Jungkat

Laptop Idaman Konten Kreator !! ASUS Zenbook S16 OLED UM5606GA (YouTube Video)

  • 30/08/2026

Siapa nih yang suka pegal karena punya laptop kegedean? Penginnya laptop 16 inch. Adanya laptop gaming berat kayak batu desa. Mungkin si Asus Zenbook System OLED ini bisa jadi solusi [musik] yang ringan. Ya udah enggak usah kebanyakan hambatan. Selamat menonton yang telat ke Kalimantan. [musik] Hai Andika, guys. Di sini kalau kerjaan kalian itu berhubungan dengan content creator sama kayak saya, mungkin kalian juga pernah ngalamin dilema yang kayak saya rasain. Kalau pakai laptop kecil kelebihannya enak dibawa ke mana-mana, tapi begitu mulai edit video, buka timeline panjang sambil buka browser buat cari aset, layarnya itu tiba-tiba kerasa sempit banget. Kayak kos-kosan mahal di Jakson. Nah, laptop 16 inch [mendengus] yang satu ini harusnya bisa jadi solusi buat masalah tadi. Kenalin ini adalah Asus ZenBook S16 OLED. Tapi biasanya ya kalau misalkan Asus ngeluarin laptop kencang, gede tapi tipis dan juga ringan, harganya tuh yang enggak ringan. Jadi berapa harganya dan apa aja yang dia bisa? Langsung aja kita bahas. [musik] Jelas pertama kali laptop ini datang ke kantor, impresi saya langsung, wah gila ini laptop gede banget 16 inch tapi kok enteng sih? Bobotnya itu cuma 1,5 kg padahal 16 inch loh ya. Inget. Dan ketebalannya cuma 1,1 cent. Sama kayak seri Zenbook dan [musik] seri Ultrabook Asus lainnya yang udah rilis duluan. Laptop ini juga udah pakai bahan material yang Esus sebut dengan seraluminium. Jadi kata Esus mereka itu memadukan antara keramik dan juga aluminium. Feel-nya ini solid, permukaannya juga keset. Istilahnya kayak kita megang keramik tapi keramiknya musola gitu. Adem. Tapi walaupun tipis seperti biasa Asus itu selalu comply dengan standar militer ya. Jadi, laptop ini juga udah punya standar militer 810H yang berarti laptop ini sudah melewati berbagai pengujian yang menjamin bakal tahan guncangan, suhu ekstrem, tahan banting, dan tahan dari godaan untuk menghujat klien yang biasanya itu minta revisi. Terus walaupun dengan desain setipis ini, Asus ini enggak pelit loh soal port ada HDMI buat dicolokin ke proyektor. Ada combo jack audio, ada dua port type C yang udah full function. Dan karena full function, artinya kalian bisa ngelakukan type C-nya itu buat apapun kayak power delivery, display port bisa semua enggak perlu colokan HDMI lagi. Di sisi lainnya juga ada USB type A yang bisa kalian colok dengan dongle periperal dan satu lubang cut leader. Jadi memori kamera kalian bisa langsung dibaca di laptop ini tanpa perlu cut leader. Plutnya cukup lengkaplah untuk laptop yang setipis ini. Dan experience content creation di Asusenbook S16 OLED ini ditemani sama speaker yang menurut saya termasuk salah satu yang terbaik di kelas 16 inch. Keyboard-nya juga udah nyaman dengan backl dan touchpad yang lega walau keyboard-nya bukan yang full size ya. Ya, kekurangannya sih buat kalian yang suka tabulasi data ya, Nad-nya jadi gak ada. Dan ini bukan seri Touchpad Asus yang bisa kita nyalain terus jadi pad gitu. Dan ya kalau keuntungannya sih jarak per tombolnya jadi lebih lebar ya trade off-nya itu sih. Jadi kita juga bakal dimanjain sama touchpad-nya ini karena selain ukurannya yang lebih lebar daripada jidat kalian ya sama kayak laptop suenbook lainnya kalian bisa pakai fitur smart gester buat ngatur brightness, volume, dan play head dengan cara geser-geser di daerah pinggiran touchpad-nya. Contoh, kalau misalkan kalian mau ngedit Premiere Pro dan kalian pengen geser Plad pakai kursor, cukup elus-elus bagian sisi atas touchpad-nya, nanti playhead-nya bakal bergeser secara presisi. Jadi, ini bakal memudahkan kalian dalam mengedit walaupun mungkin kalian lupa bawa mouse. Tapi kalau buat saya pribadi, seenak-enaknya trackpad saya sih lebih suka pakai mouse sih. Dan selain fitur-fitur tadi untuk content creation, wah kalian coba lihat aja nih layarnya. Beh, layarnya ini sesuai dengan namanya Zenbook S16 OLED. Jadi untuk layarnya ini panelnya pakai OLED. Apalagi kalian dapat OLED di lebar layar 16 inch dengan resolusinya 3K 120 Hz start touch screen dan di hasil [musik] tes kita untuk colorage sRGB-nya itu di 100%. Volumenya sih di 155%. [musik] Adob RGB, volume di 107%, P3-nya di 110% dengan brightness 440-an. Jadi kalau kalian tanya soal layarnya gimana, Bang? No complains it. Jadi warna merah yang kalian lihat di laptop ini ya kayak warna merah beneran, bukan kayak merah keoren-orenan kayak tomat belum matang gitu. Enggak. Tapi biasanya panel OLED itu banyak orang yang masih takut beli layar dengan panel OLED karena musuhnya OLED itu adalah burn in. Tapi sebenarnya kalau kita mauin Asus mereka itu udah ngeluarin OLED-nya mulai dari dua [musik] atau 3 tahun lalu. Namanya itu Lumina OLED. Dan saya belum dapat laporan kayak layar dari Asus itu burn in sampai banyak gitu ya. Karena Asus sendiri udah bikin sistem untuk anti burn in-nya. Kurang lebih kita dikasih tiga fitur lah yang bikin layar OLED-nya ini jadi tahan dengan panas. Yang pertama ada Pixel refresh yang bakal nampilin screen saver khusus secara otomatis. Terus ada Pixel shift yang kerjanya menggeser posisi pxel di layar secara berkala. Dan terakhir ada target mode yang cara kerjanya bakal menjaga kecerahan penuh di [musik] jendela aplikasi yang aktif aja. Jadi area background yang enggak kalian lihat itu bakal diredupin sama dia. Nah, ini nih yang saya suka dari brand multinasional itu enggak cuman pasang OLED udah, tapi mereka juga mengintegrasikan software-nya biar OLED-nya ini enggak gampang rusak. Laptop ini pakai prosesor AMD Ryzen AI 9465 dengan NPU yang sanggup memproses beban AI sampai 50 tops. Seperti yang saya jelaskan di video-video sebelumnya apa itu NPU, intinya NPU itu bisa melakukan background processing kayak contohnya Windows Studio Effect, AI local, stable diffusion, dan lain-lain. Atau kalau aplikasi eksklusifnya ASUS ada Story Cube. Aplikasi AI media hub ini juga bergantung banget sama NPU. spesifikasinya ditemenin sama RAM yang memang ini kayaknya dibuat untuk AI deh karena RAM-nya ini mentok di 30 bukan mentok sih tapi udah cukup lah ya 32 GB dan storage-nya 1 TB dengan speed rate-nya itu di 7000 Mbps R-nya di 6 Mb. Kalau kalian pengen tahu gimana performanya si Ryzen A i9 ini, langsung aja kali ya kita coba untuk benchmark sintetis dulu, pemanasan dulu. Pertama kita coba on bateri. Jadi enggak usah dicolok dulu kali ya. Dan single core-nya dia dapat di 1970. Multicore-nya awal itu Rp.000 terus turun di rata-rata R.000-an lah. Nah, kalau misalkan adapternya dicolok single core-nya itu ya mirip-mirip ya dengan 1970 juga. Multi corore-nya awal-awal tembus dip.000 terus running kedua R.000. Nah, setelahnya sama kayak kondisi on baterai tadi Rp.000. Jadi tes ini [musik] merepresentasikan kalau laptop ini walaupun dicolok atau enggak dicolok performanya itu tetap. Padahal kalau kalian perhatikan cat ini ya, ketika mode on batery, TPU-nya itu package watt-nya di CPU-nya itu spike-nya di 26 watt tertingginya, terus ya turun di kisaran [musik] 18 watt. Nah, kalau pakai adapter spek-nya awal di 45 watt tapi terus turun juga di bawah 20 watt. Kalau untuk CPU temperaturnya masih dibatas aman lah ya, karena spek awal itu di 85 derajat Celcius terus turun rata-rata di 65 [musik] derajat Celcius. sayangnya dia ada throttle ketika kita tes di Max ya. 3D Max itu time space test kan dia di loop sebanyak 20 kali ya. Karena memang laptop ini tipis banget sih untuk 16 inch dengan CPU sekencang itu 3D Mark-nya pas kita tes skornya itu di bawah 90% [musik] cuma 83,1%. Kalau untuk skor GPU-nya kalian bisa lihat aja langsung time spy fastestrack dan juga solar B-nya. Nah, sekarang kita masuk ke pengujian yang bakalan sering kalian pakai ketika kalian punya laptop ini. Karena laptop ini memang segmennya content creation. Kita coba di Adobe Premiere Pro dengan template yang memang [musik] biasanya kita pakai. Dan hasilnya kalau kita export ke 4K, dia selesai cuma dalam waktu 3 menit 30 detik. Full HD 2 menit 17 [musik] detik. Kalau kalian suka 3D rendering blender dengan template BMW, CPU rendernya aja itu selesai di waktu 2 menit 48 detik. GPU-nya juga mirip-mirip lah ya 2 menit 52 detik. Tapi jangan ngeremehin dulu karena ini prosesor AMD dan AMD itu terkenal dengan kita bisa pinjam RAM untuk jadi VRAM. Nah, di software AMD Adrenalinnya itu sekarang ada fitur yang namanya VRAM itu bisa kita set ke high dan kalau kita set ke high, ada BM Pro yang tadinya full HD itu 2 menit 17 detik, sekarang [musik] turun jadi 1 menit 46 detik. Premiere Pro aja ya kalau blender udah kita tes. Dan hasilnya sih sama. Settingan firm ini bakal lebih berpengaruh kalau misalkan kalian buat laptop ini ya untuk yang GPU base ya, kayak contohnya game A Cyberpunk. Kita coba kalian lihat aja chart-nya. Ketika Viramnya defult, average FPS-nya di 48. Kalau VirAMnya itu kita set di high, average-nya [musik] di 55 fps. Ini kita pakai settingan high dengan AMD Fidility FX [musik] SR 4 Performance-nya nyala dan FSR 31 frame gen-nya juga nyala. Tapi sebenarnya kalau enggak butuh-butuh banget jangan diaktifin V RAM high-nya karena menurut saya dengan default-nya aja udah cukup kok. Kayak contohnya kita coba di game ya game-game mainstream kayak Valoran. [musik] Ever CPS dapatnya di 77, Dota di 48, Wering Wave di 31 fps. Cuman wing wave karena memang dia enggak ada dedicated graphic card-nya, karena bisa drop sampai 14 FPS. Cuman penyakitnya laptop tipis seperti biasa untuk suhu [musik] permukaannya pas kita fleir ya, suhu tertinggi itu nyentuh di 50 derajat Celcius. Walaupun itu di bagian atas keyboard ya, tapi area WASD yang bakalan sering kita pakai itu lumayan hanget sih karena tembus di atas 42 derajat Celcius dengan 45 derajat Celcius. Tapi kalau kalian pakai laptop ini sesuai dengan kodratnya, content creation ya, render itu kan enggak mungkin sampai berjam-jam kalian main game, terus kalian buat untuk bisnis, bah ini sih laptop baterainya gokil habis. Karena secara kapasitas dia punya kapasitas yang lumayan gede ya, dengan 83 wat hour. Dan pas kita tes di PC MA 10, dia itu dapat di 17 jam 16 menit. [musik] Yang artinya kalau kalian kerja sehari 8 jam, berarti kalian bisa pakai laptop ini 2 hari tanpa ngecas. Terus pas kita sampling kayak YouTube 10 menit kita running dia berkurang cuma 2%. Terus ya office pakai Wii 10 menit berkurang cuma 1%. Gaming agak lumayan sih walaupun menurut saya biasanya kan 10%. Ini gaming 10 menit berkurangnya cuman 7%. Ngomongin [musik] soal Asus, Asus juga punya software-software menarik bawaan yang menurut saya patut diapresiasi dan harus dibahas karena menarik banget. Pertama jelas ada My Asus yang buat pusat kontrol utama ya. Selain fitur OLED Care yang tadi saya bilang untuk ngatur burn in-nya. Di sini kalian juga bisa ngatur profile kipas, mode warna layar, sampai ngunci batas maksimal charging biar baterainya itu panjang umur. Selain itu, buat kalian yang suka multitasking di layar 16 inch-nya yang super lega ini, fitur screen expert-nya bakal ngebantu banget buat manajemen layout window secara otomatis [musik] biar rapi tanpa perlu geser-geser manual, ribet. Tapi sebenarnya yang bikin saya paling tenang ketika merekomendasikan laptop ini ke kalian jelas after seals-nya Asus sih karena 3 tahun coy. Dan 3 tahun itu include garansi internasional dan 3 tahun Asus VIP perfect warranty. Karena ada brand laptop lain juga ngasih 3 tahun tapi ADP-nya 1 [musik] tahun. Nah, kalau Asus 3 tahun ini full ADP. Namanya itu Excuse VIP Perfect Warranty. Bedanya sama garansi biasa, si Perfect Warranty ini punya fitur ADP tadi. Jadi kalau laptopnya ketumpahan kopi terus human error lah enggak sengaja, 100% biaya perbaikan itu bakal di-cover sama [musik] Asus. Jadi kita enggak perlu keluar duit lagi selama 3 tahun full. [musik] Dan kalau kita mauin after sale service point-nya Asus, kayaknya yang paling banyak tuh Asus deh sekarang di Indonesia kalau kita mauin service point ya. Terus mereka juga ada Asus premium service. Layanan ini bisa ngasih kalian [musik] bebas biaya ongkir buat antar jemput laptop pas kita servis. Terus juga ada laptop spa. Bukan Mas Mobi aja yang suka spa. Asus juga ada laptop spa. Intinya kalau misalkan laptopnya itu kotor atau apapun bisa dipa lah dibersihkan gitu sama dia. Terus juga ada jalur facel lan sama kayak BCA. Kalau BCA kan harus prioritas. Nah, Asus ini harus beli laptop ini yang intinya fast lelin ini dia bisa nyelip antrian lah sama kayak BCA prioritas. Jadi kalian dipriitaskan. Okelah, jadi mungkin cukup segitu aja video review dari Asus ZenBook S16 OLED yang super enteng [musik] kali ini. Dan kesimpulannya, laptop ini cocok buat kalian yang memang butuh layar lebar tapi tetap pengin laptop yang ringan dan ringkas. Poin plus utamanya. Jelas laptop ini di tingkat mobility-nya ya dan efisiensinya yang lumayan luar biasa karena dia masukin baterai 80 GW hour yang bisa tahan hampir 18 jam. Layarnya 16 inch Tricky OLED yang akurasi warnanya wah udahlah enggak ada cela. Terus sportnya juga masih lengkap dengan sasis Sera Aluminium yang ketebalannya cuma 1,1 cent yang dipegang itu benar-benar langsung kayak wah ini laptop mahal nih. Feel-nya tuh kayak gitu tuh. Apalagi bobotnya dengan sera aluminium tadi cuma 1,5 kg. Dan yang saya salut sih ya kombinasi antara Asus dan juga AMD Ryzen AI9-nya ini maut karena performanya seperti yang kalian lihat untuk laptop yang setipis dan seringan ini lumayan oke. Cuman memang karena [musik] performanya yang kencang tadi ya, jadi suhu permukaannya agak lumayan hanget. Dan kalau kalian ngeh di chart-nya Ceb tadi semuanya itu kan kayak dipaksa di antara 20 sampai 25 watt ya. Jadi memang sama Asus sengaja dilimit biar laptopnya itu enggak gampang overheat ya. Itu memang kompromi yang harus dibayar Asus kalau mereka mau laptopnya tipis [musik] dan juga ringan. Karena kalau dibikin kencang ya cepat panas. Kalau cepat panas musuhnya adalah baterainya gampang habis. Ya itu trade off yang memang harus dilakukan. Nah, sekarang untuk harganya. Harganya itu pas video ini dibuat ya, harganya setara dengan kipas angin COPd lah, tapi dua. Jadi harganya itu di R0 jutaan. Dan jelas laptop ini bukan untuk semua orang ya. Kalian dengan harga Rp40 juta pasti langsung wah mending ini, [musik] mendung itu. Jadi memang bukan untuk kamu mendang-mending. Laptop ini dipegang aja feel-nya kayak ya wajar kalau dia 40 jutaan. Dan sebenarnya kalau kalian ngitung cost per use-nya R juta bagi 3 tahun, coba editor tolong di sini. Nah, per bulannya sebenarnya cuman segitu aja. Karena 3 tahun itu kalian kayak dicover full. Kalau ada apa-apa dicover Asus. Sebenarnya kalau buat kerja ya R0 juta dibagi 3 tahun itu masih oke lah kalau UMR-nya Jakarta. Kalau UMR Jogja sih sulit sih ya. Saya and see you on the next video.

Lihat di YouTube