Laptop "Wildcat Lake" Terbaik? Review ASUS Vivobook S14 (S5452MA) 2026 (YouTube Video)
Ini laptop Intel Core Series 3 terbaik dan terkencang saat ini dari Asus Indonesia. Speknya enggak tanggung-tanggung, prosesornya langsung pakai Intel Core Seven Series 3. RAM-nya juga langsung besar dan kencang, 16 GB LPDDR5X. SSD-nya pakai 1/2 TB. Layarnya juga langsung IPS 100% sRGB. Jadi ini mantap ya buat editing atau streaming film ya. Dapat garansi kelayakan pengguna selama 3 tahun juga di sini. Ya, laptop ini adalah Asus VivoBook S14 keluaran tahun 2026. Laptop Intel Core Series 3 seperti Asus VivoBook S14 ini memang menjadi pilihan menarik dan terjangkau kalau kita ingin merasakan teknologi yang dimiliki kakaknya yang Intel Core Ultra Series 3 ya. Meskipun performanya enggak sekencang si Ultra, tapi kelengkapan fitur dan efisiensi dayanya itu mirip. Nah, pertanyaannya sekencang apa sih laptop dengan Intel Core Seven Series 3 ini? Apakah baterai tetap tahan awet belasan jam? Sebelum kita lihat performanya, kita cek dulu spesifikasi lengkapnya. Untuk prosesor, ini pakai Intel Core Seven 350. Fabrikasinya Intel 18 A. Ya, sudah yang 18 A nih ya, bukan yang 7 lagi. Base power-nya 15 W. Dia punya 6 core 6 thread yang terdiri dari 2 performance core dan 4 low power efficient core. Untuk Intel Smart Cache-nya ada 6 MB. Menurut Asus, prosesor ini punya setting power limit hingga 30 W. Untuk integrated graphics, dia pakai Intel graphics dengan 2 XE cores. iGPU ini pakai arsitektur GPU yang Intel XE 3 ya. Jadi mampu menjalankan fitur X ESS 3 seperti multi frame generation misalnya. Ini fitur yang bisa melipatgandakan frame rate saat kita main game. Jadinya main game tuh lebih mulus saja. Untuk NPU, dia pakai Intel AI Boost dengan kemampuan hingga 17 TOPS. Nah, untuk memori atau RAM-nya yang terpasang adalah 16 GB LPDDR5X 6400 MHz single channel. Perlu diperhatikan ya, prosesor laptop ini hanya mendukung RAM single channel memang ya. Selain itu, laptop ini menggunakan RAM on board. Jadi memang enggak bisa di-upgrade. Untuk storage, dia pakai 512 GB SSD M.2 NVMe PCIe Gen 4 by 4. Hanya ada 1 slot M.2 di sini ya. Jadi kalau mau upgrade kita harus ganti bawaannya. Untuk wireless connectivity, dia pakai modul Realtek yang ada support Wi-Fi 6 dan Bluetooth versi 5.4. Kapasitas baterainya ada di 52,5 watt hour dan OS-nya tentunya pakai Windows 11. Yang ini pakai 25H2. Untuk body form factor-nya adalah clamshell atau laptop klasik. Materialnya adalah metal. Tentunya laptop ini sudah memenuhi standar daya tahan military standar 810H. Jadi, sudah teruji durabilitasnya. Untuk warna yang kami uji ini adalah yang cool silver. Lalu ada juga yang matte grey. Nah, untuk desain VivoBook yang satu ini terasa sekali desain klasiknya, ya. Punggung layar itu polos dan ada logo ASUS yang klasik di tengahnya. Ini mengingatkan kami pada penampilan VivoBook klasik di awal kemunculannya. Tapi, sayang sekali untuk area palmrest-nya ini cukup ramai dengan tempelan stiker, ya. Mungkin bisa kali stiker-stikernya dipindahkan ke bawah laptop biar penampilannya lebih polos dan lebih elegan. Kalau tanpa stiker-stiker itu, aduh, mantap sih sebenarnya tampilannya. Nah, untuk dimensi, panjangnya 31,3 cm, lebar 22 cm, dan ketebalan sisi paling tipisnya ada di 1,54 cm dan sisi paling tebalnya di 1,64 cm. Untuk bobot laptopnya saja di 1,31 kg. Charger-nya 192 gram. Dan ini adalah charger 48 watt. Jadi, total kalau dibawa-bawa semuanya itu ada di 1,51 kg. Untuk display, ini ukurannya 14 inci. Resolusinya 1920 x 1080 pixel dengan aspek rasio 16:10. Panelnya adalah IPS level. Menurut ASUS, tingkat kecerahan maksimalnya ada di 300 nits dan color gamut-nya 100% sRGB. Nah, kalau kita ukur, hasilnya ternyata tingkat kecerahan maksimalnya itu di 321 nits. Gamut coverage-nya 69,1 sRGB. Gamut volume-nya 103% sRGB. Nah, kalau butuh color gamut yang lebih rapat, kita bisa mengubah profil warna melalui aplikasi MyASUS. Sebagai contoh, kita bisa ubah ke mode vivid hingga gamut coverage-nya menjadi 99,2% sRGB dan gamut volume-nya jadi 101,9% sRGB. Secara keseluruhan, layar ini cocok buat kerjaan apapun yang butuh akurasi warna yang baik. Dipakai buat streaming video juga pastinya mantap yang satu ini, ya. Permukaan layarnya ini bersifat non-glare. Jadi, minim pantulan cahaya lampu, jendela, atau objek sekitar kita yang bisa mengganggu kenyamanan saat bekerja atau sedang menggunakannya. Desain bingkai layar juga dibuat cukup tipis untuk sisi kanan dan kirinya. Jadi, tingkat screen to body ratio-nya itu lumayan tinggi di 89%. Lalu untuk engsel layarnya ini bisa dibuka hingga 180 Engsel seperti ini bisa mencegah kerusakan akibat terdorong tidak sengaja dan ini memudahkan kita untuk sharing tampilan layar ke klien atau rekan kerja yang tepat ada di depan kita. Nah, laptop ini dilengkapi dengan kamera 1080p 30 fps dan ada dua modul mikrofon di sisi kanan kirinya. Kamera juga sudah mendukung Windows Studio Effect dan akan menggunakan NPU saat bekerja, jadi lebih efisien ya baterainya akan lebih irit dibandingkan kalau ini dijalankan di CPU atau di GPU. Nah, untuk kualitas kamera dan mikrofonnya kurang lebih seperti ini. Oke, sekarang kita sedang berada di studio untuk menguji kemampuan kamera dari laptop ASUS yang satu ini. Nah, kamera laptop ini bisa merekam video up to 1080p 30 fps di rasio 16 banding 9. Dan di kondisi cahaya studio yang memadai hasilnya kurang lebih seperti ini. Menurut kalian bagaimana? Muka saya masih bisa terlihat dengan jelas kan? Oke, sekarang saya sedang berada di luar untuk menguji kemampuan mikrofon dan noise cancelling dari laptop ASUS yang satu ini. Nah, seperti yang kalian lihat di belakang saya kondisi jalanan lagi ramai kendaraan. Menurut kalian bagaimana? Apakah suara saya masih bisa terdengar dengan cukup jelas? Nah, bagaimana hasilnya? Kualitas kamera sih sudah cukup oke sih walaupun kita agak gelap dengan pencahayaan studio kami. Lalu untuk mikrofonnya ternyata dia belum bisa menghilangkan suara bising di sekitar kami karena memang belum ada fitur noise cancellation-nya. Tapi untungnya suara kami tetap terdengar dengan jelas di kondisi yang ramai sekalipun. Oke, untuk audio laptop ini dilengkapi dengan dua buah speaker yang arah keluaran suaranya itu ke bawah ya. Di sini ada aplikasi Realtek Audio Console untuk mengubah profil suara atau ada equalizer juga di sini. Suara yang dikeluarkan laptop ini terasa kurang kencang sih sebetulnya di telinga kami ya, tapi untungnya kualitas suaranya terasa memuaskan untuk laptop kelas mainstream dari ASUS. Sekarang kita lihat konektor-konektornya. Di sebelah kiri ada satu HDMI 2.1, ada dua USB 3.2 Gen 1 Type-C yang ini mendukung power delivery dan display output juga. Kemudian ada satu 3,5 mm audio combo jack. Di sisi kanan ini ada dua USB 3.2 Gen 1 Type-A. Jadi lumayan banyak ya konektor-konektornya ya. Nah, untuk keyboard sebenarnya enggak ada yang benar-benar baru ya. Bentuk tombol dan tata letaknya masih mirip seperti laptop Vivobook terbaru lainnya. Untuk travel distance-nya ada di 1,2 mm. Jadi, agak terasa cetek ya kalau untuk dibandingkan laptop-laptop Windows lainnya. Walaupun dengan merasa keyboard ini tetap nyaman sih saat dipakai untuk mengetik. Tapi sayang sekali keyboard-nya ternyata belum dilengkapi dengan lampu backlit. Oke, untuk touchpad-nya laptopnya menggunakan precision touchpad dan ukuran di 12,9 * 8,1 cm. Untuk posisinya ditempatkan center to body jadi ada sedikit bagian telapak tangan kanan yang masuk ke area touchpad saat kita sedang mengetik. Tapi tenang, dia punya fitur palm rejection dan ini membuat kursor tidak bergerak walaupun touchpad-nya kesenggol-senggol telapak tangan kita. Jadi, kami juga dapat bergerak dengan mulus di atas permukaan ya. Touchpad dan klik kiri serta klik kanannya ini enggak perlu ditekan terlalu dalam ya untuk bekerja ya. Oke, kita sekarang lihat cooling system-nya. Untuk sistem pendingin laptop ini dilengkapi dengan satu buah heat pipe tembaga dan satu buah kipas dan ventilasi pembuangan panasnya itu mengarah ke belakang. Sekarang kita masuk ke aspek performa. Laptop ini dilengkapi dengan tiga profil performa yaitu performance mode, standard mode, dan whisper mode. Kita bisa mengubahnya dengan menekan tombol function plus huruf F atau melalui aplikasi MyASUS. Sekarang kita coba dulu dengan Cinebench R23 terpasang ke charger. Di stabilitas selama setengah jam, skor tertinggi yang dicapai adalah 7.813 poin di mode standard dan 8.074 poin di mode performance. Nah, untuk skor yang bisa dipertahankan di sini ada 7.600 sampai 7.200 poin di mode standard. Lalu untuk di mode performance ada di 7.900 sampai 8.000-an poin. Sementara itu kalau charger-nya dicabut skor yang kita dapat adalah 6.800 sampai 7.000-an poin di mode standard dan 7.900 sampai 8.000-an poin di mode performance. Ini unik ya, ternyata walaupun enggak nyolok ke charger performanya itu enggak turun kalau kita pakai mode performance. Sekarang kita lihat suhu kerja dengan Cinebench stabilitas selama setengah jam. Di mode standard suhu processor itu sempat lompat ke 92 derajat Celsius di awal pengujian. Tapi lalu dia turun dan bergerak di rentang 77 sampai 88 derajat Celsius. Sementara di mode performance suhu processor juga sempat lompat ke 95 derajat Celsius di awal pengujian. Tapi kemudian turun dan bergerak di rentang 82 sampai 89 derajat Celsius dengan sesekali ada lompatan ke 93 derajat Celsius. masih cukup aman sebetulnya. Sekarang kita lihat performanya dengan Adobe Premiere Pro 2026. Kita pakai video full HD 60 fps yang durasinya 5 menit. Dengan OpenCL, ini semua selesai dalam waktu 5 menit 57 detik. Oke, sekarang kalau video pakai full HD 30 fps yang 5 menit ya. Dengan OpenCL, selesai dalam waktu 2 menit 31 detik. Ternyata masih oke nih kalau pakai Premiere di laptop ini ya. Durasi export video full HD 60 fps-nya hampir sama seperti durasi videonya sendiri. Sudah bagus. Nah, untuk suhu kerjanya pada saat exporting, di sini suhu rata-rata processor dapat dikendalikan di bawah 70° C dengan sekali lompatan saja ke 73° C. Oke, kita lanjut ke DaVinci Resolve 20.3, software video editing kelas profesional, tapi ini versi gratis yang kita pakai ya. Untuk video full HD 60 fps yang 5 menit, itu selesai dalam waktu 6 menit 34 detik. Sementara kalau full HD 30 fps, durasinya sama, selesai dalam waktu hanya 3 menit 27 detik. Ya, jadi kalau untuk pakai DaVinci Resolve, lebih cocok editing videonya di full HD 30 fps. Untuk suhu kerjanya pada saat exporting, suhu rata-rata processor terlihat masih berada di bawah 90° C dengan beberapa kali lompatan suhu ke 93° C. Kita lanjut untuk CapCut. Videonya masih sama ya, full HD 60 fps durasi 5 menit, itu selesai dalam waktu hanya 3 menit 56 detik. Sementara kalau videonya adalah full HD 30 fps, durasi sama 5 menit, selesai dalam hanya waktu 1 menit 56 detik. Nah, kalau pakai CapCut, durasi export-nya jauh lebih cepat dari durasi videonya. Ini menarik ya, ternyata laptop ini juga bahkan kuat dipakai editing video 4K 30 fps. Kenapa? Karena exporting time-nya hanya butuh waktu 3 menit 36 detik. Ini lebih cepat juga dari durasi videonya. Nah, untuk suhu kerjanya pada saat melakukan full HD video exporting seperti di Premiere, suhu rata-rata processor dapat dikendalikan di bawah 70° C dengan sekali lompatan saja ke 79° C di awal ya. Sekarang kita lanjut ke pengujian NPU dengan Procyon. Kita uji performa NPU-nya dengan benchmark AI image generation benchmark. NPU di laptop ini membutuhkan waktu 22 detik untuk menghasilkan gambar resolusi 512 * 512 pixel. Ya, ini jauh lebih cepat dari performa NPU Core Ultra 7 155H ya, yang butuh waktu 44,8 detik. Jadi, ya NPU-nya termasuk NPU modern yang kencang. Lanjut untuk 3DMark graphic test-nya. Untuk Time Spy, skornya adalah 1.546 poin. Nah, kalau kami cek di database 3DMark, skor ini mirip dengan skor yang dihasilkan GPU GeForce MX350. Jadi, kalau masih mau komplain, "Ah, IGPU-nya cuman 2 XE cores, cuma single channel." Hmm, ini lumayan kencang loh sebetulnya, ya. Kita lihat saja langsung untuk gaming, ya. Kita lihat sekencang apa performa IGPU laptop ini. Oke, sekarang kita lihat suhu kerjanya saat mainkan Cyberpunk 2077 game berat selama setengah jam. Suhu prosesor terlihat berada di rentang 68 sampai 72 derajat Celsius. Untuk suhu permukaan body, ya, setelah setengah jam main Cyberpunk 2077, walau area kiri keyboard tampak terang, tapi suhu permukaan itu sebenarnya masih aman, ya, di bawah 40 derajat Celsius. Bahkan suhu di dekat lubang pembuangan panas itu juga masih di bawah 40 derajat Celsius. Tentunya untuk palmrest sih aman banget, di bawah 35 derajat Celsius. Sekarang kita lihat untuk kecepatan storage-nya. Dengan CrystalDiskMark kita dapatkan bahwa SSD itu kecepatan bacanya ada di 6.681 megabit per second dan tulisnya ada di 5.642 megabit per second. Asus sepertinya salah pasang SSD, ya. SSD kencang ini harusnya ada di Zenbook, bukan Vivobook. [tertawa] Soalnya sudah bahkan cukup mantap untuk sebuah laptop gaming yang satu ini. Sekarang kita lihat daya tahan baterainya deh, ya. Untuk pengujian baterai kita atur layar di 150 nit seperti biasa dengan volume suara di 25% untuk 1080p lokal video playback, baterai habis setelah 16 jam. Ini sangat irit untuk sebuah laptop Windows dengan baterai yang cuma 52,5 watt hour doang. Oke, tadi untuk mutar video, ya. Sekarang kita juga coba daya tahan baterainya dengan PCMark Office Productivity Benchmark. Di pengujian ini akan ada simulasi aktivitas buka tutup serta bekerja dengan aplikasi Word, Excel, PowerPoint, dan Outlook, ya, office lah, ya, tanpa berhenti sampai baterainya habis. Hasilnya laptop ini bisa bertahan hampir 13 jam, tepatnya 12 jam 50 menit. Ini sih laptopnya jadi kuat dipakai kerja seharian dong, ya. Bahkan sebetulnya kalau jam kerja kalian cuma 8-9 jam, masih sisa banyak nih baterainya, ya. Sekarang kita lihat kecepatan charging-nya. 30 menit pertama laptop sudah terisi di 36%, sementara dari kosong sampai penuh butuh waktu 1 jam 55 menit. Ini sedikit lebih cepat dari patokan standar kami yang ada di 2 jam pas untuk sebuah laptop. Oke, untuk harganya, menurut Asus Indonesia, harga yang satu ini adalah di 19.299.000, tapi kalau belinya di Asus Online Store, harganya berubah jadi 18.999.000. Untuk bonusnya, wah, ini lumayan banyak, ya. Ada Microsoft Office Home 2024, ada langganan Microsoft 365 Basic selama 1 tahun. Lalu untuk garansinya ada 3 tahun International Warranty dan ada 3 tahun ASUS VIP Perfect Warranty. Ini berarti kita bisa klaim garansi saat kita traveling ke luar negeri selama ada service center ASUS di negara tersebut. Menurut ASUS garansi tersebut bisa diklaim di 114 negara. Sementara itu dengan VIP Perfect Warranty ASUS Indonesia akan menanggung 100% total biaya perbaikan untuk kerusakan akibat kelalaian pengguna. VIP Perfect Warranty ini digunakan satu kali setiap tahunnya. Jadi total klaimnya itu bisa 3 kali ya. Oke, kita langsung masuk dalam hal yang perlu diperhatikan. Pertama, RAM-nya ini on board jadi memang enggak bisa di-upgrade tapi harusnya untuk zaman sekarang ya untuk akhir 2026 ini enggak ada masalah karena RAM-nya sudah 16 GB juga. Kemudian gambar yang ditangkap kamera itu agak gelap walaupun pencahayaannya sebenarnya terang. Lalu di sini belum ada fitur noise cancellation dan keyboard-nya ini belum punya lampu backlight. Nah, dari sisi menariknya penampilannya ini klasik tapi elegan. Lalu sudah pakai Intel Core 7 Series 3. Ini mumpuni untuk multitasking ringan hingga menengah kayak ngetik, ngolah data, bikin presentasi, browsing website, streaming film, meeting, desain di Canva, bahkan editing video 4K 30 FPS juga bisa pakai CapCut. Mau gaming tipis-tipis atau yang pakai multi frame generation juga bisa di sini. Kalau game yang triple A sudah enggak tipis-tipis lagi sebetulnya tapi bisalah pokoknya. Nah, untuk RAM ini sudah langsung 16 GB LPDDR5X ya langsung kencang. SSD-nya sudah setengah terabyte dan baterainya sangat irit untuk kapasitasnya. Konektor juga lengkap enggak perlu bawa-bawa dongle atau converter lagi dan garansi normalnya dapat 3 tahun, garansi kelalaian pengguna juga dapat 3 tahun dan ada garansi internasional pula di sini ya. Nah, jadi ASUS Vivobook S14 keluaran 2026 ini cocoknya buat siapa? Laptop seperti ini harusnya cocok untuk kaum road warrior ya. Baterainya irit seharian jadi enggak perlu repot bawa charger sebetulnya. Mau meeting di luar kantor jadi aman banget ya karena baterainya awet dan dia pakai Windows Studio Effect untuk kameranya jadi harusnya ini irit ya baterainya ya. Beratnya juga cukup ringan jadi gampanglah dibawa meeting-meeting ke luar kantor. Mau kerja, mau multitasking di kantor pakai dua monitor tambahan juga bisa kan ada konektornya di sini. Untuk pelajar, mahasiswa, atau bahkan pengajar harusnya cocok juga dengan yang satu ini. Bahkan mau dibawa sekolah atau kuliah ke luar negeri tetap aman karena ada garansi internasionalnya, ya. Dan kita juga enggak perlu khawatir kalau laptopnya kenapa-napa karena ada garansi kelalaian pengguna selama 3 tahun. Ingat, kelalaian pengguna, ya. Jadi, ya enggak sengaja jatuh gitu mungkin. Nah, untuk kalangan mobile creator harusnya juga pas pakai laptop yang satu ini. Dia tipis, ringan, dan speknya bahkan masih kuat editing video sampai 4K 30 fps. Mau editing pakai Photoshop atau di samping Canva juga pastinya bisa. Dan pastinya cocoklah dipakai buat coding selama aplikasi memang cocok dengan spek laptop ini. Pada akhirnya kalau kebutuhannya itu adalah laptop kekinian dengan prosesor 2026 yang harganya masih di belasan juta, kapasitas RAM dan SSD-nya besar untuk 2026, baterai juga tahan belasan jam, layarnya IPS 100% sRGB, konektor lengkap, dan garansinya panjang, ASUS VivoBook S14 keluaran 2026 ini bisa jadi salah satu pilihan yang sangat menarik. [musik]
