama yang kemarin di Serragen itu sate kambingnya kan rasanya benar-benar kayak enggak pernah coba rasa kayak gitu di manapun. Iya. Iya. Benar. Nah, ini sate kambing Oh, sate kambing ya pada umumnya. Tapi pada umumnya tapi enak. Oke, patut dicoba. Rasanya sama maksudnya bukan yang beda kayak gimana. Kalau kemarin tuh di Sergen itu emang rasa kita baru ketemu rasa itu lah ya. Iya. [tertawa] Tuh. Part distance warning-nya juga lihatin ya. Enggak cemas. Dan lihat dong gua seringnya dari Yande itu dia tuh punya fitur tapi fiturnya semuanya bagus dan kepakai. Fungsional sekali enggak? Maksudnya kualitasnya bagus. Oh iya kualitasnya bagus dia kualitasnya bagus ya. Enggak cuman sekedar ada doang. Iya audionya bose beneran bagus ya [tertawa] kan. Terus ee ini juga tuh kamera 360-nya bagus ya kan. Bisa dizoom out tuh. Lah baru tahu nih gua baru tah gua. Nah, jadi gua biasa pakai Ionic 5. Ee yang harganya mahal. Iya. Mahal di Stargazer Car ST X yang harganya mungkin hampir setengahnya ya. He. Itu fiturnya sama bagus ya? Sama bagusnya. Betul. Nih kepet kan? Tuh lihat tuh. Ah kelihatan di situnya ngebantu banget. Enggak perlu ngelengok-ngelengok spion banget ya. Iya. Tuh, di sini udah yakin lihat lagi di situ bisa aman kita aman. Ah, gitu AC-nya sudah digital tapi tetap ada tombol-tombolnya, Pak. Tetap ada tombol fisiknya. Itu yang penting. Dan lu lihat tuh 14,1 km/l dalam kota. Dari tadi kita keliling-keliling dalam kota segitu dapatnya. Mantap. Biasanya kalau dalam kota tuh langsung oh boros banget ya. Heh, karena stopeng guonya banyak. Eh, tadi kita kiri kanan kiri si itu kiri ada karena stok nil-nya banyak. Tapi tetap masih dapat 14,1 km/l itu. Wah, jadi mesinnya itu gua suka 1500 cc. Dia irit tapi kencang. Biasanya kan milih lu mau kencang doang tapi boros atau e irit tapi pelan. Ini sekalian ya. Ini sekalian karena transmisinya bagus. Heh. Ya kan dia pakai. Ya. Terus teragi 115 HP 145 Nm ya. Jadi emang untuk 1500 cc dia emang tinggi. Iya iya iya gitu. Dan tingginya bukan cuma diputar atas doang. Jadi dari bawah kita gas kita langsung wush gitu loh. Waduh. Eh dia ada pedle shift untuk ngantu. Kalau kita enggak pakai pedel shift pun kita gas gitu ya. tetap ngisisi tetap ngisi ya jengat-jengat gitu. Jadi emang secara mesin untuk naturaled Stargazer itu emang patut diacu jempol. Mantap rasanya. Kita kiri kanan. Kiri kiri kiri. Oke. Berapa kali gua ke Pamanto ya? Lu sering? Mm beberapa kali ya. Lumayan. Lumayan. Ni bikin satenya sama tengkleng dan kawan-kawannya di sini. Namanya open kitchen the open kitchen ya. Tuh manggang satunya di sini tapi ada blower ke atas. Sebenarnya kipasnya manual. Ini boleh nih mau masukin boleh, Mang. Di sini juga ada tuh. [tertawa] Enggak emang boleh kita masuk-masuk sini, Pak. Pak boleh. Nah, blowernya Pal. Heh, pakai turbo. Wah, tuh 34. Kami suka turbo. Ada nasi goreng juga. Oh, lengkap ya. Ini pakai batu bara. Masaknya areng kali. Areng. I batu bara. Oh, boleh masuk-masuk dapurnya ya? Boleh. Cuma kalau kuat aja panas banget. Iya. Hanget banget. Anganget. Kuat juga ya. Oh, di sini tempat makannya. Iya, di sini. Ah, gua cuma nunjukin doang. Panas hangi pesen di sini. Selasa langsung aja. Oh, langsung masuk. Wah, ada live musiknya. [tertawa] Oh, lega dalamnya. Aduh, aduh aduh aduh. Aduh. Aduh. kayaknya enak copot ini ya. [tertawa] Hangat hangat sekali. Sate kambing dan tengkleng rica-ric Pak Manto berdiri sejak tahun 1990. Pak Manto dikenal sebagai salah satu pionir olahan kambing modern di Solo. Wah, berarti udah 30 tahunan ya? Lama juga Nah, ini dia sate kambing dan sate buntel. Oh, di lednya dipatahin ya. Eh, dicopotin. Hah? Ya emang buntelannya doang ini, Pal. Ini mantap sekali, Pal. Pakai ya kan tadi gimana cara bikinnya? Menyala-nyala bikinnya, Pak. Mantap kan? Dagingnya tuh lumer di mulut. Enak banget. Jadi enggak heran kenapa seramai ini yang makan. Ini weekday loh. Jam istirahat makan siang ini. Sebanyak itu. Mantap kan? Banget parah. Coba buntelnya juga mantap benar parah. Buntelnya dari apa nih? Dari kambing juga. Kambing juga. Oh daging kambing dihancurin ya? Dibuntel. Nyobain Pak. Daging giling kambing. Ini enak lagi nih. Lebih enak lagi nih. Mantap banget. Karena mungkin di digiling kasih bumbu dulu. Nih itulah kenapa gua ya cukup sering ke sini karena memang enak sekali cuma minusnya adalah dia e lumayan mahal aja. Ee tiga biji begini kalau satunya Rp24.000 kalau segini Rp70.000. Satenya siapa? Nasi goreng. Saya enggak nasi goreng. Lu nasi goreng. Allahu Akbar. Tapi ini wah the best ini. The best. Gimana next? Carlos editor. Nambahin editor. Wajib mampir. Pak Manto. Ini namanya dengkul. Lutut ya, Pak? Dengkul. Jadi selain otak, dengkul juga bisa dimakan. [tertawa] Semuanya bisa dimakan sih. Bisa dimakan dengkul kambing. Di rica-rica berarti kuahnya dikit ya. Gas. Mana Pak? Makan dengkul, Pak. Nah, yang ini buat Oh, tulang-tulangnya. Tulangnya. Sekarang kan? Nah, sikat aja lah. Ini mantap. Mana sih? Kita lihat dia. Bahaya ini. Bahaya ini. Pokoknya pulang dari sini berat badan Anda naik. Aduh, Pak. Jangan, Pak. Hm. Mantap ya. Tapi ini lagi pedas banget nih. Biasanya enggak sepedas ini. Oh, gitu. Ini lebih pedas nih. Bumbunya tuh. gokil. Enggak bisa berkata-kata gua. Enak Mantap. Ya, biasanya kalau ketemu bumbu rich tuh tanggung rasanya. Enggak terlalu rich. Ini mewah banget yang ini. The best. Hmm. Ini juaranya nih. Jadi sebenarnya kambing itu sehat, Pal? Kambing itu sehat. Yang bikin darah tinggi itu bumbunya, Pal. Senten-santenan ya. Lada-ladanya gitu tuh. Oh, iya. Kambingnya masih sehat? Enak loh. Hmm. Gua juga baru pertama kali makan dengkul ini. Sekali-kali dengkul lu makanlah. Jangan dipakai buat gini. [musik] Waduh kenyang sekali. Sate kambing, sate buntel dan dengkul kambingnya mantap. Kalian wajib coba kalau ke Solo. Seperti biasa, habis makan kami mau nyari yang segar-segar. Yuk, kita gas. Alhamdulillah. Oh, aduh agak ini ya ee asapnya lumayan. Iya, pakai turbo, Pak. Asep tuh enggak berasa tiba-tiba kita capek aja gitu. Nyesek ya? Kekurangan oksigen. Aduh, kayaknya enak nih habis makan siang udah kenyang ya. Tahu enggak Bobo, Pak. Ngopi. Oh, ngopi. Iyek. [tertawa] Bobo mah di rumah kita lagi di luar lagi jalan-jalan malah bobo. Allahu Akbar. Aduh. Kopi mana nih? Kopi tuh banyak banget di sini. Banyak. Jadi ee ya gua sama teman-teman tuh kadang-kadang ke Solo tuh nyobain tempat ngopi ini A B C D FG Eh apa ya? A few moms later. Kita ke sorak-sore aja dulu. Sorak-sore. Bergembira. Aduh, tarik napas dulu, Pak. Pasal kemarin ke itu enggak seceap ini ya? Iya. Ini benar makan doang ini. Iya. Seragen. Makan doang. Seragen. Banyak jalan loh. Iya loh. Ye. Aduh. Enak banget satenya. Jos. gawat. Kalau sate rata-rata semua orang suka, kecuali yang enggak suka kambing. Padahal sate enakan kambing kalau menurut gua ya. Ya, tergantung. Tergantung sih ya. Tapi ada yang pakai tali, ada yang pakai gantungan. Tergantung kan. Oh iya [tertawa] tergantung. Enggak sengaja. Enggak sengaja ter soalnya ke depannya. Iya iya iya. I [tertawa] eh gimana sih Bapak? Ei masuk lagi. Dia motong langsung ke kiri. Gimana sih? Aduh bahaya banget tu begitu-gitu. Itulah kenapa kita butuh smart sense-nya Hyundai. Weh, iya sih benar itu ngasih ini peringatan. Iya. Dan kalau kita lagi lampu merah, terus kita meleng. depan kita maju nanti diasih tahu, "Oi, depan kita udah maju," woi. Oh, fungsional sekali. Kita contohin aja. Kita contohin nanti ya, Mas dalam merah, ya. Wei, Andik. Benar-benar. Wah, kemaskan [tertawa] crossing semua tuh. Tapi di Solo ini memang secara kota ya. Oanya padat banget. Rame ya? Hampir sama kayak Jakarta. Ya, cuma ya enggak seluas Jakarta juga. Motor itu banyaknya kayak di kota-kota besar. Apalagi jam berangkat kerja sama jam pulang kerja. Wah, motornya war itu ya. Rameai. Dan Sabtu Minggu macet tapi enggak semacet Jogja. Jadi kalau gua tuh kalau Senin sampai Jumat ya ee ke Jogja biasanya. Tapi kalau Sabtu Minggu mendingan Solo. Lah mereka liburannya ke mana? Ke Jogja? Ke enggak tahulah ke mana. Kabaten kali. Ke urusan gua juga. Dan di Solo ini, Pal. Itu mirip kayak Jogja. Jadi banyak kafe baru, banyak tempat makan baru, tapi banyak ditutup. Sama rotasinya begitu ya di mana-mana Iya. Jadi ya kalau dibanding Klaten daya belinya di sini memang lebih tinggi. Dan beberapa juga harganya premium. Oh iya sih harga ya. He tadi sate aja lumayan tuh ya. Jadi meskipun sama-sama UMR Jateng tapi di sini daya beli lebih tinggi. Mm kenapa ya? Wah enggak tahu. Tapi kan emang dari dulu Jogja sama Solo itu kan dia punya keraton. Nah kalau Kelaten emang enggak ada Iya. Dia kalau Kelantan ngikut ini ya Solo. Jadi kalau di Jawa Tengah tuh bisa dibilang kota gedenya itu Semarang sama Solo. Justru malah metropolitannya di situ ya. Wah. Jogja provinsi sendiri ya? Lupa gua. Heh. Tuh lihat tuh mobil banyak, Iya. Rame banget ya. Rame jadi trafficnya itu padat gitu. Iya. Iya. Iya. Gua kira enggak seramai ini loh. Soalnya macetnya enggak se Jakarta. Tapi jalannya pelan-pelan semua. Ya enggak enggak ada yang ngebut kan? Iya. Enggak ada tuh yang gebar-gebar kenceng. Enggak bisa juga karena ya ini jalannya segitu segitu. Soalnya kalau jalan raya Jogja Solo kan Oh iya. Itu kan jalan raya Jogja Solonya. Tapi di Solo ya segini jalannya, segitu. Tapi bagusnya juga di sini walaupun trafficnya begitu juga ya. Enggak ada klakson. Tetap enggak ada kanon. sabar-sabar. Ee knalpot Brong juga jarang ya. Dan kalau lu perhatiin juga ee yang ugal di sini biasanya mobil diesel pada pakai knalpapot yang brong gitu. Itu lebih berisik dibanding motornya di sini. Wah, salah kita nih. Belok kiri langsung. Bisa kiri. Langsung bisa kok. Bisa kok. Belok kiri bisa. Hah? Belok kiri bisa ya? Oh iya sama. Jadi kita ambil kiri aja. Ambil kiri aja, Pak. Oh, ini ini jalan utama nih. Nah, di sini juga ada kereta ya, rel kereta. Tapi ini bukan kereta sebenarnya. Kayak apa? Kayak semacam trem. Trem ee kereta mini. Kereta mini. Jadi gerbongnya pendek ya. Dan itu sampai sekarang masih jalan. Berarti buat transportasi umum ya, bukan buat wisata gitu. Oh iya. Wisata sih sebenarnya sih. Oh sebenarnya wisata. Heeh. Di sini walaupun ada transportasi umum, tapi rata-rata teman gua itu pada naik motor semua. Karena tata kota dari awalnya enggak didesain buat transportasi umum. Oh, gitu. Jadi susah untuk integrasinya. Lah, suka enggak ya? Iya, kan tadi kita harusnya lulus. Yosoroto. Yoro. Oh, tiba-tiba ada benteng, Pal. Benteng apa ini? Kak si bukan? Hastono Jokoroyo. Joso. Oh, ini makam. Nah, jalan-jalan kayak gini juga banyak tuh. Tiba-tiba ada makam di situ lah. Iya. Itu ada bocah sekolah lagi nongkrong lagi. Bukannya balik nyari wangsit. Wangsit rebus biasanya enak wangsit rebus. Kayaknya enakan ambil kanan dia ya. Itu depan sempit banget gua rasa. Makin makin sempit. Buntuk, Pak. Jalan gede bukan tuh. Buntuk tuh masalahnya. Enggak jalan gede bukan [tertawa] tahu. Oh kiri kanan bisa sempit banget kayaknya juga ketemu lagi begini lagi. Enggak cemas lah. Enggak apa-apa aman. Tenang tenang aja kan naik stargazer. Tapi benar X asrama satu. Asrama itu asrama ke mana lagi? Harus ku cari. Mana belokan kanannya? Ini ini. H. Pal yang benar aja, Pal. Ah, yang benar nih, Pak. Bisa sih lewat sih. Langsung jalan gede ini, Pak. Lurus juga bisa lurus kayaknya. Judilah Lost in solo. [tertawa] Los inol ganggang kecil. Sempit banget. Depan depan kanan langsung jalan gede tuh. Ah, makam, Mal. makamnya bisa jadi itu tuh apa dia itu jemuran. Ah, enggak masalah yang di dalam makamnya. Eh, enggak apa-apa. Iya. Waduh, sibu bawa pecel pincuk enak, Men. Ya, inilah akibat tadi kita ngambil kiri, ternyata belok kiri langsung. Oke. Jadi, Teman-teman kalau lampu merah kalian salah ngambil kiri belok kiri langsung daripada kita ikut berhenti terus ngalangin mobil motor di belakang kita. Ya udah maju aja sih. Terima aja. Terima aja. Paling berapa menit bedanya? Heeh. Enggak usah, enggak usah nahan-nahan begitu. Enggak usah. Iya. Jangan, jangan zalim sama yang di belakang gitu loh. Kan sering tuh kayak gitu tuh malah maksain lurus ya. Iya. Di Klaten juga lumayan sering tuh yang pertigaan apa namanya mana? Uh gua sebel banget orang harus kompikir jalan tuh. Oh, harusnya belok kiri langsung. Tapi gara-gara banyak yang egois ya, ambil kiri aja lebih kosong, enggak mau ikut antri. Akhirnya mau ke kiri itu kalau gua, gua klakson, gua terus klakson ya. Gua klakson gua dimarahin, gua marahin balik bilang suka begitu. Memang memang aneh-itu. Kadang-kadang orang juga melanggar itu gara-gara orang baiknya terlalu mengalah. Iya, betul. Jadi dia merasa arogan. Nah, karena gua tahu rasanya enggak enak kayak gitu. Makanya ketika kita yang salah ya udahlah ambil kiri aja. Ambil kiri aja. Belajar dari situ juga Enggak enak kayak gitu. Jadi ya udah kita ini aja. Lagi pula pemanahan itu, Mas P. Hah? Apa tuh? Panahan stadion. ini stadion. Oh, depan kiri kita. Stadion Panahan. Manahan, Pak. Manahan Solo, Pak. Panahan. Panahan begini. Nah, ini beda nih nuansanya nih jalanannya. Iniini Semarang tuh enggak ada keraton kan? Semarang enggak. Semarang tuh kota pelabuhan di pusat ekonomi bukan pusat pemerintahan atau pendidikan. Kalau bukan Semarang, cepat lagi. Sekarang hinauinahinu. Biar enggak ngantuk kita ngopi dulu kali Karena saking kenyangnya saking tapi pas banget sebelahan. Stargazer juga. Stargazer X tapi yang model lama. Terus kalau lu punya model lama dipal Lu pengen ganti model baru. Jual takut jatuh kan? Heeh. Nah. Tenang, Hyundai punya namanya Resue Guarantey. Oh, itu jadi tinggal gimana tuh? Jadi kalau misalkan kita mau jual harganya dijamin sama Hyundai. Oh, jualnya kayak Hyundai lagi. Iya, dijamin pokoknya tenang. Wah, ini apa nih? Ini katanya anak-anak kantor bagus sering ke sini. Gua sih sering hop on sana sini, tapi ini belum pernah. Habis ngopi agak segar kan? [tertawa] Itu dia kunciannya ngopi dulu habis makan gimana ya? Makan Selat Solo enak. Tapi kurang kenyang. Kurang kenyang. Tambah lagi kekenyangan. Kekenyangan. [tertawa] Serba salah. Serba salah. Cuman enak semua. Semua, Pak. Nah, ini kita mau lagi gini, Kita mau ke lokananta. Weh, LANanta tuh ee studio recording legend ya. Legenda dari zaman dulu banget. Dulu-dulu banget pokoknya. Terus ya kita bisa ke sana ngelihat piringan-piringan hitam. Vinil. Vinil. Koleksi vinilnya vinil. Vinil. Eh, finir ya? Iya, Vinir. Benar. Jadi recordingnya itu masuknya ke vinil dulu. Jadi master. Tapi sekarang sekarang udah modern sih. Iya. Lantonya udah modern. Jadi dulu zaman gua 2009 aja recording itu ya pakai Nuo gitu. Uh, udah canggih banget. Uh, nuendo zaman dulu banget. Iya. Iya. Terus gua ini kan ngebajak kan. [tertawa] Enggak apa-apa dah, belakang-belakan aja zaman dulu lah. Seru banget bisa ini drumnya digambar. Iya, benar. Enak banget bisa ngegambar ini. Keren tuh. Keren banget asli. Sekarang enggak tahu ya, maksudnya 2009 tuh udah sekitar berapa? 16 tahun kali. 16 tahun yang lalu. Heeh. Sekarang sudah canggih apa rekaman zaman sekarang? Wah, udah kebantu sama AI, Pak. Oh, iya si juga. He, teman gua bikin sampling. Udah pakai AI sampling lagu. Oh, jadi sampling melodi segala macam ya. Entar baru tag tek tag aslinya gitu. Keren ya. [tertawa] Untuk guide-nya pakai udah bisa kita tinggal ngasih ini entar. Oh, apa ngasih partiturnya juga bisa. bisa diterjemahin. Wow. It's magic. It's magic. Ai. Ini bukan. Oh, bukan bukan. Oh, masuk in. Ini copy tapi, Pak. Ini lokanta depan. Apa bedanya? Bukan. Ini ini. Bukan. Oh, tuh. Tuh, Lantanta nih. Nih nih. masuk lewat ya. Ini enggak boleh masuk berarti di Berarti benar yang tadi dong. Tap di innnya. ini keluar out tadi masukin. [tertawa] Eh, kelewatin. Tapi tadi kayak ditutup gitu sih. Tapi ya. Heeh. Putar balik berarti. Hem. Ya. Wis. Balik. Muar balik. Putar-putar balikbalik. Bisa enggak parkir sini? Bisa kali, Pak. Kayaknya ini parkiran lokananta juga. PNRI lokantaord. Iya. Ah. Nah. Loh. Nah. Kan. PNRI itu apa? PN partai bukan dong. Bukan partai, [tertawa] Pak. PNRI apaan? Jadi dulu recordnya di PANanta. Nginpnya di hotel apa nih? Sunan Hotel. The Sunan Hotel Solo. Tinggal nyebrang dia. Dan ini hotel lama loh. Iya ya. Iya. Bangunannya lama ini kayak ini nih bukan ya? Ini bangunan kayaknya lokananta lama kali. soalnya tadi lokananta record juga. Nah ini nih. Ini juga lokanantan. Nah ini inn-nya nih. Berarti nih parkirnya muat kali nih. Enggak enggak benar tadi kan gua ngelihat kayak ditutup tuh tapi masuknya sebenarnya yang di sana. Oh iya. Oh oke oke oke. Ini in berarti ya masuk ya? Nih gua pikir tadi tuh ini kan masukin. Heeh. Nah, terus ditutup kan. Ternyata masuknya yang sini. Sini. Iya sih. Kita aslah paham. Asah paham. Ada sejuk, Pak. Apa sejuk? Bakmi dan kopi. Ah, itu masih ini Salh Solihun. Iye. [tertawa] Ada sejuk teman lokan. Ada keren juga dia. Tapi itu mah ada di Jakarta tuh. Iya, emang ada. Nah, itu record store. Wah, ada stornya, Pak. Lah, baru tahu gua. Gua asli baru tahu. Justru ya itu di sini Anda mau beli e ini vinil vinil. Oh gitu. Gua kira cuma studio doang gitu. Bukan. Mungkin kalau di Inggris tuh kayak ini ya. Abot. Wah legend nih. Akhirnya ke sini juga gua. Oke let's go. Sampai di Lokananta. Wah ini dia. Pak. Selamat datang di Lokananta. dimanjakan telinga di sini. Eh, gua juga sebenarnya baru pertama kali ke sini sih. Cuman gua kaget aja ada tempat makannya banyak. Iya. [tertawa] Tadi harusnya kita ngopi di sini aja. Ngopi sini aja. Ada sawah hita itu. Di Katen juga ada sih. Halo. Halo. Halo. Ada bakmi. Bakmie sejuk. Ada filosofi kopi juga. Iya. Tah gitu di sini Pak. Yuk kita masuk yuk. Yuk. Lokananta merupakan studio rekaman pertama di Indonesia dan salah satu yang paling bersejarah di Asia Tenggara. Didirikan pada 29 Oktober 1958. Di sini terdapat store yang menjual vinil, turnable, kaset, dan merchandise lainnya. Nah, ini dia turnable-nya, Pak. Ini baru aja udah ada harganya nih. Iya, 4,7. Dan ini ada Bluetooth-nya loh. Bisa Bluetooth. Berarti bisa disebutin ke speaker Bluetooth. Iya. Audio Technika. Tapi ini modern ya harusnya ya? Modern Pak ini Pak ini baru ini. Kayunya beneran loh. Bagus 47 ini juga nih 7,2 pal. Waduh ini Kitaro bukan sih? [tertawa] Masuk kan dia tururu. Mirip ya. Ini Rp8 juta ini GBL. Suara ini langsung speaker ya bukan sih? Enggak boleh pegang ya. Do not touch. You break it you buy. Speakernya merek Clips. Clips ini audio premium yang ada dipakai di mobil juga. Woh. Ada juga. Tapi gua belum pernah cobain kayak gimana rasanya. Kalau di mobil pernah masuk ke mobil yang pakai clips tapi belum pernah nyetel audionya karena cuma itu doang. Mas bikin video enggak apa-apa ya? Makasih. W mantap tuh. Nah ini collection ini nih. Ini baru apa bekas Mas? Yang pernah ini baru apa bekasnya? Ye. Ada yang ada yang ada use. Oh ini ada use ada new ya. Harganya ee Rp400.000. Diana Ros. Lu tahu, Pak, lagunya, Pak? Eh, Diana Ros yang mana ya? Oh, kok enggak pakai celana? [tertawa] Astagfirullah. Wih, ini speaker apa nih? GBL FL gede banget ya. Kayaknya ada covernya deh. Iya enggak sih? Enggak tahu. Kukuruyu. Wah, wah, wah. Kurang ajar dia duluan dia. Kurang Linkin Park. Meteora. Meteora. Benar. Berapaan lu? 70. Wah, curang deh. Curang deh. Eh, masih ada enggak playernya? Ada plastik enggak, Mas? Plastik apa nih? Plastik band. Oh, kasetnya ada. Ada. Gokil. Ada dong. Cariin, [tertawa] Pak. Langsung nyari. Ada dong. Oh, iya. Ada dong. Ada, Pak. Udah, Pak. Sikat, Pak. Plastik. Wow. Dilarang memindahkan isi lagu ini. Oh ya, dulu gampang ya buat ini ya. Iya. Asal punya tap yang ada dua sisi, yang satu muter, satu ngerekam. Tuh bisa. Beli apa aja, Pak? Kaset. Apa tuh? Kaset. Meskipun gua enggak tahu diputar di mana, tapi beli dulu aja ya. Memorabilia lah. Iya. Ya. Ya. Terus kaos. Kaosnya apa nih? Ini hentikan genosida. Let's go. Dan sekarang kita ke museumnya yang ada di sebelah persis. Jadi enak ya buat nongkrong ada museum bisa belanja. Ih, itu dia. Gua selama ini belum reaksin sih, jujur aja sih. [tertawa] Interes banget sih ini. Enak banget nih. Masukmasuk museum. Oh, ada sesinya kita jam . Aturan jam iya 14. Iesi 3. Halo. Silakan bisa ke sebelah kiri. Oh, iya. Makasih. sambil rekam boleh ya? Apa? Rekam boleh ya? Boleh. terima kasih. Ah, ada payment-nya. Berapa kok harganya? Sama, satu tiketnya 35. Ini sekarang bisa jam sekarang. Atas nama siapa? Rizal. Dari kota mana, Pak? R5.000. Satu orang lima ya? Masih ada yang mahasiswa mungkin enggak el? Saya mahasiswa bisa menunjukkan tangunya di Cintu fisik boleh. Nanti untuk potongan harga. Potongannya harga berapa, Mbak? Jadi 25, Kak. Jadi 25 jadi 25. Lumayan. Kepala mahasiswa. Untung ada mahasiswa satu. [tertawa] War lulus sih ya. War lulus kemarin wisuda. Ngapain sih cepat-cepat? Misi. Asalamualaikum. Oke, selamatkan masuk. Selamat datang di ruang distografi ya. Lokananta awalnya berfungsi untuk menggandakan piringan hitam atau vinil dan arsip audio negara serta pernah berada di bawah RRI. Ada sesi tour museum setiap 1 jam yang akan dipandu oleh guide. Ini wisata museum yang seru sekali. Museumnya bagus banget ya. Tadi kita kesangiran kagum. Ke sini lebih [tertawa] kagum lagi. Ke sini lebih [musik] kagum lagi. Keren pengeluran musim harusnya begini. Iya menarik banget. berasa di luar negeri. Gila, keren banget. Ke museum tuh bukan hal membosankan lagi kalau begini, Pak, Wah, keren banget [tertawa] ini. Keren banget. Keren banget. Keren banget. Tapi kalau buat anak-anak dia harus agak gede dulu. Iya betul. Baru ngerti gitu. Makanya kalau khazana musiknya banyak. Nah itu baru udah siap dia dikasih masuk ke sini. Tuh dia. Ini ini. Ih nyenengin banget. Nyenengin banget. Apalagi yang suka musik itu ya. Dengerin musik segala macam enggak terpatuh sama jangre ini. Ah. Nah pokoknya kalau kalian suka musik main ke sini. Dan ini ternyata jadi cagar budaya sekarang. Makanya enggak ada rest room harus keluar. Oke gitu. Seru banget. Ini ada ruangan kita free time bisa keliling-keliling lagi. Nah, ini ada taman buat ngaso. Jadi habis lihat museum di sini bisa bersantai ri culture habis, Pak. Dan kalau kalian ke sini ya enggak ngapa-ngapain misalnya enggak mau ke galeri pengen nyantai aja buka laptop Boleh. Boleh banget ya. Bayar parkir juga tinggal bayar. Heeh. Nyaman ya? Nyaman banget. Sini. Ye. Kita boleh masuk ke studio. Studio. Iya. Iya, yang gitu. Ini enggak dibuka untuk umum sebenarnya, cuma pengen lihat. Hah. Datang di Oh, sebelum foto-foto cakep. Jadi enggak semuanya sudah digital ya, analognya tetap masih ada Tetap pakai hybrid system sih, Mas. Kalau kalau bicara masalah suara kebetulan kan ee memang memang analog tidak ada lawannya. Biasanya seperti itu ya. Micinnya, micinnya terlalu kuat kuat analog dilawan pakai digital sekarang. Berapa channel itu, Om? Ini waktu kemarin sebelum revitalisasi itu yang hidup cuma tinggal dua channel. Kita servis sendiri. Servis sendiri? Iya, servis sendiri. Terus akhirnya sekarang hidup 24 channel. W semuanya weh cakep. Jadi kalau semisal studio lokanata sekarang juga bisa dipakai tempat umum juga untuk rekaman umum. Maksudnya kalau nyewa satu studio sejam berapa? Satu shift kita itu shift berapa jam? 6 jam harganya R,5 juta. Udah termasuk apa aja itu? Cuma gedung dan ee alat alat-alat dan operator. Oh, sama operator. Tapi sama operator juga ya? Itu ambil data ya bahasanya belum sama mixing mastering. Kalau mixing mastering kita perlagu di angka R,5 juta. Oh, sebenarnya masih terjangkau ya? Terjangkau banget, Pak. Iya. Boleh kita bikin band, Pak. Iya, [tertawa] kita rekaman di sini. Kita bikin ini blue band. Nah dia wargarin dong. Wah seru banget nih. Tapi kalau memang studio lokanato sekarang kan ee enggak enggak hanya dipakai rekaman aja. Bisa kayak misalnya ini ada mini gigs gitu yang kapasitasnya sem cuma 250 atau 300 orang. Oh bisa masuk 250 orang Boleh lihat Mas? Boleh. Ayo kita jalan-jalan kita boleh ini. Ini enggak ganggu enggak yang lagi ini agak berisik aja sih karena baru cek sound mereka. Ini ada mini switch-nya. Heeh. Dannya juga ee ukurannya kan memang kanantan sebesar ini karena memang untuk gamelan rekaman gamelan. Dan dua dua setnya itu harus di harus diset di waktu yang bersamaan. Jadi ee akhirnya untuk mem-provide gamelan dua set challenger dan pelok itu mesti gede. Ih gede banget kayak ini ya. Aduh gila nih si terbaik sih [tertawa] terbaik. Senang banget. Senang bangetah. Aduh. Happy banget gua kalau kananta lihat studio bagus, museumnya bagus. Gila stornya juga bagus. Gila ini keren banget sih. Terus tempat makan segala macamnya juga ah cakep. Wajib. Wajib ke sini. Wajib banget ke sini. Wajib. Wow. Top top. [tertawa] Yeay. Ini terbaik sih. Senang sekali rasanya. Padahal dekat loh dari Klaten, cuma gua gak kepikiran ke sini. Dan gua gak tahu sekarang sebagus ini loh. Kananta keren banget ya. Wow, senang banget gua. W. Nanti gua ke sini lagi. Ah, Pak kita ee sewa studio 1 seteng jam buat hai aja. Hai aja. [tertawa] Bungang. Bumprang. Bungprang. Bungprang. Direkamdam. Ganggak. Bentar. Depan aman ya. Aman. Kelihatan dari sini. Nih pentingnya ada kamera round view monitor. Cuma enggak cuma itu, Pal. Apa tadi kan lu lupa ya apa tuh? Enggak dinyalain pendinginnya. Ah bluling bluling. Nah kita pakai pendingin. Ah pendingin jok terusingin jok enak banget. mudah sekali untuk menyetel kenyamanannya ya. Hidupmu nikmat sekali dengan Stargazer Car ST X. Hm. itunya ya. Nah, sebelum kita ke destinasi terakhir, Pal, kita kan mau salat, habis itu mau lihat alun-alun dan Selasa keraton. Iya, benar. Dekat banget, ya. Dekat. Tapi kita mau beli oleh-oleh Ah, cakep tuh, Pak. Ini oleh-oleh dari zaman gua kecil e yang gua kalau ke Solo pulang suka bawa ini. Eh, namanya Toko roti Orion. ada kue lapis atau kue apa itu namanya? Mandarin. Mandarin Mandar. Oh, ini bahasa Belanda kali ya. Iya kali ya. [tertawa] ya. Itu ada kenangan tersendiriah. Iya iya iya iya punya. Tapi enak. Iya iya enak banget. Wah wajib kita coba kalau begitu. K belum pernah coba. Belum pernah. [tertawa] Coba. Oke. Oke. Ini sama kue sus keringnya. Sus kering. Iya. Dan gua kalau ke Solo beberapa kali gua beli ini juga gitu. Oke. Menarik menarik. Menarik. Menarik. Memang menarik. Tambang. Tidak menarik berarti diulur. Apti tambang apa nih kalau boleh tahu nih? Tambang apa kalau boleh [tertawa] tahu? Tali. Tali tambang di ambil sih, Pak. Kalau kata [tertawa] gua, Pak. Berguna. Berguna kalau itu. Benar. Berguna. Berguna. Nih ngomong-ngomong soal tambang ya. Kalau bawa mobil itu kan pasti lumayan tuh menyita Bagasi. Nah. Nah, ini bagasinya gede, Pal. Dan belakangnya itu bisa dilipat rata lantai. Oh, iya. Kalau mobil ini iya, jelas. Dan tengahnya ada pilihan captain seat Oh, iya, mantap. Ya, ini kebetulan bukannya captain seat, jadi bisa bertujuh. Kalau cap seat jadi enam karena kan tengahnya kosong. Oh, iya. I iya. Dan ini mobil ya. Dari tadi kita bawa. Perdaman kabinnya bagus ya. Senang banget gua perdeman kabinnya. Heeh. Terus juga dia punya banding suspensi dia tuh lebih stiff dibanding Stargazer biasa. Oh iya, gua enggak ngerasain sih. Karena dia e lebih tinggi ya dan profil bannya lebih tipis tapi masih dalam taraf yang nyaman. Masih nyaman. Iya, masih nah spracingly-nya ketika kita belok. Lebih stabil. Body roll-nya, Pak. Yah, begitulah, Pal. SOS, PAL. Kita pencet kah? [tertawa] Enggak usah ngadi-ngadi, Pak. Gua pernah mencet ya di yang lama nyambung, Pak. Ah, terus ditanya ee ada kondisi kendala darurat apa gitu? Enggak ada kepencet, Mbak. [tertawa] Gua bilang gitu. Terus, "Mbaknya gimana?" Kesal? Oh, enggak? Ee lebih berhati-hati lagi sampai tidak disentuh kayak gitu. Kalau tidak ada kondisi darurat jangan dipencet kayak gitu. Diingetin lagi. Tapi kalau enggak salah, kalau resminya dia bakal ditanya data-data juga siapa yang lagi makai. Ee pasti kan dia sudah nyimpan juga kan datanya. Oke. Mau enggak kita iseng pencet? Enggak ada. Enggak usah pakai iseng-iseng. Ah. Nah, ini toko rotinya dulu enggak segede Ini yang gede ini, Pak. Nah, ini toko rotinya. Heeh. Ee aslinya yang itu. ini gedung baru. Oh, berarti udah tua ya? Udah lu. Udah, udah tua banget ya, Bang. Dari zaman gua kecil, Pal. Iya, ya. Heeh. Berarti kalau zaman gua kecil sekitar 2010 kali. Enggak, enggak. [tertawa] 2010 udah kuliah. Oke, kita lihat. Menarik buat oleh-oleh. Nah, ini gedung baru. tapi kita mau ke toko lama. kelihatan ya gedungnya klasik yang ini ya Allah [tertawa] ya diumung lu tawa lagi toko roti orion toko bakeri legendaris dan pusat oleh-oleh klasik di Solo sudah terkenal sejak puluhan tahun lalu. Gimana enggak, toko ini sudah berdiri sejak tahun 1932. Waduh, udah lama banget ya. Legend ini mah. Nah, ini spesial mandarin. Benar ya, Pak? Benar kan? Mandariin kan? Ini ada yang spesial, ada yang kismis ya, ada yang jumbo nih. Gede sebesar ini. Isinya gimana ya, Pak? Isinya penasaran gua. Nah, kayak gini. Ini Ini mah enak ini. Oh, ada sekarang yang kecilnya gini ya? Iya. Ini. Heeh. Kayak gini, Pal, dalamnya. [musik] Enak ini. Enak nih beratnya nih. Peng nyobain gua dan di sini lihat tuh ada juga ya pestri-pestry yang begini ada dan klasik gitu loh. Ini kan zaman dulu nih. Iya [tertawa] toko-toko roti zaman dulu beginian semua Nih buat lu satu wei. Thank you. Nah thank you. Ini buat taruh kantor. Kantor mana? Kantor Kelaten. Kantor Jakarta. Kantor ya. Kantor Kelaten mau juga boleh. Oh kantor Kelaten mau tuh. Tuh yuk. [tertawa] Ini buat siapa ini? Nah. Ini buat kita dinyobain di mobil. Oke. Ah, kita ngicip dulu di mobil, Pal. Penasaran gua ini. Ingat yang di salah tiga enggak sih? Kita di oleh-oleh. Enak banget itu. Pal, tadi gua request. Lu apa requestnya? Minta pisaunya. Piso biar kita bisa ngicip di mobil. kue kuno nih, Pal. Jadul. Dari zaman dulu sampai sekarang enggak ada perubahan. Bentuknya begini ya. Dan tetap enak. Hm. 1932. Tua banget. 1932. Edan bungkusnya niat banget sih. 1932. Rotinya sih bentuknya begini aja. Satu utuh gitu ya. N bentuknya tuh begini aja. Kita potong ini saya potongnya begini. Ini buat nanti malam host live TikTok. Ini yang apa yang spesial, Pak? Spesial kismis kuning coklat. Gua enggak tahu juga bedanya apa. Spesial kismis atau apa. Kalau kismis takutnya enggak semua orang suka. Ni mat. Oke, Cobain dulu ya. Nih, kue legend nih. Kue legend bukan cuma Mobile Legends doang. Ada kismisnya juga ini spesial. Apaan? Lembut banget buat kan? Lu belum pernah coba? Belum. Gimana orang Kelaten? Kalau guab doang man [tertawa] H Enak banget kan? Lembut enggak makuh. Itu poinnya. Manisnya juga pas. Enggak lebay. Hmm, mantap ya. Let's go. Sekarang kita ke masjid. Masjid salat. Nah, ini sekarang Pal kita masuk ke daerah kesultanan. Kesultanan? Oh. Oh, lingkar ininya. Lingkar satunya Iya, ring ring satu. Ring satunya. Heeh. Ring satunya. Ini alun-alun depan. Iya. Jadi di sini tuh ada dua Yang pertama Kesultanan Kauman. Yang satu Mangkunaran. Ya, ini yang Mangkunaran. Ini Mangkunegaraan. Oke. Eh, benar ya. lupa gua. Astagfirullah. Pokoknya [tertawa] ada dua kesultanan. Bentar. Bentar. Kesultanan apa? Kesultanan. Kesultanan. Bentar. Bentar bentar keraton ini alun utara keraton Surakarta. Iya ini keraton Surakarta tapi ada dua. Nah yang kemarin berantem. Heh itu yang ini. Oh, perdebatan bukan perdebatan malah berantem. Bukan berantem kan yang ee sultannya meninggal. Nah, itu kan siapa nih yang naik nih? Iya. Yang naik tahtanya. Heeh. Kalau sultan itu kan penerusnya adalah anak laki-laki. Anak laki-lakinya ada dua. Yang abang sama adik. Hm. Nah, yang abangnya itu dia dari istri pertama yang sudah cerai, yang anak kedua dari istri yang sekarang. Cuman dua-duanya merasa ee penerusnya saya. Tapi gua enggak ikut-ikutan ya. Ya, intinya itulah. Jadi sekarang yang diberita begitu pokoknya. Dan kalau masuk sini kita akan masuk lurus-lurus karena ini muterin kita satu arah. H. Baru pertama kali gua ngeng. Hm. Akhirnya ketemu juga knalpot ember satu Dari tadi enggak ketemu loh. Kencang banget lagi bunyinya. Nah. Nah, ini daerah kesultanan nih. Kayak gini nih. Tembok-tembok besar kiri kanan. Nah, kita mau ke Masjid Agungnya dulu. Heeh. Nah, ini parkirnya harusnya sekitaran sini nih. Depan. Nah, itu. Oh, ini boleh masuk. Boleh, boleh masuk. Boleh masuk. Cuman ada jam-jam tertentunya. Kalau sekarang kayaknya udah tutup deh. Dia tutupnya kalau enggak salah jam . Banyak pohon beringin di sini. Banyak nih. Pasar Klewer, [tertawa] Pak. Ini Pasar Klewer. Betul. ini pasar Klewernya. Heeh. Kan ini masjidnya nih. kita belum salat kan? Salat dulu, Pak. Salat dulu ya. Sekalian kita melihat-lihat Masjid Agungnya. Oh, depan lagi, ya. Sini bukan sih? Apa sini? Nah, ini sini, Pak. Ini lokasi parkir. Betul. Nih. Ini masih tua sekali dia. Ah, senang banget nih gua bisa ke sini. Masjidnya gede banget kan, Bal? Seru banget ya. Gede banget. Namanya juga Masjid Agung. Tahu kan Agung artinya apa? Besar. Agung tuh. Yuk masuk. Kalau Gunung Agung toko buku. Masih ada enggak? Masih ada enggak ya? Masjid Agung Keron Surakarta atau sering disebut Masjid Agung Solo adalah salah satu masjid bersejarah paling penting di kota Surakarta. Dibangun pada tahun 1763 Masehi, masjid ini diprakarsai oleh Sri Susuhunan Pakubuono 3 dan menjadi bagian tak terpisahkan dari keraton kasunanan Nah, ini alun-alunnya nih, Pal. Oh, alun-alun ya. Gede banget kan? Lebih gede dari yang Stragen kemarin. Iya, iya, iya. Dan ada beringin dua biji. Dua pohon beringin. Sama kayak di Jogja. Ada beringin dua biji di tengah alun-alun. Oh, iya ya. Iya. Nah, terus di sebelah sana biasa kan habis alun-alun keraton istana itu ke sana tuh udah komplek keraton tuh. He. Tempat tinggalnya keluarga raja. Nah, di sana masjid, habis itu ada pasar. Ee sebelah kirinya ya juga masih komplek keraton lah. Iya. Iya. Iya. Pusat pemerintahan lah. Pusat pemerintahannya. Jadi dulu tuh di sini dan dulu keraton Solo itu ee orang terkaya. Orang terkaya pada zamannya. Jadi waktu itu Sugarbom kan? Tahun 1800 akhir 1900 awal. Nah, dulu beliau itu punya kalau enggak salah 10 pabrik gula, Pal. 10 pabrik gula yang 10 apa 9 dan dia itu adalah pemilik mobil pertama di Asia Tenggara. Mobilnya mobil, Pak. Iya. Jepang belum punya, Cina belum punya. Semuanya belum pada punya. Tiba-tiba raja dari Asia Tenggara punya punya mobil dan itu ngebuat ee dinasti-dinasi lain tuh langsung pada buru-buru beli beli mobil, pada pesan karena sangat bergengsinya pada saat itu. Iya. Iya. Wada masih itu ya delman, Pak. Delman. Dman. Kereta Kencana lah. Makanya nama car itu kan dari Carriage. Oh, membawa. Heeh. Ee, dulu kan tuh dibilang carryage. Ah, jadi car. Nah, inilah dia. Oh, ini boleh masuk ini ya? Ya, kalau ini bisa di halamannya doang ya. Heeh. Ini kawasan pagelaran. Pagelaran. Ini pendopo ya? Pendopo. Pagelaran. Besar sekali memang. Ini meriam. Tapi ini bukan meriam. Si Jagur bukan. Si jagurnya mah di kota tua. W. Tapi gede juga ni. Ni lihat tuh ada Miriam panjang benar. Ini berapa meter nih? 10 m. Ada enggak? 10 m enggak ada sih. Ee berapa meter coba? Pakai measure 8 9 8 kali ya. 5 m sih lebih ini. 5 m lebih dari mobil ya. Dan pastinya nih berat sekali nih. Lebih berat dari Miriam Belina gua rasa. Wow. Kalau kalian pengen ke keraton. Datangnya sebelum jam . Iya, tutupnya jam . katanya jam . Bisa keliling-keliling sejarah. Sekarang kita let's go balik ke mobil. Jadi begitu, Pal. Solo Pal, gimana? Menarik untuk dikunjungi, Pak? destinasinya ada-ada aja gitu. seru banget. Jadi, buat teman-teman yang mau berkunjung ke Jawa Tengah, enggak ada salahnya ke Solo dan ke Sragen, terutama yang bawa anak-anak. Ada banyak yang bisa edukasi buat anak-anak kalian. Edukatif, wisata edukatif. Buat teman-teman yang belum nonton video di Stragen bisa lihat episode pertama ya. Saya Hanif, saya Palasen sampai jumpa di jalan-jalan online episode berikutnya. Let's go. [musik] Selesai sudah jalan-jalan online kita di Kota Solo. Menyenangkan sekali dan luar biasa. Kulinernya mantap. Masjid MBZ yang megah, Lokananta, dan Masjid Keraton yang menyimpan sejarah kota Solo. Next, kita ke mana lagi, ya? Coba kalian komen daerah mana lagi yang menarik jadi destinasi selanjutnya. Sampai jumpa lagi. Jangan lupa bahagia.
