Jungkat

Kingfinix berulah !! ini mah gak kaya Hape 2jutaan !! (YouTube Video)

  • 07/08/2025

Hai, guys di sini. Kenalin ini adalah Infini Hot 60 Pro yang lagi-lagi Infinix ini bikin ulah. Jadi ini seri hot yang harganya itu R2 juta kecil tapi dia punya dimensi 6,6 mili. Bisa dibilang ini HP R jutaan paling tipis bahkan cuman selisih beberapa mili sama S25 HP belasan jutanya Samsung. Dan kalau seri pro-nya masuk juga itu cuma 6 mili loh ya. Ini 5,8 mili si S25 inch. Jadi selisihnya cuman 0,2 mili di harga R jutaan. Bobotnya cuma 170 gr. Fast charging-nya di 45 watt. Layarnya 1,5K, 144 Hz. AMOLED gokil. Terus dia ada AI-nya juga walaupun R jutaan dan chipsetnya pakai chipset baru dari Mediatek Helio G200. Harganya bukan 299 ya, R2 juta kecil. Jadi untuk yang 6128 itu di 2199 kalau pas flale 199 dan untuk yang 8256 fl-nya 229 dan SRP-nya normal 2399. Gokil enggak? [Musik] Dan langsung aja kita unboxing dan juga hands on si Infini Hot 60 Pro ini di dalam paket pembeliannya ada apa aja. Dan seperti biasa seri hot boknya itu bok-bok hijau kayak gini ya. Dan HP-nya pun juga masih brandingannya sama Free Fire. Wah, kayaknya ni kontrak selamanya deh Infinix sama Free Fire ini ya. Kayaknya tiap tahun Free Fire terus enggak berubah-ubah ya. Terus ada wih apa nih? Lens by Qualcom. Kenapa license by Qualcom? Padahal kan chipsetnya Mediatek ya kemarin si Infinix Smart 10 Plus juga dia itu pakai Uni SOC tapi juga license by Qualcom. Paten apa ini yang pakai Qualcom? Nanti kita coba lihat ya. Terus kita juga dapat Smart Fend dengan woh gila 792 gig 33 gig setiap bulan ya. Ini sih lumayan banget ya. Lumayan. Jadi kalian beli HP tinggal pakai gitu. Terus ada buku panduan dan juga hard case. Oh hard yang agak soft ya. Tapi ini hard case sih. Dan case-nya ini case-case mirip-mirip punyanya Oppo ya, yang kayak desain-desain remova kayak koper gitu. Jadi bukan yang polos aja. Plus kita dapat charging yang 45 watt dan juga kabel type A to type C plus ada SIM ejector. Kalau secara desain sih dia masih mirip ya dengan Infinix Hot 50 Pro generasi sebelumnya. Tapi pas digenggam itu kerasa banget bedanya. Ini lebih ringan karena cuma 170 gr dan dimensinya cuma 6,6 mili. Nah, kalau misalkan dibandingkan dengan S25H yang 5,6 mili berarti selisihnya 1 sekian mili lah ya. Tuh segini aja nih. Wah, yang satunya belasan juta. Rp juta kalau enggak salah launchingnya. Tapi sekarang turun jadi Rp15 juta dan yang satunya 22 juta kecil. Nah, ini kalau misalkan mau dibikin desain yang sama bisa sih Infinix sebenarnya ya. Ini tinggal dihilangin satu dan kameranya melingkar. Jadi plek ketip plek. Nah, untuk warna si Infining ini punya banyak varian warna karena tahun ini mereka mengusung kayak color pop warna gitu. Jadi ada warna merah, hijau, biru, orange, terus silver yang kayak kita bahas ini dan warna hitam. Silvernya sih saya suka ya. Jadi dia kayak tutun gitu. Ada silver, ada grey-nya. Tuh, kalau misalkan kena cahaya ada kayak perbedaan warna yang cakep dan ya kerasa lah ya R jutaannya kalau misalkan diketok-ketok kayak gini. Tapi finishing-nya saya suka mate yang enggak gampang nempel fingerprint. Cocok buat user seperti saya yang tangannya ini cepat banget nih keringat nih. Cepat banget berkeringat. Terus juga ada aksen warna lain. Jadi di sini ada warna oren-nya. Di sini di tombol power-nya juga ada warna oren-nya. Jadi kesannya itu masih cakep ya. Ada two tone tapi enggak yang norak gitu. Masih simpel. Terus di sini ada volume up and down. Di sini ada tombol power. Ini tombol apa ya? Ini tombol AI ya harusnya ya. Kita coba nyalain aja deh ya sambil kita hands on untuk beberapa aplikasi. Di sini ada SIM 3 juga dan ada micro SD-nya yang bisa di-upgrade. Ada speaker. Speakernya stereo btw, jadi atas bawah. Plus ada audio jack dan ada USB type C. Selain itu dari sisi durability-nya juga dapat upgrade ya. Kalau dulu kan IP 54 tapi sekarang udah IP64. Plus Infini juga claim kalau si Infinix Hot 60 Pro ini bisa tahan jatuh sampai ketinggian 1,5 m. Cuman jangan dijatuhin ya. Hm. sayang kalau misalkan saya jelasin. Oke, jadi si Infini Hot 60 Pro-nya udah selesai kita instal beberapa aplikasi untuk hands on dan kalau kita lihat frame-nya tipis ya, lebih tipis dibandingkan yang tahun lalu. Tahun lalu itu kalau enggak salah sekitar 86% screen to body rati-nya. Sekarang di 89, sekian pers. Jadi hampir 90%. Tuh, coba lihat bezelnya. Tipis, presisi, simetris, cakep sih ya untuk harga R2 jutaan. Terus kameranya tampak depan juga punch hole enggak water drop. Ini kalau tampak depan aja mirip iPhone enggak sih? Flat-nya, roundernya di sini. Kalau kita pakai iOS nih. Bayangin ya. Editor tolong ya biar kerjanya challenging gitu biar enggak bosan ngeditnya. Coba ini diedit pakai iOS 1 2 3. Nah, apakah berubah? Nanti kalau misalkan editor saya enggak berubah, tolong kasih tahu saya di kolom komentar ya. Tapi intinya ini kalau misalkan dikasih iOS dia bakalan bakalnya mirip iPhone banget sih. Tinggal kasih dynamic island aja di sini. Wah, dan untuk layarnya ini dia 144 Hz loh ya naik. Kalau yang dulu itu kan 120 Hz plus proteksinya sekarang pakai Coring Goral Guys. 7i. Ini proteksi yang biasanya dipakai di HP midrang kayak PU F7 kemarin juga pakai. Motorola X60 series itu juga pakai proteksinya. Jadi walaupun R jutaan tampak depan ini enggak bisa diremehin L ya untuk Corny Gorilla Glass plus dia juga diklaim pick B-nya itu 4.600 Nit. Tapi nanti saya cek juga untuk color akurasinya pakai Kalman. Sekarang kita coba lihat dulu untuk 144 Hz-nya ini bisa dicustom enggak ya? Dan jawabannya bisa ya. Dia bisa auto switch dari 144 dan 60 Hz. Cuman bukan LTPO yang dia panelnya AMOLED, tapi bukan yang LTPO yang bisa 1 sampai 120 Hz untuk menghemat baterai gitu. Enggak ya. Tapi ini yang menarik nih dia ada high brightness mode. Jadi kalau misalkan kita langsung mode brightness kencang ya saya tembakin ke L. Wih, gila. Kelihatan enggak kalian? Enggak kelihatan sama sekali ya. Langsung putih gitu ya. Coba ini kalau misalkan saya bikin dark ya, dark terus kita lempar ke lighting. Tuh masih kelihatan loh ya. Gokil. Gokil. Terus untuk always on display-nya ada cuman dia cuma bisa 10 detik eh sori 5 detik ya. Jadi ke misal kita apply nih kayak gini ya, dia bakalan mati di menit keelima. Coba saya lock dulu terus saya nyalain lagi. Nah, ini saya matiin ya. dia bakalan muncul AOD-nya 1 2 3 4 ya 5 detik lah ya antara 5 detik lah harusnya jangan always on display ya Infinity ya harusnya 5 second display lah ya karena kan 5 detik aja jadi ada yang 10 detik ini lebih parah nih 5 detik padahal udah olet ya tapi mengingat harganya yang enggak bisa komplain banyak dia pakai Android 15 dengan XOS 15 juga yang kalau misalnya kita scroll-scroll aman enggak ada masalah dan langsung aja ini hasil color akurasi yang udah kita tes Ya, jadi untuk di mode bright itu sRGB-nya di 143%. Gila, ada RGB 97,9%, P3-nya di 100%. Nah, yang menarik brightness-nya ini ketika pakai mode HBM tipikalnya aja gede banget. Tipikalnya itu ada di 741 nit di mode brand. Biasanya HP flagship aja ya kalau saya tes. Tipikalnya itu di antara 500 sampai 600 nitz. Ini tembus di 747 nitz yang berarti terang banget. Jadi kalau dipakai outdoor enggak bakalan ada masalah. Terus kalau di mode original SRGB-nya di 100% tapi P3-nya turun ya jadi 99,8%. Saran saya sih di mode original aja karena kalau misalkan yang mode bright warnanya itu kayak lebih panci gitu, lebih nendang. Kalau saya sih nyamannya di original ya. Lanjut, sekarang kita bahas dari sisi performanya si Mediatek Helio G200-nya. Penamaannya sekarang agak membingungkan ya, jadi harus saya edukasi sedikit karena jangan sampai ketipu ini G200 di atasnya G100 12030 150 enggak gitu ya. Karena kan Mediatch dulu itu kan Helio G8 series ya 85 Ultra terus naik ke G90 G95 G99 terus akhirnya G100. Nah sekarang lompat tuh dari 100 ke 200 jadi enggak ada 120 130 enggak ada ya. Langsung loncat ke 200. yang sebenarnya secara fabrikasi itu masih sama di 6 nanm. Bahkan GPU-nya juga sama pakai Mali G57 MC2. Tapi dia beda di GPU speed sama flops. Dia naik sekitar 100 MHz lah dibandingkan dengan Helio G100. Artinya GPU-nya lebih kenek. Nah, untuk Anutunya aja dia juga masih pakai yang versi light ya. Jadi enggak ada yang 3D Mark yang benar-benar 3D Max. Ini versi light yang biasanya memang di G99, G100 dan untuk skornya selisihnya kalau total itu di kisaran R30.000 lebih kencang dibanding G100, Guys. 100 itu kan 420, 430. Nah, ini hampir 470. Dan kalau kita lihat di skor GPU-nya, nah GPU-nya juga lebih kencang dibanding G100. Wah, gila. Tapi tampilannya cakep ya. Frame-nya ini saya suka gitu. Hm. R jutaan loh ini. Lanjut kita lihat untuk skor Geekbandch-nya di kisaran 700, multiore di 1800. Terus untuk GPU-nya, GPU-nya ada di 1441. Lanjut ke 3MA. Kalian bisa baca di sini aja karena skornya lumayan ya. Dan untuk stability-nya gede sih 99,3% karena memang G100 atau G200 itu kan enggak kencang-kencang amat ya. Jadi kalau masalah stability aman aja sih. CPU-nya enggak sebagus G100 ya. G 100 itu kan biasanya langsung kayak 90% terus gitu. Nah, ini enggak throttle yang sampai warnanya orange sih, tapi enggak bisa stabil ya. Jadi dia loncat langsung di 100% ketika kita tes untuk throttling selama 30 menit. Tapi sebenarnya kalau dibilang throttle enggak juga karena enggak ada warna oren atau enggak ada yang di bawah 70%. Lanjut untuk game-nya ada lumayan banyak fitur ya walaupun harganya di R jutaan. Jadi yang pertama ada kita bisa monitoring tuh kita bisa lanjut ke mode performance terus ada Icare juga. Ada image stabilization, buyp charging di harga R jutaan juga ada. Terus ada offsreen gaming. Harusnya ada tilt ya, mana ya? Oh, ada magic voice changer juga. Graphic enhancement. Nah, ini tiltol nih. Jadi kita bisa pakai tilt untuk mengontrol sama kayak di ICo ya. Jadi kita bisa kontrol custom makronya. Kalau misalkan nget kanan itu dicustom di tombol apa ada sama kayak Infinix GT 30 lah. Ini contohnya kalau misalkan saya pakai til control, saya nyalain. Nah, ini flip to right. Terus flip to right-nya saya taruh sini misalnya udah oke nyala. Sekarang kalau misalkan saya lagi til gini tuh dia pakai ulti satu. Nah, kalian bisa sesuaiin lah dengan game kalian customnya mau kayak apa. Cuman kalau misalkan kalian kesusahan pakai yang mode tilt bisa pakai mode magic button-nya nih. Jadi volumenya ini bisa dipakai untuk trigger juga. Nah, ini cocoknya untuk main game FPS kayak PUBG gitu ya. Jadi scop ini terus tembaknya pakai yang tombol yang ada di layar. Jadi lebih enak aja. Ini saya contohin langsung aja. Jadi misalkan ini saya taruh di ulti T-nya di sini. Dan nah misalkan saya pencet di sini tuh. Wah, dia ngulti 3. Nah, itu contohnya ya. Untuk HP R jutaan sih dan bukan yang di branding gaming ini sih software-nya Infinix ini makin lama makin canggih sih emang ya. Oke, jadi langsung aja kalian langsung lihat chartnya ya. Udah ada beberapa game yang kita tes. Jadi yang pertama ada PUBG. PUBG dia kebukanya settingan di 60 fps. Belum bisa 90 fps ya. Tapi untuk PUBG sih aman nih. Lihat aja chartnya aman dia 60 fps lancar. Ini ketika udah menang ini main sekitar berapa nih? 10 menit. Terus untuk power yang dipakai sekitar 3,3 watt. Temperaturnya juga dingin di 39 derajat celcius. Mobile Legends sama juga kebukanya di 60 fps. Ini kita main sekitar 11 menit 1 match. Aman juga enggak ada masalah dan power-nya juga lebih rendah dibandingkan PUBG tadi. Cuman kalau kita gunain untuk main Gensin dulu ya, Gensin itu wah ini settingan lowest padahal. Tapi chartnya udah lumayan ngos-ngosan nih. Jadi dia jarang untuk 60 average FS-nya di 38. Ya, masih bisa sih. Kadang-kadang aja kok dia dropnya ini juga pas loading kayak misalkan lagi nekas terus makan gitu dia bakalan turun di bawah 30 FPS. Tapi sisanya aman. Powernya 3,13. Wuh, suhu temperaturnya lumayan ya. Bagian dalamnya di 42 derajat celcius. Bagian dalam ya itu bukan bagian luar. Lanjut di watering wave. Wah, bootering wave ini lebih parah dibandingkan Gensin tadi, tapi masih cukup relatif aman ya. Average FPS masih bisa playable dimainkan 31, temperaturnya 41,5. Dropnya paling turun itu di 6 fps. Tapi 6 fps itu ya pas loading ya. Jadi kalau misalkan kalian bisa mentoleransi kadang-kadang drop ya dia masih bisa untuk main game watering wave. Dan untuk super mukanya udah kita tes. Nah, jadi kita main game Gensin Impact selama sekitar ini 29 menit hampir setengah jam ya. Dan untuk suhu permukaannya itu bagian depan di 38,9 derajat Celcius. Dan untuk suhu bagian belakangnya juga enggak sampai 40 derajat Celcius. Ini yang patut diapresiasi buat Infinix ya, karena dia bisa bikin HP yang tipis, ringan, tapi tetap adem walaupun dipakai untuk main game dengan kondisi yang lumayan lama. Nah, ini ada tombol oren yang tadi saya mau ceritain. Ini tombol AI ya. Jadi Infinix itu dia pakai deepsek EA-nya tuh. Wah, dan animasinya cakep ya. ada EA proper generator, putra, terus dia juga bisa terintegrasi dengan HP. Jadi kalau misalkan mau ini contohnya skenarionya kita mau close WhatsApp tinggal ya pakai AI-nya aja. Enggak usah kayak multitasking diclose-closein semua gitu, enggak usah. Karena AI-nya dipsik ini udah terintegrasi. Yang maksudnya AI-nya itu bisa kita perintahkan untuk memerintahkan untuk pakai HP kita juga gitu. Paham kan ya? Jadi kan biasanya AI itu cuman AI berdiri sendiri ya. Nah, kalau ini bisa pakai bisa untuk memeritakan HP kita juga. Cuman sayangnya memang dia belum support bahasa Indonesia sih ya. Tuh saya ngomong apa, dia ngomongnya apa belum support. Tapi kalau kalian tanya, "Tapi Gemininya masih ada enggak, Bang?" Ada kok. Tinggal dipencet home screen aja. Karena Gemini itu kan punyanya Android ya. Jadi kalau kalian tanya Gemininya Android ya pasti ada. Cical t saja ada nih. Tuh mau yang apa? Sharing, terus translate ada semua. Terus untuk AI-nya Infinix sendiri walaupun dia harganya di R juta tapi tetap dikasih loh ya. Tuh ada translation assistant, social assistant. Untuk writing ada dokumen AI node juga recording summary. Plus ini juga udah terintegrasi dengan HP. Nah, ini ada wallpaper generator, ada silket to search. Nah, misalkan kalian pengen bikin artikel atau bikin notes dari kata-kata di sini ya, tinggal diblok aja kayak gini terus dia bakalan muncul AI writing. Nah, kita bisa summarize, bisa look up. Memang terbatas ya, belum ada translate-nya. Tapi kalau mau translate sih tinggal gini aja sebenarnya tuh. Ini kita tinggal translate dia bakal auto ini. Tinggal pilih bahasanya ke Indonesia dan beres. XOS-nya ini juga lumayan ringan ya dengan Android 15-nya ini tuh. Dan kalau ditanya apakah ada Bloodware? Ada kayak Hola Browser, PMaster, Palum Store. Ini software bawaannya Infinix ya. Tapi kalau ditanya apakah ada aplikasi yang kayak iklan, ada sih. Lazada ini saya enggak pernah nginstal. Shopee saya juga enggak pernah nginstal. Ini muncul-muncul sendiri nih. Biasanya memang untuk syarat TKDN. Tapi kalau untuk bloodware yang banyak banget sampai ada pinjolnya, kalian lihat aja enggak ada kan tuh dan iklannya juga enggak ada. Plus sekarang Infinix ya ketika saya rich dia juga menjanjikan software update itu lumayan lama. Dulu kan Infinity kayak Gaca aja ya, software update-nya enggak jelas gitu. Tapi sekarang 3 tahun plus security update-nya itu 5 tahun ya. Jadi Infinix yang sekarang udah beda banget. Kalau dulu dia tuh cuman mainan hardware. Pokoknya gimana hardware-nya paling murah lah. Mungkin sekarang dia udah punya margin terus develop. Bukan hanya software update, tapi AI-nya di HP entry level juga lumayan banyak. Selain itu dia juga punya sertifikasi dari TUVland. Nah, sama kayak namanya ya, Hot 60. Nah, ini sertifikasinya itu 60 mat level E yang di mana berarti dia dalam 60 bulan ke depan itu masih dipakai masih fluent gitu. Dan yang nyoba bukan Infinix-nya ya. Ingin nyoba itu lembaga yang namanya Tuv Rland yang pasti kalian udah sering dengar lah ya. Kameranya untuk main kameranya sebenarnya 50 megapel sama kayak generasi sebelumnya dan sisanya udahlah ya sisanya itu gimmik auxel lens yang enggak bakal kita pakai. Tapi yang menarik selfie kameranya sekarang naik dari dulu 8 megapel sekarang naik jadi 13 megapel. Untuk kamera tampilan interface-nya masih mirip-mirip aja ada supern terus ya ada beberapa ini AI gizi putri ini AI. Terus ada Aero Engine. Dan langsung aja lah ya kita coba di luar plus videonya biar situasinya atau lighting-nya itu enak aja. Lanjut untuk baterai. Walaupun dia sekarang lebih tipis 6,6 mili tapi baterainya di atas standar di atas 5000 mamp dengan 5.160 mz. Dan Infinix juga claim baterainya ini 5 years durability. Jadi dalam 5 tahun ke depan baterainya bakalan masih aman aja. Tapi itu ya kita harus yang bisa ngejawab waktu sih. Apakah 5 tahun ke depan beneran nyaman? Ya kita lihat aja nanti 5 tahun ke depan ya. Terus yang di-upgrade dari sisi fast charging. Kalau dulu 33 watt sekarang naik jadi 45 watt plus ada reverse w-nya di 10 watt lumayan. Dan bypass charging-nya juga masih ada. Di harga segini kalau kita ngomongin kompetitor ya tergantung kebutuhan kalian apa. Misalkan kalian pengin yang software-nya bagus, Motorola G45 5G itu sekarang jadi 19. Dan yang saya suka smart connect plus gester-jesternya Motorola itu cakep sih ya. Itu juga lumayan PR tuh kalau harganya 1 sekarang-kadang lebih murah dari ini. Terus kalau kalian carinya kamera CEN yang non pro yang R jutaan itu juga cakep. Kalau kalian carinya baterai ada Techno Pava 7000 mamp itu sekarang ya. Kalau nyari kamera yang 108 megapel ada Redmi Note 14. Kalau yang mau gaming banget, tampilannya gaming plus ada triggernya itu ada Nubiu eh sori ZTE Nubia Neo 5G itu juga cakep di kelas harga R juta kecil. Tapi kalau kalian carinya HP yang desainnya itu premium stylish, ini mirip iPhone banget loh. Simetrisnya, flatnya. Walaupun ini bukan kaca ya, tapi feel-nya ini premium. Digenggam itu enak. Plus tampilannya juga cakep nih baselnya, desainnya plus tipis juga 170 gr aja. Feel genggamnya saya suka banget sih. Enak walaupun enggak setipis S25H, enggak seenteng S25H dan enggak sepremium S25 H. Kalau dipegang uh langsung kerasa beda ya. Tapi di harga R jutaannya benar-benar enggak bisa diremehkan. Dia pakai performance G200 yang mulus. Dataan baterainya juga lumayan ya. Sebentar saya nyontek dulu. Gensin Impact kita main 30 menit itu berkurang 7%. Uh, awet juga. Terus PUBG 10 menit berkurang 3%. Mobile Legends 10 menit berkurang 2%. Masih oke banget untuk baterainya walaupun dia udah slip. Terus yang saya salut lagi layarnya sih udah terproteksi core Gorilla Glass 7i. Terus color akurasinya juga lumayan dan tipical brightness-nya itu gede banget loh ya 700 lit bukan pick brightness ya. Kalau pck-nya dia 4.600 tapi tipikalnya yang udah kita tes pakai Kalman itu 747 di kelas harga R jutaan itu tinggi banget untuk brightness. Jadi kalau saya sudah sebutin beberapa alasan tadi kayak layar, brightness, feel genggam, terus juga daya tahan baterai dan kalian ngerasa kayaknya cocok buat saya deh. Hmm, itu berarti memang kalian pasarnya dari Infinix Hot 60 Pro ini. Nanti link pembelian semuanya lah beserta alternatifnya akan saya taruh di kolom deskripsi. Kalau kita main kekurangan paling AUD-nya cuma 5 detik. Terus baterainya juga bukan yang paling tinggi kayak di TeknopoVova gitu, tapi dia menangnya di slim sih. Enggak mungkin dia bisa ngasih baterai 7.000 di 6,6 mili dengan bobbot 170 gr. Dan kekurangan lain sih agak sulit ya karena di harga 2 jutaan dia hampir menyaingi S25 H untuk dimensinya. Yang Pro Plus dong dimasukin juga Infinix ya biar lebih seru ya cuman selisih 0,2 mili sama S25H. Hm. Jadi cukup segitu aja lah ya. Saya dik and see you on the next video. Bye byye.

Lihat di YouTube