Kencang Tanpa Kompromi Buat Kreator: Review ASUS ProArt P16 (H7606WW) (YouTube Video)
Setuju enggak? Laptop buat nyari duit itu harusnya gak cuma kencang, tapi juga harusnya mudah dibawa buat kerja di berbagai tempat. Contohnya seperti laptop yang satu ini. Bobotnya enggak nyampai 2 kilo, tebal bodinya juga enggak nyampai 2 cm. Nah, meskipun tipis dan ringan, performanya enggak kaleng-kaleng. Prosesornya AMD Ryzen AI 300 series dengan basis Zen 5. Sistem grafisnya RTX 50 series, jadi kekinian buat gaming dan content creation. RAM-nya langsung 64 gig dengan SSD 2 TB. Layarnya juga terang banget, 16600 nits dengan panel 4K OLED 100% DCI P3. Laptop untuk content creator ini adalah Asus Pro P16 keluaran tahun 2025. Oke, kalau ada yang belum tahu apa sih Pro Art ini ya. Nah, Pro Art ini adalah seri laptop dari Asus untuk content creation sebenarnya. Jadi, hardware dan software-nya dioptimalkan untuk kerjaan seperti untuk pembuatan animasi, desain 3D atau cat ya, editing video, editing foto, dan banyak lagi yang seperti itulah ya. Bahkan laptop yang satu ini sudah punya sertifikasi Nvidia Studio Laptop. Oke, langsung kita mulai pembahasannya dari spesifikasi utamanya. Untuk prosor dia pakai AMD Ryzen AI 9 HX370. Fabrikasinya TSMC 4 nanom finfet. Default TDP-nya 28 watt. Dia punya 12 core dan 24 trad yang terdiri dari 4 core Zen5 dan 8 Core Zen5C. L3 cas-nya lumayan besar di 24 MB. Integrity graphicsnya pakai AMD Radion 890M dengan arsitektur RDNA 3.5. IGP ini dilengkapi dengan 16 compute unit dan mendukung fitur rracing dan encode video AV1. Untuk NPU dia menggunakan AMD Ryzen AI dengan kemampuan komputasi hingga 50 tops. Jadi ini NPU-nya udah kencang banget. Untuk memori atau RAM yang terpasang 64 GB LPDDR 5X 7500 MHz 2 channel 128 bit. Laptop ini pakai RAM onboard ya, jadi enggak bisa di-upgrade. Tapi 64 gig itu sudah sangat-sangat mencukupi harusnya. Untuk storage juga harusnya sangat mencukupi nih 2 TB SSD M.2 NVMI PCI Gen 4x4 dan laptop dilengkapi dengan dua slot M.2. Tapi sayangnya slot SSD keduanya hanya support kecepatan PC Gen 4 by2. Harusnya sih ini bukan masalah ya, karena kecepatan SSD-nya masih bisa tembus di atas 3000 Mbps kalau dipasang di SSD PC Gen4 yang tadi itu yang keduanya. Oke, lanjut untuk diskrit GPU-nya dia pakai Nvidia GeForce RTX 5080 laptop GPU dengan virAM di 16 GB GDDR 7. Ini adalah GPU Blackwell dengan 7.680 kuda corung penuh fitur DLSSS4 multiame generation. Untuk kemampuan Enya diklaim mencapai 1334 tops jauh melampaui RTX 4080 laptop yang hanya 542 tops. Nah, untuk nilai TGP maksimalnya ada di 130 watt. Jadi, ini sesuai dengan standar dari Nvidia. Wir connectivity dia menggunakan modul MediaTek yang mendukung WiFi 7 dan Bluetooth versi 5.4. Untuk kapasitas baterainya, wah ini enggak kecil ternyata di 90 wat hour. Operating systemnya pakai Windows 1124 H2. Nah, untuk body factory tentunya clim shell ya materialnya. Wah, ini berkelas nih, aluminium materialnya. Tentunya laptop buat cari duit ini juga punya sertifikasi military standar 810H. Jadi, ini sudah teruji durabilitasnya. Untuk warna ini namanya adalah nano black. Ya udahlah ya, hitam ini warnanya ya. Untuk desain, bentuk body laptop ini terlihat mirip sekali dengan seri ROG Zevirius G16. Tapi yang beda dibandingkan versi gamingnya, penampilan Proart ini terlihat lebih profesional dengan body polos dan warnanya yang hitam dove. Ini kalaupun ada ornamen itu hanya tulisan dan logo kecil pro art berwarna hitam di sudut bawah punggung layar serta ada stiker di area palmres. Menariknya lagi, permukaan bodinya pakai AFM coating yang diklaim membuat noda atau sidik jari tidak gampang nempel. Tentunya ini harusnya membuat body laptop terlihat selalu bersih ya. Nah, untuk dimensinya panjang 35,4 cm, lebar 24,6 cm. Ketebalan di sisi paling tipis 1,49 cm, paling tebalnya 1,83 cm. Ini tipis banget untuk spek setinggi ini ya. Untuk bobot laptopnya aja di 1,94 kg. Tergolong cukup ringan untuk laptop high performance dengan layar 16 inci. Chargernya 580 gr. Ini adalah charger 240 watt. Total bobotnya kalau di bawah-bawa jadi 2,52 kg. Oke, untuk display dia menggunakan Asus Lumina Pro OLED dengan ukuran 16 inci. Resolusinya 3840 * 2400 pikel dengan aspek rasio 16 bing 10. Refresh rate-nya 120 Hz dengan respon time 0,2 ms. Tentunya ini terjadi karena dia menggunakan panel OLED. Nah, menurut Asus tingkat kecaran maksimumnya di 1600 nit di mode HDR dengan kelar gamut 100% di CP3. Nah, kalau kami ukur hasilnya tingkat kecelaan maksimalnya itu 690 nit di mode SDR. Kalau di mode HDR, wah 1558 nitz. Bentar, ini layar laptop apa layar smartphone? Ini sih terang banget ya di mode HDR ya. Bahkan saat kami syuting ini harus diturunkan ini brightestnya. Kalau enggak hampir putih semua layarnya kelihatannya. Ya, layar setang ini harusnya bikin kita tetap jelas melihat tampilan layar meskipun berada di luar ruangan atau dalam ruangan yang terang. Lalu untuk gamut covers-nya ada di 99,9% DCI IP3 dengan volume di 119,6% DCIP3. Layar ini juga sudah panton validated, jadi cocok untuk desain atau editing class profesional. Apalagi delta E-nya atau penyimpangan warnanya itu kurang dari satu. Jadi benar-benar minim penyimpangan warna. Dan dia juga punya sertifikasi display HDR True Black 1000. Jadi mantap buat streaming film atau mau main game di mode HDR juga bisa. Permukaan layar ini punya sifat yang glossy dan ini normal sih sebetulnya untuk layar OLED ya. Tapi tenang, permukaannya walaupun glossy, dia diberikan anti reflection coating. Jadi lebih minim pantulan bayangan sekitar yang dapat mengganggu kenyamanan saat ngelihat ke layar ini. Bingkai layar juga sudah mukan desain yang tipis untuk si kiri kanan dan atas dengan tingkat screen itu body rasio mencapai 88%. Menariknya, layar ini punya kemampuan touch screen walaupun laptopnya bukan convertibel. tentunya ini membuat kita jadi bisa lebih mudah saat sedang scrolling halaman website atau melakukan zoom in zoom out itu cukup pakai sentuhan jari saja ya. Nah, untuk kamera dan mikrofonnya laptop ini dilengkapi dengan kamera infrared 1080p 30 fps. Dan kamera ini sebenarnya mendukung fitur Windows Studio Effect karena kan ada NPU-nya dan kencang banget tadi ya. Tapi karena ada GPU RTX kita juga bisa menginstal aplikasi Nvidia Broadcast. Jadi fitur kameranya bisa lebih canggih dan lebih lengkap lagi dibandingkan yang Windows Studio Effect. Nah, untuk model mikrofonnya ini ada dua buah ditempatkan di sisi kanan dan kiri kamera. Kualitas gambar yang ditangkap oleh kamera tergolong cukup baik dengan noise yang sedikit ya. Sementara untuk mikrofonnya mampu menangkap suara kami dengan jelas dan jernih. Suara bising di setar kami juga bisa dihilangkan dengan baik saat fitur noise cancellation-nya diaktifkan. Oke, kali ini kita uji kemampuan kamera dari laptop Asus Pro yang satu ini. Laptop ini bisa merekam video up to 1080 p 30 fps dengan kondisi pencahayaan studio yang memadai. Hasilnya kurang lebih seperti ini. Untuk detail videonya terbilang oke. Jadi cukup banget kalau mau dipakai buat video call atau meeting online. Oke, saat ini kita coba simulasikan riya kemacetan untuk menguji kemampuan noise canceling dari laptop Asus Pro Art yang satu ini. Menurut kalian bagaimana? Apakah suara saya masih terdengar cukup jelas? Oke, untuk audionya laptop ini dilengkapi dengan bukan dua bukan empat tapi enam buah speaker. Menariknya harusnya keluaran suaranya hanya menuju ke alas laptop. Tapi uniknya suaranya juga keluar dari lubang-lubang kecil pada sisi kanan dan kiri keyboard. Padahal tidak ada komponen speaker di situ. Sementara untuk pengaturan profil dan equalizer suara itu menggunakan aplikasi Dolby Access. Bisa dibilang speaker ini menjadi salah satu nilai plus dari laptop yang satu ini ya. Suara yang dikeluarkan ini bisa menggelegar ya. Kualitas keseluran dari suaranya juga sangat-sangat memuaskan. Bahkan laptop setipis ini bisa mengeluarkan suara bass yang bulat dan dalam serta cukup mendentum sebetulnya. Jadi mantap banget yang satu ini. Oke, kita lanjut ke konektornya. Di sebelah kiri ada satu DC in, 1 HDM 2.1, ada satu USB 4 yang sudah mendukung power delivery, display output, dan perangkat-perangkat thunderbolt juga. Kemudian ada satu USB 3.2 Gen 2 Type A dan ada satu 3,5 mm audio combo jack. Di sisi kanan di sini ada SD Express 7.0 card reader, lalu ada satu USB 3.2 Gen 2 dan ada satu USB 3.2 Gen 2 Type C yang udah support power delivery dan display port juga. Nah, selain body, bentuk data terletak tombol keyboard di laptop ini juga ternyata mirip banget dengan ROG Zevirus G16. Bahkan tingkat travel distance-nya juga mirip di 1,7 mm. Jadi terasa dalam ya saat ditekan ya. Uniknya tidak seperti laptop 16 inci lainnya, keyboard ini tidak memiliki tombol 6 pad. Ini sebenarnya menguntungkan ya karena keyboard dan touchpad jadi dapat diposisikan di tengah sehingga area palm rest kanan dan kiri jadi lebih leluasa. Keyboard ini juga sudah dilengkapi dengan lampu backlit warna putih dengan tiga tingkat keserahan yang bisa kita atur dengan menan tombol function plus F4. Oke, untuk touchpad areanya ini ukurannya 15 * 9,9 cm dengan desain pinggiran atas yang tidak bertepi. Meskipun posisinya tidak sejajar dengan tombak space bar sedikit bagian telapak tangan yang masuk ke area touchpad. Jadi tidak terlalu mengganggu kenyamanan saat mengetik. Menariknya di area kiri atas touchpad itu ada dial pad. Tapi sayangnya ya dial pad di laptop ini bukan dalam bentuk fisik. Ini adalah virtual dial pad. Di sini kita seolah-olah memutar knop dengan menggerakkan jari kita di area dial pad yang berbentuk seperti lingkaran donat ini. Nah, untuk mengaktifkan dial pad kita cukup menempelkan jari kita di sudut kanan atas touchpad. Kemudian kita geser ke area tengah. Nah, dengan dial pad kita jadi lebih mudah melakukan scrubbing atau juga zoom in zoom out pada timeline di aplikasi video editor yang kita gunakan. Kita juga bisa menggunakan dipad saat melakukan color grading pada video atau gambar yang sedang kita edit. Selain itu, kita juga bisa menaikkan dan menurunkan volume suara atau tingkat kecerahan layar laptop dengan dial pad ini. Oke, untuk cooling systemnya laptop ini menggunakan sistem pendingin vaper chamber. Jadi, tidak perlu menggunakan banyak heat pipe untuk mendinginkan banyak komponen seperti prosesor, GPU, memori, dan VRM-nya. Menarik ya untuk thermal interface atau thermal paste-nya lah ya. Dia langsung menggunakan liquid metal. Ini udah seperti laptop gaming. Untuk jumlah kipasnya ini ada dua buah yang membuang udara panas ke arah belakang. Nah, di sini uniknya lubang pembuangan didesain sedemikian rupa sehingga udara panas mengalir langsung ke belakang dan tidak ada yang lewat di atas permukaan layar. Ini penting ya supaya layar olet-nya tetap aman. Oke, sekarang kita masuk dalam aspek performa. Laptop ini dilengkapi dengan lima profil performa yaitu Windows mode, whisper mode, standard mode, performance mode, dan manual mode. Nah, di mode manual kita bisa mengubah power limitor, thermal limit GPU, TGP GPU, mengoverclock GPU bahkan dan mengatur kurva kecepatan kipas. Kita bisa mengatur profil performa melalui aplikasi Pro Art Creator Hub atau dengan menekan tombol function plus huruf F. Nah, untuk pujian kali ini kami akan menggunakan mode standar dan manual ya. Untuk mode manual kita pakai dengan kecepatan kipas di 100%. Kita tes dulu pakai Ceb R23. Distabilitas selama setengah jam. Skor tertinggi yang dicapai adalah 23.464 poin di mode standar dan 24.081 poin di mode manual. Sementara skor yang bisa dipertahankan adalah 21 sampai 22.000-an ribuan poin di mode standar dan di mode performance di kisaran 23.600 sampai 23.900-an poin. Nah, untuk su kerja saat melakukan cid R23 stabilitas selama setengah jam di mode standar suprosor itu sempat naik beberapa saat ke 95 derajat celcius tapi kemudian langsung dikendalikan di bawah 90 derajat celcius. Sementara di mode manual supressor itu sempat bertahan stabil di 97 derajat celus selama pengujian berlangsung. Tapi tenang, kita kan enggak pakai sinbat buat aktivitas sehari-hari ya. Nanti kita lihat aja suya di aplikasi beneran seperti apa. Oke, langsung aja kita mulai pakai Blender 4.3.2 ya dengan barber shop scene yang berat ini. Untuk CPU rendering sesuai dalam waktu 20 menit 37 detik. Ini udah kencang. Lalu kalau pakai GPU rendering dengan kuda ini 1 menit 48 detik. Nah, su kerja ya saat melakukan GPR dengan kuda, suhu tertinggi prosesor terlihat hanya mencapai 76 derajat celcius. Sementara untuk GP-nya hanya mencapai 70 derajat celcius. Tuh, aman kan suhunya kan? Enggak ada masalah, ini 3D rendering loh. Kita lanjut lagi ke Adobe Premiere Pro 2025. Videonya 4K60, durasi 2 menit 7 detik. Untuk software only saya dalam waktu 5 menit 18 detik. Kalau pakai kuda ya tentunya kencang ya 55 detik. Untuk video full HD 60 fps yang durasinya sama, software only 1 menit 1 detik. Kalau pakai kuda hanya 19 detik saja. Nah, untuk su kerjanya pada saat melakukan 4K video sport dengan kuda su kerja prosesor dan GPU ternyata terkendali di bawah 70 derajat celcius. Lanjut ke Davinci Resolve 19.1 software class profesional tapi ini versi gratisnya kita pakai ya untuk video 4K 60 2 menit 7 detik selesai dalam waktu 1 menit 43 detik. Kencang kalau ini ya. Lalu kalau videonya full HD 60 fps selesai dalam waktu hanya 29 detik saja. Nah untuk su kerja melakukan 4K video exporting suhu tertinggi prosesor tuh terlihat bisa mencapai 87 derajat celcius. Sementara untuk GP-nya hanya bisa mencapai 69 derajat Celcius saja. Jadi masih aman. Oke, ini emang laptop content creation ya, tapi pasti banyak yang nanya kalau dipakai buat gaming bagaimana? Oke, ini hasilnya. Nah, sekarang mari kita lihat SU kerjanya pada saat kita mainkan setengah jam Assassin's Creed Miras ya. Su kerja rata-rata prosesor dan GPU di kisaran 79 sampai 81 derajat celcius. Lagi-lagi masih aman untuk bodinya. Permukaan bodinya tepatnya setengah jam main game yang sama. Untuk keyboard area paling panasnya kita temukan di tengah. Suhunya ada di kisaran 41 sampai 42 derajat Celcius. Sementara area lainnya tercatat masih aman di bawah 40 derajat Celcius termasuk di tombol WASD. Sedangkan area sebelah atas keyboard itu suhu tertingginya tuh tercatat ada di 52 sampai 53 derajat celcius. Nah, kalau area palmres itu aman di bawah 35 derajat Celcius. Oke, sekarang kita lihat kecepatan SSD-nya. Dengan kristal disma kita dapatkan bahwa kecepatan bacanya ada di 6.997 MB/ dan tulisnya di 610 MB/. Ini sih tandanya laptop ini pakai SSD PC Gen 4 yang kelas atas ya. Ya udah anggaplah 7.000 lah itu kecepatan bacanya dan kecepatan tulisnya udah di atas 6.000. Udah mantap banget. Oke, sekarang kita lihat dari tahan baterainya. Kita pakai brand 150. Volume di 25% dengan mode standar dan layar tetap di 4K 120 Hz. Untuk 1080p local video playback, baterai habis setelah 12 jam 6 menit. Untuk spesifikasi monster ini, ini sudah tergolong irit sebetulnya ya. Oke, untuk charging sekarang kita lihat 30 menit pertama terisi di 58%. Nah, sampai 90 menit sudah terisi 99%. Dan untuk mengisi dari kosong sampai penuh itu butuh waktu 1 jam 44 menit. ini lebih cepat dibandingkan standar kami yang di 2 jam. Dan ingat ini baterainya bukan baterai kecil ya. Oke, untuk harganya laptop ini memiliki harga pasaran di Rp59.999.000 R000. Dan laptop ini dijual eksklusif di Asus Online Store. Untuk bonus pilihannya dia dapat Microsoft Office Home 2024 yang aktif selamanya tentunya dan ada juga langganan Microsoft 365 selama 1 tahun, langganan Creative Cloud 3 bulan dan CapCut Pro 6 bulan. Lalu ada Asus ProArt Backpack ya. Untuk garansinya khusus untuk Pro Art Series per 1 Oktober 2025, Asus memberikan 3 tahun international warranty dengan 3 tahun Asus VIP perfect warranty. Ini luar biasa sih. Luar biasa. Ini menarik banget ya. Karena biasanya VIP perfect warranty itu cuma 1 tahun, ini 3 tahun. Kenapa menarik? Karena dengan VIP perfect warranty, Asus Indonesia akan menanggung 100% biaya perbaikan dan suku cadang untuk kerusakan akibat kelalaian pengguna. Nah, Asus VIP pr warant ini bisa digunakan atau diklaim lebih dari satu kali selama masa garansi. Sebelumnya itu cuma satu kali dan di tahun pertama saja. Sementara untuk international warranty kita bisa melakukan klaim garansi di luar wilayah Indonesia selama Asus ada di negara tersebut dan servis resminya tersedia ya. Oke, langsung aja kita masuk dalam hal yang perlu diperhatikan. Pertama, supressornya agak tinggi di mode performa yang paling tinggi. Kalau aplikasi cenderung membebani sisi prosesornya saja. Tapi tenang, aplikasi content creation terbaru umumnya bisa menggunakan prosesor dan GPU secara berimbang. Jadi supressornya tidak akan setinggi kalau kita ngetes cine the bench ya. Lalu, RAM-nya ini enggak bisa di-upgrade tapi udah 64 gig ya. Jadi harusnya enggak ada masalah juga. Nah, dari segi menariknya bodinya nih relatif tipis dan ringan untuk laptop yang benar-benar high performance dengan ukuran layar 16 inci. Penampilannya ini profesional. Lalu dia udah pakai pressure AMD Ryzen AI 300 series. Enten banget buat multitasking. Siap buat menjalankan aplikasi content creation yang butuh jumlah core melimpah ya. Siap juga untuk jalan aplikasi yang butuh NPU kencang. Dan dia udah pakai RTX 5080 buat content creation yang serius seperti editing video 4K60, editing foto kelas profesional, desain 3D atau cat atau bikin animasi bahkan ya enggak ada masalah. Kencang juga buat dipakai buat main game triple A yang berat dan game kompetitif kalau dibutuhkan. siap juga menjalankan aplikasi AI yang support RTX 50 series. Lalu di sini juga ada opsi pengaturan kecepatan kipas ya. Lalu arah pungan udara panasnya itu enggak kena layar. Penting banget nih kapasitas RAM-nya dan SSD-nya ya yang bawaan standarnya aja udah masif dan dia masih bisa pasang SSD. Kedua, layar terang banget 1600 nit dan layar ini sangat mewah ya untuk editing atau gaming ya di 4K ya. Lalu untuk baterainya tergolong irit sebut untuk speknya. Charging pun di bawah 2 jam. USB 4 udah ada, SD card leader ada, Wi-Fi-nya udah WiFi 7 dan kualitas suara dari speakernya ini sangat-sangat memuaskan. Kemudian dia dapat garansi internasional tepatnya ya dan ada garansi yang akan menanggulangi kesalahan kita sendiri terhadap laptop ini selama 3 tahun. Nah, jadi Asus Pro Art P16 keluaran tahun 2025 ini cocoknya buat siapa sih? Harusnya cocok buat kalangan content creator atau siapapun yang butuh alat kerja yang kencang tapi masih mudah dibawa-bawa. Harusnya sih laptop kayak gini bikin kita lebih mudah presentasi di depan klien ya. Langsung aja bawa laptopnya lalu presentasi depan klien dengan aplikasinya. Enggak perlu pakai file hasil rendernya segala enggak usah. Jadi langsung aja di depan klien kalau dibutuhkan, ya. Kemudian yang butuh mesin untuk editing video. Wah harusnya cocok banget sih laptop satu nih ya. Mau ngedit video 4K60 enggak ada masalah di sini. Mau editing video AV1 atau yang color formatnya 422 juga enggak ada masalah. GP-nya udah support ya. Lalu untuk yang kerjaannya desain 3D, desain cat ya atau animasi cocok juga yang satu ini ya. Apalagi kalau aplikasinya emang support RTX 5080. Mau dipakai untuk jalan aplikasi AI juga enggak ada masalah ya. Asalkan aplikasinya emang support NPU di prosessor atau tensor core dari GPU-nya. Mau dipakai buat coding? Iya harusnya kencang banget. Pastikan saja aplikasi pemogramannya emang cocok dengan laptop yang satu ini atau mau dipakai sebagai mesin gaming untuk game triple A atau game kompetitif? Ya bisa juga sih. Apalagi kalau butuhnya penampilannya profesional dan masih minim ornamen gaming bisa. Pada akhirnya kalau memang butuhnya laptop high performance yang relatif tipis dan ringan dengan spek spesial untuk content creation, Asus Pro Art P16 ini adalah salah satu pertimbangan yang sangat menarik untuk kelas premium. Saya D Irfan Jak
