Jungkat

Kencang di Kelasnya, Layar 120 Hz, Fitur Menarik! Smartphone dari Merek Indonesia! - Review Advan X1 (YouTube Video)

  • 05/06/2025

Ini adalah smartphone Advance. Iya, Advan, selamat datang kembali ya di dunia smartphone Indonesia ya, Advan ya. Ya, Advan ini akhirnya perkenalkan smartphone barunya di tahun 2025. Ini adalah Advan X1. Ini tuh harganya R1 jutaan, tapi speknya enggak main-main. SOC, Helio G, RAM 8 gig, storage 128 gig, layar full HD plus 120 Hz loh yang satu ini. Kalau HP berkenal kembalinya udah seru gini spek dan harganya, sepertinya Advan nih udah serius banget ya. Semoga ke depannya nanti Advan makin berani bersaing di pasar smartphone Indonesia dan hadirkan lagi smartphone-sartphone mereka yang lain yang lebih seru lagi tentunya. Tapi untuk sekarang mari kita review Advance X1 ini. Oke, Advan X1 akhirnya smartphone serius dari brand asli Indonesia. Ini adalah smartphone pertama yang diluncurkan Advance setelah beberapa tahun kurang terlihat dari dunia smartphone. Ya, kalau di tablet Android Advance memang masih terus merilis produk baru mereka dalam beberapa tahun belakangan nih. Termasuk ada Advance Tab V8 di awal tahun 2025. Nah, mendekati pertengahan tahun 2025 tiba-tiba muncul satu smartphone baru dari Advance. Kali ini kita akan bahas Advan X1 tentunya dari paket penjualannya. Nah, di dalamnya tentunya ada unit smartphone dengan screen protektor yang sudah langsung terpasang. Lalu ada charger 18 watt ya. Jadi ada chargernya, ada chargernya, ada chargernya nih ya. Nah, untuk kabelnya ada kabel USB A2C, lalu ada case, ada sim ejector, dan ada paket dokumen. Jadi walaupun harga terjangkau tapi paket penjualnya masih lengkap, isinya masih ada chargernya. Nah, untuk desain smartphone ini menggunakan desain serba flat yang memang umum digunakan di smartphone kelas terjangkau. Jadi, body belakang, frame, dan layar smartphone-nya itu flat semuanya. Bagian pertemuan antara layar dan frame itu dibuat sedikit membulat, jadi tidak menghasilkan sudut yang tajam. Nah, body belakang dan frame smartphone ini menggunakan bahan polikarbonat ya. Untuk body belakangnya di unit kami uji ini warnanya adalah yang white dengan motif seperti ini nih. Ini ya. Nah, selain yang satu ini ada juga opsi warna black atau hitam. Untuk dimensinya tinggi 168 mm, lebar 76 mm, dan ketebalan di 8 mm. Untuk bobotnya di kisaran 205 gr. Sekarang mari kita lihat ada apa saja di sekeliling body smartphone yang satu ini. Kita lihat di sisi kanan ini ada tombol power sekaligus fingerprint scanner dan volume up and down juga ada di sini. Lalu di atas ini ada mikrofon. Di kiri ada SIM tray non hybrid ya. Jadi bisa 2 nano SIM plus micro SD. Iya dong masih bisa micro SD di sini. Untuk sisi bawah ada audio jack 3,5 mm, ada mikrofon, ada USBC, dan ada speaker. Ya memang hanya ada satu speaker aja di smartphone ini, tapi wajarlah untuk smartphone di harga R1 jutaan. Untuk suaranya yang dihasilkan ini masih terbilang relatif rapi dan dominan di sektor mid. Masih terbilang pantas sekali untuk harganya. Untuk volume suara yang dihasilkan memang terbilang lantang ya. Tapi memang nih di setting volume tertinggi kualitas suara yang dihasilkan agak berkurang. Saran kami atur aja ke kisaran 80% maksimum. Ini sudah cukup lantang dan kualitas suaranya masih terjaga. Beralih ke sisi depan ini adalah layar 6,78 inci. Tidak ada keterangan terkait panel yang digunakan. Tapi sepertinya ini IPS atau paling enggak IPS level lah. Untuk resolusinya adalah full HD plus. Masih ingat harga dan SOC-nya? Oke, lanjut. Untuk refresh set-nya up to 120 Hz bisa turun ke 60 Hz setelah tidak ada aktivitas di layar selama beberapa saat. Untuk brightness saat kami coba ukur untuk penggunaan dalam ruangan, kita bisa mendapatkan sekitar 470 nit. Sementara untuk simulasi outdoor kita hanya dapat sedikit lebih tinggi di 480 nit. Untuk color gambutnya ada pilihan warna layar dengan opsi normal dan vivit. Tapi di kedua model tersebut, gamut coversnya sama-sama di 98,2% sRGB dengan gambut volume di dekat-dekat 120% sRGB. Masih cukup ok lah ini ya. Nah, untuk beza layar memang bukannya terbilang tipis, tapi ini masih terbilang wajar untuk smartphone di kelas harga yang terjangkau seperti ini. Untuk earpiece itu ada di bezel atas layar tapi ya seperti kita bahas tadi ini hanya earpiece saja. Nah, untuk kamera selfie-nya ini 8 megapel bukannya F2.0 fix focus. Kameranya ditempatkan di dalam punch hole ya. Y udah bukan notch ya. Perekaman videonya memang di sini hanya sampai 1080p 30 fps. Beralih ke sisi belakang ini adalah kamera utama 64 megap main kamera ini pakai Sony IMX 782. Wow. Bukaannya F1.8 autofokus. Perekaman videonya ada pilihan sampai 2K atau tepatnya 2560 * 1440 piksel. Tapi frame rate-nya memang cuma sampai 30 fps aja di semua pilihan resolusi. Lalu ada dua kamera yang ya enggak bisa disebutkan fungsinya, anggap aja bonus lah yang dua itu ya. Dan ada LED flash. Untuk fitur-fitur ada night mode, 64 megapel, portrait, beauty, docum correction, grupo, AI emoji, promote, pro, film, panorama, slow motion, dan lain-lain. Ya, kalau enggak salah lihat itu ada Proide di situ. Oke, untuk spesifikasi internalnya SOC-nya pakai Helio G100. Ini populer banget untuk smartphone di harga kisaran R jutaan, ya. Jadi kalian udah pahamlah untuk spesifikasi dari SOC ini. Tapi ini harganya R1 jutaan. HP-nya beda harganya ya, bukan R jutaan ini. Nah, untuk RAM-nya LPDDR 4X dan tentunya kalau pakai G100 storage-nya jadi pakai UFS 2.2. Nah, dia sudah support RAM expansion-nya sampai dengan plus 8 GB ya dan sudah support untuk micro SD seperti kita bahas tadi. Untuk baterai 5000 mAh dengan mendukung charging 18 watt. Sensor-sensor ada aserometer, ada orientation, ada ambient light sensor, proximity sensor, dan hardware gyo. Luar biasa ya, masih ada hardware loh di kelas harga segini. Untuk revivitas karena ini G100 tentunya 4G ya, 2G, 3G, 4G. Wi-nya WiFi 5, Bluetooth versi 5.2 dan sudah support audio Codex SBC, AAC, lduck juga ada di sini. Untuk NFC tentunya ada ya ada NFC-nya. USB OTG tentunya bisa tapi pakai standar USB 2.0 ya. Nah, untuk FM radio ada di sini untuk hiburan gratis tentunya kita harus pasang earphone berkabel ke smartphone ini kalau mau pakai FM radio. Nah, untuk sisi keamanannya dia punya fingerprint scanner dan face unlock. Untuk OS ini namanya Daido OS atau Dido OS dengan basis Android 14. belum ada janji terkait update Android yang akan tersedia untuk smartphone ini. Sejujurnya kami sebetulnya merasa enggak begitu masalah ya dengan penggunaan Android 14. Apalagi mengingat di tahun 2025 ini pengguna Android 14 itu adalah yang terbanyak di dunia sekitar 35% lebih loh. Sementara Android 15-nya itu masih di bawah 5%. Jadi harusnya semua aplikasi harusnya tetap kompatibel dengan Android 14 ini. Lanjut untuk fitur AI khusus tentunya belum ada di sini. Tapi kalau mau pakai Gemini atau Gemini atau fitur-fitur AI di Google Photos tentunya bisa banget. Nah, untuk aplikasi bawaan ini terbilang minim sekali ya, cenderung bersih yang satu ini. Nah, kalau bicara soal fature gesture ya, di sini ada flip to silent dan ada smart answer di mana kita bisa otomatis menerima panggilan dengan mendekatkan smartphone ke telinga kita. Oh ya, untuk double tap to wake up dan double tap to turn off screen itu tentunya tersedia. Oke, sekarang mari kita uji performanya. Untuk benchmark kita mulai dari Antutu 10 ya, kita dapat 399.515 tapi ini pakai 3D bench versi penuh. Ini bukan versi light. Jadi angkanya lumayan besar nih ya. Nah, untuk Geek Band 6 core 752 multiore di 2068. Untuk 3x sling shot Extreme Unlimited Open GL graphic scor-nya di 2414. Nah, untuk kestabilannya kita lihat 3D Mark Wildlife Stress Test Unlimited ya. Best score 1194 dengan lowest score di 1177. Jadi stability-nya ada di 98,6%. Bagus. Kemudian untuk JFX Bench Manhattan 3.1 1080p offsreen dia dapat 26 fps. Oke, kita lanjut untuk gaming. Kita mulai dari subway server dulu. Nah, ternyata game ini bisa jalan lancar di 120 Hz ya. Jadi kita bisa main game ini dengan nyaman dengan frame rate mendekati 120 fps. Masih ingat kan layarnya 120 Hz yang satu ini. Lanjut untuk PUBG Mobile. Sayangnya di kualitas smooth setting frame rate terbuka itu cuma sampai ultra atau 40 fps aja. Jadi terbilang ratalah hasilnya dengan 40 FPS ya. Nah, kalau GO aing-nya gimana? Bisa. Ini kan pakai hardware base gyo. Jadi terbilang lancar nih gyro aing-nya mulus, responsif, dan akurasinya juga bagus. Lanjut ke Mobile Legends. Kita coba game ini dengan setting high, shadow on, dan frame rate di super atau 90 fps. Di awal kita masih bisa mendapatkan frame rate dekat sekali dengan 90 fps, tapi mendekati 10 menit atau di akhir match frame rate itu akan banyak ada di kisaran 65 sampai 75 fps. Ya, tetap aja masih cukup nyaman ya, masih di atas 60 juga. Nah, saat main Mobile Legends ini kami mendapati kalau smartphone ini akan tetap otomatis menurunkan refreshet layar ke 60 Hz saat tidak ada input dari jari kita di layar selama beberapa detik. Nah, jadi saat teleport kembali ke markas dan saat menunggu karakter respon kami beberapa kali mendapati frame rate-nya turun ke 60 fps. Tapi tentunya ini tidak mengganggu kenyamanan sih. Lanjut ke Gensin Impact. Langsung aja kita coba tanpa kipas dengan setting lowest 60 fps. Di awal kita mendapatkan frame rate kisaran 45 fps, tapi setelah 2 sampai 3 menit frame rate perlahan turun dan stabil di kisaran 30 sampai 35 fps. Kalau ada battle frame rate kadang-kadang masih bisa turun sedikit di bawah 30 fps. Nah, mendekati 10 menit frame rate mulai banyak turun ke 28 sampai 30 fps. Jadi mulai terasa kurang nyaman. Karena itu setelah 15 menit kami memutuskan untuk tidak melanjutkan tes ini sampai setengah jam. Dan kami menemukan bahwa rata-rata frame rate selama 15 menit awal adalah 32 fps. Nah, kalau harus kita kasih ranking, pengujian tanpa kipas ini harusnya C-US ya. Su permukaan layar setelah sekitar 15 menit ada di kisaran 39 sampai 40 derajat Celcius. Sisi belakang itu suara terpanas juga ada di kisaran yang sama ternyata. Oke, sekarang kita coba aja deh langsung kita pakaiin kipas ya. Masih dalam settingan skenario yang sama kami bisa mendapatkan frame kisaran 40 sampai 53 FPS jauh lebih tinggi dibandingkan kalau tanpa kipas. Saat ada battle, frame rate masih bisa dipertahankan di kisaran 40 fps. Woh, ini jauh lebih tinggi ya. Jadi selama 30 menit, nah ini kita lanjut sampai 30 menit, rata-rata frame rate yang kami dapatkan ada di 45 fps. Nah, ini rankingnya udah ranking C nih ya. Jadi kalau mau main game berat dengan smartphone ini bisa, tapi sebaiknya memang pakai kipas pendingin. Kalau ada nanya watering webs, gimana? Kita memilih untuk tidak ngetes watering webses lagi untuk G99 dan G100 karena memang rata-rata enggak lancar-lancar amat, pasti akan naik turun. Lanjut ke pengujian kameranya ya. Di tangan saya kali ini sudah ada Advance X1. Jadi, mari sama-sama kita lihat bagaimana kemampuan kameranya. Tapi seperti biasa sebelum kita mulai kita cek kemampuan mikrofonnya dulu ya. Di sini saya enggak menggunakan mikrofon eksternal. Jadi ini langsung mikrofon dari smartphone-nya. Dan menariknya walaupun harganya R1 jutaan tapi kita bisa mendapatkan dual mikrofon di sini. Jadi kalau misalnya salah satu mikrofonnya ketutupan seperti ini, setidaknya masih ada backup dari mikrofon yang satunya. Lalu untuk kualitas mikrofonnya sendiri ini sudah mencukupi ya, di mana suara vokal saya dapat ditangkap dengan jelas di mikrofonnya ini. Oke, langsung saja kita mulai pembahasan kameranya. Dimulai dari kamera selfie-nya dulu ya. Dan dapat teman-teman lihat kalau di sini videonya agak gempa. Jadi belum ada fitur stabilisasi di kameranya ini. Nah, supaya videonya lebih minim getaran, kami sarankan pakai tripod aja ya. Contohnya seperti ini. Ini video yang direkam menggunakan tripod. Atau kalau mau videonya lebih stabil lagi, kita bisa pakai Google Photos. Jadi, kita edit di situ, lalu pilih menu stabilize, nanti hasilnya bisa lebih stabil. Lalu untuk dynamic rangech video di kamera selfie ini standar ya. Area background memang ada over expos, tapi setidaknya wajah saya dapat terlihat dengan jelas di sini. Nah, video yang teman-teman saksikan saat ini adalah hasil perekaman dari kamera utamanya di resolusi Full HD 30. Dan di sini memang ya videonya agak gempa sama seperti di kamera selfie-nya tadi. Lalu buat yang butuh detail ekstra, di sini ada opsi 2K 30 fps dan hasilnya seperti ini ya. Kemudian kalau soal kemampuan remic range video untuk kamera utamanya hasil kurang lebih seperti ini ya. Bagian background setidaknya enggak sehilang di kamera selfie-nya tadi dan juga area wajah saya dapat terlihat dengan jelas di sini. Lalu untuk video malam hari untuk kamera selfie hasil kurang lebih seperti ini ya. Ini kalau saya lihat di preview ini agak noise tapi wajar untuk kelas harganya. Lalu ini hasil perekaman dari kamera utamanya di resolusi 1080p 30 fps. Dan dapat teman-teman lihat ya kalau di sini videonya lebih terang dibanding kamera selfie-nya tadi. Lalu ini kalau kita pakai resolusi 2K 30 fps di kamera utamanya. Jadi hasilnya kurang lebih seperti ini ya. Setidaknya untuk perekaman video baik di kamera selfie dan kamera utamanya bebas dari git ya. Eh, ada kucing. Halo, Meng. Lalu untuk hasil foto-fotonya kurang lebih seperti ini ya. Di kondisi cahaya yang cukup, foto-foto yang dihasilkan masih terbilang memadai untuk kelas harganya. HDR belum bisa yang paling konsisten. Terkadang kami mendapati HDR processing-nya gak jalan. Jadi, fotonya bisa overpos di beberapa bagian. Untuk portrait mode juga belum bisa berbarengan dengan HDR, tapi ini masih kami anggap wajar untuk kelasnya. Sementara kalau di kondisi yang low, foto terlihat noisy, tapi detail masih bisa cukup terjaga. Foto yang dihasilkan masih bisa oke selama tangan kita stabil saat memotret. Di kondisi seperti ini, shutter speed-nya cenderung melambat. Jadi, kalau tangan goyang bisa menghasilkan foto yang blur. Tapi dari pengalaman kami dengan smartphone Advan, kemampuan fotografi di sini bisa dibilang meningkat signifikan. Lanjut untuk fitur-fitur ekstra. Di sini ada mode pro untuk foto dengan pengaturan ISO dari 100 sampai 800 dan shutter speed dari 1/800 hingga 0,4 detik. Menariknya di sini juga terdapat mode Pro dengan pengaturan ISO dari 100 sampai 800 juga dan sutter speed dari 1/800 sampai 0,4 detik. Kemudian beberapa hal terkait fundamental pada software kamera juga sudah terpenuhi di Advance X1 ini. Contohnya seperti di mode video, kita sudah bisa pakai grid 3* 3. Lalu di mode portraet kita juga sudah bisa pakai berbagai macam aspek rasio termasuk 16 b 9. Meskipun hal ini terdengar sepele tapi belum semua smartphone lain bisa loh. Oke itu pembahasan dari kamera Advance X1. Bagi kami ada beberapa PR yang perlu ditingkatkan advance ke depannya seperti fitur stabilizer untuk perekaman video. Lalu auto fokus di kamera yang ng-lock saat merekam video. Entah kenapa, misal kita udah start recording video, autofokusnya malah tidak terjaga. Jadi kalau mau fokus, kita perlu tap ulang objeknya terlebih dahulu. Kemudian mungkin Advance bisa menghadirkan opsi perekaman video 60 fps ke depannya. Terlepas dari itu, kemampuan kamera smartphone Advance ini sudah meningkat dari generasi terakhir yang kami review. Untuk videografi masih banyak PR, tapi untuk fotografi bisa kami bilang ini sudah oke. Langkah yang bagus untuk advance kami tunggu peningkatan lainnya supaya bisa bersaing dengan kompetitor di kelasnya. Nah, sekian dulu pembahasan kamera dari Advance X1. Kita lanjut ke pembahasan selanjutnya. Oh ya, sekarang kita tes kemampuan baterainya ya. Oke, untuk YouTube offline video playback 1080p kita mendapatkan hasil baterainya baru habis setelah sekitar 16 jam ya. Tapi ini hasilan tergolong wajar sih walaupun kami berharap lebih. Tapi untuk Helio G99 dan G100 pakai baterai 5000 mAh 16 sampai 18 jam itu termasuk rata-rata hasil pengujian selama ini memang jadi masih okelah yang satu ini terutama kalau lihat harganya juga ya. Lalu untuk YouTube streaming 1080p 30 non HDR, baterai berkurang sekitar 5% dalam 30 menit. Untuk mainan TikTok swipe-swipe selama setengah jam itu baterai berkurang sekitar 4%. Ini masih wajar. Sementara untuk Genin Impact lowest 60, baterai berkurang 10% dalam 30 menit main game. Oke, sekarang kita lihat kemampuan charging-nya. Dari 0 sampai 50% butuh waktu 48 menit. Sementara dari kosong sampai penuh butuh waktu 2 jam 5 menit. Ini sebetulnya terbilang lambat ya untuk baterai 5000 mAh. Tapi ini wajar sebetulnya mengingat chargingnya tuh cuman sampai 18 watt saja. Oke, kita lanjut lagi untuk Netflix-nya bagaimana. Sayangnya di sini hanya Hawi Advent L3. Jadi untuk streaming sampai SD saja. Kalau mau nonton konten yang high resolution kita harus download dulu videonya di kualitas yang tinggi baru kita putar. Untuk YouTube dia bisa sampai 1440p 60 dan streamingnya juga lancar di sini. Untuk happy feedback. Nah, menariknya getarannya terbilang cukup terasa relatif pendek dan cukup akurat. Memang feel getarannya belum terasa kelas atas tapi untuk kelas 1 jutaan ini udah keren sih. Lanjut untuk Wii sharing. Nah, ini agak-agak rumit nih Wii sharing ternyata bisa di sini. Aktifkan saja hotspot saat smartphone ini sedang terhubung ke jaringan Wii dan kita langsung bisa membagi internet dari Wii tersebut ke perangkat yang lain. Berarti modul Wii-nya, lalu antena-antenanya. Ini bukan kelas murahan, ini kelas atas nih. Ya, lanjut. Untuk harga pasti banyak yang nbak bahwa Rp1 jutaan itu R,999. Benar enggak? Advan X1 ini ternyata dijual di harga Rp1.699.000. Lumayan jauh di bawah Rp2 juta kan. Vari cuma satu ya, yang 8128. Nah, kalau dibandingkan dengan spesifikasinya harga ini terbilang sangat-sangat menarik kan. Oke, kita masuk ke hal yang perlu diperhatikan. Pertama, daya tahan baterainya bukan yang luar biasa banget, tapi ini mirip dengan HP lainnya. pakai Helio G99 atau G100. Kemudian untuk main game yang berat seperti Gensin Impact sebaiknya dipakaiin kipas pendingin ya supaya lebih stabil. Lalu untuk kamera sebetulnya kami berharap kemampuannya bisa ditingkatkan lagi di sini. Lalu untuk charger memang ini hanya 18 watt ya. Mau protes tapi ya mengingat harganya enggak bisa protes juga sebetulnya. Rata-rata emang segitu-segitu aja emang ngcharge-nya ya. Kemudian dia belum pakai Android 15 tapi Android 14 memang yang paling banyak penggunanya sekarang. Jadi kompatibilitas aplikasinya harusnya masih aman-aman aja. Bahkan tahun depan dan 2 tahun ke depan pun masih harusnya aman. Android 12 dan 13 tahun 2025 itu masih sekitar 30% loh penggunanya. Oke. Kemudian belum ada janji terkait update versi Android yang akan tersedia. Semoga aja tiba-tiba ada update-nya. Paling enggak ke-15 deh ya. Lalu mungkin akan sulit untuk cari aksesoris seperti casing atau screen protector untuk smartphone ini. Ini udah jelas. Jadi advance kalian harus nyediain sebetulnya casing dan screen protectornya. Ini dari segi kelebihan tentunya performa Helio G100-nya ini terbilang sulit dilawan untuk kelas harga segini ya. RAM juga udah 8 gig dan storage 128 gig pun masih bisa diterima karena lihat harganya nih ya. Untuk storage juga udah pakai UFS bukan di MMC. Kamera utama udah bisa ngerekam video sampai resolusi di atas full HD ya. Lalu layar itu color gambotnya cukup baik bukan yang kurang warna di sini. Refresh rate-nya up to 120 Hz dan kepakai beneran dalam game. Udah punya dual mikrofon masih ada audio jack-nya juga. Bluetooth audio juga bukan cuma SBCAC, dia bisa lduck juga. Ada NFC, ada FM radio, hptic feedback-nya udah oke banget di kelas harganya. Sim card-nya juga non hybrid triple shot. Jadi masih bisa pakai micro SD di sini. Secara umum smartphone ini menawarkan racikan yang sangat menarik untuk kelas harganya. Ya, pada akhirnya kehadiran Advance X1 ini jadi pembuktian bahwa brand lokal pun sebenarnya bisa bersaing untuk pasar smartphone Indonesia sekarang. Bahkan menurut kami sulit nih mencari pesaing smartphone yang satu ini untuk kelas harganya. Jadi kalau yang dicari adalah smartphone dengan harga R jutaan, rasanya yang satu ini wajib untuk dilirik dan dipertimbangkan. Saya D Irfan JakaB TV.

Lihat di YouTube