Laptop Core Ultra 5 Paling Murah sih, tapi kok... ah embuhlah (YouTube Video)
Laptop ODM itu M-nya mistery. Jadi dia kadang bikin kita happy, kadang juga bikin gigit jari sampai kitanya geleng-geleng sendiri. Contohnya di laptop ini ya. Walaupun secara spesifikasi terlihat mumpuni, tapi ada aja hal yang pengin bikin kita cacing maki. Ya udah biar openingnya ini enggak terlalu banyak improvisasi, selamat menonton yang puasa tapi bikin dosa tiap hari. Hai Andika, guys. Di sini kenalin ini adalah Advance Workmate Ultra yang harganya ini enggak sampai Rp8 juta, tapi prosesornya bikin kita tergoda. Karena bayangin aja harganya ini enggak sampai Rp8 juta, tapi dia pakai Intel Core Ultra. Eh, menarik banget. Tapi seperti biasa karena ada kompromi karena harganya murah. Jadi kita harus curiga apa aja yang dipangkas di laptop ini. Contohnya ya prosesornya pakai Intel Call Ultra NPU ada RAM 8 gig buka tab 5 laptopnya langsung minta dir tadi adalah rule of 3 yang entah itu lucu atau enggak tapi saya lagi mencoba untuk ya nyelip-nyelipin komedi lah ya di video ini. Semoga lucu. Tapi tadi kayaknya enggak lucu deh. Langsung aja deh kita bahas soal spesifikasi dari laptop ini ya. Untuk spesifikasinya dia pakai Intel Core Ultra 5. Gokil. Beh, gigi banget ya. Enggak sampai Rp8 juta tapi Intel Core Ultra 5. Tapi Core Ultra 5-nya ini generasi yang pertama ya, keluaran 2023. Tapi lumayanlah ya daripada Gen 12 sama Gen 13 kan dikatain refurbish nanti sama Edwin GTID ya. Untuk seri lengkapnya dia ini Intel Core Ultra 5 115U yang punya 8 core 10 trad dan ini masuk kategori prosesor yang super irit baterai ya. Lower clock speed-nya itu cuma di 0,7 GHz. Untuk spesifikasi lengkapnya kalian bisa langsung lihat di layar ini aja biar cepat. Untuk pengujian baterainya pas kita tes dia dapatnya di 8 jam 20 menit. Padahal kapasitas baterainya itu cuma di 45 wat hour. Untuk baterai 45 wat hour 8 jam 20 menit di PC Masih lumayan ok lah walaupun bukan yang awet-awet banget. Prosesor di atas kertas udah menjanjikan, tapi kalau kita lihat RAM-nya, sayangnya ya cuman 8 GB. Memang kalau kita lihat dengan kondisi RAM yang sangat mahal saat ini, yang enggak bisa disalahin sih, Advan kalau konfigurasinya cuman 8 GB. Tapi rasanya kalau kita punya prosesor Intel Core Ultra 5 dengan RAM 8 GB, kayak ibaratnya kita ngangkat Menteri Cominfo tapi pas data centernya itu diserang sama renomware, jawabannya itu alhamdulillah kayak gitu. Jadi kayak battle, jadi kayak gelarnya aja yang mentereng S3, tapi pas problem solving-nya ya gitulah ya. Tapi untungnya ini laptop ya. Kalau laptop ini kalau kurang RAM-nya itu masih bisa ditambah karena dia pakai sodi DDR5 bukan LP DDR5. Jadi kalau misalkan kalian punya masih punya RAM 8 GB yang bisa ditambahi di sini masih oke sih. Tapi kalau beli kayaknya harganya masih enggak ngotek. Untuk SSD-nya juga kena pemangkasan anggaran ya. Di sini cuma dikasih 256 GB NVMI Genry yang speed-nya standar aja. Dan sayangnya opsi upgrade-nya cuma lepas 256 dengan pasang yang lebih gede. Speed-nya itu di 3300 Mbps, w-nya di 2200 Mbps. Harusnya kalau dulu ya, tahun lalu harga segitu Rp8 jutaan. Kalau Advance biasanya udah dapat 16 GB 512. Ini kelihatan terpangkas banget sih ya advance dibandingkan yang tahun lalu. Terus kalau untuk GPU-nya dia pakai GPU bawaan dari Intel 4 Ultraf 5-nya si Intel Arc Graphics. Dan sekarang setiap pembelian produknya Advance ini udah include Windows 11. Kalau dulu kan masih ada versi DOS, terus kita harus instal sendiri. Nah, sekarang di Workmid Ultra ini semuanya enggak ada varian DOS. Semuanya udah include dengan Windows 11. Itu juga mungkin ya yang bikin lumayan agak mahal. [musik] Di segmen ini kita bahas cepat aja ya, karena ini produk ODM, jadi secara desain ya lumayan familiar. Bahkan sampai lekungan di bagian bodinya sampai karet-karet di bagian atas keyboard ini juga mirip-mirip. Untuk materialnya full polikarbonat cuman memang bukan yang tipis tapi efeknya untuk laptop 14 inch dia jadi tergolong berat. Saat kita timbang hampir 1,5 kilo. Padahal kebanyakan laptop 14 ini itu biasanya 1,2 kil. Secara desain ya gitulah advance logo dibung layar juga masih enggak berubah. Tetap aja menurut saya agak kurang ya. Mungkin Advan perlu desainer baru deh ya untuk bikin logo Advan itu 2027 gitu lebih elegan gitu. Turun ke bagian keyboard. Keyboard-nya ini feel-nya sayangnya masih entry level banget. Finishingnya kasar terus enggak ada backl juga. Di harga yang sama kita pernah puji keyboard punyanya [musik] Advance Work Heritage yang itu lumayan lah. Di sini keyboard-nya menurut saya feel-nya kayak harga R jutaan mungkin ya pemangkasannya di sini juga ya biar bikin harganya lebih terjangkau. Di bagian touchpad juga nothing special. Dan ini nih ciri-ciri produk yang mohon maaf ekonomis biasanya touchpace-nya itu masih ada plastiknya kayak gini nih. Tuh harus dikeletek dulu. Layarnya juga biasanya masih ada yang ya kalau itu di produk-produk yang mahal udah biasanya udah enggak ada plastik-plastikan [musik] kayak gitu. Jadi kalau soal build quality material ya menurut saya sih masih entry level banget lah ya. Yah itu tadi sesi roastingnya. Kalau sesi ok-nya mungkin di bagian port sih ya. Kalau urusan port dan konektivitas laptop ODM yang satu ini ternyata jauh lebih dermawan dibandingkan laptop puluhan juta yang logonya buah-buahan ya. Di sini total adaan port yang cukup lengkap. Jadi kalau misalkan kalian butuh apa-apa tinggal dicolokin aja. Untuk layar udah kita tes. Ini bukan tipikal yang cocok buat kalian yang color critical karena pas kita tes sRGB-nya itu cuma ada di 64%, NTC-nya cuma di 46%. Tapi menurut saya sih ini bukan bagian yang deal breaker ya. Karena ya kalau dilihat dari prosesornya yang seri U aja sebenarnya memang bukan ditujukan untuk content creation. Dan kalau kita perhatikan, hampir semua brand lokal ataupun luar juga memberlakukan hal yang sama. Saat prosesornya tinggi, seri baru, biasanya layarnya itu enggak dikasih akurasi yang mantap gitu. Di brand luar malah ya lebih parah sih menurut saya. Ada yang harga 6, 7 sampai 8 layarnya itu masih pakai TR. Banyak kok. Kalau Advan ini memang dia secara color akurasi belum 100% SRGB tapi udah IPS. Jadi kalau udah IPS terus angelnya bisa 180 kayak gini dilihat dari sini gitu enggak ada color shiftingnya. Nah kalau TN exelnya bisa dibuka 180 mau lihat apa enggak kelihatan color shifting. [musik] Kalau untuk kameranya kira-kira seperti ini ya. Jadi ada privacy shutter di bagian atasnya bisa kita tutup buka kayak gini ya. Kameranya sih B aja ya. 2720p 30 FPS yang noise-nya lumayan. Coba kalau sebelah sini mm sama aja. Jadi saran saya sih pakai webcam eksternal aja. Oke, sekarang kita masuk ke bagian performa. Gimana performanya Intel Core Ultra 5 115U yang dipakaiin RAM cuma 8 GB di laptop ini. Kita coba di sintetisnya dulu ya. [musik] Sin BCH R23 hasil dari plugin dan baterai only-nya 111 lah ya. Karena memang ini prosesor seri U jadi mau dicolok atau enggak dicolok ya performanya mirip-mirip aja. Lanjut kita tes di sin BCH 2024 dan hasilnya ternyata error ya alias gak kuat. Di 3D Max Scor Tiz spy-nya sih gokil ya karena dia lolos dengan 99,6%. Dan untuk skor lainnya kalian bisa langsung lihat di layar aja. Dari dua hasil pengujian sintetis tadi sebenarnya agak gancel sih ya. Apakah karena faktor RAM yang menghambat atau ada hal yang lain. Coba kalian lihat grafik ini. Nah, ini faktornya. Coba lihat suhunya terlalu dingin di stres tes R23 kayak gini aja suhunya adem benar. Cuma di 65 derajat Celcius aja. Mungkin kalau orang awam bakalan wah gila ya di stres-tes dia dapatnya 65 derajat Celcius aja. Mungkin kayak gitu ya. Padahal enggak gitu. Kalau tech reviewer atau orang yang tahu yang lihat itu kayak gatal aja gitu. Kenapa kok enggak bisa kok enggak naik di 80 derajat celcius? Karena ya berarti dilimit sama dia. Misal mau dituning lebih liar dan suhu dijaga di 80 derajat celcius aja harusnya sih masih aman-aman aja. Mungkin dari pihak Advance-nya yang kurang PD mungkin ya atau dari pihak pabrik ODM-nya sana memang kayak gitu settingannya mungkin ya. Bukti lain di TDP mode plugin dan baterai only itu serupa tapi tak sama. Memang model plugin ini speknya bisa di 30 watt tapi dijaga stabil di 15 watt. Sama persis kayak di mode baterai only yang buat kedua skornya itu mirip-mirip aja. Karena limitasinya kayak gitu. Jadi kita penasaran ya gimana kalau misalkan kita tes dia dengan ya dual channel RAM. Kebetulan kita punya memori dari Legend yang punya RAM 16 GB. Jadi kita pinjam bentar bolehlah ya. Jadi RAM-nya sekarang di 32 GB karena saya penasaran ya kita pinjam RAM-nya puny Legend dan langsung aja kita tes sintetisnya dan hasilnya memang kurang lebih naik ya 7% aja ya lumayanlah. Lalu SBZ R24 yang awalnya enggak bisa di benchmark di RAM 32 GB ini bisa tapi skornya standar aja. Terus untuk TDMAX naiknya lumayan karena kenaikan RAM di sini pegang peranan penting di integrated GPU-nya. Jadi skornya lumayan naik, cukup signifikan. Terus gimana kalau dipakai untuk produktivitas ya dengan settingan default-nya Advance yang 8 GB tadi kalau export Premiere 4K itu di 10 menit. Sedangkan kalau 32 GB dual channel 5 menit ya selisihnya sekitar dua kali lipat lah ya. Terus kalau untuk di blender dengan template BMW mirip-mirip aja sih. Kalian lihat chartnya aja deh. Lihat chartnya Premiere Pro dan juga blender yang udah kita buat ini. Terus ada juga kita buat di office chart-nya inih. Kalian bisa langsung lihat aja ada AI juga yang kita buat. Jadi kesimpulan sementaranya dengan tes kita ini kalau kalian akhirnya memilih untuk beli laptop ini wajib upgrade RAM sih. Walaupun RAM kondisinya sekarang harganya memang lagi gila-gilaan. Memang secara CPU performance ggak naik banyak, tapi RAM di sini pegang peranan yang lumayan penting karena makin ke situ software habisin banyak resource RAM. Untuk zaman sekarang tuh RAM 16 GB itu menurut saya minimal lah ya. Untuk Windows 11 itu menurut saya sih minimal sekarang 16 GB. Sekarang kita uji kemampuan gaming-nya. Masih dengan simulasi yang sama. Kita bandingkan antara single channel dan dual channel 32 GB. Dan dari semua pengujian tadi, coba kita lihat grafiknya ini, Guys. Hasilnya yang kita dapat semuanya ditahan di 15 watt aja. mau single channel atau dual channel sama aja. Dan sayangnya gitu aja sih. Harusnya TDP maksimalnya bisa di 57 watt tapi ditahan di 15 watt aja. Jadi pantas aja kalau skor R23-nya itu enggak terlalu kencang ya. Dia masih di atasnya FF Gen 12 tapi masih di bawahnya FF Gen 13. Jadi saran saya buat advance sih harusnya di tuning yang lebih oke lagi ya karena t PCPU-nya bisa lebih kencang. Kenapa harus dibikin cuman 15 watt? sayang banget karena sebagai tech reviewer atau yang biasa otak-atik itu kayak saya tuh kalau orang Jawa bilang itu gatel gitu ya, bukan gatel ya, kayak ke gatel kayak kayak kurang gimana gitu. Tapi tunggu dulu karena si Asvan ini kan bisa dibilang dia raja kejutan ya. Kadang BIOSnya itu masih terbuka lah lebih kebuka dibandingkan platform X lah. Jadi saya iseng-iseng masuk ke dapurnya dan tebak apa yang saya temuin. BIOSnya ini bugil. kita bisa otak-atik performanya kayak PL1, PL2-nya bisa dinaikin semua. Kalau kita masuk ke tabance, di sana ada menu power and performance dan kita coba buat PL1 itu di 30 watt, PL2-nya di 45 watt dulu soalnya maksimal bisa 50 watt lebih fan kita buat di performance. Terus kita coba masuk ke CPU configuration-nya. Dan untuk CPU flex rasionya udah benar, kita buat disable aja biar turbo boost-nya jalan otomatis. Oke, semua settingannya udah benar dan kita coba lihat apa yang terjadi. Meanwhile, dan hasilnya kita tetap kena prank walaupun BIOSnya udah kita otak-atik, tetap aja skornya segitu-segitu aja. Ternyata setelah kita cari tahu si Advan ini antara pintar atau malas ya, dia pasang power limit embedit control yang di mana karena ini hardware limit yang dipasang di laptop ini, jadi dia punya kedudukan lebih tinggi dari bias. Jadi mau B-nya di-setting kayak gimanapun tetap settingan E ini yang berkuasa. Sayang banget ya. Padahal kalau kita lihat performanya itu harusnya prosesornya bisa lebih dari itu. Okelah, jadi mungkin cukup segitu aja video review dari Advance Workmade Ultra kali ini. Kesimpulannya secara spesifikasi prosesornya di atas kertas sebenarnya ini oke banget dan ini juga jadi jawaban buat yang ngomong kalau barang ODM itu pakai prosesornya Furbis, pakai teknologi lama lah. Ini Advance bisa pakai Intel Core Ultraf 5. Polron pakai Intel Core Ultra 5, Axu juga pakai Intel Core Ultra 5. Kalau saya dibilang, kalau dibilang barang ODM itu semuanya refurb, saya enggak setuju ya. Tapi kalau dibilang Asio Advance Polytron itu ODM saya setuju. Tapi apakah semua ODM itu buruk? Enggak juga tergantung after sale-nya. Mungkin kalau kalian punya pengalaman ya after sale antara Advan, Axio, Polytron, dan produk ODM laptop yang lain bisa tulis di kolom komentar aja. Siapa tahu itu bisa memperbaiki after sale semua produk ODM lokal di Indonesia ini. Karena sebenarnya kalau dibilang ODM semuanya itu enggak bagus, saya enggak setuju sih. Dan di harga berapa nih pas video ini kita buat, harganya itu 799 ya. Kelebihannya jelas prosesornya baru dan kalau misalkan kita bandingkan dengan brand lain, prosesor ini brand lain itu harganya bisa Rp12.800 800 kayak di Asus Flight 14. Cuman bedanya SF ya, RAM-nya 16 dengan storage-nya 512. Ya, intinya kalau kalian cari prosesor yang baru sih mungkin ya laptop ini bisa jadi rekomendasi ya. Cuman ya beberapa hal harus diperhatikan kayak TDP-nya benar-benar di limit di 15 watt, materialnya plastik, keyboard-nya juga kayak enggak cocok kalau ditaruh di Advance seri work series ya. Kalau di seri Advance yang R jutaan mungkin cocoklah ya. Ke depan mungkin buat Advance kalau harganya udah di atas Rp8 juta atau R jutaan ya kayak Advance Heritage itu cakep banget sih menurut saya. Ini kalau dibilang apakah ini lebih bagus dari Advance Heritage? Menurut saya ini debat double ya. Tapi kalau ditanya laptop ini cocok buat siapa? Ya banyak sih ya. Buat programmer bisa. Untuk pegawai kantoran yang butuh laptop dengan daya baterai yang oke ini juga bisa walaupun emang baterainya enggak gede. Ya, salah satu kelebihannya sih baterainya enggak gede 45 wat hour. Tapi karena prosesornya dilimit, jadi dia cukup awet. Paling itu sih ya salah satu kelebihannya.
