Laptop Wajib Buat yang PRO - PRO aja!!!! Asus ProArt P16 (YouTube Video)
Siapa nih yang relate sama kalimat waktu adalah uang? Apalagi buat kalian para pro kreator yang banyak kerjaan sampai jarang pulang. Terus pas tiba-tiba di face-nya terpanggang, pusing sampai bikin otak bergoyang. Langsung panik dan takut cuan bakal menghilang. Dan harusnya kalau kalian punya laptop yang satu ini, hati kalian bakalan tenang. Ya udah, daripada kurang kasih sayang, selamat menonton yang kerjaannya masih ongkang-kang. [Tepuk tangan] Hai Andika, guys. Di sini kenalin ini adalah laptop yang ditujukan buat YPPA atau yang profesional-profesional aja. Namanya Asus Proat AT P16 16. Dari namanya aja udah ngasih tahu ya kalau ini ditujukan buat seorang yang pro kreator yang pekerjaannya pakai aplikasi Adobe, Blender, Lumions, SketchUp, dan lain-lain. Apalagi spesifikasi dan juga fitur yang dikasih sama laptop ini harusnya sepadan dengan harganya. Harganya itu di R8 jutaan. Tapi harusnya kalau pakai laptop ini Rp38 juta dan kalian seorang pro, harusnya sih cuannya bakalan cepat-cepat balik modal. Tapi apakah ya? Yuk, coba kita bahas untuk pembukaan. Langsung aja lah ya, kita coba lihat spesifikasinya dulu. Apa yang pro dari spesifikasinya? Jadi untuk prosesornya dia pakai prosesor paling mentok kanannya AMD yaitu AMD Ryzen AI9 HX370. prosesor yang punya 12 core dan 24 tradu-nya sampai 50 tops. Berarti fitur-fitur canggih kayak AI upscaling, image generation sampai auto caption harusnya bisa dikerjain tanpa kendala di laptop ini. Terus untuk GPU-nya dia pakai GPU yang memang khusus untuk Procreator RTX 5060 Studio dengan VAM 8 GB. Yang jelas mau kalian buat render dari blender sampai yang terberat kayak Lumion udah aman tanpa kendala. Kalau enggak percaya langsung aja kita buktiin ya. Pas kita tes pakai Adobe Poo dengan template yang memang biasanya kita pakai, kita eksport ke 4K, dia selesai dalam waktu gak sampai 1 menit, cuma 57 detik aja kalau kita eksportnya ke full HD. Bahkan cuma 33 detik aja. Blender dengan template BMW, CPU rendernya 1 menit 45 detik. Ini kencang, tapi kalau misalkan kalian ngerasa kurang kencang, pakai GPU rendernya karena selesai dalam waktu cuma 21 detik aja. Dan untuk suhunya ketika kita coba render Premiere Pro 4K tadi, suhunya itu cuma ada di 70 derajat celcius dengan power dari CPU cuma butuh 35 watt. Bahkan stabilnya cuma di 25 watt, enggak butuh tinggi-tinggi ya. Kalau untuk GPU-nya di 70 derajat celcius dengan power sekitar 70 watt. Nah, yang lumayan itu ketika digunain untuk rendering 3D di blender tadi dengan suhunya itu di stabil 90 derajat celcius, tapi dibangi dengan power yang gede juga di 80 watt. Kalau untuk GPU-nya, GPU render dengan suhu 75 derajat Celcius, cuman spike sekali aja dan power GPU-nya di 60 watt. Itu belum full loot ya, belum maksimalnya. Terus pas saya coba untuk buka aplikasi SketchUp yang punya banyak komponen buat interior dan eksterior masih super lancar. Gak ada yang namanya nge-lag atau nge-freeze pas lagi ngegeser-ngegeser. Terus kalau dipakai di Lumion pas naruh aset kayak vegetasi atau yang lainnya juga aman tanpa kendala atau delay yang terlalu lama. Dan di Lumion pas kita coba benchmark render, woh dia selesai cuma dalam waktu 1 menit 14 detik aja untuk foto yang resolusinya 8K. Dan laptop ini kalau kita gunain untuk multitasking, contohnya kita ngedit di Adobe Photoshop, di sebelah kanannya ada Adobe Premiere Pro, itu masih aman-aman aja karena dia punya RAM 32 GB LPDDR5X yang udah dual channel. Tapi sayangnya memang RAM-nya udah ke solder ya, enggak bisa kita upgrade. Tapi untungnya Asus dan AMD ngasihnya udah dual channel 32 GB. Harusnya sih udah lebih dari cukup. Lanjut ke storage. Kita udah dikasih NVM I Gen 5 yang speed-nya itu hampir 7.000 1000 Mbps yang kapasitasnya 1 TB. Karena untuk pro creator ya minimal harus 1 TB ya. Karena kan untuk render video 3D itu size-nya gede-gede dan kalau 1 teranya dirasa kurang masih ada slot M22 lagi yang bisa kalian tambahin SSD lagi. Lanjut buat data kita juga kita tes dia sintetis ya. Kita coba untuk R23. Nah di R23 dengan skenario rata kanan kondisi dicas single core dia dapat 2021 multior-nya stabil di 23.000-an. Nah, kalau misalkan gak dicas atau mode baterai only memang ada penunan performa yang cukup lumayan ya dengan single core-nya itu 1416. Multi corore-nya stabil di 12.000-an. Tapi itu wajar karena kalau kita lihat suhunya di R23 dengan skenario rata kanan tadi suhunya spek-spek di 90 derajat celcius dan CPU pckage power-nya di 80 watt. Dan penurunan performa tadi kalau enggak pakai adapter suhunya cuma ada di 48 sampai 56 derajat Celcius. dan package power-nya atau dayanya cuma butuh spike-spek itu di 30 dan 20 watt. Jadi ya secara watt memang dia turunnya juga separuh. Yang saya salut itu ada di cooling-nya sih ya. Karena biasanya untuk laptop yang high performance kayak gini suhunya itu enggak lolos di time spice stress test. Tapi dia lolos loh ya dengan skor 99,3%. Kalau untuk skor lainnya spy festrike solar B kalian bisa lihat di sini. Nah, yang mau saya highlight ketika stres test tadi, GPU power-nya itu ada di 100 watt, kadang spike di 120 watt. Dan untuk suhu temperatur GPU-nya itu di 83an derajat celcius. Jadi, full load-nya kira-kira ya dapatnya di 100 watt untuk GPU dan suhunya di 83 derajat celcius. Terus kalau kita punya Nvidia GeForce RTX 5060, apakah bisa digunakan untuk main game? Karena kan ini drivernya studio ya. Hmm, pertanyaan menarik dan jawabannya ya pasti bisa. Contohnya di Valoran kita set graphic high resolusi full HD average FPS dia bisa dapat 338 maksimum bisa tembus 465 fps. Drop dropnya cuma di 275 fps. Gokil. Dota 2 rata kanan juga average FPS di 103, maksimum FPS di 177. Dropdopnya cuma di 88 FPS. RDR2 dengan grafik yang rata kanan juga average FPS dia dapat di 87 maksimum FPS 104. Dropdopnya cuma di 70 FPS. Cyberpunk kita coba dua skenario ya. Jadi, multifame generation off dan juga on. Kita coba off-nya dulu. Jadi, kemampuan raw-nya berapa dan hasilnya average FPS dia dapat di 38, maksimumnya masih tembus 61, drop-dropnya 34 FPS. Jadi, masih playable. Cuman kalau kalian pengin FPS yang lebih tinggi, ya tinggal diaktifin aja multiframe generation-nya 4 kali dan hasilnya dia dapat average FPS 146, maksimumnya bisa tembus 172, dropnya cuma di 120 fps. Dan ketika di game, coba kalian lihat aja suhunya. suhunya itu masih aman malah lebih anget ketika pakai blender tadi ya dengan valoran kisaran 70 derajat celcius terus Dota 2 juga 68 derajat celcius RDR2 stabilnya di kisaran 80 derajat celcius cyber depang juga masih di kisaran 80-an derajat celcius jadi suhu bagian dalamnya masih aman untuk suhu bagian luar atau permukaannya juga tergolong masih aman memang untuk suhu yang tertinggi itu ada di atas keyboard karena itu letaknya ekha, derajat Celcius. Tapi untuk keyboard dan juga tombol WASD yang bakalan sering kita pakai itu cuma 30,9 derajat celcius. Jadi anget aja enggak. Lanjut kita bahas baterai. Baterainya ini berkat prosesor AMD yang efisien. Baterainya ini sangat-sangat awet untuk laptop yang high performance kayak gini ya. Karena ketika kita tes pakai PC M Office dengan brightness 50% dia bisa tahan 11 jam 45 menit. Gokil enggak tuh? Terus untuk real use-nya pas kita tes pakai Microsoft Edge, YouTube, Wii 10 menit, ada anomali karena dia gak berkurang. Jadi persentasenya masih sama. Terus kalau digunain untuk ketik-ketik aja 10 menit dia berkurang cuma 1%. Gaming 10 menit berkurang cuma 3%. Jadi kalau masalah baterai saya angkat topi sih walaupun saya enggak pakai topi ya karena awet banget. Dan kalau kalian seorang pro dalam hal tabulasi data lah ya office ya dia ya jangan tanyalah lah ya kalau office karena juga kencang banget. Contohnya kalau mau export PDF dari PowerPoint 150 Lite selesai cuma dalam waktu 9 detik, Excel cuman 26 detik untuk randomis data yang gede banget. Selain saya dibuat terpukau sama spesifikasi dan performanya, layarnya juga enggak kalah ya. Layar yang dipakai sama Asus Proat P16 ini, behus Lumina OLED yang udah pent validated. Yang pasti soal color gamutnya pas kita tes juga bikin saya senyum-senyum sendiri. Karena untuk P3-nya itu ada di 100%. Adop RGB 97,4%, NTS 94,1%, sRGB-nya 141,9%. Kalau untuk kalian akurasinya udah nyaman banget. Mungkin catatannya di brightness ya. Karena brightness-nya pas kita tes tipikalnya itu cuma dapat 274 nitz. Harusnya kalau laptop udah R30 juta ke atas harusnya sih sudah 400 nits ya. Tapi it's ok lah karena dibayar sama color akurasinya yang tinggi. Cuman enggak bisa kena sinar matahari langsung yang terik banget. Selain color akurasinya, laptop ini juga udah punya golden rasio 16 bmensi 16 inch yang resolusinya ini loh 3K 2880 * 1800 plus refresh rate-nya udah 120 Hz. Terus enggak ketinggalan laptop ini juga udah touch screen. Jadi buat kalian yang proya itu soal drawing-drawing aman. Tapi yang perlu diingat stylus-nya itu sayangnya enggak dapat di dalam paket pembelian ya. Jadi kalian harus beli active stylus sendiri. Sekarang kita bahas soal desain. Wah desainnya ini ala-ala kayak dia mirip MacBook atau Razer tapi warnanya hitam. Hitamnya ini premium dengan logo Pro Art di pojok kirinya yang ngasih kesan profesional waktu ketemu sama klien. Bobotnya ringan cuma sekitar 1,8 kilo. Untuk laptop high performance di bawah 2 kg itu udah nyaman kalau dibawa ke mana-mana. Dan walaupun ringan dan tipis, gak usah khawatir karena laptop ini seperti biasa Asus di kelas flagship-nya. Dia udah punya standar militer dengan STD 810H. Jadi kalau mau dibawa kerja ke lapangan enggak perlu khawatir. Dan untuk exhaus-nya laptop ini punya pembuangan di bawah layar yang ditembakkan ke belakang laptop. Karena biasanya untuk laptop-laptop tipis itu kan ditembakkan ke depan layar ya. Ini enggak di belakang layar. Jadi aman layarnya itu enggak hanget yang enggak bikin resiko burn in makin tinggi. Terus kalau kita buka laptopnya langsung tersedia dua speaker yang gede-gede. Speaker ini juga udah support sama Dolby Atmos yang suaranya tuh enak banget ya pas saya coba buat dengerin musik dan nonton film. Terus keyboard-nya ukurannya juga kompact dan punya backlight satu warna yang bisa diubah tingkat kecerahannya. Sayangnya karena speakernya yang gede ini jadi untuk tabulasi data atau angka numeriknya itu enggak ada. Terus untuk touchpad-nya dia punya bidang permukaan yang sangat luas center to body dan kalau kita usap di bagian pojok kanan bawah nanti bakalan ada lampu indikator untuk smart Asus dial-nya. Dan dialpad ini berguna banget kalau kerjaan kalian butuh fungsi mengatur value yang presisi. Kayak contohnya ngatur brush di Photoshop jadi gampang. Kita cuma tinggal geser-geser melingkar aja dialpad-nya. Terus untuk scrubbing-scrubbing di Premiere Pro juga bisa karena dia punya fitur yang bisa dicustomize di aplikasi Asus Dial dan control Pel-nya. Bahkan buat entertain kayak geser playhe head di aplikasi musik sampai aplikasi office juga bisa loh. Intinya kayak dia ini tombol makro dan tombol makro ini bisa kita customiz di aplikasi apapun dan kita pengin apapun bisa ya disesuaiin dengan kebutuhan aja. Kalau saranin saya sih digunain untuk grading bakalan lebih nyaman lagi ya. Jadi grading-nya tinggal putter-putter aja kayak punyanya Da Vinci apa gitu. Walau bodinya ramping tapi yang saya salut dia juga enggak sepelit Apple yang kegigit. Di sisi kanan ada port USB type E 3.2 GEN 2 yang tetanggaan sama USB type C dan slot SD card. Terus di sisi seberangnya ada DCIN buat ngecas. Ada XDMI 2.1 yang bisa ngedukung display sampai resolusi 8K. Lanjut di sebelahnya ada USB type C, USB type E, dan audio jack combo. Smartpot yang ada udah high end. Bahkan untuk kedua type C-nya ini udah USB 4 yang support sama power delivery dan juga full function lah intinya. Tapi memang port atau RJ45 absen di laptop ini ya. Tapi untuk Wii-nya udah oke kok. Dia pakai Wii 7 standar WiFi tertinggi saat ini. Jadi harusnya kalau WiFi kalian lemot ya. Tapi percuma di Indo juga belum ada provider yang bisa pakai WiFi 7. Jadi ya saran saya pakai LAN terus pakai dongle aja lah. Nah karena dia seri pro Art apa ada software Pro yang dikasih sama Asus? Ya jawabannya jelas ada L ya beda dengan Vivobook, Zenbook, TAF ataupun ROG. Tadi kita udah spill dial pad-nya. Sekarang kita bedah lagi software-sofware bawaan laptop ini. Kalau semisal di laptop Asus yang sering ada gaming itu armory Crate. Kalau di Pro Art namanya itu Pro Artub. Fiturnya kurang lebih sama ya. Pas dibuka kita dikasih dashboard yang gunanya buat ng-monitor performance usage dari laptop kita. Terus kita juga bisa ngatur performance mode-nya yang pengin kita pakai. Terus ada color management. Fitur ini cocok buat kalian para desainer yang suka nyimpan referensi warna. Karena enggak cuma nyimpan, di sini kita bisa bikin palet berdasarkan warna yang udah kita simpan. Terus ada story cube. Bayangin ya, kita habis syuting banyak-banyak tapi bingung karena fil-nya langsung jadi satu ab. Dengan story cube, kita bisa dengan gampang mengorganisir file itu tadi. Intinya fitur ini mirip-mirip sama file Explorer, tapi dengan fitur pengorganisian yang lebih rapi. Enggak ketinggalan ada fitur yang namanya MU3. Jadi, fitur ini pernah enggak sih kalian itu kayak bingung bikin storyboard atau punya ide tapi bingung mau ngembanginnya kayak gimana? Nah, dengan Muse 3 masalah itu tadi bisa teratasi dan hebatnya fitur berbasis AI ini semua bisa berjalan secara offline di device kita, enggak cloud on devices. Jadi walaupun enggak ada internet pun kalian masih bisa pakai fitur-fitur ini berkat prosesor MD Ryzen AI9 yang punya 50 tops tadi digabungkan dengan tops-nya dari GPU-nya. Dan terakhir kalau kalian cuma butuh gambar-gambar yang di pain, kalian bisa pakai cook creator yang kurang lebih sama kayak MUI 3. Bedanya ini lebih klasik. Cocok buat iseng-iseng aja lah. Tinggal bikin sketsa sederhana. terus kita ketikkan prom yang pengin kita bentuk nanti pinnya bisa bantu kita buat merealisasikan. Ini lebih gampang banget sih kalau untuk yang awam pakai kreator aja lebih cepat. Oke, jadi ini adalah kualitas dari webcam-nya Asus Pro P16 ya. Nah, kira-kira seperti ini kalau misalkan kurang lighting masih ada noisy. Jadi saran saya sih tetap pakai webcam ekstra kalau misalkan digunain untuk streaming game ataupun presentasi di Zoom. Tapi kalau cuman peserta aja enggak masalah sih ya. Terus dia juga ada Windows Studio Efectnya. Bentar. Windows Studio Effect-nya itu kayak gini. Jadi kalau misalkan lagi ramai kayak gini tinggal di background effect jadi putrit. Cuman brightness-nya sih saran saya dimentokin ya. Kalau misalkan mau lighting yang natural dari layarnya kira-kira seperti ini. Mm udah kayaknya cukup ya. Oh terus dia juga ada privacy shutter tapi privacy shutternya ini electrical. Jadi kita tinggal tekan Fn+ F10 kalau misalkan mau matiin webcam-nya. Okelah, jadi itu tadi adalah review dari Asus Pro Art P16. Kesimpulannya setelah kita jungkir balik ngetes dari aplikasi produktif sampai gaming, rasanya ya si Asus Pro Art P16 ini kayak partner buat kita kerja yang enggak menyi-menyi. Dengan prosesor Ren AI 9HX370, dia bisa ngejalanin fitur berbasis AI dengan lancar. Terus si RTX 5060 studionya jadi pelengkap segalanya. Tapi memang yang jadi catatan itu di RAM-nya yang enggak bisa di-upgrade. Tapi untungnya udah 32 GB ya. Jadi kalau kita ngomongin kelebihannya jelas kata pro di sini bukan gimmik. Ini beneran pro untuk editing, gaming, bahkan untuk pro yang office, drawing, pro dalam segala hal bisa di laptop ini. Kalau ditanya laptop ini segmentasinya siapa? Ya, itu tadi YPPA yang propro aja karena harganya cukup lumayan ya Rp38 juta. Jadi kalau misalkan kalian belum pro pakai laptop ini ya saya saranin tunggu pro dulu lah. Tunggu ada klien yang bisa mendapatkan cuan karena Rp38 juta contohnya kalian dapat klien arsitek gitu ya untuk drawing Telumion pakai SketchUp kalau enggak salah harga per meternya itu Rp100.000 sekarang pasarannya. Nah, bayangin kalau misalkan kalian dapat proyek contoh 600 m aja. Rp100.000* R000 * 66 Rp60 juta udah balik modal kan? Kalau dipakainya cuman ngetik-ngetik lihat drakor browsing ah ya bisa sih tapi mubazir aja sayang banget. Untuk yang kita review ini sih harganya start form Rp37 juta. Tapi ada loh varian lain yang harganya itu bisa tembus sampai Rp67 jutaan dengan konfigurasi yang berbeda tentunya. Untuk SKU lengkap dan link pembeliannya nanti akan saya taruh di kolom deskripsi. Untuk penutup enggak lupa kita bahas after sales-nya. Esus seperti biasa ngasih kita garansi yang double-dobble yaitu ada three years international waranty dengan tiga cakupan di 114 negara yang berbeda dengan 140 service center di Indonesia. Terus ada 3 Asus VIP Farranty yang meng-cover 100% biaya dan perbaikan sparep. Jadi kalau harganya mahal ya asuransinya atau warantinya harus jelas ya. Harga mahal terus warantinya cuman 1 tahun terus kalau human error enggak ditanggung itu udah enggak zamannya. Karena zamannya sekarang udah zamannya ADP. Jadi kita 3 tahun ke depan untuk ngeluarin 38 sampai 67 juta hati itu tenang gitu. Saya di Budi and see you on the next video.
