Jungkat

Laptop Gaming Entry Level di Keluarga Predator, Tetap Kencang? Review Acer Predator Helios Neo 16 AI (YouTube Video)

  • 04/11/2026

Ini laptop gaming kelas atas dari Acer, tapi harganya lebih terjangkau dibandingkan seri Predator lainnya. Tapi tenang ya, walaupun terjangkau speknya tetap serius seperti Predator lainnya. Prosesornya pakai Intel Core i7 processor 14650HX dengan konfigurasi 16 core. GPU-nya pakai RTX 5050 laptop kekinian dan kencang buat main game, editing, atau rendering. RAM-nya juga langsung 16 GB DDR5 dan masih bisa di-upgrade. Jadi kapasitasnya bisa besar sekali. Tentunya layar sudah 165 Hz IPS 100% sRGB, siap buat gaming kompetitif dan content creation. Laptop ini adalah Acer Predator Helios Neo 16 AI keluaran 2026. Ya, buat yang belum tahu Predator Helios Neo ini adalah kelas entry level dari laptop gaming Acer seri Predator. Jadi harganya tidak setinggi seri Predator lainnya, tapi dia punya DNA desain, performa, dan kelengkapan fitur yang mirip. Oke, sebelum kita lihat sekencang apa laptop ini, pertama-tama kita cek spesifikasinya dulu ya. Untuk prosesor dia pakai Intel Core i7 14650HX, fabrikasinya Intel 7. Default TDP-nya gede nih, 55 watt. Dia punya 16 core 24 thread yang terdiri dari 8 performance core dan 8 efficient core. Intel Smart Cache-nya 30 MB, gede nih. Integrated graphics dia pakai Intel UHD graphics dengan 16 execution unit. Memori atau RAM-nya itu 16 GB DDR5 5600 MHz single channel. Tapi tenang, laptop ini dilengkapi dengan dua slot SODIMM. Jadi kita bisa upgrade kalau kerjaan kita butuh kapasitas RAM yang lebih besar. Menurut Acer, kapasitas RAM-nya ini bisa di-upgrade sampai 32 GB. Walaupun sebenarnya secara teori ya, prosesor itu support sampai 192 GB. Kita lanjut ke storage-nya. Ini pakai 512 GB SSD M.2 NVMe PCIe Gen4 by 4. Laptop ini dilengkapi dengan dua slot M.2. Jadi dia bisa di-upgrade tanpa kita harus mencabut SSD bawaannya. Untuk discrete GPU ini adalah RTX 5050 laptop dengan kapasitas VRAM 8 GB GDDR7. Tentunya discrete GPU Blackwell ini mampu menjalankan fitur DLSS 5 termasuk multi frame generation yang 6 kali. Untuk kemampuan AI-nya ini diklaim mencapai 440 tops. Ini 2,2 kali lipat lebih tinggi dibandingkan RTX 4050 laptop yang hanya 194 tops. Lalu untuk nilai TGP maksimalnya ini ada di 115 watt, sedikit lebih tinggi dari standar Nvidia yang ada di 100 watt. Nah, kita juga bisa mengatur apakah RTX 5050-nya ini aktif terus-terusan atau bergantian dengan integrated graphics-nya. Untuk wireless connectivity dia menggunakan modul Intel Killer yang mendukung Wi-Fi 6E dan Bluetooth versi 5.4. Kapasitas baterainya ini nyaris mentok ya, ini 92 watt hour. Untuk OS dia pakai Windows 11 25 H2. Body form factor-nya adalah clamshell atau laptop klasik. Materialnya ini adalah metal untuk punggung layar dan polycarbonate untuk bagian lainnya. Untuk warna ini namanya adalah Abyssal Black ya, hitamlah ya. Nah, untuk desain walaupun enggak benar-benar baru, penampilan laptop ini tetap keren ya seperti seri Predator Helios lainnya. Bahkan laptop ini punya kesan futuristik berkat ornamen garis-garis di dekat engsel layar. Bentuk dan lekukan body laptop ini sebenarnya terasa gaming banget. Tapi karena ornamennya sebetulnya enggak terlalu gaming banget ya, jadi dia masih tampak tetap profesional selama lampu RGB-nya enggak dinyalakan. Oke, untuk dimensi panjangnya 35,6 cm, lebar 27,5 cm dan tebalnya sisi paling tipis di 2,2 cm, sisi paling tebal di 2,6 cm. Bobot laptopnya aja di 2,4 kg, charger 1,03 kg. Wajar ya karena ini adalah charger 330 watt. Tapi di sisi lainnya ini agak mengejutkan karena laptop gaming RTX 5050 lainnya itu biasanya tidak membutuhkan charger dengan daya sebesar ini. Sepertinya Acer hanya menggunakan satu tipe charger untuk seri laptop yang satu ini, terlepas dari spek processor dan GPU-nya. Tapi enggak apa-apa ya, jadi paling enggak kita udah pasti banget, yakin banget bahwa charger-nya udah pasti mencukupi. Jadi untuk total bobot laptop dan charger-nya adalah 3,4 kg. Untuk display ini adalah layar ukuran 16 inci, resolusinya 1920 x 1200 pixel dengan aspek rasio 16:10. Refresh rate-nya 180 Hz dengan response time di 3 ms. Ini adalah panel IPS. Menurut Acer color gamut-nya ada di 100% sRGB. Kalau kita ukur kecerahan maksimalnya ada di 421 nits dan ini tergolong tinggi ya padahal masih layar SDR nih ya. Biasanya layar IPS begini kecerahannya cuma sekitar 300-an nits saja. Sementara untuk gamut coverage-nya ada di 98,8% sRGB dan gamut volume-nya di 103,2% sRGB. Terlihat color gamut-nya cenderung cukup rapat jadi warnanya enggak terlalu melebar kemana-mana kalau dipakai buat editing gambar atau video. Pastinya warnanya juga mantap untuk dipakai streaming film atau main game. Permukaan layarnya bersifat non-glare jadi dia tidak memantulkan bayangan jendela, lampu ataupun objek sekitar yang dapat mengganggu kenyamanan kita. Lalu untuk bingkai layarnya ini sudah didesain tipis untuk semua sisinya termasuk untuk sisi bawahnya ya jadi enggak ada bezel yang rasanya mengganggu atau terasa jadul begitu ya. Lanjut laptop dilengkapi dengan kamera 1080p 30fps dengan tiga buah modul mikrofon. Hmm banyak. Dua modul ditempatkan di sisi kanan kiri kamera sementara satu lagi ada di sisi pinggir depan body. Tentunya kita juga bisa menginstal aplikasi Nvidia Broadcast di sini ya jadi fitur kameranya akan jadi lebih komplit dan lebih canggih bahkan dibandingkan Windows Studio Effect. Nah, untuk kemampuan kamera dan mikrofonnya kurang lebih seperti ini. Oke, sekarang kita lagi ada di studio untuk menguji kualitas mikrofon dan noise cancelling dari laptop Acer Predator Helios Neo 16 yang satu ini. Untuk skenarionya di sini kita atur kecepatan kipas ke 100% ya untuk mensimulasikan berisiknya suara kipas laptop. Dan hasilnya suara saya bisa terdengar dengan jelas dan suara kipas laptop bisa diredam dengan baik di laptop ini. Oke, sekarang kita lagi ada di studio untuk menguji kualitas kamera dari laptop Acer Predator Helios Neo 16 yang satu ini. Untuk resolusi maksimal videonya ini bisa sampai 1080p 30fps ya. Untuk pencahayaan optimal di sini kita langsung pakai lampu studio saja. Dan untuk hasilnya di sini gambarnya terlihat cukup terang, detailnya tinggi dan juga bersih dari noise. Ya, jadi menurut kalian bagaimana kameranya? Masih lumayan oke lah ya dipakai buat video call atau streaming enggak perlu ribet beli webcam dulu kayaknya nih. Kualitas mikrofonnya juga mantap banget dan mampu menghilangkan sepenuhnya suara kebisingan di sekitar kita. Ini emang tipikal Acer banget mikrofonnya. Keren. Lanjut untuk audionya Acer Predator ini dilengkapi dengan dua buah speaker dengan arah keluaran suara ke alas laptop. Di sini kita bisa mengatur profil dan equalizer suara dengan menggunakan aplikasi DTSX Ultra. Walaupun suaranya bukan yang paling lantang yang pernah kami dengar dari laptop gaming, kualitas suaranya ternyata sesuai harapan kami untuk seri Predator. Untuk separasi dan detailnya cukup baik dengan bass yang juga cukup berkualitas. Untuk konektor sekarang kita lihat di sebelah kiri ada satu 2,5 Gbps ethernet, ada satu USB 3.2 Gen 1 Type A, microSD card reader, satu 3,5 mm audio combo jack. Beralih ke sisi kanan di sini ada dua USB 3.2 Gen 2 Type A. Nah, di sisi belakang ada satu DC in, ada satu HDMI 2.1, ada dua Thunderbolt 4 yang ini mendukung power delivery dengan kemampuan menerima daya hingga 100 watt. Ada display output dengan protokol display port 2.1 dan ini juga membuat kita bisa memasang layar 8K 60 Hz dan dia juga kompatibel dengan perangkat-perangkat Thunderbolt lainnya. Oke, untuk keyboard-nya bentuk tombol, tata letak dan kenyamanan pakai tetap mirip seperti laptop Predator lainnya. Bahkan tombolnya juga punya travel distance yang dalam di 2 mm seperti di Predator Helios 18 AI yang harganya hampir 100 juta itu. Sementara untuk ukuran tombol anak panahnya ini sama dengan ukuran tombol-tombol lainnya. Jadi, mantaplah ya. Keyboard ini juga dilengkapi dengan lampu backlit RGB empat zona warna. Tingkat kecerahannya ada empat yang bisa diubah dengan menekan tombol function plus F11 atau F12. Untuk touchpad ini dilengkapi dengan precision touchpad dengan ukuran 12,6 * 8,3 cm. Untuk posisinya hampir sejajar dengan tombol space bar jadi permukaannya enggak gampang kesenggol-senggol tangan kita pada saat lagi mengetik. Nah, untuk sistem pendingin laptop ini dilengkapi dengan enam buah heat pipe dan dua buah kipas. Uniknya, satu kipasnya di sini adalah 5th Gen AeroBlade 3D Fan yang terbuat dari metal dan ketebalan bilahnya itu hanya 0,08 mm. Dengan ketebalan seperti ini Acer mampu memasangkan hingga 89 buah bilah kipas. Laptop ini juga dilengkapi dengan empat lubang pembuangan udara panas yang mengarah ke kanan, kiri dan belakang. Nah, kita masuk dalam aspek performanya. Laptop ini dilengkapi dengan empat profil performa dengan pilihan quiet, balance, performance dan turbo. Keempatnya bisa dipilih melalui aplikasi PredatorSense atau dengan menekan tombol khusus di dekat engsel layar. Selain itu disediakan menu pengaturan kecepatan kipas dengan pilihan auto, max, dan custom. Nah, untuk pengujian kali ini kami akan langsung menggunakan kecepatan kipas di 100%. Kita mulai dari Cinebench R23 dulu. Dengan stabilitas selama 30 menit, skor tertinggi yang dicapai adalah 24.446 poin di mode balance dan 24.680 poin di mode turbo. Lalu untuk skor yang bisa dipertahankan itu ada di 18.700 sampai 18.800 poin di mode balance dan 22.200 sampai 22.400 poin di mode turbo. Oke, untuk suhu kerja dengan Cinebench R23 stabilitas selama setengah jam di mode balance, supresor sempat lompat ke 92 derajat Celsius di awal pengujian sebelum akhirnya turun dan terkendali semuanya di bawah 70 derajat Celsius. Nah, lalu kalau di mode turbo, supresor itu sempat lompat ke 100 derajat Celsius di awal pengujian tapi kemudian langsung turun dan bergerak di rentang 87 sampai 92 derajat Celsius. Tapi itu kita akan pakai Cinebench-nya. Nanti kita lihat pakai aplikasi beneran bagaimana. Kita mulai dari Blender 5.0 .1. File-nya adalah Blender Splash yang berat itu ya. Untuk CPU rendering selesai dalam waktu 21 menit 8 detik, tapi kalau kita pakai GPU rendering dengan CUDA selesai dalam waktu hanya 6 menit 44 detik. Nah, suhu kerja yang pas melakukan GPU rendering dengan CUDA di sini supresor dan GPU Nvidia terkendali di bawah 70 derajat Celsius. Jadi, aman kan laptopnya dipakai ngerender 3D seperti ini ya. Enggak ada masalah ya. Cinebench-nya tadi aja enggak tinggi. Lanjut untuk Premiere Pro 2026. Video 4K 60 5 menit kita pakai CUDA selesai dalam waktu hanya 3 menit 20 detik. Kencang. Nah, video full HD 60 FPS 5 menit. Kalau dengan CUDA saya hanya dalam waktu aduh, cuma 57 detik saja. Selesai gitu langsung beres gitu. Nah, untuk suhu kerja dengan 4K video exporting pakai CUDA ya, supresor dan GPU Nvidia juga dapat dikendalikan sepenuhnya di bawah 70 derajat Celsius dengan sesekali ada lompatan ke 77 derajat Celsius untuk prosesornya. Lagi-lagi aman ya. Jadi, enggak ada masalah di sini. Lanjut untuk DaVinci Resolve 20.3. Ya, ini software editing kelas profesional tapi ini yang versi gratisnya. Untuk video 4K 60 5 menit ya, selesai dalam waktu 7 menit 32 detik. Sementara untuk video full HD 60fps yang durasinya 5 menit juga, itu bisa selesai dalam waktu 2 menit 5 detik. Nah, untuk suhu kerja pada saat melakukan 4K video exporting, kalau di sini suhu prosesor memang bergerak di rentang 90 sampai 100 derajat Celsius. Ini klasik banget untuk software DaVinci ya. Sementara GPU Nvidia dapat dikendalikan di bawah 70 derajat Celsius. Karena memang DaVinci Resolve versi gratis itu cenderung hanya membebani sisi prosesor saja. Akselerasi GPU itu baru aktif kalau kita sudah beli lisensi dari aplikasi yang satu ini. Tapi tenang, kalau kita pakai mode balance, suhu prosesor itu bisa dikendalikan sepenuhnya di bawah 80 derajat Celsius dengan spike awal saja di 94 derajat Celsius. Jadi, masih ada solusinya. Lanjut untuk 3DMark Time Spy graphic score. Di mode balance kita dapat 9.980 poin. Di mode turbo kita dapat 10.309 poin. Ada kenaikan sekitar 3% saat kita pakai mode turbo. Untuk suhu kerjanya pada saat melakukan Time Spy stress test, suhu GPU Nvidia dapat dikendalikan sepenuhnya di bawah 70 derajat Celsius. Oke, sekarang mari kita lihat tentunya kemampuan gaming-nya. [musik] Oke, sekarang kita lihat suhu kerjanya setelah setengah jam memainkan game Cyberpunk 2077. Untuk suhu processor terlihat bergerak di rentang 80 sampai 100 derajat Celsius, sementara suhu GPU Nvidia terkendali di bawah 80 derajat Celsius. Ini agak tinggi suhunya ya kalau kita pakai mode turbo ya suhu processor ya. Tapi tenang, kalau kita pakai mode balance suhu processor dan GPU Nvidia bisa dikendalikan di bawah 70 derajat Celsius. Nah, untuk suhu permukaan body-nya selama setengah jam kita main Cyberpunk 2077, suhu seluruh tombol keyboard ternyata berada di bawah 40 derajat Celsius. Kami memang menemukan titik dengan suhu sekitar 45 derajat Celsius, tapi itu ada di area sebelah atas keyboard ya. Ya, wajar kan itu bukan keyboard-nya. Lalu untuk suhu area palm rest itu juga aman ya di bawah 35 derajat Celsius. Oke, kita lanjut untuk storage test. Dengan CrystalDiskMark kita dapatkan ke bawah kecepatan SSD-nya. Untuk kecepatan baca ada di 7111 MB/s dan kecepatan tulis di 5614 MB/s. Kalau sudah tembus 7000, ini sudah termasuk SSD kencang ya yang satu ini ya. Lanjut untuk daya tahan baterainya. Untuk pengujian kita setting brightness 150 nits, volume suara 25% dan kita pakai mode balance dengan layar di 180 Hz. Untuk 1080p local video playback, baterai bisa bertahan selama 8 jam 34 menit. Ini sudah tergolong irit ya untuk laptop gaming kencang dengan processor Intel Core Gen 14. Oke, sekarang kita lihat kecepatan charging-nya. Untuk 30 menit pertama langsung terisi di 57%. Sementara dari 0 sampai penuh hanya butuh waktu 1 jam 23 menit. Ini baterai yang besar di 92 watt hour dan bisa ngisi di bawah 1 setengah jam. Ini kencang parah nih ya. Oke, untuk harganya unit yang kami uji ini harganya ada di 29 juta 999.000 rupiah. Nah, selain yang kami uji ada juga varian dengan RTX 5060 laptop yang harganya ada di 31 juta 999.000 rupiah dengan RAM 16 GB dan SSD 512 GB. Lalu ada yang 34 juta 999.000 rupiah. Nah, ini RAM-nya 32 GB, SSD-nya 512 GB. Nah, untuk bonus pembelian kita akan mendapatkan Microsoft Office Home 2024 ada langganan Microsoft 365 basic selama 1 tahun. Lalu untuk garansinya laptop gaming ini mendapatkan 5 years predator protection yang akan memberikan 1 tahun AADP ALS Acer accidental damage protection yang akan meng-cover kerusakan akibat kelalaian pengguna. Lalu ada garansi 3 tahun untuk spare part dan service. Onsite service selama 3 tahun juga ada di sini. Jadi teknisi Acer akan ke tempat kita kalau laptopnya mengalami kerusakan. Bukan kita yang ke sana ya. Lalu kemudian ada 5 tahun predator service spa yang akan memberikan layanan perawatan dan pembersihan gratis untuk laptop atau desktop Acer predator di service center resmi terdekat. Sekarang kita masuk dalam hal yang perlu diperhatikan. Pertama, suhu processor memang agak tinggi kalau kita masuk di mode turbo dan terutama kalau aplikasinya cenderung membebani sisi processor saja. Untungnya ini tidak terjadi kalau aplikasinya sudah modern. Biasanya aplikasi modern mampu membebani sisi processor dan GPU secara seimbang. Tapi kalau tetap khawatir kita masih bisa menggunakan mode performa di bawah turbo. Aman kok tetap kencang. Lalu untuk RAM bawaannya itu single channel tapi single channel-nya sudah 16 GB. Jadi enggak terlalu kecil juga untuk menjalankan aplikasi yang lumayan berat ya. Ya, kalau mau nambah bisa lah. Nambah 8 juga sudah cukup kayaknya ya. Lanjut untuk charger ini besar dan berat untuk ukuran laptop gaming yang pakai RTX 5050 tapi ya asik lah. Tapi paling enggak ke charger ini sudah menjamin bahwa pasokan dayanya sudah pasti cukup terus. Lanjut untuk poin menariknya. Dia menggunakan processor 16 core Intel Core seri HX. Ini cocok buat aplikasi-aplikasi berat yang butuh jumlah core processor yang melimpah ya. Lalu dilengkapi dengan RTX 4050 laptop, walaupun tergolong kelas entry level GPU ini kuat buat main game triple A, editing video 4K 60, rendering animasi 3D maupun ngedesain CAD juga. RAM 16 GB DDR5 dan gampang untuk di-upgrade, ada satu slot kosong di situ. Kemudian kita juga bisa pasang dua buah SSD kalau dibutuhkan. Layar juga sudah mantap untuk gaming atau editing, baterai irit untuk spesifikasinya. Charging juga kencang, enggak nyampe yang satu ini. Konektor lengkap melimpah. Dia punya dua Thunderbolt 4 loh di sini. Garansi normalnya saja ini dapat 3 tahun, lalu ada garansi kelalaian pengguna juga. Jadi, Acer Predator Helios Neo 16 EA ini cocoknya buat siapa? Untuk desainer atau animator 3D harusnya ini cocok juga sih pakai laptop yang satu ini ya. Paling-paling nambah RAM lah dikit ya. Nah, di sini GPU NVIDIA-nya bikin waktu render jadi lebih cepat. Nah, untuk kalangan arsitek harusnya juga cocok ya pakai laptop ini untuk desain CAD untuk bangunan atau bikin kendaraan atau apapunlah itu ya, terlebih aplikasi seperti AutoCAD ini mampu memanfaatkan akselerasi hardware yang diperoleh dari GPU NVIDIA. Untuk video editor juga pastinya cocok pakai laptop yang satu ini yang edit 4K 60 ya, video AV1 yang color formatnya 422 bisa di sini enggak ada masalah dan pastinya dia cocok buat yang cari laptop gaming kelas atas dengan harga yang tidak terlalu mahal, tapi masih kuat main game triple A keluaran tahun 2026 dengan frame rate ratusan FPS. Jadi, kalau butuhnya laptop high performance untuk kerja serius atau main game spek dan fitur yang kelas atas tapi harganya tidak terlalu mahal, mungkin Acer Predator Helios Neo 16 EA ini bisa jadi pilihan yang cukup menarik.

Lihat di YouTube