Laptop ODM yang Susah Dilawan ! Review Axioo Pongo 535 (YouTube Video)
Laptop ini baru dirilis tahun 2026, tapi prosesornya lahir di tahun 2023. GPU-nya lahir di 2021 dan bodinya pakai platform ODM. Jadi, apakah ini laptop refurbish? Kalau soal performa, Valorant masih tembus rata-rata 236 FPS, Cyberpunk juga masih playable di 52 FPS, editing juga masih sanggup dan yang bikin menarik, Axioo berani ngasih jaminan ADP selama 3 tahun. Jadi, mau rusak karena apapun, human error, kebanting, konslet atau apapun, Axioo tetap cover. Nah, pertanyaannya, jadi sekarang laptop ini bukan dia kencang atau enggak, tapi apakah laptop ini pakai prosesor lama, GPU lama masih masuk akal performanya di 2026, terutama harganya ya. Dan tenang, soal ODM dan juga refurbish, nanti kita bakal lurusin karena sekarang itu kayak campur aduk ya, kayak ODM itu pasti refurbish, refurbish adalah ODM. Karena sebenarnya itu dua hal yang berbeda. Hai Andika, Guys di sini. Kenalin, ini adalah Axioo Pongo 535, laptop gaming dari Axioo yang akhirnya bawa prosesor Core i5 di keluarga Pongo. Karena selama ini Pongo ini lebih dikenal pakainya i7 dan i9 sebelum Ramageddon menyerang, tapi setelah menyerang, Axioo mencoba opsi biar Pongonya itu tetap terjangkau pakai Core i5. Tapi dia tetap mempertahankan DNA Pongo kayak performanya masih mumpuni, gampang di-upgrade dan garansinya panjang. Dan harganya nanti bakalan ada di 15 jutaan. Jadi, pertanyaan lain, apakah 15 jutaan ini bakalan worth it untuk dibeli? Sebelum kita masuk ke desain, pasti nanti bakalan ada komentar, "Wah, ini laptop ODM refurbish." Bahkan sebelum kalian tonton videonya sampai habis. Bahkan ketika thumbnail Axioo itu nanti ada, bakalan ada tuh komen kayak gitu. Jawabannya enggak ya. ODM dan refurbish itu adalah dua hal yang berbeda. Sederhananya ODM itu ya cara produksi ya atau bisnis model lah. Jadi ada pabrik yang memang bikin rangkanya, bikin barebone-nya. Terus platform itu tadi dipakai atau disesuaikan oleh merek lain untuk dijual dengan nama mereka. Makanya kadang di brand-brand ODM lokal kita nemuin desain-desain yang mirip cuman penempatan logo aja yang beda. Tapi itu bukan otomatis barang refurbish ya. Karena ibaratnya kalau kalian buka warung terus kalian beli di pabrik mangkok yang sama bukan berarti mangkok yang kalian makan itu adalah mangkok bekas atau refurbish. Hanya karena beberapa produk ODM kayak powerbank, charger memang kebanyakan ODM refurbish bukan berarti laptop itu juga jadi ikut-ikutan refurbish. Yang dinilai itu bukan dari rangkanya terus barebone-nya tapi juga soal quality control-nya, terus dia TKDN-nya gimana, terus tanggung jawab dari brand setelah dia resmi ngejual itu kayak gimana juga. Dan si Pongo 535 atau semua Axioo itu memang melakukan pendekatan bisnis [musik] ODM tapi unit ini dijual baru. Pongo ngasih garansi selama 3 tahun dan untuk pembelian serta aktivasi mulai 23 Juni 2026 ada ekstra ADP sampai 3 [musik] tahun juga. Yang artinya accidental damage protection. Mau human error, konslet, kebakar atau apapun enggak ada alasan Axioo bakal cover. Tapi kalau ditanya apakah garansi panjang ADP itu udah jadi bukti forensik untuk laptop enggak dikatain ODM refurbish sebenarnya enggak juga. Tapi tanggung [musik] jawab Axioo itu yang patut diapresiasi karena 3 tahun ADP brand lokal itu termasuk lama juga. Sekarang kita masuk ke bagian desain. Kalau kalian lihat mungkin ada beberapa brand model yang mirip kayak gini ya karena memang pabriknya sama. ODM. Dan desainnya itu yang gaming low profile lah. Warnanya hitam, bentuknya itu tegas, ventilasinya terlihat gede. Tapi enggak dipenuhi ornamen aneh-aneh. Jadi kalau misalkan dibawa meeting, itu masih enggak dia teriak-teriak, "Wih, ini laptop [musik] gaming." Enggak teriak-teriak kayak gitu. Jadi masih style, masih cocoklah kalau dibuat kerja. Tapi sayangnya karena dia laptop gaming, jadi laptop ini kalau misalkan kalian pakai untuk kerja, untuk mobile, ya lumayan berat ya karena bobotnya itu ada di 1,99 kg, belum termasuk charger yang ukurannya sudah punya aura-aura paving gitu ya, yang batu gede. Bodinya dan materialnya mayoritas sih pakai plastik polycarbonate, enggak kerasa ada aluminium-aluminiumnya. Tapi area keyboard sih masih aman dan untuk engselnya apakah dia bisa dibuka dengan satu tangan? Wih, bisa loh ya. [musik] Kalau masalah wobel sih masih ada. Keyboard-nya full size lengkap dengan numpad, saya enggak ada komplain, tactile-nya sih masih nyaman. Jadi buat kalian yang mungkin suka tabulasi data juga masih aman. Terus dia juga punya backlight yang sudah RGB, [musik] warnanya bisa diatur per zona, tapi ya bukan per key. Touchpad-nya juga sudah luas, responsif, kliknya ringan, tapi memang feel plastiknya di touchpad masih cukup kerasa. Soal port, ini salah satu kelebihannya, port-nya tersebar di sisi kiri, kanan dan belakang. Jadi kabel enggak numpuk di satu tempat. Ada USB A, USB C, HDMI, mini display port, LAN, audio, bahkan port mic terpisah pun juga masih ada. Yang enggak kalah, dia ini walaupun dia prosesor lama, tapi Axioo tetap ngasih port yang support sama Thunderbolt. Nah, sekarang kita masuk ke bagian layarnya. Karena ini dia pendekatannya memang untuk gaming, ya kalau untuk gaming sih enggak ada masalah ya karena dia dimensinya 15,6 inch dengan resolusinya full HD, panel IPS, refresh rate-nya 144 Hz. Jadi kalau kalian main game kompetitif kayak Valorant, Dota, atau game FPS-nya tinggi, memang kerasa enak di panel ini. Tapi dulu Axioo bahkan di harga 6 jutanya aja, sRGB-nya itu bisa dapat 100%, tapi sekarang di 2026 ketika komponen mahal, Axioo enggak bisa kasih itu ya. Karena pas kita tes untuk color akurasinya, sRGB-nya itu cuma di 53,1%. Ya, bahasa sederhananya warna yang ditampilin layar ini enggak seluas layar yang memang dibuat untuk pekerjaan visual. Jadi, efeknya beberapa warna itu terlihat pucat, ya enggak natural, enggak terlihat kayak aslinya lah. Untuk brightness di tes kita dia dapat di 319 nits. Kalau di dalam ruangan sih cukup, dekat jendela masih bisa, tapi kalau kalian pakai outdoor siang hari banget yang terik banget, wah itu lumayan sih harus gini-gini di layar, ya. Lanjut untuk spesifikasinya. Jadi, si Pongo 535 ini pakai Intel Core i5 yang masih seri H walaupun dia generasi lama high performance. Jadi, dia pakai Intel Core i5 13420H, GPU-nya pakai RTX 3050 dengan VRAM 4 GB, RAM-nya 16 GB dual channel DDR4 dan SSD NVMe 512 GB. Kalau dari dapur pacunya ini memang bukan kombinasi yang paling baru, ya. Tapi, setidaknya dengan harga 15 jutaan konfigurasinya ini kalau dibuat main game triple A masih cukup nyamanlah. Karena kalau dipaksain pakai RTX 40 atau RTX 50 series harganya bisa tembus 20 juta ke atas. Nah, sekarang pertanyaannya performanya gimana dengan prosesor yang 2023, GPU-nya 2011, apakah masih layak digunakan di 2026? Nah, kita coba speed SSD-nya dulu, ya. Speed SSD-nya itu pas kita tes read-nya itu dapat di 6300 Mbps, write-nya di 4300 Mbps. Jadi, masih oke. Kalau kalian buka aplikasi Windows-nya itu terasa responsif, cepat kebuka, dan pindah-pindah file gede itu enggak lelet. Cinebench R23 kalau kita pakai adapter atau sekrup yang retak kanan dengan mode dicolok, Cinebench R23-nya multi core-nya dapat di 11 ribuan. Kalau adapternya di kita cabut, dia ada penurunan performa, ya tipikal prosesor seri H generasi lama. Dengan turunnya itu di kisaran 6100-an. Ya, artinya laptop ini bisa diajak kerja tanpa charger, tapi tenaganya baru keluar semua ketika pakai charger. Jadi, kalau digunain untuk editing dan rendering, gaming saran saya ya pakai charger-nya. Pengujian kita pun ini kita colok pakai charger dengan skenario rata kanan Windows-nya di best performance. Untuk editing di Adobe Premiere Pro dengan template yang memang biasa kita pakai, dia selesai di export full LCD itu di 1 menit 16 detik. Kalau di 4K selesainya 1 menit 58 detik ya, selisih dikit. Kalau di Blender dengan CPU render selesainya 3 menit 23 detik, sementara pakai GPU cuma 49 detik. Jadi RTX 3050 itu ternyata juga masih kencang ya di 2026. Nah, sekarang kita coba sesuai kodratnya, gaming. Di Valorant setting high full HD rata-ratanya di 236 FPS dengan angka tertinggi itu 308 FPS. Ya, ini sudah lebih dari cukuplah ya untuk memanfaatkan layarnya yang 144 Hz. Dota 2 di kualitas rata kanan rata-rata dapat 93 FPS. Nah, Wuthering Waves di mode quality rata-rata dapat di 58 FPS. Jadi untuk game e-sport dan game online populer, laptop ini masih playable dan sangat nyaman dimainkan. Cyberpunk dengan preset ultra tapi DLSS performance-nya nyala, rata-rata dapatnya di 52 FPS. Tapi kalau tanpa DLSS turun ke 35 FPS. Jadi performa mentahnya itu masih dapat di atas 30, masih oke juga. Di 3DMark pas kita stress test dia dapat di 98,1% selama pengujian berat GPU-nya bisa berjalan sampai sekitar 75 watt dan performanya relatif stabil ya. Suhu GPU-nya itu berada di kisaran 82 sampai 83 derajat Celsius pas full load. Dan untuk suhu permukaannya pas kita tes pakai flir, titik permukaan tertinggi itu di 52,6 [musik] derajat di atas keyboard. Sementara area keyboard dan juga WASD yang sering bakalan kita pakai itu di 37,1 derajat Celsius. Yang artinya memang di dekat exhaust itu panas, wajar laptop hampir semuanya kayak gitu. Tapi di area keyboard yang bakalan sering kita mainin itu masih di bawah 40. Anggap saja enggak. Tapi performa kencang ini sama Axioo komprominya ada di baterai juga ya. Baterainya itu secara kapasitas enggak gede, ada di 54 watt hour. Nah, memang kayaknya pungu ini disegmentasikan untuk orang yang dekat colokan ya. Karena pas kita tes di PCMark, dia cuman dapat di 3 jam 24 menit dan pengujian YouTube 10 menit itu menghabiskan 8% Office 10 menit 8% gaming 10 menit habis 13%. Jadi kalau kalian nge-game tanpa charger di laptop ini, paling cuma sekitar 1 jam setengah sampai 2 jam udah habis lah. Tapi ya itu tadi ya, karena ini laptop gaming yang dia dicolok itu bakal keluar performa aslinya. Jadi memang mau enggak mau harus dekat colokan. Kalau untuk kameranya, kira-kira kualitasnya seperti ini. Jadi kayak kamera keluaran 2021 gitu ya. Jadi saran saya sih kalau misalkan kalian punya budget, beli aja webcam eksternal ya. Karena kalau pakai ini kalau kalian peserta di Zoom sih oke sih ya. Tapi kalau kalian adalah pembicara, pakai webcam ini, ya kelas kalian paling dijualnya cuman 5.000 perak lah. 100.000 enggak ngangkat nih kalau pakai webcam yang kualitas kayak gini. Nah, satu hal lagi yang perlu saya bahas di laptop ini yang menarik ya itu tadi ya, ADP atau Accidental Damage Protection. [musik] Mungkin yang belum tahu apa ini ADP. Sebenarnya di laptop multinasional juga udah ada ya ADP. Pasti harusnya kalian sih lebih sering dengar lah. Dan ADP-nya Axioo ini garansinya 3 tahun plus Axioo ADP ekstra 3 tahun juga. Jadi semisal laptopnya jadi korban kecelakaan kayak pecah, retak, itu bakal bisa diklaim. Tapi tetap ada syarat dan ketentuan berlaku ya. Dan benefit tambahan yang menurut saya juga patut diapresiasi dari Axioo itu ada benefit tambahan jasa ganti pasta, cleaning laptop sampai upgrade laptopnya itu gratis, enggak ada biaya lagi. Yang kalau misalkan kalian ke toko laptop, wah ganti pasta, upgrade laptop, itu biasanya minimal 150.000 lah. Di Axioo dan seri Pongonya itu free di Axioo Care Platinum-nya. Spare part-nya juga dijamin ketersediaannya sama Axioo. Karena kalau misalkan laptop ODM lain ya, mungkin yang belum kalian kenal, ya mungkin dia terjangkau tapi ketika rusak spare part-nya inden-nya bisa 1 tahun, wah itu sih berat sih. Okelah, jadi mungkin cukup segitu aja video review dari Axioo Pongo 535. Nah, sekarang balik ke pertanyaan Axioo ini dengan harga 15 juta, dia ini nanggung atau worth it untuk dibeli? Nah, untuk ngejawab pertanyaan itu ya laptopnya ini menurut saya bagus untuk kebutuhan yang pas gitu ya. Bagusnya jelas kayak performa e-sport masih kencang, editing full HD nyaman, port-nya lengkap, RAM dan storage gampang [musik] di-upgrade, keyboard-nya enak dan garansi 3 tahun plus ADP 3 tahun juga. Kayak ngasih rasa aman gitulah, karena kan dia darderdor di framing laptop refurbish ya. Jadi Axioo menurut saya patut diapresiasi tanggung jawabnya untuk ngasih ADP ini. Tapi dengan harga 15 juta memang kita enggak bisa komparasikan dengan laptop keluaran tahun lalu dengan kondisi sekarang ya komprominya lumayan. Kayak contohnya GPU-nya keluaran 2011 dengan [musik] RTX 3050 ketinggalan 2 generasi dengan GPU versi baru sekarang. Terus layarnya juga masih 53% sRGB, bodinya berat, baterainya enggak awet cuman 3 jam aja PC Mark. Dan RTX 3050 VRAM 4 GB ini ya kalau misalkan game-game baru settingannya itu harus diturunin, karena kalau misalkan game baru yang butuh VRAM gede, wah dia mulai ngos-ngosan. Cuman menurut saya saran buat Axioo ini pricing-nya terlalu dekat sih ya. Karena pas video ini dibuat pas saya lihat Pongo 535 yang versi 4050 itu harganya di 16,9 juta. Sementara Pongo ini kan 15,1 jutaan lah ya tergantung promo. Jadi selisihnya cuman sekitar 1 sampai 2 juta. Jujur kalau saya pribadi ya saya lebih nabung dikit untuk dapat RTX 4050. Tapi apakah dengan keluarnya ini nanti RTX 4050-nya naik? Kita enggak tahu ya, karena harga laptop itu sekarang fluktuatif banget. Bukan fluktuatif sih, lebih ke naik-naik-naik-naik gitu. Kalau fluktuatif kan turun-naik, ini naik-naik-naik-naik. Tapi kalau budget kalian memang ngepres enggak bisa nambah lagi sekitar 1 sampai 2 juta, ya si Pongo 535 ini masih jadi laptop salah satu laptop ODM. Dan dibandingkan dengan brand multinasional pun secara konfigurasi dia masih yang terbaiklah. Link pembeliannya di pojok kiri atau di deskripsi. Saya Nikistabudi and see you on the next video. Bye bye.
