Laptop PONGO Ryzen Pertama! - Pongo 755 AMD (YouTube Video)
Gak kerasa ini udah tahun ketiga bersama Pongo, merek gaming milik Axio. So far lineup-nya udah cukup meriah ya. Misal ada Pongo Studio yang orientasinya buat creator dan editor profesional, PU buat yang butuh laptop gaming high end pengganti PC sampai ada PU Nexus yang berwujud AIO PC [musik] yang mampu nampung graphics card PC. Tapi faktanya baru minggu ini kami menyambut Pongo dengan prosesor [musik] AMD. Axio Pomo 755 adalah seri yang menandakan laptop gaming 16 inch dengan GPU RTX 5050. Sebelumnya ada Polo 755 V1 dan V2 yang pakai prosesor Intel generasi 13. Namun ya sesuai nama POMO 755 AMD pakainya AMD Ryzen 755 dan secara MSRP lebih murah sekitar R juta dibanding versi tim biru. Laptop ini keluar bareng Pomo 765 MD yang pakai RTX 5060. [musik] Nah, dibanding Pomo 760 series yang sebelumnya udah kami review, apa aja yang improve dan menarik dari seri Pongo 755? Well, ini seri Pongo mainstream pertama yang pakai layar 16 inch rasio 16 bing 10. Alhasil basel bawah jadi agak tipis tapi angsel tetap di atas body jadi gak mengganggu ventilasi dan percolokan sama sekali. Webcam juga udah full HD [musik] pula. Namun ditanya konstruksi dan keyboard ini masih sama-sama standar isu PO-Po seri 7 lainnya yaitu konstruksi full polimer polos hitem kecuali bagian punggung aluminium. Dilengkapi keyboard RGB full size 1 zona tiga tingkat. Anehnya enggak ada lampu indikator caps lock dan 6 lock diganti sebatas notifikasi di layar. di mana di tengah kenaikan harga komponen banyak pabrikan yang mangka spek layar. Axio ngasih layar IPS terang yang memuaskan kaum gamer mainstream maupun kaum editor. Resolusi Full HD 16 b 165 Hz dengan coverage game mode sRGB sempurna not bad untuk dijadikan monitor utama sehari-hari. [musik] Rasio layar ini generally juga bikin lebih enak dipakai kerja dibanding layar 16 b 9 bawaan Pongo 760 series. Susunan port Power 755 terdiri dari 1 USB 3.2 gen 2 dan 1 USBC 3.2 gen2 support display port di kanan. Jadi bisa colok monitor walau belum bisa ngecas. Lalu di belakang ada land port, charging port, HDMI 2.1 dan mini DP biar meja rapi, nyolok monitor dan power di belakang. Lalu di kiri masih ada lagi dua port USBA, satunya 3.2 gen one, satunya 2.0 dan combo audio jack. Oke, selanjutnya mari kita terang-terangan aja bahwa pada dasarnya AMD Ryzen 7 255 itu identik dengan Ryzen 7 8745H. Punya 8 core Zen 4 ditemani IGPU radion 780 m tanpa NPU. Tetapi yang tentu lebih penting buat gaming adalah sang GeForce RTX 5050 115 watt 8 gig. more or less bersaing sama RTX 4060 di segi performa dengan efisiensi lebih oke, support di LSS 4.5 plus frame generation terbaru. Nah, kenaikan harga dibanding PU 760 series, pemicu utamanya adalah kenaikan harga RAM dan SSD ya. Terlebih yang kepasang di sini itu udah DDR5 dual channel 16 gig, lalu ada SSD NVMI 512 gig kencang plus ada satu lagi slot yang siap ditambahin SSD nomor 2. Performa khas laptop gaming Zen4 bisa kita temukan di benchmark CPU. Skor boleh kalah dibanding Raptor Lake HX, tetapi ini efisiensi daya tinggi tetap bisa performing Core i5 dan Core i7 Raptor Lake seri H di max power kisaran 70 watt aja. Dalam kata lain, prosesor 8 core gini masih cespleng banget lah buat ngonten, kerja dan main game-game keluaran baru. Toh tadi kita udah bahas bahwa layarnya bagus dan warnanya akurat. Jadi silakan-silakan aja buat yang mau jadiin Pongo 755 sebagai workstation editing visual. RTX 5050 di sini dayanya gak kaleng-kaleng, dimentokin ke 115 watt dan coolingnya cukup buat sustain full load saat main game. Sure, ini belum kuat buat maksimal kemampuan fast tracing atau main sejumlah game triple A brat secara benar-benar rata kanan. Tapi buat gaming di layar full HD bahkan key di banyak game ini lancar-lancar aja terutama saat dibantu di LSS dan frame generation. Misal di cyberpunk rata kanan actually masih bisa maksimalin sang layar 165 Hz jika nyalain frame generation 4 kali. Di Enfield enggak perlu sampai 4 kali, dua kali aja cukup. Multifame generation yang optimal inilah yang harusnya bisa jadi pertimbangan buat kalian yang mau upgrade dari let's say 3050 atau 3060 yang masih stuck di V RAM 6 gig. Cooling jujur aja agak overbuild buat sebatas RTX 5050 atau 5060 dan CPU non HX. Ini dua kipas gede, 4 heats di body tebal tampaknya mampu ngedinginin combo Intel Core Ultra Plus RTX 5070 sekalipun. Ditambah kipas yang autonya juga dermawan ya, dalam kata lain bisa muter di 5000 rpm saat gaming normal. Laptop ini jelas adem luar dalam. Dijamin enggak ada keluhan meski kalian planin fans speed-nya secara manual biar lebih senyap. Berhubung tadi kita sudah jelasin singkat soal keyboard, sisanya cukup standar. Kualitas speaker stereo agak improve. Suara makin kencang dan jernih. Terus selama Switch dimatiin, kita bisa dapat daya tahan baterai sekitaran 5 jam playpack YouTube. Kabar baik lagi karena ini hardware-nya efisien, jadi hanya butuh adaptor 180 watt yang relatif kompact dan ringan. Andai support ngechas via USBC, wah bakal lebih fleksibel. Oke, percobaan pertama Pongo dengan jantung AMD bisa dibilang cukup sukses ya bareng Pongo 705 yang pakai RTX 5060. Tinggal kita tunggu aja varian laptop AMD yang lebih high end. Misal combo Ryzen 9 Plus RTX 570 Ti gitu. Tapi ya selama harga memori masih mahal, harga 19 sampai 21 jutaan ini bisa dibilang batas maksimal rata-rata spending power orang Indonesia yang lagi nyari laptop gaming dengan catatan udah garansi resmi 3 tahun plus 1 tahun ADP Axio. Kalau kalian udah punya Pongo 760 series ya jelas enggak urgen upgrade ke Pongo 755 AMD. Tapi peningkatan di sisi display, cooling, dan RAM di DR5 sangatlah welcome buat yang mau upgrade dari laptop berisi RTX 3050, 3060 dan lain-lain yang masih stuck di V RAM 6 gig. Terus mau menikmati segala teknologi di LSS dan frame generation terbaru secara seless. Sekian dulu dari kami. Saatnya kalian yang mendang-mending, please like dan share. Gue Mike. Sampai jumpa di next video
