Laptop DUA LAYAR Paling CAKEP 😍 - ASUS Zenbook Duo 2026 (YouTube Video)
Laptop dengan satu layar itu udah biasa. Tapi laptop dengan dua layar ini baru luar biasa. Sama seperti Zenbook S14 yang kemarin kita review, di dalam pembelian kita juga diberi sliat nyimpan laptopnya. Dan presentasi dari laptop ini itu jujur keren banget sih pas unboxing. Pertama kita lihat dari tebalnya dulu. Untuk yang tahun ini, Zenbook Duo akhirnya dibuat lebih tipis, hanya sekitar 2 cm aja. Dan gak cuma itu, bobotnya sekarang juga cuma 1,5 kg. Karena yang tahun ini laptopnya terbuat dari bahan seraluminum. Dan enggak cuma enteng, tapi build quality-nya juga tetap solid dan masih military grade standar. Kalau dibuka ya Zenbook 2 ini seperti layaknya laptop biasa aja ya. Tapi pas keyboardnya dicopot barulah kelihatan kalau ini tidak level sama laptop teman-teman kalian yang biasa itu. Zenbook Duo punya dua monitor Lumina Pro OLED yang masing-masing berukuran 14 inch touch screen beresolusi 3K 2880* 1800 dengan refresh rate yang sampai 144 Hz dan udah bisa variable refresh rate juga. Udah macam layar laptop gaming ya. Tapi emang iya sih laptop mahal kalau masih di bawah 120 Hz ya kayak gimana gitu. Basel antara dua layarnya juga sekarang udah lebih tipis ketimbang yang dulu dan yang sekarang juga udah bisa dibuka sampai 180 derajat. Dan karena baselnya tipis, kita bisa pasang wallpaper engine ssmooth ini. Dan baselnya bisa setipis itu dikarenakan hingch-nya sekarang menggunakan mekanisme geser, bukan yang kayak pintu lagi. Dan ini jenius banget menurut gua karena akan lebih rigid dan lebih tahan lama. Sebenarnya ada beberapa skenario penggunaan buat laptop dua layar begini, tapi yang paling make sense itu adalah multitasking ya. Selain itu bisa untuk baca ebook, scrolling satu page yang panjang, bisa share mode dengan lawan bicara pas meeting atau ya balik lagi sekedar multitasking sambil mobile. Keyboard-nya ini juga tipis banget dan koneksinya memakai Bluetooth saat wireless. Jadi gua menyarankan untuk selalu nyalain Bluetooth dari laptopnya. Tapi, buat koneksinya sendiri sih menurut gua cukup seless ya. saat di mode laptop dia bisa connect dari konektornya dan kalau Bluetooth-nya hidup harusnya saat dilepas pun dia masih otomatis connect. Layoutnya juga kurang lebih sama dengan keyboard Asus yang zaman sekarang. Fontnya diganti lebih elegan, enter dan shift juga lebih simpel dan ada beberapa tombol di function row yang diganti seperti F9 sekarang menjadi shortcut screen expert dan F11 untuk reconnect Bluetooth. Kenapa di sini ada instant button ke screen expert? Nanti kita akan bahas lebih lanjut. Touchpad-nya ini sendiri ukurannya gede banget. Ada di 12,75* 7,9 cm. Feeling makainya juga lumayan smooth. Gua suka dengan bahan dan drivernya dia yang akurat. Ditambah ada smart gesture juga jadi bisa naikin volume, brightness, dan scrubbing dari touchpad. Tapi apakah itu redundant? Ya tentu saja. Sementara untuk kaki standnya sendiri kita ngerasa hingch-nya ini cukup solid dan juga viewing angle-nya itu bisa diatur karena kakinya itu adjustable. Dan buat percolokannya di sebelah kanan ada satu USBC Thunderbolt 5 dan satu USB 3.2 GEN2 type A. Sementara di sebelah kiri masih ada full HDMI port, satu lagi Thunderbolt 5 dan audio combo jack. Jadi buat prosesornya mereka memakai Intel Core Ultra 9 yang terbaru yang IGP-nya lumayan kencang ditambah 32 gig RAM LPDDR5X yang of course enggak bisa di-upgrade lagi. Kapasitas SSD-nya itu 1 TB yang masih bisa di-upgrade juga. Kalau kalian mau upgrade, Asus itu ngasih chamber khusus buat SSD. Jadi, dia bisa di-upgrade hanya dengan buka chamber ini aja. Cuma kalau melihat dari ketipisan SSD yang dipakai kayaknya cuma support sama SSD single sided aja. Performa dari Core Ultra 9nya ini sebenarnya lumayan oke jika kita saingkan dengan beberapa laptop high end lain di kelasannya dan termasuk tinggi juga jika disainginya sama kompetitor kubu merah. Kalau di game sebenarnya laptop ini kuat-kuat aja sih. Main prak mata di 53 fps, wing waves di 92 fps, ataupun Cyberpunk di 81 FPS yang menandakan performa IGP-nya masih bisa dibilang lumayan walaupun udah dengan dua layar begini. Sekalinya kita ngedit video di Zeninbook Duo, kita bisa memperluas workspace kita kedua layar di mana ini bisa membantu separasi workflow-nya. Hanya aja render time-nya termasuk lama ya, apalagi dibandingin dengan Core Ultra 7 yang ada di Yoga 7i. Sementara buat blender bisa sih nge-render sebenarnya, tapi lemot aja ya. Memang ini bukanlah laptop untuk 3D design. Tambahan informasi aja kalau prosesornya ini udah punya IGP yang support sama XCS frame generation 4. Jadi, kalian bisa ngaktifin frame generation-nya entah di dalam game atau di dalam Intel Graphic software. Dan tentu aja untuk VRAM-nya karena ini shared memory, jadi bisa diatur di My Asus berapa VAM-nya itu terserah kalian. Lalu untuk pendinginan laptop tipis NAN cantik ini masih memakai dua fan karena ingin Core Ultra 9-nya ini jalan full power dan stabil buat fannya. Exhaus-nya itu ada di sisi kiri dan kanan laptopnya. Jadi, saat dia full load, siap-siap aja bagian sampingnya itu penuh sama udara panas. Suhu CPU-nya masih aman, ada di 84 derajat celcius. Dan karena power-nya juga mentok di 35 watt aja ya, jadinya suhunya enggak terlalu naik banget. Namun suhu layar bawahnya di mana ada mesinnya itu di bagian bawah udah nyentuh 40 derajat di bagian tengahnya yang di mana bikin kita sedikit koncern kalau lagi dipakai full lot cukup lama. Nah, mungkin ini juga mengapa CPU-nya itu di limit. Lalu menggunakan laptop dua layar menurut gua amazing banget sih selama 2 minggu terakhir ini kita bisa multitasking, bisa ngelihat window lebih gede, dan bisa sekalian pamer ke teman-teman yang enggak punya. Walaupun memang experience pakai laptop dua layar gini ada alternatif yang lebih murahnya yaitu pakai monitor portable. Tapi tetap aja bisa enggak seamless dua layar atas bawah begini. Nah, buat ngatur-ngatur screennya kita pakai screen expert dari Asus yang memang ini adalah aplikasi wajib dari laptop ini. Jangan dihapus ya. Gunanya itu banyak. Bisa buat ngatur Windows snapping ke beberapa mode, bisa ke full screen. Dan di dalam software-nya ini kita juga bisa ngatur brightness-nya secara individual atau terpisah antara dua layar tersebut. Karena di Windows dia cuma bisa ngatur brightness monitor utamanya aja. Di dalam screen expert ini juga ada fitur control panel yang di mana ini mirip dengan fiturnya pro art. Kita bisa naruh dial, makro button, dan ini bisa kita modif sesuka jidat kita. Jadinya kalian bisa naruh beberapa shortcut button, terutama saat produktivitas. Walaupun di software ini tidak ada fitur untuk main game full screen di kedua layar. Jadi cuma bisa full screen di satu layar aja. Lalu battery life dari laptop ini ya enggak terlalu lama tergantung skenario sih. Walaupun sudah berkapasitas 99 watt hour dan punya CPU yang semakin efisien, enggak bisa dipungkiri kalau laptop dengan dua layar OLED 144 Hz itu sangat memakan baterai. Kalau enggak mau banyak makan baterai, ya kita bisa turunin refresh rate-nya ke 60 Hz. Pakai satu layar aja dan pakai brightness yang rendah. Lalu kedua monitornya juga support dengan stylus, terutama Asus Pen 3.0. Di mana ini lumayan cocok buat dipakai nge-sketch di layar sebesar ini. Walaupun ya layarnya palm rejection-nya itu enggak sebagus itu. Tangan kita masih bisa kebaca ghost touch kalau lagi gambar-gambar. Tapi overall nge-sketch di layar segede gini itu cukup memuaskan. Dan buat audionya sendiri ini adalah sebuah laptop yang audionya cukup amazing menurut gua. ZenBook 2 tahun 2026 ini punya enam speaker di mana dua ada di bagian layar atas dan empat ada di bagian layar bawah dan empatnya ini itu bagus banget. Jadi ada dua modul speaker di layar bagian bawah dan di satu modul itu terdapat dua speaker atas dan bawah. Di mana bawahnya itu untuk subwoover dan atasnya untuk travel. Dan saat digabungkan keenam speakernya ini suaranya itu kencang, tidak distorsi saat volume maksimal dan juga depth-nya itu kerasa. Salah satu fitur laptop ini yang juga bisa dipamerin ke orang adalah onsreen keyboard-nya. Jadi kalau kita ngeletakin enam jari di layar yang bawah, dia akan keluar yang namanya onscreen keyboard. Dan ini canggih banget. Pas kita ngetik itu akan ada heptic feedback yang kerasa dan karena di bawah layarnya itu ada mesin heptic feedback-nya. Ini bisa pamer sih sebenarnya ke orang, tapi lagi-lagi palm rejection-nya itu enggak sebagus itu dan feeling ngetiknya juga tidak seenak itu. Jadi masih lebih disarankan untuk ngetik di keyboard cuma untuk pamer aja sih. Dan fitur yang terakhir akan kita bahas ini adalah yang paling asik menurut gua dan itu ada di chargernya. Jadi chargernya ini adalah sebuah adapter 100 watt biasa kalau kita lihat. Tapi colokannya itu bisa diganti orientasinya ke vertikal atau horizontal. Dan ini berguna banget kalau misalnya di colokan itu gak ada space. Kalau misalnya kalian mau pergi-pergi pun ini bisa dicopot dan diganti ke kepala yang sesuai dengan negara yang kalian tuju. Buat kameranya, dia resolusinya udah 2,1 megapel alias ini bisa ngerekam sampai full HD 30 fps. Sebenarnya ini adalah kamera yang decent tapi agak disayangkan karena ini ada di laptop yang harganya R-an juta apalagi dia tidak mempunyai privacy shutter sama sekali di software ataupun hardware. Dan positifnya itu adalah kamera ini support dengan Windows Halo untuk face recognition sign in. Lucunya, angle kamera yang paling cocok saat nyorot muka kita itu adalah saat monitornya ditaruh di coffee table seperti ini yang di mana kameranya akan langsung nembak ke muka kita dan tidak ketinggian. Jadi, laptop dengan dua layar 14 inch OLED 144 Hz VRR ini sebenarnya buat siapa sih? Kalau dibilang untuk arsitektur ataupun kayak 3D desainer ya enggak juga. Karena dia ini hanya mengendalkan integrated graphics yang bahkan bukan yang Intel B390. Kalau untuk gamer udah pasti bukan ya, apalagi udah ada Zevirus Duo yang udah pakai discret grafik juga. Dan ini yang bisa kita kategoriin sebagai konsumnya yang memang paling pantas itu adalah sultan yang memang ingin multitasking, ingin melihat mm pekerjaannya di dua layar atau ingin membagi-bagi pekerjaannya itu ke empat panel sekaligus. Dan karena memang sih yang namanya pengguna monitor portable pengin punya dua monitor saat mobile itu ya lumayan banyak juga. Dan ini adalah sebuah laptop yang bisa memberikan itu dalam satu paket lengkap. Cuman pertanyaannya apakah rela mengeluarkan uang sekitar R juta ke atas untuk laptop seperti ini ketimbang membeli monitor portable? Ya walaupun memang sih kalau kalian udah beli laptop di harga segini dari Asus ya after sales-nya itu udah gak main-main. Garansinya bisa sampai 3 tahun, ada accidental damage protection juga dan ada tiga premium service yang kalian bisa dapat. Yang pertama servisnya itu bisa e pakai anter jemput atau kalian juga bisa dapat antrian prioritas dan ada laptop spa gratis juga seperti repasta dan bersihin laptopnya secara gratis di service centernya mereka. Tapi gimana menurut kalian? Laptop dengan dua layar di harga segini worth it enggak sih?
