Jungkat

MAKAN CUMI VIRAL DI INDRAMAYU NAIK CHERY TIGGO 9 CSH YANG MENAKJUBKAN (YouTube Video)

  • 16/08/2025

Halo semuanya, selamat datang di channel Fit Rairi. Kali ini kita mau makan siang ke Indramayu gara-gara sos mat. Jadi di TikTok itu ada yang mempromosikan cumi bakar jumbo seperti ini. Jadi lapar lihatnya. Kebetulan saya suka seafood, saya suka cumi bakar, dan saya belum pernah makan itu sama sekali. Biasanya kalau jalan tuh ke Cirebon langsung atau ke Semarang, Indramayu tuh jarang sekali didatangi. Jadi siang ini kita mau makan siang cumi bakar yang kelihatannya enak. Nanti kita lihat enak apa enggak. Ke Indramayu naik mobil ini. Kebetulan lagi ada Cherry Tig CSH. Cherry super hybrid. Ini juga mobil yang mengejutkan, mobil yang bikin ngiler juga karena harga mobil ini 700 kecil. Rp719 juta, tapi kita dapat SUV yang besar seven seater. Sudah gitu all wheel drive dan mesinnya plugin hybrid yang katanya mode listriknya saja itu bisa menjalankan mobil ini 180 km dan total range-nya bisa 1400 km dengan harga R00 juta kecil. Kalau itu benar, luar biasa value for money dari mobil ini. Jadi sekalian saya belum pernah nyetir sama sekali. Ini adalah detik pertama saya mau nyetir mobil ini. Sekaligus saya juga akan ee menceritakan ke Anda sambil kita ke cumi bakar. Nanti kita pulang lagi bagaimana impresinya dan apa saja kelebihannya dan juga kelemahannya. Let's go. [Musik] Oke, langsung ujian yang berat buat mobil ini karena langsung menghadapi kemacetan Jakarta dan ini panas, terik. Eh, kebetulan ini panoramic sunroof-nya juga kita buka karena untuk dudukan GoPro. Jadi, dia kinerja AC-nya berat. Kemudian dia macet. Kita lihat dia masih bisa berapa. Karena 180 km range listrik itu mestinya kondisi ideal. Ini kondisi tidak ideal. Dan ini sekarang untungnya nih saya macet-macet pakai sistem ADAS-nya, adaptif cruise control-nya. Jadi saya enggak ngegas, enggak ngerem. Dia yang melakukan sendiri. Stop and go dan cukup halus. Oke, kita lewatin dulu kemacetan ini. Belum pernah ada mobil plugin hybrid yang dijual di Indonesia yang range-nya itu di atas 150 km hanya untuk EV-nya. Bahkan beberapa tahun silam itu ketika mobil plugin hybrid itu pertama kali dikenalkan di Indonesia ya range-nya hanya 50 60 eh km itu benar-benar cuman buat perjalanan dekat harian. Nah, kemudian kira-kira setahun, 2 tahun yang lalu mulai ada yang ee mendekati ke 100 km. Kemudian ada juga adiknya 39 ini ada 38 CSH itu saya sudah tes itu bisa di 110 sampai 120 km. Nah, yang ini 180 km hanya elektrik. Jadi plugin hybrid itu kan dibuat untuk orang yang ee sehari-harinya enggak pengin membakar bensin, sehari-harinya pengin pakai listrik aja. Tapi sekali waktu mobil ini dibawa ke luar kota atau jarak yang jauh, itu enggak perlu repot cari charging station karena dia bisa pakai bensin biasa dengan siklus hybrid. Nah, makanya karena sehari-hari itu dianggap 100 km itu cukup, ya udah hanya segitu. Tapi Cherry memberikan baterai yang sangat besar untuk sebuah plugin hybrid 34,4 kWh. Yang itu diklaim bisa menjalankan mobil ini 180 km hanya dengan listrik. Itu luar biasa. Karena kita sehari-hari pun jarang gitu di atas 100 km membuat ee hampir bisa dipastikan setiap hari itu kita tidak membakar bensin. Dan ketika kita tidak membakar bensin, maka biaya operasional yang dikeluarkan itu jauh lebih rendah. Dan baterai 34,4 kWh itu itu seperti baterai hatchback elektrik. Ini kita lihat nanti kira-kira dia akan mesinnya mulai menyala itu di berapa kilometer. Nah, sekarang kita lewat tol MBZ. Tol yang terkenal dengan guncangannya. Walaupun sudah membaik dibandingkan dulu pas pertama kali baru dibuat, tapi di sini kita bisa mengetes kualitas suspensi mobil. Nah, suspensi yang dimiliki Tigo 9 CSH ini diklaim oleh Cherry sudah dicune supaya rasanya seperti mobil premium. Dan yes, mereka berhasil. Ini bantingannya ee dewasa sekali ya, tidak mental-mentul. Kemudian peredaman itu dilakukan dengan baik. Empuk juga tapi tidak sampai melayang, tidak sampai goyang-goyang. Benar-benar seperti lebih dekat ke mobil premium Jerman dibandingkan ke mobil Jepang misalnya. Dan di sini kita enggak akan berjalan pelan ya. Kita enggak akan berjalan 60 70 untuk menghemat listrik. Enggak. Kita akan kasih tes yang berat untuk mobil ini. Kita akan jalan antara 90 sampai 100 km/h di bawah terik matahari. Kemudian tidak dimatikan sama sekali maksudnya AC. Kemudian juga di tol ini tidak ada regenerative breaking yang memadai karena kita jalannya konsisten. Jadi ini sebenarnya situasi yang kurang begitu menguntungkan untuk penggerak elektrik. Dan dia all wheel drive pula. Dia full time all wheel drive. Jadi dia e selalu menjaga traksi. Tapi kadang-kadang di jalan seperti ini mestinya itu bisa menyerap energi terlalu banyak. Kita lihat aja dia sekarang kita sudah berjalan itu 48 km. Baterai yang terpakai itu 25%. Wah, jadi pakai baterai itu 1/4at tapi sudah bisa hampir 50 km. Artinya kalau 100% bisa dekat ke 200 km. Tapi kan plugin hybrid tuh tidak pernah apalagi Ceri ya, tidak pernah menghabiskan listriknya tuh sampai 0%. Bahkan cer itu kadang-kadang di 20% aja dia udah mulai nyala untuk menjaga level listrik itu tetap ada. Kali-kali kita mau akselerasi atau kali-kali kita mau memaksakan ee penggerak elektrik di tempat-tempat yang mungkin kita enggak ingin berisik gitu. Kita lihat aja nanti mesinnya nyampai di kilometer berapa baru nyala. Saya sudah sampai di Tol Cipali sekarang KM81 dan sudah menempuh perjalanan itu 98 Baterai yang terpakai baru 50%. Ini belum menyalakan mesin sama sekali. Benar-benar masih pure baterai. Ee biasanya di 98 km itu plugit hybrid lain tuh udah udah nyala mesinnya. Nah, ini baru 50% terpakai. Jadi benar-benar nih kira-kira secara kasar memang kapasitas range-nya range-nya itu bisa dua kali lipatnya plugin hybrid biasa. Nantinya saya juga akan ee memberikan ke Anda bagaimana impresi mobil ini. Tapi saya nyoba dulu karena saya benar-benar baru nyoba. Jadi yang kita lakukan sekarang itu benar-benar nyoba range elektriknya saja dulu. Kemudian kita makan siang. cumi yang menggoda itu sambil saya merasakan dan perjalanan pulang saya akan paparkan ke Anda apa saja yang saya rasakan dari mobil ini. Apa yang menyenangkan, apa yang kurang menyenangkan. Tidak ada intervensi dari Cherry sama sekali di video ini. Jadi apa adanya akan saya jelaskan. Nah, sekarang sudah 100 km. 100 km eh angka psikologi 100 km dan baterai yang terpakai itu baru 52%. Nah, tadi kalau 50% saja bisa 96 km artinya secara teoritis dia bisa 190 2 km sekali charge penuh tanpa menggunakan bensin sama sekali. Tapi seperti saya tadi bilang, plugin hybrid biasanya tidak sampai 0%. Dia masih menyisakan eh biasanya tuh kalau mobil lain tuh 3 sampai 5%. Tapi kalau Cherry itu nyimpannya banyak sekali. 20% biasanya mereka sudah nyalakan. Ini sampai sekarang mesin belum nyala. Saya akan report ke Anda kalau mesin menyala dan itu kapan terjadinya, di kilometer berapa. Seperti biasa kita istirahat dulu dan sekalian kita lihat eksterior mobilnya. Ini mobil besar ya, panjangnya tuh lebih dari 4,8 m, lebarnya lebih dari 1,9 m dan dia cukup tinggi ya 1741 mm dan jadi bentuknya tuh gagah gitu seperti benar-benar proper SUV yang besar dan dia seven seater walaupun tempat duduk belakangnya memang bukan untuk orang dewasa ya, jadi itu lebih untuk anak-anak ya 5 + 2 lah, 5 plus 2. Nah, ini bagian depannya ini kita lihat lampunya udah full LED semuanya. Dan ini grillnya besar sekali dibuat ada kayak motif diamond seperti ini biar menimbulkan kesan premium. Dan karena memang Cherry memasukkan mobil ini sebagai kategori premium. Walaupun harganya R00 juta kecil, tapi sebenarnya speknya tuh spek premium. Tadi yang seperti sudah saya bilang, suspensinya itu dicune untuk seperti mobil premium. Dan benar, rasanya memang premium bantingan suspensinya. bannya besar 20 inci 24550 R20 dengan ee palang yang banyak buat menimbulkan kesan elegan. Memang mobil ini tidak dibuat kesan sporty, hanya dibuat kesan elegan. Nah, di sini ada untuk bensin dan karena dia plugin hybrid, di sini ada untuk nge-charge. Bahkan untuk nge-charge-nya ini dia bisa DC juga. Jadi selain AC. Tapi kalau di rumah sih saya saranin AC aja ya pakai AC ee karena dia 34 kWh, dia bisa dicharge sekitar 6.600 1600. Artinya mungkin sekitar 7 jam 8 jam itu udah penuh lagi sesuai dengan waktu istirahat kita di rumah. Tapi kalau misalnya lagi di rest area seperti ini, dia bisa dicharge secara DC dan ini menurut Cherry 20 sampai 80% artinya sekitar 60% artinya range di atas 100 km itu bisa cuman hanya 20 menit. Jadi kalau misalnya Anda istirahat makan, salat, dan kebetulan di rest area itu ada DC charging, ini bisa langsung membuat Anda bisa melaju lebih dari 100 km lagi tanpa perlu membakar bensin. Desain belakangnya ini juga semuanya full LED lampunya. Dan di sini ada AWD ya, karena dia memang all wheel drive. Bagasi sudah elektrik. ada tersisa sedikit space ketika bangkunya semua itu tegak dan ini juga ada e sandaran kepala yang lumayan memadai tapi misalnya kita enggak pakai kita bisa lipat seperti ini. Ah, untuk melipat itu memang kursi depannya harus dimajukan dulu. Bentar ya, saya majuin dulu. Nah, ini jadi jadi lega banget. Kalau SUV si rata-rata dipakainya five seater ya. Cuman kadang-kadang kita kalau lagi mau jalan sama keluarga besar daripada tukar ke MPV lagi ini bisa langsung udah seven seater. Nah, ini duduk di belakangnya. Ini udah posisi yang paling Ah, belum. Ini baru posisi paling mundur sekarang. Wah, kalau posisi paling mundur ini lega sekali. Walaupun itu mengorbankan space belakangnya. Jadi ini cocok kalau misalnya kita cuman bawa lima orang belakang hanya untuk barang dan enggak terlalu banyak kita bisa mundurkan. Dan ini light room-nya lega. Ini posisi berkendara saya. Saya tingginya 177 cm. Dan headro juga masih lega walaupun dia menggunakan panoramic roof. Ada AC juga di belakang ada tapi tidak ada suhunya ya. Hanya pengatur ventilasi AC-nya saja apa e f speed-nya. Tapi dia ada pendingin dan pemanas kursi untuk kursi kanan dan kursi kiri belakang. Kemudian dia ada tirai juga untuk e biar makin dingin kabinnya atau e privacy. Materialnya empuk, material mewah di mana-mana sampai speakernya juga keren. Ada dua buah USB slot, USB A dan USBC. Jogjot kulit. Di sininya ada piano black. Lihat untuk e cup holders-nya. Dan di sini masih ada laci. Ah, ini lumayan nih buat nyimpan barang-barang kecil. Kabinnya mewah. Lagi-lagi enggak percaya ini SUV R00 juta kecil. Tapi lebih enggak percaya lagi kalau kita lihat yang ada di balik kap mesin. Biasanya di harga R00 juta, apalagi R00 juta kecil, kita itu hanya dapat ee SUV dengan mesin konvensional atau maksimal-maksimalnya mesin hybrid lah. Tapi ini plugin hybrid. Jadi, plugin hybrid itu adalah e hybrid yang memiliki baterai yang lebih besar. Jadi, selain dia bisa dicharge oleh mesinnya dan energi kinetik, kita juga bisa charge sendiri untuk range yang lebih jauh tanpa menggunakan bensin. Baterainya sangat besar, terbesar untuk plugin hybrid yang ada di Indonesia sekarang 34,4 kWh. Baterai hybrid itu membantu mesin 1500 cc turbonya. Dan yang menarik adalah walaupun sistem hybrid ini ceritanya itu membantu, tapi ternyata dari tenaganya, dari tenaga motor listriknya ini ada dua di depan, satu di belakang, tenaga motor listriknya itu lebih besar dibandingkan tenaga mesinnya. Jadi sebenarnya penggerak utama mobil ini adalah listrik. Mesin ini tugasnya adalah untuk mengecharge baterai pada saat misalnya habis dan juga dia bisa membantu tenaga. Ada 143 PS tenaga dari mesin ini. Dia bisa membantu tenaga pada saat akselerasi penuh. Torsinya 215 Nm dari mesin 1500 cc turbonya. Tapi begitu digabungkan dengan motor listriknya, tenaganya meningkat drastis. Total mobil ini memiliki tenaga 428 PS dan torsinya 580 Nm. Makanya dari tadi walaupun e penggeraknya full elektrik itu kuat gitu tenaganya dan dia bisa melaju 0 sampai 100 km/h hanya dalam 5,4 detik. Wow. SUV R jutaan dengan sistem penggerak yang layak berada di SUV premium 2 miliaran. Oke, kita sekarang sebelum melanjutkan perjalanan kita lihat kokpitnya. Kokpit depannya juga mewah, material empuk di mana-mana. Kemudian ini wooden panelnya juga eh berkelas, posisinya nyaman. Dan lihat ini tilt dan teleskopicnya sudah elektrik. Jok sudah full elektrik di sini. sudah dilengkapi dengan lumbar support juga. Sedangkan untuk entertainment system dan instrumennya tidak ada yang terlalu ee istimewa di sini. Ee semuanya fungsional dan di sini kita bisa mengatur banyak hal termasuk juga sistem ADAS karena mobil ini, lihat ini sistem ADASnya. Sistem ADAS-nya lengkap. Ada 17 fungsi sistem ADAS termasuk adaptive cruise control, l keep assist, blind spot, departure warning, automatic braking lengkap semuanya termasuk automatic parking assist. Jadi mobil ini juga sudah bisa parkir sendiri. ini ada untuk mode berkendara ada di sini dan ada beberapa tombol-tombol fisik tapi sebagian besar itu di layar kita mengaturnya semua dan ee kalau masalah desainnya ya biasa sekali ya ini enggak enggak terlalu kelihatan premium lah kalau untuk ee layar head up-nya. Kemudian di sini ada laci yang cukup besar dan di bawah ini juga ada ada tempat penyimpanan lagi karena dia floating. Dan di sini juga dia soft opening tapi materialnya biasa saja. Untuk laci ini juga masih material keras, belum eh soft material. Ada driver monitoring system. Tapi secara keseluruhan ini adalah kabin yang menyenangkan untuk diuni karena banyak tempat penyimpanan. Posisi nyetirnya enak, materialnya juga sebagian besar sangat ee berkualitas serta kabinnya juga lega. Kemudian di sini juga ada wireless charging yang bisa sampai 50 watt. Oh ya, sistem audionya juga sistem audio yang premium 14 speaker termasuk yang ada di sini di headr dia ada speaker ini utamanya untuk kalau kita lagi ee menelepon gitu ya. Ini keluar keluar dari sini jadi jernih sekali. Dan di bangku kiri ini juga ada untuk mengatur maju mundur dan kerebahan. Jadi kalau kita duduk di belakang karena mobil ini juga layak digunakan menggunakan driver kita bisa mengatur joknya. Secara umum mobil ini mengejutkan untuk harganya. Nah, tapi kita masih akan terus merasakan mobil ini. Termasuk juga sampai berapa kilometer mesinnya akhirnya menyala. Apakah sesuai dengan klaimnya? Sambil kita menuju ke arah cumi-cumi jumbo itu yang seakan-akan sudah memanggil. Ayo dong, sini dong, sini dong. Aduh, udah jadi lapar. Let's go. Sekarang kita udah exit tol. Ternyata setelah exit tol menuju ke tempat makan yang di Indramayu itu masih 1 seteng jam lagi. Jadi memang Indramayu tuh enggak jauh dari Cirebon ya, tapi tidak begitu favorit menjadi tempat tujuan wisata karena kebetulan secara geografis tolnya tuh enggak enggak dekat gitu dari Indramayu. Saya sendiri pernah tinggal di Indramayu waktu saya kecil. TK SD SD sampai kelas 1 itu tinggal di Indramayu ikut orang tua saya. Kota kecil nice, damai. Cuman ya itu enggak semeriah Cirebon lah. Apalagi sekarang setelah ada tol Trans Jawa ternyata juga enggak terlalu dilewatin. Tapi enggak apa-apa. Ini seru nih. Saya baru sekali lewat jalanan ini menuju Indramayu. Enggak lewat tol. Jalannya sempit. Lewat hutan-hutan ada jalan rusak. Nah, ini sekarang baterainya tinggal 18% dan belum menyala sama sekali mesinnya. Jadi agak beda nih dengan 38 CSH. 38 CSH itu dia di-an tuh kalau di tol malah di 25% dia udah nyala mesinnya. Itu pun masih bisa range-nya sampai 110 km tuh untuk listriknya aja. Tapi kita jadi enggak bisa ngabisin listrik itu. Kecuali bensinnya udah habis baru kita bisa habisin semua listriknya. Tapi kalau di 39 CSH ini, ini sampai 18% mesin masih belum nyala. Dan konsumsi e listriknya lumayan hemat ya. 50 km terakhir itu di 15,2 kWh/100 km alias 6,5 km/ kWh. 6,6 lah. 6,5 6,6 itu hemat untuk ukuran mobil SUV sebesar ini. Artinya kalau kita kalikan dengan 3 kom,4 kWH, secara teoritis dia bisa di atas 200 km. Nah, Teman-teman ini kan tergabung di sistem ee plugin hybridnya yang kemungkinan dia belum nol dia sudah menyala. Jadi, kita tunggu aja ini sampai berapa. Nah, 50 km terakhir tuh ada tol kemudian berhenti di ras area kemudian ya ini keluar jalan-jalan kecil sedikit. Tapi kalau yang normal di tolnya gitu yang benar-benar kita lari 90-an km/h itu di 6,0 km/KWH. yang itu kalau kita kalikan atau 6,2 sori tadi 6,25 km/KWh ketika kita di ee tol aja hanya pakai listrik itu kalau kita kalikan dengan 34,4 kWh itu sekitar 215 km range-nya. Jauh. Ini sih udah lebih-lebih dari cukup untuk kebutuhan kita sehari-hari di dalam kota. Nih, kita sekarang udah jalan 158 km dan baterai masih 18%. Akhirnya nyala juga. Jadi begitu udah nyampai 17% kira-kira dia nyala dan itu sudah menunjukkan 162 km. Jadi tidak sampai 180 km sudah menyala tapi sebenarnya ini baterainya tuh masih ada 17%. Nah, dinyalakan ini supaya enggak habis-habis amat. Ini juga berguna. Misalnya suatu kali Anda kehabisan bensin total, Anda masih bisa punya 17% baterai untuk menyelamatkan Anda ke pompa bensin terdekat. Karena itu 17% itu artinya masih bisa jalan kira-kira di 30 km lagi. Bagus juga ini sebenarnya sistem seperti ini. Nah, sebenarnya berapa range-nya kalau pakai listrik aja gitu ya? Kalau 17% tinggal sisa 17% artinya kita pakai 83%. 83% bisa menjalankan mobil ini 162 km. Itu artinya kalau 100% baterai kita pakai untuk bergerak, dia bisa 195 km. Wow. Cuman memang dari sekitar hampir 200 km itu kira-kira 160 kmnya itu dipakai untuk berjalan murni tanpa baterai di awal dan yang sisanya itu mungkin untuk menyelamatkan kita pada saat bensinnya habis. Nah, tapi harus di ee pertimbangkan juga bahwa tadi itu kondisi yang berat untuk sebuah eh penggerak elektrik karena tidak ada regenerative breaking di tol kita lari 90 sampai 100 kena hambatan angin yang lumayan besar. Saya yakin kalau misalnya mobil ini berjalan di ee rute yang ideal gitu ya, maksudnya di rute kombinasi yang dia kecepatan rata-rata mungkin sekitar 30 sampai 40 km/h. Ada ada speed yang lumayan tinggi tapi juga ada deselerasinya. Kemudian suhunya tidak sepanas sekarang. itu kayaknya bisa 180 km lebih sih mudah dengan mobil ini dan bahkan mungkin bisa sampai ke 200 km lebih. Karena dari tadi juga kita enggak pakai mode Ecoo, kita pakainya mode normal. Kalau kita mode echo kemudian jalannya kayak ginilah enak nih 30 sampai 50 km/h kadang ngegas kadang ngrem. Ini rasanya di atas kertas bisa sesuai dengan klaimnya. Ini adalah eh plug in hybrid dengan range elektrik ter panjang yang pernah saya coba. Nah, sekarang yang menarik adalah sudah siklus hybrid seperti ini. Jadi, mesin kadang nyala kadang mati. Kita lihat konsumsi bahan bakarnya berapa kalau sudah tidak full elektrik lagi. Kita jalan agak jauh dulu. Nah, ini ada yang menarik ya. Jadi, ternyata setelah nyala di 17% dia itu kemudian mesinnya tuh nyala terus tidak langsung ke siklus hybrid, tapi dia ke siklus nge-charge alias force kalau di sini. Jadi, di sini kan ada tiga mode, ada initial. Initial itu tapi itu eh bukan mode berkendara ya, tapi mode penggeraknya ya. Ada initial itu adalah full electric, kemudian ada smart alias hybrid. atau force. Force itu artinya mesin dinyalakan terus supaya baterai itu levelnya meningkat sampai ke level tertentu. Nah, itu dari 17% dia mesinnya menyala terus sehingga baterai meningkat lagi sampai 22%. Nah, baru di 22% dia melakukan siklus hybrid. Ini juga unik karena artinya kita jadi punya simpanan range lebih banyak lagi kalau sewaktu-waktu bensin kita habis. Jadi kalau misalnya bensin kita habis, kita masih punya di 22%, artinya masih bisa 40 km lebih kita berjalan untuk mencari pompa bensin. Dan pada saat mesin menyala, tentu saja itu adalah kondisi yang paling boros untuk menggerakkan mobil ini. Tapi tadi saya melakukan penghitungan berapa bensin yang keluar dan berapa jarak yang ditempuh. Ternyata walaupun modenya itu lagi mode untuk ee mengecharge, dia masih bisa di 13 sampai 14 km/l. Nah, sekarang kita akan di mode hybridnya, smart hybrid-nya. Nah, ini jalanannya juga rusak. Untungnya mobil ini itu suspensinya sudah pakai yang mereka sebut sebagai CDC, continuous damping control. Continuous damping control. Jadi ada sensor yang membuat suspensi itu berubah-ubah kekerasan supaya bisa menyesuaikan. Jadi di jalan tadi jalan rusak itu nyaman. Ee enggak enggak sampai lemah ya suspensinya, tapi nyaman dan setara dengan merek-merek premium Eropa ya untuk kelas SUV-nya. Tajamnya juga masih mantap gitu pengendaliannya. Suspensinya juga karena ya karena suspensi aktif ya, jadi dia bisa menyesuaikan kondisi kita udah sampai. Tempatnya benar-benar mewah. Mpet sawah. Jadi sebenarnya ke sini karena yang ini nih yang super jumbonya gede banget. Cuman lagi habis. Tapi ini juga masih jumbo. Ya udah ini juga super jumbo habis. Big super jumbonya habis. Gede banget. Bisa buat tiga orang enggak apa-apa. Kita pesan pengen tahu. Jadi perjuangannya berat loh ke Indramayu nih. Karena Indramayu seperti tadi saya bilang kan dari tolnya tuh jauh gitu. Tapi kalau misalnya lewat jalan Pantura sih sebenarnya enggak terlalu jauh. Tapi kalau dari tol Trans Jawa sih lumayan 1 seteng jam lagi dari keluar tol. kita rasain. Oke, ini udah datang. Hm, harumnya enak banget. Nah, ini ada dua sambal. Satu yang merah, satu yang hijau. Sebagai penikmat sambal, saya harus nyobain dulu yang hijau. Agak manis yang hijau nih. Pedasnya sedang. Yang merah? Tapi dua-duanya cenderung agak manis. Ee sambalnya pakai pisau loh. M hm. Enak. Enak. Cumi bakarnya matangnya pas. Terus bumbunya enak. bukan yang empuk-empuk banget ya. J masih ada masih ada ngelawannya. Cuman dia tuh pas jadi ada gosong-gosongnya dikit. Bumbu rempah-rempahnya itu kerasa di bagian luar dagingnya. Enggak terlalu asin tapi dipadu sama sambalnya. mantap. Nah, ini ikannya datang nih sekarang ikan etong namanya. Bumbu ikannya sama kayak e cabe ikannya sama ya. Kalau buat saya sih ikannya biasa aja. Cuminya yang enak. Oke, sudah selesai makan. Gimana penilaiannya? Cuminya enak, ikannya biasa aja. Kalau ikannya dikasih bumbu cumi mungkin bakal lebih enak ya. Cuman nah coba kalau misalnya sekarang kita kasih bintang ala-ala Micheline Star ya untuk mendapatkan bintang tiga, bintang maksimum, apakah saya mau dari Jakarta khusus ke sini untuk makan ini? Mungkin belum. Apakah saya rela ditour nih untuk mendapatkan bintang dua? Apakah saya rela ditour misalnya lagi jalan mau ke Semarang, keluar dulu ke sini untuk ini? Mungkin belum. Tapi apakah saya akan ke sini lagi kalau saya kebetulan lagi ada di Indramayu? Yes. Cuminya recommended. Cuminya enak, sambalnya juga enak. Jadi one star micheline star. It's ok. E cuminya recommended. Eh ikannya buat saya enggak terlalu recommended. Sambalnya enak, kangkungnya enak, dan tempat makannya juga damai gitu di tepi sawah. Dan cuminya tuh mewah gitu ya, gede gitu. Yang paling kecil aja tuh gede. Oke, sekarang kita akan lanjutkan jalan pakai Cherry 39 CSH ini. So far kita udah enggak pakai mode elektrik lagi, kita udah pakai mode hybrid. Dan kelihatannya untuk sementara ini konsumsi bahan bakarnya tuh cukup bagus ya. Tapi nanti kita kita bawa jalan lagi. Sekarang kita bawa jalan lagi lewat jalan kecil-kecil, lewat jalan pantura dikit. Kemudian lewat jalan kecil lagi ke arah tol Trans Jawa. Nanti dari situ saya akan kasih tahu hasilnya juga impresi saya ke mobil ini, kelebihan serta eh kelemahan yang saya kurang begitu suka dari mobil ini. Let's go. Nah, ini pulangnya agak seru nih karena Google Maps tiba-tiba merekomendasikan saya 90 km itu akan ada di jalur pantura. Wah, ini jalur kenangan banget ini. Dulu sebelum tol Trans Jawa itu ada ya, kita semua kalau mau mudik ke arah timur dari Jakarta ya lewat Jalan Pantura ini. Dari mulai dulu itu masih dua arah tidak ada pemisah. Wuh, enggak kehitung deh tabrakan adu kambingnya berapa banyak. Sekarang sudah ada pemisah. Eh, sejak awal 2000-an ya kayaknya dibikin pemisah itu. Ini jalan tuh kalau di Amerika mungkin kayak Route 66 kali ya. Dulu hidup sekali di jalan ini semua ee tempat makan, hotel. Tapi sekarang jauh lebih sepi karena memang ee sudah ada tol Trans Jawa ya. Tapi ini jalur yang kalau enggak terlalu ramai gitu ya cukup menantang untuk kita para pengemudi antusias itu karena jalannya berliku-liku. Banyak hal tidak terduga motor nyebrang kadang-kadang ada orang bisa nyeberang mendadak. Jadi kita benar-benar harus hati-hati dan aware di sini. Nah, sekarang kita bicara konsumsi bahan bakar mobil ini pada saat sudah tidak mode full elektrik. Ini udah ada datanya. Jadi, di 50 km terakhir itu konsumsi bahan bakarnya adalah 19,2 km/l. Beda sedikit dari klaim cherry di 19,5. Oke, karena kan konsumsi bahan bakar memang tergantung banyak hal ya, terutama ee cuaca panas atau dingin, kemudian kondisi jalan lalu lintas. Dan tadi kita enggak pakai mode Eco juga, kita selalu pakai mode normal. Nah, 19,2 km/l kalau dikalikan kapasitas tangki bahan bakar Cherry T39 CSH ini yang 70 L itu didapat hasil di atas 1300 km. 1340-an lah kilometer. Nah, tambahkan itu dengan range dari baterainya yang kalau misalnya kita pakai 100% itu kira-kira hampir 200 km, 195 km. didapatlah hasil total range mobil ini di atas kertas mencapai bukan 1400 km lebih tapi 1500 km lebih. 1530-an km di atas kertas ya. Eh, tapi kami sudah mencoba Cherry Tigo 8 CSH dengan baterai plakit hybrid yang jauh lebih kecil dari ini. Dia juga bisa mencapai 1300 km lebih. Ini kemungkinan bisa 1500 km lebih. Pengin deh suatu saat membuktikan benar enggak bisa 1500 km lebih. Itu akan jadi satu rekor baru untuk range mobil yang dijual di Indonesia. kayaknya belum ada yang range-nya di atas 1500 kilo ya. Correct me if I'm wrong. Uh, benar-benar enggak usah ngisi bensin ni sih. Enggak, bukan Jakarta Bali kalau segitu itu Jakarta Lombok enggak perlu isi bensin. Kadang-kadang emang perlu deh pengetesan mobil di jalan pantura seperti ini ya. Karena kalau di jalan tol tuh kan kita kebanyakan konstan. Nah, di jalan yang seperti ini kadang-kadang kita butuh ng-rem, kadang-kadang kita butuh akselerasi. Sementara remnya ini eh pakem, pakem banget. Felnya seperti mobil mewah ya. Jadi dia enggak terlalu ada feel berat di kaki tiba-tiba pakem aja. Jadi kita butuh alus untuk ngremnya karena remnya ini pakem sekali. Boosternya kelihatannya kuat sekali ini. Tapi ya itu penting karena tenaga mobil ini juga enggak main-main dan ini kerasa banget di pantura itu akselerasinya luar biasa instannya. Uh, sampai mau ada spin padahal all wheel drive. Jadi dia itu tenaganya besar sekali. Torsinya itu mencapai 580 Nm dan total horsepower-nya itu ya di atas 420 horsepow. Bikin mobil ini kalau misalnya kita mau nyalip ya kayak kita mau nyalip depan gitu ya. Oh, kencang sekali dan effortless gitu ya. Itu karena sebagian besar tenaga itu datang dari motor listriknya. Jadi seperti motor mobil listrik kencang tuh kayak gimana sih? Langsung gitu. Tapi begitu mesinnya nyala dia juga ngebantu tenaga lebih kuat lagi. Karena ini mesinnya dan transmisinya itu benar-benar dedicated hybrid engine dan dedicated hybrid transmission. bukan mesin biasa yang dijadikan hybrid, tapi mesin yang memang sudah dibuat dari awal untuk hybrid dan transmisinya juga unik. Makanya bukan transmisi CVT 5 speed atau 6 speed. Transmisinya 3 speed aja karena mesin itu tidak perlu bekerja terlalu keras. Yang bekerja itu adalah motor listriknya. Motor listrik enggak butuh transmisi. Jadi transmisinya 3 speed. Ee jadi kompact ukurannya dan efisiensinya. Maksudnya efisiensi eh efisiensi energinya. itu bahkan menurut Sherry bisa dikisaran 90% yang mana membuat mobil ini kencang tapi juga hemat energi. Ini kencangnya sih bukan kayak SUV kencang. Ini kayak sports car kencangnya. W ini mobil tuh gede tapi nyetirnya enggak kayak mobil gede. Utamanya karena handling-nya yang presisi dan tenaganya yang besar. Baru pas lihat ke belakang. Wah, ini SUV gede juga ya. Tapi ini tenaganya benar-benar berlimpah. Tapi enak emang bawa mobil ini ke segala kondisi. Tol oke, jalan sempit rusak oke, jalan pantura oke, ada perasaan aman juga gitu karena dia besar. Kemudian ini platformnya tuh platform baru T2X yang itu e platform T2X ini tuh dia punya 85% bagiannya itu dibuat dari high strength steel, jadi dari besi yang kuat. Makanya hasil crash testnya juga sangat memuaskan di berbagai Ncap dan belum lagi airbag-nya ada 10, ADAS-nya ada 17 fungsi. Bikin mobil ini tuh enggak bikin khawatir ketika kita lewat beragam jenis jalan. Rasanya memang rasa premium ini. Ini enggak terasa seperti SUV R00 jutaan. Ini terasa seperti SUV di atas R miliaran. Itu kalau kita enggak ngegas. Kalau kita ngegas ngerasain tenaganya yang berlimpah 015 detikan. Jadi serasa di SUV 2 miliaran. Tapi oke sekarang supaya lebih berimbang ya saya juga akan sampaikan sejumlah hal yang agak mengganggu di saya minimal di saya. Yang pertama itu adalah ee pengukuran konsumsi BBM-nya ini tidak bisa diriset. Jadi pengukuran konsumsi BBM itu hanya 50 km terakhir. Kita lihat ada last 50 km gitu. Jadi kalau kita mau jalan lebih dari 50 km susah untuk tahunya. Satu-satunya cara adalah kita reset tripnya. Kemudian di sini juga ada pemakaian bahan bakar itu sudah berapa liter kita reset juga dan kita mesti e ngitung sendiri pakai kalkulator. Nah, enggak terlalu praktis. Kemudian hal yang kedua adalah ini mobil sebagian besar fungsi itu masuk ke layar. Ada beberapa tombol fisik, tapi tombol fisiknya itu bukan apa ya, bukan tombol yang sering kita gunakan atau tombol yang penting gitu. Misalnya di sini tombol auto untuk AC itu jarang digunakan. Tombol defroster depan dan defoger belakang itu juga jarang digunakan. lebih baik yang kalau memang ada tombol fisik ya, tombol fisik yang lebih sering terpakai gitu. Misalnya tombol AC. Di sini hanya ada tombol AC untuk mengeluarkan menu AC atau mematikan kompresor, tapi tidak bisa untuk mengatur suhu, mengatur blower. Itu harus dari layar. Bahkan ketika kita lagi pakai Apple CarPlay atau Android Auto itu AC tuh hilang dari layar. Jadi tombol-tombol fisiknya tuh bukan tombol-tombol yang yang useful gitu. Apalagi untuk spion juga dia tidak ada tombol di luar atau di pintu. Dia semua pengaturan spion harus kita pencet layar dulu masuk ke mode penyetelan baru kita pakai tombol distir gitu. Jadi pengoperasiannya enggak terlalu mudah dan ee menu di layar juga kurang user friendly. Kalau ma bukan hal kecil, mungkin buat banyak orang, tapi buat saya agak sedikit mengganggu. Kemudian hal berikutnya adalah ini mobil pure penggeraknya elektrik. Rasanya elektrik sekali dan bahkan dia bisa di kisaran hampir 200 km untuk range elektriknya aja. Jadi kita bisa tiap hari pakai listrik. Tapi ya karena ini mobil plugin hybrid, dia tidak dapat kemudahan-kemudahan mobil listrik. Pajaknya enggak nol. kemudian tidak bebas ganjil genap. Jadi ya serasa listrik tapi enggak dapat fasilitas listrik. Kemudian ee ada satu lagi mobil ini punya rem yang bisa diatur ininya apa kehalusannya pada saat berhenti. Tapi sudah di mode paling halus pun mungkin karena remnya terlalu sensitif dan terlalu kuat ya remnya susah gitu untuk berhenti yang halus tanpa terasa jedak gitu. itu susah gitu sehalus mungkin tetap masih ada ek g hal kecil cuman saya tuh enggak suka kalau mobil itu berhenti tuh e agak kasar gitu ya jadi saya selalu kalau nyetir sendiri tuh berusaha untuk sealus mungkin pada saat dari jalan sampai berhenti. Cuma di mobil ini agak agak sulit. Nah, tapi di lain sisi, mobil ini juga punya banyak hal yang ee menyenangkan. Yang pertama dia bukan mobil listrik ya sebenarnya hanya mobil plugin hybrid tapi dia support fitur V2L vehicle to load. Jadi dia bisa mengeluarkan listrik dari baterainya yang besar itu yang 34 kWh untuk ke luar. Bisa dipakai untuk nyalain listrik di rumah atau pada saat kita camping. Dan itu besar sekali bisa dikeluarkan sampai 6,6 kW. Itu yang terbesar V2L yang ada saat ini di Indonesia. Kemudian hal berikutnya ini depan kacanya sudah double dan material peredamnya sepertinya luar biasa. Ini sangat-sangat hening mobil ini. Bahkan menurut pengetesan dari Cherry di 120 km/h saja kebisingannya itu di 72 dbel. Padahal mobil biasa itu bisa di atas 80 dbel. Ini enggak ada bunyi angin sama sekali. Bunyi ban juga minim. Kemudian juga mesin juga menyala. Itu hampir tidak terdengar. tidak ada getaran sama sekali pada saat mesin itu menyala atau mati bikin mobil ini tuh jadi sangat-sangat nyaman. Bahkan untuk kelas SUV yang sebesar ini, mobil premium dari Jerman sekalipun yang harganya mungkin dua sampai tiga kali lipatnya itu juga ada beberapa yang tidak senyaman ini. Kemudian mobil ini tadi saya bilang punya automatic parking assist. Jadi dia bisa membantu kita kalau misalnya kita parkir, dia bisa parkir otomatis. Tapi ada satu lagi ini juga saya hanya menemukan di mobil premium Jerman. Itu adalah reversing track. Jadi kalau misalnya kita masuk ke satu jalan, kita ee nyasar dan harus mundur lagi, enggak bisa muar balik, dia ingat kita lewat jalan mana aja di belakang. Jadi setirnya dia akan arahkan supaya kita bisa mundur melewati jalan yang sama ketika kita masuk ke jalan itu. Kemudian hal berikutnya yang menyenangkan juga dari mobil ini adalah ini di sini lacinya besar dan dia ada ventilasi AC. Jadi ini bisa seperti cooler box. Kemudian satu lagi adalah sistem all wheel drive-nya yang pintar. Jadi kalau misalnya lagi cruising, dia bisa cuman penggerak belakang aja yang dijalankan. Penggerak depannya enggak supaya lebih hemat. Tapi pada saat kita akselerasi empat-empatnya jalan. Dan dia juga ada mode itu bukan hanya eco normal dan sport, tapi juga ada mode offroad, mode sand, dan mode snow. Jadi snow itu mungkin kalau di Indonesia bisa dipakai buat lumpur ya karena mirip. Jadi dia bisa menyesuaikan output tenaga di tiap roda secara individual. Tergantung mode mana yang kita pakai dan juga tergantung dari kondisi TRKnya. Ini bukan all wheel drive biasa. Ini allw wheel drive yang cukup pintar. Masuk tol lagi. Senang deh rasanya lewat pantura setelah sekian lama hampir 100 km tuh di Pantura tadi. Apakah saya kangen ngelewatin Pantura lagi? Kalau mau ke Semarang, ke Cirebon? Enggak sih. Lebih gampang lewat tol. Cuman senang aja tadi eh tanpa disengaja Google Maps-nya ngarahin lewat situ dan bisa nostalgia. Tapi kalau lain kali ke arah sana ya tetap paling enak tol. Well, walaupun cukup jauh dan melewati beragam jenis jalan, tapi perjalanan tadi itu terasa terlalu enteng buat mobil ini. Iya. Karena dengan sistem plugin hybrid yang efisien, mobil ini tuh bagaikan punya dua kepribadian. Dia bisa menjadi mobil listrik untuk mobilitas sehari-hari yang hemat, yang ramah lingkungan, tidak berisik, nyaman, tapi dia juga bisa dibawa ke luar kota dan berubah menjadi mobil yang dibuat untuk melahap kilometer dengan efisien tanpa banyak membakar bahan bakar. Dan itu semua dilakukan dengan kelegaan ruang, kenyamanan, keheningan kabin, kemudian fiturnya yang super lengkap. Bahkan jangan lupakan juga tenaganya yang sangat berlimpah. Ini tenaga sih kalau misalnya di Mercy ini udah hitungannya masuk AMG 43 atau 53 nih 400 HP lebih dan akselerasinya juga sangat positif. Jadi ini seperti bisa semuanya bisa ke semua medan all wheel drive. tinggi dan memberikan semua kualitas premium di dalamnya. Kalau Anda lagi berminat untuk membeli SUV di rentang harga R00 sampai Rp800 juta, definitely ini harus Anda pertimbangkan serius. Bahkan kalaupun Anda berminat untuk membeli sebuah SUV premium yang mungkin harganya di atas Rp1 miliar, mobil ini bisa memberikan yang sama atau bahkan lebih dengan harga yang jauh di bawahnya. Walaupun mungkin kebanggaan mereknya tidak seperti kalau merek premium yang sudah ee terkenal ya, tapi secara kualitas mobil dia memberikan banyak sekali untuk harganya. Value for money-nya luar biasa. Tapi nanti saya pengen coba mobil ini lagi di jalan yang lebih jauh lagi deh yang benar-benar menguras seluruh kemampuan mobilnya. Mungkin benar-benar kita coba jarak sampai 1500 km nyampai enggak dengan satu kali isi bahan bakar dan satu kali charge. Tapi itu nanti saya ajak teman saya mungkin Omobi atau Ritwan kalau dia mau karena 1500 km jalan sendiri capek juga. Tapi untuk sekarang terima kasih Anda sudah menyaksikan video ini. Jangan lupa Anda klik like. Beliau mencukainya komentar di bawah dan subscribe ke channel Fitra jika belum follow Instagram saya di sini @fitra. Buat yang ingin tahu keterangan mengenai Cherry juga bisa follow Instagram mereka di sini dan juga ada website-nya. Terima kasih banyak Anda sudah menyaksikan. Sampai jumpa di video selanjutnya. Bye- bye.

Lihat di YouTube