Laptop Idaman Konten Kreator !! ASUS Zenbook S16 OLED UM5606GA (YouTube Video)
Siapa nih yang suka pegal karena punya laptop kegedean? Penginnya laptop 16 inch adanya laptop gaming berat kayak batu nisan. Mungkin si ASUS ZenBook S 15 OLED ini bisa jadi solusi [musik] yang ringan. Ya sudah, enggak usah kebanyakan hambatan, selamat menonton. Yang telat ke Kalimantan. [musik] Hai Andika. Guys di sini, kalau kerjaan kalian itu berhubungan dengan konten kreator sama kayak saya, mungkin kalian juga pernah ngalamin dilema yang kayak saya rasain. Kalau pakai laptop kecil kelebihannya enak dibawa ke mana-mana, tapi begitu mulai edit video, buka timeline panjang sambil buka browser buat cari aset, layarnya itu tiba-tiba kerasa sempit banget. Kayak kos-kosan mahal di Jaksel. Nah, laptop 16 inch [mendengus] yang satu ini harusnya bisa jadi solusi buat masalah tadi. Kenalin, ini adalah ASUS ZenBook S 16 OLED. Tapi biasanya ya, kalau misalkan ASUS ngeluarin laptop kencang, gede, tapi tipis dan juga ringan, harganya tuh yang enggak ringan. Jadi, berapa harganya dan apa saja yang dia bisa, langsung saja kita bahas. Jelas pertama kali laptop ini datang ke kantor, impresi saya langsung, wah gila ini laptop gede banget 16 inch, tapi kok enteng. Bobotnya itu cuma 1,5 kg, padahal 16 inch loh ya, ingat. Dan ketebalannya cuma 1,1 cm, sama kayak seri ZenBook dan seri [musik] Ultrabook ASUS lainnya yang sudah rilis duluan, laptop ini juga sudah pakai bahan material yang ASUS sebut dengan Ceraluminium. Jadi, kata ASUS mereka itu memadukan antara keramik dan juga aluminium. Feel-nya ini solid, permukaannya juga kesat, istilahnya kayak kita megang keramik, tapi keramiknya pusola gitu. Aduh, tapi walaupun tipis seperti biasa ASUS itu selalu comply dengan standar militer ya. Jadi laptop ini juga udah punya standar militer 810H, yang berarti laptop ini udah melewati berbagai pengujian yang menjamin bakal tahan guncangan, suhu ekstrem, tahan banting, dan tahan dari godaan untuk menghujat klien yang biasanya itu minta revisi terus. Walaupun dengan desain setipis ini, ASUS ini enggak pelit loh soal port karena di sebelah kiri udah ada HDMI buat dicolokin ke proyektor, ada combo jack audio, ada dua port type C yang udah full function. Dan karena full function artinya kalian bisa lakukan type C nya itu buat apapun kayak power delivery, display port, bisa semua. Enggak perlu colokan HDMI lagi. Di sisi lainnya juga ada USB type A yang bisa kalian colok dengan dongle peripheral dan satu lubang card reader, jadi memori kamera kalian bisa langsung dibaca di laptop ini tanpa perlu card reader. Portnya cukup lengkaplah untuk laptop yang setipis ini. Dan experience konten creation di ASUS ZenBook S 16 OLED ini ditemani sama speaker yang menurut saya termasuk salah satu yang terbaik di kelas 16 inch. Keyboardnya juga udah nyaman dengan backlit dan touchpad yang lega, walau keyboardnya bukan yang full size ya. Ya kekurangannya sih buat kalian yang suka tabulasi data, ya numpadnya jadi enggak ada dan ini bukan seri touchpad ASUS yang bisa kita nyalain terus jadi numpad gitu. Dan ya kalau keuntungannya sih jarak per tombolnya jadi lebih lebar ya, trade off nya itu sih. Jari kita juga bakal dimanjain sama touchpadnya ini karena selain ukurannya yang lebih lebar daripada jidat kalian ya. Sama kayak laptop ASUS ZenBook lainnya, kalian bisa pakai fitur smart gesture buat ngatur brightness, volume, dan play head dengan cara geser-geser di daerah pinggiran touchpadnya. Contoh kalau misalkan kalian mau ngedit di Premiere Pro dan kalian pengen geser play head pakai kursor, cukup elus-elus bagian sisi atas touchpadnya, nanti play headnya bakal bergeser secara presisi. Jadi ini bakal memudahkan kalian dalam mengedit walaupun mungkin kalian lupa bawa mouse. Tapi Tapi buat saya pribadi, seenak-enaknya trackpad saya sih lebih suka pakai mouse sih. Dan selain fitur-fitur tadi untuk konten creation, wah kalian coba lihat saja nih layarnya. Beh, layarnya ini sesuai dengan namanya Zenbook S 16 OLED. Jadi untuk layarnya ini panelnya pakai OLED, apalagi kalian dapat OLED di lebar layar 16 inch dengan resolusinya 3K 120 Hz, touchscreen. Dan di hasil [musik] tes kita untuk color coverage sRGB-nya itu di 100% volumenya sih di 155% [musik] Ada Adobe RGB volume di 107% P3-nya di 110% dengan brightness 440-an nits. Jadi kalau kalian tanya soal layarnya gimana, Bang? No complain sih. Jadi warna merah yang kalian lihat di laptop ini, ya kayak warna merah beneran bukan kayak merah ke oren-orenan kayak tomat belum matang gitu, enggak. Tapi biasanya panel OLED itu banyak orang yang masih takut beli layar dengan panel OLED karena musuhnya OLED itu adalah burn in. Tapi sebenarnya kalau kita ngomongin ASUS, mereka itu sudah ngeluarin OLED-nya mulai dari 2 [musik] atau 3 tahun lalu, namanya itu Lumina OLED dan saya belum dapat laporan kayak layar dari ASUS itu burn in sampai banyak gitu ya. Karena ASUS sendiri sudah bikin sistem untuk anti burn in-nya. Kurang lebih kita dikasih tiga fitur lah yang bikin layar OLED-nya ini jadi tahan dengan panas. Yang pertama ada pixel refresh yang bakalan tampilin screen saver khusus secara otomatis, terus ada pixel shift yang kerjanya menggeser posisi pixel di layar secara berkala. Dan terakhir ada target mode yang cara kerjanya bakal menjaga kecerahan penuh di jendela [musik] aplikasi yang aktif saja. Jadi area background yang enggak kalian lihat itu bakal diredupin sama dia. Nah, ini nih yang saya suka dari brand multinasional itu enggak cuman pasang OLED sudah, tapi mereka juga mengintegrasikan software-nya biar OLED-nya ini enggak gampang rusak. Laptop ini pakai kayak AMD Ryzen AI 9465 dengan NPU yang sanggup memproses beban AI sampai 50 TOPS. Seperti yang saya jelaskan di video-video sebelumnya, apa itu NPU? Intinya NPU itu bisa melakukan background processing. Kayak contohnya Windows Studio Effect, AI lokal, Stable Diffusion dan lain-lain. Atau kalau aplikasi eksklusifnya ASUS ada StoryCube. Aplikasi AI Media Hub ini juga bergantung banget sama NPU. Spesifikasinya ditemenin sama RAM yang memang ini kayaknya dibuat untuk AI deh, karena RAM-nya ini mentok di 30, bukan mentok sih, tapi udah cukup ada 32 GB dan storage-nya 1 TB dengan speed read-nya itu di 7000 Mbps, write-nya di 6500 Mbps. Kalau kalian pengen tahu gimana performanya si Ryzen AI 9 ini, langsung aja kali ya kita coba untuk benchmark sintetis dulu. Pemanasan dulu. Pertama kita coba on battery, jadi enggak usah dicolok dulu kali ya. Dan single core-nya dia dapet di 1970, multi core-nya awal itu 14000 terus turun di rata-rata 12000-an lah. Nah, kalau misalkan adaptornya dicolok, single core-nya itu ya mirip-mirip ya dengan 1970 juga. Multi core-nya awal-awal tembus di 16000 terus running kedua 13000. Nah, setelahnya sama kayak kondisi on battery tadi 12000. Jadi tes ini [musik] merepresentasikan kalau laptop ini walaupun dicolok atau enggak dicolok, performanya itu tetep. Padahal kalau kalian perhatikan chart ini ya ketika mode on battery, TPU-nya itu package watt-nya di CPU-nya itu spike-nya di 26 watt tertingginya terus ya turun di kisaran [musik] 18 watt. Nah, kalau pakai adaptor spike-nya awal di 45 watt tapi terus turun juga di bawah 20 watt. Kalau untuk CPU temperaturnya masih di batas aman lah ya karena spike awal itu di 85 derajat Celsius terus turun rata-rata di 65-an [musik] derajat Celsius. Sayangnya dia ada throttle ketika kita tes di 3DMark ya. 3DMark itu Time Spy stress test kan dia di loop sebanyak 20 kali ya karena memang laptop ini tipis banget sih untuk 16 inch dengan CPU sekenceng itu, 3DMark-nya pas kita tes skornya itu di bawah 90% [musik] cuma 83,1% kalau untuk skor GPU-nya kalian bisa lihat saja langsung Time Spy, Fire Strike dan juga Solar Bay-nya. Nah, sekarang kita masuk ke pengujian yang bakalan sering kalian pakai ketika kalian punya laptop ini karena laptop ini memang segmennya content creation. Kita coba di Adobe Premiere Pro dengan template yang memang [musik] biasanya kita pakai dan hasilnya kalau kita export ke 4K dia selesai cuma dalam waktu 3 menit 30 detik, full HD 2 menit 17 detik. [musik] Kalau kalian suka 3D rendering blender dengan template BMW CPU render-nya saja itu selesai di waktu 2 menit 48 detik, GPU-nya juga mirip-mirip lah ya 2 menit 52 detik. Tapi jangan ngremehin dulu karena ini processor AMD dan AMD itu terkenal dengan kita bisa pinjam RAM untuk jadi VRAM. Nah, di software AMD Adrenalin-nya itu sekarang ada fitur yang namanya VRAM itu bisa kita set ke high dan kalau kita set ke high Adobe Premiere Pro yang tadinya full HD itu 2 menit 17 detik sekarang turun [musik] jadi 1 menit 46 detik. Premiere Pro saja ya kalau blender sudah kita tes dan hasilnya sih sama. Settingan VRAM ini bakal lebih berpengaruh kalau misalkan kalian buat laptop ini ya untuk yang GPU base ya kayak contohnya game triple A Cyberpunk kita coba kalian lihat saja chart-nya ketika VRAM-nya default average FPS-nya di 48 kalau VRAM-nya itu kita set di high average-nya [musik] di 55 FPS. Ini kita pakai settingan high dengan AMD Fidelity FX [musik] SR for performance-nya nyala dan FSR 31 frame gen-nya juga nyala. Tapi sebenarnya kalau enggak butuh-butuh banget jangan diaktifin si VRAM high-nya karena menurut saya dengan default-nya saja sudah cukup kok. Kayak contohnya kita coba di game yang game-game mainstream kayak Valorant [musik] average FPS dapatnya di 77, Dota di 48, Wuthering Waves di 31 FPS. Cuman Wuthering Waves karena memang dia enggak ada dedicated graphic card-nya kalian bisa drop sampai 14 FPS. Cuman penyakitnya laptop tipis seperti biasa untuk suhu [musik] permukaannya pas kita flare ya suhu tertinggi itu nyentuh di 50 derajat Celcius walaupun itu di bagian atas keyboard ya. Tapi area WASD yang bakalan sering kita pakai itu lumayan anget sih karena tembus di atas 42° C dengan 45° C. Tapi kalau kalian pakai laptop ini sesuai dengan kodratnya, konten creation ya render itu kan enggak mungkin sampai berjam-jam kayak main game terus kalian buat untuk bisnis, wah, ini sih laptop baterainya gokil abis. Karena secara kapasitas dia punya kapasitas yang lumayan gede ya dengan 83 watt hour dan pas kita tes di PCMark dan dia itu dapat di 17 jam 16 menit. [musik] Yang artinya kalau kalian kerja sehari 8 jam, berarti kalian bisa pakai laptop ini 2 hari tanpa ngecas. Terus pas kita sampling kayak YouTube 10 menit kita running dia berkurang cuma 2%, terus ya Office pakai Wi-Fi 10 menit berkurang cuma 1%, gaming agak lumayan sih walaupun menurut saya biasanya kan 10%, ini gaming 10 menit berkurangnya cuman 7%. Ngomongin soal [musik] ASUS, ASUS juga punya software-software menarik bawaan yang menurut saya patut diapresiasi dan harus dibahas karena menarik banget. Pertama jelas ada MyASUS yang buat pusat kontrol utama ya, selain fitur OLED Care yang tadi saya bilang untuk ngatur burn in-nya di sini kalian juga bisa ngatur profil kipas, mode warna layar sampai ngunci batas maksimal charging biar baterainya itu panjang umur. Selain itu buat kalian yang suka multitasking di layar 16 inch-nya yang super lega ini, fitur screen expert-nya bakal ngebantu banget buat manajemen layout Windows secara otomatis [musik] biar rapi tanpa perlu geser-geser manual, ribet. Tapi sebenarnya yang bikin saya paling tenang ketika merekomendasikan laptop ini ke kalian jelas after sales-nya ASUS sih karena 3 tahun coy. Dan 3 tahun itu include garansi internasional dan 3 tahun ASUS VIP Perfect Warranty. Karena ada brand laptop lain juga ngasih 3 tahun tapi ADP-nya 1 tahun. [musik] Nah, kalau ASUS 3 tahun ini full ADP. Namanya itu ASUS VIP Perfect Warranty, bedanya sama garansi biasa si Perfect Warranty ini punya fitur ADP tadi. Jadi kalau laptopnya ketumpahan kopi terus human error lah enggak sengaja, 100% biaya perbaikan itu bakal di-cover sama [musik] ASUS. Jadi kita enggak perlu keluar duit lagi selama 3 tahun full. [musik] Jadi kalau kita ngomongin after sales service point-nya ASUS, kayaknya yang paling banyak tuh ASUS deh sekarang di Indonesia kalau kita ngomongin service point-nya. Terus mereka juga ada ASUS premium service, layanan ini bisa ngasih kalian bebas [musik] biaya ongkir buat antar jemput laptop pas kita service. Terus juga ada laptop spa, bukan Mas Mobi aja yang suka spa. ASUS juga ada laptop spa, intinya kalau misalkan laptopnya itu kotor atau apapun, bisa di-spa lah, dibersihkan gitu sama dia. Terus juga ada jalur fast lane, sama kayak BCA. Kalau BCA kan harus prioritas, nah ASUS ini harus beli laptop ini. Yang intinya fast lane ini dia bisa nyelip antrian lah, sama kayak BCA prioritas. Jadi kalian diprioritaskan. Okelah, jadi mungkin cukup segitu aja video review dari ASUS Zenbook S 16 OLED yang super enteng [musik] kali ini. Uh, hujan. Kesimpulannya, laptop ini cocok buat kalian yang memang butuh layar lebar tapi tetap pengen laptop yang ringan dan ringkas. Point plus utamanya jelas laptop ini di tingkat mobility-nya ya dan efisiensinya yang lumayan luar biasa. Karena dia masukin baterai 83 watt hour yang bisa tahan hampir 18 jam, layarnya 16 inch streaky OLED yang akurasi warnanya wah, sudahlah, enggak ada cela. Terus port-nya juga masih lengkap dengan sasis ceraluminium yang ketebalannya cuma 1,1 cm yang dipegang itu benar-benar langsung kayak "Wah, ini laptop mahal nih." Feel-nya itu kayak gitu tuh. Apalagi bobotnya dengan ceraluminium tadi cuma 1,5 kg. Dan yang saya salut sih ya kombinasi antara ASUS dan juga AMD Ryzen AI 9-nya ini maut. Karena performanya seperti yang kalian lihat untuk laptop yang setipis dan seringan ini lumayan oke, cuman memang karena performanya [musik] yang kencang tadi ya, jadi suhu permukaannya agak lumayan hangat. Dan kalau kalian ngeh di chart-nya Cinebench tadi, semuanya itu kan kayak dipaksa di antara 20 sampai 25 watt jadi memang sama Asus sengaja di limit biar laptopnya itu enggak gampang overheat. Ya, itu memang kompromi yang harus dibayar Asus kalau mereka mau laptopnya tipis dan [musik] juga ringan. Karena kalau dibikin kencang ya cepat panas, kalau cepat panas musuhnya adalah baterainya gampang habis. Ya, itu trade off yang memang harus dilakukan. Nah, sekarang untuk harganya, harganya itu pas video ini dibuat ya harganya setara dengan kipas angin komdes lah, tapi dua. Jadi harganya tadi 40 jutaan dan jelas laptop ini bukan untuk semua orang ya. Kalian dengar harga 40 juta pasti langsung wah mending ini, mending [musik] itu. Jadi memang bukan untuk kaum mendang-mending. Laptop ini dipegang aja feel-nya kayak ya wajar kalau dia 40 jutaan. Dan sebenarnya kalau kalian ngitung cost per use-nya 40 juta bagi 3 tahun, coba editor tolong di sini nah per bulannya sebenarnya cuma segitu aja karena 3 tahun itu kalian kayak di cover full kalau ada apa-apa di cover Asus. Sebenarnya kalau buat kerja ya, 40 juta dibagi 3 tahun itu masih oke lah kalau UMR-nya Jakarta. Kalau UMR Jogja sih sulit sih ya. Saya Nikesha Budhi and see you on the next video. Bye bye.
