Layar Besar dgn QD Mini LED, Bisa 120 Hz, Harganya Cuma Segini? - Review Smart TV Changhong QN9! (YouTube Video)
Smart TV 4K layar besar ini harganya relatif terjangkau tapi fiturnya kekinian sekali. Ini adalah Changhong M75 QN91. Changhong menawarkan Qlet Pro dan Mini LED lengkap dengan fitur local diming untuk mendukung kualitas tampilannya. Ini dibuktikan dengan janji dukungan white color gambut sampai 93% DCI IP3. Viewing angle dijanjikan sampai 178 derajat. Ada juga DLG yang membuat TV ini bisa menukkan refresh rate sampai 120 Hz. Untuk audio, Changhong menawarkan dukungan untuk Dolby Audio dan DBX TV di TV ini ya. Menjanjikan kualitas suara yang mantap tentunya. OS-nya pakai Google TV dong. Jadi banyak fitur khas OS tersebut yang bisa dijumpai di TV ini, termasuk Chromecast Buildin, intelligent voice control, dan tentunya dukungan aplikasi yang melimpah. tidak ketinggalan fitur-fitur gaming seperti VRR, ALM juga sudah ada di TV ini. Oke, langsung kita mulai pembahasan smart TV yang unik satu ini. [Musik] Ya, Changhong merek yang satu ini terbilang sudah lama sekali mengadikan produk mereka ke Indonesia. Bahkan kalau untuk TV mereka sudah ada sejak eranya TV tabung loh sebetulnya terbilang udah lama banget mereka masuk Indonesia ya. Nah, Changong ini baru saja membawa salah satu kreasi terbaru mereka ke Indonesia. Smart TV lini QN9 yang akan kita bahas kali ini. Ini adalah Smart TV dengan QD mini LED yang hadir dengan tiga pilihan ukuran, ada 55, 65, dan yang kita review kali ini adalah yang 75 inci. Langsung aja kita bahas ST. Ini mulai dari isi paket penjualannya tentunya ada unit smart TV-nya di sini. Lalu ada dua buah stand lengkap dengan set bautnya. Ada kabel power, remote Bluetooth, set baterai untuk remote, convverter AV in, dan ada paket dokumen. Untuk desainnya sekarang kita lihat ya. Changohong itu menggunakan metal frameless desain untuk smart TV yang satu ini. Body belakang menggunakan warna abu-abu tua mendekati ke arah hitam. Sementara bagian bawah TV menggunakan warna silver grey. Tebal bezel sisi kiri atas dan kanan memang hanya sekitar 80 mm saja. Jadi untuk layar tipis sebesar ini bezelnya terlihat tipis. Untuk bezel bawah layar memang sedikit lebih tebal tapi ini wajar ya. Ada logo Changhong di bagian kiri bezel bawah ini. Lalu ada area menonjol di tengah dasar TV. Ini merupakan tempat dari beberapa sensor dan ada juga satu tombol pengendalian di dasar area ini. Speaker ditempatkan di dasar TV di area kiri dan kanan. Nah, untuk stand desainnya ini flat ya, bukan seperti kebanyakan Smart TV saat ini yang pakai desain V terbalik gitu ya. Stan ini ditempatkan agak ke pinggir TV dengan total lebar 162 cm. Jadi kita akan butuh meja yang cukup lebar untuk TV yang satu ini. Secara umum stan ini terbilang kokoh, tapi stan ini hanya mengangkat TV sekitar 3,5 cm dari permukaan meja. Ini membuat kita harus menetekan soundbar di depan TV kalau kita mau pakai tambahan soundbar. Nah, untuk dimensinya tanpa stan 167 * 96,5 * 9,5 cm dengan stan 167 * 100 * 26 cm. Oke, sekarang kita lihat ke sisi belakang. Terlihat di area bawah itu ada bagian yang lebih menonjol. Ada lubang mounting 400* 200 mm di area ini. Ini tentunya untuk masangan bracket ya. Kalau memasang TV di dinding atau mau pakai elengan mungkin ya. Nah, di area kiri ada konektor AC input. Ini tentunya untuk memasang kabel power. Sementara di sisi kanan dan kanan bawah area tersebut ada konektor IO. Beberapa konektor menghadap ke samping dan ada juga yang menghadap ke bawah. TV ini memiliki spesifikasi sebagai berikut. Untuk layar ukurannya tentunya yang kami uji adalah 75 inci. Resolusinya 4K 3840 * 2160 piksel. Untuk refresh rate dia 60 Hz di resolusi 4K tapi dia bisa naik ke 120 Hz di resolusi 1080p dengan menggunakan DLG. Teknologi layarnya menggunakan Quantum Dot. Untuk backlight-nya dia pakai mini LED dengan local dimming di 112 zona. Untuk HDR-nya dia punya Dolby Vision, HDR10, dan HLG. Layarnya dikelim menggunakan panel 10 bit yang menawarkan 1,07 miliar warna. Saat kami coba 10 bit ini bisa deteksi kalau kita pakai resolusi 1080p. Sebenarnya kalau kita pakai 4K hanya terdeteksi di 8 bit aja. Untuk audio dia pakai dual speaker. Ini sudah mendukung Dolby Audio dan Dolby Atmos. Dan ada juga dukungan untuk DBX TV. Untuk OS dia pakai Google TV dan perangkatnya ini pakai RAM 2 GB dengan storage 16 GB. Dia punya Google Assistant dan Chromecast Buildinn-nya pastinya tersedia di sini. Untuk aktivitas dia pakai Wii dual band, ada Bluetooth, ada Ethernet juga. Nah, untuk TV tentunya sudah support di VBT2 yang digunakan untuk TV digital di Indonesia. Menonton siaran TV digital lokal cukup pasang antena aja. Kelihatan ya di sini ya kita bisa dapat banyak banget siaran TV digital lokal ya. Nah, terkait spesifikasi Changhong menyebutkan kalau ada perbedaan spesifikasi antara ukuran 75 inci ini dengan ukuran yang lebih kecil. Tentunya untuk ukuran 75 inci ini termasuk yang paling premium dan paling lengkap. Untuk konektor atau IO-nya kita mulai dari konektor yang menghadap ke kanan dari atas ke bawah ya. Di sini ada dua USB 2.0 lalu ada dua port HDMI 2.1 ya. Port dengan label HDMI 2 atau HDMI 2 ini mendukung HDMI arc atau Earc. Sementara untuk konektor yang menghadap ke bawah dari kiri kanan di sini ada Ethernet digital out AV in 3,5 mm, analog audio out 3,5 mm, antena in, dan 2 HDMI 2.1. Nah, seperti Smart TV dengan Google TV pada umumnya, untuk setup awal kita diminta menghubungkan TV ke internet dan masuk ke akun Google kita. Setelah proses setup awal, TV sudah bisa kita gunakan untuk menikmati konten. Secara standar YouTube dan Netflix sudah tersedia. Sementara untuk berbagai aplikasi streaming lain, shortcut-nya sudah tersedia di halaman utama Google TV. Tapi kalau mau dipakai harus kita download dulu tentunya. Nah, download-nya lewat mana? Tentunya lewat Google Play Store dong ya. Nah, setelah bisa download aplikasi-aplikasi yang shortcut-nya sudah tersedia di halaman utama, ada banyak sekali aplikasi lain yang tersedia di Google Play Store-nya. Ini seperti biasa melimpah aplikasinya di sini. Nah, kalau mau menghubungkan TV ini ke perangkat lain, ada empat port HDMI. Bisa dipakai untuk menghubungkan TV ke konsole game, laptop, PC, desktop, dan lain sebagainya. Saat kami coba hubungan dengan laptop, kami bisa langsung mendapatkan resolusi 4K di refresh rate 60 Hz tanpa masalah ya, baik dalam mode SDR maupun HDR. Eh, tadi kita bisa sampai 120 Hz. Nah, kalau mau pakai 120 Hz kita harus aktifkan dulu fitur DLG di menu setting. Saat DLG aktif, kita bisa pilih refresh-nya 120 Hz, tapi resolusi layarnya akan turun ke 1080p. Oh ya, kalau kita mau menghubungkan TV ini ke perangkat yang agak tua, kita tentunya bisa pakai input AV inin dan kita bisa pakai converter yang tersedia di paket penjualan atau mau casting konten. Nah, ada Chromecast Buildin di sini. Jadi, kita bisa dengan mudah casting konten dari smartphone atau laptop ke layar yang jauh lebih besar. Ini butuh putar file dari storage USB. Port USB di sini mendukung penggunaan storage berbasis USB dan TV ini bisa langsung membuka beberapa jenis file gambar, audio, dan video juga. Mau pakai keyboard untuk bantu ngetik misalnya buat login ke aplikasi atau cari judul konten tertentu, kita bisa pakai keyboard USB maupun pakai keyboard Bluetooth juga. Nah, untuk navigasi tentunya ada remote bawaan dari TV ini dan ini adalah remote Bluetooth ya. Desainnya masih pakai yang model banyak tombol seperti ini. Ada tombol navigasi di tengah dengan beberapa tombol penting terkait navigasi yang ada di sekitarnya. Remote ini juga mendukung voice input cre TV dengan menahan tombol yang satu ini. Contohnya seperti ini. Open Netflix. Opening Netflix. Oke, langsung aja kita coba sekarang si Smart TV ini untuk menikmati konten layar 75 inci di TV ini. Tentunya terasa sangat lega ya. Ini membuat menikmati konten tuh jadi terasa lebih seru, lebih imsif lah bahasa kerennya ya. Nah, bagaimana kualitas tampilannya? Secara umum di berbagai mode tampilan ini sudah cukup berwarna dia ya. Saat kami coba ukur di mode standar dan vivit, gamut coverage-nya ada di kisaran 99% sRGB. Tapi untuk gamut volume-nya ini cukup jauh di atas 100% sRGB. Ini membuat saturasi warna terasa tinggi, tapi menurut kami agak kurang rapi aja. Warna merah kadang tampil terlalu kuat gitu ya, agak terasa mengganggu kenyamanan mata. Tapi tetap saja ini bukan tampilan yang terasa tidak berwarna jadinya ya. Malah. Sementara untuk mode movie, Changhong terlihat berusaha menawarkan akurasi warna yang lebih baik dengan mengatur agar gamut volume cukup dekat dengan gamut coverage. Sayangnya ini buat gamut coverage dan gamut volume DS RRGB turun ke sekitar 80% saja dan ini membuat tampilan jadi terasa agak kurang berwarna di sini. Secara umum kualitas tampilan yang ditawarkan TV ini terbilang memadai. Masih wajar untuk smart TV layar besar dengan harga yang cukup terjangkau ini. Nah, hal lain yang kami ditemukan terkait tampilan warna ini di mode Vivit secara standar Changhong mengaktifkan opsi blue stretch. ini membuat tampilan jadi agak kebiruan. Selain itu yang satu ini juga sedikit berpengaruh ke color gamut tampilan layar. Nah, kalau fitur yang dimatikan, gamut covers ada di kisaran 99 sRGB, tapi gamut volume-nya turun dari 160% sRGB ke 150% sRGB dengan pergeseran terlihat lebih banyak di area warna biru. Terkait dengan fitur yang satu ini mungkin lebih pas disesuaikan saja dengan preferensi masing-masing. Apakah sebaiknya dibiarkan hidup di mode Vivit atau perlu dimatikan? Nah, bicara soal kedalaman warna gelapnya ya smart ini terbilang menawarkan kedalaman yang sangat baik. Ini tentunya efek dari mini LED dengan local diming. Saat kami coba cek, local diming juga terlihat bekerja dengan baik, khususnya kalau diatur ke setting high. Kontrasuran juga terbilang tinggi di sini. Nah, bagaimana dengan tingkat kecerahan layarnya? Baik di mode SDR maupun HDR, tingkat kecerahan maksimal yang bisa ditawarkan TV ini ada kisaran 380 nitz. Ini memang bukan yang super terang, tapi ini secara umum sudah mencukupi untuk kebanyakan orang. Terlebih lagi kalau TV-nya memang digunakan di ruangan yang tidak banyak jendela atau ya gordennya ditutup. Oke, kalau kita bicara soal HDR, kami merasa bahwa HDR-nya belum tampil dengan optimal. Detail tampilan di area terang kadang masih belum bisa dipertahankan. Agak sedikit hilang detailnya, ya. Nah, bagaimana untuk Dolby Vision? Kami coba di Netflix dan ini ternyata berjalan dengan baik. Ada beberapa preset khusus Dolby Vision yang tersedia di TV ini, termasuk Dolby Vision Vivit, Dolby Vision Bright, dan Dolby Vision Dark. Oke, sekarang kita lihat viewing angle-nya. ini udah cukup luas, tapi memang masih ada sedikit pergeseran warna dan kontras tampilan saat kita melihat ke arah layar TV dari sisi yang ekstrem ya dar dari samping gitu. Untungnya ini tidak sampai yang benar-benar membuat warna tampilan berubah total sampai mengganggu kenyamanan saat nonton. Nah, fitur MEMC tersedia TV ini dan secara otomatis diaktifkan di berbagai preset tampilan. tentunya ini agak kurang pas untuk nonton film ya yang model-model film layar besar itu. Itu agak kurang pas di sini karena itu akan membuat film jadi terasa kurang natural dan kehilangan efek cinematik. Nah, kalau kalian tidak merasa membutuhkan MYMC tersebut, ini bisa dinonaktifkan lewat opsi MJC di advance setting setiap preset tampilan. Untungnya saat kita nonton konten yang pakai Dolby Vision, fitur ini secara standar tidak aktif di beberapa preset tampilan khusus mode ini ya. Nah, oke sekarang kita bicara soal upscalernya. Bukan yang luar biasa di sini, tapi setidaknya bisa mengangkat konten 720p jadi tidak terlalu pecah-pecah atau kehilangan detail tampil di layar yang besar ini. Masih terbilang mencukupilah. Oke, beralih ke audio. Kita coba dulu dalam kondisi standarnya. Nah, di kondisi ini Dolby Audio dan DBX TV sayangnya tidak aktif. Saat kami coba suara TV ini terasa biasa aja. Datar dan separasi suara agak cenderung kurang. Saat kami coba aktifkan Dolby audio, suara jadi baik. meningkat jauh dari kondisi standar, kedalaman suara dan separasi suara juga lebih terasa di sini. Demikian juga saat kita coba di BXTV, suara jadi jauh lebih nikmat didengarkan dengan fitur enhancement ini. Oh ya, saat di BXTV aktif, Dolby Audio tidak bisa diaktifkan dan ini berlaku juga sebaliknya. Jadi enggak bisa ngtifin bareng gitu ya. Tentu saja karakter suara yang ditawarkan oleh Dolby Audio dan DBXTV ini akan sedikit berbeda. Jadi coba aja dulu mana yang lebih pas untuk tera kalian. Tapi satu hal yang pasti aktifkan salah satu fitur ini. Aktifin aja biar lebih enak. Nah, kalau sistem audionya masih dirasakan kurang, TV ini juga masih mendukung sistem audio tambahan melalui output digital audio, analog audio, e arc, atau bisa juga pakai Bluetooth kalau mau. Nah, kalau kita bicara soal navigasi kan merasa bahwa ini masih belum terasa yang super-super mulus ya. Terkadang masih ada delay yang bisa jadi terasa agak mengganggu khususnya untuk navigasi di dalam aplikasi. Sementara untuk menu pengaturan semua dilakukan lewat menu standar bawaan Google TV. belum ada opsi pengaturan cepat yang tersedia pada TV ini. Untungnya semua menu pengaturan itu tampil sebagai overlay. Jadi kita bisa langsung merasakan efek perubahan yang kita lakukan. Nah, TV tuh harusnya kayak begini ya. Nah, oke. Sekarang kita coba Smart TV ini untuk main game. Saat kita pasang laptop ke TV ini lewat HDMI, TV akan otomatis masuk ke PC mode. Dan karena ada ALLM, mode game juga otomatis diaktifkan. Jadi post processing yang berpotensi menyebabkan input like itu dinonaktifkan dalam mode yang satu ini. Nah, oke. Bagaimana dengan VRR atau variable refresh rate? Saat kami coba agar VRR aktif di LG itu harus diaktifkan juga. Terlepas dari apakah kita mau pakai 4K 60 atau 1080/10 Hz, DLG-nya harus aktif. Jangan lupa juga cek setting untuk VRR. Pastikan sudah aktif. Jadi agar VR bisa digunakan memang kita perlu setting secara manual dulu. Oke, saat kita coba dengan laptop tif ini terdeteksi GSC compatible dan VRR bisa berjalan di rentang 48 sampai 60 Hz untuk resolusi 4K dan untuk 1080p dia bisa dari 48 sampai 120 Hz. Jadi saat main game ini udah bebas gangguan dari teering dan startering ya. Kami juga tidak merasakan adanya input lag. Mau pakai HDR di game juga bisa nih ya. TV ini langsung tersi mendukung HDR dan karakter HDR di game ini juga mirip dengan yang kami rasakan saat mencoba HDR untuk video tadi. Iya, memang fitur-fitur gamingnya bukan yang melimpah ruah gitu ya, tapi secara umum mainkan game di TV dengan layar sebesar ini tentunya akan membawa pengalaman yang beda, jauh lebih asik, dan setidaknya basic-basic fitur gaming itu sudah ada di sini ya, kayak VRR, ALRM tadi sudah ada semua di situ. Oke, untuk konsumsi daya karena ada fitur lokal diming, konsumsi daya TV ini bisa naik turun ya sesuai dengan tampilan yang ada di layar. Saat kami coba baik di mode non HDR maupun HDR, konsumsi daya di preset standar dan vivit ada di kisaran 100 wat sampai 190 watt. Kalau konten lebih dominan gelap bisa turun sampai sekitar 70 watt. Nah, kalau kita pakai preset energy saving, konsumsi daya bisa lebih ditekan maksimum cuma sampai 125 watt saja. Untuk TV 75 inci ini sebetulnya terbilang cukup rendah ya. Tapi kalau melihat berat tawarkan konsumsi ini memang terasa cukup wajar sih. Oke, untuk harganya Changhong QN9 series ini tersedia dalam tiga ukuran layar ya 75 inci yang kami uji yang harganya adalah di Rp13.999.000. Lalu ada yang 65 inci harganya di Rp9.999.000. Kemudian ada yang 55 inci harga di Rp6.999.000. Smart TV Changhong ini dilindungi garansi service dan spare part selama 1 tahun serta garansi panel selama 3 tahun. Oke, kita masuk dalam hal yang perlu diperhatikan. Pertama, refresh rate itu bisa nyampai 120 Hz, tapi hanya di resolusi 1080p dengan DLG yang harus diaktifkan. Lalu, navigasi terasa agak kurang mulus, khususnya di bagian aplikasi streaming. Kemudian MMC secara standar ini diaktifkan di berbagai mode tampilan. Harus dinonaktifkan secara manual kalau memang merasa tidak dibutuhkan. Kemudian tuning warna terasa agak kurang pas terlebih untuk mode movie yang warnanya terasa kurang. HDR juga kurang begitu mantap. Lalu saat muter konten 4K60, kami merasa tampilan masih belum mulus dan lancar. Terasa ada sedikit penurunan frame rate. Kemudian desain bagian belakang TV ini cukup menyulitkan pemasangan HDMI ke port yang mengarah ke bawah. Lalu, dia butuh setting manual untuk merasakan kemampuan terbaik dari TV ini, termasuk untuk audio serta fitur seperti DLG dan VRR. Trik kelebihannya ini layar besar 75 inci. Nonton jadi terasa seru di sini. Kemudian dia pakai mini LED dengan local diming membuat TV ini menawarkan kedalaman warna gelap yang mumpuni. Lalu dia pakai Google TV. Jadi dukungan aplikasinya juga melimpah. Di sini ada dukungan untuk HDR10, Dolby Vision, SLG juga ada di sini ya. Dia punya empat port HDMI dan semuanya sudah support input 4K60. Dia juga support HDMI ARC atau EARC di sini. Lalu sudah support VRR dan ALLM. Lalu walaupun hanya punya dua speaker, kualitas audionya terbilang sudah memadai. Selama kita aktifkan tuh ya mode Dolby Audio atau DBXTV-nya langsung mantap dia ya. Refresh-nya juga bisa nyampai 120 Hz walaupun di 1080p ya tapi ya tetap sudah ada 120 Hz-nya. Lalu resiko terjadinya burn in di layar ini kecil sekali karena ini tidak pakai layar OLED. Kemudian untuk tampilannya, tampilan juga terlihat modern ya dan konsumsi dayanya tergolong rendah untuk sebuah TV 75 inci dan ya tentunya udah siap untuk TV digital di Indonesia. Oke, Changhong M5QN91. Smart TV ini akan cocok untuk yang mencari TV layar besar dengan fitur masa kini tapi harganya masih tetap terjangkau. Smart TV ini memang punya fitur-fitur yang canggih ya. Tapi memang untuk merasakan kecanggihan itu kita harus melakukan setting-setting manual. Secara umum apa yang ditawarkan TV dari Changong ini terbilang menarik. Bukan yang sampai kelas premium, tapi melihat harganya masih terbilang terjangkau, apa yang ditawarkan oleh TV ini terbilang sudah sangat-sangat memadai. Singkatnya ini adalah smart TV yang layak dilirik untuk kelas harganya. Saya D Irfan Jaka TV.
