Laptop Kerja 10 Jutaan yg Kencang Buat Gaming: Review Acer Aspire 7 PRO (YouTube Video)
Coba lagi JTV. Ya, kalau kata Acer sih harusnya laptop ini buat bekerja, tapi kok dia lancar buat main Black Meat Wukong ya? Dipakai main Cyberpunk 2077 juga enggak ada masalah nih. Tenang. Yang satu ini emang unik. Laptop yang satu ini adalah laptop hybrid dari Acer. Jadi dia bisa dipakai untuk kerja, bisa juga dipakai untuk main game triple A. Untuk prosesor dia pakai Intel Core generasi 12. Jadi masih lumayan kekinian buat GPU dia pakai RTX 3050 yang 6 GB. Jadi udah bukan yang 4 GB lagi. RAM-nya untuk yang kami uji langsung 16 GB. Jadi udah lumayan gede ya. Dan tentunya masih bisa di-upgrade juga. SSD-nya juga bisa dipasang sampai 2 biji nih. Jadi kapasitasnya bisa besar sekali. Layar udah 15,6 inch, IPS 144 Hz. Jadi ukurannya lapang untuk kerja dan main game. Menariknya, laptop ini dijual mulai dari harga R10 jutaan. Jadi relatif terjangkau ya. Ya, laptop satu ini adalah Acerpire 7 Pro. Nah, kalau melihat dari namanya, kami sempat mengira bahwa kata pro itu adalah kependekan dari profesional. Tapi menurut Acer, kata pro tersebut ternyata merupakan kependekan dari productivity. Jadi, jelas kalau laptop ini ditujukan untuk kita yang membutuhkan laptop kencang untuk produktivitas sehari-hari, tetapi dengan harga yang tetap terjangkau. Oke, langsung aja kita mulai pembahasannya kali ini dari spesifikasi utamanya. Untuk prosesor yang satu ini pakai Core i7 12650H, fabrikasi Intel 7, base power 45 watt, 10 core 16 thread yang terdiri dari 6 performance core atau PCore dan 4 efficient core atau ecore. Intel smart cas-nya juga lumayan besar di 24 MB. Integrated graphisnya pakai Intel UHD graphics dengan 64 execution unit. Tentunya ini adalah Intel UHD graphics yang baru ya, yang sudah support akselerasi hardware untuk video AV1 dan juga fitur Intel Quix diupport di sini. Untuk memori atau RAM-nya dia pakai 16 GB DDR 4 3200 MHz. Untuk seri yang ini kita pakai single channel. Nah, menurutes dia juga versi 16 GB dual channel yang konfigurasinya 2 * 8 GB ya. Laptop yang saat ini menggunakan RAM sodim ya. Jadi bisa ditambah kapasitasnya dan di-upgrade ke dual channel kalau kalian dapat yang 16 gig seperti ini. Kata SR sih kapasitasnya bisa diupgrade sampai 32 GB. Menariknya karena dia pakai RAM DDR4 biaya untuk upgrade-nya tetap terjangkau nih dibandingkan kalau pakai DDR5. Untuk storagenya pakai 512 GB SSD M2 NVM PCI Gen 4x4. Menariknya di laptop ini ada slot M2 kedua. Jadi kapasitasnya bisa ditambah tanpa perlu ganti SSD utamanya. Tapi beda dengan slot utamanya ya. Slot M22 keduanya itu cuma support kecepatan PCI Gen 3. Walaupun demikian kita tetap bisa masang kok yang PCI Gen 4 di situ. Cuma speed-nya jadi PCI Gen 3. Yang sebenarnya masih kencang juga sih ya. Nah, untuk disk grafisnya dia pakai Nvidia GeForce RTS 3050 laptop GPU dengan 6 GB VAM GDDR 6 ya ini yang 6 GB bukan 4 GB seperti RS 3050 yang versi lama. GPU-nya dilengkapi dengan 2560 kuda Corse. Jadi cenderung lebih mirip seperti GPU di RTX 3050 Ti. Tapi memang yang RTX 3050 ini memori bassnya cuma 96 bit seperti yang di RTX 3050 Ti atau RX 3050 yang versi 4 GB. Sementara untuk nilai TG GP maksimumnya adalah di 75 watt. Nah, untuk wires conctivity dia menggunakan modul Intel yang udah support Wii 6 Gabit WiFi dan Bluetooth versi 5.2. Untuk kapasitas baterainya ada di 54 wat hour. Untuk OS tentunya dia pakai Windows 11 ya. Nah, untuk body font factornya clam shell atau laptop klasik dan materialnya adalah aluminium untuk punggung layar dan polikarbonat untuk bagian lainnya. Warnanya ini namanya titanium black ya. Nah, untuk desain jujur aja penampilan Acer yang satu ini memang terasa sangat berbeda dengan laptopire lain yang pernah kami uji dan kami lihat selama ini. Sepertinya laptop Aspire yang satu ini ya menggunakan sasis baru. Jadi bentuk dan lekukan bodinya tidak lagi sama seperti Asire yang kita kenal selama ini. Tapi harusnya ini bukan jadi masalah ya karena penampilan jadi mirip seperti laptop workstation. Jadi kelihatan lebih profesional di sini. Nah, untuk dimensinya panjang 36,2 cm, lebar 23,7 cm, ketebalan di 1,9 cm. Untuk bobotnya laptopnya aja di 2,07 kg. Ini tergolong ringan ya kalau dia dianggap sebuah laptop gaming yang ukuran layarnya 15,6 inci ya. Nah, untuk charger ini 365 gr dan ini adalah charger 150 wat. Total bobot kalau dibawa-bawa jadi 2,43 kg. Untuk display ini adalah layar berukuran 15,6 inci. Resolusinya 1920 * 1080 piksel dengan refresh rate di 144 Hz. Tentunya ini adalah panel IPS. Nah, kalau kami ukur dengan AD kami hasilnya tingkat kesaran maksimumnya ada di kisaran 342 nits di dalam ruangan. Sementara untuk gamut coverers dan gambut volume ada di kisaran 59% sRGB. Dengan kambut seperti itu, layar ini memang masih kurang cocok untuk digunakan editing yang kelas profesional yang butuh akurasi warna yang tinggi-tinggi banget ya. Tapi kalau sekedar mau dipakai untuk editing sederhana yang gak butuh akurasi warna yang super superer akurat ya harusnya bukan jadi masalah karena dia udah pakai panel IPS yang tampilannya jadi konsisten pada saat kita lihat dari sudut manaun dipakai main game ataupun nonton juga pastinya masih oke. Yang satu ini. Permukaan layarnya ini punya sifat yang non glare ya jadi lebih minim pantulan bayangan benda di sekitar kita yang mungkin bisa mengganggu kenyamanan saat kita main game atau saat kita bekerja tentunya. Nah untuk bingkai layar juga sudah menggunakan desain yang lumayan tipis untuk sisi kanan dan kirinya. sayangnya untuk bingkai bagian bawah di sini masih agak tebal ya. Nah, untuk kameranya. Nah, sayangnya laptop ini masih dilengkapi dengan kamera 720p 30 fps. Ini belum yang versi 1080p tapi masih ingat harganya kan ya. Nah, sementara untuk model mikrofonnya ini ada dua buah di sisi kanan dan kiri kamera. Nah, walaupun hanya pakai S20P ternyata kualitas kameranya ternyata lumayan oke juga di sini ya. Detail wajah kami dapat ditangkap dengan cukup baik dan hanya terlihat sedikit noise pada saat kami coba di ruangan yang terang. Sementara suara yang ditangkap oleh mikrofon juga terdengar cukup natural meskipun tidak bisa menangkal noise dari kipas laptop yang kami jalankan di kecepatan 100%. Oke, jadi seperti inilah kemampuan kamera dan mikrofon dari laptop Acer 7 Pro. Jadi, gimana nih kualitasnya oke atau enggak? Ya, saat ini saya lagi menguji kemampuan noise cancellation laptop Aspire 7 Pro yang satu ini dengan kondisi kecepatan kipas di 100%. Jadi, gimana nih suara bising dari kipasnya? masih masuk ke mikrofon atau enggak? Oke, untuk audionya laptop ini dilengkapi dengan dua buah speaker dengan lubang keluaran suara menghadap ke bawah. Kita bisa mengatur profil dan equalizer suara melalui software Soundblaster Studio. Sayangnya speaker di laptop ini masih terasa kurang kencang nih suaranya ya. Kualitasnya juga bukan yang hebat-hebat amat ya. Walaupun ya enggak bisa dibilang yang jelek juga sih di sini. Saran kami sih kalau mau mantap pakailah headphone atau speaker tambahan. Oke, untuk konektor di sebelah kiri ada satu Kensington lock slot, ada satu USB 3.2 gen 1 dan ada satu USB 2.0. Kemudian ada 1 3,5 mm mikrofon jack dan ada 13,5 mm audio combo jack. Beralih ke sisi kanan ini ada satu micro SD card leader, ada satu USBC 3.2 gen 2, ada 1 Gabit Ethernet. Lalu di bagian belakang ya masih ada lagi di bagian belakang ada satu USBC 3.2 gen 2, ada satu HDMI, satu mini display port, dan 1 DC in. Oke, untuk keyboard-nya kita lihat sekarang ya. Selain body, bentuk dan tata letak tombol di laptop Asperire-nya juga tampak berbeda. Key cap keyboard ini menggunakan warna hitam dengan tulisan putih dan pinggiran berwarna putih. Tentunya keyboardnya juga dilengkapi dengan tombol 6 padet ya. Jadi kita bisa menginput angka dengan cepat. Tombol anak panah di laptop ini juga dibuat sama besar dengan tombol lainnya. Jadi ini lebih nyaman untuk digunakan. Menariknya, keyboard di laptop ini ternyata dilengkapi dengan lampu backlit RGB ya dengan satu zona warna. Padahal ini bukan laptop gaming harusnya ya. Nah, untuk tingkat cicerahannya tuh ada empat yang dapat diatur dengan menekan tombol di area 6 pad. Sementara untuk pilihan warnanya ada 15 buah dan ini bisa diatur melalui software control center. Kita beralih ke touchpad-nya. Area touchpad ini ukurannya di 12 * 7,3 cm yang memanjang dari tombol alt hingga tombol copilot. Saat kami gunakan hanya sebagian kecil dari telapak tangan yang masuk ke dalam area touchpad. Jadi ini tidak terlalu mengganggu kenyamanan saat kita sedang mengetik. Selain itu, jari kami ternyata dapat bergerak dengan mulus di atas permukaan touchpad. Walaupun ini bukan yang pakai material kaca. Oke, sekarang kita bahas cooling systemnya ya. Sistem pendingin laptop ini dilengkapi dengan empat buah heat pipe dan dua buah kipas. Wah, seperti laptop gaming ya memang ya. Untuk lubang ventilasi pembuangan panasnya itu ada empat. Satu ke kiri, satu ke kanan, dan dua ke arah belakang. Oke, sekarang kita bicara aspek performanya. Laptop ini dilengkapi dengan empat profil performance, yaitu performance, entertainment. Nah, ini mode default-nya, ya. Lalu ada quiet dan power saving. Profil performa tersebut dapat diatur melalui software control center. Setelah itu disediakan pula menu untuk mengatur kecepatan kipas dengan pilihan automatic, maksimum, dan custom. Sebagai catatan, seluruh pengujian kali ini kita lakukan dengan kecepatan kipas di 100%. Oke, langsung aja kita coba tes pakai Cineb R23. Dengan stability tes selama setengah jam, skor tertinggi yang dicapai adalah 11.977 poin di mode entertainment dan 14.051 poin di mode performance. Sementara untuk skor yang dapat dipertahankan adalah di kisaran 10.400 sampai 10.500 poin di mode entertainment dan 11.900 sampai 12.100 di mode performance. Oke, kita lihat suhu kerjanya. Pas kita jalankan Ceb R23 stability test yang setengah jam tadi di mode entertainment surata prosesor itu ada di bawah 80 derajat Celcius walaupun memang sesekali ada kenaikan sedikit di atas 90 derajat Celcius cuma spiking aja. Sementara di mode performance su rata-rata prosor berada di kisaran 97 sampai 98 derajat celcius dengan sesekali lompat ke 100 derajat celcius. Tapi tenang, enggak usah khawatir dulu. Kita coba lihat dulu suhunya kalau kita pakai aplikasi sehari-hari seperti apa. Kita kan tidak bekerja pakai C the Bch ya. Oke, langsung aja kita lihat kalau kita pakai Blender 4.3.2 dengan barber shop scene CPU rendering selesai dalam waktu 38 menit 13 detik. Sementara kalau kita pakai GPU rendering dengan kuda selesai dalam waktu 6 menit 53 detik tentunya ya. Karena ini berat ya memang ya. Nah, untuk suhu kerjanya pada saat kita melakukan GPU rendering dengan kuda di mode performance suhu prosesor dan GPU Nvidia dapat dikendalikan di bawah 80 derajat Celcius. Meskipun di akhir pengujian sempat ada lompatan satu kali ke 99 derajat Celcius. Cuma sekali doang ya. Nah, ternyata masih aman ya. Nah, cuma ada lompatan sebentar habis itu langsung turun lagi kok ya. Lanjut. Kalau kita lihat kalau kita pakai Adobe Premiere Pro 2025 videonya 4K60 2 menit 7 detik. Kalau kita pakai software only on saya dalam waktu 10 menit 18 detik. Sementara kalau kita pakai GPU acceleration via kuda selesai dalam waktu 2 menit 42 detik. Cukup kencang ya mengingat ini 4K60. Lalu untuk video full HD 60 fps yang 2 menit 7 detik. Kalau pakai software only sesai dalam waktu 2 menit 7 detik juga. Kalau kita pakai GPU Acceleration via kuda selesai dalam waktu hanya 47 detik saja. Nah, suhu kerjanya pada saat melakukan 4K video export dengan kuda di mode performance supressor dan GP Nvidia dapat dikendalikan di bawah 70 derajat Celcius. Aman banget kan suhunya? Lanjut ke Davin COF 19.1. Software video rating kelas profesional tapi ini versi gratisan ya. Nah, untuk video 4K60 2 menit 7 detik selesai dalam waktu 4 menit 50 detik. Sementara kalau videonya full HD 60 fps 2 menit 7 detik selesai dalam waktu 1 menit 16 detik saja. Oke, kalau kita lihat suhu kerjanya pada saat melakukan 4K video exporting di mode performance superor itu terlihat bergerak di rentang 70 sampai 100 derajat celcius. Ini udah naik turun ya. Ini bukan konstan di titik tertentu doang bukan. Sementara su tertinggi di GPU Nvidia itu hanya mencapai 71 derajat Celcius. Nah, sekarang kita coba caput ya. Untuk video 4K60 2 menit 7 detik itu butuh waktu hanya 1 menit 19 detik saja. Sementara kalau videonya full HD di 60 fps 2 menit 7 detik selesai diekspor dalam waktu hanya 26 detik saja. Nah, video exporting di mode performance su rata-rata presser berada di bawah 80 derajat celcius meskipun sempat dua kali ada lompatan di atas 80 derajat celcius. Sementara suhu tertinggi GPNVD-nya cuma berkisar di 60 derajat celcius aja. Lagi-lagi kalau untuk yang satu ini suhunya aman sekali. Oke, walaupun ini untuk productivity tapi kita mau tahu dong performa gamingnya seperti apa. Nah, hasilnya kurang lebih seperti ini. [Musik] Oke, di game yang terakhir ini ya ee kita jalankan Assassin's Creed Mirage selama 30 menit. Kita lihat suhu kerjanya di mode performance supressor terlihat masih bisa dikendalikan sepenuhnya di bawah 90 derajat celcius. Jadi masih 80-an aja. Sementara suhu GPNVD-nya ada di kisaran 79 sampai 81 derajat Celcius. Untuk suhu permukaan body saat kita mainkan selama setengah jam. E untuk keyboard area paling panas kami temukan di tengah dengan titik tertinggi mencapai suhu 50 derajat Celcius di dekat tombol F10. Sementara untuk tombol WASD suhunya berkisar 31 sampai 32 derajat Celcius. Jadi jari-jari kita masih tetap aman kalau kita pakai buat main game. Sedangkan area sebelah atas keyboard itu suhunya berkisar 55 sampai 56 derajus. Tapi itu wajar ya, itu bukan keyboard-nya. Di atasnya keyboard kan. Nah, untuk palm rest sisi kiri suhunya ada di bawah 35 derajat celcius. Sementara di sini karena ada bagian yang suya mencapai 39 derajat Celcius dan ada yang hanya sekitar 30 derajat Celcius saja. Masih lumayan aman nih, masih di bawah 40 derajat celcius. Lanjut untuk pengujian storage-nya. Dengan kristal disma, kita temukan bahwa kecepatan baca storage-nya ada di 3.632 MB/ dan tulisnya ada di 3.113 MB/. Memang sayang ya bahwa kecepatan SSD PISI Gen 4 ini terasa cuma sekencang SSD PISI Gen 3. Tapi tenang, kecepatan SSD di atas 3.000 itu sebenarnya udah sangat mencukupi untuk semua aktivitas kita, bahkan yang berat sekalipun. Lanjut untuk pengujian daya tahan baterainya. Nah, tingkat beratas layar kita taruh di 150 Hit dan volume suara 25%. Mode yang kita gunakan adalah entertainment mode default-nya ya. Kita jalankan 1080p video playback dan baterai baru habis setelah 7 jam atau tepatnya 6 jam 53 menit. Dataan seperti ini memang bukan yang paling hebat tapi udah tergolong cukup irit untuk spesifikasi yang diusung. Oke, untuk charging bagaimana? Di setengah jam pertama baterai terisi 53% sementara dari kosong sampai penuahannya butuh waktu 1 jam 48 menit. Ini sebetulnya tergolong kencang ya karena nge-charge-nya bisa di bawah 2 jam. Oke, untuk harganya konfigurasi yang seperti ini ada di Rp1.49. Rp499.000 ya. Acerpire 7 Pro ini tersedia dalam versi Intel Core i5 12420H juga ya yang RAM-nya 8 GB. Nah, yang itu harganya ada di Rp10.999.000. Untuk bonus pembelian sama ya semuanya dapat Microsoft Office Home 2024 itu yang tidak perlu dibayar-bayar lagi ya, enggak perlu langganan lagi. Tapi dia juga dapat Microsoft 365 atau 365 langganan selama 1 tahun disediakan juga ya. Nah, sementara untuk garansi dia dapat 3 tahun ya, mencakup 3 tahun untuk services, lalu 2 tahun untuk spare parts, dan ada 1 tahun yang ada AADP atau Acer accidental damage protection-nya. Nah, AADP ini akan memberikan jaminan perlindungan untuk kerusakan yang diakibatkan oleh kelalaian pengguna. ADP ini dapat digunakan satu kali di tahun pertama pembelian. Oke, kita masuk ke hal yang perlu diperhatikan. Pertama, supressor memang agak tinggi di mode performance kalau kita menjalankan aplikasi yang hanya membebani sisi prosesornya saja ya. Dan ini yang membebaninya gila-gilaan tentunya ya. Tapi tenang karena suing itu masih bisa diatasi dengan menggunakan mode entertainment. Lagi pula di aplikasi sehari-hari suhunya tuh masih relatif aman sebetulnya kalau enggak pakai aplikasi spesifik kayak begitu tadi ya. Lalu untuk layar ini belum yang 100% sRGB. Untuk editing serius sebaiknya nambahin monitor ya yang color gamot-nya ada di 100% sRGB. Kemudian dia masih punya konektor USB 2.0 juga. Lalu kualitas suara speakernya rasanya agak kurang di sini. Untuk sensor kamera juga ini masih yang 720p. Untungnya kameranya masih mampu menangkap gambar dan kualitas yang cukup baik di sini. Jadi 720p-nya 720p yang oke ya. Lanjut untuk sisi menariknya. Bobotnya ini cukup ringan untuk sebuah laptop high performance 15,6 inci ya. Lalu dia sudah pakai pressor Intel yang 10 core H series. Yang penting adalah H seriesnya berarti high performance. Ini lancar untuk multitasking, rendering, editing. Game brat juga masih jalan di sini. Kemudian dia dilengkapi dengan RTX 3050 yang 6 gig pula. Mau main game triple A mulus lancar. Main game kompetitif enggak ada masalah. Main game esports terbang-terbang nih FPS-nya. Mau ngedit video, ngedit video 4K 60 FPS juga bisa lancar di sininya. Lalu, RAM-nya langsung 16 GB dan masih bisa di-upgrade pula yang satu ini. Dan ingat, RAM-nya DDR4 jadi lebih murah saat kita mau upgrade. Kemudian kita bisa masang sampai dengan 2 SSD M.2. Jadi ya storage-nya bisa diekpand sampai besar sekali. Kemudian disediakan juga pengaturan manual untuk kecepatan kipas. Lalu layarnya IPS 144 Hz. Ini siap untuk gaming kompetitif ya. Padahal ini pro tadi katanya. Untuk konektor juga lengkap dan banyak di sini sudah dapat bonus Microsoft Office ya. Dan dua macam lagi Microsoft Office-nya ya, yang hidup terus dan ada yang berlangganan juga dikasih juga selama setahun ya. Lalu dia punya garansi selama 3 tahun yang dilengkapi dengan AADP atau garansi untuk kelalaian pengguna. Nah, jadi pertanyaannya Acer 7 Pro ini cocoknya buat siapa? Ya, yang satu ini harusnya cocok buat mereka yang mencari laptop high performance dengan harga relatif terjangkau dan mudah untuk di-upgrade. Dipakai untuk kerja pastinya oke banget. Bahkan buat ngedit 4K 60 juga bisa lancar di sini. Mau dipakai buat desain dan trending 3D yang ringan-ringan sih masih kuat banget ya. Dipakai untuk programming pastinya juga mantap. Apalagi kalau aplikasi codingnya cocok dengan spek yang satu ini. Mau dipakai untuk sekolah atau kuliah juga enggak ada masalah karena harganya masih relatif terjangkau. Apalagi garansi kan 3 tahun dan ada AADP-nya di awal jadi lebih aman. Mau dipakai sebagai laptop gaming juga masih mantap ya. Apalagi kalau butuhnya yang penampilannya tidak seperti laptop gaming. Mau main game triple A atau game kompetitif semuanya lancar. Frame rate-nya juga gak patah-patah di sini. Ya, pada akhirnya kalau yang dicari adalah laptop high performance serba bisa yang siap pakai komplit tapi harganya relatif terjangkau. Rasanya Acerpire 7 Pro ini adalah salah satu pilihan yang layak untuk dilirik. Saya Irfan Jaga Tib TV.
