Laptop 7 Jutaan Paling Murah In This Economy !! Polytron Luxia R5 (YouTube Video)
Ini adalah laptop dari Polytron yang kalau mau beli gak perlu jadi abdi keraton karena dia tahu harga yang tahu tapi punya power sekuat Jolteron. Ya udah enggak usah terlalu banyak memohon selamat menonton yang kerjaannya cuman jadi pion. Hai Andika, Guys. Di sini in this economy ya, untuk cari laptop yang performanya tinggi tapi harganya enggak tinggi itu emang sulit banget. Sama kayak kita nyari minyak, minyak tuh harganya lagi tinggi, padahal kita produsen sawi. Kalian lihat sendiri aja deh laptop sekarang i3 lah sampai i9 lah. Kalian coba lihat sendiri, bandingkan sendiri dengan tahun lalu. Harganya udah enggak ngotek. Tapi sekarang ada angin segar lah ya. Kenalin ini adalah Polytron Luxia AMD Ryzen 5 7430. Jadi R pada Luxia R5 ini menandakan kalau prosesornya pakai AMD Ryzen yang harganya dibanding kompetitor-kompetitornya untuk sekarang ya dia yang harganya ini paling masuk akal R jutaan pas preorder pas launching pas video ini saya syuting ya. Jadi kalau misalkan suatu saat harganya naik ya karena dolar lagi gonjang-ganjing jadi wajar sih kalau naik. Nanti kalian cek aja link pembeliannya di pojok kiri atau di bawah. Siapa tahu belum naik, tapi semoga aja gak naik. Atau kalian nanti bisa beli di official store Polytron atau e-commerce kesayangan kalian lah. Secara tampilan agak beda ya kalau dibandingkan dengan Luxia yang beberapa bulan lalu kita review. Bel quality-nya ini solid, enggak kopong. Secara tampilan mirip dengan beberapa brand yang sudah pernah kita review juga. Walau sepintas sama, tapi value laptop ini jelas selain harganya ya yang sangat bersahabat dibanding brand kompetitor khususnya di kelas R jutaan di kelas produk lokal, nilai plus yang sulit dilawan sama Polytron ini jelas ADP atau accidental damage protection-nya selama 2 tahun karena di full cover sama Polytron ini bikin kita ngerasa amanlah walaupun beli laptop lokal UDM tapi kita ngerasa aman kayak dikawal sama Asampres. Jadi mau rusaknya karena kesalahan pribadi atau kecelakaan, kita enggak perlu mikir harus beli laptop lagi. Apalagi di era sekarang ya, semua laptop itu serba mahal. Jadi mending yang beli yang pasti-pasti aja lah. Jadi daripada beli laptop harga mahal spek ampas, mending be more with Luxia aja. Wanjay. Soal desain walaupun secara body dan material mirip tapi selera Polytron ini beda dan terlihat lebih modern ya. Logo Polytronnya dibuat simpel, tidak terlalu besar, dan enggak terlalu gila branding. Termasuk juga di bagian bawah layarnya. Tapi sebelum kita bahas layar, mungkin kita geser dulu bahas portnya ya. Wah, portnya ini sih lengkap banget. Ada 5 port USB versi 5 gigabit per seconds. Ada 3 port USB type E, 2 port USB type C, type C lagi yang dekat dengan DC in full function. Bisa untuk display port juga. Wah, banyak ya yang absen. Cuman RJ45 aja. [musik] Oke, sekarang kita bahas untuk layarnya ya. Layarnya sayangnya ada yang dikompromis sama Poletron tapi ingat ya harganya ini R,2 juta. Jadi [musik] kita harus mewajari karena di saat brand lain harganya dengan spek AMD Ryen 5 kayak gini itu bisa 9 sampai R juta ke atas. Polytron ngasihnya R7 juta. Jadi ya wajar kalau ada yang dikompromi untuk color akurasi layarnya. Karena pas kita tes SR RGB-nya itu cuma di 60-an%, Adob RGB 47%, NTSC 45% dengan brais 231. Tapi yang saya salut sama Polytron keyboard-nya keyboard-nya untuk harga R jutaan di kondisi sekarang ya, keyboard-nya ini saya enggak ada komplain, masih dipertahankanlah sama Politron. Di bagian keyboard-nya nih, feel mahal dari harga yang mereka pasang itu masih ada. Jadi enggak ada kesan keras atau atos sama sekali atau kerasa murah gitu, enggak ada. Ditambah lagi ada backlit keyboard yang rapi, makin kerasa kesan mewah di bagian keyboard-nya. Keyboard ini juga termasuk krusial ya, karena keyboard itu kan bakalan jadi sesuatu atau segmen yang bakalan kita pakai terus laptop seharian pasti pakai keyboard. Kalau untuk touchpad-nya sih standar aja, nothing special. Paling enggak semua fungsi seperti palm rejection, terus smart gester semua normal. Tapi yang juara emang keyboard-nya sih. Naik ke atas layar. Ada webcam yang webcam-nya standar sih ya, kebiru-biruan gitu dengan 720p 30 fps. Ya saran saya kalau pakai webcam webcam eksternal aja kalau misalkan kalian jadi pembicara atau kalian streaming. Kalau cuman jadi peserta aja ini aja cukup sih atau buat argen-argent ini juga cukup. Oke, sekarang kita masuk ke bagian spesifikasi dan juga performa. Dari layarnya tadi kan ada kompromi. Tapi apakah dapur pacunya ini ada kompromi? Apakah ada tuningan yang dikompromi? Coba kita lihat ya untuk prosesornya. Dia pakai AMD Ryzen 5 7430 U dengan 6 core 12 thre. Ini bukti kalau produk lokal itu enggak selalu pakai chipset refurbis ya. ODM sih mungkin iya tapi kalau bukan semua ODM itu refurbis karena ini chipset baru juga. Untuk default RAM-nya 8 GB dengan slot kosong lagi dan maksimal bisa sampai 64 GB. Terus storage sayangnya dapat 256 GB. Tapi ya di kondisi seperti ini siapa yang bisa komplain ya untuk dapat 512 GB itu harganya pasti bisa di atas Rp8 juta. SSD-nya juga bukan SSD SATA. Ini SSD yang lumayan kencang dengan rate-nya itu 3.600 Mbps w-nya di 1500 Mbps. Tapi untungnya Polytron masih ngasih slot NVMI lebih, jadi enggak perlu korbanin yang bawaan 256 GB. Kita bisa tambah lagi kalau misalkan harga SSD udah mulai stabil. Terus untuk GPU-nya jelas integrated dan ketika kita beli udah dapat Windows 11 Home yang gak ada sih stikernya UHS ya atau Office Home and Student. Belum sih kayaknya itu ya. Lanjut untuk tesnya kita coba sintetis dulu lah ya di sini Bench R23 untuk tahu performa dan juga tuningannya si Polytron ini. Karena spek boleh sama tapi biasanya tuning dan juga cooling masing-masing brand itu punya karakter sendiri-sendiri. Kalau di sini Bench R23 single core-nya ketika mode skenario rata kanan ya dengan mode dicolok adapter multior-nya itu di 8.000 R000 awal-awal terus turun di 7.000 [musik] poin dan pas unplug atau enggak pakai adapter sama ya mirip-mirip aja di 7.000-an multiore-nya single core-nya di 1386. Terus dimar-nya kita coba untuk performa single channel tapi stres testnya dia cuma di 98,7%. Angka-angkanya juga kalau kalian lihat kayak kurang ya karena mungkin single channel. Jadi akhirnya kita putusin coba deh kita tes laptop ini pakai dual channel dan hasilnya stress test tetap lolos dengan skor 98,4% dan time spy dan juga fast strike-nya naik [musik] cukup signifikan ya. Lanjut untuk real scenarioya kita coba juga di Adobe BP Pro dan juga Blender untuk rendering 3D kalian bisa lihat aja chartnya ini kita bandingkan dengan single channel dan konfigurasi dual channel dan jelas yang dual channel bisa hampir dua kali lebih cepat ketimbang single channel [musik] dan coba kita tarik mundur dulu ke hasil Ceb R23 tadi ya terus kita tampilin chart-nya berapa TDP yang ditarik sama dia ketika SBZ R23 terbukti saat spek pertama tadi bisa hit sampai 30 watt dengan suhu 85 derajat Celcius nih kalian lihat aja nih di cat ini ya. Terus dia diturunin di 15 watt sesuai dengan [musik] default TDP-nya dan suhunya ada di 70 derajat celcius aja. Sus segitu sih dingin memang untuk laptop yang setipis ini. Tapi asumsi kita sebenarnya prosesor ini bisa kencang banget bisa sampai 30 watt. Tapi kayaknya tim RnD atau Polytron memutuskan untuk enggak open settingan variable memory dan dilimit [musik] di 512 atau 1 atau 2 GB aja. Tapi kalau kita lihat data suhu tadi harusnya masih bisa diopen kok ya settingannya. Memang suhunya akan naik bisa sampai 85 atau 90 derajat Celcius, [musik] tapi performanya bisa lebih naik lagi. Ya, semoga aja nanti bakalan ada bias atau formware update dari Polytron bisa buka settingannya biar TDP-nya itu bisa lebih naik lagi. Tapi ya kalau kayak gini sih memang kekurangannya power-nya enggak bisa keluar aslinya enggak bisa yang kencang banget. Tapi kelebihannya ya jadi lebih awet laptopnya ya karena suhunya itu enggak dipaksakan di atas 90 derajat Celcius. Game-game kita coba juga di single channel dan juga dual channel. Kalian bisa langsung lihat aja gimana performanya [musik] ya. Beda, lumayan beda antara single dan dual channel. Kayak contohnya Dota 2. Ketika single channel itu maksimumnya cuman 108, ketika dual channel 114 fps. Dan Counter Strike sih yang paling tinggi ya dengan aage CPS 74 dan maksimum 100 kalau pakai dual channel. Nah, untuk su permukaan laptopnya pas kita tes itu masih aman sih dengan tertinggi seperti biasa di atas keyboard itu 45 derajat celcius. Tapi WAD dan juga keyboard yang bakalan sering kita sentuh itu cuma di 37 derajat celcius. Jadi masih di angka aman. Kalau untuk baterai pas kita tes di PCMAX modern Office dia dapatnya di 7 jam 39 [musik] menit. Tapi kalau untuk YouTube 10 menit berkurang cuman 1%. Office 10 menit berkurang cuman 1%. Gaming sih yang lumayan ya. Dia berkurang 10 menit itu berkurangnya 11%. Jadi sesuailah sama tageline mereka always on karena memang laptopnya bisa nyala seharian tanpa colokan. Laptop Luxia ini sebenarnya agak beda seperti Luxia yang sempat kita review. Bahan yang dipakai emang beda, tapi mereka enggak tinggalkan sisi Polytronnya yang punya kesan solid walaupun ada bobot yang agak dikorbankan ya. Tapi 1,4 kg masih bisa masuk tas tanpa terlalu membebak masih okelah. Terus bagian yang dikompromi ya di bagian layarnya tadi color akurasinya di enggak sampai 100% sRGB plus touchpad-nya menurut saya kurang nyaman. Masih nyamanan keyboard-nya. Tapi overall untuk harga R jutaan kita dapat Ryzen 5 7430. RAM-nya 8 GB yang bisa di-upgrade. SSD-nya juga bisa di-upgrade. Menurut saya ini adalah laptop yang sangat langka di kondisi sekarang. Ini aja kalau misalkan Polytron enggak naikin harga di segitu terus saya yakin kayaknya Polytron juga enggak bakalan profit deh. Karena kan mereka pasti averaging dari harga dolar dari harga mereka shipping pertama, kedua, ketiga itu [musik] di averaging ya. Apakah bisa? Tetap R juta kita lihat aja. Tapi kalau R7 juta saran saya udahlah beli aja, enggak usah mikir. Karena Juli nanti bakalan lebih naik lagi. Enggak percaya kalian catat aja ya ini tanggal berapa. Kalian catat sendiri nanti Juli harga laptop bakalan naik. sayaudi and see you on the next video.
