Jungkat

Macbook KILLER YANG SEBENARNYA ! ASUS Zenbook 14 OLED 2026 (YouTube Video)

  • 30/03/2026

Kalau kalian lagi cari laptop biar produktivitas makin hakiki tapi gak bikin punda itu merenteli, Susinbook 4 salat ini bisa jadi jawaban buat kalian yang pengen spek bidadari versi AI. Baterai yang ketahanannya udah kayak orang kebal, enggak punya rasa peduli, dan performanya kerasa sampai inti bumi. Ya udah, enggak usah sibuk mengasihani diri. Selamat menonton yang ketawanya kayak K. Hai Andika, Guys. Di sini kenalin ini adalah Asus Zenbook 14 outlet yang taglernya itu tipis tapi kencang. Ini sama kayak teman saya dulu. Diam-diam tiba-tiba nikah padahal enggak pernah pacaran. Kencang banget. Dan langsung aja deh, sebenarnya laptop ini buat siapa sih? Jadi ini laptop itu buat kalian yang gak bisa pisah dari laptopnya. Jadi kerjanya itu 12 sampai 14 jam selalu sama laptopnya karena dia enteng. Bayangin kalau misalkan kalian bawa laptop gaming buat kerja terus ditaruh di tas bisa bungku. Nah itu kalian mau kerja atau mau cosplay jadi kura-kura ninja? Let's ro. Ngomongin soal desain, Zenbook ini desainnya bukan yang norak ya, minimalis dan masih punya karakter dari Zenbook series pada umumnya. Untuk laptop yang saya review ini namanya Fogi Silver. Jadi dia kayak keabu-abuan kalau misalkan enggak kena cahaya. Dan kalau kalian suka warna yang lebih gelap, ada yang namanya ponder blue. Karena birunya ini kayak dia enggak peduli gitu karena biru biru donker donker. Soal bobot sih kata Asus dia di 1,2 kg tapi pas kita timbang sih 1,3 kil ya. Selisihnya sekitar 100 gr dan ketebalannya ada di 14,9 mili. Sebenarnya kalau 100 gr kalau untuk HP sih bakalan kerasa ya. Tapi kalau untuk laptop karena bakalan dibawa di tas jadi enggak begitu kerasa. Apalagi yang saya suka chargernya itu kecil karena biasanya ada laptop tipis tapi chargernya gede. Itu kan kombinasi yang enggak masuk akal sebenarnya. Terus untuk portnya di sisi kanan body ada dua USB type C yang udah support thunderbolt. Terus di sebelahnya ada combo jack audio, ada port CMI. Geser ke kiri cuman ada port USB type A yang udah dia single menjumblo aja. Sebenarnya dia enggak yang tipis-tipis banget ya. Kalau misalkan mau masukin port lagi di sebelah kiri harusnya masih bisa cuman di sebelah kirinya sama dia dikasih exhaust. Jadi mungkin karena exhaust ini jadi portnya agak pelit. Lanjut kita masuk ke bagian keyboard. Keyboard-nya ini sama kayak zenbook lainnya. Walaupun ergo sense keyboard-nya yang bukan full size, tapi laptop ini tetap kasih kita pad. Nadet-nya itu sesuai dengan signature-nya Zenbook. Jadi ada di touchpad. Caranya kalian tinggal tekan tahan di pojok kanan terus dia langsung nyala deh. Udah deh kalian bisa langsung ngitung berapa tahun lagi KPR kalian lunas. Tapi kayaknya KPR itu enggak pernah dihitung pakai kalkulator deh. Dijalanin aja nanti lunas-lunas sendiri kok. Cuman pertanyaannya ini kan virtual NAET ini bakalan ketutup sama layar. Terus kalau kegencet gimana dong? Rusak enggak? Tenang aja karena US ini udah lolos standar militer dengan sertifikasinya STD 810H yang dia udah lolos 26 prosedur pengujian ekstrem. Jadi kalau misalkan kalian buru-buru pulang kerja mungkin karena di rumah itu udah ditunggu sama siapa, nah entah itu di kereta atau di mobil kegencet dia bakalan aman. Tapi oke deh ibaratnya misalkan kita tergesa-gesa terus laptopnya jatuh udah jatuh ketimpa kopi gitu gimana? Tenang aja karena ASUS punya jawabannya. Jadi dia punya garansi itu 3 tahun Asus VIP perfect warranty dengan accidental damage protection. Enggak ada aduh bintang kecil kayak garansi berlaku kalau barangnya enggak rusak. Itu kan namanya bukan garansi ya. Nah, Asus cover semuanya itu kalian enggak perlu bayar lagi. Kerusakan akibat kelalaian kita sendiri ditanggung 100%. Biaya perbaikan dan suku cadangnya gratis. Jadi enggak ada pertanyaan tuh ini jatuhnya gimana, Mas? Ini kena air enggak? Oh, ini enggak bisa nih garansi karena kena air. Enggak ada. Duh, pertanyaan kayak gitu. Terus dia juga ada namanya laptop spa. Waduh, saya tuh entah kenapa kalau dengar kata spa itu kayak kayak merinding gitu ya, laptop spa. Jadi kalau misalkan kalian laptopnya kotor bisa taruh di sana sama dia dibersihin secara gratis. Terus ada fast lan biar kalau servis giliran kalian itu didahulukan. Terus ongkos kirimnya juga ditanggung sama Asus. Jumlah service centernya aja di Indonesia itu ada 141. Jadi, udah banyak banget. Dan kalau misalkan kalian lagi di luar negeri ada 113 di seluruh dunia. Jadi kalau soal warranti sih memang Asus termasuk salah satu yang terbaik untuk laptop. Layarnya pun wah ini sih manjain mata banget ya. Emang kelas Zenbook itu layarnya enggak pernah mengecewakan. Dan yang satu ini dia 14 inch dan pakai OLED plus udah touch screen dengan resolusinya full HD plus. Tapi buat apa layar OLED touch screen kalau misalkan dia enggak bisa dibuka dengan satu tangan? Ya kita coba ya. Widih, bisa ternyata. amat. Dia juga bisa dibuka sampai 180 degrel. Jadi kalau misalkan kalian pengen berdiri sambil kerja bisa diouch-stouch aja layarnya. Kalau untuk kar akurasinya pas kita tes P3-nya itu ada di 99%. NTC-nya juga tinggi 95% dengan brightness-nya lumayan untuk laptop di 307 nits. Soal baterai, laptop ini punya kapasitas baterai 75 wat hour yang diklaim ASUS sebenarnya dia tahan di 15 jam. Tapi Asus sayangnya mereka berbohong sih soal baterai ini ya. karena baterainya lebih awet di 17 jam 30 menit pas kita tes pakai modern Office di PCM Max ya. Selama kita pakai ini sih kita ngecasnya 2 hari setengah sekali lah ya. Karena memang buat saya kerjaannya cuman scripting, terus browsing pakai Wi-Fi gitu-gitu aja. Mungkin kalau misalkan kalian buat gaming ya lebih cepat habis tapi ya laptop ini sebenarnya konteksnya atau kodratnya bukan buat gaming. Nah, kenapa dia bisa awet? karena dia punya efisiensi dari AI powered CPU-nya di Intel Call Ultra 7 yang udah pintar tuh bagi-bagi tugas dan mikirin konsumsi baterainya. Jadi kalau misalkan kalian cuma ngerjain Excel, efisiency core-nya bakal jalan. Kalau kalian ng-render core gedenya bakal jalan. Jadi udah bagi tugas gitu. Nah, sekarang kita coba bahas deh gimana performonya. Tapi sebelum itu kita bahas spesifikasinya dulu. Jadi prosesornya dia pakai Intel Call Ultra 255H. Jadi high performance ya, bukan yang seri U. Nah, high performance dapat 17 jam tadi itu termasuk overkill. Dan kalau kita lihat di bench-nya dia udah punya sertifikasi Intel Evo. Jadi syarat-syarat yang dibikin sama Intel biar laptopnya itu menyenangkan buat dipakai udah ada juga. Dan karena ini seri Core Ultra, jadi laptop ini udah punya Intel AI boost yang jelas menunjang produktivitas kita yang butuh pemrosesan AI. Contoh yang sering kepakai untuk NPU sih ya paling Windows Studio Effect. Terus kalau misalkan kalian pakai stable Divusion atau Jugged Note offline itu bisa kepakai juga. Terus untuk RAM walaupun kondisi RAM sekarang itu lagi naik haji atau naik daun karena mahal-mahalnya tapi RAM-nya kita langsung dikasih yang 32 GB. Tapi sayangnya memang dia udah tersolder di motherboard-nya ya. Tapi 32 GB harusnya sih udah lebih dari cukup lah. Terus untuk storage-nya dia pakai SSD NVME 1 TB yang speed-nya kalian bisa lihat aja di tes kita ini udah 1 TB kencang lagi. Tapi gimana performanya? Apakah beneran kencang? Kita coba di R23 synthetic dulu ya. Kalau misalkan pakai cas, single core-nya itu di 1941, multior-nya stabil di kisaran ya 14.000-an poin lah. Tapi yang aneh kalau casnya kita cabut malah performanya naik ya. Kayak single core dia dapat di8, multicore-nya malah di 17.000 running pertama stabilnya di antara 14 sampai 15.000 poin. Jadi laptop ini malah overkill kalau enggak dicas. Dan kalau kita lihat di SBZ R23-nya tadi, spike-spek-nya itu di 95 derajat Celcius. Dan untuk TDP-nya, running pertamanya itu bisa tembus di 60 watt terus dijaga stabil lagi di 35an watt. Ya, mirip-miriplah. On batery-nya juga kayak gitu. Yang menarik pas kita tes di Max sih, kita loop sebanyak 20 kali untuk ngetes apakah dia throtling atau enggak. Jawabannya enggak loh ya. Dia lolos dengan skor 99,6%. Kalau untuk tes 3D Max yang lain kalian bisa baca di sini aja biar durasinya enggak terlalu panjang. Nah, sekarang kita tes real use gimana kalau dia digunakan untuk rendering, Bang. Kita coba di Adobe Pemer Pro dengan template yang memang biasanya kita pakai, kita export ke 4K. Dia selesai dalam waktu 2 menit 59 detik. Kalau full HD malah lebih cepat 1 menit 51 detik. Dan sebenarnya ini bukan laptop yang untuk rendering 3D ya. Tapi kalau misalkan kalian belajar rendering 3D sih oke karena diblender dengan tempate BMW. CPU rendernya dia selesai dalam waktu 2 menit 31 detik. GPU rendernya 2 menit 19 detik. Terus kalau kita lihat temperaturnya pas export video 4K di Adobe PO tadi juga gak yang kayak SBCH ya. Dia cuman stabil di 65 derajat celcius dan cuma butuh TDP sekitar 24 watt mentoknya. Nah, kalau untuk blender di CPU rendernya baru tuh lumayan di 90-an derajat celcius, tapi diimbangi dengan TDP awal-awal tuh di 60 watt terus turun di 40-an watt. Yang saya suka ya walaupun dia bukan laptop gaming karena setipis dan seengenteng ini layarnya juga enggak segede laptop gaming, tapi dia bisa buat main nge-game walaupun dia enggak punya diskri grafik kan. Contohnya kita coba di game Dota 2 dengan resolusi bawaan dia graficest. Average FPS dapat di 143, maksimumnya tembus 199, dropnya cuma di 121. Valoran average FPS juga tinggi banget di 246, maksimum 398, dropdropnya 216. Tapi dua game ini kan game yang CPU bon ya, karena memang game yang enggak butuh GPU. Tapi gimana kalau di game yang butuh GPU? Kita coba juga di wering wave. Wering wave juga aman dengan average FPS di 58. Drop-dropnya di 38 lah. Masih playable. Cyberpunk pun dia juga masih ngangkat loh ya dengan super resolution on-nya. Average FPS di 66, drop-nya di 59 FPS. Kalau super resolusinya kita off-kan, malah turun FPS-nya dengan average 49, drop-dropnya di 42 FPS. Nah, kalian lihat aja cart-cat yang ada di sini pas kita tes main game kayak Dota 2. Temperaturnya itu di 86 derajat Celcius. TDP-nya juga cuman 30 watt. Dan hampir di semua game yang kita tes cuman butuh TDP sekitar 30 watt. Jadi enggak butuh 60 watt kayak di Sis Bench R2 tadi yang bikin laptop ini jadi enggak terlalu panas. Ya memang suhu tertingginya di bagian keyboard atas itu tempatnya ekha ya wajar 44 derajat celcius. Tapi bagian keyboard-keyboard terus WSD yang bakalan sering kita pakai itu cuma 37,2 derajat celcius. Padahal laptopnya enteng dan setipis ini. Saya enggak tahu gimana Asus tuningnya, tapi untuk sebuah laptop tipis, kencang, dan dingin. Kalau untuk kualitas kameranya kira-kira kayak gini better lah ya, karena dia di 1080p 30 fps dan NPU-nya tadi bisa berguna untuk Windows Studio Effect. Ini bisa kita aktifkan secara real time. Jadi, background effect-nya kayak gini. Kalau automatic framing-nya nyala, dia bakalan langsung pakai headro. Pokoknya disesuaikan lah framing kita itu biar lebih enak dilihat. Cuman kalau kalian butuh buat streaming yang profesional sih tetap harus pakai webcam eksternal ya. Tapi ini udah oke kok. Fitur yang kurang lebih sama kayak laptop Asus Zinbook pada umumnya di laptop ini juga punya namanya itu My Asus. Jadi software ini kayak semacam dashboard-nya lah. Mulai dari tempat buat update software, setting baterai, terus sistem diagnosis sampai monitoring performa ada. Terus ada juga software Glide X ini kepakai banget dan ngebantu buat produktivitas kita. Beberapa fitur kayak screen mirroring, extend layar. Jadi yang kedua, dan yang paling kepakai buat saya sih transfer file ya. Jadi dengan mudah kalian bisa pindah file kalian di HP ke sini dengan beberapa klik aja. Okelah, jadi mungkin cukup segitu aja video review dari Asus Inbook 14 OLED. Kalau ditanya ini buat siapa? Ya, ini buat orang yang benar-benar enggak bisa enggak bisa pisah dari laptopnya ya. Kalau misalkan saya pisah sama istri saya masih bisa karena kan saya kerja ya. Tapi kalau saya pisah sama laptop sulit ya karena istri saya juga bakalan setuju. Karena kalau misalkan saya enggak megang laptop dia enggak dapat jatah per bulan. Kalau enggak kerja. Kelebihannya jelas kerja dengan laptop kayak gini sering mobile enak banget karena enteng. Terus performanya juga solid, kencang, enggak throtling, dingin. Layarnya juga bagus dengan OLED. Dan olet-nya ini di software Myus-nya ada namanya OLED Care. Jadi kalau kalian takut burn in aman aja dengan software itu dia bisa bikin gambar statis itu biar jadi gambar bergerak. Terus dia enggak terlalu bergantung sama Windows dan juga coilotnya karena dia punya software sendiri kayak Asus dan juga Glide X. Karena kan kalau kita ngomongin laptoptop ODM biasanya ya dia cuman bergantung sama Windows aja, enggak punya software sendiri. Terus soal garansi juga aman 3 tahun bahkan kalian ada laptop spa. Wah gila bukan bukan suami-suami aja ya yang bisa spa ya. Tapi ternyata laptop juga bisa spa. Ada vaselin juga dan garansinya 3 tahun. Dan enggak perlu panik kalau misalkan laptopnya jatuh atau keseri kopi karena dia punya ADP. Kalau kekurangannya ya karena dia memang didesain untuk laptop yang mobile, jadi dia enggak punya diskrit GPU. Kalau kalian butuh GPU, wah bukan ini sih laptopnya ya. Terus kalau kalian enggak suka pakai dongle, ya ini portnya lumayan sedikit. Terus ya harus sering bawa SD card bawaan kalau kalian kerja di bidang content creator. Tapi overall dibanding kompetitor di kelasnya, laptop ini jelas unggul di garansi. Terus baterainya awet, ekosistem software-nya juga cakep, layarnya juga cakep. Bukan sekedar fitur di atas kertas. Saya Andik and see you on the next video.

Lihat di YouTube