Laptop Lagi Mahal ? Enggak, yang Ini Murah NIH !! (YouTube Video)
Toshiba is back dan kayaknya dia bakalan jadi laptop penyelamat di kondisi perlaptopan yang lagi carut-marut kayak gini. Athlon harganya Rp juta. I3 tembus di Rp9 juta. Enggak masuk akal lah pokoknya. Dan kasihan nanti bakalan yang udah beli i3 di harga Rp9 juta mau dijual lagi juga pasti enggak mungkin. Harganya enggak mungkin relevan. Nah, menurut saya laptop yang satu ini bisa jadi solusi sih karena dia pakai prosesor ya pakai Core i7 Gen 11. RAM-nya 8 GB. storage-nya langsung dikasih yang 1/2 TB 512 GB dan Windows-nya bukan home biasa, [musik] tapi langsung dikasih 11 Pro. Harganya di Rp7,5 juta pas video ini dibuat ya. Jadi selisih cuman sejutaan kalau dibandingkan dengan Athlon Silver 7020. Wih, jauh banget sih ya Athlon sama Cora Sver kayak perbedaan yang sangat gap-nya jauh. Tapi pertanyaannya sekarang kenapa dia bisa murah? [musik] Ya, ada tiga kemungkinan sih. Satu, laptopnya mungkin jelek. Yang kedua, terlalu banyak part yang dikompromi. Yang ketiga, atau mungkin memang dia beneran still deal banget. Jadi langsung aja kita bahas. [musik] Tapi sebelum masuk ke tesnya, fun fact dulu. Sebenarnya laptop Tosiba itu udah enggak [musik] ada ya, tapi orang-orang menyebut Dinabook itu Toshiba. Padahal sebenarnya bukan Toshiba. Jadi Toshiba itu di tahun [musik] 2018 dia udah diakuisisi sama SHAP, perusahaan Jepang juga. Terus kalau enggak salah di 2023 kalau enggak 2024 yang sisanya 20% itu dibeli lagi sama SA. Jadi kepemilikannya itu udah pure SHP bukan Tosibba lagi. Buat yang belum tahu apa itu SH, wah SH sih brand ternama juga ya di Indonesia ya. Kayak dia bikin kulkas TV-TV Aquos itu juga dari Shar dan yang penting Sharp ini resmi di Indonesia. Jadi dia masuk melalui PT Sharp Electronics Indonesia. Garansinya resmi yang bisa kalian langsung klaim di Sharp Indonesia. Jadi ini bukan laptop greet. Dan langsung aja kita coba lihat dari sisi desainnya ya. Desainnya ini simpel. Jadi warnanya ini dark navy blue, bukan [musik] biru cerah ya. Ini biru gelap yang mirip-mirip kayak jeans denim yang warnanya menurut saya masih everlasting lah. Cuman yang saya enggak suka itu logonya itu logo dinabuknya itu kayak gede banget [musik] mengingatkan saya sama laptop ODM kayak Zyrex ataupun Axio yang dulu-dulu. Tapi sebelnya enggak sampai 2 cent cuman 18,9 mili. Kalau untuk bobot enggak sampai 1,5 kg juga ya. Ini termasuk laptop yang [musik] ringan kalau misalkan kalian bawa ke mana-mana meeting online dan sekarang kan kebanyakan WFH, WFC, work from cafe, work from anywhere. Jadi kalau untuk bobot 1,5 kg masih aman. Nah, sekarang spesifikasinya mungkin kalian bisa baca di tabel berikut ini atau screenshot yang ini. Jadi intinya sih kalian bisa lihat di sini. Cuman saya mau highlight di bagian yang penting nih di Windows [musik] 11 Pro-nya. Dan mungkin satu lagi ada port lan bawaan. Yang ini penting buat kalian yang suka work from anywhere, yang butuh stabilitas internet. Karena portline itu pasti lebih stabil dibandingkan kalian pakai Wii. Walaupun Wi-nya sebenarnya udah cakep karena dia pakai WiFi 6 bukan Wii 5. Sekarang lanjut kita coba bahas fitur security atau fitur keamanannya. Karena sebenarnya laptopnya Dinabook [musik] Satelit Pro ini dia masuknya itu bukan B2C ya, bukan consumer, tapi B2B atau bisnis. jatuhnya sebenarnya dia laptop komersial ya mungkin analoginya kalau laptop consumer itu kayak motor matic lah dia praktis dan gampang digunain. Tapi kalau misalkan si B2B atau komersialnya ini itu kayak mobil dinas lah. Walaupun mobil dinasnya enggak harus ada 8,5 M ya. Enggak butuh Land cruiser juga. Jadi dia ada kuncinya, ada gebok setirnya dan ada sistem keamanannya dan ada locknya. Jadi kita tahu siapa aja yang udah pakai laptop ini dipakai buat apa aja itu bisa. Itu semua berkat si Windows 11 Pro-nya tadi. Karena ini bukan versi Home. Jadi, ada beberapa fitur dari Windows 11 Pro yang gak dimiliki sama Windows 11 Home. Kayak contohnya ada Bitlocker Drive Encryption. Jadi data di SSD ini diripsi. Kalau laptopnya hilang dicuri. Datanya enggak bisa dibaca orang lain tanpa password. Tapi kalau laptop consumer yang pakai Windows Home itu enggak ada. Terus ada domain join juga. Jadi kalau kantor kalian punya server atau jaringan sendiri ya, kayak misalkan punya Nas sendirilah, laptop ini tuh bisa langsung disambungkan. Tapi kalau laptop consumer itu enggak bisa. Terus ada remote desktop juga. Ini sama kayak CBM yang Chrome device managementen itu ya yang lagi ramai. Nah, di Windows 11 Pro sebenarnya juga udah ada. Jadi kita bisa akses laptop ini dari jauh. Misalkan kita lagi meeting keluar kota, laptopnya ketinggalan, tinggal buka aja. Kita bisa akses dari manaun. Terus ada grup policy managementen. Ini sama kayak CBM juga. Jadi, masternya atau yang kepalanya ya itu bisa bikin misalkan kita mau maksa laptopnya update saat itu juga mau blokir akses web atau aplikasi tertentu itu [musik] bisa juga mirip-miriplah sama CBM yang kemarin rameai gara-gara krombek. Terus fitur-fitur lain yang mungkin comon kayak TPM 2.0 atau singkatannya dari trusted platform module. Jadi, ini kayak semacam chip keamanan khusus yang tertanam di [musik] hardware-nya ya, bukan software-nya yang fungsinya itu nyimpan kunci enkripsi secara terpisah dari prosesor utama. Cuman yang menurut saya penting sih ada antibacterial coating-nya. Jadi semua permukaannya ini udah antibakterial lah. Ini cocok ketika sekarang kayaknya lagi ramai hanta virus ya. Jadi bayangkan kalau misalkan lagi di toilet pegang handle pintu dari lift terus kalian pegang laptopnya. Nah bakterinya kan nempel ya. Nah dengan anti coatingnya ini bakterinya itu bisa berkurang. Jadi kalau laptopnya ini dipakai di kantor dengan let's say 10 karyawan aja lah itu meminimalisir sakit. Karena kalau misalkan sakit ya company-nya juga enggak running ya. Karena kan kebanyakan karyawannya sakit. Terus kalau dari sisi build quality, dia sih masih pakai plastik biasa aja, gak ada pakai aluminium-aluminiumnya. Cuman kalau dibuka dengan satu tangan, apakah bisa? Sayang, belum bisa. Tapi kalau untuk masalah keyboard, trackpad saya enggak ada komplain. Feel-nya itu enggak kelihatan, enggak kerasa entry level lah. Jadi wajar kalau misalkan harganya Rp7 juta. Karena sekarang dengan harga kenaikan kayak gitu, Atlon Rp juta, keyboard-nya itu biasanya keyboard-keyboard entry level yang kerasa sor ya, kayak kerasa murah, ekonomis lah, bukan murah. Oke, sekarang kita coba lihat gimana performanya. Saya ingatkan lagi untuk spesifikasinya dia pakai Core i7 Gen 11, RAM-nya 8 GB dengan storage NVMI Gen 3 512 GB yang udah kita test speed-nya itu di 2000-an Mbps. Untuk kondisi saat ini ya, di mana kalian cek aja untuk SSD 512 GB harganya itu kalian cek sendirilah, bisa Rp1 juta sampai 2 juta lebih. Bahkan ada yang jual Rp3 juta juga. Jadi sebenarnya ini SSD-nya kalian copot, kalian jual, kalian ganti ke 256 itu masih mungkin kalian bisa profit. Tapi kalau untuk performanya sintetisnya kita coba di R23 kita jalanin 10 kali berturut-turut hasilnya itu ada di rata atau stabil di kisaran 3.600-an poin. Dan yang menarik kalau misalkan adapternya saya cabut penurunannya itu enggak banyak cuman di 3.500-an [musik] stabilnya. Jadi penurunannya enggak sampai 2%. Dan kalau dibuat kerja, kita juga udah coba dia untuk Microsoft Office. Jadi kita coba [musik] untuk export slide PowerPoint ke PDF 150 slide yang file-nya itu juga lumayan banyak gambarnya. Dia selesai dalam waktu cuma 11,8 detik. Kalau buat Excel yang randomis data yang gede banget itu di 53 detik. Nah, yang menarik ini kan bawaan dari sananya kan cuman 8 GB ya. Terus kita coba untuk bikin dual channel dengan 16 GB. [musik] Dan saran saya memang harus wajib dual channel ya. Mungkin kalian bisa spare budgetnya untuk beli RAM 8 GB. Makanya kalau misalkan kalian udah beli Athlon R juta atau i3 R juta yang RAM cuma 8 GB, mending ini sih karena spare budgetnya R juta bisa kalian belikan RAM. Karena pas kita tes editing ya, Adobe M Pro dengan template yang memang bisa kita pakai. Xort 4K itu kalau single channel dia selesai dalam waktu 12 menit 12 detik. Tapi kalau 16 GB dengan dual channel export 4K dia cuma butuh waktu 6 menit 33 detik. Jadi kayak hampir dua kali lipat lebih kencang. Apalagi laptop ini kan pakai IGP ya. IGP-nya itu Intel Aris X di mana dia bakalan lebih optimal kalau misalkan RAM-nya kita bikin dual channel. Kalau untuk suhunya pas kita coba Flir suhu permukaannya ya seperti biasa area di atas keyboard yang lumayan itu 50 derajat Celcius. Tapi kalau untuk area WASD tombol-tombol yang bakalan sering kita pakai itu di 40 derajat Celcius. Tapi ingat itu ketika running Snen Bench ya, di mana memang itu full load banget. Tapi kalau untuk office aja enggak mungkin segitu. Sekarang pertanyaannya untuk baterainya tahan berapa lama? Ya, kalau untuk baterai sih menurut saya standar karena pas kita coba di modern office PCMAX dia cuma bisa [musik] bertahan di 6 jam 31 menit. Tapi ya kalau dibilang awet enggak, kalau dibilang boros enggak juga ya. Standar lah 6 jam 31 menit. Standar laptop harga R jutaan juga. Terus pas kita sampling untuk reluse untuk baterainya sih pas kita coba YouTube 10 menit dia berkurang cuma [musik] 3%. Office tadi berkurang cuman 2%. Kalau untuk gaming berkurang 10 menit itu [musik] 9%. Masih oke juga. Dan ngomongin soal gaming, sebenarnya ini bukan laptop gaming, tapi enggak apa-apa kita coba aja untuk game-game yang casual ya. Oke, contohnya game Valoran. Kita coba di resolusi full HD dengan grafiknya low, dia masih bisa dapat average FPS di 88, maksimumnya 123. Dota 2 average FPS-nya 63 maksimum bisa tembus di 111 dengan resolusi full HD, grafik lowest juga. Okelah, jadi mungkin cukup segitu aja video review dari Toshiba Satelit Pro C40J. Kenapa namanya Pro? karena memang dia pakai Windows Pro. Untuk link pembeliannya seperti biasa kalian bisa cek di pojok kiri atau di deskripsi. Ini harga pas video ini dibuat ya. Jadi kalau misal karena Juni nanti saya sudah tahu bocoran ordal-ordal sih ya. Jadi bukan hanya laptop yang bakalan naik, TV, kulkas pun juga bakalan naik. Bukan pengaruh dolar juga sebenarnya, tapi pengaruh geopolitik dan juga keterbatasan cip. Jadi saran saya sih kalau kalian butuh laptop, HP, TV, kulkas, mending beli saat ini ya. Jangan ditunda-tunda [musik] kalau memang kalian pengin beli dan butuh. Jangan ditunda kayak, "Ah, nunggu deh nanti harganya juga bakalan turun. Karena itu saya pastiin enggak bakalan turun." Ini catat omongan saya ya. Beda ya. Saya bukan pejabat politik. Kalau pejabat politik satunya kan catat suruh rekam, tapi ternyata realitanya enggak ya. Tapi kalau ini memang beneran valid. Info A1 dari teman-teman saya yang ada di industri ini. Nah, kalau untuk laptop ini kekurangannya mungkin pertama dia masih single channel sayangnya ya, 8 GB single channel. [musik] Tapi sebenarnya kalau kalian bongkar kalian bisa upgrade lagi karena masih ada satu slot RAM lagi. Makanya kalau kalian beli i3 Rp9 juta [musik] mungkin spare budgetnya untuk beli RAM-nya. Karena i3 yang Rp9 juta itu juga RAM-nya masih 8 GB ya. Kalian mau spare RAM 8 GB lagi kayak terlalu mahal enggak sih? Terus kekurangan lain walaupun dia garansinya resmi tapi sayangnya garansinya itu cuman 1 tahun dan service centernya bisa dibilang terbatas. Service centernya itu ada di Isti data namanya kalau saya cari-cari ya. Yang secara service point dia itu enggak sebanyak Asus ataupun Lenovo gitu. Jadi, kalian harus kirim dulu ke kota-kota besar. Kalau misalkan kalian mungkin di kabupaten-kabupaten contohnya Batu ya, kayak dekat sini tuh enggak ada. Keempat mungkin brand awareness-nya ya. Jadi mungkin orang-orang bakalan ngomong, "Wah, ini Tosiba." Tosiba ini sebenarnya bukan Tosiba ya. Namanya ya memang Dinabuk Satelit [musik] Pro. Makanya kalau kalian lihat enggak ada logo Tosibanya sama sekali bahkan pas booting enggak ada. Karena memang ini bukan Tosiba. Sekarang punyanya Sharp ya. Sama-sama dari Jepangnya sih, tapi beda company. Nah, sekarang kesimpulannya untuk menjawab pertanyaan apakah laptop ini bagus? Apakah laptop ini worth it? Kalau dibilang bagus di kondisi sekarang, dibilang worthed di kondisi sekarang, oke sih. Karena untuk atolp juta itu menurut saya kayak terlalu terlalu gila sih. Siapa yang mau beli atlalan harga R juta? ya Athlon silver lagi belum Athlon Gold itu kalau tapi kalau dibilang bagus buat siapa sebenarnya mahasiswa bisa juga mahasiswa yang butuh laptop walaupun ya mungkin beberapa fiturnya enggak kepakai kayak security-nya tadi tapi kalau dari sisi harga ini masih oke banget buat mahasiswa tapi yang lebih tepat sasaran sebenarnya kayak pelaku UMKM yang butuh laptopnya entah dua atau tiga atau empat aja ya kayak mungkin beberapa cabang atau beberapa adminnya karena dengan Windows Pro-nya data-data bakalan aman kalau hilang karena datanya terenkripsi. Terus perusahaan atau instasi yang butuh laptop dalam jumlah banyak, misalkan butuh 50 laptop karena bisa dikontrol dari manajemennya dari Windows [musik] 11 Pro-nya tadi kita bisa kontrol semuanya dari jauh jadi enggak satu-satu gitu update-nya. Dan karena sekarang zamannya AI di mana AI itu kayak berbanding terbalik dengan privacy ya menurut saya sih pelajaran juga mahasiswa yang butuh laptop untuk jangka panjang ketika dia pakai Windows 11 Pro ya masih bisa dipakai untuk 4 sampai 5 ke depan lah. Tapi kalau ditanya laptop ini bukan buat siapa, buat color editing critical ya. Karena untuk color akurasinya belum 100% RGB ya. Intinya kalau kalian butuh gaming atau desain yang [musik] serius, ini bukan laptopnya sih. Tapi overall dengan kondisi harga sekarang yang lagi carut-marut si Toshiba bukan Toshiba ya, si SARP Dinabook Satelit Pro ini bisa jadi opsi yang sangat menarik buat [musik] kalian yang mungkin butuh laptop Argent tapi enggak mau beli Atlon harga Rp jutaan atau i3 Rp jutaan. Mending seven gak [musik] sih?
