Kamera Mirrorless Canon Terbaik untuk Konten Kreator Pemula yang Serius! REVIEW EOS R50 V (YouTube Video)
Bisa jadi ini adalah kamera terbaik untuk yang membutuhkan perekaman video dan para content creator yang ingin meningkatkan kualitas videonya ke level yang lebih pro tanpa mengeluarkan dana terlalu besar. Ini adalah Canon EOS R50V. Perekaman videonya nyampai 4K60. 4K30-nya bahkan bisa over sampling dari 6K. dia punya port mikrofon dan ada headphone juga port di situ ya untuk monitoring audio. Lalu support perekaman vertikal dengan menu khusus dan bahkan ada tripod mount di sisi kamera untuk orientasi vertikal. Untuk perekaman lebih profesional kamera ini bisa merekam 10 bit 422 dan menyediakan Canon lock 3 juga. Bahkan ada tombol khusus di bagian depan nih untuk memudahkan perekaman yang dilakukan sendiri oleh kreatornya. Nah, sensor kameranya pakai APSC besar ya dan dia punya kemampuan menggunakan beragam lensa dengan mounting canon. ini tentu membuat penggunanya jadi mudah mengembangkan gearnya untuk kebutuhan yang lebih serius lagi. Oke, langsung aja kita bahas Canon EOS R50V ya. Ini adalah kamera yang dirancang spesial untuk fokus perekaman video. Ya, jelas ya. Ini bisa terlihat dari mode dial-nya. Lihat nih, cuma ada satu menu buat motret. Hm. Kapan lu lihat kayak begini? Biasanya menu video cuma satu. Ini menu fotonya cuma ada satu. sisanya menu perekaman video semua. Jadi jangan ada yang mendang-mending ke arah kemampuan fotografi. Yang satu ini harus dilihat dari kemampuan videonya. Ya. Ya, sangat terasa bahwa kamera ini memang dirancang untuk para content creator ya. Nah, sebelum kita menyelami tentang kamera ini, mari kita lihat dari paket penjualannya dulu. Ada body kamera EOS R50V, lalu ada baterai LPE17. Ini adalah baterai yang sama untuk R50 bahkan R8 juga. Jadi mudah nyari baterai yang satu ini. Lalu ada charger. Jadi, iya ada chargernya, ada chargernya, ada chargernya. Padahal sih kita bisa charging langsung pakai body kamera, tapi di sini disediain charger untuk baterainya ya. Lalu ada kamera strap dan kami juga menerima sebuah lensa RFS 1430 mm IS STM PZ yang menurut kami adalah lensa yang cukup pas untuk pasangan kamera yang unik ini ya. Nanti masal yang panjang itu kita jelaskan di pembahasan lensanya ya. Nah, menurut kami paket penjual ini sudah sangat lengkap ya. mungkin hanya kurang beli satu atau dua baterai ekstra aja. Mengingat baterai yang disediakan ini umumnya cukup untuk perekaman 1 jam 20 menit. Harusnya ya cukupan sih buat satu sesi perekaman video ya, tapi akan lebih bagus kalau punya cadangan. Nah, untuk sensor kamera ini ukurannya adalah APSC. Jadi lebih besar daripada sensor HP ya. Ya, jauhlah ternyata sensor 1 inci. Bahkan sensor ini setara dengan super 35 mm yang sering digunakan untuk produksi cinema ya. Ya, ini adalah sensor Simos dengan resolusi 24,2 megap. Untuk perekaman video bisa mencapai 4K60 dengan crop atau 4K30 tanpa crop. Bahkan di 4K30 ini sebetulnya over sample dari 6K. Kalau ada yang enggak ngerti maksudnya apa, maksud yang direkam itu adalah 6K bukan 4K tapi terus dikecilkan jadi 4K supaya hasilnya lebih detail, lebih bagus. Nih kalau dibutuhkan, perekaman video bisa mencapai 10 bit atau 10 bit 42 HEVC. Kalau perlu bisa pakai Canon lock 3 juga dan jangan takut bingung syuting pakai lock karena kita juga bisa tampilkan hasilnya dengan loot juga. dan kita bisa load loot-nya kita. Buat yang enggak ngerti berarti kalian belum butuh pakai ya. Tapi buat yang butuh pakai pasti akan tahu wah ini berguna nih buat saya nih ya. Mau pakai false color dan zebra juga bisa. Pro banget yang satu ini. Untuk ISO bisa mencapai 12.800 dan bisa diekspansi ke 25.600. Dan autofokusnya tentunya udah mantap ya karena pakai dual pxel Simoos AF2 ya. Dan kamera ini bobotnya adalah di 370 gr aja. Sementara dimensi ada di 119,3 * 73,7 * 45,2 mm. Jadi dimensinya dan bobotnya tergolong ringkas dan cukup ringan juga untuk bodinya. Kita lihat sisi kiri dulu ya. Nah, di bagian bawahnya ini ada port USBC untuk transfer data dan bisa juga untuk charging ya. Kalau mau dipakai untuk charging pastikan sudah pakai tipe charger yang PD atau charger fast charging ya. Cari yang powerful. Walaupun ngcar-nya enggak setinggi itu, tapi dia suka yang powerful powerful entah kenapa. Lalu untuk port berikutnya adalah port HDMI untuk dihubungkan ke layar display atau perangkat perekam juga bisa ya. Jadi bisa HDM ini output ke perangkat perekaman gitu bisa. Bisa mau ke capture card di e laptop atau di PC bisa juga pakai HDMI ini. Lalu di bagian atasnya ada tiga port ya. Ada untuk remote lalu ada port mikrofon dengan jack 3,5 mm. Ya, ini dicari-cari karena buat videoya harus ada port mikrofonnya. Lalu ada port headphone dengan jack 3,5 mm. Ini tentunya untuk monitoring audio. Kita beralih ke sisi atas kamera. Dari kiri kita lihat ada tiga lubang kecil. Ini adalah speaker ya. Yang paling dekat dan kita ini adalah speaker ya. Sementara di atasnya itu ada tiga deretan lubang-lubang yang memanjang. Ini adalah mikrofonnya dari kamera. Jadi jangan kebalik ya. Yang lebar itu justru mikrofonnya. Sayangnya di sini kita enggak nemu aksesoris windsreen untuk mikrofon ini. Jadi agak hati-hati kalau pakai mikrofon ini. Kalau ketiup angin bisa blebek-blebek biasa di itu. Ya, berarti ke tengah. Di sini ada sebuah hot shoe modern atau kalau Canon bilangnya multifunction shoe ya untuk perangkat Canon yang menggunakan konektor khusus di pangkal dalamnya. Ia bisa berguna untuk menggunakan mikrofon eksternal khususnya Canon ya. Sayangnya multifunction show ini tidak memiliki kontak yang klasik. Ini sayang banget. Jadi dia enggak bisa dipakai untuk flash studio atau flash third party tanpa pakai adapter khusus ya. Tapi ya tentunya karena bentuknya adalah bentuk hot shoe klasic ya bentuknya bentuk dudukannya doang ya. Jadi tetap bisa dimanfaatkan sebagai cold shoe untuk masang unit mikrofon misalnya ya karena ukurannya standar. Nah, beralih ke sisi kanan kita bertemu dengan dial mode yang unik banget karena dial mode ini hanya ada satu opsi untuk pemotretan. Sisanya semua mode perekaman video. Buat yang suka video ini kayak balas rendam gitu, akhirnya ada kamera spesial buat saya gitu ya. Nah, geser kanan lagi nih ya. Ini adalah pengaturan parameter ya kanan bawah nih ya. Yang besar ini diatur pakai jempol dan di sebelah ujung kanannya lagi itu ada switch on off-nya. Jadi gampang dijangkau lah switch on off-nya. Maju ke arah depan. Ini ada tombol lock. Ini mungkin bisa berguna untuk sesi perekaman yang statis ya. Jadi kalau semua setting udah pas, kita pencet lock. Jadi supaya tidak ada yang bisa sengaja mengganti settingan ya. Maju ke depan lagi ada tombol shortcut ke menu live streaming ya kalau dibutuhkan ya. Lalu di paling depan ada tombol shutter seperti biasa yang di sini merangkap sebagai tombol perekaman video. Tidak ada tombol shatter khusus. Ini udah merah nih tombol shatternya. Berarti dia spesial buat ngerekam video harusnya, tapi yang ini merangkap masih ya. Nah, melingkari tombol satu ini ada rocker arm untuk pengaturan zoom. Jadi kalau zoom-nya itu yang bisa diatur dari rocker arm-nya dia akan bisa diatur dari sini terutama zoom yang pz ya itu bisa. Oke kita sekarang beralih ke belakang ya kita lihat dari belakang sebelah kanannya di sini ada tombol AF on untuk mengaktifkan autofokus dan di bawahnya ada tombol color untuk masuk dalam mode pengaturan warna dengan cepat. Ini masuk dalam mode lock. Nih juga dari sini nih cepat banget masuk dari sini ya. Kita bisa milih di sini mau picture style yang klasik dari Canon ya ee Canon color atau filterfilter yang baru atau custom picture yang CP. Nah, di sini nih kita bisa masuk ke dalam lock-nya di sini ya. Nah, oke kita turun ke bawah lagi. Di sini kita melihat tombol pengaturan khas Canon yang merupakan perpaduan antara dpad dan dial pad ya. Jadi ini lingkaran bergeriginya itu bisa diputar untuk pengaturan parameter. Tapi kalau ditekan ke arah atas ini masuk ke pengaturan ISO. Ke kanan untuk drive mode, ke bawah untuk white balance, dan ke kiri untuk opsi autofokus atau manual fokus. Sementara di tengah itu adalah tombol set. Kemudian di bagian paling bawah ada tombol info untuk mengatur tampilan yang kita lihat di layar perekaman. Beralih ke kiri atas nih ya, ada tombol menu dan ada tombol preview untuk hasil rekaman. Sekarang mari kita lihat bagian depan ya. Ini adalah mounting lensa tipe RF ya yang besar nih ya. Ini akan sangat cocok untuk tipe lensa RFS tentunya karena dia pakai APSC ya dan dia bisa juga memanfaatkan lensa full frame kalau dibutuhkan. Nah, di sisi kanan dari logo Canon di sini ada lampu penanda perekaman atau telight dan di bawahnya ada tombol lens release ya untuk ngelepasin lensa. Sementara di bagian bawahnya lagi ada tombol perekaman video. Ya, ini by default hanya untuk perekaman video ya. Jadi kalau kalian berharap ini bisa untuk selfie, motret, foto, enggak. Ini buat perekaman video aja. Sekarang mari kita lihat di bagian bawah banget ya. Di sebelah kiri itu ada slot untuk baterai dan SD card ya. Ini digabung jadi satu ya. Nah, di bagian gripnya ini ya sebenarnya kalau dilihat ya ini ada yang bisa dibuka nih untuk masang baterai dami yang bisa dihubungkan langsung ke listrik. Oke, sekarang kita beralih ke tengah. Tepat di porosnya lensa ada lubang untuk pemasangan tripod. Ini benar memang harus di situ sih lubang pemasangan tripod di poros lensa. Jadi kalau diputar gitu ya dengan poros tripod dia akan terus berporos di ee tengah-tengah lensanya gitu ya. Oke sekarang kita bahas soal lensanya. Ini adalah pasangan R50V banget. Ini lensa RFS. Berarti ini lensa spesial buat APSC bukan untuk full frame ya. 1430 mm ini kalau mau dicari ekuivalennya ke e lensa 35 mili ini harus dikali 1,6 sih sebetulnya ya. bukaannya F4 sampai F6,3. IS berarti dia ada image stabilizernya di lensa ya. Optical image stabilizer ya. STM berarti ini motornya motor STM ya. Steaping motor di sini yang sebetulnya cocok ya buat ee video-videoan gitu ya. Dan PZ berarti dia power zoom ya. Jadi nge-zoomnya itu bukan mechanical tapi pakai elektrik ya gitu ya. Pakai pakai switch elektrik. Di sini tampaknya kan paham banget kebutuhan dasar para kreator dengan menyediakan lensa zoom yang ekstra. lebar ini dengan crop vector APSC ala Canon lensanya ini akan berubah jadi ekuivalen ke 22,4 sampai 48 mm. Ini berlaku untuk perekaman hingga 4K 30 fps. Tergolong sangat fleksibel dan ekstra lebar nih ya. Cocok untuk pemosian kamera jarak dekat atau di ruangan sempit karena 22 mm. Kalau mau vlogging mereka yang tangannya tidak terlalu panjang dan tidak bawa tripod kecil juga enggak ada masalah. Mereka terbantu dengan lensa yang ekstra lebar ini. Karena biasanya kan yang namanya lensa white itu 28 mili ya, 24 28 gitu. Ini 22 ini lebih lebar gitu. Nah, kalau untuk perekaman 4K60 lensanya ini harus dikalikan 1,5 lagi. Dia akan berubah jadi 33,75 sampai 72 mm. Nah, ini sebetulnya masih tetap dalam rentang yang wajar bahkan sedikit lebar untuk perekaman video. Biasanya kalau kita yang disyutingin gitu ya sama orang lain yang dipakai itu sekitar 35 mili. Ini 33 mili sedikit lebih lebar. Nah, untuk talking head kan bisa 35 sampai 50 mm gitu ya. Jadi terlihat bahwa rentang zoom-nya ini sangat memperhatikan target pasarnya. Oh ya, ini adalah lensa canon pertama yang punya mounting RF yang punya fitur power zoom. Tidak ada ring untuk zoom secara mekanik. Adanya cuman slider di kiri untuk zoom in dan out atau tele dan white TW gitu ya. Kecepatan zoom-nya ini ada dua level, ada kecepatan tinggi dan ada kecepatan pelan untuk zoom in out secara elegan. tentunya kemampuan zoom ini juga bisa dikenakan dari body kamera yang memiliki fitur pengaturan power zoom bahkan secara remote juga bisa sebetulnya. Untuk jarak fokus terdekatnya adalah 15 cm. Jadi cukup dekat ya untuk ngerekam detail yang penting ya ee pada produk atau objek dan maksimum magnification-nya ada di 0,38 kali di setting 30 mm. Untuk autofokus zoom-nya pakai STM atau stapping motor yang dioptimalkan untuk perekaman video dan foto juga bisa tentunya. Dan tentunya lensanya dilengkapi dengan optical image stabilizer. Dan ini sangat berguna untuk EOS 35 R50V yang tidak punya inbody image stabilizer. Menariknya lensa ini tidak berubah dimensi saat kita melakukan zoom in atau zoom out ya. Jadi dia tetap aja begitu zoom in zoom out dia tetap aja enggak berubah-berubah ya. Nah, ini akan ideal sekali kalau kalian mau pakai gimbal tambahan. Karena yang enggak lucu kalau zoom-nya bisa masuk keluar gitu ya, dipasangin di gimbal, tiba-tiba kita pas yang tele dia memanjang itu gimbalnya kaget pasti itu. Nah, kalau yang ini tidak memanjang dan memendek enggak. Untuk bobot juga enggak terlalu berat dikesaran 180 gr dan lensa ini pakai filter trad yang 58 mm. Ini adalah ukuran filter yang mudah ditemukan di pasaran dan harganya biasanya murah sih. Oke, sekarang mari kita mencoba kameranya untuk perekaman sehari-hari. Setting pertama yang akan saya ganti adalah pilihan untuk menggunakan 10 bit HFC. Ya, kita enggak perlu maksan pakai silock 3 untuk menikmati warna yang luas di 10 bit ya. Tapi kalau mau pakai silock 3 atau lock itu bisa juga. Bahkan kita bisa load loot-nya, lutut-nya ya di sini ya. Atau pakai LUT bawaan juga bisa supaya bisa merekam video tanpa melihat gambar dengan kontras yang rendah. Jadi kita bisa melihat perkiraan hasilnya setelah diedit atau setelah di color grading. Oke, sekarang mari kita lihat hasil rekaman videonya. Begini hasilnya kalau kita pakai buat vlogging ya. Ternyata Lisa 1430 ini pakai memang pas banget untuk vlogging ya. Lebarnya pas. Bahkan saat kita ngidupin image stabilizer digital pada body ya, ini juga masih cukup lebar. Ini pakai setting di 4K 30 fps. Kalau kita pakai 4K 60 nah ya memang jadi lebih sempit nih. Tapi masih ketolong kalau kita pakai tripod kecil atau kalau tangannya panjang ya. Jadi di sini lihat ya, lensanya ini sangat membantu. Nah, kalau bicara soal stabilizer rasanya mode standarnya udah cukup bagus ya. Meskipun memang masih belum bersaing dengan kalau kita pakai gimbal tapi udah lumayan meredam guncangan. Sementara di mode enhance memang membuat lebih stabil tapi jadi croping ketat banget dan ada potensi muncul jiter-jiter kalau dipakai buat jalan terutama di kondisi yang gelap. Jadi mendingan yang pakai standarnya aja. Oh ya kalau kalian nanti pakai gimbal beneran ya dengan yang satu ini. Saran kami matikan aja stabilizer digitalnya ya. Nah, untuk pengoperasian kalian merasa cukup nyaman dengan menunya Canon ya. Seperti biasa ya. Satu yang paling penting di sini adalah di setiap halaman menu kita tidak perlu scroll ke bawah untuk mencari atau menemukan fungsi yang tidak terlihat atau tersembunyi ya. Semua opsi akan terlihat di tampilan utama. Mau mengubah tampilan layar saat merekam tinggal tekan tombol info aja. Cepat kan? Ya, mungkin hal yang membingungkan adalah saat memilih resolusi dan frame rate atau movie record size. Ini soalnya menunya agak berubah di sini ya. Di sini tombol navigasi hanya mengatur opsi resolusi 4K, 4K crop atau full HD. Untuk mengganti frame rate, kita harus menggunakan dial button yang di atas atau tekan aja langsung sentuh aja pilihan frame rate-nya di situ ya. Lucunya di sini ada opsi yang tidak bisa dipadukan seperti 4K dengan 59,9 misalnya ya atau 60 fps sebetulnya itu ya. Tapi masih bisa dipilih meskipun keluar peringatan bahwa ini tidak bisa dikombinasikan dan tidak akan terjadi juga settingannya. Cuma agak aneh aja kenapa memperlama ya gitu. Sejujurnya kami lebih suka tampilan Canon terdahulu ya, seperti yang ada di R8 yang kami pakai atau di V1 bahkan ya. Di mana semua perpaduan opsi itu digelar aja udah kata tinggal milih mana yang mau dipakai, kenapa harus switch geser-geser kayak gitu bikin pusing. Oke, kita bicara soal kualitas perekaman. Nah, kalau urusan kualitas perekaman video, kalian merasa bahwa hasilnya memang sudah berkelas di sini ya. Kalau kalian merasa kontrasnya terlalu tinggi, tinggal hidupkan auto lighting optimizer dan highlight on priority ya. ini akan membuat hasil video cenderung lebih aman tanpa harus masuk ke mode silock 3 atau HDRQ gitu ya. Nah, untuk audio kamasnya sebenarnya udah cukup baik loh perekamannya ya. Ya, inilah perekaman dari Canon R50V langsung dari kameranya, mikrofon semua dari kamera. Jadi kalau ada angin-angin beluk-belebuk ya udahlah terima aja karena memang tidak ada proteksnya. Mungkin Canon atau ada third party yang mau membuatkan windsreen-nya nih penting banget nih sebetulnya nih ya. Tapi ya kalau bicara audio yang paling aman emang masang mikrofon khusus dari Canon itu ya yang bisa dipasang di atas ini atau pakai mic wireless terparty dengan memanfaatkan port mikrofon 3,5 mm. Sayangnya K belum bikin aksesoris mic wireless ya. Harusnya bikin kali ya mereka ya. Nah, untuk perekaman model talking head kamera ini juga udah sangat mudah dioperasikan. Kita kalau perlu ya bisa start perekaman dengan tombol yang ada di depannya. Tapi personally saya lebih suka mengendalikannya dengan aplikasi Canon Camera connect dari smartphone aja melalui sambungan wired atau wireless juga bisa ya. Nah, segian kalau kita mau masuk ke mode AV, TV atau manual itu tetap harus dari kameranya ya. Kalau menggunakan mode yang diinginkan, kita bisa dengan mudah melakukan pengaturan secara remote dari smartphone. Tapi pilih dulu modenya dari kamera. Jadi contonent kator mau syuting sendiri tanpa dibantu orang lain bisa banget dan mudah banget ya. Nah, kalau ditanya adalah kualitas perekaman video menurut kami hingga ISO 3.200 masih oke banget ya. Apalagi kalau kita pakai 4K dengan frame rate 24 atau 30 FPS. Di setting 4K 60 hasilnya agak sedikit berkurang terutama kalau ISO-nya tinggi ya. Tapi memang secara umum ee memang efek yang dibawa oleh 60 fps tuh terasa menyenangkan ya. Secara umum sih kami akan memilih menggunakan 4K 30 fps untuk perekaman horizontal dan 1080p 60 fps untuk perekaman vertikal. Karena kita enggak butuh 4K kalau buat sosm yang vertikal itu. 1080p aja cukup 60 fps ya penting. Nah, kalau misalnya kita mau merekam horizontal untuk YouTube gitu ya mungkin ya tapi ingin memastikan bahwa kalau nanti di crop berdiri tengahnya gitu ya ee jadi vertikal begitu itu masih aman. Nah, kita bisa masuk ke shooting info display. Lalu pilih aspect marker dan pilih yang 9 banding 16. Nanti kan ada guide untuk cropping vertikal. Pastikan aja perekaman dilakukan dengan resolusi 4K supaya resolusi hasil croppingnya tetap prima. Kalau kita taruh di 1080p di crop tengah ya habislah resolusinya. Nah, untuk perkaman dalam keseharian kami menemukan bahwa tentunya bentuk kamera seperti ini memudahkan saat ngambil video. Mau handling dengan tangan mudah karena ada grip yang lumayan proper ya di sini ya. Mau dipasang ke tripod itu juga mudah karena enggak perlu pakai penjepit-penjepit lagi kayak di handphone. Kualitas hasil video juga terjaga saat melakukan zoom in dan out karena dia kan pakai lensa optik bukan cropping digital seperti di smartphone atau di kamera dengan lensa yang single focal length. Ada kan kamera yang e pakai single focal length ya, yang kecil-kecil itu ya. Nah, kalau bicara soal panas atau kemungkinan overheat di sini kita mengalami masalah. Sebetulnya dalam pengujian kami tidak bisa menemukan kondisi overheat. Biasanya baterai kami udah keburu habis duluan. Ya, meskipun tidak ada cooler khusus, tampaknya konstruksi body yang dikombinasikan untuk mengelarkan panas keluar pakai aloy magnesium di sini ya, membuat kamera ini aman-aman aja untuk syuting berlama-lama. Hanya pastikan aja bahwa layarnya selalu terbuka ya. Kalau layarnya tertutup ya ditutup begini ini potensi overheit-nya memang ada buka aja supaya ini bisa membuang panas. Oh ya, untuk kalian yang ingin menggunakan kamera ini buat live streaming ini bisa banget ya. Kita punya banyak opsi, bisa wireless, pakai USBC atau pakai HDMI ya. Nah, kalau mau pengendalian maksimal mending pakai USBC ya, enggak butuh capture card lagi. Tuh, oke. Kalau kita bicara memotret ya SR50V ini bisa juga diajak motret ya. Ada satu opsi pemotretan di mode dial dan di sini kita bisa memilih mode pemotretan lebih lanjut lagi dengan menekan tombol A+ di sudut kiri atas layar. tuh. Jadi ada banyak modenya kan memang tidak ideal tapi ingat ini adalah kamera yang dirancang untuk perekaman video. Secara umum kayaknya merasa bahwa hasil fotonya mirip banget dengan Canon EOS R50 yang udah pernah kita bahas sebelumnya ya. Jadi kalau mau lihat ya tinggal dilihat aja tuh pembahasan sebelumnya tentang R50 untuk fotografinya. Eh kalian enggak tahu kita pernah ee ngetes atau ng-review EOS R50 berarti belum subscribe. Tahu dong harus ngapain ya. Oke, hasilnya menurut kami itu sangat baik di kondisi terang dan masih tetap tidak bisa dikalahkan smartphone dalam kondisi pencahayaan yang rendah ya. Oh ya, untuk motor tan ISO yang tersedia itu cukup tinggi ya. Meski demikian kami menyarankan penggunaan ISO 6400 ke bawah untuk hasil foto yang paling prima. Oke, untuk harga Canon EOS R50V body only itu di Rp1.999.000. Jangan protes ya kreator yang pada pakai itu ee HP buah-buahan ya atau yang dari Korea itu rata-rata udah ngeluarin duit Rp2 jutaan. Ini Rp12.999.000 atau kalau dengan lensanya ini ada di Rp16.999.000 ya. Nah, untuk lensanya sendiri kalau mau dibeli terpisah, saya enggak tahu kenapa mau dibeli terpisah karena ini pasangannya dengan ini sebetulnya ya itu ada di Rp7.299.000. Oh ya, bersama dengan EOS R50V, Canon juga meluncurkan Canon Power Shot V1 di Indonesia dengan harga kisaran di Rp7.499.000. Kita balik lagi ke EOS R50V. Hal yang perlu diperhatikan pertama tidak tersedia inbody image stabilizer. Cuma ada electronic stabilizer aja, tapi di kelas harganya dan pesaingnya juga sama-sama enggak punya sih sebetulnya. Kemudian menunya dirancang sangat-sangat ke arah perekaman video ya. Lalu baterai ini sebetulnya masih agak kecil ya. Jadi pastikan kita beli baterai cadangan. Lalu tidak ada electronic viewfinder. Tapi untuk video memang kebanyakan orang pakai layar sih ya, enggak ngintip juga sebetulnya. Lalu di sini belum ada build-in flash. Tapi kalau kita pakai aksesoris AD E1 Hot Shoe, dia akan bisa mendukung penggunaan flash tradisional atau flash konvensional atau bahkan flash studio ya. Lalu kemudian dial pengaturan parameter di bagian belakang bawah ini rasanya agak kecil aja ya. Kemudian belum ada aksesoris windscreen untuk build in mikrofonnya. Lalu untuk beberapa menu pengaturan ini bisa agak membingungkan karena agak beda dari menu Canon yang terdahulu ya. Mohon maaf saya datang dari R8 M6 dan nyobain V1 ke sini tuh agak kadang-kadang agak kagok gitu, agak bingung gitu. Mungkin karena menunya tuh lebih video banget ketimbang yang campur-campur ya. Kemudian untuk perekaman video dan foto, kamera yang cenderung profesional ini memang membutuhkan tetap editing. Ini mesti diingat tetap butuh editing. Beda dengan smartphone yang dibantu dengan komute foto atau komute videografi tentunya yang sini akan terasa agak mentah gitu hasilnya. Tapi hasil basic atau hasil dasar yang diperoleh kami pastikan itu lebih baik dibandingkan yang bisa diperoleh dengan smartphone. Oke, kita masuk ke hal yang kami suka. Pertama, kameranya dirancang spesial untuk videografi. Siapapun yang butuh untuk ngerekam video, cocok banget yang satu ini. Kemudian di pakai sensor APSC 24 megapel yang jelas ini lebih besar daripada sensor 1 inci yang bisa dipakai di handphone atau di kamera-kamera kecil-kecil itu ya. Ya, jelas ini beda lebih besar. Perekaman vertikal juga didukung dengan penuh dengan menu vertikal dan bahkan ada dudukan tripod di sisi kanan. Jadi enggak perlu beli cage untuk bisa masukkan secara vertikal. Enggak perlu, enggak perlu. Kemudian tersedia port mikrofon, ada port headphone juga untuk monitoring. Ini penting banget sebetulnya kalau misalnya kalian ee jadi e videografernya, kalian tuh butuh tuh dengerin sebetulnya bertanggung jawab sedikitlah. Jadi biar dengar oh audionya salah nih. Ada yang rusak, ada yang kesek-kesek atau gimana gitu ya. Kedengaran kaderan monetoringnya. Lalu untuk menu ini responsif ini mempermudah pengaturan dan menggunakan layar sentuh juga ya. Jadi lebih nyaman ya. Ini beda dengan pesaingnya yang layar sentuhnya itu kurang begitu responsif atau kadang-kadang fitur di layar sentuhnya itu cuman seadanya doang. Kalau ini benar-benar fitur layar satunya kalau dilihat bisa ya bisa udah dipencet aja bisa gitu ya. Lalu tersedia dua dial untuk pengaturan parameter ini mempermudah juga. Kemudian autofokus juga tergolong kencang dan responsif khas kinerja dual pxel Simos AF Mark 2. Untuk body juga lumayan ringan dan ringkas ya, terutama untuk mirrorless ya. Ini ringan dan ringkas ya kalau dibandingkan handphone emang ini jadi tidak terlalu ringan dan ringkas sebetulnya tapi kita lihat relatif terhadap ee kamera-kamera lain yang kuat tinggi ini lumayan ringan dan ringkas jadi mudah dibawa ke mana-mana. Pere perekaman video bisa 10 bit 422 bahkan di moda perekaman biasa juga bisa ya. Mau lebih pro ada Canon lock yang tentunya juga direkam dalam 10 bit juga. Resolusi maksimum 4K60 enggak ada cropping untuk perekaman hingga 4K 30 fps dan perekaman 4K 30 fps-nya itu over sample dari resolusi 6K. Kemudian tersedia juga beragam crop mode di sini ya. Jadi kita bisa pilih mode seperti apa. Lalu tersedia tombol perekaman khusus di bagian depan bisa dicas dengan charger USB PD ya. Ada juga ya yang model PD2 S1 tuh bisa juga dipakai di situ ya yang dari Canon. Kemudian untuk transfer data ada Wii, ada Bluetooth versi 5.1 juga. Lalu charger masih tersedia. Iya, masih ada chargernya di sini ya. Beberapa yang lain di kelas harga segini bahkan udah enggak ngasih charger lagi. Lalu kualites hasil foto dan videonya berada di atas yang bisa diperoleh dengan kamera HP tentunya. Ya, menurut kami sekali lagi ini kurang tepat disebut sebagai vlogging kamera ya. Banyak yang bilang vlogging kamera. vlogging kamera, vlogging sambil jalan-jalan gitu ya misalnya itu udah enggak terlalu in lagi ya sebetulnya sekarang ya. Ini adalah kamera yang dibutuhkan oleh para content creator tepatnya. Syuting bergaya talking Head, bikin biroll, bikin video pendek vertikal ya dipakai buat live streaming, dipakai buat syuting podcast. Nah, itu kan mudah dan nyaman sekali dilakukan dengan kamera yang satu ini. Vlogging sambil jalan-jalan juga dipermudah ya di kamera ini ya, terutama dengan tersensa barunya itu. Tapi kami rasa bahwa kelebihannya ada di overall kemampuannya. Sebetulnya memangmang ada kamera khusus video yang harganya mungkin lebih murah tapi kemampuan perekamannya belum semodern R50V. Sementara kalau bicara soal opsi lensa, sebenarnya mounting RFS itu udah banyak lensanya. Apalagi sekarang mulai ada lensa third party untuk mounting RFS dan masih ada opsi untuk mengakses jajaran lensa Canon EF dengan adapter dari Canon sendiri. Kalau EF tuh banyak banget lensanya ya. Nah, kemudian memang ada kamera yang dirancang menyatu dengan gimbal. tahu dong yang mana yang kecil-kecil tuh ya dan banyak digunakan sama kreator. Akan tetapi kamera itu punya kekurangan di mana kalau kita mau pakai untuk perekaman birol misalnya ya, lensa-nya terlalu lebar di 20 mili ya. Jadi mau nge-zoom in ya susah dia. Kalau mau zoom in harus cropping ya. Tapi kalau kita croping tentu kodnya akan turun. Selain itu sensor dari kamera bergimbal ini cuma 1 inci. Jadi tentunya bukan pesan sensor APSC yang ada di R50V ini. Belum lagi kamera seperti itu tidak memiliki fleksibilitas untuk ganti lensa atau melakukan optical zoom ya. Nah, kembali ke R50V. Menurut kami harganya juga tergolong terjangkau mengingat kemampuannya. Tidak lebih mahal dibandingkan smartphone kelas atas yang biasa digunakan oleh para content creator tapi mengizinkan pengembangan kualitas video hingga ke level yang lebih profesional. Terutama karena tersia opsi perekaman 4K 30 bahkan 4K60 dengan Canon LCK 3 10 bit 422. Jadi tentunya kamera ini akan sangat cocok untuk para content creator yang ingin beralih dari smartphone ke kamera yang lebih pro. Sementara itu, kamera ini juga cocok untuk siapapun yang ingin merekam keseharian atau perjalanan dengan kontes gambar kelas atas tanpa perlu mengeluarkan dana yang terlalu besar. Akhir kata, terima kasih Kanan yang akhirnya menghadirkan sebuah kamera untuk para kreator khususnya ngerekam video dengan harga yang relatif terjangkau. Ini yang udah kami tunggu-tunggu sejak lama. Saya D Irfan Jaka TV. [Musik]
