Jungkat

Makin Kencang, Makin Adem, & Tetap Terjangkau: Review Axioo Pongo 775 (YouTube Video)

  • 07/08/2025

Hei, serius nih, Asio. Kalian jual laptop gaming pakai RTX 5070 cuma Rp20 juta. Padahal kalau laptop gaming lain itu cuma dapat RTX 5060. Prosesor juga enggak kaleng-kaleng ya. Intel Core i7 generasi 13 dengan 10 core. Jadi enteng juga buat multitasking. RAM-nya juga udah yang 16 GB DR5 dual channel dan masih bisa kita upgrade pula itu ya. Dan kita bisa pasang hingga 2 SSC sekaligus. Jadi kapasitasnya bisa jadi besar sekali. Layarnya juga spesial nih, 2,5K 180 Hz, IPS 100% R SRGB, jadi cocok buat gaming dan editing yang serius ya. Laptop gaming satu ini adalah Axio Pongo 775. Oke, saat video ini dibuat bisa dibilang ini adalah laptop gaming paling terjangkau dari Axio saat ini yang menggunakan GPU RTX 50 series. Menarik ya, dibandingkan Pongo dengan Artx 40 seri sebelumnya, Axio banyak melakukan upgrade dan perbaikan pada seri terbaru ini. Mari kita lihat upgrade-nya di mana aja. Kita mulai dari spesifikasinya dulu ya. Untuk spesifikasi prosesor dia pakai Intel Core i7 13620Hasi Intel 7 base power 45 wat. Ini punya 10 core 16 thread yang terdiri dari 6 performance core dan 4 efficient core. Intel smart cas-nya lumayan besar juga di 24 MB. Untuk integr Intel UHD graphics dengan 64 execution unit. Memori atau RAM-nya yang terpasang adalah 16 GB DDR5 5200 MHz langsung dual channel ya. Udah enggak pakai DDR4 lagi nih. Ini DDR5. Laptop gaming ini juga menggunakan RAM SODIM ya. Jadi masih bisa kita upgrade kalau kurang besar. Menurut Axio ini bisa di-upgrade sampai 64 GB. Untuk storage dia pakai 512 GB SSD M.2 NVME PCI Gen 4x4. Menariknya sekarang kita bisa pasang dua SSD PCI Gen4 karena ada slot M.2 keduanya. Kalau sebelumnya M.2 itu keduanya hanya mendukung PC Gen 3. Sekarang udah Gen 4 juga. Di graphicsnya sih yang enggak ngotak sebetulnya ya. Ini GeForce RTX 5070 laptop GPU. GPU ini udah punya 4.608 kuda Corse berbasiskan arsitektur blackwell. Jadi mendukung penuh fitur DLSS 4 termasuk multifame generation-nya. Untuk kemampuan AI-nya ini udah mencapai 798 tops. Jauh lebih tinggi dibandingkan RTX 4070 laptop yang cuma 321 tops. Untuk VAM-nya ini 8 GB GDDR 7 dengan memori Bass di 128 bit. Untuk TGP maksimumnya adalah 115 watt. Ini lebih tinggi dari standar Nvidia yang di 100 watt. Wir connectivity dia pakai modul Intel yang support Wii 6 gigabit Wii dan Bluetooth-nya di versi 5.3. Kapas baterainya ada di 53,35 wat hour. Untuk OS dia pakai Windows 11 Pro versi 24H2. Nah, untuk body factornya tentunya climell atau laptop klasic. Materialnya ini metal untuk punggung layar dan polikarbonat untuk bagian body lainnya. Untuk warna ini hitam dengan permukaan yang dove yang satu ini ya. Nah, untuk desain ini pengin satu ini sebenarnya sudah sangat mirip seperti laptop workstation ya. Hanya saja logo pongo merah di punggung layar ini membuat penampilan terasa agak kurang low profile aja. Tapi kalau mau polos kan bisa aja tempel stiker hitam polos ya sebetulnya ya. Nah, untuk ukuran panjangnya 35,6 cm, lebar 25,9 cm dan ketebalan di 2,7 cm. Untuk bobot laptopnya aja di 2,28 kg. Chargernya 488 gr dan ini adalah charger 180 wat. Total bobot kalau dibawa-bawa dengan charger adalah 2,77 kg. Untuk layar ini ukurannya 16 inci. Ini ukuran yang sama seperti Pongo Studio dan Pongo Monster X. Resolusinya tinggi 2560 * 1600 piksel dengan aspek rasio 16 b. Refresh rate-nya 180 Hz. Ini berbeda dengan PO 700 sebelumnya yang masih pakai ukuran 15,6 inch 1080p 144 Hz. Panelnya adalah panel IPS dan menurut Axi tingkat color gambutnya adalah di 100% SRGB. Kalau kita ukur hasilnya tingkat kecerahan maksimumnya 461 nits dalam ruangan. Ini tinggi banget ya sebetulnya karena biasanya yang wajar aja di 300-an nits gamut covers di 98,5% sRGB dengan gamut volum di 105% sRGB. Buat editing harus udah oke banget karena akurasi warnanya udah tergolong bagus ya dan keluarga gambnya udah oke di sbinya mantap juga buat main game triple A ataupun game kompetitif. Permukaan layar juga punya sifat yang non gler jadi lebih minim menampilkan pantulan bayangan-bayangan dari sekitar yang dapat mengganggu kenyamanan saat pemakaian. Untuk bingkai layar juga sudah menggunakan desain yang tipis untuk sisi kanan dan kirinya. Nah, laptop gaming ini dilengkapi dengan kamera 1080p 30 fps. Kamera ini dilengkapi dengan penutup fisik. Jadi, aman aja dari resiko diintip kalau kameranya mungkin kena hack gitu ya. Kamera ini memang belum mendukung fitur Windows Studio FX, tapi tenang, kalau kita instal aplikasi Nvidia Broadcast, kamera itu jadi punya fitur yang mirip seperti background blur, eye contact, dan auto framing. Nah, untuk model mikrofonnya ini ada dua buah ditempatkan di sisi kanan dan kiri kamera. Kutus kameranya memang tidak bisa dibilangnya hebat-hebat banget, tapi masih memadai kalau sekedar dipakai untuk video callan ya. Detail muka kami pun masih bisa ditangkap dengan cukup jelas dan warna kulit kami masih terlihat natural di sini. Untuk mikrofon, suara kami bisa ditangkap dengan jelas dan jerni. Hanya saja saat fitur noise diaktifkan, suara kami mengalami distorsi. Meskipun suara bising dari kipas laptop itu bisa hilang total. Ya, ini adalah hasil uji noise cancellation laptop Axio Pongo yang satu ini. Jadi, gimana nih suara kipas di 100%-nya masih masuk ke mikrofon atau enggak? Ya, jadi seperti inilah kemampuan kamera dan mikrofon laptop Axio Pongo yang satu ini. Jadi, gimana nih kualitas gambar dan suaranya? Oke atau enggak? Oke, untuk audionya laptop ini dilengkapi dengan dua buah speaker dengan lubang keluaran suara menghadap ke bawah. Kita dapat mengatur profil suara dan equalizer di aplikasi Soundblaster Studio Plus. Buat kelas harganya, suara speaker laptop gaming ini sudah tergolong lantang. Kualitasnya juga oke dan rapi asalkan kita matikan fitur super white di aplikasi Soundb Studio Plus. Sekarang mari kita lihat konektornya. Di sebelah kiri ada satu USB 3.2 gen lalu ada satu USB 2.0, ada 1 3,5 mm audio combo jack. Beralih ke sisi kanan. Di sini ada USB 3.2 Gen 2, satu USB 3.2 Gen 2 type C dan kalau di belakang ada 1 Gabit Ethernet, 1 DC inch, 1 HDMI, dan 1 mini display port. Oke, untuk keyboard sebenarnya enggak ada yang istimewa di sini karena desain dan tata letak tombolnya masih mirip seperti seri Pongo lainnya. Saat dicoba, tombol keyboard terasa empuk dan solid saat ditekan dengan feedback yang terasa cepat. Tombol-tombol juga tidak menimbulkan bunyi-bunyi yang mengganggu saat digunakan. Untuk backlit, keyboard ini dilengkapi dengan RGB satu zona warna dengan empat tingkat kecerahan dan 15 pilihan warna. Nah, kita bisa mengatur warna dan tingkat kecerahannya melalui aplikasi control center. Kita juga bisa mengatur tingkat kecerahan dan mematikan backlit dengan tombol di area 6 pad. Untuk area touchpad-nya ini punya ukuran 12,1 * 8,4 cm dengan posisi yang tidak sejajar dengan tombol space bar. Untungnya hanya sedikit bagian telapak tangan yang masuk ke area touchpad saat kita sedang mengetik. Jadi ini enggak ganggu kenyamanan. Saat dicoba, jari kami masih dapat bergerak dengan lancar di atas permukaan touchpad. Walaupun materialnya ini bukan yang pakai kaca memang. Sementara untuk klik kanan dan klik kiri terasa nyaman saat ditekan. Oke, untuk cooling systemnya, laptop ini menggunakan sistem pendingin dengan lima buah heat pipe dan dua buah kipas. Menariknya, jumlah bilah kipas di Pongo 775 sekarang ditingkatkan. Sebelumnya itu 49 bilah, sekarang jadi 79 bilah. Jumlah bilah seperti itu diklaim mampu meningkatkan performa pendinginan. Nanti kita lihat aja deh bagaimana hasilnya dalam pengujian, ya. Nah, untuk lubang pembuangan udara panasnya itu ada empat. Satu ke kanan, satu ke kiri, dan dua ke arah belakang. Oke, sekarang kita masuk dalam aspek performa. Profil performa yang disediakan adalah performance entertainment. Nah, ini mode default-nya dan quiet. Disediakan juga opsi pengaturan kecepatan kipas dengan pilihan automatic, maksimum, dan custom. Untuk opsi tersebut tersedia di semua profil performa. Tapi khusus untuk mode performance ada tambahan nih, ada opsi turbo. Selain itu ada juga tambahan opsi noiseless dan IQ di mode entertainment. IQST ini merupakan kependekan dari Intel Quiet System Technology. Perlu diperhatikan, kami akan menggunakan kecepatan kipas maksimum untuk seluruh pengujian kali ini, ya. Oke, kita mulai dulu dari Cineb R23. Distabilitas selama 30 menit, skor tertinggi yang dapat dicapai adalah 12.599 poin di mode entertainment dan 17.575 1575 poin di mode performance. Sementara skor yang dapat dipertahankan adalah 11.500 sampai 11.600 poin di mode entertainment dan 16.1 sampai 16.200 poin di mode performance. Untuk suhu kerjanya pesan menjalankan sinab R23 ini ya di mode entertainment suhu prosesor dapat dikendalikan di bawah 60 derajat celcius dengan sekali aja ada lompatan ke 81 derajat celcius di awal pengujian. Sementara di mode performance su rata-rata pros terlihat berada di bawah 90 derajat celcius dengan sesekali spike suhu di atas 90 derajat celcius akibat colongan performa di awal looping. Benar, bentar, bentar. Ini sih suhunya lebih rendah dibandingkan Pongo sebelumnya yang pakai tipe prosesor sama. Kalau dulu suhunya bisa tembus di atas 90 derajat celcius di mode performance. Ini good job banget Axio untuk cooler barunya nih. Oke, kita lanjut ke Blender 4.3.2. Langsung aplikasi real world aja ya. kita langsung pakai barber shop scene yang berat. Kalau pakai CPU renderingnya sesai dalam waktu 29 menit 26 detik. Kalau pakai GPU rendering, kita pakai kuda atau kita pakai Nvidia-nya di sini. Jadi, saya dalam waktu hanya 2 menit 42 detik saja. Kencang, ya. Untuk suhu kerjanya, pasat melakukan GPU rendering dengan kuda, supressor dan GPU Nvidia dapat dikendalikan sepenuhnya di bawah 60 derajat celcius. Jadi dia aman banget, adem banget bahkan. Kita lanjut ke Adobe Premiere Pro 2025. Kita eksport video 4K 60 2 menit 7 detik dengan software on dalam waktu 6 menit 25 detik. Kalau kita pakai kuda 1 menit 16 detik aja. Kencang ya. Lalu kalau videonya full HD 60 fps durasinya sama. Software only 1 menit 16 detik. Kalau pakai kuda 26 detik saja kencang lagi ya. Untuk su kerja dapat saya melakukan velk video exporting dengan kuda. Lagi-lagi supressor dan GPN videya bisa dikendalikan di bawah 60 derajat celcius. Adem banget. Oke sekarang kita pakai Dafin Vinci Resoft 19.1 satu software video editing kelas profesional tapi ini versi gratisnya. Biasanya software ini bisa menghasilkan suhu yang lebih tinggi ya. Nah, untuk video 4K60 2 menit 7 detik selesai dalam waktu 2 menit 19 detik saja. Uh, kencang nih. Lalu untuk video full HD 2 menit 7 detik selesai dalam waktu 37 detik saja. Untuk suhu kerjanya pada saat melakukan 4K video export suhu tertinggi prosesor hanya mencapai 80 derajat celcius. Sementara suhu tertinggi GPU Nvidia-nya hanya mencapai 65 derajat Celcius. Ini aman banget. Biasanya Da Vinsi ini bisa membuat sebuah laptop tuh tembus di atas 100. Mantap nih coolernya nih ya. Oke, kita lihat kalau capcut bagaimana. Untuk video 4K 60 2 menit 7 detik selesai dalam waktu hanya 47 detik. Untuk video full HD 60 fps durasi yang sama 16 detik saja. Untuk suhu kerja pada saat melakukan 4K video export di sini lagi-lagi supressor dan GPNA dapat dikendalikan di bawah 60 derajat celcius dengan sesekali ada lompatan aja nih ke 68 derajat Celcius. Adem banget. Sekarang kita coba handbreak ya. Di sini kita melakukan konversi video 4K 60 yang durasinya 2 menit 7 detik ke Full HD 60 dengan Codex AV1 tanpa akselerasi sesai dalam waktu 3 menit 43 detik dan dengan akselerasi NV Encoder sesai dalam waktu 2 menit 12 detik. Untuk suhu kerjanya pada saat melakukan konversi dengan NV Encoder di sini supressor hanya naik di atas 90 derajus di setengah durasi pengujian aja. Sementara suhu tertinggi GPNVD hanya mencapai 53 derajat Celcius. Dan ini memang wajar karena aplikasi ini cenderung mau berbemandi sisi prosesornya aja. Oke, itu mantap ya. Sekarang mari kita lihat kalau gaming bagaimana. [Tepuk tangan] [Musik] Ya, di game yang terakhir ini kita lihat ya, 30 menit kita mainkan Assassin's Creed Miras dan kita lihat suhu kerjanya. Supressor dan GPU Nvidia dapat dikendalikan sepenuhnya di bawah 80 derajat celcius. Sebentar. Di laptop ong terdahulu kita perlu turun ke mode entertainment untuk dapetin suhu seperti itu. Di sini kita bisa pakai mode performance dan suhunya enggak lewat 80 derajat Celcius. Ini keren banget. Oke, mari sekarang kita lihat suhu permukaan bodinya. 30 menit memainkan game yang terakhir tadi untuk area keyboard. Area paling panas kita temukan di tombol F9 dengan suhu sekitar 42 derajat Celcius. Area tengah keyboard juga ada yang kita temukan suhunya mencapai 40 sampai 41 derajat Celcius. Sementara area WASD suhunya aman di kisaran 30 sampai 31 derajat Celcius. Untuk palmres area kiri suhunya aman di bawah 35 derajat Celcius. Sementara area kanan tuh ada bagian yang suhunya di kisaran 37 sampai 38 derajat Celcius dan ada juga yang di bawah 35 derajat Celcius. Secara seluruh sih masih cenderung amanlah suhu permukaannya. Oke, kita lanjut untuk storage test dengan kristal Dmark. Kecepatan bacnya kita lihat ada di 6.511 MB/ dan tulisnya di 4708 MB/. Ini udah tergolong kencang untuk SSD di laptop gaming kelas mainstream. Apalagi untuk yang ukurannya 512 GB seperti ini. Sekarang mari kita tes daya tahan baterainya. Kita pakai brightness 150 nit. Volume suara 25% dengan mode entertainment dan layar di 2,5K 180 Hz. Untuk 1080p local video playback baterai habis setelah 5 jam 31 menit. Bisa dibilang ini daya tahan baterai yang normal untuk laptop gaming Axio ya. Masih cukup ok lah sebetulnya. Oke, sekarang mari kita lihat untuk charging-nya. 30 menit pertama terisi di 54%. Sementara dari kosong sampai penuh butuh waktu 2 jam 2 menit. Ini benar-benar sesuai harapan kami ya. Kita selalu berharap di 2 jam. Nah, ini 2 jam cuma lewat 2 menit doang. Oke, untuk harganya, harga retailnya itu ada di Rp20.549.000 ya. Tapi coba deh kalian lihat di toko-toko online kesayangan kalian harganya berapa sih? Coba deh tulis di kolom komentar dapat berapa kalian harganya ya. Oke, untuk garansinya dapat 3 tahun dari Asio Indonesia untuk service dan sparep. Tentunya garansi tersebut sudah mencakup ADP ekstra selama 1 tahun. Nah, garansi ADP ekstra tersebut akan meng-cover berbagai kerusakan yang diakibatkan oleh kelalaian pengguna seperti ketumpahan cairan, enggak sengaja jatuh, crossleting listrik, bencana alam, bahkan dan masih banyak lagi. Menariknya, selain kerusakan, ADP ekstra juga akan meng-cover kerugian akibat tindak kejahatan seperti pencurian. Dan AXIO menjanjikan proses klaim ADP akan mudah dan dapat dilakukan di 183 service center yang tersebar di seluruh Indonesia. Bahkan AXio memiliki layanan same day service. Jadi klaim garansinya itu bisa cepat. Selain itu, kalau proses servisnya lebih dari 6 jam, AXo akan meminjamkan laptop pengganti. Oh ya, AXO juga menyediakan jasa pembersihan dan repasting atau repasta secara gratis seumur hidup. Ini luar biasa. Makin banyak aja ya servis-servisnya ya. Oke, langsung aja kita masuk ke dalam hal yang perlu diperhatikan. Pertama, kapasitas SS di bawaannya cuma 512 GB. Harapan kami sih di harga segini 1 TB ya biar lega buat nginstal game TripleA yang modern. Tapi kan ada slot kedua jadi ya tambah aja sendiri. Harganya udah segini doang loh ya. Nambah sendiri masih enggak apa-apa kali ya. Lalu daya tahan baterainya agak kurang cocok untuk aktivitas mobile tanpa bawa-bawa charger. Kemudian di sini belum ada yang namanya bonus Microsoft Office. Tapi tenang, Axio selalu menyertakan Libre Office di laptopnya yang fungsinya ini mirip seperti Microsoft Office. Dan tentunya kita masih bisa nginstal Microsoft Office juga kok. Tapi beli dulu dong baru nginstal di sini. Ya, lanjut ke sisi menariknya. Harganya sangat sangat sangat menarik untuk laptop gaming dengan RTX 5070. Sulit banget nemu laptop gaming pakai RTX 5070 yang harganya itu cuma Rp20 juta lebih dikit. Bahkan kalau mungkin kalian punya kupon-kupon promo gitu bisa di bawah R juta mungkin ya. Lalu kemudian dia sudah menggunakan prosesor 10 core Intel Core i7. Lancar buat multitasking, rendering, ataupun editing. Dan yang paling penting dia dilengkapi dengan RTX 5070. Ini kencang parah sih. Main game triple A mulus, main game kompetitif terbang-terbang FPS-nya. Editing video 4K60 enteng di sini. Lalu ini juga penting, suhu kerjanya terkendali dengan aman sekali. Untuk RAM juga walaupun 16 gig tapi udah langsung dual channel dan ini mudah untuk di-upgrade. Dan tadi seperti dibahas kita bisa pasang SSD M.2 yang kedua di sini ya. Jadi untuk ngupgrade tidak perlu mengganti SSD utamanya. Kemudian dia mempunyai pengaturan kecepatan kipas dan layarnya ini udah 2,5K 180 Hz IPS 100% RGB. Mantap layarnya. Konektornya melimpah juga garansinya 3 tahun. Ada garansi untuk layanan pengguna termasuk meng-cover kecurian. Jadi pertanyaannya, Axio Pongo 775 cocoknya buat siapa? Pastinya yang satu ini cocok buat mereka yang lagi ngincar laptop gaming terjangkau tapi maunya yang udah pakai RTX 5070. Buat main game triple A pastinya lancar apalagi ada multifame generation-nya. Kemudian buat yang lagi mau nguprate laptop gaming-nya ke yang lebih kekinian, cocok juga nih ya. Apalagi harganya masih relatif terjangkau. Untuk speknya yang pakai RTX 5070. Buat yang nyari laptop high performance untuk kerja, cocok banget yang satu ini buat editing video 4K60 pastinya lancar banget. Apalagi GP-nya udah support video everyone dan layarnya udah 2,5K 100% sRGB. Buat editing video kelas profesional dengan color format 422 bisa juga nih ya. Dipakai desain dan rendering 3D juga pastinya mantap. Buat programming harusnya kencang sih asalkan aplikasi codingnya memang cocok dengan spesifikasi si laptop. Mau dipakai pelajar atau mahasiswa juga harusnya masih cocok-cocok aja ya. Apalagi harganya enggak bisa dibilang terlalu mahal juga. Garansinya 3 tahun. Dan ada ADP yang meng-cover kecurian di sini. Pada akhirnya kita harus bilang, "Good job Axio." Kalian bisa menghadirkan laptop gaming RTX 5070 yang harganya sangat sangat sangat menarik. Bahkan yang satu ini juga datang dengan berbagai upgrade dan perbaikan yang membuat Sari Pongok jadi makin menarik lagi. Saya D Irfan Jaka TV TV.

Lihat di YouTube