Jungkat

Laptop Murah 4jt-an Dipakai Gaming & Render?? Lenovo Ideapad 1 (YouTube Video)

  • 03/10/2025

Buat kalian kaum-kaum anti ODM yang banyak komplain perihal, gampang rusaklah quality controlnya, tidak dari brandnya lah atau dari brand ODM-nya. Atau mungkin kalian yang merasa barang-barang lokal itu setelah garansinya habis enggak ada sparep. Nah, sekarang kita akan kasih rekomendasi untuk kalian laptop internasional di kelas entry level yang punya hal spesial karena VRAM-nya atau Yuma buffer size-nya itu bisa dinaikkan atau kalian bisa atur sendiri mulai 512 sampai 2 gig. Yang pasti dengan seperti itu kalian bisa jauh lebih fleksibel untuk atur VRAMnya dan kalian bisa pakai juga untuk rendering, untuk desain-desain, untuk main game di kelasan harga R juta dan laptop apa itu? Yuk, sekarang kita bahas. [Musik] Jadi ini adalah Lenovo Idap 11 AMN7. Sebenarnya positioning laptop ini enggak dipakai untuk desain berat atau bahkan rendering. Karena spesifikasi yang di bawah dia pakai AMD Athlon Silver 7120 dengan dua core 2 trad dengan maksimal turbo boost-nya sampai 3,5 dengan L3 case-nya di 2 mega. Untuk graphic card-nya dia pasti integrated GPU dan apa yang bisa diharapkan dari laptop 4 jutaan karena enggak mungkin ada yang dedicated bahkan itu di laptop lokal. Untuk RAM-nya LP DDDR5 yang sayangnya dia solder dan tannya dia kencang banget. Speed-nya ada di 5500 me transfer per second dan dengan speed yang kencang juga ada imbas yang cukup signifikan di V RAM-nya. Untuk storage-nya 256 gig dengan NVMi Gen 3 dan speed-nya ada di 1756 untuk RID-nya dan pright-nya di 1600-an. Dan ada juga versi yang 512 GB. Jadi kalau kalian butuh storage lebih bisa ambil opsi yang lebih gede dan selisih harganya cuman Rp300.000. Untuk link pembelian atau harga detailnya nanti saya letakkan di kolom deskripsi. Dan entah yang 256 atau 512 itu semuanya sudah preinstall Office 2021 dan Windows 11 original. Hal ini yang membedakan dengan produk-produk lokal. Rata-rata produk lokal pilihannya mulai dari yang DOS sampai yang Windows 11. Yang include Office nyaris enggak ada sih sepertinya ya. Memang produk-produk lokal enggak bisa memenuhi minimum quantity yang diminta dari Microsoft. Jadi memang jarang banget ada laptop yang sudah preinstall Office 2021 atau bahkan di bawahnya yang 2019. Ya udah enggak usah berlama-lama, kita coba bahas performance-nya terlebih dahulu. Tapi perlu diingat ya, karena memang laptop ini laptop entry level, ekspektasi kita harus diturunkan. Kalian enggak akan bisa bermain game-game yang GPU bon banget seperti saya berbank di laptop ini. Tapi nanti kita akan coba untuk beberapa simulasi game. Dan seperti yang saya ngomong di awal bahwa VAM-nya bisa diatur mulai 512 sampai 2 gig. Dan cara gantinya itu gampang banget. Saat kondisi laptop kalian nyala tinggal di restart atau saat posisi laptop kalian mati tinggal pencet tombol power dan tekan-tekan terus tombol F2. Di situ kalian akan menemukan tab configuration dan terdapat Yuma buffer size-nya dan kalian bisa langsung ubah dari 512 ke 2 gig. Oke, sudah kita ubah dan kita mulai dari pengujian sintetisnya terlebih dahulu. Secara skor di atas kertas, Atlon 7120 ini kalah dibandingkan dengan Intel N100 dan 7120 di R15-nya dapat skor 220 untuk multior-nya dan single core-nya di 122 poin. Untuk R23-nya di 1446 dengan single core di 820 poin. Sedangkan untuk N100 yang pernah kita uji R15-nya kita dapat skor di 222 poin dengan single core di 99 poin. Sedangkan untuk R23-nya kita dapat skor di 1779 dengan single core di 726 poin. Kalau dilihat dari sisi multiore-nya memang N100 jauh lebih unggul, tapi dari sisi single core-nya Athlon 7120 lebih unggul. Dan ini akan berdampak besar saat kita main game-game kompetitif karena memang laptop integrated GPU kayak gini akan lebih cocok main game di kompetitif seperti Dota atau Valoran. Nah, dengan hasil sintetis seperti itu apakah bisa dipakai untuk render? Kita coba dari CapCut terlebih dahulu. Video vertikal 1 menit kat tanpa effect dan kita export 4K. Kita dapat lama waktu di 3 menit 14 detik. Ya, sebenarnya not bad lah ya untuk sebuah laptop under R jutaan tapi better di FHD. Nah, saat kita render dengan FHD dengan simulasi yang sama persis, kita dapat lama waktu 1 menit 8 detik. Artinya masih bisalah dipakai untuk render-render, tapi dengan resolusi yang tepat. Kalau dipakai render 3D ya walaupun kalian coba dengan Ryzen 3, Intel Celeron N100 itu enggak enak banget dipakai untuk rendering 3D dan terbukti juga di laptop ini. Pada pengujian kita di Blender dengan simulasi BMW, kita dapat lama waktu lebih dari 29 menit. Jangan dicoba deh. Lanjut ke pengujian GPU-nya menggunakan 3D Mark. Kita mulai dari stres-test terlebih dahulu. Dan surprisingly walaupun laptop ini enggak ada kipas sama sekali, dia lolos uji stresses dengan hasil 99% lebih. Ini membuktikan bahwa memang prosesornya bukan prosesor yang powerful, tapi tuningan si Lenovo cukup cakep untuk meng-handle performance dan juga suhunya. Untuk pengujian Spyay dan Firestrike kalian bisa lihat di scene ini. Nah, tadi kita udah bilang bahwa 7120 U single core performance lebih baik jika dibandingkan dengan N100. Dan kita akan uji-nya kita mulai dari game yang ringan terlebih dahulu. Kita mulai dari game Roblox. Ini game yang sering banget kalian request untuk laptop-laptop entry level. So far ini lancar banget, enggak ada kendala sama sekali. Kita pakai untuk naik-naik gunung juga aman. Dan memang FPS-nya enggak muncul. Kalian bisa lihat di scene ini lancar kok, gak ada kendala. Untuk game yang kedua, kita coba pakai Valoran. Dengan setting resolusi HD dan grafik low, kita masih dapat rata-rata di 38 fps dengan maksimal di 58 fps. Ya memang untuk scene-sene tertentu kita dapat di 16 fps ya. Tapi untuk rata-rata 38 masih bisa dimainkan lah. Untuk PES 2020 ini game yang juga sering kalian request juga untuk seri entry level dengan resolusi HD dan grafik low kita dapat rata-rata di 22 fps dengan maksimal di 35 fps. Tapi saya rasa kalau kalian main di PES 2017 dengan patch baru itu harusnya akan jauh lebih aman. At least dapat di atas 30 FPS itu sudah lebih dari cukup. Salah satu hal yang keren di laptop ini karena memang sekali lagi ya laptop ini bukan untuk dipakai desain render atau main game, lebih dipakai untuk kerja. Walaupun memang baterainya enggak gede-gede banget cuma di 42 wat hours, tapi pada pengujian kita di PC Mark 10 modern Office kita dapat lama waktu lebih dari 13 jam. Jadi ingat ya, modern Office itu representasi untuk pekerjaan kantoran. Jadi kalau kalian pakai untuk kerja berangkat pagi, pulang sore itu masih aman tanpa colokan. Performance sudah. Sekarang kita akan bahas mengenai desainnya. Ya, secara garis besar desainnya masih mirip-mirip seperti idap 1 atau adap 3. Bahan yang dipakai pun sama persis. Dia keseluruhan bahannya pakai bahan ABS atau polikarbonat ya, bahasa plastik gitulah ya. Tapi emang secara build quality dan feel-nya ini beda banget seperti produk-produk lokal. Terutama kalau kalian perhatiin produk lokal ya di bagian back cover-nya itu rata-rata memang tipis tapi ini jauh lebih solid. Kalian bisa dengarkan. Apalagi memang untuk bagian pampresnya itu sudah cukup solid, enggak ada problem sama sekali. Dan memang perlu diingat ini laptop di harga R jutaan. Untuk desain-desain lain masih sama, tidak ada perubahan. Untuk logonya dibuat simpel di bagian pojok kanan atas. Dan untuk warna-warna Lenovo biasanya dia kasih warna-warna yang netral. Tapi dengan warna-warna seperti ini walaupun ini seri entry level, kesan eleg-nya masih dapat. Nah, di sini yang selain virtual graphic memory-nya atau Yuma buffer size-nya tadi yang bisa diatur, salah satu selling point terkuat Lenovo itu ada di bagian keyboard-nya. Kalau ngomongin keyboard Lenovo itu mungkin di setiap segmen harganya dia selalu punya keyboard yang di atas rata-rata jika dibandingkan dengan brand-brand lain. Feel-nya khas banget, size per key-nya juga pas. Lalu setiap key-nya dibuat agak melengkung yang buat tangan kita atau saat kita nyentuh itu kerasa pas aja. Nah, kalau kalian biasa nyobain keyboard-nya Lenovo, lalu kalian bandingkan dengan keyboard di laptop lain dengan harga yang sama, itu feelnya pasti beda banget. Saat kalian ganti itu rasanya kayak ada yang aneh aja gitu. Cuman memang di harga segini dia belum dikasih backlit ya. Tapi memang kenyamanan keyboard itu cukup krusial ya. Memang keyboard itu salah satu komponen yang benar-benar paling sering kita sentuh dan paling sering kita gunakan. Jadi memang itu untuk sebuah laptop entry level itu jadi hal yang benar-benar harus diperhatikan. Untuk touchpad-nya sendiri memang nothing spesial ya, enggak ada komplainan juga dan build quality-nya mirip-mirip seperti bagian body yang lainnya. Dia pakai plastik atau pakai bahan ABS. Tapi at least semua gesture Windows-nya itu bisa berjalan dengan baik. Sekarang kita akan masuk ke pembahasan layarnya. Ini jadi hal yang paling dikompromi oleh Lenovo untuk sebuah laptop di harga R jutaan. Untuk layarnya kita cuma dapat HDTN dengan color gamut yang enggak bisa dibilang oke ya. Memang masih bisa dimaklumi untuk harganya. Pada pengujian kita menggunakan Kalman sRGB-nya hanya di 54%, adob RGB-nya di 43%, P3-nya di 46% dan NTSC-nya ada di 47%. Dan brightness-nya Lenovo Clim ada di 200 nit. Ini Lenovo kasih 47 nits lebih cerah yaitu di 247 nits. Nah, untuk kameranya seperti ini, Guys. Walaupun ini di studio dengan pencahayaan yang cukup oke, tapi cukup banyak noise kalau kalian perhatikan. Dan kalau kalian memang butuh untuk meeting online atau mungkin lagi kalian mimpin gitu ya di meeting, kalian mending beli webcam eksternal deh. Karena webcam sekarang di harga sekitar R00 R00.000 itu udah cakep banget, udah dapat 4K. Untuk resolusinya maksimal cuma di 720p 30 fps ya. Sekali lagi masih normal lah. Ini entry level juga. Pindah ke bagian portnya sebenarnya cukup lengkap cuman minus di LAN port doang. Mulai dari dua buah USB type E masing-masing ada 2.0 dan satu lagi 3.2 gen one yang speed-nya sampai 5 GB/s. SDMI jelas ada. Lalu ada USB type C, 3.2 gen combo check audio. Serta enggak ketinggalan ada card reader juga. Jarang-jarang loh ada brand yang masih nyematkan card reader. Ini bukan yang micro SD reader ya. Jadi yang card reader gede. Jadi intinya Lenovo ID 1 ini bukan laptop yang dipakai untuk kerja kelas berat seperti editing atau main game triple A. Tapi untuk sebuah laptop entry level dipakai kerja kantoran, editing ringan sampai nge-game kompetitif tipis-tipis masih bisa banget. Apalagi VAMnya bisa diatur dan baterainya awet sampai belasan jam. Dan yang pasti keyboard-nya ini enak banget walaupun tanpa backlit. Emang sih masih ada hal yang dikompromi. Salah satunya layar yang enggak cakep-cakep banget. Resolusinya cuman HDTN. Tapi sekali lagi apa yang bisa diharapkan di laptop under R jutaan. Tapi dibandingkan dengan produk lokal dia sudah dapat Windows dan Microsoft Office original. Plus desainnya walaupun ini seri entry level masih tetap kelihatan elegan. Jadi laptop ini di harga R jutaan atau under R jutaan menurut saya masih cukup worth it. Gimana pendapat kalian? Atau ada laptop yang lebih baik? Kalian bisa tuliskan di kolom komentar. Oke, cukup sekian video kita kali ini. Saya Rico. See you on the next video.

Lihat di YouTube