Legion Go S Malah Lebih Menggoda di 2025 😅 (YouTube Video)
Ini adalah sebuah PC gaming handheld yang menurut kita gak terlalu menarik saat dia launching. Karena pada saat itu ROG LA yang pertama itu masih beredar di pasaran dengan prosesor yang lebih kencang dan harganya malah lagi turun sampai ke R jutaan. Tapi sekarang pas ROGI Z1 itu udah enggak ada di pasaran dan Lenovo Legend Go S ini lagi turun-turunnya ke 7,3 juta, ini baru cukup menarik. Ditambah ROG malah nge-launching Xbox yang warna putih itu harganya di R jutaan dan bahkan dengan prosesor yang enggak lebih kencang dari Lenovo Legend GoS ini. Buat sebuah handheld unboxing Legend GoS ini enggak terlalu spesial. Boksnya ini gak seperti Xbox ROG yang diperhatiin banget desainnya dan kelengkapannya pun hanya device dan charger 65 watt aja. Cukup simpel tapi ya dengan handheld di harga segini ini maklum lah. Untuk chargernya seharusnya ini yang versi Indonesia ya. Tapi mungkin karena ini sampel dari luar negeri jadi kita dapat casan yang seperti ini. Nah, kita masuk ke desain dari handheld-nya sendiri. bentuknya itu lebih bulat dari ROG LA yang original dan juga lebih curvy di bagian belakang agar ngasih grip yang mirip dengan controller Xbox yang biasa kita pegang. Walaupun gripnya itu enggak seenak ROG Xbox, tapi ya ini udah cukup mirip dengan controller dan masih gampang untuk masuk ke tas buat dibawa-bawa. Cuma ya agak tebal aja karena tebal dari Legend GoS ini sendiri ada di 22,4 mm di bagian layarnya. Sementara di bagian gripnya itu tebalnya sekitar 41 mm. Kita saranin sih untuk pakai poch lagi biar analognya enggak kesenggol-senggol pas dibawa. Nah, buat beratnya sendiri, handheld ini ada di sekitar 738 gr. Ini cukup berat mengingat hand lain itu lumayan ringan bahkan dibanding Xbox L sekalipun. Gua cukup yakin sih kalau pakai ini saat commute itu bisa pegal lama-lama. buat layarnya dia berukuran cukup besar ya buat sebuah handheld di 8 inch dengan resolusi full HD plus dan refresh rate 120 Hz touch screen makes sense buat handheld yang speknya enggak terlalu gede-gede banget alar gambutnya pun cukup oke buat handeld murah enggak seimersif OLED tapi cukup buat main game kekinian aja kalau dibanding Steam Deck OLED dia masih menang di refresh rate ya nah tapi ukuran layar segede gini juga bikin gripnya itu jadi kelebaran dan balik lagi bikin handheld ini makin tidak terlalu terlalu portable ya. Tapi so far ya soal portability walaupun dibilang ini adalah Legend Go S yang mungkin S-nya itu adalah small tapi handheld PC ini enggak sekecil itu. Buat konektivitasnya di atas itu ada dua USB 3.2 Gentu 10 GB yang udah full function alias bisa PD dan DP. Jadi kalian bisa main dengan monitor portable sambil dicas sekalipun. [musik] Dan di bawah ada juga micro SD card slot kalau kalian mau nambah storage. Lalu buat software-nya sendiri, review unit kita itu kan memakai OS Windows yang berarti ya feelingnya Windows banget. Navigasi kita itu bergantung dengan touchsreen atau trackpad kecil yang ada di bawah analog ride ini. Quick setting-nya enggak ssmooth armory crate ya, sering nge-lag dan bahkan suka nge-freeze di waktu random. Di dalam quick setting ini ada tiga profile yang kita bisa pilih dan udah kita catat juga ketiga TDP-nya. Untuk dia ada di 10 wat, sementara balance ada di 15 watt dan performance di 25 wat. Kalau kita colok Legion GoS-nya ini dia bahkan bisa sampai 30 wat. Kerennya walaupun murah tapi handhal ini udah pakai analog effect dengan 0% circularity error dihias juga dengan RGB di sekitarnya. Triggernya juga udah pakai magnetic hall effect dengan stopper biar jadi button yang feelingnya mirip dengan mechanical button. Jadi overall udah kayak controller kekinian lah. Hanya aja th grip-nya ini tipis banget. Bahkan unit review kita aja th grip-nya itu udah botak. Sementara face button-nya bentukannya ini glossy. Mirip face button Xbox tapi enggak berwarna aja. Sementara di bagian belakang ada dua ekstra button yang bisa dimodif lagi. Ya, overall controllernya udah mantap, tinggal ya gripnya aja yang kegendutan. Kenyamanan dan gripnya ini masih kalah sih kalau dibanding dengan ROG Xbox Series. Alasan kenapa Legend GoS ini dulunya sempat enggak menarik adalah CPU-nya yang masih pakai Ryzen Z2 Go. Ini adalah custom chip yang diorder oleh Lenovo ke AMD yang dimaksudkan itu agar enggak secup Z2A, tapi juga enggak semahal Z2 ekstreme. GPU-nya ini sayangnya masih berbasis RDN A2 walaupun untungnya CPU-nya ini sudah berbasis Zen3 Plus. RAM-nya berukuran 16 gig LPDDR5X yang tentunya diolder dan enggak bisa di-upgrade. Sementara SSD-nya secara default kita dapat 512 gig 2242 PCI Gen 4 yang enggak terlalu kencang. Namun tentunya bisa di-upgrade bahkan sampai yang 2280 sekalipun. Nah, kalau secara performa CPU Z2 Goya performa setengah dari Z1 ataupun Z2trem. Walaupun ini masih kencang dari Z2A yang ada di ROG Xbox, tapi ini membuktikan kalau handheld yang harganya di R10 juta ke bawah performa CPU-nya itu enggak terlalu diperhatiin. Untungnya buat main game ya Legend GoS ini lumayan kencang asalkan kita main di resolusi di bawah native atau kalau mau di resolusi native game-nya yang mesti ringan. Contoh di Cyberpunk 2077 kita bisa main sampai 60 fps di 1000P. Tapi kalau mau mainnya di 1200p ya siap-siap aja untuk cuma dapat sekitar 40-an frame rate-nya. Spider-Man 2 pun bisa nih dapat sampai 60 fps, tapi di 800p aja. Forza Horizon 5 kerennya dia bisa dapat sampai 60 fps di 1200p. Tapi ya namanya juga handheld apalagi ini underpowered, kita saranin sih untuk main game yang ringan-ringan aja. Dan kalau suka yang jadul-jadul itu sebenarnya banyak sih yang masih deserve buat dimainin sekarang. kayak Persona 4 itu dia masih bisa dapat 60 fps walaupun di quiet mode sekalipun atau Hades yang bisa dapat sampai 112 FPS dan Hollow Knight Silk Song pun bisa dapat ratusan FPS juga mau di quiet ataupun performance mode. Nah, buat suhunya itu sendiri di profil performance kita bisa lihat kalau CPU-nya ini bisa spike di 90 derajat sekali tapi akan stabil di 75 sampai 80 derajat celcius dengan power consumption yang seperti kita bilang tadi stabil di 25 wat. Lalu buat pengalaman main di handheld ini sebenarnya jujur fun ya. Face button-nya nyaman, analognya akurat, layarnya gede, speakernya kencang, dan triggernya juga udah punya stopper. Tapi ada beberapa catch di sini buat main game Triple A dengan FPS yang tadi kita lihatin itu butuh profile performance yang makan baterai banget. Dan tentunya 55,5 wat hour itu enggak bisa mainin game triple A lama-lama. Yang paling makes sense ya mainnya di profil quiet tadi yang berarti gameennya itu terbatas. Buat dipakai main game bepergian di mobil sih asik ya. Tapi ya siap-siap aja kalian nyolok mulu ke powerbank atau casan mobil. Btw, kalau kalian mau bongkar handhal health ini, notes aja kalau ada sekrup di bagian atas konektivitas dan juga di bagian bumper ada dua sekrup lagi. Untungnya kalau kita lagi main game terus kita mau slip terus dari slip to wake itu sekarang udah enggak terlalu lama walaupun basisnya masih Windows 11. Kalau di luar negeri, Legend GoS ini dijual dengan dua varian. Warna putih buat Microsoft Windows, sementara warna hitam untuk Steam OS. Kalau Windows OS ya seperti yang kita bilang tadi, dia itu lemot. RAM-nya kepakai banyak dan bahkan Legion quick setting-nya itu suka enggak responsif. Tapi saat kita ganti ke Steam OS itu jauh banget lebih smooth-nya. Karena dia support secara native, jadi welcome screen kita itu disambut dengan tutorial dan juga pengaturan profile yang udah ada. Benar-benar tinggal main dan pakai gitu aja. Bahkan kita bisa set custom TDP-nya di dalam quick setting-nya Steam dan performa gaming-nya itu cukup berbeda. Di Cyberpunk dia bisa beda lebih dari 10 FPS dan Spider-Man 2 pun bisa beda 12 FPS. Kalau misalnya berbedanya itu antara 40 ke 60, ini adalah perbedaan antara playable atau enggak. Wow. dan juga dengan wake from slip yang lebih cepat dibandingin Windows. Kita udah duga sih kalau device ini memang build for Steam OS, tapi ya balik lagi kalau kita mau pakai Windows, kita bisa main game Steam atau launcher lain dengan mudah. Tapi kalau pakai Steam OS, kita enggak bisa main game yang ada di Epic atau bahkan PC Game Pass. Ya bisa sih, tapi agak diakalin. Jadi, ya fokus dengan ekosistem Steam aja. Sebenarnya nih ya dengan twik-twik sedikit yang tutorialnya itu ada di YouTube, kita bisa tahu pakai Xbox full screen experience di sini dan feelingnya itu kurang lebih sama loh dengan ROG, lebih intuitif dan bahkan lock screen aja bisa pakai controller. Cuma memang Twik ini enggak memberikan performa lebih ataupun RAM yang lebih ringan. Jadi beda ya dengan full screen experience native yang ada di Xboxi. Kalau harganya sekarang udah turun ke 7,3 jutaan, jujur Legend GoS ini baru aja menarik karena di harga segitu enggak ada gaming PC handheld berbasis X86 lain yang performanya di atas si Legend GoS ini. Apalagi selain performa secara build quality dia udah lumayan garansinya resmi dan juga bisa diinstal Steam OS secara natif pula. Nah, kalau dibandinginnya itu sama Steam Deck, Steam Deck itu dia yang harganya sepadan sama si Legend GoS ini itu masih pakai LCD dan masih 256 pula. Sementara untuk yang OLED-nya harganya agak mahal dan menurut gua sekarang udah enggak terlalu worth itat garansinya juga bukan garansi resmi. Kompetitornya si Legend GoS ini yang paling mendekati, yang paling mirip gitu ya, itu cuman ROG Xbox li sekarang dengan harga yang paling murah. tadi gua lihat di Top itu R9,4 jutaan dan CPU-nya lebih cupu daripada si Legend GoS ini. Ee membuat gua berpikir dua kali ya kayaknya untuk milih si Xbox Ali karena agak nanggung gitu, kenapa gua harus beli yang lebih mahal tapi dapatnya yang lebih cupu. Walaupun memang secara baterai dia lebih e gede, terus juga secara grip dia lebih nyaman, tapi ya tetap aja lu dapat hal efek, Men, di Legend Go ini. Nah, sementara Legend GoS menurut kita secara pengalaman Windows-nya itu gak terlalu menyenangkan. Dia agak lemot, kadang suka e ketiban-tiban eh prosesnya dengan e produk natifnya Windows kayak Copilot, OneNote, OneDrive dan lain-lain. Terus juga eh kadang-kadang si e RAM usage-nya itu bisa sampai 60 sampai 70% padahal enggak lagi ngapa-ngapain. Sementara PC handeld itu kan RAM-nya sangat terbatas ya. Dan kalau kita mod sedikit ke Xbox full screen experience, walaupun dia jadi lebih intuitif karena bisa dipakai dinavigasi pakai controller, tapi enggak membuat RAM-nya itu berkurang konsumsinya. Jadi ya menurut gua mod Xbox full screen experience itu enggak worth it ini. Sementara kalau misalnya kalian memang memakai Legend GoS ini hanya untuk gaming dan gaming only, kita sih menyarankan untuk instal aja yang Steam OS. karena jauh lebih intuitif. Terus secara apa ya kayak programmingnya dia, dia enggak butuh Lenovo Quick setting-nya itu yang lemot itu. Dia bisa secara natif bahkan kita bisa custom TDP juga dan bahkan di Steam OS ini weight-nya itu lebih cepat dan kita slip juga lebih cepat enggak perlu dua kali nekan saat pakai Windows ya. Tapi itu balik lagi ke usage kalian. Kalau misalnya kalian mungkin mau sambil Discordan, sambil main game, mungkin lebih gampang di Windows daripada di Steam yang harus ngakalin dulu. Tapi menurut kalian lebih enak mana nih? Kalian lebih milih Xbox yang pakai full screen experience atau milih Legend GoS yang diinstal Steam OS?
