Laptop Asus TUF, Rasa ROG ?? (YouTube Video)
Ternyata efek komponen naik gara-gara AI itu memang semembagkan itu ya. Karena tahun kemarin di budget 23 jutaan kita udah bisa dapat ROG Strick, Legend 5 Pro dan lain-lain. Ya pokoknya laptop-laptop yang pas kalian taruh di cafe semua orang itu bakalan langsung noleh karena mereka lihat stiker Nvidia-nya. Dan asal kalian tahu aja 23 juta itu dapatnya gaming midrange plus RTX 5050. Kalau tahun lalu sebelum AI ini menyerang ya, R3 juta itu udah bisa dapat 5060, 5070. Tapi karena memang keadaannya kayak gitu, walaupun harga komponen naik, ekonominya turun, ya kita harus menormalisasi itu. Dan coba kita lihat apa strategi Asus untuk bisa bikin laptop ini tetap kelihatan warded. Hai Andika, guys di sini kenalin ini adalah Asus Tool F16 yang seri lengkapnya kalian baca di sini aja karena panjang banget kayak password Wii. Jujur laptop ini bikin saya lumayan penasaran karena dengan harga segitu apakah beneran worth atau enggak buat dibeli atau ya bakalan cuman lewat aja di pasaran. Sebelum kita bahas lebih jauh, coba kita bahas dulu spesifikasinya ya. Jadi untuk prosesornya dia pakai prosesor yang kencang Intel Core 7 14650 HX. GPU-nya RTX 5050, RAM 16 GB dengan storage 512 GB. Jadi kalau dulu biasanya itu R3 juta kita dapat 32 GB RAM, storage-nya 1 TB, sekarang turun-nya hampir dua kali lipat. Dari spesifikasinya sih kelihatan ini spesifikasi Asus Toof banget bukan yang rata kanan. Jadi saran saya sih seharusnya RAM-nya kalian spare budget lagi untuk beli RAM 16 GB biar total 32 GB kalau kalian butuh laptopnya untuk kerjaan berat. Tapi sekali lagi kalau enggak perlu-perlu banget enggak usah lah ya. Karena RAM 16 GB harganya sekarang lebih mahal dibanding emas. Andaikan harganya itu di 15 sampai Rp juta kayak harga-harga Asustaf dulu okelah karena ini sekarang dia juga harga segini prosesornya memang ini prosesor kencang tapi ini prosesor bisa dibilang dua generasi ketinggalan lah karena kan 14650 HX terus 14700 HX terus habis itu seri ultra ultra core ultra jadi kalau dibilang ini prosesor baru enggak juga ditambah lagi GPU-nya GPU-nya sih baru memang ya dia pakai RTX 50 series tapi yang versi 5050 juga varian paling rendahnya hanya 50 series dan harganya Rp23 juta. Poin plus dari RTX 50 series ini dia udah punya DLS S4 sama MFG-nya yang kalau kita ngaktifin fitur MFG ini kita bisa set grafiknya rata kanan FPS-nya bakal masih tinggi dan mulus buat main game. Tapi kalau kita nyari raw performance-nya MFG-nya enggak kita aktifin ya 60 fps aja enggak dapat. Dan di RTX 5050 ini karena viramnya 8 GB di beberapa game triple A dia enggak muncul settingan pad racing-nya. Contohnya kayak di Cyberpunk, di Resident Evil Requmem, dia masih belum muncul. Dan karena settingan pad racing-nya enggak muncul, buat kalian yang benar-benar memuja grafik, ya enggak bakalan muncul tuh kayak lighting, shadow, atau pantulan-pantulan yang biasanya bikin vibe nge-game itu lebih hidup. Tapi daripada kita cuman ngomongin teorinya aja, langsung aja deh kita buktiin. Tapi pertama kita coba dulu di benchmark sintetisnya ya. Di settingan pertama seperti biasa kita coba dengan mode adapter atau dicolok dan hasilnya single core dia dapat 1916 multiore-nya bisa stabil di 21.000 poin. Tapi karena ini laptop gaming yang adapternya itu bisa ngebantu nge-boost TDP-nya jadi kalau misalkan baterai only ya lumayan turun performanya dengan single core-nya di 1700, multiore-nya di 11.000 1000 poin. Kalau untuk SSD-nya walaupun dia cuman 1/2 TB tapi masih oke sih karena speed-nya lumayan kencang dengan speed-nya itu di 6000 Mbps wide di 4.000an Mbps. Untuk stability karena ini laptop gaming stability-nya juga aman pas kita tes di time spice test dia juga lolos di 99,7%. Dan untuk skore 3D Max-nya kalian bisa lihat langsung aja di sini. Sekarang kita coba dia untuk editing. Editing sih lumayan kencang ya untuk export Premiere 4K dengan template yang memang biasanya kita pakai selesai cuma dalam waktu 1 menit 5 detik. Kalau full HD cuman 42 detik. Nah, buat kalian yang pengin belajar rendering 3D juga masih aman. Karena untuk blender CPU render di 2 menit aja kalau pakai GPU cuman 24 detik. Kalau buat render jujur menurut saya performanya udah cukup lah ya. Karena saya pribadi pakainya juga cuman Premiere Pro kalau enggak After Effect. Rendering 3D juga enggak pernah. Tapi sayangnya kalau dibuat main game ya kita benar-benar bergantung sama MFG atau multifame generation-nya. Contohnya di game Resident Evil Refim. Kalau misalkan multi generation-nya ini kita off-kan, average FPS-nya cuma dapat di 38. Nah, kalau kita on-kan, dia bisa langsung tembus tuh di 116 fps. Itu pun dengan multiframe generation 4 kali. Battle fit 6 juga sama. Kalau misalkan kita off-kan average FPS-nya di 77 ini masih oke lah ya. Masih playable di atas 60 dan kalau kita aktifkan MFG-nya bisa loncat 4 kali juga dengan average FPS di 283. Sebenarnya dari hasil tes gaming ini ya, kalau misalkan MFG-nya tadi kita aktifkan ya, laptopnya masih kuat-kuat aja. Tapi kalau kalian butuh raw performance tanpa harus ada MFG, karena kan enggak semua game support sama MFG ya. Kalau game-nya yang enggak support ya jatuhnya FPS-nya cuman di sekitar ya 50 sampai 60 FPS. Buat suhunya sendiri kalau kita lihat dari charge spike-nya emang bisa sampai di 85 derajat, tapi bukan yang terus-terusan di 85 derajat. Cuman bentar aja habis itu diturunin lagi sama dia di 60-an. Untuk suhu permukaan tergolong aman karena suhu tertingginya itu cuma di 40 derajat Celcius pas kita buat main game tadi. Apalagi kalau tombol-tombol WASD atau tombol yang bakalan sering kita pakai buat nge-game itu cuma di 31,9 derajat Celcius. Lanjut kita bahas soal layarnya. Layarnya menurut saya juga ada yang dikompromi. Karena biasanya tahun lalu pokoknya sebelum AI ini menyerang R3 juta itu biasanya kita dapat resolusi layar yang udah QXD. Nah, ini R3 juta kita dapatnya IPS belum OLED dan resolusinya masih di full HD plus. Tapi kalau soal akurasi warna udah oke sih. SRGB-nya dia hampir di 100%, NTC-nya 69%, bikness tipicalnya dapatnya di 270 units. Kenaikan harga komponen ini memang bikin pusing banget ya. Bukan kita aja yang pusing sebenarnya vendor-vendor kayak Asus, MSI, Lenovo mereka semua juga pusing karena mereka harus ngakalin gimana laptopnya ini bisa tetap terlihat worth it naik. Karena kalau kalian lihat dengan spesifikasi yang sama di brand internasional ya kayak Lenovo, Acer, apapun itu harganya mirip-mirip sama ini. Jadi bukan Asus doang yang harganya naik. Kalau kita bandingin sama brand ODM lokal, brand ODM lokal lebih terlihat spesifikasinya lebih manusiawi lah dengan harga yang juga sama sekitar Rp2 jutaan. Contohnya kayak Axi Pungo 775 di harga sekitar 20 ke atas. GBU-nya udah pakai 5070. Layarnya udah QXD plus 180 Hz. Tapi ya gitu. Kalau kalian tanya kenapa kokio bisa lebih murah, Asus lebih mahal? Karena kan Axio ini ODM ya, jadi dia cuman tempe logo aja dari brand Clivo. Cuman walaupun cuma tempe logo aja, Axio secara after sales sebenarnya udah bagus. Tapi karena dia ODM jadi enggak ada software bawaan kayak My Asus atau Armory Crate yang ada di Asus Toof ini. Ya, kalau kalian butuhnya cuman performa, kalian enggak butuh soal desain, terus kalian enggak peduli software, kalau sale sih masih aman kok. Axio itu punya 194 titik service center. Terus satu lagi yang enggak dimiliki sama Axio Pungo, yaitu big quality-nya Exustif ini sudah lolos sertifikasi standar militer. Terus selain itu di bagian baterai juga lumayan gede. Kapasitasnya itu di 90 wat hour. 90 wat hour untuk laptop gaming ya segitu-gitu aja sih sebenarnya kalau dibuat game ya paling 2 atau 3 jam habis. Tapi kalau dibuat ngetik-ngetik aja tanpa pakai diskrit GPU-nya masih bisa sekitar 6 sampai 8 jam. Okelah, jadi mungkin cukup segitu aja review dari Asus Toof F16 FX608 ini. Ya jujur aja sebenarnya kalau kita lihat harganya lagi yang R3 juta dapat spek kayak gini emang bikin agak nyesek. Tapi berhubung yang ngelakuin kayak gini bukan cuma satu brand aja Asus tapi hampir semuanya karena ini impact dari RAM dan juga SSD yang semuanya beralih ke AI. Belum lagi perang sekarang. Waduh semua komponen itu naik. buat ngejawab pertanyaan dia worthed atau enggak. Kalau untuk kondisi sekarang ya, ini sih masih worth it karena saya dengar-dengar April nanti i3 aja ya itu bisa tembus di Rp10 juta dan kondisi ini bakalan masih sampai 2030 selama belum ada pabrik RAM yang dibuat lagi. Jadi kalau kalian tanya boset atau enggak sekarang ya busted sih karena kalau misalkan April atau bulan depan itu udah naik lagi. Kalau untuk kelebihannya jelas. Asus TE F16 ini build quality, performanya juga masih oke. Dengan RTX 50 series walaupun seri terendah, kita bisa nikmatin fitur MFG-nya terutama sama DLS S4 yang bikin FPS-nya itu jadi lebih tumpah-tumpah tanpa harus ngorbanin visual yang kelihatan banget. Terus soal software pendukung kayak Armory Crate itu bisa diotak-atik dan perfect warantinya juga cakep. Ukurannya ya cuman satu aja ya. Kalau kalian terbiasa beli laptop Rp23 juta udah dapat RUG, kalian beli 2 tahun lalu, nah sekarang kalian bakalan kaget di Rp23 juta kalian gak dapatnya cuman Asus. kekurangannya cuman harga aja sih. Saya kudi and see you on the next video.
