MAHAL & MAKSIMAL - Review Marshall Wooburn III (YouTube Video)
Baru aja mau mulai bikin review speaker ini, udah nemu pengalaman yang nggak ngenakin menurut saya. Ini boxnya kenapa nggak ada handle atau tempat buat pegangan sih? Speaker ini lumayan berat dan gede loh boxnya. Jadi agak aneh kalau boxnya nggak di-design untuk lebih mudah ditenteng. Oke, minus pertama. Lanjut! Mereview sebuah speaker bukan hal yang biasa kita lakukan, tapi selalu menyenangkan karena biasanya ada aja speaker-speaker yang terkadang diluar nurul ya, dan selalu bikin saya amaze sama speaker yang rata-rata memang harganya agak mahal. Harganya nggak mahal, tapi kalau nge- review speaker yang harganya mahal, jujur saya agak bingung, karena secara nggak sadar akan jadi sedikit bias ya. Percaya deh, nge-review yang paling bener adalah saat kita nggak tahu berapa harga produk tersebut, karena dibawah alam sadar kita. Saat kita nge-review barang yang mahal, ada sisi bias yang kadang kita nggak sadar. Tapi hal itu untuk kali ini tidak akan saya pedulikan, karena walaupun speakernya mahal, saya berani jamin speakernya bagus lho. Marshall Wooburn III. Ini bukan speaker Marshall Wooburn pertama saya, karena saya punya generasi keduanya, yang tentu aja akan saya jadikan benchmark untuk cari tahu sebagus apa sih speaker baru ini. Speaker ini dijual dengan harga kisaran 9 jutaan ya, dan seperti yang saya bilang tadi, ini speaker mahal banget coy. Tapi ada beberapa toko yang jual speaker ini dengan harga yang jauh lebih murah, yaitu sekitar 6 jutaan, dan kayaknya ini bukan garansi resmi deh. Makanya harganya bisa sangat murah, sedangkan speaker yang saya punya ini bergaransi resmi. Kenapa harus resmi? Menurut saya karena memang harganya nggak murah. Kan nggak lucu beli produk mahal terus kalau kenapa-kenapa bingung mau diapain dan nggak tau harus kemana gitu. Kecuali memang anda adalah sultan, yang terbiasa pake barang sekali pakai. Speaker ini memang didesain untuk ditaruh di pojokan rumah, karena suaranya akan semakin imersif kalau ditaruh di tempat yang tepat. Karena kalau ditaruh di tempat yang gapas, suaranya nggak akan maksimal gitu. Akustik ruangan yang akan bantu bikin resonansi dari suara speaker ini makin maksimal. Saya bilang gini karena emang di aplikasi Marshall, ada fitur yang ngatur peletakan si speaker. Nanti saya ceritain deh. Sekilas, desain speaker ini memang terlihat mirip dengan generasi keduanya, tapi beberapa detailnya berbeda. Misalnya konfigurasi kontrol di bagian atas. Sekarang kita bisa lihat ada tombol kontrol untuk play and pause track, next track, dan previous track. Terus untuk tombol power versi ketiga ini lebih firm karena buat ngidupnya nggak harus digeser dan ditahan beberapa detik ya. Seperti yang ada di generasi kedua. Jadi secara umum, untuk desainnya nggak ada sesuatu yang baru dan masih sangat terlihat... Marshall sekali ya. Seluruh bagian speaker ini terbuat dari bahan synthetic leather di bagian samping dan atas. Sedangkan untuk bagian grill depannya berbahan pabrik. Fabrik maksudnya. Dengan sebuah logo Marshall berwarna emas yang gede ya. Total ada 2 pilihan warna di speaker ini, yaitu warna hitam dan warna krim yang mana. Saya pribadi lebih suka warna hitam ya. Karena lebih terlihat elegan aja gitu dan nggak gampang degil. Untuk portabilitas, speaker ini menurut saya jelek. Karena nggak ada handle yang bisa memudahkan kita untuk mindahin si speaker ke tempat lain. Ini jadi masalah karena speaker ini tuh berat banget sob. Sekitar 7 kilogram. Jadi cara buat mindahin ya mau nggak mau digotong secara keseluruhan dari bawah. Atau memanfaatkan lubang woofer di bagian belakang yang sekali lagi ini nggak ergonomis. Untuk fitur, Marshall Wooburn 3 bisa dibilang lengkap ya. Mulai dari konektivitas yang cukup lengkap, sampai software pendukung yang juga lumayan lengkap menurut saya. Untuk konektivitas, ada Bluetooth 5.2. Walau notabene nya bukan versi terbaru, tapi versi ini sudah cukup ngasih stabilitas koneksi yang oke menurut saya. Cuma saya merasa sinyal bluetoothnya tuh nggak bisa tembus temboknya tebel ya. Saya coba puter musik pake HP, pas si HP saya bawa masuk ke dalam ruangan, musiknya berhenti. Hehe, entahlah apakah ini juga dialami oleh pengguna lain, tapi di saya, ini kerasa ngeganggu banget sih. Konektivitas kedua adalah HDMI ARC. Nah ARC sendiri singkatan dari Audio Return Channel. Artinya si speaker bisa nerima sinyal audio melalui kabel HDMI. Cara kerjanya, tinggal sambungin aja si speaker dengan sumber suara yang mendukung protokol HDMI, misalnya TV gitu. Dan konektivitas yang ketiga adalah jack audio 3.5mm. Speaker ini juga menyediakan input 3.5mm untuk menghubungkan perangkat audio non bluetooth, seperti pemutar multi portable, atau turntable, atau laptop, atau komputer, atau apalah yang punya kabel AUX. Ada juga aplikasi Marshall yang bisa buka potensi lain dari si speaker ini. Fitur-fiturnya lumayan lengkap, misalnya aplikasi ini ngasih kita kontrol penuh buat si Wooburn III. Kita bisa kontrol si speaker cukup dari HP aja. Misalnya buat ngatur volume, memilih source input, ngatur equalizer, dan lain-lain. Kita juga bisa milih mode suara sesuai selera kita. Misal, kita atur suaranya ala-ala rock gitu, pop, jazz, dan lain-lain. Selain itu, di aplikasi Marshall ini juga ada beberapa fitur yang cukup menarik perhatian. Pertama ada yang namanya placement compensation. Nah ini yang sempat saya mention tadi. Fitur ini memungkinkan kita untuk mengoptimalkan suara Wooburn III berdasarkan penempatan speaker di ruangan. Apakah speaker ditaruh di pojok, deket tembok, atau di tengah ruangan, placement compensation akan menyesuaikan suara agar tetap optimal. Terus ada juga fitur bernama multi-host functionality. Anjay, English gua, keren juga ya. Fitur ini memungkinkan kita buat nyambungin 2 perangkat bluetooth sekaligus ke Wooburn III. Jadi kita bisa ganjang nyetel musik dengan orang lain, tanpa harus memutuskan perangkat. Atau sampai memutuskan tali selatur rahmi. Jangan ya dek ya. Dan satu lagi yang saya suka dari speaker ini, dia mendukung update software melalui Over-The-Air alias OTA. Speaker ini, softwarenya bisa diupdate secara otomatis melalui koneksi internet Ini kepake banget kalau misalnya kalah, ada bug yang mau di-fix, atau mau nambahin fitur baru misalnya. Kita lanjut ke bagian yang lebih teknis, yaitu konfigurasi. Marshall Wooburn III punya konfigurasi speaker 3 arah, atau 3-way speaker namanya. Itu bahasa keren sih. Speakernya sendiri terdiri dari sebuah speaker woofer berukuran 6 inch atau 152mm Fungsi speaker ini ngasihin suara frekuensi low atau bass yang deep dan powerful. Speaker kedua adalah mid-range driver berjumlah 2 dengan ukuran masing-masing 2 inch atau 51mm. Speaker ini bertugas menghasilkan suara mid atau vokal dan instrumen yang jernih dan detail. Nah speaker ketiga tentu aja, tweeter. Berjumlah 2, berukuran 0.75 inch dengan diameter 19mm. Tugasnya speaker ini adalah ngasihin frekuensi high atau treble yang tajem dan jernih. Konfigurasi kayak gini bikin si Marshall Wooburn III bisa ngasihin suara dari berbagai macam frekuensi dengan baik dan rapih ya. Selain itu, speaker ini juga punya 2 buah radiator pasif yang ngebantu ningkatin respons bass. Radiator pasif adalah jenis driver speaker yang nggak punya magnet atau voice coil, tapi digerakin sama tekanan udara yang dihasilkan oleh woofer. Ini bikin si Wooburn III bisa ngeluarin bass yang lebih deep dan powerful tanpa harus pake woofer yang lebih besar. Oke, sekarang kita bahas soal impresi suaranya. Pada pengujian kali ini, saya hanya akan pake Macbook Plus kabel AUX aja. Saya nggak akan nyoba pake protokol bluetooth, karena speaker ini hanya mendukung kodeks SBC ya. Sayang banget. Jadi menurut saya susah buat ngeluarin semua potensi yang dimiliki hanya dengan kodeks tersebut. Kualitas suara speaker ini secara keseluruhan bisa dikatakan bagus dan memuaskan. Terutama buat kalian yang suka banget sama speaker yang jedak-jeduk ya. Untuk frekuensi low-nya, bassnya powerful banget. Bisa menggetarkan ruangan dengan bentuman bass yang deep dan impact. Bassnya jedag-jedug, cocok banget buat genre EDM, hip-hop, hip-hop, atau dangdut ya. Bass yang keluar juga cukup deep dan bulet. Nggak cuma sekedar nendang, tapi juga ngasih dimensi pada suara secara keseluruhan. Walaupun powerful banget, bass di speaker ini tetap terkontrol dengan baik ya. Tidak ganggu frekuensi lain dan tetap terdengar clean. Bahkan waktu volumenya saya mentokin. Untuk frekuensi mid-nya, vokal dan instrumen terdengar jernih dan detail. Saya bisa dengan mudah bedain setiap instrumen dalam musik. Mid-range di speaker ini cukup nonjol, ngasih suara yang penuh dan nggak kedengeran kopo. Suaranya juga balance antara bass dan treble. Ngasih kesan dinamis tanpa ada frekuensi yang mendominasi. Sedangkan untuk frekuensi high-nya, treble di speaker ini terdengar jernih, tajam, dan detail. Beberapa suara kayak cymbal atau hi-hat terdengar jelas dan tidak pecah. Suara yang cukup sparkling dan hidup menurut saya. Walau terbilang cukup tinggi, suara treblenya nggak piercey, nggak nusuk walaupun kita set treblenya ke posisi paling tinggi. Untuk sebuah bluetooth speaker, soundstage Marshall Wooburn III lumayan luas menurut saya. Ngasih kesan suara yang spacious gitu lho. Ini mungkin kan terjadi berkat setup 3-way-nya. Sedangkan untuk imaging-nya, penempatan instrumen dalam ruangan suara juga lumayan akurat. Ngasih experience dengerin musik yang lebih wow. Apalagi kalau dipake buat dengerin musik live gitu. Beuh, kerasa nonton konser. Kesimpulannya, speaker ini adalah speaker bluetooth premium ya. Nggak masuk ke kategori speaker portable, karena memang ukurannya nggak kecil. Desainnya ikonik, suaranya bagus banget menurut saya, dan tentu aja harganya mahal banget. Tapi setiap produk pasti punya kekurangan dan kelebihan, termasuk speaker ini. Dari sisi subjektif, saya mencatat beberapa kelebihan. Pertama, desainnya ikonik. Tampilan klasik Marshall yang timeless lah, pokoknya cakep lah. Terus tampilannya juga estetik, buat ditaruh dimana aja dalam ruangan. Enak diliat lah pokoknya. Kedua, kualitas suaranya bagus. 3-way speaker buatan Marshall ini ngasihin suara yang balance, detail, dan powerful hampir di semua frekuensi. Terutama bass, beuhh… Ajib banget bassnya coy, sumpah. Simba ada mah lewat! Ketiga adalah fiturnya yang menurut saya lengkap ya. Konektivitas bluetooth 5.2, HDMI ART, aplikasi Marshall Bluetooth dengan berbagai pengaturan, kayak dynamic loudness, kayak placement compensation. Pokoknya secara fitur, speaker ini kumplit-plit-plit. Tapi ada kelebihan, tentu aja ada kekurangannya. Saya juga nyatet ada beberapa kekurangan yang saya rasain speaker ini. Pertama adalah tidak portable. Speaker ini nggak masuk kategori portable karena ukuran dan beratnya sangat -sangat tidak bersahabat sama kaum jompo. Ini jadi salah satu bluetooth speaker yang paling berat yang saya punya. Kekurangan kedua adalah… MAHAL! Yes, ini bukan speaker terjangkau. Karena masuk ke kelas premium, dijual dengan harga yang cukup tinggi. Nggak cukup sih, emang tinggi gitu. Dan bisa dipastikan nggak cocok untuk kaum mendang mending kayak saya. Dan kekurangan terakhir adalah dia hanya mendukung konektivitas SBC. Atau dia hanya mendukung kodeks SBC. Kita nggak akan nemu high-res codecs di speaker ini. Mahal dan nggak punya high-res codecs. Hmm... kayak gimana gitu ya? Jadi itu dia review saya untuk speaker mahal ini. Kalau ada budgetnya, silahkan dibeli. Kalau masih suka mendang mending, udah beli Simbadda aja. Atau Eggel aja udah bagus. Mantap!
