Jungkat

Laptop Yang Harganya Gak Ngotak !! Advan 360 2-in-1 (YouTube Video)

  • 12/03/2026

Buat kalian yang budgetnya lagi kejepit, tapi pengen barang yang bisa ditekuk-tekuk dengan bebas kayak gini, kita kedatangan Advan 360 Go, laptop lokal yang badannya lentur banget. Tapi pas diajak main serius, apakah bikin puas? Atau malah bikin lemas? Jujur aja ya, punya laptop 360 di harga 4 jutaan itu sama kayak kalian punya pasangan yang mau diajak gaya apa aja. Nurut, bahkan ditekuk sampai nungging pun hayuk aja. Tapi kalau luarnya doang yang kelihatan menantang, pas udah mulai pemanasan, malah kentang. Apa enggak bikin meradang? Speknya sih katanya bisa masuk ke mana aja, tapi pas lihat RAM-nya, rasanya tuh kayak mau lagi klimaks, tapi tiba-tiba disuruh berhenti karena ada yang nyanyi begini nih, "Aku tak sanggup lagi." Ya gitulah, nanggung banget. Ya udah, daripada kalian cuma ngebayangin yang enak-enak tapi malah dapatnya yang kletoy, mending nonton video ini sampai selesai biar kalian enggak salah pilih pasangan kerja. Ya udah, selamat menonton yang pengennya lama tapi sekali sentuh sudah enggak berdaya. Oke, laptop yang kita bahas kali ini itu Advan 360 Go yang pakai prosesor AMD Ryzen 3 3200U. Ya, kalian tahu sendirilah ya, 3200U itu prosesor keluaran di tahun 2019. Tapi apakah di tahun ini itu sebenarnya masih layak pakai? Ya udah, sekarang kita mulai bahas dari spesifikasinya terlebih dahulu. Dia menggunakan AMD Ryzen 3 3200U dengan base clock di 2,6 dan turbo boost-nya di 3,5. Ya, sebenarnya secara di atas kertas ya, secara performance pasti lebih tinggi dibandingkan N4000 atau N4020, tapi kalau dibandingkan dengan N100 atau N150, hmm, kayaknya enggak juga deh. Untuk jumlah core-nya dia menggunakan dua core empat thread, jadi menggunakan teknologi hyper trading. Lalu untuk L3 cache-nya, ya enggak gede-gede banget untuk tahun 2026 ini ada di 4 MB. Dan untuk GPU-nya jelas yang di harga 4 jutaan enggak mungkin punya dedicated GPU, dia pakai integrated dari AMD Vega 3 Radeon Graphic. Dan untuk RAM-nya dia disematkan di 8 GB, ini jadi salah satu selling point yang menurut saya agak disayangkan, bukan karena size 8 GB-nya ya, tapi kecenderungan AMD itu powerful kalau dipakai dual channel. Dan sayangnya si Advan ini cuman single channel. Dan kalau kalian upgrade mau ke dual channel, enggak bisa, alias dia cuman satu slot doang. Untuk ruang penyimpanan atau SSD, itu juga salah satu hal yang di pangkas untuk buat laptop ini lebih murah, karena dia menggunakan 256 GB. Dan beruntungnya juga karena dia posisinya soket ya, bisa di-upgrade. Dan kalau kalian lihat di bagian bawah, si Advan menyertakan satu, dua baut kecil sih ini. Dan ini kalian pakai untuk upgrade storage-nya, jadi lepas 256 GB-nya, pasang yang lebih gede, 512 atau 1 TB. Dan support-nya NVMe Gen 3. Untuk SSD-nya saat kita tes menggunakan CrystalDiskMark untuk nya, kita dapat di 1.800-an Mbps, lalu untuk write-nya di 1.400-an. Bukan speed yang tinggi banget untuk Gen 3, tapi sebenarnya udah cukup oke lihat harganya juga di 4 jutaan. Lalu di harga 4 juta lain kalian dapat apa aja? Yang pasti Advan sekarang menyematkan enggak ada tuh yang namanya DOS atau tanpa Windows sama sekali, dia sudah include Windows 11 Home and Student, tapi sayangnya belum termasuk Office. Tapi Office enggak penting-penting juga sih sebenarnya sekarang. Oke, sekarang kita pindah ke bagian desainnya. Kalau kita ngomongin Advan, ya gini-gini aja. Logonya cuman harusnya sih memang di tahun ini harus di-rebranding sih, biar lebih cakep, lebih fresh juga. Dan untuk desainnya, ya ini memang standarnya Advan banget. Secara build quality, ini ya standar aja, nothing special. Dan keseluruhan bahannya dia pakai plastik polikarbonat. Dan yang jadi sambatan itu ada di bagian bobotnya. Dan ingat ya, ini laptop 14 inch dan pada saat kita timbang, itu ada di 1,57 kilo, hampir 1,6 kilo. Dan kalau kalian pegang, uh abot, Guys. Ini laptop atau batu nisan? Dan karena laptop ini laptop 360 atau laptop touchscreen pastinya ya, kalian bisa tekuk juga seperti ini, jadi bentuk pen. Si Advan menyertakan stylus pen. Dan enggak cuman stylus pen-nya doang ya, dia kasih dua tambahan untuk backup ujung pen-nya. Cuman saya enggak yakin sih ini level pressure-nya ada di 4096. Pada saat kita pakai langsung di layar seperti ini, itu feel-nya beda banget karena delay. Kita pernah pakai yang versi light waktu itu yang menggunakan Intel Core i3 Gen 11 dan Advan menyertakan level pressure-nya ada di 1024. Tapi saya rasa di sini mirip-mirip itu, enggak mungkin ada di 4096. Masih di bagian layar, kalau kalian perhatikan ya di bagian frame di kanan kiri lalu di atas itu masih normal walaupun enggak tipis-tipis banget. Yang enggak normal itu ada di bagian bawah. Itu mirip banget kayak dagunya si Deddy Corbuzier, tebel banget. Dan kenapa seperti itu? Mungkin saya mencoba menebak-nebak ya, karena rasio layar di laptop ini ada di 16:9. Jadi kalau dia mau ada upgrade-an baru, SKU baru yang menggunakan 16:10, itu bisa langsung pakai. Turun ke bagian palm rest keyboard-nya. Kalau kalian perhatikan ya di kanan kiri ada grill yang lubang-lubang ini mirip banget kayak si Lenovo Ideapad 3 tapi ada juga loh brand lokal yang pakai desain seperti ini cuman di chat ada yang tahu enggak brand apa? Coba kalian tulis di kolom komentar. Oke sekarang kita pindah ke bagian layarnya seperti yang saya spill tadi untuk layarnya dia touchscreen dengan resolusi FHD dan panelnya IPS ini jadi sebuah keunggulan dan kelemahan sekaligus kenapa seperti itu IPS ini cakep dengan view angle nya juga lebih luas di 170-an derajat cuman nah ini nih si Advan itu kasih layar dengan maksimal nit nya cuman ada di 100 nit udah pasti kalau kalian pakai di luar ruangan atau bahkan semi outdoor deh udah enggak kelihatan dan untuk coating nya enggak ada tuh yang namanya anti reflektor jadi benar-benar saat posisi kita tembakin ke lighting seperti ini wah buset itu langsung mantul enggak karu-karuan tulisannya jadi enggak kelihatan sama sekali guys. Oke sekarang kita pindah ke bagian kameranya untuk solusinya dia pakai 720p 30fps dan ini pada saat kondisi lighting yang cukup proper ya kita di studio dan noise nya jelas banget dan karena ini 720 kelihatan gambarnya pecah banget untuk kameranya sendiri dia punya privacy shutter secara fisik di bagian atas kalian bisa tutup nah kayak gini dan kalau kalian buka seperti ini sebenarnya untuk kualitas 720 ini enggak jelek-jelek banget sih tapi kalau untuk di tahun 2026 ini kayaknya pakai webcam eksternal lebih proper deh layar udah kamera udah sekarang kita turun ke bagian keyboard nya nah kemarin itu Mas Dika sempat review mengenai Advan Workmit Ultra dan keyboard di sini itu secara layout masih mirip-mirip tapi entah kenapa ya pada saat coba itu feel nya lebih enak di sini dibandingkan yang versi Ultra kemarin di sini rasanya lebih empuk lebih tactile aja di sana itu kayak enggak ada rasanya sama sekali, cuman keras doang. Ya memang di 4 jutaan kita enggak bisa berharap banyak, kita enggak bisa berharap keyboard-keyboard kayak Lenovo IdeaPad seperti itu enggak bisa. Ini feel entry level-nya masih kerasa banget, finishing-nya kasar. Lalu juga enggak ada backlit keyboard pastinya. Dan yang saya apresiasi selain feel-nya tadi dibandingkan yang versi Ultra ya, itu jujur saja di tombol Copilot yang memang ditiadakan. Ya secara ya ini masuk di entry level. Copilot enggak penting-penting banget. Beda mungkin ya dengan laptop-laptop yang memang punya NPU dan dia support dengan Copilot offline atau software-software AI offline, itu baru menguntungkan. Tapi kalau di seri low, rasanya di brand-brand lain harus coba niru Advan deh. Lalu untuk touchpad-nya sendiri, dia center terhadap body dan cukup melebar. Nothing special juga, tapi feel-nya ini cukup oke kok untuk harga 4 jutaan. Dan yang perlu kalian note ya, karena ini 360 pada saat kalian putar di mode tablet kayak gini ya, seperti ini, ini untuk keyboard-nya enggak akan aktif dan touchpad-nya juga enggak akan aktif. Jadi kalian bisa manfaatkan langsung layar touchscreen-nya. Dan karena ini 360, selain tablet, kalian bisa di mode tent seperti ini, kayak gini, dan juga di mode laptop basic kayak gini. Pindah ke konektivitasnya, ini salah satu nilai plus di laptop ini karena dia tidak menyertakan sama sekali USB Type A 2.0 yang memang cukup jadul ya. Minimal dia menyertakan USB Type A 3.2 Gen 1 yang punya speed 5 gigabit per second. Dan yang menarik di laptop ini, dia menyertakan charger yang konvensional yang pakai jarum. Tapi kalau memang hilang, itu kalian bisa manfaatkan USB Type C-nya yang di sebelah kiri HDMI untuk jadi charger. Jadi kalau kalian punya charger handphone PD pastinya minimal 65 watt, kalian bisa pakai untuk charger laptop ini. Tapi kalau saran saya pribadi dibandingkan kalian bawa charger bawaannya yang lumayan gede karena memang itu tipe jadul, kalian bisa cari gan charger yang 65 watt yang ukurannya kecil, jadi enak dibawa kemana-mana juga. Plus bisa dipakai untuk ngecas handphone kalian juga. Tapi sebenarnya agak-agak gimana gitu ya hitungan dari Advan karena menurut saya pribadi, secara prosesor 3200U ini dia punya 15 watt untuk TDP-nya. Tapi dia kasih charger 65 watt. Harusnya sih ya 45 watt aja udah lebih dari cukup. Dan ditambah lagi untuk kapasitas baterainya yang enggak gede-gede banget, dia cuman 45 watt hour. Nah, jadi jujur aja masih tergolong overkill kalau kita pakaiin 65 watt. Oke, sekarang kita masuk ke bagian performance, gimana kombinasi dari Ryzen 3 3200U, lalu RAM 8 giga, dan SSD 256 Gen 3-nya. Pada pengujian Cinebench R23, kita di mode charging, kita dapat rata-rata di sekitar 1500-an dengan single core ada di 757. Sedangkan di mode battery only, mirip-mirip aja, tidak ada perubahan yang berarti. Tapi untuk single core-nya turun di 537. Kalian coba lihat grafik ini dan terbukti benar untuk suhunya maksimal ada di sekitar 65 derajat Celcius dan TDP-nya ada di sekitaran 15 watt. Jadi ya memang performance dari 3200 ini enggak jauh-jauh dari ini. Dan kalau kita lihat dari chart ini dan performance-nya, dan kalau kita bandingkan juga dengan N100 atau N150, lebih kencang di sana. Mulai dari efisiensi baterai sampai performance-nya. Pindah ke sintetis yang lain yaitu 3D Mark untuk stress test-nya ada di 96, berarti dia enggak lolos uji stress test. Tapi memang wajar ini bukan laptop gaming yang menuntut performance selalu konsisten. Dan untuk hasil Time Spy dan Fire Strike-nya juga enggak bisa dikatakan tinggi, kalian bisa lihat di layar ini. Masuk ke Premiere 4K di template yang seperti biasa kita pakai untuk rendering 4K, kita selesai dalam waktu 25 menit 50 detik lebih. Buset, ini lama banget. FHD-nya aja 19 menit. Dan untuk 3D rendering di Blender, CPU maupun GPU rendering-nya itu ada di 25 menit lebih. GG kalau kalian paksain rendering di laptop ini, wah siap-siap sih kalian harus jaga hati, jaga iman. Jangan sampai mulut kotor kalian keluar. Dan lagi-lagi faktornya memang keterbatasan dari prosesornya. Dan kalau kalian lihat chart ini pada Premiere Pro, untuk suhu maksimal ada di 65 derajat Celcius. Lalu untuk TDP-nya ditahan di 15 watt. Jadi sudah memang hakikatnya prosesornya seperti itu. Kalian enggak bisa berharap lebih. Kalau misal nih ya laptop ini bisa kita upgrade ke dual channel, ya meningkat sih cuman performance-nya enggak akan jauh-jauh dari performance yang kita tunjukkan ini. Lanjut ya untuk real use skenarionya, kalau kalian pakai Office ini masih aman banget. Export PPT to PDF 150 slide, itu selesai hanya dalam waktu kurang dari 20 detik. Ini lumayan cepat. Lalu Excel dengan random is data yang gede, itu selesai di 133 detik. Untuk pembanding aja ya, jadi kalau kita compare dengan Intel Core i5 13420U, itu random is data masih selesai di sekitar 50 sampai 60 detik. Jadi ya ini enggak buruk-buruk banget kok sebenarnya. Lalu untuk main game gimana nih? Dan udah kita uji dengan dua game dan ini bukan game-game yang triple A yang berat banget yang GPU bound. Kita lebih fokus ke game-game kompetitif. Valorant dengan setting grafik low dan resolusi FHD, itu rata-rata kita dapat di 31 FPS dan maksimal ada di 48 FPS. Dota 2 dengan setting grafik fastest dan dengan resolusi yang sama, kita dapat rata-rata di 21 FPS dengan maksimal 38 FPS. Secara hasil di atas kertas memang enggak playable, tapi kalau kalian pengin banget main game di laptop ini, kalian turunkan resolusinya di 720p. Harusnya sih ya, kalau Valorant akan bisa dapat di 50-an FPS, Dota setidaknya di sekitar 30 sampai 40 FPS rata-rata masih dapatlah itu. Nah, untuk baterainya gimana nih? Kan tadi sudah kita spill, kapasitasnya ada di 45 watt hours dan untuk tahun ini jujur saja itu kapasitas yang sangat kecil. Dan dengan CPU jadul yang 12 nanometer-nya, itu kita dapat lama waktu lebih dari 5 jam. Sebenarnya 5 jam bukan waktu yang lama banget gitu ya. Tapi kalau kita untuk real use skenario-nya, kalian pakai untuk YouTube streaming 10 menit itu cuman berkurang 1%, lalu kalau untuk ya ketik-ketik itu juga berkurang 1%, dan kalau kalian pakai main game dalam 10 menit itu sudah berkurang 10%. Nah, untuk perihal speaker-nya jujur saja nothing special, walaupun ya di atas ini kayak ada lubang untuk speaker, tapi ini cuman gimik doang. Speaker-nya itu hanya ada di bagian bawah kanan dan kiri. Apalagi nih yang belum kita bahas? After sales. Dan kalau kita ngomongin after sales untuk produk Advan, itu salah satu produk yang cukup terkenal ya untuk produk-produk lokal. Secara service center, ini cukup luas dan cukup banyak ada di Indonesia. Jadi, kalau laptop ini bermasalah karena Advan kasih laptop ini garansi 1 tahun, harusnya sih aman selama masa garansi. Kalau di luar masa garansi, hmm, kalian yang punya pengalaman, coba tulis deh di kolom komentar. Oke, kesimpulan dari laptop ini untuk sebuah laptop di harga 4 jutaan, ya memang harusnya sih better kalau kalian pembandingnya adalah N4020 atau N4000. N kalau 4000 mungkin sudah enggak banyak ya di pasaran, tapi N4020 di brand-brand internasional kayak Lenovo, Acer, itu juga masih ada. Asus juga masih ada. Ya, jauh lebih powerful di laptop ini. Tapi kalau kalian bandingkan dengan ini secara performance ya, dengan N100 atau N150 Acer Aspire, itu juga ada. Secara performance lebih bagus di sana dan efisiensi baterainya jauh lebih bagus di sana juga. Tapi kalau kalian cari value lebih, contoh kayak layarnya yang touchscreen, walaupun secara touchscreen-nya ya, masih entry level bangetlah ya. Tapi dapat layar IPS juga dengan view angle yang luas, lalu kalian pakai untuk edit-edit video vertikal yang 1 menit yang efeknya enggak banyak-banyak, ini juga masih mampu. Dan yang paling penting juga dia soket. Jadi kalau misal nih ya, harga RAM-nya tiba-tiba sudah turun jadi normal, kalian bisa upgrade ke 16 giga. Secara otomatis itu akan ningkatin performance multitasking-nya. Nilai minus di laptop ini jujur saja kalau saya pribadi ada di bagian layar yang nits-nya atau tingkat kecerahannya itu rendah banget. Jadi kalau dipakai di semi outdoor, itu enggak enak banget. Bahkan kalau ditembakin di lighting yang kayak gini, sudah kalian enggak bisa lihat tulisannya sama sekali. Lalu di storage-nya yang menurut saya pribadi juga terlalu kecil di 256 giga. Upgrade-an Windows sekarang saja sudah gede-gede. Jadi, ini default ya, kalau kita enggak instal apa-apa saja itu sudah makan kurang lebih sekitar 40 giga-an. Oke, cukup sekian. Gimana nih kalau kalian punya budget di angka sekitar 4 sampai 5 jutaan, kalian bakal pinang laptop touchscreen ini enggak? Coba kalian tuliskan di kolom komentar. Saya Rico. See you on the next video. Bye bye.

Lihat di YouTube