Jungkat

Laptop Bisnis 50 Juta, Seaman Apa Sih ?? ASUS ExpertBook Ultra Setelah 3 Bulan ... (YouTube Video)

  • 31/08/2026

3 bulan yang lalu saya bilang kalau Asus Expert Book Ultra ini adalah laptop bisnis terbaik yang pernah saya review. Dia tipis, ringan, dan tampilannya ini loh lebih mirip laptop yang diajak nongkrong ke coffee shop daripada laptop yang biasa kalian lihat di kantoran. Tapi ternyata yang paling menarik dari laptop ini setelah 3 bulan saya pakai bukan karena dia tipis, magnesium alloy, tandem oled, prosesor kencang, lebih dari itu. Karena hari ini kita enggak cuma mainan benchmark, saya mau bikin sistem keamanannya ini saya coba bobol, SSD-nya kita ganggu, bias-nya kita utak-utik, firmware-nya kita bikin bermasalah sampai kita kasih file yang dianggap malware sama Windows. Karena klaimnya Asus kan laptop ini bukan cuma durable dari sisi body, tapi juga durable dari sisi security. Hmm, apa iya? Langsung aja kita buktiin. Hai Andika, Guys. Di sini ini adalah Asus Expertbook Ultra dengan kodenya itu B9406CA. Laptop yang bikin saya lupa kalau di meja saya itu sebenarnya juga ada MacBook M4. Di video pertama kita udah ngomongin desain magnesium aloynya yang tipis sekitar 1 cm, tandom OLED, Intel Call Ultra X7 sampai performa GPU integrated yang menurut saya kencang untuk laptop dengan form vektor setipis ini. Tapi setelah 3 bulan saya pakai, saya mencoba untuk membuktiin omongannya Asus apakah dia benar-benar durable dari sisi security. Dan ternyata memang secanggih itu sih. ASUS ngasih fitur yang namanya itu Asus Expert Guardian yang benar-benar kayak Guardian of Galaxy gitu. Jadi dia bisa memproteksi dari segala sisi. Karena jujur performa tinggi itu gampang dibuktikan. Tinggal buka cinebch, lihat angka selesai. Tapi uji keamanan ini agak beda ya. Kita harus lihat gimana kalau misalkan SSD-nya ini kita copot terus dicolong apakah dia ada proteksinya. Jadi datanya itu apakah benar-benar terkunci. [musik] Terus ketika firmware-nya berubah apakah laptopnya masih nyatet? Terus ketika ada file mencurigakan [musik] apakah sistem mendeteksinya? Dan ketika Windows benar-benar rusak apakah dia bisa self recovery sendiri? Jadi bayangin aja biasanya laptop bisnis itu memang punya berlapis-lapis security. Jadi bayangin kalau misalkan laptop ini adalah rumah. Pertama pertanyaannya orang asing bisa masuk atau enggak? Kedua, kalau ada yang mencoba masuk [musik] rumahnya ini tahu atau enggak? Ada CCTV-nya atau enggak? Dan ketiga, kalau rumahnya ini sampai rusak, apakah dia bisa dibangun ulang? Self recovery. Jadi, di pengujian security kali ini saya bagi jadi empat ya. Ada prevent, detect, respon, dan juga recover. Tapi sebelum kita bahas itu, kita harus pahami dulu ancaman-ancamannya ini apa aja ya. Karena ancaman dari laptop bisnis kayak gini bukan cuma kayak hacker yang pakai hoodie terus keyboard-nya RGB yang bisa ngetik sampai 700 kata per menit gitu, enggak. Karena ancaman yang paling realistis justru dari manusianya, kecerobohan manusianya. Misalkan laptopnya tertinggal di hotel, dicuri di kendaraan, dibawa ke tempat servis yang gak terpercaya, terus mungkin ada pegawai yang pakai laptop ini, terus dia ngeklik link pising sampai biasanya hal pilih aja deh update firware, update BIOS [musik] terus tiba-tiba lampu mati gagal gitu. Apakah BIOS-nya ada self recovery? Karena dalam kondisi seperti itu ya, password Windows aja enggak cukup. Karena kalau kita ngomongin data ya, SSD itu bisa dilepas terus dipindah ke laptop yang lain. Terus gimana kalau soal firmware, malware terutama ya. Malware itu kalau misalkan ada di laptop kalian itu bukan virus. Kastanya itu lebih tinggi dari virus. Yang biasanya walaupun udah kalian instal ulang tetap aja malware-nya itu ada di situ. Nah, si expert guardian ini mencoba melindungi laptop dari berbagai arah sekaligus. Bukan cuma mencegah serangan masuk, tapi juga mendeteksi ketika ada sesuatu yang berubah. terus memulihkan perangkatnya sendiri ketika perlindungan pertama itu gagal. Makanya Asus selalu menggembar-gemurkan self recovery. Tapi buat yang lupa dengan spesifikasinya Asus Expertbook Ultra yang harganya lumayan ini, kalian bisa cek spesifikasinya di sini aja kalau misalkan kalian malas nonton video review kita yang lalu. Dan sekarang langsung aja masuk ke bab pertama, prevent atau pencegahan. Dari sisi prevent ini ada fitur yang namanya bit locker dan juga TPM. Jadi kita mulai dari ancaman yang paling mudah dibayangkan dulu aja L ya. Jadi kalau misalkan laptop kalian tertinggal atau dicuri atau memang sengaja dicuri karena pengin ngambil datanya ya bisa aja laptopnya dicuri. Ada password Windows-nya memang. Tapi gimana kalau misalkan SSD-nya dicopot terus dipasang ke laptop yang lain? Banyak orang yang ngiraws aja udah cukup lah ya untuk memproteksi semua datanya. Beda ya. Windows dan juga akun Microsoft kalian itu adalah sesuatu yang beda dengan storage [musik] yang ada di SSD. Karena kalau drive-nya itu enggak dienskripsi, data masih bisa dicoba diakses dari luar sistem operasi. Nah, di sinilah si Bit Locker ini bekerja. Bitlocker ya, bukan Bitcoin. Jadi, si bootlocker ini gunanya adalah mengensi data yang ada di SSD, terus ada TPM juga. Nah, TPM ini fungsinya ya gampangnya kayak double layering dari beit loocker tadilah. Kalau misalkan ya kalau misal dianalogikan anggap aja sat pam-nya itu adalah beat loockernya. TPM itu kunci brangkasnya. Jadi kalau mau nyuri itu harus pakai dua layer. Wah susah. Kecuali kalian anggotanya money H mungkin bisa ya. Nah, saat saya cek di unit yang kita review ini, drive sin-nya itu udah terinkripsi 100% menggunakan XTS AE18. Setelah STPM protector dan recovery password-nya terpasang, status perlindungannya berubah jadi protection on. Artinya data kalian itu sudah terenkripsi di drive-nya dan juga perlindungannya itu sudah benar-benar aktif. Di penggunaan normal, TPM yang ada di motherboard itu buka drive secara otomatis. Makanya kita tetap bisa masuk Windows hanya menggunakan PIN atau password akun seperti biasa. Tapi dengan TPM aktif ini misalkan laptop kalian dicolong terus SSD-nya dicopot, dimasukin ke laptop lain, itu enggak bakalan bisa dibuka. Jadi kalau kalian lihat ada video-video yang dia kayak ngopy Windows terus dicopy ke laptop lain dan bisa terbuka. Yait berarti antara laptopnya enggak punya fitur TPM atau fitur TPM-nya tadi belum aktif, real protection-nya belum on. Karena secara teknikalnya ya memang data-datanya itu tetap di SSD, tapi TPM-nya tadi enggak ke-copy juga untuk dipindahkan ke laptop lain. Jadi ya enggak bisa dibuka. Ini penting banget sih ya. Terutama kalau laptopnya itu dipakai tim finance legal, sales atau manajemen. Karena kerugian terbesarnya bukan harga SSD atau harga laptopnya. Kerugian terbesarnya itu datanya. Kalau misalkan bocor ada ND, ada embargo, terus ya data perusahaan kayak misalkan data game-game yang sebelum launching udah klik kayak gitu. Wah, itu sih kerugiannya bisa lebih besar. Selanjutnya masuk ke tes yang bikin saya agak deg-degan juga sih ini. Jadi saya coba untuk downgrade BIOS-nya karena sebelum Windows dan Antivirus bekerja itu ada bias atau UFV lah yang menjadi fondasi awal perangkat. Upgrade BIOS itu biasanya enggak cuman soal performance dan juga compatibility ya, tapi juga soal keamanannya. Jadi kalau misalkan di-update BIOS-nya, keamanannya juga terupdate. Karena kalau misalkan pelakunya itu mencoba downgrade bias-nya, ibaratnya kayak kalian punya rumah, udah kalian kunci dengan kunci yang baru, tapi tiba-tiba ada yang masang dengan kunci yang lama. Yang kunci lamanya udah tersebar kan bahaya juga ya. Nah, sebenarnya Asus ini punya yang namanya roll prevention yang artinya dia kalau udah upgrade BIOS enggak bisa diturunin lagi. Tapi ternyata saya coba untuk downgrade BIOS bisa. Jadi untuk unit ini BIOS yang terpasang itu adalah versi 312. Terus saya coba cari file yang downgrade-nya ada di BIOS versi 304. Filennya berasal dari BIOSIOS-nya si laptop ini. Terus dan has-nya sama artinya file yang masuk ke USB enggak berubah atau rusak selama proses pemindahan. Terus saya pilih menunya ya Asus EZ Flash itu biasanya untuk upgrade BIOS. Dan ya harapan saya sih karena ada rollback prevention ketika saya masukin untuk downgrade ya langsung ditolak gitu sama sistemnya tapi ternyata enggak ditolak dia malah jalan ya. Akhirnya ya mau enggak mau karena untuk upgrade BIOS itu enggak boleh ada gangguan, enggak boleh saya cancel, enggak boleh dimatiin laptopnya ya akhirnya saya pasrah aja saya tunggu sampai selesai. Untungnya laptop bisa balik ke Windows lagi. Tapi ketika saya cek pakai DXDX dan PowerSellas-nya masih versi 312. Jadi sebenarnya dia enggak downgrade ya menurut saya rollback prevention-nya dari Asus mungkin bisa dibias-nya itu langsung dikasih portal atau git ya. Kalau misalkan ditolak, ditolak aja gitu. enggak usah sampai prosesnya selesai karena prosesnya selesai tapi kalau dilihat versi BU-nya masih 312 enggak 304. Jadi ya daripada buang-buang waktu kan mending dicegat di portalnya kalau misalkan wah udah ini enggak boleh downpade bias menurut saya akan lebih bagus seperti itu sih. Dan ini udah saya coba tes sampai tiga kali dan tetap hasilnya sama. Dia tetap di versi bias 312 [musik] bukan 304 downgrade-nya. Bahkan untuk menguji ketahanan proses hardbit BIOS-nya saya coba menahan tombol power pas firmware-nya sedang ditulis. Normalnya gak akan ada yang berani orang untuk update BIOS terus dimatiin atau ditahan tombol power-nya mati. Karena proses bias itu enggak boleh sampai mati. Karena kalau misalkan gagal bisa boot loop, bisa stuck. Tapi di Asus Experbook ini hebatnya tombol power-nya itu ketika masuk mode bias update ya itu enggak bisa diapa-apain. Jadi mau kalian tekan tahan 1 bulan pun enggak ada responnya. Jadi kayak sengaja dimatiin biar sampai proses upgrade bias-nya itu selesai. Nah, sekarang masuk ke bab du. Tadi kan prevent ya, bab duanya itu adalah detect. Nah, saya pengin tahu apakah Asus ini nyimpan lock file kalau misalkan laptopnya ini di otak-atik dan hasilnya ternyata dicatat sama dia ada. Jadi, pas saya balik ke BU, saya menemuin ada sistem lock support dalam kondisi aktif. Nah, di dalamnya proses easy flash tadi tercatat cukup lengkap. Jadi, ada waktu proses mulai, ada [musik] waktu proses selesai, ada pencatatan ketika data FB tersimpan, dan ada catatan ketika sistem melakukan boot kembali. Jarang-jarang loh ya laptop itu punya sistem lock support. Jadi di situ kita bisa tahu semuanya gunanya apa. Ya, kalau misalkan kalian habis bawa dari tempat servis, kalian bisa tahu tuh ini laptop saya diapain ya. Terus kalau misalkan laptopnya diotak-atik bias-nya atau apapunnya, kalian juga bisa lihat dari locknya. Jadi kalau misalkan suatu saat kalian ngira kok laptopnya berubah ya, kok reveal-nya beda ya, performance-nya beda ya, tinggal dilihat aja di sistem lock support-nya apa yang sebenarnya terjadi dengan laptop ini. Tapi pas saya otak-atik di sistem lock support tadi, saya menemukan hal yang menarik sih namanya itu firmware corruption. Jadi di dalam sistem lock support tadi ada rangkaian kejadian yang kayak firmware data corruption detected, terus ada restore firmware data dan ada save firmware data. Entah apa yang saya lakukan pas tes, entah saya yang salah atau laptopnya yang salah. Yang jelas sih di sistem lock support-nya kayak gitu. Tapi intinya sih laptop ini juga mencatat kalau misalkan ada firmware yang bermasalah, terus firmware-nya itu mencoba untuk melakukan recovery, terus kemudian nyimpan kembali data firmware tersebut buat backup, semuanya itu tersimpan dengan rapi di sistem lock support-nya. Ini mekanisme yang cukup menarik sih karena artinya laptop ini bisa benar-benar prevent dan juga detect tadi. Nah, sekarang kita masuk ke pengujian yang menurut saya paling ekstrem di laptop ini karena ASUS kan punya yang namanya itu self bias recovery ya. Jadi kalau misalkan ada virus, malware atau apapun itu yang enggak nyerang Windows tapi nyerangnya ke bias, dia ada self recovery sendiri. Cuman ketika saya tanya Gemini CPT untuk saya bisa download virus-virus yang seekstrem itu tidak diperbolehkan. Di Google pun juga enggak ada dan ya saya harus masuk ke dark web. Cuman kalau masuk ke darkwake menurut saya agak bahaya ya. Walaupun mungkin bisa saya isolasi Wii-nya tapi menakutkan juga. Jadi akhirnya saya memutuskan untuk upgrade BIOS tapi pas upgrade BIOS itu langsung saya cabut baterainya biar dia mati. Karena seharusnya itu enggak boleh. Yang bakal terjadi adalah boot loop. Dan ya setelah saya lakukan itu, akhirnya laptopnya bermasalah ya. Saya deg-degannya itu sekitar 10 sampai 15 menit lah ya. Karena dia kayak langsung bar putih gitu. Entah nungguin apa, saya juga enggak tahu. Tapi akhirnya setelah proses itu selesai, yang terjadi adalah dia balik ke Windows lagi. Gokil sih. Coba kalau kalian enggak percaya, kalian masuk ke BIOS terus upgrade BIOS atau downrade BIOS. Pas proses itu kalian cabut baterainya atau adapternya. Kalian coba di laptop kalian kalau berani. Tapi ya tapi kalau kalian punya laptop ini enggak apa-apa sih. Karena dia ada self bias recovery yang ternyata berfungsi juga. Dan yang menarik, semua kejadian ini dicatat sama bias-nya saat ada kerusakan firmware atau saat ada penyusup ini memodifikasi bias semuanya tercatat di sistem lock support-nya tadi. Jadi benar-benar kalau kalian paham gimana cara baca sistem lock support-nya ya kalian bisa audit apa yang terjadi sama laptop ini. Selengkap banget dia nyatatnya. Setelah bias kita coba dia uji pakai namanya pengujian ear lah ya. Jadi di tes ini kita mencoba menguji kemampuan laptop ini mendeteksi ancaman dengan membuat rangkaian script yang memang dibuat untuk dikenali antivirus kayak malware gitulah. Tapi sebenarnya enggak punya kemampuan merusak perangkat. Jadi saat si rangkaian script ini kita masukkan ke powers shell, rangkaian script ini seharusnya kan dia jadi file ya. Nah, sebelum dia jadi file, power cell ini nyerahin dulu kontennya ini ke AMSI, ke antivirus. Begitu polanya dikenali, proses langsung dihentikan dan muncul peringatan bahwa kontennya berbahaya dan sudah diblokir langsung tanpa persetujuan kita ya. Langsung diblokir. Tes ini sih emang basic ya dan hampir semua antivirus ya [musik] kayak gitu sebenarnya sistem kerjanya. Jadi pengujian AIK ini sebenarnya bukan kayak dia bisa free dari semua ancaman virus. Enggak. Tes ini cuma buktiin kalau memang proteksinya aktif. Ancamannya itu bisa dikenali, eksekusinya bisa diop, penggunanya bisa diberi peringatan, dan kejadiannya pun bisa tercatat di sistem lock support. Jadi poinnya di sini ya kalau kalian mau matiin Windows Defender ya bebas itu laptop-laptop kalian, Windows-windows kalian sendiri. Tapi menurut saya sih ya Windows Defender itu kalau misalkan kalian nonaktifkan ya memang performanya lebih kencang. Tapi berapa paling 0 kom sekian pers lah ya sama kayak kayak kalian nutup aplikasi aja gitu karena kan aplikasi yang kalian buka ya pasti makan RAM kan. Windows Defender kalau kalian close enggak kalian aktifin ya sama kayak ada satu program antivirus yang ketutup. Udah gitu aja paling cuman berapa persen ningkatin performa tapi laptop kalian bisa bermasalah. Jadi ya bebas sih laptop-laptop kalian sendiri. Tapi kalau saya ya kalau misalkan saya punya data penting, saya enggak bakalan matiin Windows Defender untuk ngejar performa yang cuman 0 kom sekian pers. Sekarang masuk ke pengujian ketiganya. Jadi ada respon dan juga recover. tadi prevent dan juga detect. Udah. Jadi, balik ke pertanyaan tadi. Kalau misalkan TPM-nya ini enggak tersedia, apakah pemiliknya ini langsung tercuri gitu data dari SSD-nya? Untuk buktinya, TPM protector dari beitlocker sengaja saya lepaskan dulu pakai mekanisme recovery resmi, ya. Jadi, saya enggak mematikan atau merusak chip TPM-nya. Jadi, bukannya saya sengaja mencabut atau merusak si TPM chipnya itu yang dilepas cuma jalur TPM yang biasa dipakai beitlocker untuk buka drive secara otomatis. Setelah laptop direstart, Windows enggak langsung terbuka. Laptopnya itu terhenti di layar bit locoer recovery dan meminta recovery password sebanyak 48 digit. Di sinilah fungsi recovery key yang penting karena kalau misalkan orang enggak punya kunci tersebut, ya 48 lagi ya, dia enggak bakal bisa masuk. Tapi kalau misalkan pemilik yang benar yang udah nyarat recovery key-nya 48 digit tadi, tinggal masukin aja ya, dia dengan gampangnya masuk. Dan setelah kode yang benar dimasukkan, laptop berhasil masuk ke Windows. Datanya tetap ada, aplikasi masih tersedia, dan TPM protectornya bisa dipasang lagi. Jadi, bit lockernya bekerja dalam dua sisi. Kalau untuk prevent-nya, ya mencegah orang untuk [musik] membaca datanya. Terus kalau untuk recover-nya dia menyediakan jalur darurat biar pemilik yang sah, yang punya kodenya tadi enggak kehilangan akses ketika TPM atau lingkungan boot-nya berubah. Karena sistem keamanan yang baik itu bukan cuma pintar ngunci, tapi juga harus tahu nih sistem keamanan ini harus tahu siapa pencurinya, siapa yang pemilik sahnya. Karena kalau misalkan pemilik sahnya lupa kuncinya, tetap aja kan enggak bisa masuk. Makanya butuh sistem keamanan yang pintar biar juga tahu siapa pemiliknya. Lanjut ya. Ini emang agak teknikal karena saya pengin benar-benar mengujinya itu dari sisi security ya [musik] karena bukan dari sisi cine BCH. Performa kan kemarin udah ya. Jadi benar-benar saya pengin mengujinya dari sisi security. Mungkin bahasanya bakal ada yang terlalu teknis. Jadi tolong dimaafkan. Tapi saya usahakan untuk sebahasa sesederhana mungkin bahasa bayi. Jadi setelah proses update bias-nya muncul layarnya bakalan tulisannya seperti ini. Sederhananya ini sistem sedang menyimpan informasi integritas atau sidik jari firmware ke area SPI room cadangan. Jadi data tersebut nantinya dapat digunakan sebagai referensi ketika sistem memeriksa apakah firmware masih berada di kondisi yang sesuai. Proses ini tadi juga tersimpan di sistem lock support. [musik] Pokoknya semuanya yang kalian edit bakalan masuk ke sistem lock support tadi. Dan kalau di kasus ini sih si lock-nya itu nyimpannya sebagai save firmware data. Dan ini nyambung dengan temuan sebelumnya. Sistem pernah mendeteksi firmware data corruption, menjalankan restore, kemudian menyimpan kembali data firmware-nya. Terus kalau misalkan Windows-nya benar-benar kacau, error, waduh Windows itu kan ya memang harus diakui Windows itu bukan OS yang paling bagus. Enggak ya. Banyak memang masalahnya Windows dan nanti ketika Windows-nya rusak ya masih ada backup lagi. Apa itu? Cloud recovery. Cloud recovery ini bisa diakses langsung dari bias menggunakan tombol F6. Fungsinya untuk mengunduh kembali image resmi Asus lewat internet, terus mengembalikan Windows driver, dan konfigurasi dasarnya. Fitur ini bakalan berguna di beberapa kondisi sih. Misalnya Windows-nya gagal boot dan startup repair-nya enggak berhasil. sistem terkena malware berat sampai sistemnya ini diragukan, recovery partition lokal hilang atau SSD rusak dan diganti dengan SSD baru yang masih kosong. Dalam kondisi seperti ini ya sistem instal ulang Inul itu memang bisa dilakukan tapi [musik] ya drivernya harus nyesuaiin lagi ribet. Jadi si Cloud Recovery ini menyediakan jalur untuk kalian bisa balik ke laptop Asus-nya kayak factory reset lah. Jadi kembali ke settingan awal out of the boxnya. Cuman jujur aja di video ini saya gak melakukan cloud recovery karena data-data saya di sini walaupun cuma saya pakai 3 bulan, tapi data-data saya di sini udah lumayan bahaya ya. Jadi cloud recovery ini anggap aja opsi terakhir lah kalau misalkan laptopnya udah benar-benar kena virus yang wah kalian udah pusinglah mending diinstal ulang lah. Tapi instal ulang pun enggak bisa di sini ya. Jadi mending pakai cloud recovery tadi biar driver-drivernya itu balik ke settingan Asus awal. Wah gila ya ngomongin sistem security dan juga recovery tadi lumayan panjang ya. Mungkin kalian agak pusing nontonnya, tapi memang kalau saya pengin [musik] angle yang baru lah, pengin angle security ini. Karena sebenarnya kalau saya ngomongin cuman performa terus desain, itu kan biasa ya. [musik] Nah, Asus punya sistem security yang menarik sebenarnya kalau misalkan kita ulik. Tapi kalau misalkan kalian pengin ke pengujian gaming yang lebih ekstrem juga ya kita cobalah ya. Kalian bisa lihat chart ini. Kita coba di game first light dan juga prak mata di beberapa settingan. Kalian bisa lihat chart ini aja. Nah, intinya GPU yang cuma integrated di sini masih sangat mampu untuk main game-game ini di resolusi natifnya 2,8K bukan full HD. Okelah, jadi mungkin cukup segitu aja video review dari Asus Expert Book Ultra yang udah saya pakai sekitar 3 bulan ini dan wah coba deh pasti setuju yang punya Asus Exper Ultra coba komen di bawah. Ini laptop yang benar-benar surprisingly nyaman banget dipakainya dan menurut saya ini salah satu laptop bisnis yang paling menyenangkan yang pernah saya pakai. Bunya tipis, ringan, layarnya tajam, performanya [musik] kencang, baterainya awet, dan quality-nya ini magnesium aloynya ini benar-benar kerasa kayak laptop mahal. Kekurangannya setelah saya pakai 3 bulan ini touchpad-nya mungkin terlalu sensitif ya. Dia kan punya gesture untuk naikin volume dan juga brightness dari touchpad. Nah, kadang dia terlalu sok pintar gitu. Jadi, saya mau nge-slide tiba-tiba brightness-nya berubah sendiri, volumenya berubah sendiri gitu. Walaupun sebenarnya fiturnya bisa dimatiin sih. Terus untuk laptop bisnis, salah satu syarat yang paling penting menurut saya adalah harus bisa dibuka dengan satu tangan. Dan dia gampang banget dibuka dengan satu tangan. Tapi sayangnya enggak bisa dibuka sampai 180 di. Tapi yang paling menarik menurut saya ya setelah 3 bulan saya pakai ini sistem keamanannya bidlocker dan TPM-nya terbukti bisa ngunci data ketika jalur pembukaan normalnya itu enggak tersedia. Sementara recovery key dengan 48 digit tadi itu wajib kalian simpan. Jadi kalau misalkan ya ada apa-apa intinya kayak walletnya Bitcoin lah. Jadi [musik] kalian bisa buka laptopnya, bisa buka Windows-nya. Kalian dengan 48 digit tadi itu si sistem bisa tahu kalau kalian adalah pemilik yang sah. Aktivitas BIOS juga tercatat semua di sistem lock. Termasuk riwayat ketika sistem [musik] pernah mendeteksi firmware corruption, terus jalanin recovery. Cloud recovery juga tersedia sebagai jalur terakhir ketika Windows rusak atau SSD-nya korup. Jadi ya sebenarnya laptop bisnis itu mahal bahkan harganya itu lebih mahal dari laptop gaming ya harusnya ya. Ini harganya untuk yang varian 32 kalau saya enggak salah ya di Rp50-an juta kalau kalian cari yang 64 dan juga storage 2 TB itu harganya Rp84 juta. Ini yang anak-anak gamers pasti wah harga segitu mending beli ROG, mending beli t lebih kencang. Memang kalau ngejarnya kencang ya memang harusnya laptop gaming, tapi kalau ngejarnya sistem keamanan, security double berlayer-layer, terus juga mobilitas karena laptopnya enteng, ya laptop bisnis makanya ada segmentasinya kan. Laptop gaming bisnis, terus laptop enterprise, workstation gitu karena semuanya enggak bisa disamain. Jadi ya kalau untuk pengguna biasa, anak kuliah, sekolah, terus kerjanya cuman Office, Excel yang datanya enggak terlalu penting, berlebihan sih kalau beli laptop ini berlebihan. Kecuali kalian memang sultan banget ya. Tapi kalau profesional yang bawa data penting, contohnya bawa kasusnya Jampitsus, waduh itu kan bahaya ya. Terus mungkin pengacara ya Hotman Paris cocok pakai laptop ini karena datanya berlayer-layer dan aman. Terus koruptor sih koruptor sih oke sih pakai laptop ini kalau misalkan mereka pengin datanya enggak terpublik dan enggak tersidak sama Jaksa Agung dan juga KPK. Ya intinya itulah kalau orang bisnis itu pasti mikirnya bukan seberapa harga laptopnya. Tapi seberapa hebat dia bisa menyimpan [musik] datanya? Karena jelas datanya itu bakal lebih mahal dibandingkan laptopnya. Saya Budi and see you on the next video.

Lihat di YouTube