Ketika Poco Gak Cuma Jualan Performa aja ! Unboxing POCO F8 Series (YouTube Video)
Beli kerupuk di warung buratih, Poco F8 series bikin brand lain letih dan merintih. Audionya dituning sama Bus yang memang terlatih performanya enggak bikin nge-game tertatih-tatih karena skor agutunya setinggi vokalis Krispati. Ya udah enggak usah nyimpan kekasih. Selamat menonton. Aura Kasih. [musik] Hai Andika. Guys, di sini. Jadi, di depan saya ini ada Poco F8 Pro dan juga Poco F8 Ultra yang sebenarnya dia ini penuh gimik dan juga intrig karena Poco yang kita kenal itu biasanya HP yang performance kategori kencang ya selalu dipegang sama Poco. Tapi di seri F8-nya sekarang mereka enggak cuma jual mesin aja, mereka enggak cuma jual gengsi aja, tapi juga fungsi. Chipsetnya walaupun yang Pro sebenarnya masih pakai chipset kencang juga. ini pakai Snapdragon 8 Elite. Sementara yang Ultra ini pakai chipset terbaru yang sama kayak di IQ 15 atau 15 Snapdragon 8 Elite Gen 5. Dan ngomongin soal IQU, kemarin si Poco bikin ulah lagi ya. Tapi sekarang udah agak lebih sopan lah. Jadi enggak balas di komenannya postingannya Ikiku. Tapi dia posting sendiri postingannya itu oh masih segitu aja. Kayak ped banget gitu puku ya. Emang dia bisa apa? Yuk, kita bahas. Kalau dari ski Box, boknya masih ciri khasnya Poco, cuman bedanya tahun ini nih ada tulisannya nih, sound by Bus. Bus itu memang terkenal audio yang lumayan pricey ya, lumayan mahal. Jadi saya enggak bayangin berapa Poco bayar ke bus ini ya. Gila, pasti mahal banget sih ya. Ini ada yang Pro, ada yang ultra. Kita coba buka dulu yang versi Pro. Kalau dari bok sih kayak ya mirip-mirip aja cuman beda sedikit karena memang dari sisi layar dimensinya beda ya. Nah, di dalam paket pembeliannya untuk yang versi Pro beberapa ya seperti biasa. Terus kita juga dapat casing juga. Casing-nya warna hitam bukan yang transparan, tapi disclaimer dulu unit yang kita bahas ini adalah unit yang saya dipinjamin sama Poco dan ini bukan versi resmi Indo ya. Karena dilihat dari bok belakangnya tuh enggak ada TKDN-nya. Kalau yang biasanya Taren Red itu ada pabriknya di mana? Bahasa Indonesia juga. Ini enggak ada. Nah, untuk PU F8 Pro desainnya kayak gini nih. Hmm, ya masih mirip-mirip ya. Masih empat tungku kayak gini. Cuman bedanya ada tulisan sound bybost dan ini masih plastik. Tapi masih plastik sih, tapi plastiknya udah enggak kopong kayak Poco biasanya ya. Ini ada speaker magnet yang nanti mau saya bandingin sama speaker busnya. Tuh, dia enggak nempel ya. Apa memang dia enggak ada wireless charging ya? Tuh, enggak nempel di sini. Oke, untuk yang ini 6,59 inch. Kita taruh sini dulu. Terus ini ada yang ultra. Nah, yang ultra ini. Nah, yang ultra ini dapatnya masih mirip-mirip aja ya. Sim ejector, terus juga kabel. Kabelnya apakah ya? Sayangnya masih type A to type C. Beda ya kalau si Advance Macha kemarin. Padahal entry level dapatnya udah type C to type C. Gokil sih Advan Maca kemarin. Terus keduanya sama-sama punya adapter 100 watt, cuman bedanya kalau yang ultra. Nah. Nah, dia ada wireless charging-nya ya. Wireless charging-nya itu di 50 watt dengan reverse wireless charging-nya di 22,5. Sedangkan yang pro dia enggak ada wireless charging. Tapi kalau soal reverse wired-nya atau dia jadi power bank bisa. Dan untuk kapasitas baterainya karena yang ultra ini secara dimensi lebih bongsor, lebih gede. Jadi dia lebih gede juga baterainya itu di 6.500 mz. Sementara yang Poco F8 Pro di 6.210 mA. [musik] Kalau untuk desainnya sih mirip-mirip sebenarnya, cuman feel-nya lebih enak yang ultra sih ya. Yang ultra ini pakai bahan material yang dinamain One Piece Milk Glass. Jadi dia kayak ada feel keramik-keramiknya yang dingin. Dan yang saya suka tangan saya ini cepat banget basah. Dan ini udah basah nih. Kelihatan enggak? Keringatan ya. Dan dia enggak nempel sama fingerprint yang pro. Sama juga karena dia dibikin kayak mid-mid gitu walaupun ini silver ya tapi enggak nempel sama fingerprint. Terus bedanya lagi untuk yang seri ultra coba kalian lihat apa bedanya. Nah ini nih [musik] kamera yang di sebelah sini tuh dia ada lensa periscope-nya. Jadi akhirnya Poco enggak cuman jualan performa lebih kepakai aja lebih allrounder. Jadi audionya Bost terus lensanya juga pakai lensa periscope sekarang. Cuman buat kalian yang mungkin gak terlalu suka pakai HP itu dengan dua tangan, ya pilihnya harusnya yang pro ya. Ini sambil kita nyalain ya, sambil kita instal beberapa aplikasi untuk hands on. Karena kalau misalkan yang ini yang kecil yang pro ituisa bisa nih. Tuh aksesnya mudah, tapi kalau ini karena gede harus pakai dua tangan. Jadi komitmen-nya harus dua tangan ya. Kalau untuk layarnya sih masih nempel fingerprint dan dia enggak mid ya. Tuh masih reflek ini juga yah. sayangnya dia belum punya layar yang mid. Oke, jadi dua HP ini udah saya instalasi untuk hands on. Tapi ini bukan review ya. Ini kita hands on dulu karena saya juga ada NDA sama Poco dan harganya pun saya juga belum tahu berapa tapi kalau misalkan dia udah posting di IQ oh masih segitu aja. Jadi seharusnya sih lebih murah dari IQ ya. IQ itu kalau enggak salah di Rp jutaan untuk yang varian terendah tapi ya dan sampai Rp15 jutaan untuk yang varian 1 TB. Entah tuh ada yang beli atau enggak yang varian 1 TB. Tapi kalau buat saya sih 512 GB cukuplah ya. 256 sih emang kurang. Oke, karena saya penasaran, saya pengen bandingin. Kalau kalian lihat di sini ada speaker portable. Saya tuh penasaran ini cuman gimmik aja audionya BBUS. Karena sepengetahuan saya selama saya ng-review ini sekencang-kencangnya speaker HP ya segitu-gitu aja. Kalau mau enak harus pakai speaker eksternal. Jadi saya akan bandingkan yang ultra ini dengan yang pro. Kalau misalkan kita kasih speaker eksternal yang saya beli cuman harga Rp79.000 kalau enggak salah ya. Dan apakah enak ya walaupun audio itu susah untuk kalian dengarkan karena tergantung device kalian juga tapi akan saya ceritain lah ya gimana. Sekarang kita coba dulu untuk yang bos ini kita setel lagu Mangu Remix lah ya karena ini yang enggak copyright dan dia ada bassnya jadi enak aja. Ini kita pakai volume 100%. Bentar masih iklan. Widih. Coba kita taruh meja biar eko ya. Ini volume 100% [musik] dan basnya itu masih kerasa ya. Oke, sekarang kita coba yang dia dituning sama bus, tapi dia enggak ada speaker 2.1-nya ya. Kalau ini kan ada nih di sini nih. Nah, ini ada twitter sama woover-nya. Kalau ini cuman Twitter aja. Dia enggak ada wover-nya walaupun sama-sama [musik] diuning sama bus karena kayaknya PU enggak mau rugi ya. Kita udah kerja sama di puku F8 ya walaupun enggak ada speaker woover-nya ya harus ada tulisan sound bybost [musik] gitu biar lebih menjual. Mungkin kayak gitu ya. Sekarang kita coba. Wah, beda jauh sih, Guys. Jauh, jauh. Ini gak bnya beda sih, ya. Rasanya kayak habis makan apa ya? Kayak karena habis nyobain 120 Hz, terus 60 Hz gitu. Tapi ini di [musik] speaker. Coba ya kita ulang ya. Coba dengerin ya. Enak banget sih. Ini [musik] enak banget sih. Tapi sekarang kita coba yang pro ya. Tuh langsung kayak [musik] gitu. Cuman sebenarnya kalau dibilang dia adalah HP yang pakai audio audio bukan audio eksternal ya kayak buin audio sebenarnya dia bukan yang pertama kali karena Nubia Musik itu udah pernah pakai. Cuman bedanya Nubia Musik itu enggak bayar bus, enggak kerja sama sama bus gitu ya. Tapi saya penasaran kalau misalkan kita tambahin speaker eksternal yang harga Rp70.000 ini yang sebenarnya dia magnetic ya. sayangnya untuk yang pro ini dia enggak magnetic sih. Engak apa-apa deh magneticnya kita taruh di sini tapi kita sinkronin ke si Pro ya biar dia bisa nempel gitu. Btw kalau waduh ini bukan bukan speaker murah sih ya. Karena speaker murah itu biasanya ee kalau misalnya kita nyalain Bluetooth device itulah ya saya lupa lagi. Itulah. Oke, kita udah pairing. Oke, sekarang kita taruh di sini karena yang ada magnetic [musik] wires-nya ini. Dan sekarang kita coba compare sama boost yang ultra ya. Dengar enggak kalian ada suara pecahnya ya? Coba kita turunin volume di 80% ya. kok enggak enak enggak enak guys jadi suaranya itu gembret gitu bassnya ada tapi bassnya itu bass yang pecah gitu ya coba ya kalau kalian bedain lagi ya aduh ini gimana jelasinnya audio itu memang agak susah dijelasin tapi semoga kalian bisa dapat gambaran ya ini nih kalau misalkan pakai speaker bus yang di ultra [musik] suaranya tuh empuk gitu Enakuk walaupun memang dia enggak seimersif atau enggak sekencang yang [musik] speaker eksternal. Coba ya lagi ya. Ini speaker eksternal nih. Pecah kan? [musik] Ada pecahnya kan? Coba saya kurangi lagi volumenya. masih ada kemerek-kemereseknya. Mungkin kalau misalkan kita beli yang harganya agak mahal ya Rp150.000 enggak kayak giniilah. Ini menurut saya sih ya sesuai dengan harganya lah ya Rp70.000 cuman dia menangnya magnetic. Terus dia ada RGB-nya kayak gini. Tapi kalau dibilang HP ini gimmik karena speakernya sebenarnya enggak kencang-kencang banget. Tapi setelah saya cobain, wah kencang sih. Awalnya ketika saya lihat tech review lain yang mereka launching ke Bali waktu itu saya enggak ikut. Yang datang itu Azura kayak ini enggak mungkin [musik] deh speaker sekencang ini. Tapi ternyata kencang loh tuh dan bersih gitu suaranya. Enggak gembret kayak yang ini. Okelah ya. Saya kirain cuman bakalan [musik] gimik gitu. Tapi ternyata buat kalian yang mungkin penggemar ya bukan audio fil juga ya karena suaranya cuman sendiri. Tapi kalau buat kalian yang mungkin [musik] suka dengerin lagu terus lupa bawa TWS atau kalian suka dengerin lagu langsung di HP ini enak sih. Karena kalau misalnya kita bawa yang kayak gini ya tuh distribusi [musik] beratnya itu jadi enggak enak dan lebih berat aja HP-nya. Cuman bedanya lagi pas tadi saya search ya lagu Mangu di YouTube ini bedanya ada di heptic feedback sih guys. Heptic feedback-nya yang ultra ini enak banget. Jadi kayak feel flagship-nya itu masih kerasa gitu. Kayak mirip sama Xiaomi 15T. Nah, enak gitu ttailnya. Ttil yang enak, enggak geli semuanya. Ini kayak HP midrange pada umumnya [musik] sih ya. Tuh, getarnya itu masih getar-getar yang kurang mahal gitu. Masih getar-getar yang geli-geli gitu. Kalau ini udah enak, udah kayak tombol ttile benar-benar kayak ada tombol keyboard-nya. Tapi kalau ini feel heptic feedback-nya kayak B aja. Padahal ya kalau kita ngomongin layar sebenarnya layarnya ini mirip-mirip aja secara spesifikasi cuman beda dimensi aja. Jadi untuk yang ultra itu dia pakai AMOLED terus 120 Hz belion HDR10 Plus 3500 nit [musik] speak brightness-nya sama kayak versi yang Pro. Jadi kalau kalian lihat sama kan apalagi baselnya ya. Basel-nya baik yang pro ataupun ultra itu juga sama-sama tipisnya dengan screen to body rationya itu di hampir 90%. Cuman bedanya mungkin ini ya, kalau misalkan yang ultra dia itu proteksinya pakai yang namanya Corning Gorilla Glass 7i. Kalau yang ini dia pakai Poco Silk Glass. Udah bedanya di proteksi itu aja. Dan kalau kita mauin reflek, sayangnya masih cukup reflek walaupun brightness-nya picknya gede ya. Jadi kalau misalkan di outdoor kita tinggal kencengin aja sih brightness-nya ya. [musik] Coba kita kencengin ini di sini terus kita tembak. Tuh masih terlihat cukup nyaman ya. Tapi apakah akurasinya sama? Nanti ya kita tes di video review-nya. Nah, kita sekarang masuk ke performa. Performanya kalau yang Pro itu pakai Snapdragon 8 Elite. [musik] Sementara untuk yang ini pakai Elite Gen 5. Nah, ini nih bedanya nih ya. Kalau yang pro itu dia 3,1 juta. Ini Rp3,6 [musik] juta. Sebenarnya selisih Rp500.000. Kalau di real skenario harusnya enggak selisih yang gimana-gimana. Ini pun juga pasti kuat untuk main game Bootering Wave. Cuman nanti ya di video review-nya aja. Sekarang kita coba bahas kameranya ya. Karena kameranya menarik. Yang ultra ini sekarang udah ada periscop-nya. Kalau secara spesifikasi yang varian Pro ini ya, dia 50 megapel main kamera terus telefotonya 50 [musik] megapel tapi enggak non periscope. Terus ultrawide-nya cuman 8 megapel. Sementara untuk yang pro semuanya itu 50 megapel dan lensanya yang ini nih ini ada periscop-nya. Terus selfie kameranya juga beda. Kalau yang varian yang pro ini 20 megapel. Sementara yang ultra di 32 megap. Nah, hasilnya gimana? Coba deh kita tes di luar tipis-tipis lah ya. Biar review-nya juga masih banyak sampelnya. Oke, jadi ini adalah kualitas kamera dari Poco F8 series ya. Yang kiri yang ini itu yang ultra dengan resolusinya bisa 4K 30 FPS. Sementara yang kanan itu Poco F8 Pro. Dia enggak bisa 4K 30 fps, tapi bisa 1080p 60 fps. Nah, kira-kira perbandingannya kayak gini. Kalau misalkan saya gunain untuk jalan ya. Walaupun 4K 30 FPS-nya patah-patah, tapi dia lebih detail ya. Sebenarnya untuk Poco F8 Ultanya bisa diturunin ke 1080 FPS. Cuman biar ada bedanya ya ini makanya saya kasih di 4K 30 fps biar kalian bisa tahu nih perbedaannya. Nih, kalau 1080 60 fps di Pro itu lebih halus karena 60 fps. Tapi karena 4K dia jadi lebih detail. Terus untuk dynamic range kayak mirip-mirip aja ya. Iya enggak? Tembok putih di belakang tuh jadi satu sama langit. Tapi kayaknya di seri Pro lebih bagus dami-nya ya kalau 1080p ya. Nah, dan kalau misalkan diguna untuk jalan kira-kira seperti ini nih. Sekarang kita coba untuk kamera belakangnya. Nah, kalau ini sekarang kamera belakangnya 4K 60 FPS. Kira-kira seperti ini. Bedanya kalau di puku F8 ultra, ultrawide-nya itu bisa 4K 60 FPS, sedangkan yang pro enggak bisa ya. Jadi, pilihan ultrawide-nya hilang. bisanya harus diturunin dulu nih resolusinya ke 1080 P 60 FPS baru bisa ultrawide. Nah, kalau yang ultra nih langsung bisa ultrawide kemin dua kali 5 kali dan karena ada periscop-nya jadi coba ya kita cek untuk lensa telinnya kita coba zooming area sini deh. Area ini deh bunga ini ya. Nah, ini dua kali. Ini lima kali di ultra. Ini 2,5 kali di Pro dan ini lima kalinya. tuh terlihat lebih detail di ultra ya karena dia pakai periscop. Coba kalau misalnya kita geser ke sana detailnya tuh di ultra dynamic ris-nya lebih bagus. Nah, seperti ini. Dan kalau misalkan kita gunain untuk jalan, kita coba di sini deh di lorong ini biar kalian bisa lihat gimana stabilnya ketika melewati lorongnya. Mirip-mirip aja ya. Cuman main kameranya lebih bagus di seri ultra sih. Terus apagi ya soal IP rating? Sekarang IP rating-nya juga udah IP68 dan F-nya, wah kalau saya sih disuruh milih [musik] ya. Saya bakalan pilih yang ultra sih karena feel-nya ini beda banget. Ini kayak keramik gitu loh. Keras solid. Wah enak banget digenggam. Terus dia micro curve artinya itu dia enggak yang langsung lancip. Jadi ada curve-nya kecil. Kalau dipegang itu enak [musik] dan enggak gampang nempel fingerprint. Tapi itulah ya, hands on tipis aja karena nanti review-nya masih kita tes. Ini review-nya beberapa udah ada sih, tapi nunggu nanti aja lah. Nunggu nanti review-nya. Dan harganya jujur pas video ini dibuat saya pun juga belum tahu berapa ya. Tapi kalau kita lihat ya harusnya sih lebih murah dari IQ lah ya. Karena kalau misalkan dia lebih mahal dari Iku, buat apa kemarin posting oh masih segitu aja. Harusnya sih di bawah R juta prediksi saya untuk [musik] yang ultra ya. Kalau yang pro sih harusnya lebih terjangkau karena terlihat dari hepch feedback-nya yang lebih enak ultra terus enggak ada wooover-nya dan enggak ada periscop. Harusnya sih di bawah R juta Rp8 juta enggak sih harusnya ya. Cuman saya belum tahu ya. Mungkin itu dan kalau misalkan kalian punya pertanyaan titipan buat ng-review [musik] dua HP ini, kalian tulis aja di kolom komentar ya.
