Jungkat

Laptop Merah-Putih, Ujungnya ODM Juga ?? (YouTube Video)

  • 01/01/1970

Walaupun gak separah Chromebook R juta, tapi tetap aja laptop yang satu ini bikin kita garuk-garuk kepala. Pertanyaannya, kenapa pemerintah kita enggak ambil aja yang udah ada? Karena jelas harganya akan lebih murah dan jaminan garansinya bikin hidup pejabat pembuat komitmen bisa lebih tenang jiwanya. Mungkin ya harga bukan penentu utama dan ada agenda besar yang perlu diterima. Katanya semua demi produk karya anak bangsa katanya loh ya. Ya udah gak usah sok-sokan menjaga marwah. Selamat menonton yang nungguin 19 juta lonan kerja. Hai Andika guys di sini kalau kalian ngeh sekarang tuh lagi ramai banget di sosm tentang laptop merah putih. Apa itu laptop merah putih? Ini adalah laptop pengadaan dari pemerintah yang dulu itu ramai untuk [musik] digitalisasi di zaman-zaman COVID. Jadi dulu pas COVID saat gencar-gencarnya kita sekolah dari rumah, wah pemerintah itu keren banget. Mereka menggandeng kampus yang ternama kayak ITB, terus UI, merat ngerancang laptop dari nol. Tapi faktanya mereka malah beli laptop dari Cina terus ditempel logo gitu aja. Dan yang kita pegang ini mereknya mereka beli dari Cina, tapi mereknya itu merek-merek Jepang. Mugen kan biasanya ada Honda Mugen gitu. JDM banget ini. Desainnya enggak ada JDMJDM-nya sama sekali. Dan kalau kita ngomongin penguasa e katalog, teman-temannya Mugen yang lokal ini juga nongkrong banyak kayak Evercast, Gold Win. Ini juga merek Honda juga ya, Libera, terus juga DAC. Paling kalian yang familiar ya Axio doang sama Z kali ya. sisanya kayak Everost, mungkin kalian tahunya itu di HP atau tablet versi Kiri huri. Nah, si [musik] Mugen Opir yang akan kita bahas ini di e-catalog dipatok dengan harga Rp8 [musik] juta. Rp8 juta itu paling kalian udah bisa dapat Advance Work Plus yang udah pakai Ryzen seri HS atau kalau dari tim brand internasional ya banyak ada Asus, Acer, Lenovo yang biasanya di harga segitu mereka juga udah ada ADP. Jadi kalau misalkan laptopnya ketumpahan copi atau human error masih digaransi. Dan yang unik lagi, di setiap paket pembelian laptop merah putih ini biasanya kita bakalan dapat hardisk eksternal yang isinya itu pembelajaran. Tapi saya lihat ada orang yang bongkar hardisk eksternalnya itu dan itu sebenarnya hardisk eksternal yang bekas. Hah, memang cukup anomali ya. Enggak cuma itu aja anomalinya. Apa aja? Yuk kita bahas sebelum kita bahas dari sisi performanya ya. Kalau sisi performa mungkin lebih baik dari Chromebook. Tapi soal desain, wah desainnya ini tadi saya pegang ini kayak angelnya ini kayak mau rusak tuh suaranya udah ngengkrek-engkilnya kayak pager belum dikasih oli. Dan di harga Rp8 juta kita sebagai konsumer itu sebenarnya udah berhak nuntut macam-macam ya. Karena harganya kan Rp8 juta bukan Rp juta. Rp juta itu seharusnya dari sisi material kita udah dapat metal-metal dikit lah atau kalaupun bodinya plastik dapat kompensasi spek juruan yang kencang. Nah, si Mugen ini pas dipegang feel-nya itu kayak semacam laptop yang under R jutaan. Nih kalian coba dengerin deh ini. Ini bukan rusak ya, tapi memang angselnya kayak seret banget. Feel kalau orang Jawa bilang ya, feel gembradaknya itu kayak ngingetin kuality-nya kayak zaman-zamannya Axio, Mybook sama Z laptop dulu-dulu gitu. Tapi dari semua kepolosan desainnya ini yang bikin lumayan sakit mata itu logonya sih. Logonya gede banget dan pakai font aja kayak yang mereka cuman ngambil font terus ditempelin Mugen. Dan parahnya lagi terror branding ini enggak berhenti di body fisik aja. Total ada tiga tulisan Mugen segede gaban yang maksa banget buat dilihat. Satu nempel di punggung depan okelah masih wajar. Dua, nempel di beel bawah layar. Ya, standar laptop lah. Tapi yang ketiga, pas kalian nyalain laptopnya dan masuk desktop, duar. Wah, itu logo Mugennya gede banget. Langsung nyapa muka kalian. Dan menurut saya sih ini marketingnya mungkin umur-umur 56 generasi bomer ya. Di mana ya brand awareness itu semakin besar logonya semakin bagus branding awareness-nya. Nah, hal yang bikin saya penasaran sama laptop ini sebelum saya beli, saya akan reset-research dulu ya. Dan banyak yang bilang kalau Intel Core FF Gen 12-nya laptop Mugen Opir ini performanya kalah dengan Intel Core i3 Gen 12. Coba kita buktikan. Tapi sebelum kita buktikan, kita coba lihat dulu nih spesifikasinya kayak apa. Jadi, laptop ini pakai Intel Core FF 1235U. Di mana prosesor ini keluaran awal tahun 2022 ya. Seperti biasa chipset lama, ODM. Biar aman dan cuannya gede pakai prosesor seri lama aja. RAM-nya 8 GB, dual slot satunya kosong dengan speed 3.200 MEA transfer per second, Intel USD grafik dan kalau di-update dual channel jadi Intel Iris Xi Grafic. SSD-nya 256 GB dengan NVM Genry yang speed-nya itu standar aja 1500 Mbps dengan wight-nya 1300 Mbps. Dan seperti yang saya bilang tadi, setiap paket pembeliannya harusnya di setiap pembeliannya itu ada hardisk eksternal yang isinya tadi paket pembelajaran yang sebenarnya banyak video yang beredar itu hard disk yang lama dikasih enclosure baru. Udah gitu aja jadi makin sakit. Sebenarnya secara spesifikasi di atas kertas sih sangat menjanjikan ya. Tapi pas lihat performanya rasanya itu kayak dengar pemerintah pas kampanye bakal ada 19 juta lapangan kerja. Jangankan 19 juta lapangan kerja, personil dewa 19 aja sekarang enggak ada yang kerja. Kalau dilihat dari benchmark sintetis R23-nya aja ya kayak normal-normal aja. Bahkan dapat hasil lebih tinggi dari Infinite Inbook Air tapi lebih rendah dari Polytron Luxia yang I5. Ya, dia ada di tengah-tengah lah, tapi real use penggunaannya dia kalah telak kalau dipakai render bahkan kalau dibandingkan dengan Infinix. Kalau sama Polytron, wah ya jauh lebih [musik] kalah lagi. Tapi kalian pasti ngomong kan ya, harusnya di-upgrade dual channel Bang biar tahu performa maksimalnya. Dan hasilnya memang naik sih secara hasil sintetis ataupun performa rendering-nya tapi tetap aja kalah sama Infinix dan Polytron. Kalau dirasa kecepetan, kalian bisa pause aja di bagian chart ini. Nah, kenapa dengan prosesor yang sama tapi hasilnya bisa beda? Kalau kalian lihat chart TDP-nya, maksimal heat-nya itu dia cuman di 27 watt. Dan setelah nyentuh 27 watt bakal dibanting lagi ke 15 watt. Jadi, limitasinya di 15 watt itu tadi. Limitasi ini yang buat laptop merah putih ini kelihatan performanya ketahan ya. Ibaratnya kayak kebijakan tapi tanpa anggaran. Untuk skenario lain, export PPT ke PDF dan randomis data Excel gak ada kendala sama sekali sih, masih di taraf kencang kok. Lanjut ke 3D Max. Antara single channel dan dual channel naik cukup signifikan cuman hasil stres tesnya aja yang turun. Bisa jadi karena dual channel itu naik performanya lumayan, jadi beban fannya jadi lebih berat. Kalau untuk main game enggak cocok walaupun udah di-upgrade dual channel. Padahal kalau di Infinix atau Polytron bisa dapat FPS yang dua kali lebih tinggi ya. Tapi kalau kita mau lihat dari kacamata perspektif yang positif, mungkin pemerintah memang enggak ngebolin kita main game. Jadi, fokus kerja aja biar kita bisa tetap pajak. Suhu pas main game yang enggak playable tadi juga lumayan tinggi dengan suhu tertingginya itu di 44,9 derajat Celcius. Tapi kalau untuk keyboard atau bagian WA SD aman di 33,9 derajat Celcius. Dosa lain, selain limitasi tadi baterainya juga pelit. Kapasitas dari Mugen Opir ini cuma di 3500 mAmz atau sekitar 39 wath laptop lain biasanya ya yang 2 juta atau 4 jutaan aja paling kecil kita dapat 43 wat hour. Ini 39 wat hour yang kalau kita tes di PCM dapatnya itu cuman 6 jam 10 menit dan kalau kita sampling kayak YouTube, writing, terus juga gaming, kalian bisa lihat chartnya di sini aja. Intinya baterainya lumayan boros. Jadi kesimpulannya apakah statement orang yang di trade tadi apakah performanya ini lebih rendah dibandingkan i3 genen 12? Jawabannya sih enggak sebenarnya karena terbukti juga banyak kok yang pakai FF Gen 12 tapi punya performa kayak gini. Cuma ya itu beberapa skenario itu agak kurang maksimal aja. Dari performa pindah kita coba tes di bagian layar. Kita udah tes pakai hasil kalibrasi kita dan hasilnya kayak menunjukkan kesederhanaan birokrasi kita. Enggak sih? Enggak separah itu kok. masih okelah ya dengan sRGB-nya itu di 63%, adob RGB 47, NTS 45%. Setidaknya panel yang dikasih itu IPS, jadi viewing angle-nya masih cukup oke. Walaupun sekali lagi kalau head to head sama Luxia IF jelas jauh ya, karena Luxia I5F itu di 100% sRGB. Tapi okelah, mari kita kembali ke realita target pasarnya. Kalau laptop ini buat pengadaan instansi Bapak Ibu PNS yang enggak [musik] butuh akurasi warna. Yang penting garis tabel Excel kelihatan, teks PDF bisa dibaca dan warna logo di kop surat dinas ggak berubah jadi pink. Untuk hasil kameranya kayak gini, agak burik dan nyendat-nyendat. Jadi kesimpulannya mending beli webcam eksternal aja. Pindah ke bawah di bagian keyboard harusnya sih kalian familiar dengan layout keyboard kayak gini [musik] ya. Karena ini sama persis kayak keyboard-nya Advance Olmade yang harga Rp2 jutaan. Fill entry level-nya jelas enggak ada backlit. tombol power masih jadi satu dengan keyboard dan peletakannya di ujung. Yang perlu saya puji sih layout keyboard ini satu baris navigasi pick up pick DOM-nya dan ini bakal bantu banget buat kerjaan kayak Excel atau Word. Touchpad sih dia kecil dan feel plastikinnya, feel murahnya kerasa banget. Fel laptop jutaannya kerasa banget. Mungkin modalnya memang R juta dijual Rp8 juta mungkin ya. Saya enggak mau suuzon ya. Dari tadi kita kritik ya okelah sekarang kita pujilah karena memang ada yang patut dipuji yaitu konektivitas atau portnya. Portnya ini lumayan asik lah, gak ada sama sekali port USB 2.0 yang jadul dan lelet. Nilai minusnya paling cuman ada di bagian DC-nya yang pakai jarum. Tapi tenang, USB type C-nya ini udah support sama power delivery sekaligus display port kok. Sisanya sih oke banget, bahkan sampai micr SD juga ada. Apa nih yang belum kita bahas? Mm mungkin speaker ya. Urusan ini jangan ngarap kualitasnya kayak Herman Cardon atau Dolby Atmos. Secara kualitas suara bassnya tipis, tribelnya juga agak nusuk. Jadi mending colok earphone aja atau beli speaker internal eh speaker eksternal yang Rp100.000-an. Terus untuk seri Windows-nya ini beda dengan seri consumer ya. Ini Windows 11 Pro Education. [musik] Sebenarnya dia sama persis kayak Windows Pro pada umumnya, cuman dia enggak ada bloodware. Jadi enggak ada tuh software-software macam MUV atau NON seperti di laptop consumer. Karena itu kan biasanya titipan sponsor ya. [musik] Kalau di HP itu biasanya ada aplikasi-aplikasi pinjol. Nah, itu biasanya titipan sponsor. Dan yang lucu lagi mereka ada software bawaan. Tapi software bawahnya itu cuman sekedar shortcut untuk matikan laptop atau shutdot. Jadi saya ini kadang heran apakah ibu-ibu atau bapak-bapak ASN ini benar-benar buta teknologi ya sampai tombol shutdown aja harus dibikin shortcut-nya. Padahal kan laptop sekarang itu kalau udah pakai SSD sebenarnya enggak usah di-shutdown, tinggal ditutup aja udah aman. Enggak kayak laptop dulu yang pakai hard. Kesimpulannya sama-sama proyek pemerintah. Bedanya dengan tragedi Chromebook yang R jutaan, laptop merah putih versi Muger ini sebenarnya masih masuk akal asalkan harganya juga masuk akal. Karena di luar sana masih banyak pengadaan yang harganya itu menurut saya mind blue banget. Kayak contohnya ada Mug Opir yang Core i7 harganya itu Rp22 juta dan udah laku 10 unit. malah yang murah kayak gini enggak laku sama sekali ya walaupun R juta gak bisa dibilang murah juga sih ya jujur aja kalau misalkan laptopnya ini ternyata enggak sesuai plan awal yang dibikin dari nol yang ujung-ujungnya juga beli dari Cina ya menurut saya sih lebih baik menggandeng Polron aja ya bukannya saya di-endorse Polytron tapi sama-sama harga segitu Polron Luxia itu sama-sama menyerap tenaga lokal sama-sama udah punya TKDN dan harganya enggak beda jauh dan mereka bisa kasih value yang lebih performanya lebih kencang layar 100% sRGB yang proper dan build quality solid dengan bobot di bawah 1 kilo. Tapi emang menurut saya kebijakan formalitas TKDN ini perlu dikaji ulang sih. Karena kan ya jujur aja saya pernah diundang ke pabriknya brand apapun lah. Karena TKDN itu sebenarnya yang dibikin cuman kabelnya, tasnya, kardusnya. Jadi enggak ada yang benar-benar komponen utama yang dibikin [musik] di Indonesia. Kalau nilai plus dari Mug ini ya ketersediaan slot RAM dan SSD buat upgrade plus jaminan garansi onside. Instansi itu enggak perlu datang ke service center ya. teknisinya yang bakal datang nyamperin ya. Iyalah ya kan udah bayar lunas pakai pajek kita di depan. Nilai minusnya karena banyak di pasaran harganya ini di katalog Rp8 juta. Sebenarnya dengan performa kayak gini ya enggak wored sih menurut saya. Kalau misalkan memang bisa mengesampingkan aturan TKDN karena juga banyak brand-brand consumer Polytron Advan Axio yang juga udah punya TKDN menurut saya bisa dialihkan ke sana lah budgetnya biar sekolah-sekolah itu punya laptop yang lebih baik. Nah, di Advance Polytron atau AU itu di R jutaan memang lebih mahal sejuta, tapi kita dapat layar yang udah olet, bobotnya ringan, plus ada ADP di tahun pertama dan garansinya itu 2 tahun. Tapi saya pengin tahu deh apakah ada orang instansi yang nonton ini? Karena kenapa? Spek yang sama harganya itu bisa lebih mahal. Saya and see you on the next video.

Lihat di YouTube