Jungkat

JANGAN Beli Tablet Dibawah 1.5 Jt? - INOI Tab 2 (YouTube Video)

  • 26/06/2025

Setelah mengenal brand Inoy di video minggu lalu, saatnya kita cek apakah ada yang menarik dari tablet pertama yang mereka bawa ke Indonesia. [Musik] Saat ini jual tiga produk di Indonesia. Dua di antaranya HP yakni A35 dan A75. Lalu satunya lagi bernama Inoi Tab 2. Barang ini tipikal tablet entry level 10 inch R jutaan kecil. macam Advan Tab VX Neo yang hanya ideal buat penggunaan low end seperti jadi ebook, anak sekolah, tablet kasir UMKM, sistem stock keepeping barang di gudang, dan sejenisnya yang sekedar butuh layar besar, koneksi 4G. Namun enggak lebih dari itu. Intinya ini tablet sederhana dan cenderung tebal ya, lebih dari 1 centti untuk ukuran baterai sebatas 5000 mAh. Bukan sesuatu yang ngaruh sih kalau cuma sekedar dipakai di rumah atau di toko, namun perlu dicatat ketika ditambah si flip cover si tablet ini bisa hampir setebal laptop. Tapi hal-hal tersebut masih belum merupakan masalah utama yang diderita tablet Android level 1 jutaan. Satu hal yang kurang masuk akal sampai sekarang adalah soal resolusi layar yang masih stuck di 1280 K800 alias HD Plus. Padahal ini layar ukuran 10 inch. Bikin tablet seperti Ino T2 ini resmi punya resolusi layar paling rendah daripada semua perangkat Android yang masih diproduksi. Like kok bisa gitu ini tablet? Ukuran 10 inch resolusinya lebih rendah dari HP di harga yang sama. Contoh ya ini A35 lebih murah Rp100.000. Punya layar yang resolusinya lebih tinggi 100.000 1000 piksel di 1640 * 720 di ukuran 6,5 inch. Padahal harusnya orang beli tablet itu buat nikmatin konten di layar yang lebih gede dan tajam, kan? Nah, kalau ternyata resolusinya sama aja, bahkan lebih kecil dari HP, buat apa? Again, mungkin soal resolusi ini enggak ngaruh untuk penggunaan kasir atau gudang tadi, di mana orang sekedar pengin area touch screen lebih luas. Namun, ketika digunakan sebagai e-book, layar Netflix dan lain-lain ya ini enggak lebih tajam dari layar HP di harga yang sama. Masalah kayak gini enggak terbatas di tablet R jutaan, tapi juga kalau kita lihat beberapa tablet R jutaan kecil macam Realme Pad Mini dan Advance Catsa A3 ya itu juga resolusinya enggak nyampai full HD. Contoh teladan tablet yang masuk akal resolusinya adalah Advance Tab V8 yang walau termasuk tablet mini ukuran 8 inch resolusinya udah full HD 16 bing 10 sehingga enak dan tajam dipakai buat baca, nonton YouTube resolusi full HD, bahkan produktivitas ya karena muat lebih banyak elemen UI termasuk saat split screen. Baik, lupakan sejenak soal layar. Hal berikutnya yang butuh kita bahas itu adalah chipset. Well, ini udah tahun 2025, jadi agak sulit dipercaya masih ada chipset Unisock yang pakai proses fabrikasi 28 nanm. Von V40s yaitu HP besutan transion yang harganya cuma Rp900.000 aja. Dia pakai chipset Unisock T603 berbasis 12 nanm. Bro, please lah. Gua paham bikin tablet lebih mahal dari bikin HP. Tapi jika kalah sama HP Rp900.000 R ya enggak salah kalau dipertanyakan oleh calon pembeli. Beda sama layar, chipset kan berpengaruh langsung dengan operational software. Untuk usage yang agak dimanding dikit seperti buka aplikasiop apalagi main Free Fire gitu, ini jelas kerasa aura pakai Android entry level era 8 tahun lalu. Dan ketika dipakai main game, punggung kiri tengah bisa lumayan. Soal memori dan storage emang enggak butuh segede HP ya. RAM 4 gig tergolong cukup untuk spek chipset yang dipakai. Lalu storage IMMC 64 gig masih cukup buat bocil sekolah yang mau nyimpan puluhan e-book beserta Mobile Legends, Free Fire, TikTok, dan itu masih sisa banyak. Tapi perlu diingat bahwa Advance Tab VX Neo contohnya menawarkan storage 128 gig di harga yang sama. Oh ya, kunci kelebihan T2 dibanding tablet-tablet merek global lain adalah konektivitas 4G dual SIM. Jadi enggak tergantung hotspot WiFi ketika sedang dipakai di luar rumah. Nah, terus apakah tablet ini bisa dipakai jadi GPS di mobil? GPS sih berfungsi ya, tapi sayangnya kurang optimal karena tidak ada sensor kompas dan giroskop. Soal kamera, ekspektasi kita enggak banyak, bisa motret, punya autofokus aja. Buat dokumentasi papan tulis dan dokumen udah cukup, depan belakang 8 megapel. Namun yang mengejutkan, meski kualitasnya sangat amat basic adalah kemampuan makronya yang boleh juga. Di mana barang cuma 1 cent di depan kamera masih kena autofokus selama cahaya memadai. Untungnya kamera depan masih bisa webcam resolusi full HD 30 fps dan kurang lebih beginilah kualitasnya. Speaker sih stereo, tapi again kualitasnya enggak kedengaran lebih bagus dibanding HP sejutaan lain yang pakai speaker mono menang kencang aja. Terus kalau boleh tanya ini kalau bukan buat baterai gede kenapa tebal ya? Baterainya sebatas 5000 mAh kuat buat macam 10 jam playback YouTube on Wii yang enggak jelek. Namun kalau bisa lebih gede dikit dibanding HP misal 6000 mAh tentu bakal lebih bagus. Terus ngecasnya sebatas 10 watt guys. Kami nyoba ngecas dari kosong sampai penuh. Alhasil makan waktu lebih dari 2 jam. Oke, bisa disimpulkan bahwa beli tablet kecuali untuk penggunaan usaha dan sekolah di bawah budget Rp2 juta sampai sekarang cenderung nanggung. Terutama dari segi layar dan chipset. Selain Inoy Tab 2 dan Advance Tab VX series pun makanya belum ada tablet 4G lain di harga segini. Mungkin kalau Inoi mau serius bangun reputasi di pertabletan Indonesia bisa dipertimbangkan masukin Tab 2 Pro bersama garansi internasional 777 harinya yang masih jadi selling point unik untuk brand entry level di Indonesia saat ini. Dengan layar full HD, bateri lebih besar, chipset lebih kencang, dan lain-lain, Tab 2 Pro kelihatannya lebih oke untuk penggunaan lebih luas. Semoga dalam waktu dekat bisalah mereka ngasih opsi tablet yang lebih proper untuk kelas consumer entry level dan mainstream. So, please kalau Inoy bisa ngeramin pasar tablet 2 jutaan, silakan ngeramein. Itu aja pendapat singkat kami tentang tablet pertama Inoy di Indonesia. Saatnya kalian menang mending gue Mike. See you di next video.

Lihat di YouTube