Kamera Pocket Perkasa dgn Fitur utk Kreator Serius: REVIEW Canon PowerShot V1 (YouTube Video)
Ini adalah kamera pocket yang unik, benar-benar beda dan menyenangkan ya. Sensornya tidak dipaksakan pakai full frame atau APSC, tapi ini sensor yang besar 1,4 inci. Mirip-mirip dengan sensor ukuran microed. Tapi rasio sensor ini adalah 3 bing 2. Yang jelas ini lebih besar daripada sensor kamera smartphone modern terbesar sekalipun ya. Lensa zoom-nya super lebar karena ekivalen dengan 16 mm sampai 50 mm. Ini equekivalennya ya. ini membuatnya memiliki lensa ultra wide. Tentunya ini membuat pengguna smartphone kelas atas yang sudah terbiasa ngandalin ultra wide di smartphone tidak akan merasa kehilangan kemampuan dari lensa sudut lebar itu. Lalu perekaman videonya up to 4K60. Dan untuk menjamin kestabilannya bahkan sudah ada fan build in ya dari kipas pendingin yang build in di dalamnya. Perekaman videonya juga bisa 10 bit dengan si lock 3 ya. Jadi udah siaplah untuk kebutuhan yang lebih pro. Port microfone ada bahkan ada headphone di sini ya. Nah, semua ini hadir dengan kemampuan pengendalian kelas profesional juga tentunya. Pertanyaannya, apakah ini adalah kamera terbaik untuk para content creator yang ingin naik kelas daripada pakai HP flagship? Ya, atau ini kamera yang cocok untuk para travel yang maunya dokumentasi dan kualitas tinggi tanpa bawa banyak alat atau sebenarnya ini hanya kamera yang berusaha menangkap tren di mana Jenzy lagi ramai-ramai mencari kamera pocket. Mari kita bahas dalam review-nya kali ini. Tentunya dengan perspektif kami sebagai pengguna yang merekam beragam macam video ya dengan format yang nantinya dipost ke YouTube atau sosial media. Oke, ini mungkin bisa menjadi kamera yang sulit untuk ditemukan di awal masa penjualannya. Karena kalau kami pantau banyak banget yang mencari power shot V1 di seluruh dunia. Kenapa? tentunya karena kamera ini memang memiliki potensi yang sangat-sangat menarik terutama karena kamera ini dirancang lebih ke arah kemampuan perekaman video dan lagi banyak kreator dan bahkan pengguna umum yang membutuhkan kamera dengan kemampuan perkaman yang bagus. Selain itu di dunianya Jenzy ya kamera Pocket lagi jadi tren memotret dengan kamera pocket jadi sangat in saat ini. Sepertinya kombinasi keduanya membuat Power SH V1 ini hadir dengan kemampuan dan form factor yang sangat pas untuk awal tahun 2025. Nah, hal teknis paling menarik pada power set V1 ini mungkin ada di sensornya. Ini adalah sensor Simoos 3 B 2 dengan ukuran 1,4 inci. Ini jelas lebih besar dibandingkan sensor 1 inci yang merupakan sensor terbesar yang bisa ditemukan pada smartphone. Sementara itu kalau dibandingkan dengan sensor kamera mirrorless seharusnya sensor ini mirip dengan yang dipakai sistem microhted. Bedanya micro ini sensornya 4 bing 3. Kalau ini sensornya kurang lebih sama lebarnya sebetulnya tapi rasio 3 bing 2 alas dia lebih pendek aja. Tapi menariknya ini jadi membuat dia kalau merekam video yang umumnya 16 b 9, penampak sensor yang dipakai akan sama aja antara sensor microorterd dengan sensor 1,4 inci pada power shot V1. Menarik kan? Jadi untuk video pada dasarnya V1 ini bisa bersaing dengan kamera mirrorless yang pakai microed. Wah, itu udah sampai kamera yang profesional loh itu. I oke kita lihat paket penjualannya sekarang ya. Tentunya di sini ada kamera Canon Power Shot V1 lalu ada baterai LPE 17. Ini baterai yang sama yang digunakan oleh Canan di berbagai kamera mereka. R50, R50 V, R8, M6 bahkan ya. Kemudian ada kamera strap. Strap doang satu sisi doang ya, bukan yang dua-duanya dicantol gitu ya. Lalu ada windscreen untuk mikrofon yang bisa dipesan di Hot shoe. Udah itu doang agak minimalis memang isi paket penjualannya. Nah, soal Power set V1 ini ya, warna dasar bodinya tuh hitam. Sebagian besar permukaan body dilengkapi dengan karet dan tekstur agak kasar agar tidak licin saat dipegang. Nyaman banget, emang griepy banget. Dimensinya itu sekitar 118,3 * 68 * 52,5 mm. Sementara bobotnya itu dikesaran 426 grond baterai dan SD car terpasang di dalam. Nah, sekarang coba lihat ada apa aja di body kamera ini. Oke, kita lihat di sisi kanan di sini ada konektor micro HDMI untuk menghubungkan kamera ini ke layar display atau bisa juga untuk alat perekam khusus. Lalu ada juga konektor USBC untuk transfer data sekaligus untuk charging. Nah, kalau mau charging kamera lewat port ini kita bisa pakai charger PDE2 dari Canon atau charger PD lain yang rating dayanya serupa. Di atas kedua port itu ada juga port mikrofon dengan jack 3,5 mm. Lalu port headphone dengan jack 3,5 mm untuk monitoring audio ini langka ya sebetulnya ya. Dan semua konektor sisi kanan ini ditutupi oleh penutup dari bahan karet. Beralih ke sisi atas kamera. Di area ini ada sebuah hot shoe atau resminya multifunction shoe ya namanya ya. Untuk perangkat kanan yang pakai konektor khusus di pangkal dalamnya. Ini bisa untuk mikrofon eksternal khusus dan lain sebagainya. Sayangnya hotsu ini tidak punya kontak klasik jadi enggak bisa dipakai untuk flash studio atau flash start party tanpa adapter khusus. Untungnya adapternya ada disediakan oleh Canon ya. Nah, tapi hotsu ini masih bisa dipakai sebagai cold sho sebetulnya untuk aksesoris windscreen, untuk mikrofon seperti ini ya. Nah, untuk mounting aksesoris lain bisa juga karena ukurannya itu sama seperti hot shoot pada umumnya. Nah, beralih ke area di kanan hotsoot. Di sini ada tombol on off dengan lampu indikator atau telight di dekatnya. Ada juga grill untuk mikrofon build in di kamera ini. Lalu ke kanan lagi di area depan ada tombol shatter yang dikeliling oleh rocker atau mekanisme pengaturan zoom. Ada juga tombol khusus untuk record video di kanan shutter. Kemudian di area belakang ada dial pengaturan mode kamera. Ada mode-mode yang cukup umum di sini seperti PM, TV, AV, serta beberapa preset custom serta full auto, scene, dan creative filter mode. Lah mode videonya di mana? Nah, di bawah ini ada switch untuk pengaturan kamera. Apakah dia mau untuk foto atau video, ya. Jadi, model video bukan dalam mode dial-nya, tapi ada switch-nya di situ langsung. Nah, beralih ke sisi kiri. Di sini terlihat ada lubang intake dengan ukuran yang cukup besar di area tengah ya. Sementara di area atas sisi kiri ada lubang exhaus. Ini merupakan bagian dari sistem pendingin kamera ini. Nah, sekarang kita beralih ke sisi belakang. Di kiri ada layar dari kamera ini. Ada exsel dua arah yang membuat layar ini bisa kita buka ke samping seperti ini. Serta kita bisa putar ke depan atau ke bawah gitu ya. Bisa diputar-putar gitu ya. Ini adalah layar 3 inci dengan rasio 3 bing 2 dan ini merupakan layar touch screen. Ke sisi belakang kanan ada tombol exposure lock dan tombol multifungsi. Turun sedikit ada tombol pengaturan khas kanan yang merupakan perpaduan dipad dan dial ya. Jadi lingkaran bergigi yang mengelilingi dpad ini diputar untuk pengaturan parameter. Nah dipad ini tentunya bisa digunakan untuk navigasi di menu untuk mengarahkan kursor sesuai dengan arah tombol dipad. Tapi ada juga fungsi pengaturan yang bisa dibuka dengan cepat lewat tombol arah di pad ini. Kalau di pad tekan ke atas ini bisa masuk ke pengaturan ISO atau bisa juga untuk menghapus file kalau lagi ada di mode preview. Kalau tekan ke kanan ini bisa untuk pengaturan mode drive dan self timer. Lalu ke bawah ini bisa untuk pengaturan informasi yang muncul di layar. Kalau ke kiri ini untuk membuka pengaturan autofokus atau manual focus. Sementara di tengah ada tombol set sekaligus shortcut untuk Q menu atau quick menu. Turun lagi ke bawah ini ada tombol playback atau tombol preview hasil foto dan video serta ada tombol menu. Nah, sekarang kita ke bagian depan ya. Ini lensa build inin dari Powers V1. Lensanya 8,2 sampai 25,6 mm yang berarti menawarkan zoom sekitar 3,1 kali. Untuk gambaran, lensa ini setara dengan zoom 16 sampai 50 mm untuk format 35 mili. Ya, saat merekam video karena ada crop sedikit dia akan berubah. Jadi setara 17 sampai 52 mm. Jadi ini lensa ultra wide to normal zoom. Lensa ini menawarkan aperture dari 2,8 sampai 4,5 tergantung fokal length yang digunakan. Sementara untuk minimum aperture-nya atau diaperma terkecilnya adalah 11. Ya, bagi kami F2,8 ini adalah bukan yang wajar. Mengingat ini adalah lensa zoom yang ultra wide. Kalau untuk G7X Mark 3 itu bisa F1,8 tapi karena lensanya berawal dari white biasa bukan dari ultra wide. Nah, di sini ada image stabilization yang ditawarkan oleh lensa ini ya. Lalu ada control ring yang mengelilingi lensa. Fungsi ini bisa untuk mengubah parameter setting tertentu mirip dengan ring pengaturan diafragma pada lensa kamera model yang klasik. Lalu di kiri lensa ada tali light yang sama dengan yang kita lihat di atas tadi ya. Ini kita bisa lihat dari depan juga ada juga lampu untuk membantu autofokus. Sekarang kita lihat di bagian bawahnya di kiri ada penutup yang kalau dibuka itu ada kompartmen untuk baterai dan SD cardet dalamnya. Lalu ada lubang pemasangan tripod yang perlu diperhatikan ya karena posisinya cenderung center to body bukan di poros lensa. Jadi kalau mau muter-muter tuh harus agak dipikirin dulu ya karena porosnya itu memang bukan di lensa ya, enggak tepat di tengah-tengah lensa. Oke, untuk pemakaian kamera ini memiliki bentuk dan ergonomi yang menyenangkan ya sebetulnya karena gripnya besar bahkan pemilik tangan yang besar pun akan nyaman mengoperasikannya. Fun fact grip ini lebih besar daripada yang ada di EOS R50V. Oke. Kemudian layar tersedia membuat kita bisa mudah mengambil dari berbagai angle bahkan mempermudah untuk merekam diri sendiri. Nah, untuk menu ini kita suka banget dengan menunya Power Shot V1 ya karena masih menggunakan layout yang menyerupai kamera Canan lainnya. Perhatikan di setiap kategori menu tidak ada fungsi tersembunyi. Kita enggak perlu scroll ke bawah untuk nemuin wih ternyata ada menu lagi yang tersembunyi di sini. Enggak perlu. Memang ini membuat kategori menu jadi banyak ya di atas ni jadi banyak tapi ini membuat lebih mudah mencari isinya juga. Lagi pula kalau mau lompat dengan cepat ke salah satu kategori yang agak jauh tinggal sentuh aja pakai jari ya. Menunya responsif banget terhadap sentuhan. Mirip seperti kita temukan pada smartphone atau laptop yang pakai layar sentuh. Jadi selalu ingat aja kalau menunya atau fungsinya itu terlihat kemungkinan besar kita bisa pilih dengan touch screen. Nah, sekarang mari kita lihat menu perekaman. Secara umum kalau ada fungsi yang punya kotak putih itu bisa kita sentuh untuk digunakan atau diubah parameternya. Enggak usah pusinglah pakai joystick atau dipad-nya ya. Nah, masuk ke menu preview. Hal sama bisa kita temukan di sini. Kalau kita buka sebuah foto, kita langsung bisa melakukan zoom in, zoom out pakai jari seperti pakai smartphone aja. Ini mulus dan lancar. Kalau untuk video kita enggak bisa zoom in zoom out ya. Tapi kalau diplay dan disentuh kita bisa melihat video frame by frame bahkan melakukan pemotongan di sini ya. Nah, untuk volume suara juga bisa diatur di bawah kanan. Semua bisa dilakukan pakai sentuhan jari saja. Oke, kalau kita mau merekam video dengan kualitas dan fitur optimal, pilihan terbaik adalah 4K 30 fps. Kalau butuh untuk konten sosm vertikal, seharusnya 1080p 60 akan jadi pilihan yang terbaik. Kalau bingung apa arti kata standar dan light di sini nih ya, itu sebenarnya bitrate. Jadi video kalau 1 menit pakai 4K yang standar itu akan lebih besar dan lebih berdetail file-nya dibandingkan video 4K 1 menit pakai setting light. Tapi resolusinya sama, sama-sama 4K beda di detail. Nah, dalam perekaman video sayangnya kalau kita posikan vertikal menu videonya enggak ikut berputar seperti EOS R50V ya. sayang banget nih. Nah, kalau mau merekam video horizontal tapi nantinya mau buat video klip vertikal ada opsinya juga ya. Kita bisa masuk ke shooting info display dan pilih aspect marker. Nanti di situ kita bisa pilih 9 bing 16 lalu akan muncul penanda vertikal saat kita merekam horizontal. Saran kami gunakan resolusi 4K agar nanti saat melakukan cropping bagian tengah resolusinya tetap tinggi. Tentunya kalau dibutuhkan ada juga perekaman 1080p 120 fps. Hidupkan setting high frame rate nanti opsi resolusi akan berubah jadi FHD 119,9. Nah, tentunya saat merekam video ya dengan resolusi manapun kita bisa melakukan zoom in dan zoom out secara optical. ini smooth banget. Tapi sayangnya kecepatan zoom-nya cuma ada satu dan ini cenderung diarahkan untuk efek yang smooth. Kalau mau digital zoom juga bisa ya, tapi hanya berlaku untuk perekaman full HD, enggak ada untuk perekaman 4K. Oke, untuk audionya kalau kita pakai mic bawaan kami rasa udah cukup bagus ya. Meski memang belum yang luar biasa hebat ya, ee pastikan aja kalau di ruangan terbuka windscreen selalu terpasang. Tidak ada perekaman di atas 16 bit audio juga di sini dan tidak ada opsi directionional audio. Jadi kalau mau lebih mantap, gunakan aksesoris mikrofon dari Canon yang bisa dipasang di multifunction shoe atau pasang wireless mikrofon. Tancapkan input ke sisi kanan body dan gunakan multifunction shoe sebagai call sho untuk unit penerimanya. Uniknya nih pada V1 kita bahkan bisa memonitor audio dengan headphone karena ada jack headphone-nya. ini akan sangat membantu operator kameranya untuk memastikan bahwa perekaman audio tidak bermasalah. Ya, ini adalah perekaman video dari Canon PowerSot V1 ya. Jadi, ini enggak pakai tambahan macam-macam ya, pegang pakai tangan aja. Ee mikrofon juga bawaannya aja semuanya. Setting juga default saya setting 4K 30 fps. Suara saya biarkan apa adanya aja. Nih kalau ada mobil lewat ya mobil lewat masuklah biarin aja. Stabilizer enggak pakai ya, enggak pakai tambahan stabilizer, enggak pakai tripod tambahan, enggak. Semuanya enggak. Dan semuanya default kondisinya agak sore hari ya masih matahari masih ok lah di sini sekitar jam .30 gitu. Sekarang kita coba jalan-jalan dulu dengan kondisi tangan saya sudah agak pegal ngangkat ini terus ya. Ee tapi lumayan ya, lumayan lebar sebetulnya ini ya, zoom-nya lumayan lebar kalau kayak begini caranya. ultra eh bagian white-nya itu lumayan ultra wide. Mirip-mirip kayak HP jadinya ultra wide-nya ya. Oke, kita bicara soal lock ya. Kamera dirancang juga supaya penggunanya bisa menggunakan fitur perekaman video ala profesional alias dengan lock. Tepatnya tersedia di sini adalah Canon Lock 3 atau C lock 3. Ya, kalau pakai mode ini kita akan memperoleh kontras super rendah dan warna juga rendah banget dengan tujuan supaya nantinya mudah diedit atau kerennya di color grade lah belakangan ya. Oke, perhatikan bahwa kalau benar-benar butuh yang satu ini, biarkan aja ISOnya di ISO 800 karena base ISO dari silock 3 adalah 800. Kalau kita turunkan dynamic range-nya akan berkurang. Tampaknya penggunaan Silock 3 ini juga akan menjadi satu-satunya cara untuk memperoleh perekaman video 10 bit pada power shot V1. Ya, seenggaknya di software versi awal harus begitu kalau mau dapat 10 bit ya. Oh ya, ada kabar baik nih buat kalian yang mau pakai mode lock tapi merasa kurang nyaman kalau tampilannya pada saat syuting tuh kontrasnya super super rendah gitu ya. Nah, dalam Canon Lock Settings kalian bisa pilih view assist ke on lalu pilih color space juga. Misalnya nih saya ngambil BT709 ya. Nah, hasil videonya tetap kontrasnya rendah tapi waktu syuting kita melihatnya normal sesuai dengan color space BT709. Nanti pas ngedit video tinggal pakai BT709 dari Canon ya. Diload aja LUT-nya atau lat-nya itu ya. Nah, hasilnya nanti akan sama seperti yang kita lihat pada saat kita syuting. Eh, gimana? Pusing atau enggak paham? Ragu mau pakai silock 3, malas edit tapi takut kontras video terlalu tinggi. Pilihan yang pas berikutnya adalah mungkin shooting HDR dengan PQ ya, padukan dengan auto lighting optimizer dan highlight tone priority. Nah, dapat hasil video yang tidak berkontras tinggi tapi tidak juga serendah lock ya. siap pakai tapi harusnya tidak terlalu rentan kehilangan detail eh masih terlalu rumit ya atau butuh edit video langsung di HP. Nah, karena kalau pakai Silock 3 atau HRQ kita enggak bisa transfer ke HP langsung via aplikasi Canon enggak bisa ya. Kalau mau langsung ditransfer ke HP saya akan pilih hidupkan auto lighting optimizer ke standar atau ke high. Lalu highlight priority ke D+ atau D+ 2 kalau mau ekstremnya. Setelah itu pilih picture style yang pas. Kalau mau lebih mudah diedit belakangan, ambil neutral atau faithful. Kalau saya kadang pakai findine detail dengan contras yang diturunkan kemudian clarity dinaikin dikit. Ya, ya intinya eksperimen lah dengan picture style untuk memperoleh baseline yang cocok. Oke, kalau bicara soal stabilizer, menurut kami sih stabilisasi dari power shot ini udah oke banget untuk sebuah kamera. Bukan yang terasa seperti pakai gimbal, tapi udah sangat membantu lah ya. Dalam menu ini is mode itu artinya stabilizer optik yang ada di lensa ya. Lalu digital is adalah stabilizer software atau electronic ya yang menyebabkan ada cropping tentunya. Kalau di HP namanya EIS, electronic image stabilizer ya. Nah, kami pilih penghidupan keduanya tapi untuk digital is-nya on aja bukan enhance karena di enhance ini berpotensi menghasilkan gitar dan cropping-nya juga lebih jauh ya. Uniknya di sini kalau kita matikan digital is kita bisa menggunakan auto level. ini akan berusaha membuat horizon pada video tetap rata meskipun kamera kita posisinya lagi goyang-goyang ya. Tapi ini kalau diuji dengan gerakan yang mengayun lambat kelihatan di sini bahwa horizon bisa terjaga. Tapi kalau ayunannya cepat fitur ini ya terasa enggak ada fungsinya aja ya. Mungkin lumayan lah ya kalau kita ada di kapal gitu mungkin ya lagi goyang agak-agak goyang-goyang tipis-tipis gitu kebantu harusnya tetap rata terus hasilnya. Oke sekarang kita masuk ke autofokus. sekali merasa bahwa power sh V1 ini udah cukup cepat ya sebenar autofokusnya bahkan bersaing ketat dengan jawar autofokus untuk kamera pocket V1 juga bisa secara otomatis mengenali subjek yang bisa dideteksi oleh autofokusnya tapi biasanya sih saya pasang di people ya supaya ngunci di saya kalau lagi ngerekam konten tentunya deteksi mata juga tersedia dan untuk kecepatan responsok bahkan ada opsinya untuk kebutuhan perekaman video bisa jadi kita butuh yang lebih lambat dan smooth responnya tapi tergantung kebutuhan juga sih mungkin butuh yang cepat cepat gitu ya. Bisa diaturlah pokoknya yang satu ini ya. Oke untuk konektivitas jangan samakan seri Power Shot dengan seri EOS ya. Biar bagaimanapun viewan ini masih masuk dalam ranahnya kamera pocket. Jadi secara default tidak ada aplikasi untuk pengendalian dari komputer atau dari Windows tapi kita bisa mengendalikannya via aplikasi dari smartphone atau tablet dengan Canon Camera connect yang bisa di-download dari Play Store dan Apple Store juga. Pada dasarnya pengendalian standarnya adalah menggunakan Bluetooth, tapi kalau untuk transfer data nanti akan bisa memanfaatkan Wii. Nah, sayangnya nih Wii pada Power Set V1 ini pakai 2,4 GHz yang tidak kencang. Jadi kalau untuk transfer foto ke smartphone masih oke, tapi kalau untuk transfer video akan agak pelan rasanya. Selain itu kalau kita pakai auto transfer yang bisa otomatis di-copy ke smartphone itu hanya foto. Jadi kita bisa tuh jepret di sini langsung kirim ke smartphone bisa. Tapi hanya foto. Uniknya kita bisa nih melakukan live stream pakai HP dengan kamera ini. Memang terbatas platformnya tapi sudah dicoba pakai YouTube dan bisa. Saran kami sih gunakan bitrate yang rendahnya ya, karena kecepatan transfer Wii-nya pas-pasan kalau pakai bitrate tinggi. Belum yang level kelas atas hasilnya tapi bisa. Oh ya, kalau kita pakai komputer, kita bisa melakukan kamera ini sebagai webcam 1080p 30 fps. Ubah aja dulu setting di bagian connection app menjadi untuk live stream. Kemudian pasangkan ke komputer via kabel USBC. Beres ya. Tentunya kalau dibutuhkan kita juga bisa melakukan ini dengan HDMI dipasang ke captured card di komputer. Tapi itu butuh perangkat ekstra tentunya. Nah, limitasi perekaman dan suhu. Oke, ini menarik ya. Limitasi menurut manualnya, limitasi perekaman videonya adalah 6 jam untuk semua perekaman normal sampai yang 60 fps. Kalau kita pakai yang high frame rate atau yang 120 fps limitasi jadi 1,5 jam ya. Ini limitasinya ya. Jadi pada dasarnya untuk perekaman biasa yang akan membatasi adalah daya tahan baterai kalau kita pakai baterai, kemudian kapasitas SD card dan suhu kerja kameranya. Ini menarik nih ya, karena dalam pengujian dengan menggunakan baterai kami tidak kena masalah limitasi suhu karena dalam pengujian baterainya habis duluan. Tampaknya tersedia kipas pendingin internal pada kamera ini adalah untuk mengakomodasi limit perekaman yang panjang tadi, terutama kalau dicolok ke sumber power eksternal. Karena emang kita bisa pakai sumber daya eksternal alias pakai charger. Tapi kalau pakai daya eksternal sambil rekam itu tidak ada proses charging. Ingat ya, enggak ada proses charging. Jadi daya langsung masuk ke sistem bukan ke baterai. Oke. Kalau dilihat dalam tabel perekaman 1080 P30 dengan SD card 128 gig itu bisa mencapai 9 jam 23 menit ya teoritis. Sementara kalau 4K 30 dengan ST carard 512 gig itu bisa sampai 9 jam 27 menit. Lagi-lagi teoritis dengan dua kombinasi itu limit perekamannya sudah akan tercapai sebelum storage-nya habis ya kan. limitnya kan 6 jam tadi kan ya. Nah, melihat kemampuan ini power V1 terlihat akan cocok banget buat ngerekam podcast ya. SD card 128 gig aja bisa untuk merekam 4K sampai sekitar 2,5 jam. Podcast umumnya 30 menit sampai 90 menit. Ideal sekali ya. Podcastnya mau bablas sampai 2 jam juga baterainya masih cukup. Ideal banget ya. Sebagai catatan berdasarkan pengujian beberapa orang teman, kondisi terbaik dan teradem adalah saat layar di posisi terbuka. Karena kalau dalam posisi tertutup kemungkinan kita kena limitasi suhu akan cepat. Oke, sebelum kita sampai ke kesimpulan supaya saya enggak diprotes, saya bahas sedikit mengenai kemampuan pemotretan ya. Yang saya suka dari V1 ini adalah tersedirnya lensa yang lebar sekali. Equivalen 16 mm loh ya. Yang umumnya kamera paket tuh paling lebar kisaran 23 atau 24 mili. Ini lebar banget. Yang untuk zaman dahulu kala 24 sampai 23 tuh udah masuk e ukuran lensa yang white atau lebar. Tampaknya karena lensa ultrawide udah umum di smartphone, Canon melihat bahwa V1 perlu bersaing dengan pakai lensa ultrawide juga. Sayangnya memang di sisi tele, V1 ini bahkan belum pantas disebut punya kamera tele karena 50 mili itu masih ranah lensa normal angle. Ya, lucunya kalau mau sedikit lebih tele, sebetulnya kita bisa pakai format 1,4 kali crop. Ada nih ini buat lensa jadi 23 sampai 71 mili. Jadi mirip seperti kamera pocket yang lain pada umumnya ya. Tapi buat saya sih mendingan tanpa crop deh ya. Secara umum saya merasa bahwa pemotan dengan V1 ini udah asik responnya udah cepat pengaturan warnanya masih sama dengan kanan terdahulu dan detailnya pun berkelas banget. Oke kita masih harus mencari-cari settingan supaya kontrasnya enggak terlalu tinggi. Karena default hasil fotonya memang seakan minta diedit dulu. Tapi dengan settingan serupa seperti untuk video yang tadi ya rasanya kita bisa memperoleh hasil yang matang dan cukup siap pakai. Kecepatan burst untuk mechanical shutter-nya ya ini punya mechanical shutter ya 15 fps dan untuk electronic shutter itu 30 fps. Untuk water saya sebenarnya sedikit berharap masih ada electronic viewfinder ya tapi ini masih bisa diterima lah karena kalau kita mu pakai smartphone juga enggak ada electronic viewfinder ya. Sementara saya merasa kehilangan flash di sini. Kalau mau pasang flash yang kompatibel pun harus pakai punya Canon dulu atau beli adapternya ya seenggaknya masih l ya solusinya karena build flash-nya emang enggak ada. Nah, seperti dibahas tadi untuk foto-foto kita juga bisa setting agar langsung ditransfer ke smartphone. Jadi bisa lebih cepat sharing ke teman atau ke sosm. Overall pengalaman mota dengan V1 ini masih cukup menyenangkan walaupun belum semencengangkan seperti saat kita mencoba kemampuan videonya tadi. Oke, untuk harga Canon Power Shot V1 ini dijual resmi di Indonesia oleh PT DataScript dengan harga kisaran Rp17.499.000. Ingat, harga segitu enggak perlu beli lensa dan bahkan pendinginnya pun sudah build in. Ini menarik ya. Kalau di pasar Indonesia sekarang itu kalau kita lihat Canon Power Set G7X Mark 3 ya, kamera pocket juga yang udah berumur itu, itu banyak dijual di kisaran harga Rp20 juta. Jadi saya enggak heran kalau pertama kali ini keluar ini bisa habis das hilang di pasaran gitu. Oke, kita langsung aja masuk ke dalam hal yang perlu diperhatikan. Pertama, perekaman 10 bit itu hanya bisa diperoleh dengan penggunakan silock 3. Sedikit berharap bahwa ini bisa juga tersedia perekaman 10 bit tanpa harus masuk ke dalam mode lock. Kemudian stabilisasi digital itu gak bisa digunakan pada setting 4K60. Lalu, tidak ada electronic viewfinder, hot shoe-nya juga ini tipe digital only ya, yang tidak bisa mengakomodasi flash classic atau flash studio tanpa pakai adapter terlebih dahulu. Untungnya adapternya ada sih dari Canon ya. Dan dia juga tidak punya build-in flash. Tombol power ini akan sedikit terhalang kalau kita menggunakan windsreen untuk mikrofonnya ya. Lalu penggunaan baterai LPE 17 ini membuat indikator baterai itu tidak dapat menunjukkan persentasi isi dengan detail di sini. ini ya. Lalu di sini enggak ada menu vertikal, beda sama R50V yang punya menu vertikal. Saya enggak tahu kenapa. Kemudian tidak ada dudukan filter di sini. Untungnya seenggaknya udah ada build-in and filter. Lalu enggak ada software pengendalian dari komputer. Ini harus dikendalikan dari smartphone atau tablet. Kemudian berbeda juga dengan EOS R50V. Di sini tidak ada charger dalam paket penjualan. Jadi kita harus nge-charge-nya mungkin pakai body atau beli charger yang sama dengan yang ada di R50V. Oke, dari segi hal yang kami suka tentunya pertama-tama sensor besar 1,4 inci ya. Jadi ini langsung bersaing dengan micro langsung di situ ya. Lalu grip besar membuat ergonominya juga jadi nyaman. Lalu limit durasi perekaman videonya itu sampai 6 jam sampai 6 jam. Ada cooler build-in untuk memastikan perekaman video durasi panjang tetap aman. Lalu lensanya ultrawide 1650 mm membuat kamera ini sangat fleksibel untuk perekaman video. Lalu perekaman videonya up to 4K 60 atau bahkan adalah full HD 120 fps. Perekaman 4K tertingginya ini over sampling loh dari 5,7K. Jadi maksudnya dia ngerekam di 5,7K lalu diturunkan ke 4K atau 4K. Ini detailnya tinggi banget. Lalu dia bisa ngerekam 10 bit dengan Canon Skilock 3. Dan perekaman Silock 3-nya itu bisa dilakukan dengan melakukan preview hasil editnya. Bisa tuh ya ada opsinya. Kemudian dia bisa merekam dengan external power source, charger misalnya, bahkan dengan power bank USB PD bisa juga nih. Bisa ya. Lalu dia punya build-in end filter sampai 3 stop. Autofokusnya responsif, stabilizer cukup efektif. Pemotretannya ini sangat sigap. Body juga cukup ringan ya. Enggak butuh gimbal yang besar-besar amat kalau mau menghandle ini. Nah, kemudian ada software pengendalian atau remote yang mumpuni untuk ini ya. Lalu bisa langsung dan mudah menjadi webcam, support UVC juga ya. Lalu dia support live streaming secara wireless. Menu juga mudah digunakan dengan sentuhan jari saja. Jadi kalau kita memang adalah seorang content creator yang ingin upgrade dari smartphone ke kamera, tapi tetap mau yang ringkas, power shot V1 bisa jadi pilihan yang pas. Mau ngerekam video horizontal tapi nanti mau dipotong-potong jadi vertikal aman. Pakai markernya dan rekam di resolusi 4K. Butuh video 60 fps supaya video pendek ketan mulus? Bisa. 1080p 60 fps bisa. 4K bahkan bisa juga ya. Atau mungkin udah butuh color grading ala profesional bisa pakai silock 3 udah 10 bit ya. Mau dipakai untuk ngerekam podcast jelas bisa. Limitasi perekamannya sampai 6 jam nonstop dan ada bantuan cooler pula bisa pakai external power source pula. Mau dipakai sebagai webcam yang berkualitas juga bisa. Mau diajak vlogging sambil jalan-jalan bisa juga tanpa gimbal bisa. Mau pakai gimbal pun enggak perlu beli yang mahal karena bodinya ringan. Mau dipakai untuk kambol atau syuting video produk gitu ya. Ini enak karena gripnya enak dan dasanya bisa zoom optical. Beda dengan kamera smartphone yang kalau kita nge-zoom in dikit aja udah kena digital zoom yang berpotensi menurunkan kualitas hasil perekamannya. Overall kualitas hasil rekamannya memang mantap ya tentunya ini efek dari sensor besar yang digunakannya. Nah, untuk pengguna yang mau bawa kamera ini buat traveling sebenarnya juga asik sih ya. Ukurannya enggak terlalu besar dan enggak pusing bawa-bawa lensa besar pula ya. Kualitas hasil dokumentasi juga naik kelas nih pastinya. Catatannya tentunya ada di rentang zoom-nya yang enggak terlalu panjang dan tidak adanya flash build-in. Jadi, Power SH V1 mungkin bukan kamera pocket berukuran paling ringkas yang tersedia saat ini. Tapi bagi yang membutuhkan kamera Pocket dengan kemampuan perekaman video dengan fitur profesional dan kualitas hasil yang berkelas, V1 ini adalah opsi terbaik yang mudah dibawa ke mana-mana. Oh ya, jejak foto-foto juga seru loh yang satu ini. Saya D Irfan JakaB TV. [Musik]
