KOLABORASI ALA CHINA: KUNCI JADI RAKSASA EKONOMI (YouTube Video)
Pak Okto, ada filosofi dan konsep yang saya dengar nih dari Pak Okto, "Together we can be giant." Nah, boleh cerita sedikit, Pak? Oke. Baik, Ibu. Eh, secara umum ya, Bu ya, di dalam geopolitik kita, later on bisnis akan terbagi beberapa sektoral, which is itu European, Indonesian itu sendiri dan China Newc. Nah, China ini eh unik sebenarnya dia metodologi strategi war-nya di dalam bisnis. Jadi eh China itu tidak pernah memikirkan sebuah profit direct di dalam melakukan sebuah industri manapun termasuk FMCG. Nah, kenapa kita harus belajar dari China, China dan together to be a giant? Karena China itu kalau membuat sebuah bisnis kadang dia dari A to Z enggak to the direct. Jadi enggak langsung dia ke sana. Misalnya dia membangun sebuah pabrik. Ada satu pabrik di dalamnya ada 17 pabrik. H hm. Lucu kan, Pak? Sebenarnya? Heeh. Mereka membangun sebuah retail yang kita tahu ada sebuah ee merek dibilang untung tidak, Pak. Tapi ternyata mereka membawa 3 sampai empat kontainer jual houseware China. ee Kitchenware China karena mereka semua sifatnya bersatu, Pak. Jadi ada sebuah perusahaan manufacturing besar ee mereka membangun akuisi logistik atau mereka juga mengakuisisi sebuah pabrik-pabrik makanan padahal mereka teknologi itu apa kan together mereka membuat sebuah link chain global yang nantinya mereka tidak bisa diputus. Gitu. Kalau eh European sama Indonesian itu kan mostly lebih ke arah jualan untung. Iya. Langsung gitu aja, Pak. Ya, kalau China tuh tidak. Mereka membangun sebuah sistem massif baru mereka bergerak secara bersama. Nah, itulah kadang yang ironically-nya untuk orang Indonesia. Mereka lebih ke arah single fighter. Kadang antara Indonesian and Indonesian penguasa malah berkomporasi enggak berkolaborasi. Iya seperti itu. Contohnya perusahaan A dia bikin pabrik di China dia sendiri. Kenapa enggak bersama? Developer ke sana, hotel ke sana, market ke sana, pabrik ke sana, plastik ke sana, and then they make a community bisnis di sana. Iya, itu kan yang dilakukan oleh China saat ini. [Musik] Welcome to RCC podcast, Resto Cafe and Coffee. Ngobrol bareng orang-orang populer di jalur kuliner. Hari ini kita kedatangan Pak Oko Iskandar Dinata e owner dari Osinoya dan juga punya perusahaan induknya Olarasa Nutri Ekaboga. Pak, saya tertarik tuh Pak yang tadi ditanya Bu Pingping ya. Together we can to be a giant Pak. To be a giant ya. Ada banyak perusahaan di ee konsep Eropa atau di Indonesia atau di mana-mana ee mereka berpikir adalah ketika dia bangun cepat-cepat berbuah, cepat-cepat dipetik. Tapi ketika pohonnya naik tinggi kan angin makin kencang. Enggak kuat, Pak. Rubuh kan, Pak? Nah, kalau ee konsep dari yang Bapak bilang itu mereka itu membangun fondasi A, B, C, bahkan tidak buahnya enggak muncul-muncul tapi mereka bangun terus terus nyebar terus. I kan, jadi ketika dia buahnya ada angin kencang, dia enggak bisa rubuh. Wah, itu pantesan jadi jadi satu di dunia. Jadi jaya, di dunia, Pak. Semua. Makanya selalu ada China Town in every world. Dunia. Iya. ada Indonesian Town ya, enggak ada Korean town ya seperti itu. Nah, lalu juga di eh culture Chinese itu juga e unik Pak sebenarnya mereka tuh brand spending to killing the competitors. H saya punya satu brand Itu enggak logik, Pak. Harganya Rp250.000 kita beli. Berarti kita beli barang seharga Rp50.000 ya. He. Dapat smartwatch Rp300.000. Nah, L. Nah, seminggu, Pak, dia jualan di top retail in Indonesia cabang serentak 1 minggu. Itu kan bukan kita bicara ya, tapi how they killing competitor kanan kiri. Dia enggak jualan, Mbak. Jadinya berbahaya tuh. Nanti kita mati semua tuh. Konsep, konsepnya aja kita adopsi ya. Iya, makanya saya bilang harusnya bareng sih. Iya. Iya. Dan uniknya, Pak, di sebuah yang namanya Chinese culture I itu opex-nya kecil sekali. Hm. H dibanding Indonesian or European. H satu orang bisa lima pekerjaan. Waduh enggak bisa Indonesia kan semua punya hukum dan lain-lain. Karena Cina enggak. Makanya mereka punya kecil sekali makanya mereka bisa compete sama yang lainnya. Kalau apalagi Eropa ya ada human right dan lain-lain itu mereka makanya harga mereka jadi tinggi. Itu kan konsep yang Bapak dapat ya. Filosofi itu tuh yang tadi together to be a giant. Kira-kira tuh konsep itu yang Bapak masukin ke PT Olahasan Nutriboga ada enggak, Pak, konsep filosofi itu? Jadi, saat ini saya banyak merangkul komunitas di samping seperti sinergi yang hebat saat ini. Jadi, saya ada punya key account network Indonesia, saya punya trading network Indonesia, saya punya retail, MD, dan lain-lain di mana semua saya aktif. Jadi saat nanti saya membuat sebuah produk, membuat sebuah restoran dan yang lain ataupun partnership, saya sangat mudah untuk menjalankan itu semua. Makanya kan saya selalu mengajak gimana bahkan grup sendiri ego ya, Pak ya. Kenapa enggak antar grup yang saling sinergi ya kan? Kenapa enggak antar grup saling membangun ya kan? Bayangkan kalau saya bisa mengenalkan key account atau para principal trading ke sinergi. Iya. sumbernya langsung para owner FMCG ke para owner restoran. Restoran itu kan tanpa distributor lagi, Pak. Jadinya that's why kadang kita masih crossing antar komunitas, Pak. Waktu zamannya orang tua kita kerja keras, jujur, sukses, Pak. Sekarang through collaboration iya baru ada innovation. Jadi udah enggak ada musuh atau teman. Semua harus bareng karena musuhnya dari luar nih, Pak. Dulu kan dari dalam kita. Betul, betul, betul. Heeh. di sini soalnya mindset orangnya itu ya yang saya lihat nih ya aku kan termasuk generasi milenial ya Pak ya. Nah yang di generasi Genzi ini kan mereka tuh ee beda ya sama generasi milenial yang milenial awal sampai yang milenial ee pertengahan itu masih pola mindset berpikirnya kompetitor. Aku ketemu sesama desain and you and I competitor ya. Tapi kalau Gen itu pikirannya beda, Pak. Hm. He. Saya saya nih sekarang nih karena di sinergi nih, Pak, ketemunya tuh banyakan kan yang anak-anak generasi Genji yang lebih muda nih. Mereka tuh justru yang pola pikirnya beda. Mereka maunya kolaborasi dan saya sendiri kan bukan ee orang yang tertutup ya. Jadi mereka kayak ayo Cici sharingnya mau ini ini ini. Buat saya saya sharing ke mereka saya enggak ada kerugian karena saya sharing apa pengalaman saya. Mereka sharing kreativitas dan apa keahlian mereka yang jauh daripada kita generasi milenial. I itu yang bisa dijadiin kolaborasi karena masing-masing mereka itu memiliki relasi yang berbeda kan. seperti itu. Sekarang kordnya enggak keluarlah gitu. Jadi digabungin kita jadi bisa jadi giant tuh. Betul. Iya together ya. Oke Pak. Ee apa merek dari produk yang dikembangkan oleh PT One Olarasan Nutri Ekab Boga? PT Olarasan Nuri Ekab Boga itu bergerak di franchising system, Pak. kami bangun ee dan memberikan sebuah edukasi, Pak, ya, ke para-para owner muda mungkin untuk bikin franchise seperti apa. Lalu kami juga punya franchise sendiri yaitu Oishinoya. Oinoya. Kita juga ada baru bikin satu prototype wartek, Pak. Wartek ya. Sekarang wartek Rp3 juta loh, Pak. Iya. Jadi, saya lagi bikin seperti itu. Nah, di mana kalau nanti jalan kita bisa franchise kan. Jadi ada OSnoya, lalu Wartek, lalu yang ketiga kami juga bergerak di bidang legalitas konsultan untuk halal, Pak. BPOM, BPOM, GMP ya. Karena banyak sekali ee restoran semua tahunya kan selling, Pak. Ya, benar. Selling itu untuk makan, Pak, ya. Tapi kan enggak tahu regulasinya. Bahkan ada yang kena tipu, kan dipermainkan prosesnya lama. Semua butuh advisor, Pak. Nah, kita di sana ada ya, Pak. yang di PT1 itu yang ditawarkannya B2B atau B2C consultant, Semua, Bu. Kita ada karena kita memang ada beberapa praktisioner kan, Bu, ya, di sana di dalamnya. Jadi, contohnya nih ada sebuah factory yang yang old lah, yang sudah tua ya kan. Produknya ada ada terkenal, terkenal bagus bagus berkembang enggak. Nah, kita bisa masuk ke sana kita tawarkan sebuah opportunity bisa ekspor, bisa new product, bisa efficiency cost ya kan Pak. Lalu opportunity market dan lain-lain. Itu kalau kita ngomong factory, Pak. Sama hal juga dengan restoran. Kita tawarkan apa? Mau enggak jadi manuf akhirnya produksi sendiri. Nah, manuf yang saya kenal ibu, Bapak mau enggak enggak pakai chef, saya kasih teknologi. Jadi enggak perlu chef lagi. Bisa tinggal buka, tinggal tuang, pakai premis tinggal jadi. Kenapa? Karena semua berkaitan dengan opex, operational expenses, Bu. Iya. Jadi mesti hemat ya. I. Dan kalau pakai save juga persoalannya kan ketika makanannya enak terus yang ngerjain siapa sih chefnya? Si A gitu kan. Nah, saya dengar cerita tuh Pak satu restoran dibangun pondasi awal sampai dia terkenal tapi sif-nya A kan. Makanya save itu kan enggak tetap enggak boleh keluar Bu walaupun kolaborasi saf-nya enggak boleh tetap pakai Rend Pak ya. Kayak Rend ya. ya karena e ketika-nya itu diketahui langsung ditarik sama restoran lain dengan harga yang mahal. Makanya mereka tuh sudah mulai seperti yang Bapak bilang. Jadi sudah tidak tergantung sama Chef, tapi sudah takaran menunya sudah ada semua. Semua based on portion. Buka tahan lama tanpa pengawet. Betul betul betul. Jadi ee tinggal yang penting bisa masaklah ya. Yang penting panasnya cuman di aja panasnya berapa, ininya berapa tinggal tuang-tuang aja. SOP-nya bukan pakai lagi pakai SOP berarti ya. Iya, tapi hampir almost cuman simpel sekali sih. Simpel sekali ya. Karena FNB dan yang sekarang itu aku pernah tuh Pak punya teman aku enggak usah sebutin nama produknya ya. Itu cabang banyak ee memang di setiap tempat ee dia bisa masaknya setiap tempat saf-nya beda tapi sudah ada standar. Begitu saf-nya mengundurkan diri atau entah dibajak sama orang langsung close loh satu demi satu titiknya kayak gitu. Padahal dia bisa bikin teknologinya bumbu merah misalnya Pak bumbu kuning dibikin retor atau dibikin tinggal tua. Nah itu Bapak siapkan atau Bapak kita bisa mengarahkan ke sana karena manufacture kan juga butuh customer kan Pak. Customer butuh improvisation kan Pak. Nah seperti itu. Contohnya ee toko bakeri Pak. Toko kue. Semua orang bikin kue kan susah, Pak. Butuh barang-barang fresh. Dengan adanya premix dia bikin tidak perlu namanya bakers lagi. Oh. Karena ongkos bakers mahal sekali kan? Betul. Betul. Betul. Bayangkan kalau mereka hanya tinggal tuang jadi sebuah cake portion bagi selesai. Enggak perlu punya storing lagi Pak. Stok lama lama-lama saf-save magi enggak ada profesi sa karena save-nya itu bikin susah katanya. Pintar pindah pintar pindah. Akhirnya ee si restorannya goyang ya. Makanya, Pak kadang harus grow kan, Pak. Kadang orang yang merasa diagungkan malah keras. Yang butuh mohon padahal yang punya. Jadi harus growing together sih. Oke, Pak. Bapak kan sebenarnya seorang bisnis development ya. Ee sebenarnya ada tantangan-tantangan apa nih di yang Bapak hadapi dalam industri FNB ini sebagai bis def? Sebagai bis def mindset. gimana caranya mengubah mindset orang yang sangat konvensional. Oh, mohon maaf kolot, Pak. Ya, menjadi modern. Iya, ya. I ya itu susah, Pak. Karena tidak masuk akal bagi mereka. Contohnya saya kasih suatu produk, Ibu tinggal buka, tinggal makan. Wah, ini pasti pengawet padahal enggak pakai pengawet, Pak. H. Ini pasti ini. Padahal enggak, Pak. Kok enggak dianggitin banyak kumannya? Enggak, Pak. Ya, itu kan perubahan mindset yang mesti diedukasi. Iya. I padahal di luar sudah common sekali kan. Karena orang sini kan tahunya dimasak matang baru makan. Iya. sesuatu yang berupa kemasan itu orang selalu nganggapnya ya he sesuatu yang enggak pengawet pengawet padahal ada teknologi yang tidak pakai pengawet tapi dia bisa tahan lama ya iya setahun enggak perlu diangkatkan lagi Pak betul betul itu kan muncul karena pandemik sebenarnya dan war ya nah itu mindset susah sekali untuk berubah Bapak kan saya ngelihat tuh ya banyak sekali keahlian dan banyak sekali preferensi yang Bapak punya gimana Bapak cara ngubahin apa yang ada ide di kepala Bapak itu sehingga di perusahaan Bapak itu bisa jadi satu produk yang benar-benar menarik, produk yang nyata tuh yang bisa dikonsumsi orang terutama di Oinoya nih, Pak. Loh, kalau di OIN tuh agak e terlalu ini, Bu, ya. Dia kan karena masih prematur baby, Pak, cuma kalau dari sisi ee perusahaan itu based on need sih, Pak. Kadang kita sebagai bisnis development itu harus sangat taktis dalam melihat apa yang dibutuhkan dari seorang ownership, tapi marketnya juga seperti itu. Jadi eh apa yang saya terapkan ke company A dengan company B itu pasti berbeda karena enggak semuanya orang mau produk ataupun mau untung kan kadang efisiensi ya kan Pak seperti itu. Nah kalau oisinoya itu saya hanya membuat sebagai prototype Jepang itu kan khas unik ya kan. Nah, dulu saya memang bermain di sisi bumbu, Pak. Heeh. Jadi saya sebenarnya oisinoya itu saya bikin bukan untuk jualan franchise, Bu. Saya mau creation saos. Nanti future-nya I hope that saya bisa produksi saus teriaki, yakiniku, Asian saus lah pokoknya. Tapi untuk memvalidasi itu saya butuh tempat kan. Kalau saus saya diterima di tempat saya berarti di pasar umum akan diterima. Jadi saya enggak perlu produksi. Saya lempar ke pasar eh reject. Nah, saya butuh itu, Pak. Nah, kalau kenapa ada oinya saya butuh prototype-prototpe sampling, Pak. seperti itu. Karena Get saat ini sebenarnya mengenai rasa dia enggak terlalu expert ya, Pak. Dibanding orang tua kita dulu kan sampai micinnya dia tahu, Pak. Orang tua kita kan lebih ke arah eficiency kan, Pak. Efisiency. Ada buka jalan. Ada buka jalan. Jadi itu yang kita yang mereka dapat needs-nya daripada GZET. Wah, tuh, Bu. Jadi, saya kepikiran tuh bahwa sekarang dunia FNB juga berubah, Bu. Iya. Karena gaya hidup Genzinya berubah. Anak saya kan Genzi, Pak. Iya. Enggak ke pasar lagi beli-beli itu sudah enggak ada. Iya. Jadi, jadi restoran itu sebagai tempat pijakan awal. Tapi keuntungan di situ dia tidak terlalu fokus harap. Harap tapi bukan fokus itu. Fokusnya adalah makanan yang rasanya sama. Ee ini ketika dibawa ke luar kota, dibawa ke mana, restorannya harus terkenal. Ketika terkenal, lu datang ke restoran enggak bersing gitu. Ketika terkenal lu di Bandung bisa makan, lu di Surabaya bisa makan. Bagaimana cara makannya, Pak? Ya, ini dalam kemasan. Akhirnya, Pak, restorannya jadi seluruh Indonesia tanpa keluar biaya, kan. Jadi kan bukan restoran lagi, Pak. Production. Production manufacture ya. Iya, itu Pak yang saya bilang apalagi masuk ke rumah sama wah ini keren loh. Ini semua mesti dengar nih. Kenapa ya? Kan kalau enggak kayak gitu opexnya besar sekali. Dia sewa tanah, dia bayar karyawan, dia bayar listrik. Iya kan, Pak? itu sistem, Pak. Jadi restoran goes to factory and logistic, Iya. Saya ulang, ya, Pak. Jadi sebenarnya gini, Pak. Restoran itu hanya untuk apa? Cap. Iya, betul, Pak. Ikonik lah, Pak. Iya. Ini enak segala macam cap itu perlu, Pak. Tapi enggak usah bikin cabang keluar kota segala macam. Betul, Pak. Bikinlah capnya enak di dalam bentuk kemasan. Ketika Surabaya mau makan, dia enggak perlu ke Jakarta. Asal tahu cara masaknya ininya sekarang udah dan besar sekali pasarnya Bu. Iya betul. Indesya Indonesia enggak kepikir loh saya bahwa karena menjual is not about profit Pak tapi cost efficiency is important. Iya karena yang besar di situ, Pak. Di mana-mana. Jadi kalau dia omsetnya R miliar tapi dia punya cost R juta, is good. Daripada dia punya omset 5 miliar costnya 3 M. Iya kan, Pak? Betul. Jadi tapi nothing, Pak sebenarnya. Iya, seperti itu. Kalau sekarang nih kan sebenarnya kan ee secara global ekonomi kan agak susah. Semua orang mau cost efisiency, Pak. Jadi sebenarnya harusnya berbondong-bondong restoran, bukan buka cabang sebanyak-banyaknya ya kan, Pak? Kan costnya tinggi kan. Iya. Bukalah sebanyak-banyaknya. Yang penting lu dapat stempel dulu nih. Makanan enak, terkenal ya kan? Bikinlah tadi dalam kemasan-kemasan yang sebenarnya tidak pakai bahan pengawit kan Bapak bilang kan ada teknologinya kan Bapak punya itu ya e partner-partner kami partner Pak Okto ya bisa apa manufacturing semuanya kan one stop solution Pak ya bukan kami manufacturingnya Pak solutionnya kita kasih ya karena masing-masing orang kan berbeda expert Pak ya. Oke, Pak Okto terima kasih sudah datang hari ini di RCC kita podcast punya ya, Pak ya. RCC podcast, Pak. Untuk closing statement-nya bisa tolong disampaikan kepada teman-teman sinergi atau sinergi resto atau penonton lainnya. Silakan, Pak. Saya punya dua. Yang pertama cobalah kita sesama para bisnis owner di Indonesia itu kolaborasi meskipun sometimes mereka competitors ya. ya. Karena kita tidak hanya ada sendiri nih perang, tapi ada lagi di belakang yang akan datang dan nanti impactnya ke anak-anak kita sendiri kan, Pak. Ya, Itu pertama. Lalu yang kedua, coba lihat dari sisi market lain menggunakan hub lain di mana nanti adanya productivity. Dan efficiency juga karena market sekarang very dynamic, sangat cepat trend setternya berubah enggak kayak dulu. Jadi eh cobalah untuk open minded ya, jadi enggak konvensional untuk para-para resto yang saat ini lagi berjalan. Oke, terima kasih Pak Okto sudah hadir di RCC podcast. Semoga Bapak semakin sukses, Pak ya. Sama-sama Pak. Yuk, makasih Pako. Sehat selalu, Pako. Terima kasih sudah datang hari ini di RCC Podcast. Ini ada kenang-kenangan dari potres buat Bapak Pak
