Maaf Asus, Saya Salah.. Review ASUS Zenbook DUO UX8407AA (YouTube Video)
Siapa nih yang kerja di bidang kreatif dan lagi cari laptop biar makin produktif? Laptop ini bisa jadi pilihan karena desainnya gak primitif. Apalagi kalau kalian bawa ke cafe, behraktif. [musik] Ya udah enggak usah kelihatan terlalu naif. Selamat menonton yang alisnya kayak sanserif. Hai Andika, Guys. Di sini kalau kita ngomongin laptop creator ya, ada banyak banget macamnya di pasaran. Dari yang paling mahal sampai mahal banget ada semua. Dan enggak banyak menurut saya yang itu sebenarnya cuman gimmik [musik] dan fungsi itu kayak masih beda tipis. Kayak contohnya si Asus Zenbook Duo ini. Ini sih cocok banget buat saya yang saya tuh kerjanya ya kadang bisnis, kadang nge-host DKID, kadang juga rakyat desa karena saya enggak pernah megang dolar. Tapi sebagai pekerja di bidang kreatif yang emang guafulnya itu pakai dua layar, jelas ini enak banget ya. Tapi tiap hari itu saya yang ngedit, bikin script dan saya itu memang pakai dua layar. Nah, bayangin kalau misalkan ada laptop dua layar kayak gini. Apakah nanti tiap ada invoice masuk nominalnya sejuta bakalan jadi 2 juta di sini karena doble? Enggak juga sih. Jadi fungsinya apa sih laptop dua layar ini? Yuk kita bahas. First impresi saya ya waktu pertama kali megang laptop ini, behnya ini beneran premium. Selain karena desainnya yang slick dan elegan, bahannya juga ser aluminum. Dia juga ngasih feel yang lebih kokoh. Jadi buat yang belum tahu apa itu seruminum, gampangnya ini adalah keramik campuran aluminium. Jadi materialnya ini tiga kali lebih kuat dan 30% lebih ringan dibandingkan dengan metal biasa. Dan ketika dipegang tuh kayak beneran ada tekstur tipis keramik gitu di permukaannya. Beneran kerasa mahal. Jadi pas dipegang gini tuh kayak berasa cing dolar gitu. Jadi beneran mahal. Selain materialnya yang premium, secara durability dia juga premium karena standarnya Asus ya. Susu laptopnya selalu punya standar militer 810H yang artinya dia kokoh beneran sih. Jadi buat yang kerjanya mobile terus enggak sengaja kepentok meja, piring dan keinjak sapi kurban aman-aman aja lah. Tapi kalian ngapain buka laptop pas kurban? Ya, pas kurban itu ya makan gule aja enggak usah buka laptop. Tapi sayang juga sih kalau misalkan laptop ini kepentok-pentok ya. Uh karena kayak terlalu indah untuk dipentok-pentokkan. Tapi ngomongin soal mobile, laptop ini menurut saya agak lumayan effort ya kalau misalkan dibawa ke mana-mana ya. Dia sih masih di bawah 2 kilo dengan bobotnya itu 1,69 kg. Kalau pakai pennya itu sekitar 1,7 kg. Tapi kalau untuk ukurannya jangan salah. Dia ini compact 14 inch. Jadi enggak bakal menuh-menuhin tas. Dan semisalun kalian mau ngegambar outdoor, enggak perlu lagi bawa stand laptop karena dia udah ada build-in pinnya tadi. Dan jujur saya suka sih sama stand dan juga hint-nya karena ini keren ketika kalian buka layarnya sampai 180 derajat, hins-nya itu benar-benar tersembunyi bikin ketika laptopnya itu kita taruh meja mendatar, dia itu enggak ada jendolan yang mengganggu. [musik] Standnya juga walaupun tipis, tapi surprisingly dia solid, kokoh, dan kuat nge-handle laptopnya. Menurut klaimnya sih dia bisa dibuka tutup sampai 40.000 R000 kali dan juga bisa nahan beban sampai 15 kg. Wah, laptop kayak gini ya bisa nahan beban 15 kg. Gokil juga. Ada lagi yang tipis nih, Guys. Nih, keyboard-nya. Wah, ini jangan sampai kalian ketinggalan di dapur ya. Karena takutnya kalau ketinggalan di dapur dikiranya apa? Dikiranya nanti jadi telenan. Karena ketebalannya itu cuma 0,5 mm aja. Tipis banget. Tapi yang unik, feel-nya ketika dipakai buat ngetik itu enggak kerasa travel distance-nya yang cetek banget ya. Enggak kayak keyboard yang build inin sama laptopnya langsung, tapi untuk ukuran keyboard eksternal masih okelah. Pantulan ttelnya itu juga masih nyaman. Touchpad-nya juga responsif. Dan yang paling oke dia enggak perlu dicas. [musik] Jadi dia ada magnetic pin-nya yang sekalian ngecas di laptopnya kalau kita pakai si Pogo Pin ini. Dan dia juga udah Bluetooth ya. Jadi keyboard-nya bisa kita pakai sambil kita pangku pun juga bisa. Oh ya, dan karena laptop ini punya dua layar, jadi dia punya beberapa mode yang bisa kita pakai juga. Contohnya ya kayak laptop mode biasa, terus dual screen mode, desktop mode, dan juga sharing mode. Jadi ada laptop mode, mode laptop kayak biasanya, dual screen mode bisa kita pakai kayak gini. Terus juga ada desktop mode buat pengganti PC, ada sharing mode, ada dual screen with virtual keyboard juga, dan ada presiden mode. Wah, sori ini president mode ini kerjanya sering dipakai di luar negeri maksudnya ya. Kalau misalkan pakai mode presiden mod. Nah, mungkin ketika kalian lihat footage tadi, kalian kayak agak notice ini ketika posisinya dilipat dia kelihatan tebal. Ya memang lumayan tebal ya. 2 cent. Berasa balik ke laptop Majapahit kalau tebalnya segini. Tapi ingat ya, ini laptop sebenarnya punya dua layar. Untuk ukuran laptop 14 inch dengan dua layar sebenarnya engineering-nya Asus itu udah kerja keras banget untuk ngasih ketebalan cuman 2 cm. Untuk ukuran laptop ditumpuk dua ya sebenarnya sih tipis ya. Nah, sekarang masuk ke segmen favorit saya. Uh, layar karena layarnya nih dua-duanya cakep banget. Dua layarnya ini punya dimensi 14 inch dengan panelnya itu Asus Lumina Pro OLED yang resolusinya dua-duanya 3K dengan refresh rate 144 Hz. Jadi, enggak ada yang jomplang. Kedua layarnya ini sama-sama cakepnya. Terus keduanya juga udah touch screen dengan pick brightness-nya di 1000 nits. Bayangin 1000 nits untuk laptop itu gede banget. Enggak berhenti di situ. Walaupun larnya ini glossy, tapi dia punya anti reflective coating yang bisa ngurangin coat itu sampai 65% pantulan cahayanya. Ya memang belum sampai 100% tapi saya sudah coba di bawah cahaya outdoor dan masih kelihatan cukup jelas. Kemarin saya suruh si Azura itu untuk gambar di tempat odo dan kata dia kalau tepat di bawah trik sih masih agak ngeganggu ya kalau buat gambar. cuman masih cukup kelihatan kalau sekedar buat baca atau nonton. Tapi ya daripada panas-panasan odor lebih baik kalian neduh mungkin bisa makan esteler daripada kulit kalian nanti bakalan hitam merah belang kayak A9 dan enggak lolos Liga Champions lagi. Nah, sebagai senjata pekerja kreatif color akurasinya kan harus [musik] bagus ya. Dua-duanya ini udah saya tes. Jadi layar atas bawahnya untuk sRGB-nya dapatnya di 100%. [musik] Adob RGB 90%. P3-nya 99%, NTSC-nya di 88%. Untuk tipical brightness in-nya ada di 414 nits. Jadi kalau dipakai buat gambar sampai color grading, enggak akan ada warna yang miss akurat. Oh ya, ngomong-ngomong soal gambar, di dalam paket pembelannya itu udah ada pen stylus-nya ya. Jadi kalian enggak perlu beli lagi. Dan udah ada charging dock bawaan yang feel-nya juga sama-sama premium. Warnanya ini hitam, elegan, feel dipegangnya enak dan cukup ringan. cuma 16 gr aja. Untuk ukuran aktif penn sih ini cukup ringan ya si pennya. Ini punya pressure sensitivity sampai 4096 dan udah dipakai sama Azuda. Dia bilang kalau pennya ini enak banget dipakai buat gambar walaupun di layar yang glossy atau licin. Sebenarnya tinggal beliin aja kayak screen guard yang mid yang bisa feel-nya kayak kertas itu udah banyak kok di e-commerce ya. Tapi Azura sih katanya dia itu prefer stylus pen yang ada sudutnya ya. Tapi ini balik lagi ke preferensi. Nah, uniknya di pen ini di bagian belakang pen-nya ini ada tombol yang kalau kita pencet dia bakal nge-screenshot. Azurnya juga bilang kalau kita gambar di Microsoft Pin terus kita pakai bagian belakang pen ini, nanti dia otomatis jadi penghapus. Cuman ternyata waktu dicoba di software lain kayak di Clip Studio enggak bisa. Mungkin kalau di Microsoft P karena bawaan Windows, jadi [musik] dia bisa ngedeteksi kalau itu bagian belakang pennya ya. Sementara kalau di Clip Studio enggak bisa. Weh, ini juga bisa circle to search ternyata ketika saya pencet-pencet. Sini balik lagi experience Azura ketika ngegambar. Karena ini juga penting kalian pasti beli laptop ini, touch screen ada p-nya pasti juga bakalan sering gambar. Jadi kata dia palm rejection-nya itu udah bagus, enggak hilang-hilangan. Jadi ketika gambar enggak ada tuh tiba-tiba kecoret. Oh ya. Dan kalau kalian tanya dua layar kayak gini sebenarnya ini gimik atau beneran [mendengus] kepakai? Jawabannya ya beneran, Guys. Kepakai banget malah. Kalau Azura, dia pakai layar yang bawah itu buat gambar, terus yang atas buat lihat referensi dan juga color palet. Kalau saya sih biasanya buat scripting. Biasanya kalau saya pakai layar yang atas buat research. yang bawah buat halaman Google Docs-nya. Nah, kalau kalian mau buat ngedit, bagian bawah bisa dibuat timeline. Bagian atasnya buat preview video. Terus siapa lagi? Misalkan kalian coding developer data analis. Karena ya logikanya dibandingkan pakai layar satu enak pakai [musik] layar du. Dan kalau kalian lihat Instagramnya Mas Anjas kemarin tuh dia juga pakai laptop ini. Katanya secara ergonomis kalau misalkan duduk dengan laptop posisi layarnya seperti ini itu lebih aman dan bahu dan juga punggung itu lebih sehat kata dia. Ya, coba kalian cek nih di Instagramnya Mas Anjas. Kalau soal spesifikasinya laptop dengan dua layar ini udah pakai prosesor terbarunya Intel yaitu Intel Core Ultra 9 prosesor 386H. prosesor Intel dengan arsitektur Pantter yang udah dibekali NPU dengan kemampuan 50 TPS. Terus fitur-fitur AI Windows kayak Recall, Kocator, DPIN, dan lainnya udah enggak perlu internet lagi. Bisa full lokal di laptop ini. Dan kalau masalah performa langsung aja kita coba sintetisnya kayak gimana. Jadi pertama seperti biasa kita coba di SBZ R23. Sekarang kita coba di mode skenario rata kanan atau adapternya dicolok dan hasilnya single core-nya dia dapat di 2064. Multi corore-nya stabil di kisaran 17.000 sampai 18.000. Dan yang unik, walaupun adapternya ini kita cabut atau pakai mode baterai only ya ada penurunan performa tapi enggak banyak sih dengan multicor-nya tetap di kisaran 17.000 sampai Rp800.000 single core-nya di 2052. Jadi untuk persentase turunnya itu enggak sampai 1%. Untuk TDP-nya aja pas kita pakai dua skenario tadi pakai adapter dan tanpa adapter itu sama-sama spek-speknya di 60 watt dengan suhu yang juga relatif sama ya di kisaran 95 derajat Celcius. Lanjut kita coba untuk stress test apakah coolingnya ini mumpuni untuk mengalahkan si Intel Core Ultran dan hasilnya stress test-nya ternyata dia lolos dengan skor 99,3%. Kalau untuk skor lain kayak Time Spy, Firolar Bay kalian bisa langsung baca aja di sini. Dan kalau kita lihat Time Spice test-nya tadi, berarti sistem cooling dan juga engineering-nya Asus ini cakep banget sih. Bisa maintain panas yang gak berlebih di laptopnya. Dan sekarang lanjut kita coba untuk editing rendering. Seperti biasa ada BBM Pro export ke 4K. Dia selesai dalam waktu 3 menit 30 detik. Or ke full HD mirip-mirip aja sih kayak cuman 3 menit 17 detik. Di blender. CPU rendernya dia selesai dalam waktu 2 menit 8 detik. GPU rendernya juga mirip-mirip di 2 menit 6 detik. Kalau untuk suhu pas Export Premiere 4K tadi, suhunya itu di kisaran 85 derajat celcius, tapi diturunin lagi ke 70 dan package power-nya cuma di kisaran 30 watt, spike sekali ke 40 watt. Terus laptop ini kalau soal RAM, RAM-nya dia dikasih langsung yang 32 GB dual channel LPDDR5X dan juga storage 1 TB NVME yang speed-nya kencang banget ya di 6.000-an Mb. Nah, sebenarnya ini bukan laptop gaming, tapi gak apa-apa kita tes gaming juga. Tapi biar durasinya gak terlalu panjang ya, kalian bisa lihat chart berikut ini aja. Intinya kalau kalian lihat, saya highlight satu aja, Cyberpunk, Cyberpunk di resolusi full HD graphic low, super resolution performance frame generation-nya on. Dia bisa dapat average FPS di 92. Tapi kalau enggak pakai frame generation, dia masih playable juga dengan average FPS di 54. Game lainnya editor tolong pakai chart aja ya. Mungkin kalian mikir, "Wah, ini laptop layarnya dua, semuanya trik, semuanya 144 Hz pasti boros baterai." E, jangan salah dulu, kawan. Karena kapasitas baterainya ini gede banget, 99 watt hour. Asus tff, Asus Ruji aja kalah sama kapasitas baterainya. Ini yang bisa dibilang ini kapasitas notok jedok untuk bisa terbang pakai pesawat. Sebenarnya Asus kalau misalkan mau nambah mungkin bisa, tapi sayang banget kalau laptop ini enggak boleh naik pesawat karena terbatas direasi. Dan kapasitas baterai segede ini pas kita coba pakai PC MA 10 dia bisa tahan di 16 jam 17 menit. Beh, untuk laptop yang punya dua layar, dua layarnya ini 3K 144 Hz ini sih awet banget. Nah, gimana kalau untuk daily use-nya, Bang? Kita udah coba sampling, ya. Kita coba YouTube 10 menit itu dia berkurang 2%. Kalau untuk Office dengan Wii, ya berkurangnya juga 2%. Gaming Cyberpunk tadi 10 menit, berkurangnya 10%. Terakhir kita bahas software bawaannya. Software-nya bawaannya jelas My Asus karena kalau My Boluetan itu beda segmen ya. Buat yang belum tahu, jadi ini adalah control panel buat cek kondisi laptop kalian kayak bater health, storage, terus kalian juga bisa medical check up laptop kalian lewat sistem diagnosisnya yang canggih. Jadi enggak perlu BBJS lagi. Pokoknya semuanya ada L terus enggak ketinggalan ada screen expert yang gunanya sebagai quick launch laptop kalian kayak Gonta-ganti fan profile on off in mic dan masih banyak lagi. Ada juga story cube. Jadi bayangin aja kalian punya foto hasil jepretan yang banyak banget sampai bingung sendiri milihnya. Nah, di story Cube ini bisa ngemudahin kita buat mengorganisir file itu tadi secara gampang. Jadi, cukup hidup kalian aja yang ruwet. Urusan foto jangan ikutan ruwet lah. Terus yang terakhir enggak ketinggalan karena dia punya IGP-nya udah Intel Arc, kita bisa main-main generate image lewat Intel Payground. Kalian bisa generate gambar kalian langsung secara offline tanpa bayar token lagi. Karena kan sekarang token lagi mahal-mahalnya karena ya rupiah lagi menguat dari 15.000 [musik] ke 17.800. Dan sebenarnya masih banyak lagi fitur-fiturnya yang kalau saya jelasin lagi bakalan panjang. Tapi intinya laptop ini dengan semua fiturnya itu tadi, harganya itu dibandrol dengan harga kisaran Rp jutaan. Wuh. Jadi, setelah saya pakai laptop ini selama beberapa waktu dan Azura juga udah nyobain dari sudut pandang Illustrator, laptop ini memang ditargetkan buat kalian yang kerjanya perlu multitasking yang berat, yang butuh dua screen sekaligus kayak desainer, illustrator, video editor, arsitek, developer, sampai data analis. Terus apakah di harga Rp50 jutaan ini laptopnya worthed? Ini sebenarnya pertanyaan yang cukup sensitif ya. Apalagi setelah kalian lihat review ini terus kalian pengen laptopnya dan budget kalian cuma Rp200.000, R000 itu sensitif banget buat kalian yang budgetnya cuma segitu. Tapi dengan harga Rp50 juta kalau kita lihat dia udah pakai Intel Core Ultra 9. RAM-nya 32 GB, 1 TB NVMI yang kencang plus dua layar OLEDK 144 Hz. Dengan spek segitu sebenarnya harganya ini udah cukup kompetitif karena dengan laptop yang sama dengan satu layar aja ada yang lebih mahal juga. Dan enggak cuma itu aja dengan harga segini kalian juga enggak perlu keluarin uang lagi buat beli monitor eksternal, stand, hub, kabel, dan sebagainya. semuanya udah jadi satu kompact di ukuran laptop 14 inch yang build quality-nya juga udah premium ini. Kalau untuk kekurangannya ya kekurangannya pertama jelas harga harganya bukan untuk semua orang di kondisi ekonomi kayak gini ya. Plus keyboard-nya ini memang enak ya keyboard eksternal tapi kalau kalian bandingkan dengan keyboard Zenbook yang buat inin sama laptop ya enak [musik] yang buat sih ya karena feel ttile-nya lebih nyaman. Plus suhunya. Suhunya enggak bisa dibilang kekurangan sih ya, karena saya lihat tesnya ini suhunya itu cuma 40,3 derajat celcius aja tertingginya. Jadi masih aman untuk suhu. Baling untuk maksa kekurangan lagi ya bobotnya ya. Bobotnya kalau dibuat mobile itu karena dia ukurannya dapat dua layar jadi dia masih di atas 1,5 kilo. Yang untuk mobilitas itu menurut saya karena sekarang Exin Book juga ada yang ngeluarin di bawah 1 kilo ya. Jadi setelah saya nyobain yang di bawah 1 kilo terus nyobain ini kalau di bawah mobile lumayan berat. Tapi overall dengan harga Rp50 juta ya, kalian bisa dapat paket lengkap. Tablet dapat, desktop kalian dapat, laptop kalian dapat, ya semuanya jadi satu di sini. Saya budye.
