Local Rasa International !! ADP 2 Tahun, Under 1KG, 100%sRGB (YouTube Video)
Buat kalian para Gen yang kerjanya tiap hari dan mobile sana sini dari kantor coffee shop sampai pinggir kali pasti pinggang kalian sering kerasa nyeri karena bawa laptop yang bobotnya enggak ada kompromi. Mending kalian ganti ke laptop Polytron Luxia Pro ini. Karena dia enak, ringan, enteng untuk dibawa pergi. Soal performa juga enggak bikin kita rendah diri. Ya udah enggak usah basa-basi sana sini. Selamat menonton. Hm. Coba isi sendiri. [Musik] Hai Andika, Guys. Di sini setelah kemarin kita ngebahas si Polytron Luxia Intel Ultra 5, ternyata enggak sampai di situ ya. Polron ini benar-benar serius untuk masuk ke dunia laptop. Walau bisa dibilang dia pemain baru, brand baru aja dia berani ngasih ADP yang paling lama dibandingkan brand lokal lain. 2 tahun ADP loh. Sekarang balik lagi ke Polytron Luxia Pro yang ini yang harganya lebih terjangkau tapi desainnya tetap memukau dengan bahan tetap magnesium alloy. Bobotnya under 1 kg. Cocok buat dibawa pergi-pergi keluar. Bobot laptopnya aja cuman di 0,97 kg under 1 kg sebenarnya. Cuman kalau kita bawa sama chargernya yang 65 watt jadi 1,15 kg. Masih tergolong enteng lah ya. Ketebalannya juga cukup tipis cuma di 1,7 cent. Dan sama kayak di Intel Ultra 5-nya kemarin, ya bobot dan dimensinya atau form ve vornya sebenarnya sama ya, cuman beda di performa aja. Dan kalau kita lihat secara desain bahkan mirip-mirip, warnanya juga mirip-mirip. Jujur saya suka karena desainnya ini simpel, stoikisme, minimalis, cuman ada logo Polron kecil aja. Jadi dia enggak maruk soal branding. Dan meskipun tipis dan portable, tapi dia enggak pelit soal port konektivitas. Makanya dia enggak bisa bikin 1,5 cent sih ya, karena portnya ini lumayan lengkap. Di sebelah kiri kalau kalian lihat ada HDMI type A dua buah USB type C yang full function. Di sebelah kanan ada cashington lock type E2 lagi audio jack dan ada webcam privacy shutter sama kayak di seri teratasnya. Lanjut ke bagian layar. Resolusinya ini bukan resolusi full HD tapi di atasnya dengan 1920 * 1200 atau biasa kita bilang Wi atau full HD plus dengan dimensi layar 14 inch tapi seolah-olah terlihat seperti 15,6 inch karena basel-nya super tipis. Cuma di bagian bawah aja yang agak tebal untuk naruh logo Polytron yang juga enggak maruk branding, kecil aja. Aspek rasionya 16 bing 10 yang jadi lebih memanjang jadi lebih enak buat kerja atau biasanya kita sebut dengan golden rasio ya. Akurasi layarnya juga udah cukup bagus ketika kita tes pakai Kalman. SRGB-nya itu di 95,1%, adob RGB di 81,9%, P3 di 80,6% dan brightness-nya juga lumayan gede di 360-an hampir 400. Biasanya dulu sebelum adanya brand lokal, brand internasional itu ngasih brightness harga R jutaan bisa 200, 250 nits, 300 nit. Nah, ini hampir 400 nits. Lanjut. Di bagian atas ada kayak jambul. Mirip kayak brand sebelah yang inisialnya L depannya. Jadi ada kayak jambulnya gitu. Dan soal kameranya sih jujur menurut saya ya standarnya sih ya, bukan yang wow gitu. Karena kalau kalian lihat ada noise-noise-nya, terus juga dia belum 60 fps. Jadi ada starter. Tapi yang saya suka dia ada privacy starternya. Yang ini electrical ya, bukan mekanikal. Kalau mekanikal itu kan cuma kayak nutup gitu. Tapi kalau elektrikal benar-benar di-shutdown kameranya. Jadi aplikasi kameranya bakalan bilang, "Oh, laptop ini enggak punya kamera." Padahal ada. Nah, itu bedanya mekanikal sama kritikal. Eh, elektrikal kok kritikal. Dan kira-kira seperti ini kualitasnya ya. Coba deh menurut kalian gimana? Coba tulis di kolom komentar ya. Kalau untuk kualitas speaker walaupun Polron ini terkenal dengan bassnya ya, tapi untuk laptopnya ini bassnya ya ada, tapi bukan yang daroor gitu ya. Karena secara factor memang dia tipis. Cuman kalau misalkan kalian mau nonton film atau apapun itu bisa pakai TWS ya. TWS-nya ini bakalan low latency karena dia pakai Bluetooth versi 5.4 yang hemat energi dan juga lebih efisien. Bisa dibilang versi terbaru lah Bluetooth-nya. Untuk info device kayak keyboard dan juga touchpad suka karena pertama tombol power-nya udah memisah dengan keyboard-nya. Jadi gak bakalan taipo antara tombol power dan juga tombol delete. Tombol power-nya pun juga udah ada fingerprint-nya. Untuk keyboard-nya F-nya soft dan udah cukup nyaman buat ngetik. Terus ada tombol copilot plus PC juga yang sekali pencet bisa langsung fitur AI copilot yang bisa menghemat waktu. Nah, fitur copilot ini makin lancar karena didukung sama wifi yang udah WiFi 6. Tapi kalau misalkan router kalian udah WiFi 6 juga ya. Jadi kalau kalian tanya apapun karena dia base-nya cloud jadi jawabannya itu lebih cepat gitu. Kalau Wii kalian wifi 4 ya jawabannya agak lama. Lanjut sekarang kita masuk ke bagian performa. Kalau untuk prosesornya dia pakai Intel Core FF 1235U jadi ultra low power yang tujuannya buat efisiensi. Dia punya 10 core 12 RS dengan Intel graphicsnya itu pakai Intel Ris Graphics. Untuk RAMnya ada di 16 GB LPDDR5. kencang memang karena LPDR5, cuman ya karena LP dia low power, jadi enggak bisa di-upgrade. Kalau untuk storage dikasihnya 512 GB dengan speed-nya 3.500 Mbps untuk Ride-nya itu hampir 3000 Mbps. Dan langsung aja sekarang kita coba bahas gimana performanya. Seperti biasa B smarx sintetis dulu ya si Bench R23 dengan skenarionya plugin atau pakai charger. Run pertama itu di 5.794 dan kalau kita running ke-10 stabilnya itu di kisaran 5.700-an. Poin dari single core-nya ada di 1557 poin. Dan di mode ini kalau kita lihat suhunya itu spike spec derajat celcius dan package power-nya itu spik spec juga di 30 watt. Nah, pas kita lepas chargernya running pertamanya itu di kisaran 5.100 dan single core-nya di 1200-an poin. Dan untuk multiicore ini kita loop sebanyak 10 kali. stabilnya ya kisaran 5.600-an poin lah. Dan kalau kita lihat di bagian suhunya, spek-speknya juga mirip di 90-an derajat Celcius dan ya bahkan bisa sampai 40 watt loh ya spike-nya untuk CPU package power-nya. Lanjut kita uji stability test-nya ya. Kita coba di 3D Mark dengan stress test loop sebanyak 20 kali dan hasilnya dia dapat skor yang lolos dengan 98,9%. Dan untuk suhu CPU-nya ketika kita stres- tes ini dia mampu ngejaga di 75 derajat celcius. Suhu yang cakep lah karena enggak di atas 80 derajat Celcius ya karena memang dia ngejarnya efisiensi laptop tipis jadi memang harus dijaga suhunya. Lanjut kalau untuk tes lain kayak Time Spy dan Flex-nya kalian bisa baca di sini. Dan sekarang kita lanjut lagi ke test editing Adobe Pem Pro dengan template yang memang biasanya kita pakai. Kita eksport ke 4K dan hasilnya dia mampu merender dengan durasi waktu 5 menit pas. Kalau kita export ke full HD dia lebih kencang sih dengan 3 menit 56 detik. Kalau untuk CPU render dengan template BMW. GPU atau CPU-nya mirip-mirip di 8 menit 6 detikan. Nah, sekarang kita coba dia di uji coba Office yang benar-benar sebenarnya ya sesuai segmennya ya. Kalau Office sih aman aja. Contohnya kayak kita bikin PowerPoint 150 slide, kita export ke PDF, selesai cuman dalam waktu 8 detik, terus Excel kita randomiz data yang gede banget, itu juga cuma butuh waktu 49 detik. Sekarang kita bahas baterainya karena laptop ini seri Ultra L power. Seharusnya baterainya sih awet ya. Dan dari uji pengetesan reel kita kalau digunakan untuk ngetik-ngetik dengan Wii browsing 10 menit dia berkurang 4%. Buat YouTubean dia berkurang 6% dan kalau untuk main game 10 menit berkurang 12%. Kita juga sempat coba di PC Marktime dengan modern office. Brightness di 50%, volumenya 30%. Dia bisa bertahan sekitar 4 jam 45 menit. Lanjut kita coba untuk gaming. Walaupun sebenarnya kalau gaming sih lebih proper yang kemarin ya, yang Ultra 5 125. Tapi enggak apa-apa kita coba juga. Kita coba game ringan dulu kayak Dota 2 dengan grafiknya fastest. Minimal FPS-nya dia dapat di 54. Average FPS bisa 68. Maksimumnya bisa tembus di 111. Valoran termasuk aman lah ya karena average FPS di 131, minimumnya di 86 maksimal bisa tembus 191 FPS. Wering wave. Wering wave ini agak ngos-ngosan karena untuk average FPS-nya dia di 28, maksimumnya di 36 dan dropnya bisa sampai 17 FPS. Dan karena wave game triple A-nya kurang angkat, jadi kita enggak lanjutin tes gaming lagi. Karena ya percuma kalau pas kita main game tadi terus kita fleir suhu permukaannya ya karena memang dia ngejaga suhunya seperti yang kita lihat di time spice testnya tadi dijaga di 75 derajat celcius. Jadi ya suhu permukaannya logikanya juga tetap dingin ya dengan suhu bagian tertingginya itu di 39,8 derajat Celcius itu tertinggi loh ya. Biasanya laptop itu 40 derajat celcius ke atas. Ini enggak di bawah 40. Dan untuk keyboard-keyboard dan tombol WASD-nya di 34,4 derajat Celcius. Jadi anget aja enggak. Fitur lain mm enggak ada sih ya kayak keyboard-nya. Sayangnya belum backlit karena mungkin untuk mangkas harga. Dan ya mungkin cukup itu review dari Polytron Luxia yang mid lense. Jadi Polron itu Luxianya ada tiga ya, ada i3, i5, dan Ultra 5 yang kemarin sempat kita bahas. Kesimpulannya apakah laptop ini worthed dengan harga sekitar R juta? Harga tepatnya itu 7899. Nanti link pembilihannya di deskripsi ya. Jawabannya worthed sih kalau kalian pelajar atau pekerja yang butuh laptop untuk dibawa mobile, sering pindah tepat dan enggak mau punggung tebak. Tapi kalau kalian pekerja kreatif kayak desainer atau editor yang butuh layar warna akurat dengan performa yang lebih kencang yang menurut saya yang kemarin walaupun silisnya lumayan ya kemarin itu 109 yang Luxia Ultra 5 itu lebih oke menurut saya. Tapi overall si Polytron apalagi seri Luxia ini mereka bisa membuktikan satu hal sih. Merek lokal juga bisa bikin laptop yang enggak cuma speknya oke tapi juga punya rasa premium yang bisa bikin kita betah. Karena kan kalau kita ngomongin brand lokal, yang brand lain ya itu jarang mau masuk ke material magnesium alloy dan juga desain yang premium. Nah, kayaknya Polron wah ini kayaknya kita bisa masuk lewat celah yang premium ini deh. Nah, akhirnya dibikinlah Polytron Luxio eh Luxio deuding Polron Luxia ini. Tapi menurut kalian gimana langkah Polron untuk bikin laptop kayak gini? Kalian setuju atau enggak? Coba tulis di kolom komentar ya. s and see you on the next video.
