Kencang dan Serba Bisa - Gaming OK, Bikin Konten Juga OK: Review Monitor 4K Acer Nitro XV275K (YouTube Video)
Monitor 4K yang satu ini punya refresh rate sampai 320 Hz dengan dynamic frequency resolution cocok buat main game bahkan sampai game kompetitif. Bike light-nya pakai 1152 zone mini LED. Dia menawarkan tampilan ala OLED padahal ini pakai panel IPS. Color gambutnya disebut sampai 95% di CP3. Delta E diklaim di bawah dua. Menandakan kalau akurasi warnanya mantap yang satu ini ya. membuat monitor ini juga harusnya cocok untuk nonton dan ngedit foto atau video. Benar-benar serba bisa. Konektivitasnya juga melimpah dengan input HDMI, display port, serta USB type C dengan DP alt mode. Bahkan ini juga mendukung USB power delivery lewat USBC sampai 90 watt. Menariknya, monitor ini dilindungi dengan garansi resmi Acer accidental damage protection untuk 1 tahun pertama ya untuk monitor ya. Ini adalah Acer Nitro XV275K. Oke, Acer Nitro XV275K monitor 27 inci ini baru saja dihadirkan resmi oleh Acer ke Indonesia. Monitor ini dipastikan di bawah Predator ya. Jadi harusnya harganya lebih terjangkau. Walaupun demikian, Acer tetap menyertakan banyak fitur dalam monitor satu ini. Oke, kita langsung mulai aja dari paket penjualannya. Di dalamnya tentu ada unit monitor, ada adjustable stand, ada adaptor daya, ada kabel AC, input untuk adaptor daya, kabel HDMI, kabel USB C2C, dan ada paket dokumen. Nah, untuk desain monitor ini hadir dengan body dan stand berwarna hitam polos. Ini menghadirkan kesan minimalis tapi tetap modern. Basel untuk sisi kiri, atas, dan kanan masih terbilang cukup tipis. Sementara di bawah ya tentu lebih tebal. Ada logo Acer di tengah bezel bawah layar. Sementara di area kanan ada satu lampu indikator. Di bagian dasarnya ada jajaran tombol pengendalian di area kanan. Total ada lima tombol di sini. Sementara untuk sisi belakang di tengah ada area mounting ke stan. Ini sekaligus jadi tempat untuk Vesa mount dengan ukuran 75 * 75. Di atas area mounting ada ornamen lengkungan seperti ini nih. Nah, ini adalah tempat untuk ambient light atau sistem RGB lighting yang ada di monitor yang satu ini. Sementara di bawah area mounting ada area konektor IO yang menjorok ke dalam seperti ini. Semua konektor di sini menghadap ke bawah. Untuk konektor IO di sini ada 1 dc in, 1 USB 3.0 type B untuk USB hub, lalu ada 2 USB 3.0 type A yang besar itu ya. Lalu ada satu USB type C. Ini mendukung USB power delivery hingga 90 watt dan DP alt mode. Jadi USB type C ini bisa berfungsi seperti kalau kita pakai display port. Kemudian tentunya ada juga satu display port 1.2, ada 2 HDMI 2.1 dan ada satu audio jack 3,5 mm. Nah, Acer menyediakan cover untuk area konektor ini yang bisa membantu juga untuk merapikan kabel-kabelnya, ya. Nah, sekarang kita balik ke stand. Desainnya seperti ini, ya. Ini merupakan adjustable stand dengan pengaturan ketinggian dengan terentang 15 cm. Dia bisa menunduk 5 derajat dan menengadah 15 derajat. Dia bisa menoleh atau swiivel kanan kiri 25 derajat. Dia bisa diputar pivot ke kiri kanan 90 derajat. Ada klip khusus untuk membantu merapikan kabel di sisi belakang leher stan ini. Sementara di atas stand itu ada ulir untuk masang mounting adapter. Ini seharusnya bisa untuk webcam, lampu, mikrofon, dan beberapa perlengkapan lainnya. Untuk dimensi monitor tanpa stand, 35,9 * 7,93 cm. Sementara dengan stand lebarnya tetap 61,3 cm, kedalamannya 26,7 cm, dan tingginya antara 43,5 cm sampai 58,5 cm. Jarak dasar monitor dengan meja antara 7,6 cm sampai paling tinggi bisa mencapai 22,6 cm. Nah, total babat monitor beserta stannya itu ada di kisaran 6,7 kg. Nah, sekarang kita bahas spesifikasi monitor ini ya. Diaal layarnya 27 inci, rasionalya 1699 flat dengan permukaan antiglare. Lalu ini adalah panel IPS. Dia miliki backlight mini LED dengan 1152 zone. Wah, ini rapat juga ya. Resolusinya 4K atau 3840 * 2160 pikel. Response time-nya 1 m gray to gray. Refresh rate-nya mendukung DFR atau dynamic frequency resolution up to 320 Hz di 1920 * 1080 piksel atau up to 160 Hz kalau dia pakai resolusi 4K atau 3840 * 2160 piksel. Brightness-nya itu pick brightnessnya ada di 1000 nits ya. Nah, untuk R covers-nya dijanjikan 95% di CP3 dan 99% Adobe RGB. Nah, untuk bit dep-nya dia 10 bit dengan liter angle 178 derajat horizontal vertikal ya. Adaptive sink itu mendukung AMD free premium dan VRR juga. Sertifikasinya adalah Vesa Display HDR 1000. Untuk fitur gaming ada Aim point, ada timer, ada frame rate number view, ada HDMI black level dan lain-lain. Untuk fitur-fitor lain ada KVM, ada display stream compression, ada USB power delivery, ada power USB PD dan lain-lain. Nah, di sini memang tidak ada fitur picture in picture dan picture by picture ya, tapi ini masih bisa dimati mengingat layarnya 27 inci. Jadi memang harusnya belum cukup besar untuk VIP atau PBP dengan nyaman. Nah, sebelum monitor ini kita bisa gunakan tentu saja kita harus pasang ke stannya terlebih dahulu atau bisa juga pakai bracket lewat Vesa mount-nya. Kalau pakai stun ini terbilang mudah ya pemasangannya. Cukup pasang leher stand ke kaki stand lalu kencangkan baut penguncinya. Setelah itu pasang stand ke area mounting di belakang monitor dan tempatkan monitor di posisi yang diinginkan. Kita bisa dengan mudah menyelesaikan posisi layar dengan adjustable stand ini. Lalu pasang kabel dari adapter daya dan kabel input. Nah, monitor ini langsung siap untuk digunakan. Oke, kita coba monitor ini dengan HDMI 2.1 DP dan USBC dengan DP alt. Dan ketiga input tersebut, monitor ini bisa berjalan di resolusi penuh 380 * 2160 piksel dengan refreshnya sampai 160 Hz. Kalau dengan HDMI versi yang lebih lama ya tentunya kita belum bisa mendapatkan 4K 160. Nah, saat kami coba aktifkan HDR, monitor ini masih tetap bisa berjalan di 4K 160 Hz dan layar ini terdaksi memiliki kedalaman 10 bit. Ini berarti monitor bisa menampilkan 1,07 miliar warna. Sebentar. Kok cuma sampai 160 Hz? Kan katanya bisa 320 Hz. Nah, 320 Hz itu didapatkan dengan fitur DFR. Jadi saat aktif DFR ini membatasi resolusi maksimal hanya 1920 * 1080 piksel. Tapi refresh rate-nya akan naik sampai maksimum ke 320 Hz seperti ini ya. Ini akan berbeda ya dengan menurunkan resolusi ke-19 * 1080 piksel saat DFR-nya ini tidak diaktifkan. Sayangnya saat mengubah setting DFR ini, kami beberapa kali mendapatkan monitor tiba-tiba tidak bisa mendeteksi input tampilan dari PC yang kami gunakan. Ini memang tidak selalu terjadi, tapi pernah kami alami saat menggunakan desktop dan beberapa laptop yang berbeda. Input baru terdeteksi lagi setelah PC-nya kami restart. Oke, lanjut lagi. Kalau kita pakai USBC dengan DP alt, kita juga bisa mengakses fungsi KVM yang ada di monitor ini. Jadi, cukup satu kabel saja kita bisa dapatkan koneksi display ke monitor serta keyboard dan mouse juga. Ini berlaku kalau keyboard dan mouse itu kita pasangkan ke port USB di monitor. Nah, kalau USBC-nya kita hubungkan ke laptop, kita juga bisa memasuk daya ke laptop dari monitor ini selama daya yang dibutuhkan memang di bawah 90 watt. Jadi memang belum begitu cocok untuk laptop gaming ya. Nah, untuk adaptive sy monitor ini dikenali sebagai Gsyc compatible di dalam sistem yang kami gunakan. Picture mode di monitor ini bisa diakses dari menu color. Selain mode standar graphics dan HDR, Acer juga menyedakan beberapa preset yang cocok untuk game dengan generate tertentu seperti sports, action, dan racing. Ada juga pilihan color space ini untuk lebih menyelesaikan warna di picture mode yang dipilih dengan color space tertentu seperti sRGB, R09, DCI dan sebagainya. Secara standar ESR mengatur opsi ini ke general yang berarti warna akan dilepas yang menghasilkan saturasi yang sangat tinggi. Nah, bagaimana dengan kelar gambut yang ditawarkan? Acer menjan kelar gamut 95% di CP3 dan 99% Adobe RGB. Saat kami uji janji tersebut ternyata bisa ditepati setidaknya kalau melihat gamut coverage di mode standar. Motor ini memang ternyata bisa menawarkan 95% di CP3 dan 99% Adobe RGB. Tapi untuk gamut volume ini cukup jauh di atas referensi 100% untuk masing-masing color space. Ini membuat tampilan warna di motor ini cenderung punya saturasi yang tinggi. Walaupun untungnya ini bukan yang terlalu tinggi sampai terkesan overaturated. Nah, bagaimana kalau kita atur color space? Saat kita coba atur ke sRGB masih di mode standar ya. Gambut coverage dan gambut volume turun ke kisaran 90% sb dan 65% dc IP3. SRGB ini membuat saturasi warna jadi tidak setinggi di kondisi standar. Memang ini belum benar-benar dekat dengan 100% sRGB, tapi setidaknya mode ini sudah bisa digunakan kalau mau cuning warna saat edit foto atau video. Ini lebih aman ya daripada tuning warna dengan monitor kita ada di saturasi yang warnanya tinggi banget. Lalu hasil tuning kita ternyata malah kurang warna saat dilihat di monitor lain. Jadi opsinya untuk tuning warna lengkap. Mau dalam kondisi yang warnanya dalam sekali atau mau yang dibatasi supaya device-device lain tetap merasa nyaman melihat warna hasil tuningan kita. Bisa bisa diatur aja dari monitor ini ya. Nah, saat mencoba mode lain seperti graphic, karakter color gamut yang ditawarkan ternyata masih mirip dengan mode standar. Exer juga menyediakan mode user di mana kita bebas melakukan tuning tampilan sesuai dengan keinginan kita. Oke, sekarang bagaimana dengan brightness layer? Saat diuji di mode non HDR, brightness layer ada di kisaran 210 nits sampai 350 nit tergantung mode apa yang aktif. Nah, kalau bicara soal kontras, Acer mengklaim itu ada di kisaran 1000 bing 1. Memang ini bukan yang superuper tinggi ya. Dan ingat ini pakai panel IPS, jadi tidak mungkin bisa seperti panel OLED. Tapi rasio ini harusnya sudah terasa mencukupi. Oke, sekarang bagaimana kalau di HDR? Saat HDR kami aktifkan di Windows 11, tampilan di motor ini tiba-tiba jadi terlihat wash out. Agak sulit dilihat. Ini disebabkan karena monitor tidak secara otomatis beralih ke mode HDR. Jadi kita harus masuk ke mode HDR secara manual. Nah, tampilan baru terlihat normal lagi. Sekarang di mode HDR saat kami coba ukur brightness layar ini benar-benar bisa mencapai 1000 nits sesuai dengan janji Acer dan sertifikasi Vesa display HDR 1000. Saat kami coba monar konten HDR ini memang memadai banget ya. sisi yang gelap bisa diangkat sehingga detail tampilan masih terlihat dengan jelas. Sementara bagian terang itu masih dijaga sampai tidak kehilangan detail di situ. Oke, terkait viewing angle ini terbilang baik di motor ini cukup sesuai dengan klaim 178 derajat. Tidak ada pergeseran warna, kontras, dan lain-lain yang terasa mengganggu di sini. Oke, bagaimana motor ini kalau digunakan untuk gaming? Kita coba untuk menggunakan pakai PC ya. Dan yang kita pakai untuk tes main game ini adalah gaming desktop dari Acer Predator Orion 5000. Untuk grafis card kita menggunakan Nvidia RTX 4090. Nah, buat main game TripleA ini terbilang mantap ya, terlebih kalau dipasangkan dengan PC yang mumpuni untuk gaming 4K di frame rate tinggi. Saturasi warnanya cukup tinggi tapi tidak berlebihan membuat game triple tampil prima banget di sini. Kalau enggak suka satu warna yang tinggi begini, tinggal ubah color space ke sRGB aja beres kan? Nah, input lag terbilang tidak terasa saat kita main game di 4K 160 Hz. Jadi nyaman sekali main game triple A. Tersedia dukungan ad sing juga membuat gaming jadi terasa lebih nyaman tanpa gangguan teering atau startering yang mengganggu. Mau main game dengan HDR bisa juga tentunya asal gameennya mendukung HDR. Sekarang kita beralih ke resolusi 1920* 1080 piksel dengan 320 Hz. Ini tentunya cocok untuk game-game kompetitif ya. Tampilan game jadi terasa mulus sekali di ref set yang tinggi ya. Tentunya ini bisa kalau PC yang digunakan itu sudah support gaming dengan frame rate yang tinggi banget. Respon time monitor ini memang bukannya super rendah tapi masih sangat memadailah untuk gaming kompetitif. baik itu game racing maupun shooter. Kalau butuh fit virtual cross hair di sini juga sudah tersedia disebut sebagai aim point di sini. Sementara kalau butuh black equalizer ada juga bisa dipakai kalau dibutuhkan selama kita tidak pakai mode HDR. Ya, secara umum monitoring menawarkan pengalaman gaming yang terbilang mumpuni banget untuk kelas harganya. Oke, sekarang kita lihat konsumsi dayanya. Monitor ini pakai mini LED, jadi konsumsi dayanya bisa bervariasi tergantung tampilan di layar. Saat kami coba, kami bisa mendapatkan konsumsi daya dari rentang sekitar 35 watt sampai mendekati 90 watt. Ini wajar mengingat monitor ini bisa menawarkan tingkat brightness yang tinggi. Tapi ingat itu monitor saja ya. Kalau kita pakai dengan laptop yang bisa dicharge dengan USBC dan fitur power delivery kita aktifkan, konsumsi daya akan bertambah sesuai dengan daya yang disalurkan lewat USBC juga. Dan tenang, walaupun sambil nge-charge laptop, monitor ini tidak akan kekurangan daya. Wajar dong kalau power brake-nya itu gede banget di sini. memang udah siap untuk segala kebutuhan yang disediakan oleh monitor ini. Oke, untuk harganya Esa menawarkan ini dengan harga kisaran Rp7.999.000. Seperti yang dibahas di awal tadi, monitor ini dilindungi dengan garansi 3 tahun yang mencakup panel, spare part, dan layanan. Dan ada juga 1 tahun Acercidental damage protection atau AADP, perlindungan ekstra terhadap kerusakan seperti kena cairan, jatuh enggak sengaja, gangguan listrik dan lain-lain sebagainya. Ini langka ya ada di sebuah monitor. Kalau di laptop banyak yang punya. Nah, sekarang kita masuk ke dalam hal yang perlu diperhatikan. Oke, saat kita pakai mode standar dengan car space general, gamut volume terbilang sangat tinggi. Ini membuat tampilan di layar punya saturasi yang tinggi dan ini bisa jadi menipu dalam tanda kutip kita ya saat melakukan tuning warna untuk foto atau video. Tapi tenang, pengaturannya kan ada banyak. Jadi kita style aja sesuai dengan kebutuhan kita. Nah, kemudian kalau mau pakai HDR, kita juga harus melakukan pengaturan manual mode di monitor ini. Kalau tidak kita akan mendapatkan tampilan yang kurang optimal. Kemudian pengubahan mode DFR itu terasa belum stabil, kadang bisa menyebabkan input tidak terdeteksi. Kemudian untuk sistem cable management itu hanya pakai klip di belakang leher stand. Ini belum bisa dibilang yang bisa membuat rapi banget lah gitu. Dan patut dicatat dari tadi kita tidak bahas soal speaker karena memang monitor ini tidak punya speaker terintegrasi. Kemudian pengadoran monitor ini sayangnya belum pakai joystick 5 arah ya yang rasanya lebih modern aja gitu. Lalu untuk sistem RGB lighting memang ada, tapi ini hanya di area kecil di sisi belakang monitor. Kemudian sebagai catatan ya, untuk merasakan kemampuan terbaik dari monitor ini, kita butuh PC, desktop atau laptop yang cukup kencang ya. Kalau mau nyampai 320 Hz terus laptopnya cuma laptop biasa-biasa aja, ya memang enggak bakal nyampai. Bukan berarti kita beli monitor yang 320 Hz, laptop apapun game-nya jadi 320 FPS ya enggak mungkin. Lanjut dari segi kelebihannya. Ini adalah monitor dengan layar 27 inci dengan kualitas tampilan yang terbilang baik banget ini ya. Keren banget. Refresh rate bisa sampai 160 di 4K dan 320 1080p. Nih ini rata-rata monitor 4K di kelas harga gini menawarkan refres rate hanya sampai 144 Hz. Lalu dia pakai mini LED membuat monitor ini bisa menawarkan brightness yang tinggi. Selain itu, local diming yang ditawarkan ini juga membantu mendapatkan kedalaman warna gelap yang lebih baik. Ini juga membuat konsumsi daya bisa naik turun ya, tergantung tampilan di layar. Jadi enggak konstan tinggi terus. Lalu ada opsi pengaturan color space yang membuat color gamut tampilan layar bisa dioptimalkan mendekati 100% referensi beberapa standar. Lalu adjustable stand ini membuat monitor ini mudah sekali diposisikan sesuai dengan kebutuhan kita. Bahkan kalau butuh pakai monitor yang di posisi vertikal bisa juga. Standnya juga terbilang kokoh dan stabil saat kita mengatur setting monitor dengan tombol di bagian dasar. Tidak terasa monitor bergoyang parah. Hanya sedikit saja. Menunjukkan bahwa stand ini stabil banget. Lalu ada cover untuk area IO. sedikit membantu saat kita butuh merapikan kabel-kabel yang terpasang. Kemudian dia ada support F sama 75 * 75 kalau dibutuhkan ya konektor juga melimpah ya 2 HDMI, satu display port dan d alt juga ada dan sudah support USB hub dengan dua port USB 3.0 type A dan tentunya ini juga bisa untuk KVM ya kalau kita pakai input USBC dengan DP alt-nya. Lalu fitur ekstranya adalah dia bisa mendukung USB power delivery sampai 90 watt. Adaptive sink juga tersedia di sini ya untuk dukan VRR AMD free premium dan juga bisa GC compatible. Dan karena ini bukan pakai panel OLED, jadi dia minim sekali resiko terjadi burn in yang bisa mengganggu tampilan layar dalam pemakaian jangka panjang dan garasinya juga panjang sampai 3 tahun plus ada 1 tahun Acerp. Oke, Acer Nitro XV275K ini memang disiapkan Aceritor gaming ya. Tapi monitor ini ternyata bisa menawarkan lebih dari sekedar gaming saja. Ini monitor yang serba bisa. Gaming oke, kerja kantoran oke, content creation oke, buat nonton oke banget. Motor ini juga akan cocok untuk yang mencari layar 4K yang mumpuni untuk berbagai kebutuhan dengan refreset yang tinggi tapi tidak perlu sampai yang super-super tinggi banget. Ukuran 27 inci ini juga akan pas untuk yang merasa 24 terlalu kecil tapi 32 agak kebesaran ya. Jadi secara umum Acer Nitro XV275K ini terbilang monitor yang mumpuni yang sangat layak dilirik untuk kelas harganya. Saya Did Irfan Jaga TV.
