Jungkat

Jangan Beli Laptop Lokal ODM... kalau.... (YouTube Video)

  • 03/09/2025

Pernah gak sih kalian lihat laptop itu kerasa seperti Dejavu? Lah kok bentuknya mirip kayak gini? Lah kok speknya sama banget? Harganya juga mirip-mirip. Kebanyakan brand lokal kayak Axio, SPC, Z, lalu ada Advance, itu rata-rata punya spesifikasi yang sama di rentang harga 3 sampai R jutaan. Jadi ada Advance Soulmate Plus, lalu ada Det SPC style 5 gitu ya, lalu ada Acio Hype 3 yang pakai AMD 3500 U dan semuanya direntang harga yang mirip-mirip dan desain yang sama termasuk portnya. Dan kenapa itu bisa terjadi? Sekarang kita akan coba bahas [Musik] buat ngejawab kenapa modelnya mirip-mirip cuman beda warna dan logo kenapa kok dalamannya juga mirip-mirip dan spesifikasinya juga mirip-mirip. Kita akan mengenali dulu ada tiga buah istilah. Yang pertama ODM, OIM, dan juga OBM. Dan yang pertama ada namanya ODM. Jadi, ODM itu singkatan atau kependekan dari original design manufacture. Contoh paling gampangnya begini. Kalau kalian pengin buat baju gitu ya, nah ada sebuah pabrikan yang sudah nyediain mulai dari desainnya, mulai dari warnanya, kalian tinggal pilih-pilih aja bahan yang mau dipakai bahan seperti apa, kalian tinggal pilih dan tinggal tempelin logo doang. Jadi kalian gak perlu musingin tuh. Harus bangun tim RnD, harus bangun tim desain, harus ngeluarin biaya yang besar banget untuk resiset. Di sini pabrikan itu dinamakan ODM. Jadi kalian enggak perlu repot-repot biar mereka yang bantuin RnD. Kalau di brand laptop seperti di awal tadi kita sebutin, ada Advan Soulmate Plus, Zirc Detect, Axio, Hype 3, terus SPC Style. Nah, secara desain itu mirip-mirip. Tinggal kalian pilih, oh saya pengin bodinya seperti ini, hardware-nya juga seperti ini. Dan mereka biasanya sudah menyediakan secara matang. Bahkan sampai software-nya pun itu juga sama. Contoh lain yang pernah kita bahas itu ya, ada Pomo 760 dan Acerpire 7 Pro. Itu secara desain mirip-mirip doang. Di bagian belakang logo Pongo, lalu tapi Acer. Cuman logonya dipindah ke atas kecil diganti huruf Acer doang. Bahkan untuk software pendukungnya itu tidak ada software yang original dari Pomo ataupun dari Acer. Itu dari pabrikannya langsung. Yang kedua ada OIM. Ini satu level lebih tinggi dibandingkan ODM. Nah, OIM itu kalian bisa patenkan e desain kalian, patenkan teknologi kalian dan kalian misal kalau sudah punya misal baju tadi itu ya, kalian sudah punya desainnya seperti apa, bentuk kancingnya seperti apa. Nah, kalian tidak perlu memproduksi sendiri. Standarnya dari kalian kalian lempar ke pabrikan yang bisa memproduksi sesuai dengan standar kalian. Bahkan untuk brand-brand internasional contoh kayak si Lenovo ya, itu juga bekerja sama dengan pabrikan asal China untuk membuat sebuah produk bahkan di SKPAD. Ada juga Pegatron yang dulu bagian dari Asus sekarang dia berdiri sendiri sebagai pabrikan OIM yang khusus memproduksi untuk device-device di seluruh dunia. Tapi beda dengan ODM yang secara budget enggak perlu gede. OIM itu butuh budgeting yang jauh berkali kali lipat lebih gede dibandingkan ODM. Tapi kalian bisa buat produk yang jauh lebih unik karena memang produk itu secara R&D kalian yang setting sendiri, kalian yang reset sendiri penginnya seperti apa. Itu artinya selain budget yang lebih gede, otomatis waktu R&D-nya juga butuh lebih lama dan butuh waktu juga untuk try and error gitu ya. Bahkan kalau secara desain sudah bikin molding-nya, lalu saat posisi mau dipasang atau mau dicetak ternyata kurang cocok, ya harus redesain lagi dan itu dilakukan berulang-ulang dan keluar duit lagi. Dan yang terakhir ada OBM, original brand manufacture. Nah, OBM ini versi yang paling atas jika dibandingkan dengan ODM dan OIM tadi. seperti brand-brand ada Asus terus lalu juga ada Dell, ada HP yang di mana dia mulai RnD dari nol banget gitu ya, lalu desain, lalu produksi, distribusi sampai ke tangan kalian itu semuanya dikontrol oleh mereka. Tapi ya gitu secara kualitas pasti jauh lebih bagus jika dibandingkan dengan ODM atau bahkan dengan OIM. Karena memang untuk quality controlnya dia lakukan sendiri gitu ya. Lalu dia melakukan try and error yang harusnya akan luar biasa banyak. Satu produk launching itu bisa makan waktu RnD bisa 1 sampai 2 tahun. Mereka akan melakukan secara detail. Bahkan untuk ekosistem software-nya itu juga jauh lebih matang. Intinya OBM ini ribetlah dan butuh biaya yang paling besar jika dibandingkan dengan dua yang sudah kita bahas tadi. Dan produk-produk untuk lokal itu jarang banget yang sudah bisa masuk ke ranah OBM. Dan sekarang brand-brand lokar masuk ke ranah mana dong? Paling banyak itu masuk ke ranah ODM dan sedikit juga masuk ke ranah OIM. Dan kenapa ODM? Ya, salah satu faktornya karena memang dia nge-cut jalur yang cukup panjang gitu ya. karena dia enggak butuh waktu bertahun-tahun untuk RnD dan try and error. Tinggal dia datang ke perusahaan ODM, dia lihat spesifikasinya, dia pilih sesuai dengan market Indonesia diproduksi dan jadi nilai minusnya itu ada di quality control karena memang quality controlnya ada di pabrikannya bukan ada di brandnya sendiri. Secara otomatis saat produk itu dikirim ke Indonesia sudah dalam bentuk jadi dia enggak ngerti kualitas produknya gimana. Nah, tapi ya memang untuk negara berkembang seperti Indonesia, ODM adalah salah satu pilihan yang paling masuk akal gitu ya. Karena memang negara kita belum bisa buat chip sendiri. Mentok-mentok biaya perakitannya itu dilakukan di Indonesia. Intinya enggak perlu bikin prototype berkali-kali ya. Kalian tinggal pilih di katalog sesuaiin dengan kebutuhan kalian. Harga oke, bayar, cocok, tinggal diproduksi, dikirim ke Indonesia. Sama seperti kalau kalian datang ke restoran Padang. Jadi kalian tinggal pilih tuh pilih rendang, pilih ayam, bumbunya ini, kuahnya ini. Ya udah tinggal jadi satu piring kalian makan. Jadi enggak perlu repot-repot kalian mikirin bumbunya dan resepnya gimana. Yang kedua, selain biaya yang mahal itu tadi ada di masalah waktu. Kenapa produk-produk lokal lebih banyak memilih ODM dibandingkan OIM dan OBM? bayangin mereka harus melakukan RnD bertahun-tahun, sedangkan teknologi itu jalan terus saat posisi dia selesai R&D gitu ya, belum masuk ke ranah desain, masuk ke ranah molding, negosiasi dengan brand gitu ya untuk pasang chip ini, RAM pakai ini, itu teknologinya udah berkembang. Itu mereka ketinggalan banget secara spesifikasi, secara otomatis enggak akan seksi terlihat di market. Karena memang perlu diakuin untuk kita masuk ke ranas sana secara jam terbang kita kalah telak jika dibandingkan dengan negara-negara maju seperti Amerika yang punya brand Apple Dell walaupun produksinya semua di China, HP juga dari Amerika. Bahkan dengan brand-brand Taiwan seperti Asus, MSI, Acer, kita kalah telak dan kalah bertahun-tahun dibandingkan mereka. Ya, opsi ODM jadi opsi yang paling baik sebenarnya. At least dengan ODM kalian bisa merasakan produk-produk dan teknologi yang cukup up to date dibandingkan produk-produk yang lama banget gitu ya dengan harga yang jauh lebih murah. Tapi memang kita tidak bisa komplain perihal ekosistemnya karena memang pabrikan ODM rata-rata sudah menyediakan ekosistem software-nya. Jadi kalian enggak bisa generate sendiri seperti Lenovo Vanentage yang secara ekosistem software sekarang cakep banget. Lalu ada Lenovo AI now yang terintegrasi dengan AI entah itu cloud ataupun dengan AI on device. Di produk lokal saya rasa butuh bertahun-tahun lagi atau mungkin 3 4 5 tahun lagi untuk kita ke arah sana. Ya memang untuk produk ODM kita enggak bisa komplain perihal originalitas pada entah itu desainnya atau spesifikasinya. seperti empat produk lagi yang sering kita sebut tadi. Ada SBC Style, lalu ada Hype 3 yang pakai AMD 3500, lalu juga ada Advan Soulmate Plus, ada Zirect Det ya secara desain mirip-mirip juga dan secara spesifikasi juga mirip. Bedanya cuman tinggal kalian pilih RAM berapa, SSD-nya berapa. Dan kalau kalian perhatian kadang-kadang mereka ada bocor gitu ya untuk bias-nya. logonya belum diganti. Masih cukup banyak juga di beberapa brand yang masih menempelkan logo biasang ataupun Clevo. Nah, dua pabrikan raksasa ini memproduksi barbone yang bisa kalian rebranding sendiri atau bahasa terkenalnya sih wet label. Nah, pertanyaannya kenapa kita harus repot-repot beli produk lokal? Kenapa kita enggak langsung beli dari mereka aja? Atau juga mereka contoh kayak Clevo, dia jualan produk sendiri. Jawabannya gak segampang itu, Guys. Kalau kalian mau beli dan datangin ke Indonesia, yang pasti kena biaya cukai yang cukup mahal gitu ya. Pengiriman juga kalian enggak bisa pantau. Lalu, after sale-nya yang paling penting kalian enggak bisa pertanggungjawabkan kalau kalian beli langsung di sana. Dan yang pasti kalau kalian pengambilan ke sana dan kalian harus request dengan spesifikasi yang kalian mau, itu ada yang namanya minimum order quantity atau MOQ. Jadi semakin banyak kita ambil semakin murah juga harga yang kita dapat. Atau kalau asumsinya begitu bisa jadi enggak brand-brand empat brand lokal ini gitu ya mereka patungan gitu ya lalu beli di satu pabrikan lalu masukin ke Indonesia di rebranding sendiri memungkinkan enggak? Coba kalian tulis di kolom komentar. Lalu apakah ODM itu jelek? Ya enggak juga sih sebenarnya. Jadi kenapa bisa murah? Ya, karena itu tadi dia mangkas biaya yang cukup panjang dan biaya R&D yang sangat mahal. Makanya brand-brand lokal itu secara harga bisa enggak masuk akal. Contoh aja ya yang baru kita review kemarin itu ada ZCH Pro harga R jutaan kecil dapat prosesor 6600H. Untuk VGM-nya atau virtual graphic memory atau Yuma buffer size-nya itu sama mereka bisa di-custom dan di-unlock. Kalian bisa atur mulai dari 512 bahkan sampai 16 gig. Cakep enggak tuh? Bahan metal lagi. Tapi secara desain itu mirip seperti Advance WordPless. Nah, tuh gimana? Jadi bahkan di produk-produk internasional pun melakukan hal yang sama. Harusnya sih yang jelas R&D mereka lebih cakep gitu ya. Bisa jadi brand-brand internasional juga berpikir gimana caranya untuk pangkas cost. Karena secara bisnis dengan seperti itu dia punya gap margin yang jauh lebih tebal dan bisnisnya mereka jauh lebih sehat. Salah satu hal yang paling penting entah itu mau ODM, OIM, OBM itu ada di after sales dan customer service-nya. Tiap-tiap brand boleh punya desain yang sama, tapi after sales dan customer service itu bisa sangat beda. Itu alasan kenapa brand-brand seperti Lenovo ataupun Acer berani menggunakan OIM dan ODM karena memang mereka PD dengan after sales dan service center mereka. Jadi saran untuk brand-brand lokal itu ya coba diperkuat after sales-nya karena kembali lagi after sales itu sangat berpengaruh dengan trust level. Kalian bisa banyakin service center di Indonesia ya. At least di tiap-tiap kota besar di Indonesia kalian harus ada minimal satu. Dan yang enggak kalah penting itu customer service. Customer service kalian harus gercep untuk nanganin keluhan-keluhan dari end user kalian. Intinya saat kalian sudah melakukan penjualan dan ada komplainan, customer itu harus dipermudah. Jangan ada udang di balik batu. Kalian butuh duitnya aja saat melakukan penjualan atau melakukan distribusi. Tapi saat kalian ada komplain, lepas tangan. Jangan begitu deh. Bisa dijamin kalian enggak akan bisa bersaing di market Indonesia yang rata-rata di harga-harga entry level itu didominasi kaum undang-mending. Jadi kalau produk kalian rusak gitu ya, ya tanggung jawab dibenerin. Jadi jangan menyalahkan customer. Dianggap itu kesalahan penggunaan sehingga klaim garansinya dianggap hangus. Ya, kalau kalian ada atoh kalian pernah mengalami brand seperti itu, enggak worthed deh untuk dibeli lagi. Jadi intinya buat para brand harus berani tanggung jawab terhadap produknya. Ya, intinya service center dan customer service itu representasi brand kalian. Fokus ke sana, diperbaiki sehingga berharap nanti ke depannya saat posisi kalian berkembang itu ya enggak perlu ke OBM dulu lah, kalian ke OIM dulu. Kalian bisa patenkan produk kalian, desain kalian, kalian punya original produk. Tapi jujur semakin ke sini saya semakin happy sih dengan produk-produk lokal. Contoh kayak Axio gitu ya, dia berani kasih jaminan garansi 2 tahun dengan ADP ya. Walaupun ada TNC tapi it's ok itu masih bisa dimaklumi. Dan service center Axio juga cukup banyak di Indonesia. Z mulai fokus di produknya. Cukup banyak line up produk mulai dari harga R jutaan sampai harga 67 jutaan sudah cukup bagus. Service center juga sudah cukup banyak di Indonesia tinggal diperbaiki aja. Saran untuk ZX website-nya coba dibuat lebih detail sehingga customer enggak perlu bingung-bingung cari service center. SPC malah gandeng Indomaret untuk jadi partner distribusi klaim garansinya. Dia udah cakep banget karena Indomaret kan sudah ada di mana-mana. Tapi ke depan coba untuk SPC kalian coba pikirkan deh untuk service center resmi yang untuk e collect barangnya dan perbaikannya coba di kota-kota besar mulai dikerjain atau diperbanyak ke arah sana. Advance sudah cukup cakep gitu ya. Kalau kalian buka website service centernya si Advance itu datanya jelas banget ada di mana. Kalian enggak usah repot-repot cari service center yang ada di kotak kalian. Enggak cuman aksioon yang cukup cakep, kita juga apresiasi Advan dengan digital learning-nya dan Gseries-nya itu sudah masuk ke ranah OIM. Jadi salut banget sama Advance. Tinggal dikembangin lagi aja, dipertahankan untuk service centernya. Ada juga transent holding kayak Infinix atau Techno yang dulunya ODM dan sekarang sudah naik level jadi OIM. Jadi intinya atau kesimpulannya apakah ODM itu jelek? Enggak juga. Yang penting fokus ke service centers, fokus ke pengembangan. Jangan lupa after sales dan customer service-nya diperbaiki. Plus coba kembangin untuk fokus atau inject software kalian sendiri. Coba bikin ekosistem sendiri, software yang seless dan mudah digunakan. Dan saya yakin empat brand ini, empat brand lokal ini bakal naik down sih untuk beberapa tahun ke depan. intinya gak tergantung sama ekosistem software dari perusahaan ODM lah. Jadi kalau bisa melakukan seperti itu harusnya sih cakep banget. Oke, cukup sekian video kita kali ini. Kalau kalian ada pertanyaan atau ada sesuatu yang mau dibahas mengenai ODM, OBM atau OIM, kalian bisa tuliskan di kolom komentar. Saya Rico. See you on the next video.

Lihat di YouTube