Kamera Termurah utk Kelas Kemampuannya! Review Canon EOS R6 V (YouTube Video)
Ini harusnya adalah kamera idaman. Banyak orang yang berurusan dengan perekaman video. Butuh kualitas rekaman kelas atas, bingung mau rekam vertikal atau horizontal. Kamera full frame ini bisa ngerekam video di 7K open gate raw 3 b 2. [tertawa] Full frame loh nih ya. Takut hasilnya gempa parah dia punya Ibis build inin. Takut kamera jadi panas dia punya kipas internal. Kalau urusan lock doang sih udah pasti ada lah di sini ya. tentunya harganya enggak mungkin 10 R2 juta ya, tapi untuk kemampuan spesifiknya ini adalah opsi kamera termurah. Percaya enggak? Kenapa bisa begitu? Mari kita bahas aja langsung Canon EOS R6V. Canon EOS R6V ini adalah kamera bersensor full frame yang dirancang untuk perekaman video kelas profesional tapi harga dan fiturnya itu bersahabat gitu ya. Pahami dulu bahwa banyak yang tertarik mau memiliki kamera dengan kualitas gambar seperti kamera cinema contohnya seperti C50 gitu ya, tapi maunya harganya lebih murah dan dia butuh EBIS inbody image stabilizer itu loh yang sensornya bisa jadi stabilizer gitu ya supaya enggak goyang-goyang kalau diajak vlogging atau kalau diajak jalan gitu ya. Nah, target kamera ini harusnya contontor yang serius, videografer profesional ya. Ini baik yang baru mulai profesional atau yang sudah berpengalaman banget gitu ya, solo filmmaker dan para agensi mungkin ya yang terkait dengan konten ya. Tapi karena kemampuannya harusnya dia bisa jadi idaman semua orang yang berkecimpong di dunia videografi ya. Kualitas cinema dengan harga terjangkau bukan ini. Bahkan sensornya itu sama dengan sensor yang ada di kamera cinema yang Canon ya. Nah, kali ini kita akan bahas R6V dari sudut pandang kreator. Ya, sebagai catatan kami sudah pakai EOS R8 yang juga pakai full frame sensor. Jadi, harusnya kita bisa membahas upgrade yang terasa dengan beralih ke kamera yang dirancang untuk kebutuhan videografi yang lebih profesional ini. Mari kita mulai pembahasannya dari paket penjualan dan fitur-fiturnya. Di dalamnya tentunya kita lihat ada body kamera EOS R6V, lalu ada baterai LPE6P. Ini baterai yang besar ya ketimbang LPE17 yang ada di R8 kami ya. Kemudian ada charger baterai LCE6E di sini. Kamera strap ada juga body cap ada. Penutup untuk hot shoe juga ada di sini ya. Kamera ini punya body yang cukup besar dengan warna dasar hitam. Dimensinya sekitar 141,8 * 83,3 * 79,7 mm. Bobotnya di kisaran 720 gr. Dalam keadaan baterai, SD card, dan strap terpasang ya. Terpasang semua. Jadi ini memang kameranya terasa besar dan agak berat tapi masih wajar ya untuk mirrorless full frame sebetulnya ya. Sekarang mari kita lihat ada apa saja di body kamera ini. Di kanan ada penutup untuk slot memory card ya. Saat dibuka kita lihat ada dua slot. Satu untuk CF Express type B dan satu lagi untuk SD card. Kapasitas storage-nya itu bisa nyampai 8 TB. Hmm gede. Menariknya di sisi kanan ini ada juga lubang untuk mounting tripod. Jadi kameranya bisa dipasang di tripod dalam posisi vertikal seperti ini. Ini akan mempermudah kita kalau mau syuting video vertikal ya. Apalagi kalau videonya mungkin banyak gitu ya. Jadi pasangnya terus vertikal di situ. Lanjut untuk sisi atas kita mulai dari area kiri ya. Ada switch untuk mode foto atau video. Ada vocal plane marker [berdehem] di sini ya. Dan ada dua mikrofon di depan switch tersebut. Sedikit ke belakang ada tombol dengan label angka tuuh. Nanti kita coba lihat apa maksud dari label angka tersebut. Lalu ada juga tombol menu yang tentunya digunakan untuk membuka menu pengaturan utama dari kamera ini. Geser sedikit kanan ada multifunction shoe dengan konektor khusus di pangkal dalamnya. Ya, ini tentunya bisa untuk masang Iorus khusus dari Canon. Tapi ini memang tidak kompatibel dengan flash-flash yang model lama ya. Kalau mau pakai itu harus masang adaptor tambahan. Dia tidak akan butuh adaptor kalau mau dipasang mic khusus buat ini misalnya. Dan terlihat juga bahwa di bagian atas ini tidak ada build-in flash. Kelas profesional kok ada build-in flash-nya. Geser kanan lagi ada satu lubang speaker lalu ada tombol dengan label 6 di sini ya. Kemudian lanjut lagi ada dial untuk pemilihan shooting mode. Nah, mode yang tersedia ada MAV Tv. Nah, ini standar kanan banget ya. Lalu ada FV atau flexible priority auto exposure ya. Lalu ada scene intelligent auto movie close up special scene SNF ya. Ini slow atau fast motion movie ya. Dan ada juga tiga preset custom. Lalu di dekat dialoting mode ada juga tombol dengan label angka 5 ya nanti kita jelasin ini. Lalu ada quick control dial 2 dan ada switch power on off. Maju ke depan ada main dial dan ada tombol dengan label 4 serta ada tombol shutter yang juga berfungsi sebagai tombol untuk movie record. Nah, di depan shter apa togle. Yaitulah ya. Ini yang fungsinya untuk power zoom. Jadi ini kita bisa gunakan untuk mengatur zoom lensa yang lensanya harus support power zoom juga ya. Oh ya, di kiri dan kanan sisi atas ini ada juga mounting untuk pemasangan strap. Oke, sekarang kita lihat body bagian kiri nih ya. Ada beberapa jack dan konektor yang semuanya dilindungi penutup dari karet. Di barisan depan ada dua jack 3,5 mm untuk eksternal mikrofon dan headphone. Lalu ada juga satu konektor untuk remote. Sementara di baris belakang ada konektor HDMI out yang menggunakan jack HDMI standar bukan mini HDMI atau micro HDMI ya. Lalu ada juga satu port USBC untuk digital terminal. Ini bisa digunakan untuk menghubungkan kamera ke PC atau untuk menghidupkan kamera serta isi ulang baterai dengan adapter khusus seperti Canon PD E2 atau bisa juga pakai charger USB PD dengan daya yang mencukupi. Kecepatan port USBC ini kurang lebih setara dengan USB 3.2 Gen 2 ya. Nah, di sisi kiri ini juga ada lubang exhaust untuk fan yang merupakan bagian dari sistem pendingin kamera ini. Lanjut lagi ke sisi belakang. Ada layar 3 inci yang pakai exel dua arah. Ini membuat layar kita bisa dibuka ke samping seperti ini. Serta kita putar ke depan atau ke bawah. Ini sangat fleksibel sekali ya. Rasionya adalah 3 bing 2. Dan tentunya ini adalah touch screen. Dan ini touch screen-nya sangat fleksibel seperti HP ya. Jadi eh sangat responsif sekali touch screen-nya. Mau lihat foto zoom in zoom out gampang nih. Nah, sekarang kita coba lihat ada apa aja di kanan layar ini ya. Mulai dari bawah ada tombol playback atau preview untuk melihat galeri hasil foto dan video. Serta ada tombol delete juga yang bisa digunakan untuk lock yang membuat beberapa tombol dan dialubah parameter. Ke atas lagi ada tombol pengaturan yang merupakan perpaduan dipad dan rotary dial ya ini jadi dipad juga tapi tombol putar juga. Di sebelah kirinya ada lampu indikator untuk storage akses. Jadi kalau kita lagi merekam atau membaca data dari storage, lampu ini akan berkedip-kedip. Lalu ada tombol Q yang tentunya fungsinya untuk membuka Q menu atau quick menu khas Canon. Ada juga tombol info di sini ya. Lalu lanjut lagi ada joystick lima arah yang disebut sebagai multiroller. Ini salah satu fungsinya bisa untuk mengatur posisi titik fokus dan saat kita tekan ini bisa mengembalikan titik fokusnya ke tengah lagi. Terakhir di bagian atas ada tombol dengan label 1, 2, dan 3. Jadi ada tombol dengan label 1, 2, 3 sampai 7. Nah, secara standar tombol-tombol ini sudah diatur untuk fungsi tertentu. Satu itu untuk autofokus. Dua untuk magnify tampilan di layar memperbesar ya. Tiga untuk auto exposure lock. Lalu empat untuk multifunction ya. Menu multifunction atau fitur send to smartphone saat kita lagi ada di galeri. Lima, untuk pengaturan white balance. Enam, untuk membuka menu live streaming atau pencarian gambar saat kita lagi ada di galeri dan tujuh untuk membuka menu color mode. Nah, tombol-tombol ini bisa diatur atau ditukar fungsinya sebetulnya ya. Misalnya kita mau tombol dua diatur untuk membuka menu supaya kalau navigasi di menu kita jadi bisa mudah dengan satu tangan itu juga bisa. Bisa. Atau misalnya kita mau menukar fungsi tombol 5 dan 7 bisa juga. Selain tombol-tombol angka tersebut, tombol atas, bawah, kiri, kanan, dan tengah di depur sesuai dengan kebutuhan kita. Kalau secara standar fungsinya adalah sebagai shortcut yang atas untuk zebra aktif atau tidak. Ini biasanya untuk bantu meriksa apakah ada area yang over expose atau tidak. Untuk ke kiri itu pengaturan mode autofokus. Ke bawah itu membuka menu pemantauan perekaman audio. Ke kanan itu untuk pengaturan focus speaking itu aktif atau tidak. Nah, kalau buta mengubah fungsi standar itu ke fungsi lain bisa juga. Ini seharusnya akan membuat pengendalan kamera ini jadi lebih sesuai dengan keinginan kita. Tapi menurut kami pengaturan standar ditawarkan karena untuk tombol-tombol di kamera ini sebenarnya sudah cukup oke dan terbilang mudah dipelajari. Kalau preferensi saya pribadi sih enggak usah diganti-ganti karena jadi gampang. Kalau tiba-tiba ini keriset aja ribet itu mau ngebalikinnya lagi ya. Nah, sekarang kita ke sisi depan tentunya ada mounting untuk lensa dengan tombol lens release di sampingnya. Lalu di dalam tentunya ada sensor kameranya. Ini adalah sensor full frame SOS 32,5 megap. Kameranya juga sudah mendukung sensor shift untuk mekanisme inbody image stabilizer. Ya, kalian kenalnya ebis kan ya. Nah, mirip dengan kamera Canon dengan fokus ke video yang dirilis belakangan ini, ada juga satu tombol movie record di sisi depan. Kalau mau bikin video selfie ini bisa membantu banget ya. Lalu tentunya ada ta light atau lampu indikator perekaman di bagian atas sisi depan. Posisi lampu ini juga membuatnya mudah terlihat dari sisi atas kamera. Lanjut ke sisi bawah. Ada satu lagi lubang mounting tripod yang posisinya itu senter ke poros lensa ya. Itu harusnya begitu ya. Ya pasti al ya. Aneh lah kalau enggak ada mountingnya di sini ya. Lalu di kanan ada penutup untuk tempat baterai. Nah, di dalam kompartmen baterai ada flap yang bisa dibuka kalau kita mau pakai DC Kler atau istilah populernya baterai Dami gitu ya. Jadi flap ini akan membuka jalur untuk kabel masuk ke Dami yang terpasang di dalam kameranya. Oh ya, di sisi bawah ini juga ada lubang intake untuk masuknya udara untuk sistem pendinginan kamera yang satu ini. Jadi, kurang lebih seperti itu ya desain dari si Canon EOS R6V. Nah, kalau kalian mau tahu spesifikasinya, nah silakan dibaca aja. Ini kalau dibacain bakal panjang banget ya. Kurang lebih seperti ini spesifikasinya. Silakan di-pause, discreenshot, bebas ya. Silakan. Ini spesifikasinya dari kamera yang satu ini. Kita lanjut lagi ke lensa yang kami gunakan. Kenapa? karena ini adalah sebuah lensa baru. Untuk pengujian kali ini kita pakai lensa Canon RF 2050 mm F4L ISM PZ. Hmm, buat yang tahu Canon pasti udah paham itu isinya apa. Tapi kalau belum tahu, pusing ya. RF itu berarti mountingnya mounting RF yang baru ya, 20 sampai 50 mm. Itu focal length-nya. F4L berarti bukannya 4 ya, F4.0 tapi dia lensa seri L. Nah, berarti yang seri luxury ya. IS berarti ada image stabilizernya. USM berarti dia pakai ultrasonic motor dan ini PZ power zoom ya. Ya, jadi ini memang lensa yang spesial ya. Di samping L ada switch autofokus atau manual fokus standar ini untuk ganti-ganti mode AF atau manual fokus ya. Lalu ada juga switch untuk image stabilizer mau aktif atau tidak aktif ya. IS-nya itu image stabilizer bukan yang di body ya, yang di lensanya ya. Lalu ada satu tombol di sini yang enggak ada tandanya. Fungsinya ini juga bisa diatur lewat menu pengaturan di kamera. Secara standar ini gunanya untuk autofokus stop ya. Nah, kemudian di paling bawah ada slider PZMZ. Ini untuk mengatur apakah kita mau mengaktifkan power Zoom atau tidak. Kalau kita mau pakai power zoom, tarik switch PZMZ yang di samping kamera lalu putar zoom ring ke posisi paling kiri ke area yang ada labelnya WT ya, white tele gitu ya. Nah, kalau kondisinya udah seperti ini, sudah W strip T gitu ya, kita bisa ngatur zoom dengan slider ke shutter atau kita juga bisa menggunakan zoom ring sedikit kiri atau ke kanan seperti ini. Nah, ini jadi fleksibel nih untuk video banget nih kan jadinya ya. Nah, selain zoom ring tentunya kamera juga punya focus ring yang posisinya ada di depan zoom ring. Sementara untuk yang paling depan itu adalah control ring yang fungsinya bisa kita atur juga. Kurang lebih bisa digunakan untuk sebagai dial ekstra untuk pengaturan parameter tertentu. Diameter lensa ini sekitar 79,9 mm dengan panjang 98,4 mm serta buah-buatnya di kisaran 420 gr. Untuk filter itu mountingnya ada di 67 mm. Oh ya, ada satu fitur yang sangat menarik sekali dari lensa yang satu ini. Ini kita mau putar-putar zoom-nya, fokusnya diputar-putar, lensa ini tidak akan memanjang dan memendek. Ya, kenapa seperti itu? Karena kalau buat kamera seperti ini kadang-kadang suka masih taruh di gimbal juga tuh. Jadi kalau dia manjang atau mendek itu bermasalah gimbalnya. Jadi lensa ini memang spesial banget untuk bikin video. Kesan pertama saat megang kamera ini adalah bodinya terasa seperti pegang kamera profesional. Jadi memang terasa agak besar seperti seri profesional ya, tapi bobotnya sebenarnya enggak terasa berat-berat amat. Ergonomi terasa nyaman dan solid. Area grip terasa pas di tangan. Tombol-tombol juga masih mudah untuk dijangkau. Nah, menurut kami bentuknya malah ngasih kestabilan ekstra saat kita lagi merekam pakai tangan saja. Misalnya saat pening atau gerakan mengorbit seperti lagi birol produk ya. Layar yang tersedia juga membuat kita mudah mengambil video dari berbagai angle bahkan mempermudah kita untuk merekam diri sendiri. Kamera ini juga bisa dipasang ke tripod dengan posisi vertikal. Jadi untuk kebutuhan konten sosial media atau live stream misalnya ini akan cocok. Kita akan bisa melihat diri kita sendiri dengan memutar layarnya. Oke, menu ini adalah PR pertama ketika kita menggunakan kamera yang satu ini. Kami merasa bahwa ini seperti menu lama Canon yang dijejali banyak sekali fitur baru. Efeknya menu yang tadinya memudahkan jadi terasa ramai banget isinya. Ini juga membuat beberapa pengaturan harus dipelajari ulang. Contohnya pengaturan basic video seperti resolusi dan frame rate dan format file. Kalau kita maerekam di 7K 60 fps, ini hanya tersedia dalam format raw light. Kalau kita hanya di mode raw biasa akan ada notifikasi kalau setting ini tidak bisa digunakan. Nah, untuk bisa mengakses 7K kita harus ganti format recording ke rawer dulu. Tapi di setting ini opsi 4K dan di bawahnya jadi hilang. Nah, yang jadi tantangan adalah ketika mencari fitur spesifik dan tidak muncul, kita harus tahu ini disebabkan karena setting yang mana. Kadang itu bukan karena kameranya enggak bisa ya, tapi memang settingnya aja yang belum nemu atau belum pas. Kameranya sendiri kadang tidak memberitahu secara spesifik apa penyebab sebuah fitur tidak bisa diakses. Tapi dari semua itu, kami mengapresiasi fungsi custom button-nya. Setiap tombol ada label nomornya. Jadi ketika kita memasang fungsi spesifik di sebuah tombol ini akan mempermudah untuk mengingat fungsi apa, di nomor berapa. Selain itu, tampilan menu pengaturan yang ada di layar dirancang supaya semua pengaturan ada dalam satu layar. Jadi kita enggak perlu banyak scrolling ke bawah untuk mencari menu-menu yang tidak terlihat. Dan ini sebenarnya mirip seperti R50V yang pernah kita review sebelumnya. Oke, karena nilai jual kamera ini adalah 7K-nya ya. Nah, kita coba kasih lihat sebelahan seperti apa beda kualitasnya. Yang kiri ini 4K 30 fps. Yang kanan adalah 7K 30 fps. Begitu kita k lebih jauh, kelihatan kan yang 7K ini ngasih detail lebih. Kita nyoba ini di format HFVC 4201 bit ya. Di sini juga tersedia setting chroma subsampling 422. Kalau butuh detail informasi lebih bisa pakai yang ini. Biasanya lebih akan terpakai kalau kita pakai green screen atau untuk color grinding yang lebih profesional lagi. Video 7K Open G 3 B 2 ini mengikuti ukuran sensor dan ini akan sangat berguna untuk kebutuhan framing ulang saat editing. Cocok digunakan otot tujuannya adalah satu video tapi butuh format 16 b 9 untuk video horizontal dan 9 b 16 untuk format video sosial media. Jadi enggak perlu dua kali syuting. Supaya kita bisa lihat komposisi vertikal ketika merekam horizontal. kita bisa ke syuting info display lalu pilih aspek markernya pilih yang 9 b 16 dan nanti kita dapat panduan untuk cropping vertikal. Nah, di mode video juga ada 4K U dan 4KD. Perbedaannya hanya pada aspek rasio. U itu 16 b 9, D itu 17 b. Kalau untuk 4K fine dan 4K standar ini lebih ke perbedaan mode pemrosesannya. Fine artinya over sampling. Gambar akan lebih tajam, warna lebih presisi dan minim noise. Tapi frame rate-nya maksimal di 60 fps. Nah, untuk 4K standar itu sub sampling. Pemprosesan lebih ringan frame rate bisa sampai 120 fps. Untuk mayoritas content creator kami akan lebih menyarankan pakai 4K standar aja sih sebenarnya ya. Jujur aja sekilas kami cek hasilnya perbedaannya mungkin enggak terlalu signifikan kalau di-upload ke sosial media ya. Kita tuh harus lihat di monitor besar banget dan mata harus di mode yang kritis banget baru kelihatan bedanya. Nah, untuk 4K fine mungkin lebih pas untuk filmmaker dengan standar visual super tinggi atau mungkin kalau kalian memang kontennya dirancang untuk ditonton di layar yang besar-besar banget. Oke, adanya dua slot memory card memungkinkan kita menggunakan setting main plus SA, record to multiple dan juga main plus proxy. Nah, main plus SAP adalah mirroring supaya video yang sama disimpan ke kedua storage yang kita pasang. Satu ke CF Express, satu ke SD card. Di mode ini resolusi video otomatis 7K untuk CF Express. backup pakai 4K define yang disimpan di SD card. Nah, kenapa backup-nya bukan 7K juga? Nah, ini karena keterbatasan dari SD card ya. Speed-nya memang belum sekencang yang di CF Express. Kalau kita merekamnya di 4K 60 atau di bawahnya kita bisa pakai record to multiple. Nanti kedua file akan punya format yang sama persis. Tujuan utama kedua fitur ini adalah redudansi atau keamanan data. Mode ini sangat krusial digunakan pada pekerjaan yang momennya tidak bisa diulang seperti dokumentasi pernikahan, acara live atau proyek komersial bernilai tinggi. File corap tuh sebagian besa penyebabnya adalah memory card. Jadi amit-amit salah satu kartu bermasalah masih ada backup-nya. Sedangkan main plus proxy ini lebih untuk mempermudah proses editing supaya jadi lebih ringan. Proxy ini artinya file pendampingnya ya. Jadi dalam satu kali merekam kita bisa ngerekam dua video. Di kartu yang A video utamanya yang 7K. Di kartu B video proxinya 1080p. jadi lebih ringan. Kalau editing video 7K RAW secara langsung itu bikin PC terlalu kerja keras tentunya ya. Nah, di software editing seperti Premiere Pro atau Da Vinci kita cukup masukkan file proxi yang ringan untuk memotong dan menyusun klip secara mulus. Saat video sudah selesai diedit dan siap diekspor, software secara otomatis memindahkan link ke file main yang 7K tadi. Hasil akhir eksportnya tetap memiliki kualitas yang tertinggi, tapi proses membuatnya enggak perlu berat. Nah, dari segi kualitas videonya sendiri jujur aja kalau cuma untuk video sosial media sih ini overkill banget ya. Projject video yang cocok untuk kamera level ini harusnya udah level iklan TV, film bioskop atau projek-projek yang nilainya memang tinggi. Tapi sejurnya dengan meningkatnya penonton di YouTube yang nontonnya pakai TV sekarang, mungkin bisa jadi kamera yang satu ini kalau di-etting di 4K, 4K, 4K60 akan jadi menarik juga ya. Kemudian karena ada kipas dalamnya, ini juga bisa cocok untuk live streamer profesional yang streamingnya itu bisa berjam-jam. Untuk mode yang lebih praktis bisa pakai port USBC-nya aja. Pastikan PC atau laptop kita support USB PD, colok kabel ke kamera, aktifkan mode UVC atau UAC di kamera, maka PC kita akan otomatis mendeteksi kamera ini sebagai webcam. Mode USB video class atau audio class ini bikin sumber gambar atau audionya itu langsung diambil dari kamera ini. Kalau live stream-nya di 1080p ini sudah mencukupi. Kalau mau 4K atau kualitas video yang lebih tinggi memang sebaiknya pakai HDMI dikombinasi dengan capture card. Nah, salah satu keunggulan lain dari Canon R6V ini ada di slow motion-nya. 4K 120 FPS no crop di dunia full frame merupakan kelebihan yang keren karena banyak kamera full frame lain yang harus ngakalin 4K 120 FPS ini dengan teknik cropping atau menggunakan sebagian dari sensornya saja. Efeknya gambar jadi nge-zoom nih ya, nge-crop ya dan kualitasnya turun. Kenapa banyaknya crop? Karena 4K 120 fps no crop full frame itu beban datanya sangat tinggi dan menghasilkan panas yang tinggi juga ya. Tapi di sini enggak perlu cropping karena kombinasi sensor dan prosesor memang dirancang khusus untuk itu. Satu contoh penggunaannya adalah slow motion di kondisi low light. Nah, ini sering kita temui di film-film layar lebar. Video jadi bisa lebih jernih, sudut pandang lebih lebar dan lebih bersih dari noise dibandingkan 4K 120 yang di crop. Nah, untuk kemampuan ISO sendiri kita cobain langsung di kondisi gelap ya. Menurut kami sampai ISO 12.800 pun gambar masih cukup bersih dan oke banget hasilnya. Tapi lebih dari itu noise-nya udah agak kentara di sini ya. Dan karena Canon R6V ini sudah punya dual native ISO, setting ISO idealnya itu ada dua. Ada di ISO 800 dan ada di 6400. Jadi di ISO 800 dan 6400 kita akan memperoleh kerapian noise yang maksimal. Contohnya di video ini yang satu kita pakai 3.200 nih. Yang satu lagi kita pakai ISO 6400. Kelihatan ya noise-nya tuh lebih bagus di 64.400 ya. Tapi ini bukan berarti e noise kalau jauh banget di bawah di ISO 200 dalam kondisi terang itu akan jadi noisy ya. Enggak tetap rapi kok ya. Base ISO tinggi di 800 dan 6400 itu akan mempermudah untuk shooting dengan lock karena umumnya lock ini butuh setting dengan tingkat berat yang lebih tinggi atau histogramnya akan dibuat lebih condong ke kanan gitu ya agar prosesingnya lebih mudah dilakukan nantinya. Oke untuk audio kami merasa sebenarnya sudah cukup baik ya. Sayangnya tidak ada windsreen di sini meskipun dalamnya ada kipas. Saat kami coba suara noise dari kipasnya tuh sama sekali tidak mengganggu meskipun dalam ruangan ternyata. Oke, sekarang kita coba gimana kualitas mikrofon bawaan Canon EOS R6V ini. Nah, audio yang kalian saat ini itu direkam menggunakan mikrofon bawaannya aja ya. Jadi, di sini saya menggunakan mikrofon eksternal apapun. Dan untuk kualitas audionya kurang lebih seperti ini. Gimana? Apakah suara saya terdengar dengan jelas? Apakah ada suara-suara lain yang tidak diinginkan yang terdengar juga? Nah, gimana menurut kalian? Coba dimulai. Satu-satunya situasi yang membuat suara noise kipasnya ini bisa masuk ke mikrofon cuma saat kami menggunakannya di studio podcast kami yang kedap suara itu pun kecil sekali. Kalau di outdoor sih jelas enggak kedengaran. Tapi kalau bicara audio, terutama untuk creator yang sudah mampu beli kamera seperti ini, masa sih cuma ngandilin mic bawaan? Paling aman memang pasang mic dari Canon atau pakai mic wireless third party dengan manfaatkan port mic 3,5 mm? Ya, sayangnya Canon belum membuat isoris mic wireless ya di sini ya. Bisa kali Canon. Oke, buat yang super serius untuk urusan video kameranya juga bisa serius banget. Di sini kita bisa merekam dalam bentuk lock dan bahkan raw ibarat bahan masakan ya. Lock itu adonan setengah jadi dan raw itu yang murni bahan mentah. Nah, di lock maupun raw kita akan bisa memperoleh kontras yang super rendah dan [berdehem] saturasi warnanya rendah juga. Tapi ini tujuannya supaya nantinya mudah diwarnai belakangan sama editor. Jangan kalian nge-esoot di lock terus langsung dijadiin MP4 terus langsung main pakai gitu aja ya. Aneh jadinya memang ya. Oke, mari kita bahas lock-nya dulu ya. Canon itu punya Canon lock atau biasa disebut lock ya. Di sini ada Silock 2 dan ada Silock 3. Silock 2 itu punya dynamic range paling luas di 15 stop. Gambar hasilnya tuh jadi super flat atau datar banget dan noise-nya tuh lebih mentah di bagian shadow ya. Ini dirancang buat produksi yang besar yang memang niatnya color gading kelas berat diprospasian oleh coloris profesional. Nah, silock 3 dan rnya itu sedikit lebih sempit tapi shadow-nya lebih bersih dan lebih gampang e serta cepat untuk grindingnya karena memang lebih dekat dengan hasil jadi. Biar lebih jelas kita kasih lihat nih side by side ya. Nah, silok terlihat lebih minim warna dan kalau kita zoom ke bagian gelapnya memang terlihat lebih noisy. Tapi informasi area gelapnya memang lebih banyak dibandingkan si lock 3. Jadi meskipun sama-sama bahannya masih agak mentah, silo lock 2 itu lebih mentah dan silock 3 itu sudah sedikit diproses oleh Canon. Pilih silog dua kalau butuh kualitas gambar maksimal dan fleksibilitas editing yang lebih tinggi. Ya, pilih silock 3 kalau butuh color grading yang ringan dan kondisi workflow-nya memang butuh kecepatan yang tinggi. Kalau dibandingkan dengan raw, lock ini file-nya lebih ringan dan tidak butuh software spesial untuk ngolahnya. Media player dan editor yang umum juga bisa digunakan untuk memutar videonya. Untuk RAW ini lebih cocok untuk produksi film skala profesional ya atau ketika kondisi penjasi syuting itu sangat tidak menentu. Misalnya warna lampu panggung itu berubah-rubah secara drastis. Jadi editornya punya fleksibilitas yang maksimal juga untuk ngolah videonya. Size videonya juga sangat besar. 7K30 untuk RAW itu sekitar 18 GB per menit. Sebagai perbandingan kalau kita pakai langsung MP4 aja ya, bukan lock juga ya, mode standar aja. Tapi di mode open gate yang sama-sama 7K30 file-nya itu cuma sekitar 3 GB per menit. File RAW ini punya format DCRM atau Canon Raw Movie. File ini tidak bisa dibuka dengan aplikasi media player biasa ya. Untuk segedar playback kita butuh instal aplikasi Canon Cinema Raw Development. ini bisa di-download di website resmi Canon untuk editor. Untungnya nih Devin Resolve dan Adobe Premiere Pro versi terbaru itu udah bisa langsung memproses file CRM ini. Dan jangan lupa ya untuk edit video file sebesar ini tentunya butuh PC yang super kencang. Intinya sih kamera yang satu ini udah siap banget kalau kita punya kebutuhan yang sampai ke kelas profesional banget sekalipun. Oke, sekarang kita bahas stabilizer. Ada tiga stabilizer yang bisa bekerja di sini. Yang pertama stabilizer dari lensa. Kemudian ada digital. Kalau ini software ya. Ini mirip seperti eis yang ada di smartphone dan ada ebis atau inbody image stabilizer. Ini spesialnya si R6V ini ya. Nah, ini adalah contoh video. Kalau stabilizernya pakai lensa dan digital is kita matikan. Jadi kita hanya mengandalkan IBIS-nya aja. Hasilnya memang masih agak goyang ya kalau di bawa jalan ya. Lalu ada contoh kalau stabilizer lensanya kita juga ikut nyalakan. Ini sudah lebih oke tapi masih bisa sih terasa guncangannya ya. Ini wajar juga sih. Nah, kalau kita aktifkan juga digital is-nya ini beda jauh ya hasilnya ya. Hasilnya jadi smooth banget saat dipakai jalan. Nah, ini yang perlu dipahami ya. Kalau digital ini kurang cocok untuk low light karena dia bisa menghasilkan jater. Ini yang terjadi di handphone juga biasanya ya. Dan digital is ini belum bisa bekerja untuk 7K. Tapi kalau enggak 7K dia aman bahkan sampai 4K 120 pun itu masih bisa ya. Tapi memang kadang-kadang orang tuh memang masih mencari yang tidak terlalu smooth ya. Karena memang efek guncangannya itu yang dicari. ini profesional banget si ya. Tapi enggak mau terlalu banyak guncangan yang ee apa ya mengganggu banget. Nah, itu gunanya ada Ibis di situ. Kemudian ada yang besar-besar dari lensanya juga. Kalau cuma ngerekam 7K pegang pakai tangan tanpa jalan sih sebetulnya ya digital-nya matiin aja sih sebetulnya enggak perlu juga ya. Tapi ada catatan di sini, kalau misalnya kalian sudah mau pakai gimbal dengan kamera yang satu ini ya, digital sebaiknya memang dimatikan karena digital IS-nya harusnya sudah kenal dengan stabilizer yang ada di lensa dan kenal dengan IBIS-nya sendiri, tapi dia enggak tahu gimbalnya mau ngapain. Jadi bisa aja terjadi salah kompensasi. Oke, sekarang kita bicara autofokus. Sepertinya enggak perlu diragukan lagi ya, responsnya udah luar biasa cepat dan akurat. Yang perlu dipelajari untuk content cator itu lebih ke arah setelan area fokusnya aja. Tapi tentu saja kalau kita pakai buat talking head ya kan si kameranya bisa di-etting untuk mengenali wajah jadi harusnya gak ada masalah. Dan kalau misalnya toh kita memprestasikan produk di sini ada autofocus for close up demo. Nah, jadi si kamera kalau dalam setting seperti ini akan memilih untuk fokus ke produk yang kita tampilkan di depan ya walaupun ada wajah kita di situ. Oke, lanjut lagi. Bagaimana kalau dipakai untuk memotret ya walaupun yang satu ini spesialis video tapi memang masih ada mode fotonya juga ya. Di bagian kiri atas kamera ada switch untuk mengubah mode foto atau video. Pastikan aja kita masuk ke mode foto kalau kita emang mau foto ya. Kita bisa pakai berbagai mode di roda mode yang ada di kanan ya. Dari manual, scene, P, atau A+ untuk mode auto. Kameranya tidak punya mechanical shutter ya. Ingat ya. Jadi kurang pas untuk fotografi olahraga atau foto objek yang bergerak super cepat karena berpotensi menghasilkan gambar yang terdistorsi di sini. Tapi kalau untuk foto pemandangan, foto produk, foto orang tanpa banyak gerakan, wah ini masih oke banget sih. Sensornya kan juga gede banget ya. Oke, sekarang kita lihat daya tahan baterainya. Untuk melihat daya tahan baterai yang digunakan kamera, kita mencoba merekam video 4K 30 fps AVC 8 bit nonstop. Ini untuk simulasi kalau misalnya kamera ini digunakan untuk merekam podcast ya. Masa kalian ngerekam podcast pakai silock. Hasilnya baterai itu habis setelah 1 jam 42 menit. ini dalam kondisi kipas sistem pendingin kamera itu diaktifkan terus-menerus. Secara umum udah keren banget ya. Masa podcast-nya mau lebih dari 1,5 jam kayaknya udah cukup banget sih sebetulnya. Kalau misalnya kita pakai setting yang lebih rendah misalnya pakai resolusi rendah harusnya daya tahannya bisa lebih lama lagi. Sementara kalau merekam video di setting yang lebih tinggi baterainya harusnya memang terpakai akan lebih cepat. Oke, pasti kalian bertanya-tanya bagaimana dengan suhunya ya. Nah, saat dipakai tes baterai tadi bagaimana suhu body kamera ini? Apakah jadi panas? Kita coba cek dengan thermal kamera. Suhu ternyata cukup terjaga di kisaran 36 sampai 38 derajat Celcius. Tapi catatannya ini suhu ruangannya dijaga sekitar 25 derajat celcius. Jadi memang suhu ruangan podcast ya. Ya, janganlah ruangan podcast kalian yang disuhu panas-panas amat. Nah, sistem dengan kamera ini terlihat bisa menjaga suhu kamera dengan baik untuk perekaman video 4K 30 AVC 8 bit. Menariknya saat kami coba lanjut merekam sampai 3 jam nonstop dengan bantuan DCler dan USB adaptor, suhu body masih terjaga di kisaran yang sama, 36 sampai 38 derajus aja. cuman anget-anget doang ya. Nah, kalau kipas sudah diaktifkan bagaimana? Nah, di sini suhu bodinya bisa mencapai 42 derajus. Udah mulai terasa sedikit panas. Bagaimana kalau kita pakai settingan lebih ekstrem? Nah, kita coba untuk merekam video dengan setting open gate 7K 30 fps HFVC 10 bit. Limit suhunya kita atur ke high di sini ya. Tanpa kipas perekaman video akan berhenti di kisaran 50 menit dengan suhu body kamera itu bisa mencapai 48 ke 50 derajat Celcius. Ini berhenti otomatis karena kamera kepanasan. Sementara saat kipas dihidupkan, perekaman video berhenti setelah sekitar 1 jam. Bukan karena kepanasan karena baterainya habis. Untuk suhu body kamera itu masih terjaga di 35 sampai 38 derajat celcius. Cukup jauh ya beda suhunya ya. Tapi bagaimana kalau kamera digunakan di luar ruangan di kondisi yang cukup panas? Mari kita coba. Dan kali ini nyoba di kondisi yang lumayan panas ya 38 derajat celcius. Ini kayaknya orang yang komplain nih. Bentar lagi nih. Kita coba tanpa kipas lagi-lagi dengan merekam video dengan setting open gate 7K 30 ya. Kondisi terburuk yang bisa dialami oleh dia ya. Kamera berhenti merekam setelah sekitar 23 menit saja dengan suhu body bisa mencapai 68 derajat Celcius. Panas. Tapi memang suhunya panas banget sih ya. Nah, kalau kipas aktif, kamera bisa terus merekam sampai baterai habis di kisaran 58 menit. Suh bodinya ada kisaran 48 sampai 52 derajus. Sudah terbilang panas, tapi masih jauh sekali di bawah kondisi kalau misalnya kita tidak aktifkan kipas bawaannya. Rasanya ya suhu udara yang 38 derajus ini sudah cukup menggambarkan kalau sistem pendingin di kamera ini memang bisa menjaga suhu kamera saat digunakan bahkan di setting perekaman video yang cukup ekstrem sekalipun. Kalau kalian mau coba di bawah suhu 42 derajat Celcius kayaknya sih orangnya pasti udah protes deh. 38 aja tim kita udah protes sebetulnya. Oke, sekarang kita coba untuk chargingnya. Kita coba juga isi ulang baterai kameranya dari kosong sampai penuh. Kalau charging baterai di charger LCE6E baterai itu akan penuh dalam 2 jam 45 menit. Nah, sekarang kita coba juga charging baterai di dalam kamera dengan pasang charger USB di 65 watt dan hasilnya baterai terisi penuh setelah 2 jam 51 menit. Kurang lebih mirip ya dengan charger maupun pakai USB aja langsung di body. Pertanyaannya apakah kalau kita colok charger USB PD kamera bisa digunakan? Bisa, tapi saat digunakan baterainya tidak dicharge. Saat kami coba merekam video 7K30 open gate dalam kondisi baterai hampir habis ini aman aja ternyata ya. perekaman sama sekali tidak terganggu karena daya untuk menghidupkan kamera langsung diambil dari charger USB PD tadi. Nah, bagaimana kalau kita pakai powerbank? Nah, selama powerbank yang digunakan emang support USBD dengan daya sampai 65 watt ini juga aman. Bahkan saat dicoba merekam video 7K 30 fps open gate aman juga enggak ada masalah, enggak tekor juga ya. Sisa baterai kamera sebelum merekam video itu ada di 14%. Sengaja nih kita biarin kecil ya. Dan setelah selesai merekam selama setengah jam itu juga masih di angka yang sama karena daya itu langsung dipasok dari power bank-nya. Tapi perhatikan ya, kalau mau pakai charger USBPD atau power bank untuk penggunaan kamera ini, baterai tetap harus terpasang dalam kamera. Oke, untuk harga resminya, harga resmi dari Canon EOS R6V ini body only sekitar Rp40 jutaan. Kalau dengan lensa yang 2050 mm tadi sekitar Rp60 jutaan. Kalau lensanya aja yang 2050 tadi itu sekitar Rp26 juta. Harga ini sebenarnya terasa murah ya, karena kalau kita melihat bahwa dua kamera lain yang pakai sensor sama ya, yang lainnya ya, yang dari Canon juga itu harganya lebih tinggi. EOS R6 Mark 3 body only itu udah sekitar Rp48 jutaan. Sementara Canon C50 ada di kesaran Rp52 jutaan. Oke, kita masuk dalam hal yang perlu diperhatikan. Pertama, ini adalah kamera yang tidak ringan dan tidak kecil sebetulnya ya. Tapi ergonomi dan bobotnya itu membuatnya terasa solid sekali seperti kamera profesional. Enak banget handlingnya. Desain tombolnya juga rame. Ini perlu dipelajari sih sebetulnya. Menunya masih pakai tipe lama. Bisa agak membingungkan karena banyaknya fitur yang dijeakkan ke dalamnya ya. Lalu dia tidak punya EVF karena asumsinya mungkin untuk videografi itu pakai layar yang lebih besar pakai layar dia sendiri atau tambahin lagi layar monitor ya. Kemudian tidak ada mechanical shatter lagi-lagi karena arahnya ke video bukan ke foto. Jadi memang agak kurang cocok untuk fotografi profesional. Kemudian ada menu yang content creator banget di C50 bukan di sini. di C50 itu ada bnya konten rata banget ya yang belum ada di R6V sayangnya itu adalah merekam video format vertikal di satu card sembari merekam video format horizontal di card yang satunya lagi. Aduh harusnya ada di R6V juga nih ya. Kemudian ada beberapa persyaratan teknis untuk mencapai potensi maksimal kamera ini. Terutama untuk kalian yang baru banget pindah ke kamera spesial video ini. Pertama untuk kartu memoryi enggak cukup hanya pakai SD card. Kita harus punya CF Express type B. Ya, agak hati-hati, jangan salah beli karena CF Express tuh juga ada yang type E yang ukuran fisiknya berbeda. Kedua, perhatikan kapasitas storage-nya yang dibutuhkan. Terutama kalau mau settingannya mentok ya, settingannya yang mantap banget ya. Diingat aja, 7K open gate aja itu bisa 3 GB/ menit. Kalau 7K RAW itu 18 GB/ menit. Ya, ini angka yang wajar untuk kualitas video seperti ini ya. Jadi, pastikan storage-nya sesuai dengan level project kalian. Ketiga, kalau butuh baterai cadangan saat ini lebih sarankan pakai baterai original Canon yang spesifik tipenya itu adalah LPE6P. Kenapa? Karena ini adalah baterai baru ya. Walaupun konektor dan bentuknya sama seperti LPE6 sebelumnya, ada beapa keterbatasan ketika pakai versi yang lama. Contohnya, video itu enggak bisa pakai yang resolusi dan bit rate-nya yang maksimal atau dia tidak mendukung pengisian daya via USB type C kalau kita pakai LP E6 generasi yang awal. Dari si kelebihannya, nah pertama ada Ibis 7,5 stop di body dan jadi 8,5 stop kalau dipadukan dengan lensa RF yang punya IS. Ini tergolong super stabil untuk kamera dengan sensor full frame. Lalu punya kipas pendingin dengan beragam opsi setting. Ini membuat perekaman sampai 7 row pun bisa dijaga cukup lama ya. Lalu ada tripod mount vertical. Sepertinya ini akan jadi ciri khas untuk seri khusus video ya. Enggak usah nambah-nambah bracket lagi jadinya di sini. Lalu menu bisa vertikal. Ini kekinian sekali untuk penggunaan eksklusif vertikal. Lalu ada banyak sekali tombol yang bisa di-custom function-nya. Lalu kemudian [mendengus] dia punya dua slot memori. Baterainya udah besar sekarang ya. Sensornya nah ini sama dengan C50 dan R6 Mark 3 support 7K open gate raw. Seingatnya inilah sensor berkualitas tinggi kalau bukan yang tertinggi yang ditawarkan oleh Canon saat ini untuk kebutuhan perekaman video ya. Full frame pula nih. Lalu dia punya autofocus for close up demo. Ini mudah syuting sendirian nih ya jadinya ya. Lalu dia punya dual base ISO di 800 dan 6400. ini membuat kita tetap bisa memperoleh hasil rendah noise di ISO yang tinggi. Kompatibilitas dengan lensa seri IF juga mesti diperhatikan di sini ya. Dengan pakai adapter khusus kita bisa pakai lensa-lensa seri IF yang udah lama ya. Lensa ini udah banyak sekali beredar bahkan third parttinya udah banyak banget ya. Kemudian ada color science khas Canon yang kalau kita mau buru-buru enggak banyak perlu waktu untuk ngedit-ngedit warna lagi sebetulnya. Lalu fitur-fitur pro untuk videonya udah sangat-sangat lengkap dan meskipun terancam untuk video tapi kameranya masih punya kemampuan fotografi. Ini agak beda dengan C50 ya. ya. Jadi, Canon EOS R6V ini bukan kamera yang bisa dibilang murah ya. Dengan kisaran harganya gini pasti banyak yang bilang mahal. Nih lucunya kalau kita lihat fitur utamanya 7K Open Gate RAW IB dengan kipas internal ini adalah kamera paling murah yang memiliki semuanya itu. [tertawa] Fokusnya ada di videografi tapi terlihat dia ditujukkan ke arah content creator yang ingin naik ke kelas level yang atas ya. Tapi dia juga memiliki fitur-fitur yang membuatnya bisa diadakan oleh videografer kelas profesional. Iya. Kemampuan sensornya kan sama dengan C50 membuatnya bisa dimanfaatkan untuk sebagian kondisi perekaman kelas cinema. Bahkan kalau sebuah film membutuhkan kestabilan Ibis saat perekamannya mungkin bergerak dinamis bukan tidak mungkin sebuah R6V akan jadi incaran tim produksinya. Pada akhirnya kamera ini adalah kamera yang sangat unik di jajaran kamera kanan. Cocok buat kreator yang mau menaikkan kualitas videonya ke level atas dan untuk kebutuhan profesional yang mencari kamera berkelas dan punya inbody stabilizer. Jadi konten kertor yang serius, kameraman profesional, solo filmmaker dan para agensi yang kerjanya berusahan dengan konten akan sangat cocok menggunakan R6V ini. Dan kalau kalian adalah hobi atau entusias yang suka bereksperimen dengan perkaman video yang berkelas harusnya cocok juga. Anyway, good job Canon. jajaran kamera khusus videonya jadi makin lengkap aja nih dari seri V10 yang casual, V1 yang ringkas tak bisa dijak serius ya kita serius banget kita pakai buat podcast V1-nya ya. R50V yang terjangkau tapi bisa ganti-ganti lensa sampai ada R6V yang full frame yang super serius itu semua tersedia. Kurang serius langsung aja pindah ke seri sinemanya. Tapi untuk sekarang kamera ini buat saya berpikir hmm Jagat pindah ke 4K enggak ya?
