Laptop 2026 yg Terjangkau, Ringan, dng Warna Bodi Ceria: Review Infinix XBOOK 14 Neo (YouTube Video)
Laptop dengan nama Neo ini ternyata harganya mulai dari 7 jutaan saja. Padahal harga laptop lagi tinggi-tingginya kan sekarang ya. Selain harganya masih relatif terjangkau, bobot laptopnya juga cuman 1,2 kg saja. Jadi, enggak ngebebanin kita pas dibawa-bawa mau diajak WFA, kuliah, atau sekolah. Dia punya empat opsi warna yang cerah, jadi enggak ngebosenin dan cocok buat yang masih muda-muda ya. Prosesornya Intel Core Gen 13 dengan konfigurasi hingga 10 Core, jadi siap buat multitasking. RAM-nya 8 GB DDR4 dan bisa di-upgrade. Dan tentunya upgrade-nya enggak mahal ya, karena masih pakai DDR4. Bahkan layarnya udah IPS 100% sRGB, jadi enak buat dipakai editing-editing. Laptop ini adalah Infinix Xbook 14 Neo. Oke, pertama-tama perhatikan ya, Xbook 14 Neo ini tersedia dalam dua opsi seri prosesor. Ada yang pakai Intel Core seri 3, alias Wildcat Lake. Lalu ada juga yang pakai Intel Core Gen 13, alias Raptor Lake, seperti yang kami review kali ini. Sekencang apa performanya dan seirit apa baterainya? Mari kita bahas mulai dari spesifikasinya dulu. Untuk prosesor yang dipakai adalah Intel Core i5 1335U. Fabrikasinya Intel 7, base power 15 watt. Dia punya 10 Core 12 thread yang terdiri dari dua performance core dan delapan efficient core. Intel Smart Cache-nya ada 12 MB. Integrated graphics-nya pakai Intel UHD Graphics dengan 80 execution unit. Perlu diperhatikan, laptop ini menggunakan RAM single channel. Jadi, nama IGP-nya berubah jadi Intel UHD Graphics. Nama IGP-nya akan berubah jadi Intel Iris Xe Graphics dan performanya akan kencang saat dual channel-nya kita aktifkan. Nah, untuk memori atau RAM-nya yang terpasang adalah 8 GB DDR4 2666 single channel. Sayang sekali Infinix tidak menggunakan RAM DDR4 3200 ya di sini ya. Ini membuat performa prosesor jadi agak kurang optimal saja dari sisi IGP-nya. Mungkin yang dilakukan untuk menghemat harga jual si laptop, bisa jadi. Tapi, di sisi lain ini juga membuat biaya upgrade-nya jadi dobel kalau kita mau pentokin performa laptopnya karena harus ganti yang lama kan dan menggantinya berubah jadi dua keping RAM yang 3.200 supaya performanya hadir semua di sini. Tapi untungnya dia pakai RAM DDR4 jadi biaya upgrade-nya tidak akan jadi semahal kalau dia pakai DDR5. Nah, untuk slot RAM-nya ada dua yang bisa kita upgrade di sini hingga total jadi 64 GB. Nah, untuk storage dia pakai 512 GB SSD M.2 NVMe PCIe Gen3 by 4 untuk unit yang kami uji. Jarang-jarang ya laptop keluaran 2026 ngasih SSD setengah terabyte untuk kelas harga segini. Untuk wireless connectivity-nya dia menggunakan modul dari Realtek yang mendukung Wi-Fi 6 dan Bluetooth versi 5.2. Kapasitas baterai ada di 55 watt hour sementara OS-nya adalah Windows 11 25 H2. Untuk body form factor-nya adalah clamshell atau laptop klasik ya. Materialnya ini aluminium untuk punggung layarnya. Lalu untuk bagian-bagian lainnya dari polycarbonate. Menariknya laptop ini sudah memenuhi sertifikasi daya tahan militer standar 810H. Jadi harusnya terjamin ketangguhannya. Untuk pilihan warna yang kami uji ini adalah Shadow Blue. Lalu ada lagi yang Volcano Grey dan Twilight Purple. Sebenarnya masih ada satu opsi warna lagi yaitu Sonic Yellow tapi yang ini enggak masuk ke Indonesia. Nah, untuk desain laptop ini sebenarnya punya desain yang simpel tapi karena warnanya bukan hitam dia akan terlihat cukup mencolok saat dipakai di kantor, kafe, kampus atau tempat umum lainnya. Ya, buat yang pengen punya laptop yang tampil beda ini cocok banget. Untuk dimensinya panjang 31,4 cm, lebar 21,9 cm dan tebalnya di 1,74 cm. Bobotnya untuk laptopnya aja di 1,18 kg. Ini lebih enteng dari klaimnya yang 1,2 kg ya. Untuk charger cuma 172 gram. Ini adalah charger 65 watt dengan konektor USB Type-C. Jadi total bobotnya kalau dibawa bareng charger adalah 1,35 kg. Nah, untuk display ini adalah layar berukuran 14 inci ya sesuai dengan namanya. Resolusinya 1920 * 1200 pixel dengan aspek rasio 16:10. Ini adalah panel IPS. Kalau kami cek di website Infinix tingkat kecerahan maksimalnya diklaim di 300 nit dengan color gamut maksimum di 45% NTSC. Tapi ternyata Infinix berbohong di sini. Tingkat kecerahan maksimalnya untuk unit kami uji ini bisa mencapai 352 nits, lumayan jauh bedanya. Lalu gamut coverage nya ada di 93,4% sRGB dengan gamut volume di 101,6% sRGB. Ini beneran enggak sesuai dengan klaimnya ya, tapi enggak apa-apa ya, ini ternyata lebih bagus dari klaimnya, enggak apa-apa dong. Layar seperti ini tentunya sudah bisa diandalkan buat editing video, editing foto, desain di Canva, atau kerjaan-kerjaan yang butuh tampilan warna yang oke atau yang lumayan akurat ya. Permukaan layarnya juga punya sifat yang non-glare, jadi kenyamanan kita tidak terganggu akibat pantulan cahaya lampu jendela atau objek-objek kita. Nah, untuk desain bingkai layar ini juga dibuat cukup tipis untuk sisi kanan kirinya, sehingga screen to body rasionya mencapai 91%. Lalu yang menariknya lagi, engsel layarnya bisa dibuka lurus sampai 180 derajat. Ini seperti laptop kelas profesional ya. Nah, engsel seperti ini bisa mencegah kerusakan akibat terdorong yang enggak sengaja gitu ya, dan memudahkan kita juga untuk sharing tampilan layar dengan klien atau rekan kerja atau siapapun yang ada di depan kita. Oke, beralih ke kamera dan mikrofonnya. Nah, laptop ini dilengkapi dengan kamera 720p 30fps dengan dua modul mikrofon di sisi kanan kirinya. Kamera ini memang belum mendukung fitur Windows Studio Effect ya, tapi tenang kita masih bisa ngeblur background dengan aplikasi Zoom atau Google Meet saat online meeting. Nah, untuk kualitas kamera dan mikrofonnya kurang lebih seperti ini. Oke, kali ini kita uji kemampuan kamera dari laptop Infinix yang satu ini. Untuk resolusi maksimalnya dia bisa sampai 720p 30fps. Hasilnya kurang lebih seperti ini. Gimana menurut kalian? Oke enggak nih kualitasnya? Oke, sekarang saya sedang berada di luar untuk menguji kemampuan mikrofon dari laptop Infinix yang satu ini. Nah, seperti yang kalian lihat di belakang saya kondisi jalanan lagi ramai kendaraan. Menurut kalian bagaimana? Apakah suara saya masih bisa terdengar dengan cukup jelas? Gimana? Walaupun 720p masih oke lah ya kalau dipakai video chat atau online meeting ya. Untuk mikrofonnya memang belum bisa menghilangkan suara kebisingan yang masuk, tapi setidaknya suara kami masih terdengar dengan cukup jelas dan natural. Nah, untuk audio, laptop ini dilengkapi dengan dua buah speaker dengan lubang keluaran suara mengarah ke bawah. Di sini ada aplikasi DTS Audio Processing untuk mengubah profil suara dan ada equalizer juga. Laptop tipis ini ternyata punya suara yang cukup lantang ya. Kualitas suaranya juga tergolong memuaskan untuk sebuah laptop kelas mainstream di harga segini. Karakter suaranya memang cenderung sedikit bright, tapi enggak sampai membuat gendang telinga kita seperti ditusuk-tusuk ya. Aman-aman. Separasi dan detailnya juga jelas cukup oke di sini. Nah, untuk konektor, di kiri ada satu HDMI 1.4, ada satu USB 3.2 Gen1 Type-A, ada satu USB 3.2 Gen1 Type-C yang mendukung power delivery dan display output. Kemudian ada satu USB 2.0 Type-C juga. Di sisi kanan di sini ada switch untuk matikan kelistrikan modul kamera dan mikrofon. Jadi, aman nih harusnya ya. Lalu ada satu 3,5 mm audio combo jack, satu USB 3.2 Gen1 Type-A, satu USB 2.0 Type-A, dan ada Kensington lock slot. Nah, untuk keyboard-nya, sebenarnya enggak ada yang benar-benar baru di sini. Bentuk tombol dan tata letaknya tampak mirip seperti laptop Infinix lainnya. Nah, untuk tombol power ini posisinya terpisah ya dari keyboard, jadi aman banget dari risiko enggak sengaja kepencet. Nah, saat kami coba mengetik, tombol-tombol keyboard-nya terasa empuk saat ditekan dan tidak menimbulkan suara yang bising banget dan sebisa mungkin mengganggu orang-orang sekitar kita. Tentunya, keyboard ini juga memiliki lampu backlight berwarna putih dengan dua tingkat kecerahan dan ini bisa diubah dengan menekan tombol function plus F3. Lanjut untuk touchpad-nya. Laptop ini menggunakan precision touchpad dengan ukuran 11,4 * 7 cm. Untuk posisinya hampir sejajar dengan tombol space bar, jadi touchpad itu enggak gampang kesenggol-senggol pas kita lagi ngetik. Dan saat dicoba, jari kami bisa bergerak dengan mulus lancar di permukaan touchpad ini dan klik kiri serta klik kanannya juga terasa empuk dan tidak berisik saat ditekan. Lanjut ke cooling system-nya. Laptop ini menggunakan sistem pendingin yang namanya adalah Ice Storm 4.0. Ini menggunakan dua buah heat pipe dan satu kipas yang punya 110 bilah. Nah, untuk ventilasi pembuangan panasnya ini mengarah ke belakang ya. Nah, kita masuk dalam aspek performanya. Laptop ini tidak memiliki aplikasi untuk mengubah profil performa ya, tapi kita bisa mengubah profil performa dengan menekan tombol function plus huruf O dan pilihannya adalah economic mode, ini mode default-nya ya, dan boost mode. Nah, pengujian kali ini akan kami lakukan dalam dua kondisi. Pertama dengan RAM 8 GB single channel bawaannya. Lalu kita juga pakai RAM 12 GB dual channel dengan menambahkan satu keping RAM 4 GB. Ya, kita enggak nambahin 8, kita tahu mahal soalnya ya. Jadi kita tambah 4 aja. Kita mulai dengan Cinebench R23, colok ke charger ya. Stabilitas selama 30 menit, skor tertinggi yang dicapai adalah 5.832 poin di economic mode dan 8.131 poin di boost mode. Lalu untuk skor yang dapat dipertahankan adalah 5.400 sampai 5.440 poin di economic mode, sementara di boost mode bisa mencapai 7.700 sampai 7.740 poin. Woh, jauh juga bedanya ya. Lalu untuk Cinebench R23 tanpa nyolok ke charger, skor yang dapat adalah 5.640 sampai 5.680 poin di economic mode. Sementara di boost mode kita dapat 7.320 sampai 7.380 poin. Terlihat skornya malah naik sedikit ya di economic mode-nya ya dan mengalami sedikit penurunan untuk boost mode-nya. Tapi secara keseluruhan performanya tetap mirip meskipun charger-nya kita lepas. Nah, kita lihat sekarang suhu kerjanya dengan Cinebench stabilitas selama setengah jam. Di economic mode suhu sempat sekali loncat ke 81 derajat Celsius sebelum akhirnya turun di bawah 65 derajat Celsius. Lalu untuk boost mode, suhu itu sempat loncat sekali ke 92 derajat Celsius, kemudian dia turun di bawah 80 derajat Celsius. Ini suhu yang masih sangat aman. Oke, sekarang kita lanjut dan langsung pakai Adobe Premiere Pro 2026. Kita coba olah video full HD 60 FPS yang 5 menit. Kalau kita pakai OpenCL single channel, kita dapat 11 menit 50 detik. Sementara kalau dual channel 10 menit 38 detik. Nah, kalau videonya full HD 30 FPS, durasinya sama 5 menit, OpenCL single channel itu 5 menit 45 detik. Sementara dual channel kita dapat 4 menit 30 detik. Jadi kalau pakai Premiere, dia lebih cocok dengan editing yang full HD 30 FPS, terutama kalau dibikin jadi dual channel. Nah, untuk suhu kerjanya pada saat melakukan video exporting di sini suhu processor dapat dikendalikan di bawah 70 derajat Celsius. Aman, enggak ada masalah. Kita lanjut ke DaVinci Resolve 20.3, software video editing kelas profesional tapi ini versi gratisannya. Untuk video full HD 60 FPS 5 menit single channel itu 17 menit 39 detik. Kalau dual channel 13 menit 52 detik. Kalau full HD 30 FPS 5 menit ya, single channel-nya itu di 9 menit 5 detik dan dual channel di 6 menit 18 detik. Di DaVinci Resolve juga terlihat bahwa laptop ini lebih cocok untuk editing di full HD 30 FPS. Lagi-lagi terutama kalau kita pakai di dual channel biar lebih kencang proses export-nya. Untuk suhu kerjanya, biasanya DaVinci Resolve ini yang gratis nih ya, bikin suhu processor jadi tinggi soalnya. Tapi di sini suhu processor masih terkendali aman di bawah 80 derajat Celsius dengan sekali lompatan aja ke 81 derajat Celsius di awal aja ya. Lanjut untuk CapCut videonya full HD 60 FPS 5 menit lagi. Untuk single channel ini langsung 5 menit 55 detik. Dua channel 3 menit 58 detik. Nih ini kalau pakai CapCut nih, mau editing video full HD 60 FPS enggak ada masalah ya. Kalau kita pakai yang full HD 30 FPS bagaimana? Single channel-nya 2 menit 53 detik. Dua channel-nya 2 menit 5 detik saja. Mantap. Sekarang kita lihat suhu kerjanya dengan full HD video exporting-nya. Di sini suhu processor terkendali aman di bawah 70 derajat Celsius. Lagi-lagi enggak ada masalah. Sekarang kita lihat 3DMark Time Spy graphic test. Single channel 933 poin. Dual channel 1032 poin. Performa IGPU-nya ternyata bisa naik sekitar 10% untuk dual channel yang jadi 12 GB tadi. Lalu kita sekarang lihat performanya untuk gaming. Dan untuk pengujian gaming ini kita akan langsung pakai RAM 12 GB dual channel dengan kecepatan default-nya ya DDR4 2666. [musik] Oke, di game terakhir ini Genshin Impact kita mainkan selama setengah jam kita lihat suhu kerjanya. Di sini suhu processor terkendali aman di bawah 75 derajat Celcius. Untuk suhu permukaan body, setengah jam main Genshin Impact, area keyboard itu yang paling panas kita temukan di bagian tengah ke arah kiri dengan suhu bisa mencapai 41 sampai 42 derajat Celcius. Sementara area sebelah kanan itu suhunya aman di bawah 40 derajat Celcius. Lalu untuk palmrest, wah ini aman banget di bawah 35 derajat Celcius. Tapi perlu diperhatikan, suhu permukaan seperti ini hanya terjadi kalau beban kerjanya berat seperti saat main game saja ya. Buat ngetik, Excel, nonton, browsing suhunya enggak mencapai segitu. Tenang, aman banget. Sekarang kita lihat kecepatan SSD-nya. Dengan CrystalDiskMark kita dapatkan bahwa kecepatan bacanya ada di 3477 MB/s dan tulisnya ada di 2698 MB/s. Ini sudah tergolong kencang untuk SSD PCIe Gen 3 ya. Nah, sekarang kita lihat daya tahan baterainya. Untuk pengujian ini kita set layar di 150 nits, volume suara di 25% dan kita pakai economic mode. Untuk 1080p local video playback itu baterai habis setelah 9 jam 30 menit. Ini tergolong cukup irit untuk laptop Core Gen 13 dengan baterai yang kecil di 55 watt hour. Nah, selain jalanin video kita juga menguji daya tahan baterai dengan PCMark Office Productivity Benchmark. Pengujian ini akan mensimulasikan aktivitas buka tutup serta kerja dengan aplikasi Word, Excel, PowerPoint dan Outlook tanpa berhenti sampai baterainya habis. Jadi ini simulasi kalau kita kerja non stop ya, enggak berhenti-berhenti ya. Hasilnya laptop ini bisa bertahan selama 9 jam. Jadi, buat yang kerja kantoran nya 8 jam ya, laptop ini bisa dipakai dari masuk kantor hingga pulang tanpa perlu nge-charge ya. Nge-charge nya nanti aja pas sudah nyampe rumah. Walaupun saya tahu sih, pasti kalian deg-degan lah kalau sudah tinggal dikit-dikit gitu ya. Tapi intinya, buat dipakai kerja ini masih aman banget. Sekarang kita lihat untuk kecepatan charging nya. Setengah jam pertama baterai terisi di 26% sementara dari 0 sampai penuh ini butuh waktu 2 jam 37 menit. Ini agak lebih lambat dibandingkan harapan kami yang harapan kami itu normalnya di 2 jam pas. Lanjut, sekarang kita lihat harganya. Kalau untuk unit yang kami uji ini harganya ada di 10 juta 490 ribu rupiah. Kemudian ada juga yang Core i3 yang harganya di 8 juta 999 ribu dengan RAM 8 GB dan SSD di 512 GB. Nah, untuk garansinya dia dapat 2 tahun dari Infinix Indonesia. Kita masuk dalam hal yang perlu diperhatikan. Pertama, ini RAM-nya 8 GB single channel DDR4 2666, ini yang terpasang ya. Ini bikin biaya upgrade jadi dobel kalau mau diubah performanya jadi kencang mentok kanan karena mesti naik ke 3200 ya. Tapi kalau kalian butuhnya kapasitas RAM yang lebih besar saja, upgrade dengan RAM DDR4 2666 sebenarnya enggak terlalu jadi masalah juga. Dan dari hasil pengujian sih sudah okelah sebetulnya. Lalu kemudian untuk charging, ini agak lambat ya sebetulnya. Kemudian belum ada Microsoft Office dalam sini. Tapi tenang, alternatif lisensinya tersedia banyak ya di internet ya. Dan tentunya kita masih bisa instal Microsoft Office tapi setelah kita beli lisensinya. Nah, dari sisi menariknya, bobotnya ringan cuma 1,18 kg. Lalu ada opsi warna selain hitam dan abu-abu yang sudah bosan itu yang lihatnya ya. Lalu dia pakai prosesor 10 core Intel Core Gen 13. Ini mumpuni untuk multitasking ringan seperti ngetik, olah data, bikin presentasi, browsing website, streaming film, meeting atau bahkan editing video di full HD 30 fps. Mau gaming tipis-tipis juga lumayan oke di sini. RAM masih bisa di-upgrade dan RAM-nya itu pakai DDR4 jadi enggak terlalu mahal saat di-upgrade. Layarnya ini penting banget sudah langsung 100% sRGB. Kemudian baterainya sudah cukup irit untuk spek yang satu ini ya. Konektornya juga lengkap, tidak butuh bawa converter atau USB hub. Dapat garansinya juga ada langsung 2 tahun, ini bukan yang setahunan ya. Nah, jadi pertanyaannya, Infinix XBook 14 Neo ini cocoknya buat siapa? Untuk pelajar, mahasiswa atau bahkan tenaga pengajarnya harusnya cocok-cocok saja ya pakai laptop yang satu ini. Terlebih lagi harganya terjangkau dan bisa dengan mudah di-upgrade RAM serta SSD-nya kalau butuh yang lebih besar. Lalu untuk pekerja kantoran atau first jobber ya harusnya cocok juga pakai laptop ini. Bobotnya itu ringan jadi kalau mau meeting pindah-pindah itu enggak terlalu memberatkanlah ya. Baterainya juga lumayan irit, bisa dipakai dari masuk kantor sampai pulang kerja kalau memang kalian tahan lihat presentase baterainya ya. Lalu dia juga masih kuat untuk multitasking ringan dengan beberapa aplikasi. Untuk mobile creator juga harusnya lumayan cocok ya buat editing foto atau video full HD 60 fps dengan CapCut misalnya ya. Apalagi layarnya sudah 100% sRGB dan sudah support skenario yang tadi itu ya. Tentunya dipakai untuk kalangan programmer juga harusnya cocok-cocok saja selama aplikasinya memang kompatibel dengan laptop yang satu ini. Pada akhirnya kalau butuhnya laptop yang harganya masih relatif terjangkau untuk tahun 2026, kuat untuk kerjaan sehari-hari yang tidak terlalu berat dan bisa di-upgrade dengan mudah dan punya opsi warna-warna yang cerah, Infinix Xbook 14 Neo versi Intel Core Gen 13 ini bisa jadi pertimbangan yang sangat menarik.
