Kencang Gas Pol! Rakit PC 200 Juta!! Feat. Agres X Gainward (YouTube Video)
Seandainya punya duit R00 juta bisa rakit set PC desktop yang seperti apa? Ya, itu yang sempat kepikiran oleh kami. Dan ini adalah contohnya sebuah PC desktop R00 jutanya. Bahkan ini belum semuanya sebetulnya karena enggak cukup di meja saya nih ya. Ini adalah desa perakitan dari Agres dengan spek yang ya rata kanan. Ini benaran rata kanan ya karena graphic card-nya langsung pakai Nvidia Geforce RTX 5090 bahkan dia enggak punya cuma satu. Perhatikan ini ada dua RTX 5090. Prosesor juga enggak kaleng-kaleng ya. Langsung pakai Ryzen 9000 series dengan 16 core dalamnya. RAM 128 gig SSD-nya masif 16 TB. Pertanyaannya emang PC Ratusan juta kayak gini bisa dipakai buat apa aja sih? Oke, kami paham bahwa kalau meracik PC desktop kalau dananya Rp200 juta emang hasilnya bisa beda-beda. Nah, kami enggak bilang bahwa ini racikan yang paling pas untuk semua orang ya. Tap menurut kami kalau harganya udah tinggi PC desktop ini harusnya bukan dirancang buat gaming doang. Kalau cuma buat main game pastinya mulus lah frame rate-nya ya. Bahkan mau resolusi 4K dan setting grafis mentok kanan juga enggak ada masalah. Tapi masa iya sih PC desktop ratusan juta seperti ini cuma buat main game doang ya. PC desktop ini dirancang untuk skenario nyari duit, bukan untuk buang-buang duit, bukan untuk enggak dapat duit, bukan. Bukan. Itu sebabnya kami bereksperimen dengan konfigurasi dua graphics card. Seperti diketahui saat ini sudah enggak ada teknologi Nvidia SLI di RTX 50 series. Jadi memasang dua buah RTS 50 series tidak membuat frame rate game jadi lebih tinggi. Tapi lain ceritanya kalau kita pasang dua graphic card untuk kerja beda. Sebagai contoh kita bisa lihat di aplikasi Blender. Aplikasi desain 3D yang gratisan ini bisa manfaatkan dua graphics card atau lebih bahkannya untuk mempercepat proses rendering-nya. tentunya ini membuat waktu render jadi lebih cepat dan kita bisa segera menyerahkan hasil renderan kita kepada klien. Lalu ada juga aplikasi seperti misalnya Da Vinci Resolve Studio. Di versi berbayarnya, aplikasi editing video ini mengizinkan penggunaan dua graphic card atau lebih untuk proses editing dan eksportnya. Selain itu, konfigurasi dua graphic card juga bisa digunakan untuk mengerjakan dua pekerjaan sekaligus dan ini dua pekerjaan berat sekaligus. Misalnya nih, grafis card pertama dipakai buat ngrender 3D, sementara yang kedua dipakai buat ngekspor video resolusi tinggi. Atau scanner lainnya kita juga bisa pakai graphis card kedua untuk render 3D atau export video. Sementara yang pertama kita pakai buat main game sambil nungguin hasil render atau exortnya selesai. Ya, tentunya masih banyak skenario penggunaan lain dari konfigurasi dua graphics card ini. Jadi, kalau kita manfaatkan dengan benar, PC desktop ini bisa jadi mesin penghasil uang buat balikin modal saat kita beli sekaligus jadi sumber pendapatan kita. Oke, sekarang kita lihat sebuah apa performa PC desktop yang satu ini. Tapi sebelumnya simak dulu spesifikasi lengkapnya. Untuk spek utamanya untuk graphic card dia pakai dua buah Genw GeForce RTX 5090 Phantom GS dengan kapasitas vira masing-masing di 32 GB GDDR7. Grafis card ini menggunakan GPU Nvidia Blackwell dengan 21.760 kuda course dan dilengkapi dengan fourth generation rate racing course serta fifth generation tensor course. Dengan arti course frame rate game itu bisa tetap mulus saat kita mainkan meskipun fitur rate racing yang berat itu kita aktifkan. Nah, fitur retracing ini sendiri akan mensimulasikan pencahayaan seperti di dunia nyata. Jadi, tampilan grafis game-nya tuh jadi realistis. Satu contohnya bisa dilihat nih di game Half Life 2 dengan mod RTX ini. Game keluaran tahun 2004 yang grafis aslinya jadul itu kini tampilnya jadi jauh lebih realistis dengan menggunakan mod RTX. Bisa juga kita lihat perbedaannya saat fitur RTS-nya aktif dan tidak aktif. Nih ya, lihat nih jauh kan bedanya ya. RTX 5090 ini juga punya transor C terbaru yang membuat kemampuan E-nya mencapai 3.352 tops jauh lebih tinggi dibandingkan RTX 4090 yang hanya 1321 tops. Dengan kemampuan S tinggi itu, graphis card jadi bisa melipatkan frame rate jauh lebih tinggi saat kita aktifkan fitur DLSS4 multi frame generation di dalam sebuah game. Berbeda dengan frame generation sebelumnya yang hanya memproduksi satu frame tambahan. Multi frame generation akan memproduksi hingga 3 frame tambahan untuk setiap frame yang sudah dirender. Jadi game triple A yang berat bisa dimainkan dengan frame rate ratusan FPS bahkan di settingan 4K mentok kanan. Kemampuan AI setinggi itu juga membuat RTX 5090 sangat cocok untuk pekerjaan yang membutuhkan AI ya. Aplikasi AI yang memanfaatkan kemampuan RTX 5090 pun makin banyak seperti anything lm, Comffi UI atau yang bisa kita kenal sebagai stable division. Mau bikin gambar tapi enggak bisa gambar. Tenang, kita bisa bikin gambar dengan mudah pakai aplikasi AI seperti Confi UI ini. Tinggal masukkan teks atau prom seperti ini nih ya. Lalu kita klik tombol run dan gambar yang kita inginkan langsung jadi dalam waktu beberapa detik saja. Berikut yang kita coba AID di RTS 5090 untuk menjalankan large language model di aplikasi LM Studio. Bisa dilihat nih kalau kita pakai 1 RTS 5090 low GPU naik hingga di atas 90% dengan penggunaan VAM-nya mencapai 21 GB. Menariknya kalau kita pakai 2 RTS 5090 load GP-nya jadi bisa terbagi. Bisa kita lihat sekarang load masing-masing RS 5090 jadi ada di kisaran 40 sampai 50% dan penggunaan firam turun ke kisaran 10 sampai 11 GB. Tentunya AID di RTX 5090 ini juga bisa dipakai di aplikasi sehari-hari seperti Blender. Di aplikasi ini ada fitur AID noising agar tampilan viewport dan hasil rendernya bebas dari noise. Bisa dilihat nih beda hasil dengan di noise aktif dan kalau tidak aktif. Menariknya dengan hasil render yang lebih bagus, waktu rendernya tetap mirip antara fitur di noise aktif dan tidak aktif. Selain itu, AID RTS 5090 juga bisa kita pakai untuk editing video di aplikasi Da Vinci Resoft Studio. Di aplikasi ini ada fitur AI Magic Mask yang bisa menghilangkan gambar background dari sebuah video. Kita coba aja langsung nih fiturnya dengan video yang seperti ini. Pertama-tama kita pilih objek yang tetap ingin kita tampilkan dengan menarik garis seperti ini. Berikutnya kita klik tombol tracking dan background-nya hilang dalam sekejap. tentunya aplikasi Premiere Pro juga dapat memanfaatkan kemampuan AI di RTX 5090 seperti misalnya scene edit detection atau kalau mau pakai auto reframe. Di grafis card Nvidia juga ada fitur Nvidia Reflex nih yang bisa menurunkan input latensi saat kita main game. Jadi saat gamer menekan tombol di keyboard, mouse atau gamepad, game akan jadi lebih cepat merespon input tersebut dibandingkan kalau kita enggak pakai fitur Nvidia Reflex. Buat pemain game kompetitif, fitur Nvidia Reflex harusnya bisa membantu menembak lebih cepat dan akurat. Nah, untuk gamer yang melakukan streaming atau rekam gameplay mereka, kemampuan encoder AV1 di RTX 50 series ini juga ditingkatkan. Jadi, kualitas gambarnya lebih baik dibandingkan sebelumnya. Bahkan sekarang ada mode AV1 ultra high quality yang membuat kualitas gambarnya jadi lebih baik lagi. Codex A FV1 sendiri diklaim mampu menawarkan kualitas gambar lebih baik dibandingkan Kodex H264 dengan bit rate yang sama. Ini buat kita lebih hemat bandwid internet saat streaming. Tentunya KBO RTS 50 series ini ditunjang aplikasi Nvidia App penerus dari GeForce Experience. Nah, dengan Nvidia App kita bisa dengan mudah mengupdate driver ke versi terbaru atau pindah dari game ready ke studio driver untuk content creation ya. Selain itu, kita juga bisa mengaplikasikan setting game yang direkomendasikan Nvidia sesuai dengan tipe GPU kita. Jadi, frame rate-nya ya enggak bakal patah-patah sih, ya. Bahkan kita juga bisa memaksa game tertentu agar bisa menggunakan fitur-fitur dari DLSS 4. Di sini kita juga bisa mengaktifkan fitur RTX video enhancement yang bisa melakukan upscale video resolusi rendah ke resolusi yang lebih tinggi. Enggak ketinggalan, kita juga bisa mengaktifkan fitur Nvidia overlay untuk merekam sesi permainan kita, baik dengan bentuk video maupun screenshot. Setelah itu, Nvidia Overflame ini bisa kita gunakan juga untuk menampilkan informasi tingkat frame rate, latensi, dan juga utilisasi CPU serta GPU saat kita lagi main game. Bahkan ada juga fitur automatic tuning yang secara otomatis mencari setting clock terbaik untuk GPU yang kita gunakan. Nah, selain Nvidia App, ada juga aplikasi Nvidia Broadcast yang bisa membuat kemampuan webcam di PC kita jadi lebih canggih. Dengan menginstal Nvidia Broadcast, webcam kita bisa jadi punya fitur seperti background blur, background remove, background replace, auto frame, eye contact, vinyet, hingga video noise removal. Menariknya di Nvidia broadcast terbaru ada fitur virtual key lights yang akan membuat tampilan kita di kamera terlihat lebih terang seolah-olah lagi disorot lampu tambahan. Bisa dilihat nih ya bedanya ya antara dimatikan dan kalau ini dinyalakan. Wah, beda kan? Tapi perlu diperhatikan ya, Virtual Keyight akan membuat GPU bekerja dengan load yang sangat tinggi. Jadi lebih disarankan digunakan untuk aktivitas non gaming. Selain untuk kamera, Nvidia Broadcast juga membuat mikrofon di PC kita jadi punya fitur seperti noise removal dan room echo removal untuk menghilangkan suara bising yang mengganggu. Nah, di NVD bok terbaru juga ditambahkan fitur Studio Voice yang kalian bisa membuat kualitas perekaman mikrofon kita jadi mendekati kualitas perekaman seperti di studio kelas atas. Studio Voice juga akan membuat GPU bekerja dengan load yang tinggi ya. Jadi lebih sarankan digunakan untuk aktivitas yang non gaming. Nah, untuk contohnya bisa digunakan pada klip berikut ini. Oke, ini contoh rekaman suara kami kalau direkam tanpa menghidupkan fitur Studio Voice. Nah, kalau yang ini contoh rekaman suara kami kalau direkam dengan menghidupkan fitur studio voice. Oh ya, untuk Ginw sendiri dia punya dua versi RTX 5090 yaitu Phantom dan Phantom GS yang kita pakai di sini. Nah, sebelum kita bahas Phantom GS, kita lihat dulu video unboxing-nya. [Musik] Phantom Guys ini punya GPU boost clock lebih tinggi ya, jadi performanya lebih kencang dibandingkan versi Phantom. GPU boost clock-nya lebih tinggi dari standar Nvidia yang di 2410 MHz. Menariknya di grafis card ini ada switch dual BIOS untuk memilih mode performance atau silent. Nah, untuk suplai daya grafik card ini menggunakan satu konektor 12 VHPWR. Sementara untuk nilai TGP maksimumnya ada di 600 watt. Sedikit lebih tinggi dibandingkan standar Nvidia yang di 575 watt. Untuk pendingin grafis card ini menggunakan sistem pendingin vaper chamber yang tebalnya 3,5 slot. Untuk ukuran bodinya sebesar 33,1 * 14,5 * 6,9 cm. Bodinya memang besar ya, tapi bukan RTX 5090 paling besar saat ini loh sebetulnya ya. Sistem pandingan ini juga dilengkapi dengan tiga buah kipas cyclone fan, composit heat pipe dan diffusure fin. Menariknya kipas ini punya rating IP5X. Jadi bagian motornya itu aman dari debu, membuat umur pakainya jadi lebih panjang. Kipas ini juga punya fitur zero RPM fan yang membuat kipas tidak berisik saat beban kerja grafik card lagi rendah. Sistem pingan tersebut dilengkapi dengan shrout atau penutup dengan warna hitam dan motif honey yang membuat penampilan jadi keren. Nih pada bagian samping penutup tersebut ada tulisan Phantom yang memancarkan warna RGB saat menyala. Grafis card ini dilengkapi dengan ultra dance protection plate pada PCB-nya untuk mencegah resiko melengkung. Sementara untuk konektor display-nya ada tiga display port 2.1B dan 1 HDMI 2.1B. Nah, setelah untuk prosesornya kita pakai Ryzen 9 9950 X3D ini 16 skore dan 32 trad. L3 cas-nya besar 128 MB. Untuk integrated graphisnya dia pakai Radion Graphics. Nah, untuk motherboard kita pakai Asus ROG Cross Hair X870Etreme. Memori atau RAM-nya kita pakai 4 * 32 GB tim Treate Expert DDR5 6400 MHz. Tapi perlu diperhatikan ya, karena menggunakan 4 keping RAM, kecepatan default-nya jadi 3.600 MHz dan ini memang normal. Untuk storage kali ini kita pakai 4* 4 TB SSD CTA T Plus 7100 NVME PCI Gen 4x4 SSD kalian punya kecepatan baca di 7000 MB/ dan tulis di 6000 MB/ CP cooler kita pakai Cooler Master Master Liquid Atmos 2 360 VRM fan all inone liquid cooler ini dilapir dengan radiator 360 mm dan tiga buah kipas masing-masing 120 mm. Untuk power supply kita pakai FSP Hydro PTM Pro. PSU ini punya keluaran daya 1650 watt dan sudah memenuhi standar 80 plus platinum dan ATX V3.1. Untuk casing kita pakai Cor Master Master frame 600 modular ya. Casing ini mendukung motherboard hingga form factor IATX dan bisa dipasangi hingga 10 kipas. Untuk OS kita pakai Windows 11 Pro versi 24H2. Sekarang kita masuk ke dalam aspek performanya. Untuk penguji PC desktop ini, kami juga menggunakan komponen pendukung lainnya ya, seperti monitor Asus ROG XG27 UCG dengan resolusi 4K 160 Hz. Lalu ada juga Logitech GPro XTKL Rapid Gaming Keyboard. Lalu ada Logitech GPro X2 Superlight Wireless Gaming mouse dan Logitech Gropeed Gaming Headset. Untuk kali ini kami akan menggunakan kecepatan kipas full speed untuk kipas casing dan all inin-one liquid cooler-nya. Kita lihat dulu dari Ceb R23. Distabilitas selama 30 menit. Skor tertinggi yang dicapai adalah 43.108 poin. Sementara skor yang bisa dipertahankan adalah di 42.200 sampai 42.700 poin. Untuk suhu kerjanya pesan menjalankan sinabes R23 stabilitas selama setengah jam terlihat suhu prosesor masih aman terkendali di bawah 80 derajat celcius. Untuk konsumsi daya ini ada di kisaran 404 sampai 429 watt. Oke, langsung aja lah kita coba di Blender 4.5.3. Untuk pengujian kali ini kami menggunakan file 3D yang Blender 4.1 splash screen. Ini lebih berat lagi dibandingkan barbershop yang biasa kita pakai. GPU rendering kita pakai kuda. Nah, untuk single GPU Sai dalam waktu 3 menit 41 detik. Kalau pakai dual GPU 2 menit 7 detik. Kelihatan ya waktu rendernya jadi 42% lebih kencang saat pakai dual graphics card. Nah, untuk GPU runer dengan optics single GPU butuh waktu 2 menit 16 detik lebih kencang lagi. Tapi dual GPU-nya 1 menit 13 detik. Di sini kelihatan bahwa waktu rendernya jadi 46% lebih kencang saat pakai dual graphics card. Tapi, Bro. Perhatikan persentasi peningkatan tersebut adalah yang terjadi di PC desktop yang kami uji kali ini. Ada kemungkinan kalau konfigurasi hardware berbeda, persentase peningkatan dari satu ke dua grafis card juga akan berbeda. Nah, untuk suhu kerjanya dual GPU rendering dengan kuda supressor ini aman di bawah 50 derajat celcius. Sementara untuk suhu grafis car pertama terlihat naik perlahan dari 48 derajat Celcius ke 76 derajat Celcius selama pengujian. Untuk grafik car kedua ini terjaga di bawah 40 derajat Celcius. Untuk konsumsi daya ini dikisaran 825 sampai 1006 watt saat render dengan dua graphics card. Lanjut ke Adobe Premiere Pro 2025. Kita pakai skenario pengujian baru ya dengan menggunakan 4 video 8K 30 fps yang dikolase dan diekspor ke resolusi 8K 30 fps durasinya 5 menit. Kami juga melakukan sedikit color grading dan penambahan teks pada video. Nah, kalau pakai kuda kita lihat bahwa single GPU itu butuh waktu 18 menit 27 detik. Kalau 2 GPU 18 menit 14 detik. Terlihat saat pakai dua graphics card, waktu eksportnya tuh hanya berkurang sedikit. Sepertinya aplikasi ini belum sepenuhnya bisa memanfaatkan dua graphic card untuk exporting. Nah, su kerja pasal melakukan 8K video eksport dengan kuda terlihat Brosor set graphic art pertama dan kedua terkendali di bawah 65 derajat Celcius. Untuk konsumsi daya berkisar 437 sampai 508 wat saat video dengan dua grafis card aktif. Kita lanjut ke Davin Series Resoft Studio 20.2. Maaf ini versi berbayar ya. Di sini kami juga menggunakan skenario pengujian yang sama seperti Premiere Pro sebelumnya ya. Videonya 8K30 5 menit ya. Untuk single GPU selesai dalam waktu 4 menit 59 detik. Untuk dual GPU 5 menit 53 detik. Pada skenario pengujian kami, penggunaan dua grafis car ternyata tidak mempercepat proses ekspor. Nah, untuk su kerja pesat melakukan 8K video ekspor di sini terlihat su rata-rata prosesor dan grafis car pertama serta kedua terkendali di bawah 70 derajat celcius. Untuk konsumenya berkisar 605 sampai 700 watt saat export video dengan dua graphics card. Oke, tadi kita sudah lihat ya performance PC desktop ini di sejumlah aplikasi. Ada aplikasi yang bisa manfaatkan sepenuhnya kemampuan dari dua graphis card dan ada yang masih kurang bisa. Eh, tapi tahu enggak dengan dua artis 5090 di PC desktop ini kita sebenarnya bisa menjalankan dua pekerjaan berat secara bersamaan. Contohnya kita bisa render 3D sambil melakukan export video. Oke, untuk uji scan ini kami menggunakan aplikasi Blender dan Da Vinci Resolve Studio ya. Aplikasi ini kita pakai karena kita bisa milih grafik card mana yang ingin kita pakai untuk merrender atau mengekspor. Untuk file 3D dan videonya masih sama seperti yang tadi kami pakai. Pertama-tama kita coba terlebih dahulu merrender 3D dan mengeksport video secara bersamaan. Tapi ini kita pakai satu RTX 5090 aja. Hasil ini akan kita jadikan sebagai perbandingan, ya. Nah, ingat kita menjalankan dua aplikasi bersamaan ya. Satu nge-render, yang satu nge-eksport video. Nah, untuk e rendering 3D-nya ini butuh waktu 6 menit 16 detik. Ini lebih lambat daripada kalau kita hanya merrender aja pakai satu graphis card. Tadi kan dapatnya 3 menit 41 detik. Sementara waktu jalan berdua ini ya aplikasinya ya, export videonya butuh waktu jadi 7 menit 44 detik. ini juga jadi lebih lambat dibandingkan saat kita ngeksport hanya dengan satu aplikasi dan satu graphics card yang butuh waktu 4 menit 59 detik. Ya, ini normal ya, karena satu graphics card mengerjakan dua pekerjaan berat secara bersamaan. Nah, sekarang coba kita bagi dua pekerjaannya. Jadi, satu grafis card mengerjakan render 3D, satu lagi mengerjakan export video. Ya, hasilnya yang render 3D itu butuh waktu hanya 4 menit 39 detik. Sementara untuk export videonya di waktu yang bersamaan dia butuh waktu 5 menit 25 detik. Kelihatan ya waktu yang dibutuhkan jadi lebih cepat dibandingkan ng-render dan ngekspor bersamaan kalau hanya pakai satu graphics card. Jadi bisa nih kita pakai PC desktop dengan dua graphics card untuk menjalankan dua pekerjaan berat secara bersamaan dengan lancar. Jadi bayangkan nih kalau misalnya kalian diminta mengekspor video resolusi tinggi yang butuh waktu lama tapi harus ng-render aset 3D juga ya kan kadang-kadang sebuah project itu butuh semuanya video iya aset 3D iya gitu ya kalau dikerjain satu-satu pasti akan makan waktu yang lama ini agak ekstrem sih memang ya tapi untuk yang berkecimpung dalam dunia desain dan multimedia pastinya pernah punya mimpi bahwa komputernya bisa melakukan keduanya berbarengan dengan cepat berikutnya kita uji di skenario yang agak unik yaitu memainkan game sambil nge-render 3D atau sambil ngeksplor video. Emangnya bisa? Tenang, bisa kok. Kan PC-nya pakai dua RTX 5090. Ini buat kita bisa nunggu hasil render 3D atau export video yang biasanya lama tapi sambil mainin game favorit kita. Untuk game-nya kita langsung aja pakai Black Myth Wukong. Di sini kita ngatur graphic card kedua untuk render DD atau export video. Sementara yang pertama dipakai untuk jalan game. Pertama-tama kita coba main game sambil ng-render 3D dulu. Waktu rendernya jadi 3 menit 52 detik. Hasil ini nyari sama seperti saat ngrender 3D dengan satu grafik card yang butuh waktu 3 menit 41 detik. Terlihat juga frame rate game hampir enggak kepengaruh meskipun ada render 3D di background. Berikutnya kita coba main game sambil ngekspor video. Waktu eksportnya jadi 8 menit 19 detik. Ini agak sedikit lebih lambat dibandingkan saat ngeksport video dengan satu graphics card yang butuh waktu 4 menit 59 detik. Mungkin hal ini disebabkan karena alokasi jalur PCI graphic card kedua yang berbeda dibandingkan card yang pertama. Tapi secara turunan proses eksportnya enggak mengalami masalah sama sekali. Di sini juga terlihat bahwa frame rate game tetap tinggi walaupun kita jalankan export video di background. Jadi kelihatan ya dengan dua graphic card kita bisa menjalankan dua pekerjaan BR sekaligus tanpa harus saling mengganggu pekerjaan yang lainnya. Oke, berikutnya mari kita coba deh uji PC Desktop Monster ini kalau dipakai buat main game dan hasilnya kurang lebih seperti ini. Nah, SU kerja pada saat setengah jam memainkan Assassin's Creed Miras. Kita lihat suhu prosesor masih ada di bawah 70 derajat Celcius. Sementara grafik S pertama itu di 74 sampai 76 derajat Celcius. Yang kedua itu SH-nya ada kisaran 41 sampai 42 derajat Celcius. Lanjut untuk storage test. Dengan kristalisma kita dapatkan bahwa kecepatan baca SS-nya ada di 7.363 MB/ dan tulisnya di 6 MB/s. Ternyata ini bahkan lebih kencang daripada klaimnya ya yang 7.000 untuk baca dan 6.000 untuk tulis. Oh ya, kalau kalian nanya soal harganya ya PC desktopnya aja itu ada di Rp17 juta kurang lebih ya. Nah, di sini kita masih punya sisa dana sekitar Rp43 juta untuk beli monitor atau bahkan beberapa monitor harusnya ya ee keyboard, mouse, headset, dan aksesoris lainnya yang kita butuhkan. Oh ya, untuk keterangan lebih lengkap mengenai PC desktop dan link pembeliannya bisa cek di kolom deskripsi. Nah, kalau bicara garansi, seluruh PC desktop ini dilindungi garansi Agress Protect ya selama 1 tahun. Tapi tenang, garansi masing-masing komponen tetap berlaku dengan masa garansi tergantung dari brand dan tipenya. Oke, hal yang perlu diperhatikan tetap ada di sini ya. Enggak semua aplikasi ternyata bisa memanfaatkan kemampuan dua grafik card secara bersamaan. Tapi tenang, kita masih bisa manfaatkan dua grafik card tersebut dengan menjalankan dua pekerjaan beras secara bersamaan. Misalnya untuk render 3D dan exporting video. Atau bisa juga main game sambil ngrender 3D atau sambil ngekspor video di grafis card yang kedua. Kemudian PC desktop ini jelas enggak akan cocok buat kalian yang mendang-mending. Jelas ya. Sebenarnya kalau melihat komponen-komponen yang digunakan, wajar sih kalau harga keselaran PC desktop ini enggak bisa murah-murah amat ya. Enggak mungkin dong PC desktop spek seperti ini harganya R jutaan. Enggak mungkin. Kemudian untuk konsumen Sidaya ini tergolong tinggi dibandingkan PC desktop biasa. Tapi ini lagi-lagi wajar karena komponennya semuanya yang brutal performance-nya. Dari segi menariknya ya jelas ini speknya rata kanan karena pakai 2 RTS 5090. Buat gaming 4K wah enteng banget. Gaming kompetitifnya terbang-terbang FPS-nya. Rendering 3D, wah, ini cocok banget nih buat editing video lancar, bahkan video 8K pun enggak ada masalah. Pastinya dia juga lancar dipakai untuk jalan aplikasi AI. Kapasit RAM dan SSD bawnya masif. Yang satu ini jelas masif. Dan dia udah pakai PSU gede ya, yang 1650 watt e 80 plus platinum. Di sini pendingnya pakai all-inone liquid cooler di sini. kerjanya masih relatif aman di sini dan garansi masing-masing komponen tetap berlaku. Jadi pertanyaannya kalau toh diinginkan ya PC desktop dari Agres dengan dua RTX 5090 ini cocoknya buat siapa? Nah yang satu cocoknya harusnya untuk mereka yang butuh PC desktop dengan performa yang enggak pakai kompromi. Buat desainer 3D ini udah oke banget apalagi buat desa 3D pasti ya. Apalagi kalau aplikasi dipakai memang support dual graphics card atau lebih ya. Kalau pakai blender sih pasti support lah ya. Mau dipakai buat desain cat itu pastinya juga mantap banget. Mau dipakai untuk AI model inference dan training juga bisa asalkan aplikasi A memang support si RTX 5090 dan ini punya dua biji di sini ya. Mau dipakai untuk editing video juga bisa apalagi RTX 5090-nya siap untuk handle video 8K, video AV1 dan juga video color format 422. Dan pastinya PP yang satu ini siap memainkan game triple A dan game kompetitif baru di resolusi 4K dengan mulus dan lancar bahkan dengan fitur retracing diaktifkan sekalipun. Jadi kalau dana bukan jadi masalah, rasanya PC res seperti ini bisa jadi pilihan untuk mereka yang butuh mesin mencari uang atau mesin gaming yang siap pakai dan enggak perlu repot-repot dirakit-rakit lagi. Dan yang jelas untuk kali ini kita sudah membuktikan bagaimana rasanya pakai PC desktop yang satu setnya ya berikut dengan monitor-monitornya itu bisa nyampai Rp200 juta. Saya D Irfan Jaka Tib TV.
