Layar Kecil Namun Fungsinya Banyak!! - Corsair Xeneon Edge (YouTube Video)
Hei, kalian tahu apa yang lebih keren dari satu monitor ultra wide? Dua monitor ultra wide. Ini adalah Corser Sinion Edge, sebuah sekidekick display berukuran 14,5 inch touch screen yang bisa ditaruh di setup atau di dalam PC kalian. Yes, layar ini magnetic, jadi bisa ditempel di casing yang memang support. Tapi so far gua baru makainya menjadi layar kedua aja di atas desktop. Monitor ini memang bukan ditujukan jadi layar utama, tapi jadi asisten yang nice to have aja. Kalian ingat enggak laptop Zenbook Duo? Ya, kurang lebih ini ingin menjadikan setup kalian mirip dengan ZenBook Duo. Kita mulai dari unboxing-nya dulu. Jadi, presentasi box-nya ini cukup mewah. Di dalamnya ada monitornya itu sendiri, tapi tidak ada manual book karena harus online dan bisa di-can di sini. Lalu ada standnya juga yang magnetic. Selain itu ada kabel HDMI braided, USBC to USBC, dan USBC to USB 2.0 untuk motherboard. Tujuan kabel USB 2.0 ini adalah kalau Sinion Edge-nya mau ditaruh di dalam casing. Nah, secara desain ini bentuknya ya corser banget. Build-nya ini kerasa industrial dan solid. Layarnya punya aspek rasio yang panjang banget yaitu 14,5 inch 32 b 9 dengan resolusi 2560 * 720. Ya, hampir kayak layar dashboard mobil mewah ya. Standnya juga lumayan solid. Standnya ini magnetik. Jadi hanya perlu dipasang kalau kita mau taruh di atas meja aja. Sementara di bagian belakang ada lubang untuk Vesa mount dan juga empat lubang sekrup yang bisa dipakai untuk mounting layar ini. Di dalam casing panelnya ini IPS dengan resolusi yang tadi kita udah bilang. Gambarnya lumayan tajam, viewing angle-nya luas dan ini krusial karena biasanya kalian bakal ngelihat monitor ini dari sudut yang agak miring kalau ditaruh di bawah. Akurasi warnanya juga terbilang lumayan. Enggak kelihatan murah kalau dijejerin dengan layar flagship. Namun tetap masih kalah dari layar OLED atau mini LED. Ngaturnya ini ada tiga opsi. Ada brightness, backlight, dan contrast. Dan yang benar-benar ngatur brightness adalah backlight. Untuk makainya kita tinggal colokin aja USBC to USBC-nya atau USBC to USB untuk power dan HDM DP-nya untuk display. Atau kalau USBC-nya support dengan display port, kita juga bisa pakai hanya satu USBC 2 USBC aja. Sebenarnya kalau bisa kita pengen ini layar tuh kompatibel pakai USB C 2A karena colokan USBC di mobo kita itu agak terbatas. Tapi kalau udah terpasang dia akan kebaca sebagai monitor kedua. Kita bisa instal IQ dan scan Senion H-nya buat nikmatin fitur-fiturnya dia. Jadi fitur utama dari layar ini adalah kita bisa memakai widget-widget yang ada di dalam IQ. Di sini ada volume control, media control, ada jam yang di mana ada digital dan juga analog. bisa nampilin gambar juga dan bisa pula monitoring suhu CPU dan GPU secara real time dengan tampilan yang minimalis atau yang favorit gua adalah launch app di mana kita bisa naruh shortcut untuk aplikasi yang sering kita pakai. Contohnya gua di sini naruh folder kerjaan, benchmark database di Excel, terus PPT buat bikin graf dan link atau lain-lain. Memang kita bisa pakai touch untuk launch aplikasinya, tapi gua sendiri malah lebih suka untuk pakai mouse sendiri tanpa harus mindahin tangan dari mouse ini. Di sini juga ada widget yang enggak kalah seru, yaitu iframe di mana kita bisa embetl yang kita mau seperti kalender Google atau Google Maps. Bahkan kita juga bisa embed URL website yang kita sering buka. Ada juga video YouTube player, namun YouTube ini suka error entah kenapa. Dan selain dari penggunaan-penggunaan ini, kita juga bisa pakai monitornya buat SIMHub. Jadi kalau lagi main Forza Horizon atau Motor Sport bisa dipakai buat tampilin speedometer atau buat flight simulator juga bisa tergantung dari aplikasi SimHub-nya. Atau kalian juga bisa pakai monitornya jadi monitor kedua di mana bisa ganti-ganti lagu Spotify langsung dengan touch screen, cek Discord atau main Balatro sambil produktif. Jadi siapa yang kira-kira cocok buat pakai monitor ini? Gua ngelihat Sinion Edge itu tuh berguna di tiga skenario. Yang pertama adalah untuk streamer di mana mereka bisa menaruh chat Twitch dengan mudah di sini tanpa harus membuka page Twitch-nya. Jadi, monitor utama bisa fokus buat main game. Dan yang kedua itu untuk produktivitas. Jadi, kita bisa naruh timeline Premiere Pro atau sekedar Spotify dan WhatsApp web di mana space monitor utama jadi benar-benar bersih buat kerja. Dan yang ketiga sih menurut gua adalah sistem monitoring. Di mana kalau kalian seorang power user, kalian bisa naruh dashboard IQ di sini buat mantau suhu CPU atau GPU secara real time dengan tampilan yang cukup cakep. Lalu, apakah Corser Xion Edge ini ideal banget? Mmm, enggak juga karena software-nya masih belum matang banget. Jadi, musuh terbesar dari monitor ini adalah slip state. Bangun-bangun dari slip, monitor ini suka bertingkah. Kadang widgetnya gak bisa keluar dan kadang bahkan display widgetnya bisa ketukar sama monitor utama. Dan satu-satunya fix itu hanya restart komputernya aja. Gua enggak tahu apakah karena monitor utama kita itu ultrawide juga atau karena monitor utama kita smart monitor dan si Seneon ini ya jadi kedetect monitor nomor satu. Jadi pada awalnya Corser itu ingin membuat casing yang ada monitornya seperti HTE punya. Tapi setengah jalan, korser berpikir kalau kenapa enggak kita bikin aja sebuah layar fleksibel yang nanti tinggal terserah sama user mau mereka taruh di casing atau di sekitaran monitor mereka. Akhirnya jadilah sebuah layar porte ya enggak bisa dibilang portable sih layar fleksibel yang bisa ditaruh di casing-nya Corser atau bisa juga ditaruh di sekitaran monitor kita tergantung dari mounting-nya. Dan menurut gua kalau misalnya ditaruh di casing ya gimana ya, gua bukan pasarnya juga sih untuk naruh layar di casing. Toh juga casing gua gua taruh di bawah meja. Tapi kalau untuk di sekitaran monitor untuk menjadi sebuah sekidekick monitor ini termasuk nice ya. Kalau misalnya kita pakai buat hardware monitoring dia cukup akurat. Kita udah ee coba untuk bandingin sama yang HW Info tampilkan dan cukup sama. Terus juga kalau misalnya dibilang e dia cukup tajam ya, lumayan tajam. Fungsionalitasnya juga banyak, widget-widgetnya juga variasinya banyak. Untuk mempersonalize kannya ke kebutuhan kita sehari-hari juga gampang asalkan kita tahu apa aja kebutuhan kita. Tapi menurut gua widget-widgetnya itu masih bisa di-improve lagi. Karena harganya ini udah Rp3,5 juta. Jadi harusnya bisa lebih baik dari itu. Contohnya kayak gini ya. Kayak jam aja itu kita lihat dia bisa taruh tulisan kan di atas. Nah, tulisannya itu font-nya enggak bisa diganti-ganti. Terus juga tanggalannya itu enggak bisa diganti. Layout jam-nya juga itu-itu doang. Jadi ya secara personalize itu agak kurang. Terus kalau misalnya dibilang UI-nya juga UI-nya enggak terlalu modern. Jadi, ya kita berharap bisa lebih bagus lagi. Dan yang iframe-nya tadi sih kayaknya harusnya bisa di-improve lagi iframe-nya itu jadi lebih kompatibel dengan yang lain dan juga media player-nya. Kalau misalnya media player itu bisa nge-beret Spotify sih ya kayak kita milih lagunya di Spotify itu tanpa harus e ngapus widget-nya ya. itu kayaknya lebih bagus lagi sih, tapi ya intinya dia potensinya gede. Tapi sayangnya untuk sekarang [musik] di harga 3 sampai R jutaan ini masih agak prematur. Tapi enggak tahu ya, balik lagi karena ini barangnya kemarin sempat habis yang berarti cukup pelaku. Tapi kita lihat aja kalau misalnya kalian sendiri kira-kira tertarik enggak sih untuk punya sebuah monitor kecil di bawah monitor kalian.
