Jungkat

Macbook Killer ! Laptop ini Bikin Macbook Kemahalan ! Acer Swift Edge 14 AI Review (YouTube Video)

  • 17/07/2025

Oke, tes fisika singkat. Jadi, ini ada botol air beratnya 1 kg dan di tangan kanan saya ini ada laptop yang bobotnya under 1 kg tapi punya jeroan yang enggak masuk akal. Laptop ini secara teknis lebih ringan dari sebotol air. Tapi di dalam mesin setipis ini, Acer nekad masukin monster si Intel Core Ultra 9 terbaru. Jadi, bagaimana mungkin ya sesuatu yang begitu ringan bisa nampung kekuatan yang begitu besar? Pertanyaannya udah bukan lagi seberapa kencang karena udah pasti kencang pakai Intel C Ultran. Pertanyaannya jadi gimana cara bikinnya? Apa ada yang dilimit ya? atau bahkan sekarang dia bisa jadi MacBook Killer. Hmm. Yuk kita bahas. Serius megang laptop ini tuh rasanya aneh been unik. Karena kalau kalian pernah ke toko terus kalian lihat laptop display yang dumy ya rasanya kayak gini kayak kosong enggak ada apa-apa, enteng banget. Tapi laptop ini nyala. Kan aneh ya dumy tapi nyala. Rahasianya Acer pakai material yang namanya magnesium aluminium alloy. Kedengarannya canggih ya memang ini material yang canggih sih yang biasanya dipakai di pesawat dan militer. Bahkan Acer Swift H1A ini lolos uji standar militer 810H yang berarti dia udah lolos uji guncangan, getaran, dan juga suhu ekstrem. Dan lihat aja warna putihnya ini Excer namanya dengan pur white dan w cakep banget dia terlihat cantik, elegan, dan finishing mid-nya ini juara. Gak ada yang namanya magnet fingerprint. Desain barunya ini juga cakep ya. Sebenarnya saya udah pernah ke Comutex dan saya main ke headquarternya Acer. Dan kata Acer, desain abstraknya ini terinspirasi dari kertas atau pita kado yang membentuk huruf abstrak S untuk Swift dan jadinya laptop yang super cakep yang jarang kita lihat. Exelnya juga udah bisa dibuka sampai 180 di Lay. Enak buat presentasi. Dan kata Acer, exelnya ini udah dibuka tutup sebanyak 20.000 kali untuk uji tesnya yang dapat standar militer tadi. Prosesornya emang absurd banget sih karena laptop setipis dan juga seringan ini dikasih prosesor monster Intel Core Ultra 9 28V. Dan ini bukan Intel Core Ultrain biasa ya. Arsitekturnya Lunar Lag yang punya 8 core tapi enggak 16 trad 8 trad. Jadi dia gak ada hyper trading-nya. Intel ngorbanin sedikit performa multi trade mentahnya di sini karena ya untuk biar baterainya itu longlast awet. Di tengah gempuran chipset ARM ya ini menurut saya adalah langkah yang tepat buat Intel biar bisa compete untuk laptop ultrabook dengan baterai yang super panjang. Jadi walaupun pakai Intel Core Ultren tetap bisa masuk ke laptop setipis ini. GPU-nya dia pakai Intel Art 140V yang kalau dibuat main Cyberpunk masih ngangkat. Nanti saya kasih tahu hasilnya. Dan total tops atau trilis operation per second-nya 120 gabungan dari CPU, NPU, dan juga GPU-nya. Apakah cuma bisa jadi webcam Windows effect aja? Enggak kok. Nanti kita bahas untuk AI-nya yang on device. Banyak banget. RAM-nya 32 GB LP DDDR5X mentok. Storage juga dikasih mentok 1 TB. Tapi sayangnya memang enggak bisa di-upgrade ya. Tapi 32 GB 1 TB. Apanya yang mau di-upgrade? Itu untuk laptop bisnis udah mentok banget. Buat kerja multitasking aman banget enggak pakai lama. Satset ubah PPT jadi PDF 150 slide cuma selesai dalam waktu 9 detik. Excel randomis data yang large cuma 43 detik. Multitasking buka banyak tab juga enggak ada lag sama sekali. Kalau buat performanya Disney Bench R23 single core-nya itu dia dapat di. Kalau untuk multiore-nya awalnya bisa dapat 9.000, running kedua 8.000, tapi setelah itu stabilnya di 7.000 poin. Kalau laptopnya enggak dicas, single core-nya memang turun ya, jadi sekitar 700-an poin. Tapi multiore-nya yang aneh malah lebih gede ketimbang pas dicas dengan multior-nya. Itu stabilnya itu bisa 9.000-an poin sampai running ke9, running ke-10-nya yang turun di 8.000 1000 poin. Dan kalau kita lihat suhu temperaturnya pas R23 ini dia spek-sepek-nya di 80 dan juga 85 derajat Celcius. Dan untuk CPU package power-nya spack-spack-nya paling mentoknya itu bisa sampai di 40 watt. Lanjut buat editing di Adobe Premiere Pro. Kita export 4K dengan template yang biasanya kita pakai. Dia cuma selesai dalam waktu 2 menit 41 detik. 4K loh ya. Kalau kalian pengin lebih cepat lagi bisa full HD 1 menit 54 detik. Untuk suhu temperaturnya di Adobe Poo ketika Xort 4K juga masih direntang aman. Rata-ratanya itu di 70 derajat celcius. Ketika mau selesai aja dia spek di 80 derajat celcius dan package power-nya ada di 30 sampai 35 watt. Lanjut kita coba untuk rendering 3D pakai blender. Dan seperti biasa template BMW CPU rendernya dia selesai dalam waktu 4 menit 30 detik dan untuk GPU rendernya mirip-mirip 4 menit 19 detik. Nah, kalau untuk SU temperaturnya di Blender itu di kisaran 80 derajat Celcius dan power-nya juga tetap sama di kisaran 30 sampai 35 watt. Sekarang kita coba untuk main game ya. Walaupun sebenarnya hakikatnya atau kodratnya laptop yang tipis dan super ringan kayak gini enggak cocok buat nge-game karena buat kerja. Tapi yang namanya kerja kan pasti bosen ya, pasti butuh gaming tipis-tipis. Dan hasilnya kita coba untuk main game Dota 2 resolusi full I di graphic fastest. Average FPS dia masih bisa dapat 102, maksimumnya tembus 108. Drop-dropnya cuma di 87 fps. Valoran dengan settingan yang sama mentok kiri average FPS dia bisa dapat 183 maksimum bisa tembus 247. Dropdopnya cuma di 169 FPS. Kita coba main game triple A tapi yang agak enteng dikit ya. Gensin Impact dengan settingannya high. Gensin Impact ini resolusinya full HD. Average FPS dia bisa dapat 60. Dropdopnya cuma di 47 fps. Jadi masih aman. Karena aman saya naikin sedikit ke Cyberpunk. Saya berpang dengan settingannya low, DLSS-nya di performance dan average FPS dia masih playable ya untuk average FPS-nya di 42 maksimumnya bisa tembus 54. Drop drot-nya memang di bawah 30 tapi ya itu kayak kadang-kadang aja 27 fps. Jadi untuk Cyberpunk masih aman. Kalau untuk suhu temperaturnya mirip-mirip. Kalian bisa lihat chartnya ini Dota 2 di kisaran 64 derajat Celcius. Terus Valoran juga di 72 derajat Celcius. Cyberpunk juga di kisaran 70 derajat celcius dengan pckage power di kisaran 30 watt. Tapi kalau kita ngomongin suhu permukaannya setelah kita stress tes dan juga main game tadi, suhu tertingginya itu ada di 47,7 derajat celcius. WASD-nya 42,2 derajat celcius. Lumayan anget memang. Tapi yang perlu dicatat ini laptop super tipis dan ringan. Dan stres-stesnya tadi kita nonstop mulai dari signeband sampai Cyberpunk nonstop. Jadi, ya lumayan anget dan real skenarionya enggak mungkin kalian geber kayak di review kita ini. Oh ya, cooling dari Acer ini punya fitur yang namanya Dust Defender. Sesuai dengan namanya, dia jadi mengurangi atau mencegah debu masuk ke dalam kipasnya. Cara kerjanya, setiap 6 jam nyala, dia bakalan berputar berlawanan arah untuk menghilangkan debu-debu yang menumpuk tadi. Jadi, bisa jaga performa kipasnya untuk jangka panjang. [Musik] Layar. Jujur dari semua bagian ini yang paling saya suka layarnya sih karena nyaman banget. Filnya OLED dengan resolusi 3K dan ini adalah laptop pertama entar 1 kg yang punya OLED dan juga touch screen ya. Plus refresh rate-nya juga udah 120 Hz enggak main di 60 Hz. Enggak ada kompromis sama sekali di layarnya. Ini OLED-nya punya banyak sertifikasi mulai 100% di CP3 versa XDR True Black dan layar olet-nya ini dilapisi Corning Gorilla Glass Mate Pro yang kalau dibawa outdoor tetap sangat nyaman dipakai. Enggak ada pantulan muka saya sendiri pas saya kerja karena kalau misalkan pas kerja terus kepantul wajah saya itu kadang saya kaget gitu. Saya kira penampakan. Dan untuk kalar gambutnya pas kita tes sRGB-nya itu luas banget 138,8%. Adap RGB nyentuh 100%. V3-nya 96,2% dan brightness-nya bisa dapat 373 nitz. Untuk ukuran laptop tipis dan ringan itu udah lumayan gede. Yang artinya kalau misalkan kalian lagi ngedit contoh warna apel merah, warnanya bakal natural merah gitu, enggak meleset jadi apel yang terlalu matang dengan merah marun gitu, enggak. Keyboard-nya ini soft touch dan ada lapisan UV antioda yang diklaim terasa seperti bluew. Rasanya itu empuk, travel distance-nya gak terlalu dalam khasnya laptop tipis, tapi cukup nyaman buat ngetik lama. Terus untuk touchpad-nya, touchpad-nya ini enak banget karena touchpad-nya juga diproteksi atau dilapisi sama Corning Gorilla, Guys. Jadi, dia pakai kaca. Jatuhnya touchpad-nya ini jadi responsif dan permukaannya licin. Cuman ada satu sih yang menurut saya ya fitur yang kayak penting enggak penting. Lampu indikator AI-nya yang sebenarnya kayak gimik aja ya. Ini tanda kalau NPU-nya lagi jalan yang ya yang enggak fungsional sih, kayak keren-kerenan aja. Tapi menurut saya akan lebih baik kalau misalkan touchpad-nya ini dibikin kayak Acer Swift yang saya lihat di Komutek itu Swift apa ya? Acer Swift Go 14A AI kalau enggak salah. Itu touchpad-nya bisa jadi media control, bisa untuk setting zoom itu lebih fungsional daripada harus ya ini kayak indikator NPU aja karena ya kayak siapa sih yang mau ngecek NPU jalan atau enggak karena udah tahu jalannya udah cukup gitu ya. Keren sih tapi enggak fungsional. Dan tepuk tangan buat portnya ya. Karena biasanya untuk laptop yang super tipis ringan, under 1 kilo, paling portnya itu cuman dua aja. Dua buah USBC. Udah itu aja. Tapi SR Swift ngasih dua buah USBC Thundable 4. Ada dua USB type E, ada port HDMI, audio jack juga ada. Lengkap, enggak pelit. Jadi bisa pasang mouse, keyboard, dan juga flash disk bersamaan. Enggak perlu dongkel. Baterai secara kapasitas sih standar sebenarnya 65 watt hour. Tapi berkat prosesor yang hemat daya dari Intel, Acerim bisa tahan sampai 29 jam untuk video playback. Real-nya sih pas saya coba pakai PC Max 10 modern Office dia dapat 14 jam 18 detik. Tapi kalau saya pakai sendiri buat browsing Wii dengan Microsoft Edge brightness sekitar 50% dia bisa tahan sekitar 16 jam 20 menit. Yang sebenarnya ini juga tergolong awet. Kalau buat gaming sih lumayan boros ya. Kayak tadi coba main Dota itu dia berkurang 11% dalam 12 jam. Charging-nya yang 65 watt untuk ngecas 65 wat hour lumayan cepat 0 ke 100%. Dia cuma butuh waktu sekitar 97 menit. AI standar kayak webcam dengan Windows Studio Effect. Terus noise cancellation sih juga ada ya. Tapi selain itu ada fitur-fitur yang cocok buat saya sebagai pelupa. Namanya adalah recall. Recall di sini bukan recall-nya MLBB ya. Kalau saya main LBB itu enggak pernah recall. Saya mendik mati daripada recop. Pernah enggak sih kalian habis kerja terus habis gitu kalian lupa naruh filenya di mana? Nah, recall ini fungsinya kayak waktu yang dibikin mundur secara periodik dia bakalan ngambilin snapsoot dari layar yang bisa dicari dengan bahasa alami. Misal carikan presentasi marketing yang ada gambar birunya gitu doang file-nya bisa ketemu. Menarik kan? Ada live caption juga yang bisa bikin caption bahasa Inggris secara real time. Ada co-creator yang bisa bantu kita inspirasi dari gambar yang pernah kita diomin juga ya pas review Aser Swift 14. Ada click to do yang bakal segera hadir di Copilot. Ini mirip-mirip sama kayak Circle to search di Android sih. Jadi kita bisa melakukan research di tangkapan layarnya. Dan nanti yang segera hadir juga akan ada generative field dan juga Super Resolution. Ini mirip-mirip AI yang ada di HP juga. Tapi itu nanti ya bakalan segera hadir katanya. itu tadi yang berkolaborasi sama Copilot, tapi Acer juga punya AI-nya sendiri. Caranya kita tinggal aktifkan aja Exer Sense atau bisa sentuh shortcut yang ada di keyboard-nya yang ada tombol A itu. Nah, itu masuk exercense dan masuk ke fitur zona AI. Di situ ada Aceris yang on device. Jadi enggak perlu internet, bisa cari panduan sampai minta ringkasan dokumen dari folder yang kita pilih. On device loh ya, enggak perlu internet. Ada Acer Live Art yang bisa hilangin background foto dengan cepat dan bisa ubah jadi stiker siap pakai kayak WA. Versi terbarunya ada post to image. Jadi misalkan kita foto selfie digenerate sama dia, foto selfie-nya itu jadi kayak lebih artistik. Ada Acer Elterview yang ngasih perspektif baru buat presentasi dan tampilan visual. Ada Exervision Art yang bisa bikin wallpaper AI cuma dari teks. Bisa pilih gaya dan suasana dan boom wallpaper langsung jardi. Kesimpulannya buat profesional yang suka mobile yang bosen dengan laptop warna hitam yang enggak kelihatan menarik sama sekali dan butuh laptop ringan dan tipis dengan layar yang super imersif, H14i ini cuakep sih. Lihat aja nih. Cakep kan? Dan kelebihannya jelas. Layarnya triky OLED 120 Hz plus mid glass-nya ini benar-benar bikin laptopan betah. Performance-nya juga lumayan. Bahkan Cyberpunk dia juga masih bisa. Walaupun agak ngos-ngosan tapi ini menunjukkan kalau performance-nya ini kencang. Jadi kalau buat kerja berat Uber deadline masih mantap. Fitur AI dari Acer-nya sendiri banyak. Kolaborasi sama coilot-nya juga banyak. Baterai juga lumayan awet untuk prosesor Intel dan Windows. Kekurangannya paling ya buat saya pribadi ya, kayak lampu NPU-nya ini enggak perlulah di touchpad, mungkin dibikin yang lebih fungsional aja biar enggak gimik. Buat harga dia ada di du SKU ya. Jadi ada yang Intel Core Ultra 7 dan juga Intel Core Ultra. Core Ultra 7-nya itu starting from Rp25 juta. Kalau yang Intel Core Ultra yang kita bahas ini ada di 27 jutaan dan untuk garansinya 3 tahun sparep dan plus 1 tahun ADP. Laptop ini udah dilengkapi Windows 11 dan Office 2024. Tinggal pakai buat kerja gak perlu instal-instal lagi. Tapi overall buat yang pengin tampil beda, tapi enggak cuma dari tampilan aja, dari hardware dan software juga pengin bisa buat kerja Ester Swift H14 AI ini bisa jadi referensi yang menurut saya sayang untuk dilewatkan. Saya di and see you on the next video.

Lihat di YouTube