Lupakan Versi Ultra ?! REVIEW Poco F8 PRO (YouTube Video)
Poco kalau bikin HP pasti gacot. Contohnya kayak yang satu ini pasti bikin brand lain tangannya teremot. Chipset pakai Snapdragon 8 Elite yang performanya enggak kasih kendor buat main game lancar, enggak ada error, suhu juga tetap terjaga, enggak kayak kompor. Ya udah, enggak usah main kotor. Selamat menonton yang suka tor monitor. Hai Andika, guys di sini kemarin kita udah ngebahas si Poco F8 Ultra. Sekarang waktunya bahas si Poco F8 Pro. Bedanya jelas yang pro ini gak ada subwoover-nya dan gak ada lensa yang periscope tapi masih ada trilinnya dan chipsetnya enggak sekencang yang varian ultra walaupun ini masih kencang juga sih. Jadi yang pro ini kalau yang ultra kemarin lebih allrounder. Nah ini baru Poco yang kita kenal dia jualan performa. Ngumain performa chipset dia pakai Qualcom Snapdragon 8 Elite dengan konfigurasi RAM-nya 12 GB untuk unit yang kita bahas ini ya. Dan setusnya 256 GB dengan UFS 4.1. Yang speed-nya buat mindahin file itu sama kayak mindahin gaji pas awal bulan. Cepat, cepat banget hilangnya. Nih lihat aja pas kita tes di AnTutu speed red-nya di 4000 Mbps lebih. Kalau untuk skor Anutunya mirip-miriplah ya sama UMR Malang di 3,1 juta dan kalau misalkan pakai cooling jadi TE home-nya nambah tuh jadi 33,2 juta ya. Enggak naik-naik signifikan banget sih. Bedanya sekitar 20% lah sama Ultra yang bisa tembus di [musik] 3,8 jutaan. Kalau untuk skore Geig Bandch 6-nya, single core-nya di 2.600-an, multiore di 8.500, dan GPU-nya di 18.000 poin. Uh, kencang juga. Nah, yang menarik pokok yang kita kenal itu kan bukan hanya desainnya yang kayak kompor tungku, tapi biasanya suhunya itu juga kayak kompor. Tapi di tahun ini beda. Kalau di AnTutu sih masih anget-anget kuku ya. Di bagian depannya itu 42,8 derajat Celcius, belakang 45,5 derajat Celcius. Tapi siapa yang beli HP buat [musik] tes AnTu kalau bukan tech reviewer doang? Tapi kalau kalian kan pasti main game ya. Nah, main game di sini suhunya enggak segede ini kok. Nanti kita lihat. Karena kalau diajak kerja rodi ya main game beneran si puku F80 ini kayak gak punya capek gitu. Gak ada tuh ceritanya FPS terjun bebas kayak harapan kita sama negara Konoha ya. Negara Konoha ya. Ingat. Aduh bahaya ni. Mulai bahaya ini bikin skrip nih. Hah. Untuk game kita mulai dari game sejuta umah dulu lah ya. Mobile [musik] Legends ini setting rata kanan ultra-ultra main 30 menit. Beh rata-rata dapatnya di 119 FPS. Turun paling rendah cuma ke 103 fps. Ini sih saking smooth-nya ya. Jari saya itu ibarat main di sini tuh kayak megang belut tapi pakai sabun. Udah licin, makin licin. Lanjut ke PUBG. Settingannya bisa kebuka sampai ultra ekstrem 120 fps. Hasilnya juga stabil di 117 fps. Turunnya paling mentok di 108 fps. Ibaratnya kalau kita main sama musuh, musuhnya itu pakai Redmi dengan settingannya cuman kebuka 40 FPS. Ya, ibaratnya kita udah nembak dia masih reload gitu karena dia FPS-nya cuman 40. Nah, sekarang kita masuk ke game yang biasanya bikin HP panas. Apa itu Gensin Impact? Gensin Impact kita kasih settingan highest 60 fps dan PU F8 Pro cuma bilang, "Ah, gini doang." Karena rata ratanya di 59 fps dan pas lagi battle rame efek sana sini pun dropnya cuma ke 57 fps. Terakhir game yang juga berat, butering wave resolusinya kita mentok rata kanan, resolusi ultra 60 fps-nya nyala. Dan lagi-lagi aman sentosa. Rata-rata di 59 fps. Drop paling dalam cuma di 55 fps. Dan drop ke 55 fps itu enggak kerasa. Ibaratnya kayak kalian di kantong itu ada uang 500 koin perak, terus kalau hilang ya ibaratnya kayak ya hilang ya hilang aja enggak kerasa gitu 500 perak. Masa 500 perak kerasa sih. Nah, kalau untuk suhunya ketika kita udah stres-stes ya ini btw ini benar-benar full loot. Jadi ketika main game G Impact setengah jam, wave setengah jam, PUBG, kita langsung estafet gitu. Kita enggak tunggu HP-nya dingin dan kita flir suhu permukaannya itu suhu bagian depannya ada di 43,4 derajat celcius belakang 42,2 derajat Celcius. Enggak seanget Poco yang kita kenal yang biasanya bisa tembus di 45 derajat celcius. Ya, berarti ini terbuktilah ya. Liquid cooling technology 3D triple layer Ice Loop System. Kalau di website-nya itu bukan cuman gimmik marketing atau biar keren aja, tapi memang ya lebih dinginlah ketimbang puku yang sebelumnya. Sekarang kita bahas baterainya dulu ya. Baterainya ini aneh. Kenapa aneh? Karena secara kapasitas kayak ganjil gitu pengen saya genepin karena kapasitasnya 6120 mAm. Ini tuh angka yang spesifik banget 6210. Kenapa enggak 62 aja gitu digenepin? Ada 10 m amsal. Lumayan sih, tapi kayak ganjel aja. Tapi ini bukan baterai sembarangan sih. Ini baterai yang pakai teknologi silicon carbon. Intinya baterainya ini bisa dibuat lebih tipis, tapi kapasitasnya tetap gede. Jadi dimensi HP-nya tetap bisa ompact. Buat ketahanan baterainya jujur ini tergolong awet sih ya. Karena Mobile Legends 30 menit tadi cuman berkurang 4%, PUBG 30 menit berkurang 5%. Jens impact 30 menit berkurang 9%. Butering wave sih ya yang agak lumayan ngisep karena di 30 menit dia berkurangnya 11%. Tapi masih okelah karena game-gin itu biasanya berkurang 12% bahkan ada yang sampai 15%. Dan perlu diingat kita tadi pakai settingannya mentok rata kanan loh ya. Tapi kalau kalian cuman pakai HP ini untuk TikTok, YouTube, terus Netflix ya 30 menit dia berkurang cuman 1% aja. Hemat banget. Enggak cuman AW doang, charging-nya juga cepat. PUKU klaim 0 ke 100% cuma 37 menit. Tapi faktanya sih pas kita coba di sekitar ya mirip-mirip lah ya 40-an menit dengan charger 100 watt yang kita punya sendiri karena ini unit global yang dipenjamin dan unit global itu enggak ada adapternya. Jadi beruntunglah kalian yang tinggal di Indo nanti pasti dapat charger. Sayangnya di versi Pro-nya ini enggak ada wireless charging 50 watt kayak di seri ultra. Tapi kalau reverse charging itu ada di 22 watt. Nah, buat urusan layar si Poco ini sekarang lebih komnya sih banyak yang positif ya karena memang secara dimensi layar dia lebih kecil dibandingkan Poco F7 Pro. Tapi jatuhnya HP-nya lebih enak, lebih kom. Resolusinya tetap di 1,5K tapi gimmik marketing-nya ya layarnya disebut dengan hyper RGB. Katanya sih tajamnya setara 2K ya, tapi hemat daya. Kalau saya e cek sih warnanya emang lumayan gonjreng ya dan pukul klaimnya dia ada 12 [musik] bit color atau sekitar 68 miliar warna. Dan pas kita tes di mode original untuk SRGB-nya itu nyentuh di 95%, NTS 80% dengan brightness tipikal di 570 units. Nah, kalau Vivit sRGB-nya di 96,1%, P3 82,8%, NTSC-nya 85,9%. Ya, kalau dibilang layarnya ini akurat atau lebar banget, enggak juga sih ya. Karena sRGB sama P3-nya belum nyentuh di 100%. Tapi untungnya dia punya fitur yang namanya wet touch. kayak agak aneh sih ya w touch jadi kalau dipegang basah. Enggak enggak enggak enggak. White touch-nya enggak kayak gitu ya. White R-nya itu jadi kalau misalkan kita lagi main game Mobile Legends terus tangan kita berkeringat itu masih bisa responsif atau kalau misalkan hujan-hujan atau HP kalian tidak sengaja kecemplung kolam renang masih bisa dioperasikan. Enggak kayak HP flagship sebelah yang kena air, enggak bisa diapa-apain layarnya. Speaker. Nah, untuk speaker kenapa ini saya bahas agak terakhir? Karena speakernya enggak semenarik si ultra yang ada wover-nya. Walaupun dia ada tulisannya kecil di sini, sound by boost. Mungkin karena saya udah nyobain yang seri Ultra ya. Jadi yang seri Pro ini kayak jadinya biasa aja gitu. Walaupun dia memang punya namanya simetrical stereo audio. Apa itu? Artinya bagian kiri kanannya itu punya volume yang sama. Jadi enggak ada yang salah satu yang dominan gitu. Jadi suaranya pas kita main game atau scroll TikTok itu lebih sound staging-nya lebih enaklah, lebih mantap juga. Vokalnya juga lebih jernih. Tapi kalau dibanding sama yang ultra jauh. Kalau soal desain sih mirip aja sama yang ultra. Bedanya yang enggak ada woover dan ini lebih kompact, lebih kecil aja karena dimensi layarnya dibandingkan Poco F7 Pro aja ini lebih kecil ya. Ini selera ada yang suka, ada yang enggak suka. Tapi saya pribadi lebih suka kalau yang komact kayak gini. Dan ketipisannya walaupun dia baterainya lebih dari 6000 mamp tapi masih enak untuk dikantongi karena cuman 8 mili. Plus kalau misalkan kita kantongi juga bobotnya enggak berat-berat banget. Dan yang saya suka back cover-nya ini enggak gampang nempel dengan fingerprint. Paling bagian atasnya ya. Bagian atasnya ini masih lumayan gampang nempel fingerprint. Kamera. Nah, soal kamera bisa dibilang buku F8 series ini naik kelas lah ya. Karena yang ultra itu ada periscope dan yang pro sekarang akhirnya ada telen-nya. Jadi udah enggak main lensa gimmik 2 megapel lagi. Yang jujur itu enggak bakalan kepakai. Jadi konfigurasinya kamera utamanya itu 50 megapel, telennya 50 megap, dan ultrawide-nya sayangnya sih masih 8 megap. Kita bahas telenya dulu ya yang 50 megapel ini hasil fotonya cakep buat putrit. Background blurnya juga rapi. Enggak kayak ya anak fres graduate baru ngedit yang kayak kasar banget. Jadi kita bisa foto objek dari jauh dengan detail yang tetap tajam. Cocoklah buat kalian yang hobi mungkin motret kucing hewan. Karena kucing kalau didekatin kan dia bakalan lari. Apalagi kalau kucing liar. Apalagi kalau kucing garong. Kucing garong itu sama dulu ada lagunya dasar kau kucing garong. Nah, kucing garong itu bakalan lari kalau misalkan dikasih komitmen. Kamera utamanya pakai sensor light Fusion 800. Di kondisi terang warnanya panci banget, tapi enggak yang lebai gitu pas lul light atau malam hari. Noise-nya juga minim. XDR-nya juga pintar. Bagian langit enggak bakal jadi putih polos kayak tembok baru di chat gitu enggak. Jadi masih ada tekstur gradasi awannya. Cakep. Tapi masih ada satu hal yang saya harus masih tetap kayak ngelus dada. Ah kok 8 megapel sih? Yaitu kamera ultrawide-nya. Ibaratnya kombinasi 50 megapel, 50 megapel, 8 megapel. Ini ibaratnya kayak timnas senior main sama timnas U12. Jongplang banget. Jadi hasil fotonya kalau misalkan apalagi loled ya, loled lebih kerasa ultrawide sama min kameranya itu lumayan [musik] agak jomplang detail dan juga warnanya. Tapi kalau misalkan enggak lu light terus kita foto landscape sih enggak masalah lah. Enggak terlihat yang begitu banget. Untuk urusan video, si Snapdragon 8 Elite ini karena ESP-nya bagus, jadi dia support sampai 8K 30 fps. Cuman ya switch spotnya sebenarnya menurut saya di 4K 60 fps lah karena 8K itu menemuin storage. Dan siapa sih yang punya TV 8K atau laptop yang resolusi 8K? Jadi nontonnya pun juga enggak di 8K gitu ya. Untuk hasil videonya lumayan stabil tapi langsung aja deh kita coba di luar. Oke, jadi ini adalah kualitas kamera dari Poco F8 series ya. Yang kiri yang ini itu yang ultra dengan resolusinya bisa 4K 30 FPS. Sementara yang kanan itu Poco F8 Pro. Dia enggak bisa 4K 30 fps, tapi bisa 1080p 60 fps. Nah, kira-kira perbandingannya kayak gini. Kalau misalkan saya gunain untuk jalan ya. Walaupun 4K 30 FPS-nya patah-patah, tapi dia lebih detail ya. Sebenarnya untuk Poco F8 Ultanya bisa diturunin ke 1080 FPS. Cuman biar ada bedanya ya ini makanya saya kasih di 4K 30 fps biar kalian bisa tahu nih perbedaannya nih. Kalau 1080 60 fps di Pro itu lebih halus karena 60 fps. Tapi karena 4K dia jadi lebih detail. Terus untuk dynamic range kayak mirip-mirip aja ya. Ini enggak tembok putih di belakang tuh jadi satu sama langit. Tapi kayaknya di seri lebih bagus dan ris-nya ya kalau 1080 ya. Nah. Nah, dan kalau misalkan diguna untuk jalan kira-kira seperti ini nih. Sekarang kita coba untuk kamera belakangnya. Nah, kalau ini sekarang kamera belakangnya 4K 60 fps. Kira-kira seperti ini bedanya kalau di puku F8 ultra, ultrawide-nya itu bisa 4K 60 FPS. Sedangkan yang Pro enggak bisa ya. Jadi, pilihan ultrawide-nya hilang. Bisanya harus diturunin dulu nih resolusinya ke 1080 P 60 FPS baru bisa ultrawide. Nah, kalau yang ultra nih langsung bisa ultraw keemin dua kali lima kali dan karena ada periscop-nya jadi coba ya kita cek untuk lensa telinnya kita coba zooming area sini deh. Ada ini deh bunga ini ya. Nah, ini dua kali. Ini lima kali di ultra. Ini 2,5 kali di Pro. Dan ini lima kalinya. Tuh, terlihat lebih detail di ultra ya karena dia pakai periscop. [musik] Coba kalau misalnya kita geser ke sana. detailnya tuh di ultra dynamicnya lebih bagus. Nah, seperti ini. Dan kalau misalkan kita gunain untuk jalan, kita coba di sini deh di lorong ini biar kalian bisa lihat gimana stabilnya ketika melewati lorong ini. Mirip-mirip aja ya, cuman main kameranya lebih bagus di seri ultra sih. Jadi, Poco untuk urusan kamera menurut saya udah enggak asal jual HP performa aja. Kameranya juga udah benar-benar diperbaiki. Selfie-nya juga lumayan. Kamera depannya itu 20 megapel yang hasilnya ya standarnya Poco ya, tajam, skin tone-nya pas, gak bikin muka kita pucat kayak vampir buat bikin story Instagram atau video call, ya masih oke lah ya karena dia videonya juga udah support di 1080p 60 fps. Kalau fitur lain ya standar kayak NFC an display, fingerprint ada juga cuman mungkin ya kekurangannya kalau dibandingkan sama yang ultra heptic feedback. Heptic feedback-nya Ultra itu benar-benar kayak HP flagship yang feel ttaile-nya nyaman. Tapi kalau ini masih kayak HP midrange yang getar-getarnya itu ya masih lumayan getar semua lah ya. Tapi enggak yang kayak entry level. Masih oke tapi lebih enak heptic feedback-nya ultra. Payanan juga lengkap. Xiaomi interconnectivity ada, Xiaomi Hyper AI-nya juga ada. Enggak ada yang dikurangin kalau dari sisi software. Dan harusnya sih software update Xiaomi sekitar 4 tahun, security update-nya juga 5 tahun. Harusnya seperti itu, ya. Okelah, jadi mungkin cukup segitu aja video review dari Poco F8 Pro yang harganya harusnya ya itu di 8 jutaan. Kalau menurut saya di harga Rp8 jutaan sebenarnya masih oke banget ya. Walaupun kalian cuma mungkin kalian beli HP ini karena performanya aja masih oke. Snapdragon 8 Elite AnTutunya aja ya lebih tinggi dibandingkan UMR Jogja ya 3,1 juta kalau pakai cooling 3,2 juta. Terus suhunya juga enggak sepanas puko yang biasanya yang permukaannya itu bisa nyentuh 45 derajat Celcius. tadi main game cuman 42 derajat celcius. Kameranya kalau kalian nyarinya kalian suka pakai mode putrit, kameranya juga bagus, baterainya juga lebih gede. Cuman mungkin yang perlu jadi catatan kalau kalian enggak suka HP Compact ya, karena ini HP-nya sekarang lebih kecil dibandingkan Poco F7 Pro. Tapi kalau saya pribadi sih malah suka ya HP-nya compek gini ya. Nah, Rp8 juta heptic feedback-nya mungkin bisa jadi notes buat kalian karena heptic feedback-nya enggak seenak versi ultra dan enggak ada wover-nya. Tapi overall untuk kalau misalkan harganya beneran Rp jutaan ya menurut saya sih bakalan ramei lagi ramai dibeli sama tengkula juga ya. Tapi kalau misalkan kalian disuruh milih, saya penasaran deh kalian pilih Poco F8 Ultra atau Poco F8 Pro. Coba tulis di kolom komentar ya. Sudi and see you on the next video.
