LAWAN BERAT iMac ! Lenovo Yoga AIO Gaming RTX 4050 ! (YouTube Video)
Itu cuma salah satu fitur keren yang ada di PC all in one ini. Fitur lain banyak kayak resolusinya udah 4K, udah 100% sRGB. Tapi apakah cuma itu aja? Banyak sih. Yuk, kita bahas. Kalau kita ngintip di PS ref-nya Lenovo. PS Ref ini kayak semacam website detail spesifikasi dari semua brand Lenovo ya. Di atas kertas spesifikasinya layarnya ini 31,5 inch gede hampir 32 inch. Terus resolusinya UXD alias 4K pakai panel IPS. Skalar gambutnya diklaim sampai 97% di CP3 dan kecerahannya di angka 495 Nit. Yang harusnya dengan spesifikasi ini udah cocok untuk kebutuhan grafik desainernya DKID. Si Nadif. Pas kita tes sendiri ada yang sesuai dengan klaimnya, bahkan ada yang di atasnya tapi ada juga yang di bawah klaimnya atau overim. Enggak sesuai klaimnya dulu. coverage DC IP3 itu yang kita dapat pas kita tes ya itu di 93% jadi agak meleset dikit dari angka brosurnya tapi untuk sRGB-nya dia udah tembus di 100% plusnya untuk angka brightness-nya dia malah ngasih bonus klaimnya itu kan di 495 nits ya nah di pengujian kita dia tembus di 524 nit untuk ukuran all-inone yang sebenarnya buat indoor aja ini sih udah terang banget dan kebetulan memang ini bakalan dipakai sama grafik desainnya di KID yang biasanya bikin bikin thumbnail, bikin postingan [musik] di Instagram, bikin borosur lah ya di DKID itu dia sayangnya memang kedapatan ruang kerjanya itu dekat jendela. Jadi 500 harusnya aman buat si Nadif. Terus layarnya ini juga udah support sama sertifikasi display XDR 600. Artinya kalau dipakai nonton film atau main game yang support XDR, [musik] separasi bagian gelap dan terangnya jadi jauh lebih kontras dan kelihatan sinematik banget. Ingat ya, ini yang display HDR 600 bukan Vesa 400. Jadi kontrasnya lebih tajam. Highlight kayak warna putih, pantulan cahaya atau ledakan juga bisa dibost sampai sekitar 600 nits. Jadi [musik] lebih nendang tanpa bikin detailnya hilang. Tapi ingat, kondisi HDR ini bakalan cuma aktif kalau konten yang diputar itu juga HDR ya. Kalau misalkan kontennya enggak HDR ya balik lagi ke HDR. Coating layarnya saya suka sih ya dia glossy. Walaupun memang kalau sekarang itu zamannya mid, tapi Mid itu biasanya untuk device-device yang [musik] dipakai di outdoor karena ada anti reflectif-nya. Glossy ini kalau dipakai indoor cakep banget sih. Dia lebih mewah, terus warnanya juga lebih gonjreng, warna-warna juga lebih keluar gitu. Tapi sayangnya kalau kita lihat baselnya ini masih lumayan tebal ya. Walaupun kalau saya lihat si buah-buahan juga sama sih. Baselnya juga seginian. Mungkin ini efek saya kebanyakan ng-review HP dan laptop yang frame-nya tipis ya. Jadi standar kepala saya untuk produk flagship sekarang. Kalau basel enggak tipis [musik] berasa pengen protes aja gitu. Tapi ada satu hal lagi yang pengen saya protes ke Lenovo sih untuk adjustment-nya. Ini dia cuman bisa di tilt atas bawah kayak gini, kanan kiri enggak bisa. Untuk adjustment-nya juga enggak bisa. Jadi minim banget. Padahal menurut saya ya buat sebuah all inone segede ini kalau tingginya bisa dinaik turunin kita bisa lebih gampang nyesuaiin sama posisi duduk biar leher itu enggak ikutan olahraga tiap hari. Terus kadang itu kan saya ngecek kerjaannya Nadif ya, desainnya [musik] kayak gimana. Nah, dia enggak bisa diwivel. Jadi saya harus ekstra dekat sama Nadif. Padahal Nadif itu cowok kan. Enggak enak ya kalau terlalu dekat sama cowok ya. Kalau bisa diwiffel kan lebih mudah untuk dipresentasikan. [musik] Tapi jujur kalau secara desain saya suka sih ya. Dari depan kelihatan clean dan simpel, dari belakang kelihatan mewah. Jadi kalau nempel di jendela dan dilihat dari luar enggak malu-maluin. Britinya juga metal, standnya berasa kokoh. Kalau kita selente dikit, aduh selentik apa bahasa Indonesianya? Selentik itu kita giniin lah. Saya enggak nemu bahasa Indonesia yang tepat buat selentik. Tapi kalau kita selentik masih kelihat build quality-nya itu cakep. Jadi saya aja yang sakit nih sekarang. Untuk spesifikasinya juga enggak kalah cakep dibandingkan sama layarnya. Prosesornya pakai Intel Core Ultra 7258V dengan arsitektur Lunar Lake dengan 8 core 8 trade dengan max speed-nya di 4,8 GHz. Untuk TDB-nya ada di 8 sampai 37 watt. Tapi kalau mode idle akan super hemat pas kita ukur pakai wattmeter keseluruhan cuma jalan enggak sampai 40 watt. Padahal itu lumayan fullot. Kita juga udah tes di beberapa pengujian sintetis untuk PC all-in-one ini dan hasilnya rata-rata kita dapat di 9.977 poin dan single core-nya di 1978 poin. Dan kalau kita lihat chartnya, suhunya lumayan gokil sih ya. Suhunya itu bisa ditahan di bawah 60 derajat celcius. Spek-speknya paling di 70 sampai 80-an. Itu pun untuk spike pertama aja. Dan TDP-nya ada di rentang 30-an watt. Dan spek pertamanya itu sampai di 40-an watt. Hemat daya banget. Padahal hardware-nya ada di bawah loh. Kan biasanya kebanyakan all inone lain itu ada di bagian belakang layar dengan ruang yang cukup sempit. Dia bisa lebih ngasih konsistensi dengan performa yang lebih gokil. Oh ya, enggak cuma prosesornya aja yang kencang, RAM-nya juga kita dikasih yang gede plus kencang. RAM-nya itu [musik] 32 GB dengan speed-nya di 8.533 me transfer per second. Tapi karena ini LP ya, low power, jadi enggak bisa di-upgrade. Untungnya dari pabriknya udah dikasih 32 GB, jadi enggak perlu upgrade RAM lagi. Storage juga udah dikasih langsung 1 TB. Speed-nya juga lumayan kencang dengan rate-nya 6500-an MbS. Wide-nya di 5800 Mbps untuk GPU walaupun ini all-inone tapi ada GPU-nya, cuy. Dia pakai RTX 6 GB dengan GDDR6 dan TGP-nya bisa tembus di 80 watt. Ya, ini GPU GPU yang low power lah 80 wat karena memang kalau dikasih yang 100 wat lebih ya enggak bisa form ve factornya all inone bukan PC. Tapi harusnya cukup lah ya untuk kebutuhan Nadif. Mau render video 4K pun juga harusnya cukup. Tapi Nadif ini kerjaannya kebanyakan di Photoshop, Illustrator Plus cukup juga lah ya untuk wave dia kalau misalkan lagi nyolong-nyolong main game pas jam kerja. Tapi di DKID itu mau main game bebas kok, pasal kerjaannya kelar. Jadi kerja di DKID itu enak, Guys. Udah difasilitasi laptop pakai aja PC pakai aja. Jadi gimana? Minat gak? Kalau ada yang minat coba ngelamar di komen ya. Lanjut ke 3D Max. Untuk skornya enggak kaget melihat konsistensi performanya di Cineb tadi. Konsistensi performanya nyari sempurna di 99,6% enggak ada throttle. Dan untuk skor lainnya kalian bisa lihat di chart ini ya untuk driver 3D Mark-nya. Lanjut kita tes untuk real iew scenario performanya kayak gimana. Jujur ya, ini buat Nadif sih terlalu overkill sih. Karena saat kita pakai rendering Premiere 4K aja selesai dalam waktu 1 menit 36 detik. Nah, kalau rendering full HD cuma 56 detik aja. Dan kalau kita pakai buat rendering 3D di CPU rendernya dapatnya 4 menit 14 detik. Dan kalau pakai GPU rendernya cuman 25 detik. Cepat banget. Kalau untuk suhunya ketika Premiere Pro itu bahkan lebih dingin ketimbang cine Bandch tadi ya jelas. Terus CPU render pakai blender ini jarang-jarang loh ya kita bisa stabil di bawah 60 derajat celcius. Kayaknya memang dijaga di [musik] bawah 60 deh. Lihat aja nih char-cat ketika kita render pakai GPU, pakai CPU di blender. Jadi buat editing motion graphic sampai 3D ringan menengah combo CPU Intel Core Ultra 7 258V dan RTX 4050-nya ini lebih dari cukup. Tapi kan DDK ID itu sebenarnya nge-game itu saya tetap anggap kerja karena nge-game itu termasuk band SARK. Jadi sama Nadif kemarin juga dites buat gaming ya. Saya anggap kerja lah ya walaupun gaming. Dan hasilnya untuk resolusi 4K di gameering wave dengan graphic quality enggak ada kendala sama sekali. Dapat FPS maksimal di 60-an dan kalau kita aktifin smooth motion-nya kita dapat rata-rata di 107 FPS dengan maksimal di 120 FPS. Lanjut ke game yang CPU bon kayak Dota 2 di 4K dan base looking dapat FPS sampai 124 FPS dengan rata-rata di 98 FPS. Followo sih malah tumpah-tumpah ya dengan rata-ratanya di 168 FPS dengan grafik mentok rata kanan. Suhu CPU dan GPU saat dipakai nge-game juga relatif dingin pada beberapa game yang sudah kita coba, jarang banget menyentuh di angka 70 derajat celcius dengan power kalau kalian lihat chartnya yah sedikit aja dia enggak butuh power banyak-banyak di CPU baik GPU-nya. Suu permukaan di bagian atas modul hardware-nya juga tergolong adem. Walaupun tadi kita bermain game-game itu paling mentok cuma di sekitar 30-an derajat celcius aja. Kenapa ini penting? Karena tepat di bagian atas ini ada wireless chargernya juga dengan output maksimalnya 15 watt. Secara teori wireless charging itu cenderung bikin device lebih cepat panas. Tapi dengan suhu permukaan yang cuma segini harusnya aman banget buat HP kita. Sekarang kita coba bahas seberapa rakusnya sih si AIO yang pakai RTX 450 dengan Intel Core Ultra 7 ini. Wah, pasti boros listrik nih. Seperti biasa kita ukur pakai wattmeter langsung dari colokan. Jadi ini angka ril bukan hasil tebak-tebakan ya. Pas booting daya puncaknya sempat nyentuh di sekitar 97 watt. Waktu CPU kita geber fullot konsumsi maksimalnya ada di kisaran 85,7 watt. Buat render 3D di Blader tadi naik sekitar 134 wat dan pas diajak main Cyberpunk paling tingginya itu tembus di 150 watt. Tapi kalau kita pakai untuk kerja ringan aja kayak ngetik browsing dayanya turun jauh sih ya. idlenya itu cuman sekitar 37 watt. Jadi enggak setiap hari dia ngisep listrik segila pas gaming tadi. Dan saya juga sempat tanya ke chat GPT berapa biaya bulanannya kalau misalkan dengan skenario tadi ya. Biaya bulannya kalian lihat di sini aja karena ya murah sih. Satu gelas kopi lah kira-kira sebulan. Untuk audio. Wah audionya ini menurut saya anomali sih karena dia tipe yang menjawab kritikan kalau all-inone one itu kualitas audionya pasti jelek. Di sini kayak apotek tutup alias enggak ada obat. berkat dua titer di bagian bawah dan dua woover di bagian punggung yang y demonya kira-kira seperti ini. Selain punya otak utama prosesor yang kencang tapi hemat daya tadi, jelas prosesor dan juga GPU-nya ini punya yang namanya NPU. [musik] Jadi dia bisa AI on device juga. Kalian bisa panggil copilot langsung dari desktop buat bantu ngeringkas teks, nyusun email atau minta ide desain atau script buat yang kreatif visual. Ada fitur kayak cocreator [musik] di paint. Enggak perlu bisa gambar, tinggal coret-coret gambar. Ai-nya bantu rapiin. Jadi gambar yang lebih proper, cuma modal prom aja. Terus ada fitur copilot recall. Nah, ini enak sih buat saya. Saya bisa pantau si Nadif ini pakai all inone ini ngapain aja dari history dia pakai recall ini. Menarik. Enggak cuma itu, ada Live Caption, ada Windows Studio Effect yang harusnya kalian semua udah pada tahu lah ya. Dan sekalian aja lah kita tes kameranya dengan Windows Studio Effect kira-kira seperti ini. Uh, gila gede banget ya MP-nya. Jadi kerasa lebih gede. Coba kalau misalkan Windows Studio Effect-nya ini kita matikin. Wah, baru kelihatan tuh [musik] setup saya. Seberantakan apa. Kalau di video enggak terlihat berantakan kan. Aslinya lihat sendiri aja deh. Berantakan banget. Terus ada dari Lenovo sendiri ada yang namanya Lenovo AI Now. Ini semacam pusat kontrol fitur AI yang ada di device ini. Jadi daripada AI-nya terpencar di mana-mana, kalian punya satu tempat buat ngatur dan akses fitur-fitur AI yang didukung Lenovo [musik] dan Windows. Semua itu diproses lewat NPU ya, jadi lebih halus, tetap iri daya tanpa membebani si CPU-nya dan enggak perlu internet. Kalau untuk performa AI on device-nya, perpaduan antara CPU, GPU, dan NPU-nya udah cakep banget saat kita tes di Muse AI. Jager Note dia selesai cuma dalam 1 detik. Stable diffusion XL turbo cuman selesai dalam waktu 4 detik. Lanjut ke bagian port dan konektivitas. Ngomongin portnya ini mahal semua type E-nya aja dua buah plus satu buah type C semua yang versi 10 Gabbit/ second. Terus ada satu buah Thunderbolt kalau butuh transfer [musik] data ekstra cepat atau connect ke exsternal GPU. Tapi yang bikin sebel peletakan portnya itu di belakang. Jadi kalau misalkan mau ngonek-ngonekin ya harus ke belakang [musik] dulu ya. Agak meraba-raba lah. Harusnya kalau misalkan di depan atau taruh pinggir menurut saya akan lebih enak lagi sih. Untuk Wii dia juga udah futur proof. Dia pakai WiFi 7 dan Bluetooth-nya pakai Bluetooth versi 5.4. Fitur lain-lain di dalam boknya kita udah dapat satu paket. Jadi ada keyboard plus mouse yang juga udah wireless. Keyboard-nya tipical keyboard sekarang lah dengan loop profile full size dengan padet. Enak buat kalian yang banyak input angka atau sering main Excel spredsheet. Travel key-nya pendek tapi masih ada rasa tagta atau kliknya. Jadi ngetik [musik] script panjang masih nyaman. Kalau untuk mous-nya feel-nya enak. yang bikin kerasa seri height-nya itu ada di finishing-nya beda, agak keset dan enak banget digenggam, enggak licin. Untuk konektivitas mouse dan keyboard-nya bisa jalan pakai dongle wireless atau lewat Bluetooth jadi fleksibel. Mau dipasangkan ke refres lain pun juga bisa. Tuh, lihat setup saya auto rapi. Buat yang mau ngulik lebih jauh, kalian juga bisa download software namanya Lenovogo Central buat ngatur fungsi beberapa tombol tambahan di mouse. Jadi, bisa [musik] di-et shortcut custom makro yang sesuai dengan workflow kalian. Untuk garansinya si Lenovo ini dia dapatnya itu 3 tahun premium care. Jadi Lenovo ready 24/7 kalau kita ada problem dan kalau nanti amit-amit ada masalah ada layanan onset service juga. [musik] Jadi kalian enggak perlu repot bawa all-in 32 inch segede ini ke service center. Telepon aja teknisinya bakal datang. Aduh untuk harganya jujur ketika video ini dibuat saya yang belum tahu ya. Tapi kalau kita prediksi harusnya sih di atas 30 lah ya dengan spesifikasi [musik] kayak gini mungkin ya karena dia all-inone. Tapi nanti kalau misalkan harganya udah ada bakalan saya update di deskripsi sama di judul mungkin. Oke, kesimpulannya pertama kita bahas minusnya dulu lah ya. Minusnya RAM-nya solder jadi enggak bisa di-upgrade tapi untungnya udah dikasih 32 GB. Kedua, stann-nya cuma bisa diklik doang, enggak bisa naik turun. Terus ketiga, baselnya agak tebal. Keempat, peletakan portnya lumayan bikin gemes karena agak repot kalau mau colok kabel harus ke belakang. Dan terakhir, kalau misalkan cuma dibuat ngetik-ngetik Word Ale, jujur menurut saya ini kemahalan ya. Kalau plusnya ini banyak banget jelas dari layarnya yang super cakep dan gede. Apalagi resolusinya 4K dijamin nadif. Grafik desainer kita betah nongkrong di depan sini. Terus spesifikasi CPU dan GPU-nya kencang. Ada wireless charging 15 watt. Audionya juga enggak ada obat. Enak banget. Fitur-fitur AI dan Copilot Plus yang bakal kepakai banget. dan ekosistem Microsoft yang makin ke sini juga makin matang secara software. Jadi sekarang pertanyaannya all-inone ini cocok buat siapa? Jelas buat desainer, profesional kator, editor, dan pekerja hybrid yang butuh layar gede dengan meja rapi tapi tetap butuh tenaga besar buat kerja dan sedikit gaming. Kalau kalian cuman kerjanya ngetik-ngetik Zoom, Google Meets, masih banyak pilihan OL Lenovo yang lebih terjangkep. Udah jelas kalau kita lihat dari spesifikasinya walaupun saya belum tahu harganya ya udah saya tebak sih ini bukan untuk semua orang bukan untuk kamu menang mending nantilah link deskripsinya bakalan saya cantumin di deskripsi atau kalian bisa cek di offline store-nya Lenovo atau marketplace resminya Lenovo. Saya di and see you on the next video. Bye bye. [musik]
