Ketika RAM Mahal, Laptop Infinix Tetep SEDEKAH 🔥🔥!! (YouTube Video)
Infini kembali bikin brand lain terusik karena gimana enggak terusik di harga yang sama Infinix kasih spesifikasi yang lebih baik di mana yang lainnya malah ngasih gimmik. Laptop yang akan kita bahas ini enggak cuman bisa buat ngetik tapi udah bisa buat editing sampai gaming yang asik. Ya udahlah ya, enggak usah kebanyakan berisik. Selamat menonton Menteri sok asik. Hai Andika, guys. Di sini jujur saya itu lumayan bingung ya sama brand yang namanya Infinix. Mereka itu niat jualan atau niat sedekah. HP-nya murah, kemarin ngeluarin TV murah, sekarang laptopnya juga murah. Coba bayangin aja deh ini Infinix X harganya R jutaan. Kalau kita lihat harganya dan dari luar ya kayak masih masuk akal ya. Tapi kalau kita lihat dalamannya dia udah pakai Ryzen 7 HS series. HS itu kepanjangan dari handicas enggak ya? HS itu high performance slim. Ini prosesor yang biasanya ada di laptop gaming yang slim tapi sama Infinix ditaruh di laptop yang harganya R jutaan. Ini termasuk salah satu yang paling murah sih ya. Ibaratnya kita beli Avanza, tapi ketika kita buka kap mesinnya kita dapatnya mesin 2GD. Enggak nyambung sih, tapi kencang. Coba cek kompetitornya deh. Di harga segini biasanya itu dapatnya Ryzen 5 atau prosesor seri U. Nah, buat yang cari performance U itu kepanjangan dari udah sabar aja karena beda kasta kencengan ini. Tapi sebenarnya kalau kita ngomongin harga bukan cuma Infinix aja sih ya, Advance Heritage juga pakai prosesor HS tapi biasanya beda brand itu beda tuningan. Jadi gimana tuningannya si Infinix XB1 ini? Yuk kita bahas. Di atas kertas sih kalau kita lihat dari sisi material dan juga spesifikasi, wah ini sih kencang ya. Cuman biasanya kalau kita bangun rumah, kita punya material yang bagus, tapi tukangnya enggak pintar-pintar amat, ya outputnya jelek. Sama kayak laptop. Kalau misalkan prosesornya hardware-nya bagus, tapi tuningannya enggak optimal, ya percuma output-nya enggak bagus-bagus banget. Nah, si Infinix ini pakai prosesor AMD Ryzen 7 7735 HS 8 Core 16 th. Prosesor yang biasanya dipakai di laptop gaming tipis. GPU-nya pakai AMD Radeon 680M. Ini GPU bawaan yang bisa bikin GPU discr dulu ya sekitar 2 tahun lalu. Itu minter. RAM-nya dual channel 16 GB dengan speed 6400. Onboard udah mentok jadi enggak bisa di-upgrade lagi. Untungnya SSD-nya M2 NVME 512 GB yang speed-nya lumayan kencang. Terus masih ada satu slot kosong kalau mau upgrade storage. Nah, dengar-dengar ke depan diprediksi harga RAM dan SSD itu bakal naik. Jadi kalau misalkan laptop ini tahun depan naik ya beruntunglah kalian yang beli di awal-awal tahun ini ya. semua laptop sih ya sebenarnya ya bukan cuma Infinix aja. Nah, sekarang coba kita lihat gimana tuningannya laptop ini. Seperti biasa pertama kita masuk ke ritual wajib dulu ya. Ceb R23 di sini kita pakai mode overbost. Nah, mode overbost-nya ini kayak pakai cheat GTA gitu cara masukinnya ya. Tinggal tekan Fn O. Overbost itu kan dari kata O. Nah, ditekan aja dia bakalan masuk mode itu. Dan skor multicore-nya langsung di R23 itu bisa tembus di 11.000-an 1000an poin dan single core-nya di 1455 poin. Nah, ujian sebenarnya ya gimana performanya itu kalau chargernya kita cabut? Karena kebanyakan laptop Windows kalau charger dicabut performanya langsung kayak siput. Ternyata si Infinix ini enggak ya. Pas dicabut skornya cuma turun di sekitar ya R.000-an lah. Dan single core-nya malah anomali naik dikit ke 1481. Ini laptop sih konsistennya bagus. Mau dicolok atau enggak dia tetap aman. Dan yang bikin kita kaget pas kita lihat suhunya sih ya biasanya AMD seri HS itu panasnya lumayan. Tapi di sini pas awal running emang dia agak kaget ke 85 derajat, tapi habis itu dia anteng di 65 derajat celcius. Ini kayaknya cooling systemnya Infinixi pakai ilmu hitam ya. Tapi ada satu hal sih yang bikin kita agak garu-garuk kepala pas kita tes di Time Spy stress test look. Karena dia enggak lolos dengan skor kestabilannya itu cuma 94,8%. Kenapa? Kalau analisa kita sih karena dia kaget di awal ya. Kalian lihat aja chartnya. Pas baru mulai suhunya itu sempat loncat ke 95 derajat sebelum akhirnya adem lagi ke 80-an. Jadi dia itu kayak orang panik awal-awal dikasih soal ujian, terus habis itu santai. Apakah jelek performanya? Enggak sih ya, cuman chartnya jadi kayak gak bagus aja. Terus kalau untuk skor lain kalian bisa lihat di sini kita tes juga di Time Spy, Fack dan juga Solar B. Teori udah dengan benchmark sintetic tadi. Sekarang kita coba praktik. Kita coba praktekin performanya di real skenario untuk editing. Buat yang hobi ngedit di Premier, perlu laptop ini satset render video 4K. Durasi standar cuma butuh 4 menit 16 detik. Kalau diturunin ke full HD, selesai dalam waktu 2 menit 51 detik. Ini lumayan cepat loh ya, kalian tinggal nyeduh copy aja rendernya udah kelar. Buat yang iseng main 3D di Blender dengan template BMW pakai CPU-nya cuma 3 menitan, kalau pakai GPU-nya 4 menitan ya masih sangat ok lah ya buat yang pengen belajar 3D. Kalau kalian gunain laptop ini cuman untuk kerjaan Microsoft Office Office Office ya, ini terlalu overkill sih ya. Ibaratnya kalian motong bawang tapi pakai pedang samurai. Or PPT ke PDF 150 slide cuma kedip 8 detik aja selesai. Ngolah data Excel yang ribuan baris, large cuma butuh 48 detik. Terakhir, karena sekarang zamannya AI. Walaupun laptop ini sebenarnya belum ada NPU-nya, tapi kita paksa aja ya. Kita coba pakai Mus AI buat generate gambar. Pakai model Jager Note butuh 2 menit 8 detik. Lama ya lumayan sih ya. Tapi pas pakai mode SDXL Turbo cuma butuh sekitar 26 detik. Ya, walaupun dia gak punya otak khusus NPU, tapi kalau dibuat untuk stable diffusion tipis-tipis aja masih bisa. Nah, sebenarnya laptop ini bukan laptop gaming, tapi gak apa-ap lah ya. Kita cobain si Infini ini kita ajak nakal dikit. Sanggup enggak dia kalau misalkan diajak gaming? Pertama menu wajib anak warnet. Kita coba di Valoran. Game ini kan manja banget sama CPU ya atau CPU bond. Jadi harusnya Ryzen 7 HS ini ya ketawa doang. Settingan kita di full HD plus grafik low biar kompetitif kayak pro player padahal biar makin ringan aja hasilnya. Beh cakep sih ya. Average FPS dapat di 169, max-nya tembus di 224. Pas lagi war rusuh pun dropnya cuma di 147 FPS. Lanjut ke Dota 2. Kita set grafik di fastest. Ini juga enteng. Rata-rata dapat 81 FPS. Pas lagi clash rameai jurus kelar semua dia anteng di 72 fps. Aman jaya. Jadi enggak ada alasan buat feeding gara-gara patah-patah. Kecuali kalian internetnya pakai Home mungkin ya patah-patah ya. Nah sekarang kita naikin levelnya dikit. Kita coba main game wibu yang open board Wering Wave. Kita pakai setting ultra performance dan limit 60 fps-nya kita nyalain dan hasilnya surprisingly playable. Rata-rata dapat 46 fps, maksimumnya di 56 fps kalau lagi drop ke 35 fps tapi masih enak dilihat. Buat laptop yang enggak punya VGA disrit bisa jalanin WA selancar ini sebenarnya udah prestasi ya. Tapi WA ini game gacah. Jadi kalau gajahnya lancar mungkin dompetnya yang enggak lancar. Terakhir kita sisa dia pakai game yang berat. Game triple E Cyberpunk 2077. Ini murni eksperimen ya, ibarat nyuruh mobil LC gizi, balapan di sirkuit F1. Resolusinya masih nekat pakai di full HD plus. Grafik rata kiri, DLSS mati. Retracing juga mati. Ya, masa iya nyala hasilnya ya dia berjuang keras sih dengan rata-rata dapat 27 FPS, maksimum 34 FPS. Pas lagi ramai dropnya bisa ke 18 FPS. Rasanya itu kayak main game di konsol jadul. Jadi agak-agak slow motion cinematik gitu. Saran saya sih kalau misalkan mau mainin game Cyberpunk maksa banget ya resolusinya jangan gengsi harus diturunin ke 720p biar lebih playable. Suhu permukaan pas kita coba main game Cyberpunk selama sekitar setengah jam suhu tertingginya itu di 41,8 derajat Celcius. Dan buat tombol yang sering kita pakai main game kayak contohnya itu WAD itu masih di 38,8. Jadi masih aman. Dan kalau kita lihat suhunya ketika main game Cyberpunk prosesornya itu rata-rata di 77 derajat celcius. Aman banget 77 itu buat prosesor AMD. Lanjut kita bahas untuk baterai. Baterainya ini punya kapasitas 55 watt hour dan pas kita main Cyberpunk selama sekitar 10 menit berkurang 7%. Kalau buat kegiatan ringan, nonton YouTube 10 menit berkurang cuma 2%, ngetik dan ngebuka banyak tab secara barengan 10 menit berkurang 1%. Kalau kita coba di PC mark 10 dengan skenario modern Office, brightness-nya di 50%, dia bisa bertahan sekitar 12 jam 47 menit, hampir 13 jam. itu lebih lama dibandingkan waktu kerja kalian, kecuali kerja kalian itu lebih dikerjain daripada kerja yang kerjanya lebih dari 13 jam enggak dapat gaji lembur. Nah, yang saya suka walaupun prosesornya kencang, terus baterainya juga lumayan awet, tapi bobotnya ini tergolong ringan. Dia cuma ada di 1,18 kg. Masih bisa dibilang laptop tin and light yang enak dibuat kerja mobile harian. Diajak keluar rumah, ke kafe atau ke kantor pun enggak perlu repot. Tinggal masukin ke backpack atau tootback. Dan ngomong-ngomong dibawa keluar, saya suka sih ya sama desainnya Infinix ini. Dia gak neko-neko, gak terlihat sorry norak. Bodinya ini tipis pakai material aluminium alloy bukan king aloy ya. Aloy yang metal yang di finishing clean minimalis yang bikin kelihatan profesional enggak ramei. Walaupun laptopnya tipis tapi dia udah ada sertifikasi military standar 810H yang kalau misalkan kalian banting eh jangan dibanting sih. Kalau misalkan enggak sengaja kebanting kepentok itu senggaknya masih aman. Sekarang kita tes ritual wajibnya di KID ya. Kita angkat dengan satu jari aja. Be jadi exel-nya mantap. Bagian bawahnya enggak ikut keangkat. Rasa laptop mahalnya masih dapat. Begitu kebuka kita disambut layar 14 inch full HD plus. Rasionya 16 bing 10. Jadi agak lebih kotak ya, lebih tinggi. Basel-nya juga lumayan tipis dengan screen to body rasionya itu 91%. Jadi buat kerja harian, buat ngetik dokumen, bikin PPT atau split screen kiri browser kanan word. teksnya tajam, lega, dan enggak burem sama sekali. Jadi, mata itu kayak dimanjakan. Tapi, y, sayangnya masih ada tapinya sih ya, terutama buat kalian desainer grafis atau color critical. Karena pas kita tes akurasi warnanya itu sRGB-nya cuma dapat di 51%, adob RGB 38%, NTC-nya di 36%. Bahasa manusianya warnanya agak pucat. Jadi kalau kalian paksain ngedit di sini agak bahaya buat klien sih ya. Karena di laptop bisa kelihatan keren pas dibuka di HP-nya klien warnanya itu jadi orange neon gitu. Intinya enggak pas lah warnanya. Sama satu lagi, bikness-nya cuma mentok di 270 unit. Kalau dipakai di dalam ruangan sih aman. Tapi kalau kalian mau kerja odor pas matahari lagi trik-triknya, terus kalian milih di Cafe dekat jendela, y sih agak lumayan PR. Di bagian atas ada webcam yang kira-kira seperti ini kualitasnya ya. Standarnya webcam kantoran lah ya. 720p 30 fps. Saran saya sih beli webcam ekstra aja lah. Coba kalian lihat noise-nya. Karena standar banget webcam-nya. Kualitas speakernya juga masih standar. Belum yang wah banget kalau buat dengerin musik. Tapi kalau buat meeting ya masih okelah ya suara lawan bicara kita itu masih bisa kedengar dengan aman. Turun ke bawah ada keyboard yang jujur untuk keyboard-nya Infinix saya surprisingly suka ya. Karena saya ngetik skrip itu pakai laptop ini. Feel-nya itu nagih, tombolnya empuk, dia enggak ngelawan pas ditekan. Travel distance-nya dangkal. Jadi ngetik cepat tuh kerasa satsat banget. Dan yang paling penting dia silent. Jadi kalau misalkan saya bikin script di sebelah saya, istri saya tidur itu aman. Saya saya enggak dibalang sandal ya sama istri saya. Karena kalau malam saya udah harus tidur. Kalau enggak minimal saya enggak tidur, saya enggak boleh berisik. Touchpad-nya lega dan terima kasih Infinix posisinya di senter di tengah palm rest. Ini penting banget buat menjaga kewarasan orang-orang yang OCD yang kayak kalau misalkan touchpad-nya itu agak kanan pengen saya geser gitu, pengin saya tengahin gitu ya. Kayak saya tuh suka banget yang simetris soalnya. Tapi untuk touchpadnya halus, gak licin, gak keset. Ksornya juga presisi, gak ada drama loncat-loncat sendiri. Klik kiri kanannya juga empuk. Ya, kalau buat kerja harian aja bisa pensiunin mouse-nya lah karena touchpadnya udah nyaman kok. Aman. Untuk port lumayan lengkap. Nanti editor tolong dikasih supertex saja karena ini lumayan lengkap. Minusnya cuman ada di SD card reader. Tapi kalau untuk portport lain USBA, USB type C, audio jackbo 3,5 mili, ada semua. Untuk Wi-Fi-nya dia pakai WiFi 6 dengan Bluetooth versi 5.2. bukan yang paling baru, tapi WiF6 saja di Indo provider dengan router Wi6 itu masih susah ya. Jadi udah okelah WiFi6. Nah, sekarang kita bahas harganya ya. Untuk harganya dia ada 2 SKU jadi ada yang Ryzen 5, ada yang Ryzen 7. Yang Ryzen 7 yang kita bahas sini harganya di 7699. Sedangkan yang Ryzen 5 itu di Rp6.700 sekian. Nanti link pembeliannya akan saya taruh di pojok kiri atau di kolom deskripsi. Dan kesimpulannya ini termasuk salah satu laptop yang worthed ya karena di harga R juta kita dapat Ryzen 7 HS. Sama sih mirip-mirip sama Heritage. Heritage itu kalau enggak salah R juta ya atau berapa atau tu juga ya. Saya kalau misalkan saya salas coba tulis di kolom komentar ya karena saya lupa 7 antara R juta lah mirip-mirip lah. Nah yang saya suka di Infinix ini dia tuningannya cakep sih ya karena dingin terus baterainya walaupun enggak gede-gede banget 55 watt hour tapi awet. Terus bobotnya dibanding Advance Heritage ini lebih ringan dengan 1,18 kg. Nah, sekarang pertanyaannya laptop ini buat siapa? Ya jelas buat mahasiswa atau pelajar yang butuh laptop kencang buat nugas, browsing 50 tab sambil dengerin Spotify, tapi tasnya itu gak mau berat 1,1 kil masih okelah. Terus programmer dan data entry yang butuh prosesor buat buat compile codingan atau ngolah Excel yang ribuan baris. Casual gamer juga bisa sih ya yang mainnya cuman Valoran, Dota atau Gensin. Terus buat budak corporat yang mobile yang kerjaannya itu WFH kalau enggak gitu WFC di cafe-Cafe Mobile gitu. ini masih cakep sih, tapi buat kalian yang mungkin desainer grafis atau editor profesional yang butuh warna, ya saran saya sih cari laptop yang lain ya. Karena dia warnanya cuman enggak sampai 100% sRGB atau kalian bisa akalin pakai monitor eksternal. Jadi kalian colokin ke HDMI atau typ spe-nya terus beli monitor eksternal yang 100% sRGB. harusnya enggak terlalu mahal. Sejuta atau R juta dapat kalau memang kalian minat dengan laptop ini. Intinya Infinix sekali lagi ngebuktiin kalau laptop kencang enggak harus mahal dan laptop murah enggak harus lemot. Ada minusnya ya ada, tapi di harga segini minusnya itu ketutup sama performanya yang brutal. Okelah, jadi mungkin segitu aja video review kita kali ini. Saya and see you on the next video.
