Jungkat

Laptop Premium & Mewah yg Kencang Buat Cari Duit: Review HP OmniBook Ultra Flip 14-fh0888TU (YouTube Video)

  • 30/07/2025

Eh, setuju enggak? Laptop tipis kelas atas itu harusnya bisa jadi kuda beban buat kita kerja sehari-hari supaya bisa cari cuan. Contohnya laptop dari HP ini mau dipakai editing video bisa, mau dipakai desain 3 sederap bisa juga, mau dipakai gambar enggak ada masalah, mau dipakai kerja dengan AI pastinya harus bisa juga, bahkan bisa dipakai buat main game triple A dengan lancar seperti Black Mid Wukong yang ini. Nah, untuk prosesornya pastinya ini udah kekinian ya, karena pakai Intel Core Ultra 200 V series yang punya NPU di atas 40 tops, punya sertifikasi Evo juga. Jadi performanya tetap kencang saat pakai charger atau enggak pakai charger. Baterainya irit dan fiturnya kekinian. RAM langsung 32 gig, jadi kapasnya udah lega banget buat kerja yang berat-berat. Layar pun istimewa. Panel OLED 2,8K 120 Hz dan bisa touch screen juga ini. Tenang, stylus pennya ada di sini. Dia juga punya ketotb 4, WiFi 7 dan kameranya 9 megapel. Laptop ini adalah HP Omnibook Ultraf Flip 14 ya. HP Omnibook Ultra Flip 14. Nah, laptop HP ini bisa dibilang penerus dari Spctter X360. Sepertinya HP tidak menggunakan lagi nama spekter untuk laptop tipis kelas atasnya dan ganti sekarang namanya jadi Omni. Nah, bedanya apa? Kita akan bahas dan kita mulai dari spesifikasinya. Untuk prosesornya pakai Intel Core Ultra 7258V. Fabrikasinya TSMC N3B. Base power 17 watt. Dia punya 8 core 8 trade yang terdiri dari 4 performance core dan 4 low power efficient core. Intel smart cash-nya 12 MB. Untuk integrated graphis dia pakai Intel Arc Graphics 140V dengan 8X Corse. Selain sudah support kemampuan encode dan decode video AV1, IGP ini juga sudah support decode video H266 ya, bukan 265 lagi 266 di sini ya. Tentunya IGP ini juga sudah support fitur rate racing dan Intel XCS2 dengan frame generation-nya. Nah, untuk NPU dia pakai Intel AIBost dengan kemampuan komputasi hingga 47 tops. Jadi tentunya laptop ini sudah mampu menjalankan fitur-fitur copilot plus PC seperti recall, cereator atau live caption. Nah, untuk memori atau RAM-nya dia pakai 32 GB LPDDR 5X853 MHz dual channel 128 bit. Tentunya ini cip memorinya udah nempel di dalam Intel Core Ultra Series 2 ya. Ini pun menyatu di prosessor jadi emang enggak bisa di-upgrade. Untuk storage 1 TB SSD MD.2 NVME PCI Gen 4x4 wireless connectivity. Dia pakai modul Intel yang support Wii 7 GB Wii dan Bluetooth-nya udah versi 5.4. Kekinian dan future proof. Kapasitas baterainya ada di 64 wat hour dan OS-nya pakai Windows 11 24 H2. Nah, untuk bodinya ini adalah laptop convertible 2 inone. Jadi dia bisa berubah jadi tablet dengan memutar layarnya 360 derajat. Selain itu dia juga bisa digunakan di mode tenda atau tent mode dan juga mode stand seperti ini. Untuk materialnya ini aluminium ya. Pilihan warnanya itu ada dua, ada atmospheric blue ini yang kita uji dan ada eclipse grey. Nah, untuk desain DNA dari seri Spekter tetap dipertahankan di Omnibook Ultra ini. Jadi penampilannya mewah dan tampak profesional. Bahkan corner cut di sudut body dekat engsel layar itu masih dipertahankan juga di Omnibook Ultra ini. Secara keseluruhan bentuk laptop ini terasa premium sekali. Nah, untuk dimensinya panjang 31,3 cm, lebar 21,6 cm, dan ketebalan di 1,49 cm. Bobotnya laptopnya aja di 1,31 kg. Ini tergolong ringan ya untuk laptop convertibel tentunya dengan yang layar ukurannya 14 inci. Bahkan ini lebih ringan dibandingkan laptop Spectter X360 yang sebelumnya yang di kisaran 1,4 kg. Nah, untuk chargernya bobotnya ada di 205 gr. Ini adalah charger 65 watt dengan konektor USB type C. Yang satu ini pakai kabel braided ya, jadi enggak mudah kusut dan harusnya lebih tangguh aja. Tapi sayangnya charger yang disertakan ini punya desain dua bagian dengan kabel yang tebal. Jadi rasanya agak kurang praktis kalau mau dibawa-bawa. Padahal laptopnya udah kecil, tipis, dan ringan. Tapi tenang, kita bisa dengan mudah mengganti charger bawahnya dengan gun charger yang lebih kecil dan praktis dibawa-bawa kalau emang kalian membutuhkannya. Nah, total bobotnya kalau dibawa-bawa dengan charger bawaan adalah 1,52 kg. Untuk layar ini adalah layar berukuran 14 inci. Resolusinya 2,8K atau tepatnya 2.880* 1800 piksel. Aspek rasio 16 bres rate-nya 120 Hz dengan respon time di 0,2 ms. Jadi rasanya seperti layar laptop gaming ya. Layarnya juga ada support variable refresh rate dengan rentang 48 sampai 120 Hz. Panelnya tentunya panel OLED dan menurut HP tingkat kecerahan maksimumnya ada di 400 nitz. Nah, kalau kami ukur kita dapat 368 nits di mode SDR dan 600 nits di mode HDR. Sementara untuk gamut coverage dan volume hasilnya seperti ini ya. Dengan hasil seperti ini, kita bisa menggunakan layar laptop ini untuk editing ataupun desain kelas profesional yang membutuhkan akurasi warna yang tinggi. Nam dipakai untuk streaming video HDR ini juga mantap. Layar laptop ini tentunya juga punya kemampuan touch screen ya. Jadi kita bisa dengan mudah melakukan scrolling halaman website atau dokumen serta membesar atau mengecilkan gambar hanya dengan jari saja ya. Nah, selain mengoperasikan dengan sentuhan jari, kita juga bisa pakai stylus pen yang disertakan dalam paket penjualan. Ya, di sini ada stylus pen di dalam kotak kemasan laptop ini. Jadi, enggak perlu beli-beli lagi. Nah, stylus ini sudah support 4096 pressure level dan support protokol MPP 2.0. Menariknya disediakan juga dua pen tip cadangan untuk stylus pen ini. Jadi kalau sering-sering dipakai terus mungkin terkikis stylus pennya, tenang, gantinya ada ya. Nah, untuk suplly daya stylus pan ini menggunakan baterai isi ulang yang dapat dicas melalui konektor USB type C. Jadi lebih praktis saja. Kita bisa memunculkan konektor USB-nya seperti ini nih, ya. Nah, baterai stalus pan ini diklaim penyedataan hingga 60 jam saat digunakan dari kondisi penuh. Kembali ke layarnya. Nah, untuk permukaan layar ini sifatnya adalah glossy yang memang wajar untuk sebuah layar touchsreen. Materialnya ini pakai Corning Gorilla Glass 5. Jadi aman dari goresan saat kita pakai jari mungkin ada kukunya gitu ya atau pakai stylus pan yang tadi. Permukaan seperti ini memang akan memantulkan sedikit bayangan. Akan tetapi perpaduan permukaan glossy dan panel olet seperti ini justru akan menampilkan warna yang sangat cemerlang. Nah, untuk bingkai layarnya sudah menggunakan desain tipis di keempat sisinya dengan tingkat screen to body rasio bisa mencapai 90%. Nah, laptop 2 inone ini dilengkapi dengan kamera infrared 9,2 megapel dengan kemampuan mengambil gambar hingga resolusi 2400p dengan aspek rasio 16 b. Sementara untuk kemampuan perekaman videonya ini mencapai resolusi 1440p 30 fps dengan aspek rasio tentunya 16 b 9. Laptop ini juga dilengkapi dengan dua buah mikrofon dengan posisi di pinggir samping bingkai atas layar. Saat kami coba dengan lampu studio, kami, kamera mampu menangkap gambar dengan kualitas yang jernih dan terang. Bahkan detail muka itu masih tertangkap dengan jelas banget. Suara yang ditangkap dari mikrofon laptop ini juga terdengar jelas dan natural. Suara bising yang ditangkap mikrofon juga dapat dihilangkan sepenuhnya saat fitur noise cancellation kami aktifkan meskipun ada sedikit distorsi pada suara kami. Oke, saat ini saya lagi mengunci kemampuan noise cancellation laptopni hook dengan Intel lunar yang satu ini. Jadi, gimana nih suara bising di sekitar saya? Apakah masih masuk ke mikrofon atau enggak? Oke, saat ini saya lagi mengojek kemampuan noise cancellation laptop Omnibook dengan Intel Lunar yang satu ini. Jadi, gimana nih suara bising di sekitar saya? Apakah masih masuk ke mikrofon atau enggak? Nah, ini dia kemampuan kamera dan mikrofon laptop HP Omnibook Ultra yang satu ini. Jadi, gimana nih kualitasnya? Mantap apa enggak? Oke, untuk sistem audionya laptop dilengkapi dengan empat buah speaker dengan arah keluaran suara ke permukaan meja atau ke bawah ya jadinya ya. Nah, speaker ini dapat diatur profil dan equalizernya melalui software My HP. Walaupun tidak sampai ke tingkat yang menggelegar, suara yang dihasilkan empat speaker di laptop ini sudah terasa lantang. Jadi, mantap nih bahkan untuk nonton film action sekalipun. Kualitas suaranya juga prima ya. Suara di sektor low, mid, dan high dapat disajikan dengan baik tanpa menutupi satu dengan yang lainnya. Menariknya, laptop tipis ini bisa menghasilkan bass yang bulat meskipun tidak sampai menghentak, ya. Nah, untuk konektor di sisi kiri ada satu USB 3.2 Gen 2 Type C, 13,5 mm audio combo jack, lalu di kanan ada dua Thunderbolt 4 yang sudah mendukung USB 4, power delivery, protokol epray port, dan perangkat-perangkat berbasis Thunderbolt. Sayangnya di sini tidak ada konektor USB dan HDMI yang besar ya. Nah, untungnya di dalam paket penjualan disediakan aksoris USB type C hub. Jadi, kita enggak perlu beli-beli converter tambahan lagi. Udah jadi satu dalam paket penjualannya. Nah, untuk keyboard-nya Omnibook Ultra sepertinya menggunakan keyboard yang serupa seperti Spekter X360. Desain terletak tombol serta kenyamanan pakainya terasa mirip. Untuk tombolnya terasa empuk saat ditekan dengan feedback yang terasa cepat ya. Tombol juga terasa senyap saat ditekan. Jadi enggak bakal ganggu orang sekitar kita lah kalau kita lagi ngetik. Tentunya keyboardnya juga dilengkapi dengan backlit sehingga membantu kita saat mengetik di ruangan yang minim cahaya. Warnanya putih dengan tiga tingkat kecerahan dan ini bisa diatur dengan menekan tombol function plus F5. Nah, untuk area touchpad ini ukurannya ada di 13,8* 8,6 cm. Tergorong lumayan besar nih untuk laptop 14 inci. Untuk posisinya center to body tapi tidak sejajar dengan tombol space bar ya. Dengan posisi seperti itu memang ada bagian telapak tangan kami yang akan masuk ke area touchpad kalau sudah mengetik. Tapi sepertinya touchpad ini juga dilengkapi dengan fitur palm rejection jadi kursornya tidak bergerak kalau kita mengetik dan telapak tangan kita masuk ke area touchpad. Masih aman ya. Nah, menariknya ternyata ini adalah Heptic Touchpad. Salah satu perbedaan dengan touchpad konvensional adalah heptic touchpad ini menggunakan sensor yang akan mendeteksi klik kiri dan klik kanan saat kita menekan sudut permukaan touchpad. Sedangkan touchpad yang konvensional itu menggunakan semacam switch yang membuat permukaan touchpad masuk ke dalam saat kita tekan klik kiri atau klik kanan. Nah, saat ditekan sudut kiri atau kanannya, kita akan merasakan rasa klik di situ yang sebetulnya adalah heptic feedback. Sama seperti di HP tuh kalau kita hidupkan hatck feedback-nya ya. Jadi dia bergetar. Nah, saat kami coba touchpad ini, jari kami itu dapat bergerak dengan mulus dan lancar di permukaan touchpad. Oke, kita lanjut ke cooling systemnya. Laptop ini dilengkapi dengan sistem pendingin dengan dua buah heat pipe dan dua buah kipas. Untuk lubang ventilasi pembuangan panasnya ada dua yang mengarah ke belakang tapi bukan ke permukaan layar ya. Nah, untuk sistem keamanannya laptop ini dilengkapi dengan dua jenis pengamanan biometrik. Yang pertama adalah pengenalan wajah dan yang kedua adalah pengenalan sidik jari dengan posisi sensor di tombol power. Selain itu, ada juga penutup fisik untuk kamera supaya enggak mudah diintip walaupun mungkin dia kena hack. Oke, sekarang kita masuk dalam aspek performa. Laptop ini dilengkapi dengan enam profil performa, yaitu smart sense, balance, cool, quiet, power saver, dan performance. Kita bisa ngubah profil performa melalui aplikasi My HP. Kita langsung aja mulai dengan Cineb R23. Ini terpasang dengan chargernya ya sekarang ya. Nah, di stabilitas selama setengah jam, skor tertinggi yang dicapai adalah 9.598 poin di mode smart sense. Lalu kita bisa mendapatkan 10.596 poin di mode performance. Sementara untuk skor yang bisa dipertahankan ada di 8.400 sampai 9.000 poin di mode smart sense dan 9.600 sampai 10.000 poin di mode performance. Sekarang kita coba tanpa charger alias dia pakai baterainya aja. Nah, kalau kita lepas chargernya, skor tertinggi adalah 10.385 poin di mode smart sense dan 10.468 poin di mode performance. Sementara skor yang saya pertahankan ada di 9.300 sampai 9.600 poin di mode smart sense dan 9.500 sampai 9.600 poin di mode performance. Terlihat ya performanya tidak jauh berbeda antara kita pakai charger atau hanya pakai baterainya saja. Jadi jelas persyaratan Evoon-ya terpenuhi di sini. Nah, untuk suhu kerjanya dengan menggunakan CB R23 stabilitas setengah jam tadi ya di mode smart sense supressor sempat naik hingga 91 derajat celcius di awal pengujian sebelum akhirnya turun sedikit di bawah 70 derajat Celcius. Sementara di mode performance supressor lagi-lagi naik ini sampai 99 derajat Celcius di awal pengujian tapi kemudian dia langsung turun ke kisaran 80 derajat Celcius. Jadi tampaknya masih terkendalilah ini ya. Oke, langsung kita coba aja pakai Blender 4.3.2 ya. Karena IGP-nya kencang, kita bisa pakai untuk software yang satu ini ya. Kita pakai BMW Carsin. Untuk CPU rendering selesai dalam waktu 4 menit 6 detik. Sementara untuk GPU rendering dengan one API ini hanya butuh 48 detik saja ya. Ternyata memang masih lumayan mumpuni nih yang satu ini ya. Asal memang objek 3D-nya itu tidak yang rumit-rumit. Nah, syukernya pada saat melakukan GPU rendering dengan one API di mode performance, supressor sempat mengalami kenaikan hingga 87 derajat celcius kemudian turun di bawah 80 derajat Celcius. Jadi masih lumayan aman lah di sini ya. Sekarang kita tes pakai Adobi Premiere Pro 2025. Videonya 4K60 2 menit 7 detik dengan software only on selesai dalam waktu 7 menit 25 detik. Kalau kita pakai open seal selesai dalam waktu 4 menit 1 detik. Kalau videonya full HD 2 menit 7 detik ya software only sesuai dalam waktu 1 menit 50 detik dan kalau pakai open seal selesai dalam waktu 1 menit 4 detik. Nah ini kencang. Untuk SH kerja yang pernah melakukan 4K60 video export dengan Open CL surat rata prosesor dapat dikendalikan di bawah 80 derajat celcius saat menggunakan mode performance. Oke, sekarang kita pakai Dainci Resolve 19.1, software video editing class profesional versi gratisnya. Untuk video 4K 60 yang durasinya sama dengan yang tadi, butuh waktu 6 menit 45 detik. Sementara untuk video full HD 60 fps butuh waktu 2 menit 5 detik. Wah, ini kencang juga nih ya. Lalu untuk suhu kerjanya persamaan melakukan 4K video export di pengujian ini ternyata suhu kerja prosesor dapat dikendalikan sepenuhnya di bawah 80 derajat Celcius. Meskipun sempat ada lompatan sekali tapi itu juga cuma sampai 81 derajat Celcius. Lanjut kita pakai Cap Cut videonya. 4K 60 2 menit 7 detik lagi ya. Selesai dalam waktu 1 menit 56 detik saja. Kencang banget. Lalu kalau videonya full HD ya sesuai dalam waktu 39 detik saja. Nah su kerjanya pada saat melakukan 4K video export lagi-lagi prosesor dapat dikendalikan di bawah 80 derajat celcius di mode performance. Oke kita lanjut dengan handbrake ya. Di pujian ini kita melakukan konversi video 4K60 2 menit 7 detik ke full HD-nya AV1. Tanpa akselerasi quick sing selesai dalam waktu 5 menit 57 detik. Sementara kalau dengan akselerasi quick sing butuh waktu 2 menit 52 detik. Nah, suhu kerjanya pada saat melakukan konversi dengan quick sink di mode performance sempat berada sebentar di 99 derajat celcius sebelum akhirnya turun di bawah 90 derajat celcius. Oke, sekarang kita coba pakai UL Prosion ya. Benchmark ini akan menguji kemampuan NPU di prosesor dalam menghasilkan gambar dari input tex atau prom dengan menggunakan stable diffusion 1.5. Nah, NPU di laptop ini akan membutuhkan waktu sekitar 8,9 detik untuk menghasilkan gambar resolusi 512 * 512 piksel. Ini jauh lebih kencang dibandingkan K Ultra 715H yang butuh waktu sekitar 44,4 detik. Oke, kita lanjut lagi dengan pengujian yang sebetulnya kurang pas buat laptop ini. Tapi bisa dia ya. Kita coba uji untuk gaming dan hasilnya adalah seperti ini. [Musik] [Tepuk tangan] Nah, untuk game yang terakhir ini kita lihat suhu kerjanya pada saat menjalankan game eh Assassin's Creed Merage selama 30 menit di mode performance su rata-rata prosesor tetap dapat dikendalikan di bawah 70 derajat Celcius. Untuk suhu permukaan body memainkan game yang satu ini selama setengah jam saat diukur ternyata suhu permukaan body tidak ada yang menyentuh 40 derajat Celcius. Nah, untuk keyboard area paling panas kita temukan di tombol angka 7 dan suhunya juga cuman 38 sampai 39 derajat Celcius. Bahkan suhu area sebelah atas keyboard tercatat masih ada di bawah 40 derajat Celcius. Untuk palmres itu aman sekali di bawah 35 derajat Celcius. Oke, sekarang kita lihat kecepatan SSC-nya. Dengan kristalisma kita dapatkan bahwa kecepatan bacanya ada di 7.096 MB/s dan tulisnya di 5.212 MB/ Ini tergolong tinggi sekali ya, bisa tembus sampai 7.000 MB/s. Nah, sekarang kita lihat ya tahan baterainya. Untuk tes baterai ini kita menggunakan setting beratnya 150 Nits dengan volume suara 25%. Layarnya tetap di 2,8K 120 Hz dengan mode smart sense. Untuk 1080p local video playback, baterai baru habis setelah 17 jam 12 menit. Ini sudah tergolong hebat ya di tahan baterainya. Meskipun harapan kami bisa nembus 20 jam lah untuk sebuah laptop Intel Lunar Lake, tapi baterainya emang bukan yang gede-gede banget sih sebetulnya. Jadi udah hebatlah yang satu ini. Oke, sekarang kita lihat kecepatan charging-nya. Setengah jam pertama sudah terisi di 45%. Sementara untuk dari kosong sampai penuh butuh waktu 2 jam 5 menit. ini tergolong normal. Nah, untuk harganya menurut HP Indonesia, harga resmi untuk unit yang kami uji ini adalah di Rp27.799.000. Tapi itu kan harga resminya. Nah, coba deh kalian cek sendiri dapat harga berapa nih di toko online ya. Dicek, tulis di kolom komentar. Nah, selain varian satu ini ada juga varian Intel Core Ultra 9 28V dengan SSI 2 TB yang harganya ada di Rp31.799.000. Untuk bonus pembelian semuanya akan mendapatkan Microsoft Office Home and Student 2021, USBC hub yang tadi ya, dan tentunya ada stylus pen-nya. Untuk garansi dia dapat 2 tahun dari HP Indonesia tentunya ada juga garansi ADP atau accidental damage protection selama 2 tahun yang meng-cover kerusakan akibat kelalaian penggunanya. Garansi Rap ini dapat dikira satu kali dalam 1 tahun penggunaan. Oke, kita masuk dalam hal yang perlu diperhatikan. Pertama, laptop yang satu ini mungkin akan kurang cocok untuk kamu mendang-mending, ya. Tapi kalau diperhatikan, Omnibook ini adalah seri premiumnya dari laptop tipis dan ringan yang diproduksi oleh HP. Jadi harganya memang enggak bisa murah-murah amat tentunya ya. Selain itu, laptop premium merek lain dengan prosesor yang sama harganya juga kurang lebih mirip lah sama si Omnibook yang satu ini. Kemudian hanya ada konektor USB type C di sini ya. Jadi kalau butuh konektor yang besar kita harus pasang converternya. Untungnya konverter atau adapternya disediakan dalam paket penjualan. Nah, dari segi menariknya dia udah multifungsi ya. Bisa jadi laptop biasa, bisa jadi tablet juga. Penampilannya premium, mewah banget. Bobotnya juga 1,3 kg. Ini sangat ringan untuk sebuah laptop convertibel 14 inci. Lalu sudah memenuhi sertifikasi Evo terbaru dan sudah menggunakan Intel Core Ultra 200V series. Buat editing video 4K60 pun masih bisa lancar di sini. Buat desain atau rendering 3D asal objek 3D sederhana masih bisa lancar juga. Buat main game pastinya lancar. Bahkan game triple A juga bisa jalan di sini seperti blackmid book yang super berat itu enggak ada masalah di sini. Buat dipakai untuk AI juga bisa karena ada NPU-nya bahkan di sini ya. Lalu suhu kerja ini masih bisa dikendalikan dengan cukup aman. Kapasitas RAM langsung 32 GB dan kencang pula. Panel layarnya istimewa. Ini cocok buat editing serius, streaming video HDR, bahkan main game kompetitif juga nyaman. Baterainya cukup irit. Lalu dia punya dua Thunderbolt, ada Wii 7 jadi kekinian dan waterproof. Lalu ada dua pengamanan biometrik. Kualitas kamera tergolong tinggi ini kelasnya ya. Kualitas speakernya juga memuaskan. Lalu dia punya garansi kelalaian pengguna. Jadi HP Omnibook Ultraf Flip 14 ini cocoknya buat siapa sih? Yang satu ini harusnya cocok untuk kalangan pekerja atau pebisnis yang membutuhkan laptop serba bisa untuk pekerjaannya yang tetap kecil dan ringan dan mudah dibawa ke mana-mana. Tentunya karena penampilannya mewah jadi oke banget nih untuk dihadapin meeting dengan klien ya. Nah, buat pelajar dan mahasiswa seharusnya juga cocok ya kalau memang butuhnya laptop yang seperti ini ya. Tinggal masalah budgetnya aja. Lalu buat yang butuh laptop untuk editing video atau gambar ya harusnya bisa juga sih ya laptop ini dipakai ya apalagi layarnya udah pakai panel OLED juga ya dipakai editing video 4K 60 fps bisa lancar bahkan bisa handle video IV1 juga mau gambar dia ada stylus p-nya di sini dan dia punya NPU juga untuk akselerasi fitur tertentu di aplikasi content creation-nya mau dipakai untuk programming juga harusnya bisa ya asalkan aplikasi yang memang cocok dengan spesifikasi laptop ini. Jadi kalau yang dibutuhkan adalah alat kerja serba bisa dengan performa yang kekinian, mudah dibawa-bawa, baterainya irit dan yang paling penting penampilannya mewah. Rasanya HP Omnibook Ultra Flip 14 ini adalah salah satu pilihan yang sangat menarik saat ini yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Saya Did Irfan, Jaka TVP TV.

Lihat di YouTube